cover
Contact Name
Husna Muizzati Shabrina
Contact Email
husna.muizzati@upnyk.ac.id
Phone
+6285795102288
Journal Mail Official
satubumi@upnyk.ac.id
Editorial Address
Jl. Padjajaran (SWK 104) Condongcatur, Sleman, DIY
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian SATUBUMI
ISSN : -     EISSN : 29864062     DOI : -
Core Subject : Social,
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian SATUBUMI menerima artikel yang berfokus pada : 1. Pengelolaan lingkungan Migas, Panas Bumi, dan Pertambangan 2. Pengelolaan Limbah 3. Energi Baru dan Terbarukan 4. Pengembangan Wilayah 5. Sistem Manajemen Lingkungan Wilayah 6. Pengelolaan Daur Hidup (LCA) 7. Manajemen Kebencanaan
Articles 249 Documents
Kajian Pengaruh Pemanfaatan Material Limbah Abu Batubara Dari PLTU Anka Indra Pangestu; Titi Tiara Anasstasia; Johan Danu Prasetya
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian SATU BUMI Vol 4, No 1 (2022): Vol 4, No 1 (2022): Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian (Satu
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.806 KB) | DOI: 10.31315/psb.v4i1.8877

Abstract

Pada kegiatan pertambangan batubara merupakan hal yang baik untuk mengurangi biaya dalam kegiatan pertambangan, perbaikan kualitas tanah, dan mengurangi dampak lingkungan. Namun pemanfaatan limbah batubara atau faba masih belum bisa dilakukan oleh masyarakat karena komposisi kandungan faba masih terdapat golongan yang masuk dalam kriteria limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). Sehingga dalam pemanfaatan fly ash masih perlu dilakukan beberapa perlakuan untuk bisa dimanfaatkan langsung pada lingkungan seperti penambahan komposisi media tanaman, kontruksi sipil, dan perbaikan pH tanah dan unsur hara pada tanah. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan dari limbah abu batubara sebagai bahan yang dapat digunakan kembali. Pelaksanaan dalam penelitian dengan kualitatif menggunakan metode studi pustaka dan juga perlu dilakukan metode analisis deskriptif untuk mendapatkan gambaran hasil dari pemanfaatan limbah abu batubara. Hasil yang didapatkan parameter Cu dan Pb yang ada pada limbah abu batubara setelah dilakukan uji laboratorium didapatkan masih tergolong dalam limbah B3, yang mempunyai pengaruh toksik pada tanaman. Hasil penelitian yang telah dilakukan, pemanfaatan limbah abu batubara dapat digunakan sebagai bahan media tanam. Percobaan penggunaan limbah abu batubara sebagai media tanam selama 30 hari, didapatkan bahwa bibit tanaman masih belum memenuhi kriteria bibit siap tanam. Penggunaan limbah abu batubara tidak menimbulkan masalah pada pertumbuhan bibit tanaman selama 30 hari. Kondisi bibit tanaman tetap hidup tidak mengalami kematian atau mengalami kekeringan. Saran yang bisa dilakukan untuk pemanfaatan limbah abu batubara bisa dilakukan kembali dengan melakukan perawatan tanaman dengan rentan waktu lebih dari 30 hari, dengan memperhatikan perawatan tanaman dengan baik.Kata kunci: abu Batubara, Kualitas Tanah, Pertambangan Batubara, Reklamasi, fly ash
Konservasi Telaga Bromo Pada Ekosistem Karst Di Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta Arief Ramadhan Bimantoro
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan SATU BUMI Vol 2, No 1 (2020): Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian (Satu Bumi) Ke-II
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.106 KB) | DOI: 10.31315/psb.v2i1.4456

Abstract

Kekeringan merupakan salah satu bencana alam yang umum terjadi di beberapa wilayah di Indonesia khususnya Kabupaten Gunung Kidul. Langkanya sumber air permukaan merupakaan salah satu fenomena alam yang penyebab kekeringan di wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Telaga Bromo terletak di Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul merupakan salah satu sumber air permukaan yang banyak dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk mendukung kebutuhan domestik sampai objek wisata alam dengan kemampuan menampung air sepanjang tahun. Kapasitas tampungan air telaga setiap tahunnya mengalami penurunan. Salah satu penyebab hal tersebut adalah meningkatnya sedimen pada dasar telaga. Sedimentasi tersebut bersumber dari degradasi lahan berupa erosi pada lahan sekitar telaga dengan kondisi lahan yang berbeda-beda. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan pemetaan lapangan, tongkat ukur, analisis laboratorium, matematis, dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan laju erosi pada lahan sekitar telaga sebesar 31,065 – 45,236 ton/ha/tahun dengan volume telaga sebesar 26.381,436 m3. Berdasarkan hal tersebut umur pemanfaatan telaga hanya 4 – 16 tahun. Tingginya laju erosi dan rendahnya umur pemanfaatan telaga, diperlukan konservasi telaga berupa pengendalian erosi pada lahan sekitar telaga. Bangunan pengendali erosi dapat menerapkan bangunan terasering yang sudah berkembang di beberapa lahan sekitar telaga. Upaya pengendalian erosi khususnya di lahan dengan lereng yang curam dapat menghambat laju erosi. Kata Kunci: Erosi; Kekeringan; Konservasi; Telaga; Terasering
Arahan Konservasi Mata Air di Sebagian Desa Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta Aristia Elvina; Andi Sungkowo; Ekha Yogafanny
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan SATU BUMI Vol 1, No 1 (2019): Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian (Satu Bumi) Ke-I
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.901 KB) | DOI: 10.31315/psb.v1i1.9053

