cover
Contact Name
Rahmat Pannyiwi
Contact Email
rahmatpannyiwi79@gmail.com
Phone
+62852-9845-6666
Journal Mail Official
agdosiagdosi@gmail.com
Editorial Address
Komp. Nusa Harapan Permai Blok B.6 No.7 Kecamatan biringkanaya
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 29640849     DOI : https://doi.org/10.59585/bajik
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan (BaJIK) adalah jurnal peer-review nasional yang diterbitkan oleh Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia. Jurnal Ilmu Kesehatan ini bersifat open access atau akses terbuka serta bertujuan untuk berbagi dan mempromosikan kualitas layanan masyarakat dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu orang atau memecahkan beberapa masalah kehidupan sehari-hari.
Articles 399 Documents
Pengaruh Latihan Rentang Gerak Terhadap Pemulihan Fungsi Motorik Pasien Stroke M. Khalid Fredy Saputra; Rahmat Pannyiwi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1418

Abstract

Latar Belakang: Stroke merupakan salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian di dunia. Gangguan fungsi motorik akibat stroke menyebabkan kelemahan otot, keterbatasan rentang gerak sendi, penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, serta menurunkan kualitas hidup pasien. Salah satu intervensi rehabilitasi yang direkomendasikan pada fase akut maupun subakut adalah latihan Range of Motion (ROM), yang bertujuan mempertahankan fleksibilitas sendi, meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki sirkulasi darah, serta mempercepat pemulihan fungsi motorik. Meskipun latihan ROM telah banyak diterapkan dalam praktik klinik, bukti mengenai efektivitasnya terhadap pemulihan fungsi motorik pasien stroke di Indonesia masih memerlukan penguatan.Tujuan: Menganalisis pengaruh latihan Range of Motion terhadap pemulihan fungsi motorik pada pasien stroke. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest control group design. Sampel berjumlah 60 pasien stroke yang dibagi menjadi kelompok intervensi (n=30) dan kelompok kontrol (n=30) menggunakan teknik consecutive sampling. Kelompok intervensi memperoleh latihan ROM selama 14 hari dengan frekuensi dua kali sehari selama 20–30 menit, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan perawatan standar rumah sakit. Fungsi motorik diukur menggunakan Fugl-Meyer Assessment (FMA) dan kekuatan otot dinilai menggunakan Manual Muscle Testing (MMT). Analisis data menggunakan paired t-test, independent t-test, dan uji signifikansi dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Setelah intervensi, terjadi peningkatan rerata skor fungsi motorik pada kelompok intervensi dari 41,83 ± 8,24 menjadi 60,97 ± 9,11, sedangkan kelompok kontrol meningkat dari 42,10 ± 7,96 menjadi 48,36 ± 8,18. Hasil paired t-test menunjukkan peningkatan yang signifikan pada kelompok intervensi (p<0,001). Analisis independent t-test menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah perlakuan (p<0,001). Kesimpulan: Latihan Range of Motion berpengaruh signifikan terhadap pemulihan fungsi motorik pada pasien stroke. Pemberian latihan ROM secara teratur dapat menjadi intervensi keperawatan rehabilitatif yang efektif untuk meningkatkan kekuatan otot, mobilitas sendi, dan kemampuan fungsional pasien stroke.
Analisis Cost Effectiveness Program Promosi Kesehatan Dalam Pencegahan Penyakit Tidak Menular Warda M Warda M; Rahmat Pannyiwi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1421

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan stroke merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Peningkatan kasus PTM menyebabkan beban pembiayaan kesehatan yang semakin besar. Program promosi kesehatan merupakan salah satu strategi preventif yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, mengubah perilaku hidup sehat, serta menurunkan faktor risiko PTM. Selain efektivitas program, aspek efisiensi biaya juga perlu dievaluasi melalui analisis Cost Effectiveness Analysis (CEA) untuk memastikan bahwa sumber daya kesehatan digunakan secara optimal. Tujuan: Menganalisis cost effectiveness program promosi kesehatan dalam pencegahan penyakit tidak menular. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional dan metode Cost Effectiveness Analysis. Data diperoleh dari program promosi kesehatan yang dilaksanakan di Puskesmas Aek Parombunan selama Januari–Maret 2026. Efektivitas program diukur berdasarkan perubahan proporsi masyarakat yang menerapkan perilaku hidup sehat setelah intervensi, sedangkan biaya dihitung dari perspektif penyelenggara program. Analisis dilakukan dengan menghitung Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER). Hasil: Total biaya program promosi kesehatan sebesar Rp45.000.000, dengan peningkatan perilaku hidup sehat sebesar 30% setelah intervensi. Nilai ACER diperoleh sebesar Rp1.500.000 per peningkatan 1% perilaku hidup sehat. Perbandingan dengan program konvensional menghasilkan nilai ICER sebesar Rp500.000 per tambahan peningkatan 1% efektivitas, yang menunjukkan bahwa program promosi kesehatan memberikan manfaat yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Kesimpulan: Program promosi kesehatan merupakan intervensi yang cost-effective dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular dan layak dipertimbangkan sebagai strategi prioritas dalam pelayanan kesehatan primer.
Hubungan Kepatuhan Penerapan Sepsis Bundle Dengan Outcome Pasien Sepsis Di Ruang Intensif Irawati Irawati; Rahmat Pannyiwi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1422

Abstract

Latar Belakang: Sepsis merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang ditandai oleh disfungsi organ akibat respons tubuh yang tidak terkontrol terhadap infeksi dan masih menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas di unit perawatan intensif (Intensive Care Unit/ICU). Pedoman Surviving Sepsis Campaign (SSC) 2021 merekomendasikan penerapan Sepsis Bundle dalam satu jam pertama untuk meningkatkan keberhasilan terapi dan menurunkan angka kematian. Namun, kepatuhan tenaga kesehatan terhadap pelaksanaan setiap komponen Sepsis Bundle masih bervariasi sehingga berpotensi memengaruhi outcome klinis pasien. Tujuan: Menganalisis hubungan kepatuhan penerapan Sepsis Bundle dengan outcome pasien sepsis di ruang intensif. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 112 pasien dipilih menggunakan teknik consecutive sampling dari seluruh pasien sepsis yang dirawat di ICU Rumah Sakit X periode Januari–Juni 2026. Data diperoleh melalui telaah rekam medis dan lembar audit kepatuhan Sepsis Bundle berdasarkan pedoman SSC 2021. Outcome pasien dikategorikan menjadi membaik dan meninggal saat keluar dari ICU. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik berganda dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil: Sebanyak 69,6% pasien mendapatkan penerapan Sepsis Bundle yang patuh, sedangkan 30,4% tidak patuh. Pasien dengan penerapan Sepsis Bundle yang patuh memiliki proporsi outcome membaik lebih tinggi (79,5%) dibandingkan kelompok tidak patuh (44,1%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan hubungan yang signifikan antara kepatuhan penerapan Sepsis Bundle dengan outcome pasien (p<0,001). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa kepatuhan penerapan Sepsis Bundle merupakan faktor yang berhubungan secara independen dengan outcome pasien (AOR=4,12; 95% CI=1,87–9,09). Kesimpulan: Kepatuhan penerapan Sepsis Bundle berhubungan secara signifikan dengan outcome pasien sepsis di ruang intensif. Implementasi Sepsis Bundle secara lengkap dan tepat waktu berpotensi meningkatkan keberhasilan terapi serta menurunkan risiko mortalitas pada pasien sepsis.
Promosi Kesehatan Sebagai Upaya Preventif Dalam Menurunkan Angka Perokok Pemula Musaidah Musaidah; Rahmat Pannyiwi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1423

Abstract

Latar Belakang: Perilaku merokok pada remaja masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Usia pertama kali merokok cenderung semakin muda sehingga meningkatkan risiko ketergantungan nikotin, penyakit tidak menular, serta berbagai dampak kesehatan jangka panjang. Promosi kesehatan merupakan salah satu strategi preventif yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap negatif terhadap rokok, serta mencegah munculnya perilaku merokok pada remaja. Tujuan: Menganalisis pengaruh promosi kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan, perubahan sikap, dan penurunan niat merokok pada remaja sebagai upaya preventif dalam menurunkan angka perokok pemula. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan one group pretest–posttest design. Penelitian dilakukan pada 80 siswa SMP dan SMA yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Intervensi berupa promosi kesehatan melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, video edukasi, dan media leaflet mengenai bahaya merokok. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap, dan niat merokok yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji Paired t-test dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil: Rerata skor pengetahuan meningkat dari 64,8±10,5 menjadi 84,6±8,2 setelah intervensi (p<0,001). Rerata skor sikap terhadap perilaku merokok meningkat dari 67,3±9,4 menjadi 86,2±7,6 (p<0,001), sedangkan skor niat merokok menurun secara bermakna dari 18,4±4,7 menjadi 11,2±3,9 (p<0,001). Kesimpulan: Promosi kesehatan terbukti efektif meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap yang lebih positif terhadap pencegahan merokok, serta menurunkan niat menjadi perokok pada remaja. Program promosi kesehatan yang dilakukan secara berkelanjutan di sekolah berpotensi menjadi strategi preventif dalam menekan angka perokok pemula.
Efektivitas Agen Imunomodulator Dalam Modulasi Respons Imun Pada Pasien Penyakit Autoimun Meillisa Carlen Mainassy; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1424

Abstract

Latar Belakang: Penyakit autoimun merupakan kelompok penyakit kronis yang ditandai oleh hilangnya toleransi imun terhadap antigen tubuh sendiri sehingga menyebabkan inflamasi kronis dan kerusakan jaringan. Diperkirakan lebih dari 80 jenis penyakit autoimun telah diidentifikasi, termasuk rheumatoid arthritis, systemic lupus erythematosus, multiple sclerosis, psoriasis, inflammatory bowel disease, dan autoimmune thyroid disease. Perkembangan terapi imunomodulator telah mengubah tata laksana penyakit autoimun melalui pengendalian aktivitas sistem imun tanpa menyebabkan imunosupresi total. Tujuan: Menganalisis efektivitas agen imunomodulator dalam memodulasi respons imun pada pasien penyakit autoimun berdasarkan bukti ilmiah terkini. Metode: Penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review sesuai pedoman PRISMA 2020. Artikel dicari melalui PubMed, Scopus, Web of Science, Embase, dan Cochrane Library dengan rentang publikasi 2020–2025. Kualitas artikel dinilai menggunakan Joanna Briggs Institute Critical Appraisal Tools, sedangkan risiko bias dievaluasi menggunakan RoB 2 dan ROBINS-I. Hasil: Sebanyak 27 artikel memenuhi kriteria inklusi. Agen biologik seperti inhibitor TNF-α, inhibitor IL-6, inhibitor IL-17, inhibitor IL-23, rituximab, abatacept, dan inhibitor JAK menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam menurunkan aktivitas penyakit, kadar sitokin proinflamasi, autoantibodi, serta biomarker inflamasi. Terapi biologik juga meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan angka kekambuhan dibandingkan terapi konvensional. Kesimpulan: Agen imunomodulator modern memberikan manfaat yang signifikan dalam mengendalikan penyakit autoimun melalui modulasi berbagai jalur imun. Pemilihan terapi perlu disesuaikan dengan karakteristik penyakit, profil imunologis pasien, keamanan, dan risiko efek samping.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Frozen Shoulder Et Causa Capsulitis Adhesiva dengan Modalitas MWD, TENS, dan Terapi Latihan di RS PUSDIKKES PUSKESAD Ika Rahman; Yuniat Irawati; Lona Thesalonika
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1425

Abstract

Frozen Shoulder caused by Adhesive Capsulitis is a musculoskeletal disorder of the glenohumeral joint characterized by pain, restricted range of motion, and decreased functional ability due to inflammation and fibrosis of the joint capsule. This condition commonly affects individuals aged 40–65 years and significantly interferes with daily activities if left untreated. This case study aimed to evaluate the effectiveness of Microwave Diathermy (MWD), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), and Exercise Therapy in reducing pain, improving shoulder range of motion, increasing muscle strength, and restoring functional activities in a patient with Frozen Shoulder. A quantitative descriptive case study was conducted on one patient with left Frozen Shoulder at RS Pusdikkes Puskesad. Clinical outcomes were evaluated over eight treatment sessions using the Visual Analog Scale (VAS), goniometer, Manual Muscle Testing (MMT), and Shoulder Pain and Disability Index (SPADI). The results demonstrated reductions in resting pain from 2 to 0, tenderness from 4 to 0, and movement pain from 6 to 0. Shoulder range of motion improved from flexion 90° to 180°, extension 40° to 60°, abduction 90° to 180°, internal rotation 45° to 90°, and external rotation 30° to 90°. Muscle strength increased from grade 4 to grade 5, while the SPADI score decreased from 37.5 to 1.5, indicating marked functional recovery. It can be concluded that the combination of Microwave Diathermy (MWD), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), and Exercise Therapy is effective in reducing pain, improving shoulder mobility, increasing muscle strength, and restoring functional ability in patients with Frozen Shoulder caused by Adhesive Capsulitis.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus De Quervain Syndrome Dextra dengan Modalitas Ultrasound dan Terapi Latihan di RSUD Cililin Kab. Bandung Barat Eli Amelia; Ika Rahman; Abdul Qudus
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1426

Abstract

De Quervain Syndrome is a musculoskeletal condition affecting the wrist, characterizted by pain on the radial side caused by inflammation of the abductor pollicis longus and extensor pollicis brevis tendons, which leads to limited range of motion and reduced functional ability. This study aimed to evaluate the effectiveness of combining ultrasound therapy with active exercise in reducing pain, improving range of motion, and enhancing functional ability in a patient with right-sided De Quervain Syndrome. A quantitative descriptive case study design was applied to one patient at RSUD Cililin, West Java Bandung. Outcome measures included the Visual Analog Scale (VAS), goniometer assessment, and Wrist and Hand Disability Index (WHDI), conducted over six treatment sessions. The findings indicated clinical improvement, including reduced resting pain (2 to 0), tenderness (5 to 2), and movement pain (5 to 2). Range of motion also increased in thumb flexion (35°-48°), extension (76°-88°), and abduction (18°-27°). Furthermore, the WHDI score decreased from 58% to 24%, reflecting a shift from severe to moderate disability. These result suggest that the combination of ultrasound and active exercise is effective in improving patient outcomes in De Quervain Syndrome.
Pengaruh Edukasi Qr Code Terhadap Literasi Anemia Remaja Putri Di Mas Aisyiyah Medan Nelly Rustianti; Ni Ketut Sujati; Halimatussakdiyah Lubis
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1429

Abstract

Anemia among adolescent girls remains an unresolved public health and nutrition problem in Indonesia, contributing to morbidity risk during the productive years and to the intergenerational cycle of stunting. Low anemia literacy is suspected to be one of the determinant factors influencing the high prevalence of anemia among adolescent girls. This study aimed to analyze the effect of QR Code-based education on the level of anemia literacy among adolescent girls at MAS Aisyiyah Medan. This quantitative study used a quasi-experimental one group pretest-posttest design, conducted from March to May 2026 with 50 respondents selected through total sampling. Data were analyzed univariately and bivariately using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results showed a significant increase in anemia literacy scores after the QR Code education intervention (p = 0.000; p<0.05). It is concluded that QR Code-based education effectively improves anemia literacy among adolescent girls and can be recommended as an interactive, low-cost health promotion medium integrated into school health programs (UKS/M).
Pengaruh Kompetensi, Motivasi Kerja, Disiplin Kerja, Dan Pelatihan Terhadap Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) Di Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa Into Harahap; Muh. Ilyas Nur; Diana Mirja Togubu
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1435

Abstract

Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) di sektor kesehatan merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas layanan publik, khususnya di Kabupaten Mamasa yang menghadapi tantangan geografis, tingginya turnover pegawai, dan keterbatasan pengembangan sumber daya manusia pascapandemi COVID-19. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kompetensi, motivasi kerja, disiplin kerja, dan pelatihan terhadap kinerja ASN di Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa, baik secara parsial maupun simultan. Pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory survey digunakan dengan melibatkan seluruh ASN dan PPPK aktif melalui metode total sampling (n = 78 orang), pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa kompetensi (p = 0,041), motivasi kerja (p = 0,000), disiplin kerja (p = 0,000), dan pelatihan (p = 0,000) berhubungan signifikan dengan kinerja ASN. Namun, pada analisis multivariat hanya motivasi kerja (OR = 13,779; p = 0,003), disiplin kerja (OR = 8,734; p = 0,013), dan pelatihan (OR = 7,521; p = 0,018) yang tetap berpengaruh signifikan, sedangkan kompetensi tidak signifikan (OR = 6,834; p = 0,109). Motivasi kerja merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi kinerja ASN. Model regresi logistik biner dinyatakan layak (Hosmer and Lemeshow p = 0,842), mampu menjelaskan 59,9% variasi kinerja ASN (Nagelkerke R Square = 0,599) dengan akurasi klasifikasi 89,7%. Temuan ini menunjukkan bahwa motivasi kerja, disiplin kerja, dan pelatihan merupakan faktor utama yang memengaruhi kinerja ASN. Oleh karena itu, peningkatan motivasi kerja perlu diprioritaskan, disertai penguatan disiplin dan pelatihan