Abstract

Air telah menjadi kebutuhan dasar paling penting bagi manusia dalam melangsungkan kehidupan (Effendi, 2003). Mata air merupakan salah satu jenis sumberdaya air yang penting terutama untuk keperluan air minum (Rahardjo, 2008). Ketersediaan air yang mulai tidak stabil akibat dari terjadinya perubahan iklim seperti terjadinya kemarau panjang mulai mengancam kehidupan manusia (Kartasapoetra, 2017). Kepala Pelaksana BPBD DIY menyatakan 80% wilayah DIY berstatus awas kekeringan. Kepala Pelaksana BPBD Kulon Progo mengatakan bahwa 12 desa mengalami kesulitan air bersih termasuk diantaranya adalah Desa Banjarasri. Daerah penelitian terletak di sebagian Desa Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, DIY terdiri dari 3 dusun yaitu Dusun Kalisoka, Dusun Paras dan Dusun Dukuh memanfaatkan 3 mata air dan beberapa sumur gali warga sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran serta karakteristik mata air di daerah penelitian, mengetahui potensi mata air di daerah penelitian dan mengetahui arahan konservasi yang tepat. Metode yang digunakan yaitu metode survei dan pemetaan, metode wawancara, metode matematis dan metode laboratorium. Karakteristik mata air yang dikaji berupa sebaran mata air dan tipe mata air. Potensi mata air yang dikaji berupa kuantitas berupa debit dan kualitas mata air. Kualitas mata air yang digunakan berupa pH, COD, BOD, DO, TDS, TSS, kekeruhan dan total coliform yang dianalisa berdasarkan kualitas air standar kelas I PerGub DIY No. 20 Tahun 2008 dan CaCO3 yang dianalisa berdasarkan PerMenKes No. 492 tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 2 Tahun 2013 digunakan untuk menganalisa daerah imbuhan yang terdapat pada daerah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe mata air berdasarkan pengalirannya ke-3 mata air ini termasuk tipe intermittent karena debitnya berfluktuasi tergantung curah hujan. Berdasarkan debitnya, ke-3 mata air ini termasuk tipe kelas VII dengan debit berkisar 0,01-0,1 L/detik. Berdasarkan terjadinya, tipe ke-3 mata air ini adalah mata air kontak batuan yang terbentuk karena kontak lapisan batuan. Potensi mata air berdasarkan perbandingan kebutuhan air warga dengan debitnya yaitu belum berpotensi mencukupi kebutuhan air warga dan dari segi kualitas cenderung belum baik dengan parameter yang belum memenuhi bakumutu yaitu TSS, DO, COD dan BOD. Pengelolaan mata air yang dilakukan berupa pembuatan bak penampung dan pemerataan sistem distribusi, pembuatan teras individu pada daerah imbuhan, serta melakukan pendekatan sosial.Kata Kunci: Daerah imbuhan mata air, karakteristik mata air, konservasi mata air, mata air, potensi
Evaluasi Kesesuaian Lahan Pariwisata Di Pantai Ngandong, Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, D.I Yogyakarta Ira Andriani Ronting; Johan Danu Prasetya; Dian Hudawan Santoso
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan SATU BUMI Vol 3, No 1 (2021): Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian (Satu Bumi) Ke-III
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.96 KB) | DOI: 10.31315/psb.v3i1.6270

Abstract

Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai daya tarik wisatawan yang tinggi baik dari aspek budaya maupunpanorama alamnya, sehingga menjadi salah satu daerah yang banyak dikunjungi dengan tujuan rekreasi.Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2019 wisatawan Mancanegara yangberkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 551.547 orang, sedangkan wisatawan Nusantara sebanyak27.772.847 orang, sehingga totalnya mencapai 28.324.394 orang. Wisatawan yang datang ke KabupatenGunungkidul pada tahun 2019 mencapai 3.661.612 orang. Pantai Ngandong pada tanggal 25 Juli 2018mengalami gelombang tinggi akibat hujan lebat yang merusak ekosistem, pemukiman dan tempat rekreasi yangada di sekitar pantai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat kesesuaian lahan sebagaitempat rekreasi pantai. Evaluasi kesesuaian lahan di Pantai Ngandong diperhitungkan dengan menggunakansepuluh parameter sebagai tempat rekreasi pantai. Berdasarkan hasil pengukuran dan pengamatan di lapangan,Kesesuaian Lahan sebagai tempat rekreasi yang ada di Pantai Ngandong adalah 82,04 % Sangat Sesuai (S1)untuk dijadikan sebagai tempat rekreasi pantai dengan adanya faktor penghambat. Hasil penelitian ini dapatmenjadi saran bagi pemerintah dan masyarakat sekitar untuk pembangunan dan pengelolaan pesisir.Kata Kunci: Kawasan Wisata; Kesesuaian Lahan; Pantai Ngandong.
Evaluasi dan Pengelolaan Lereng Bekas Tambang Sirtu di Dusun Dompol, Desa Dompol, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah Sekar Tyasing Wicaksono; Wisnu Aji Dwi Kristanto; Suharwanto Suharwanto
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian SATU BUMI Vol 4, No 1 (2022): Vol 4, No 1 (2022): Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian (Satu
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1144.945 KB) | DOI: 10.31315/psb.v4i1.8895

Abstract

Gunung Merapi merupakan salah satu gunungapi aktif di Indonesia. Ketika Gunung Merapi mengalami erupsi akan menghasilkan material vulkanik yang dapat bermanfaat bagi warga sekitar. Salah satu cara masyarakat memanfaatkan material tersebut dengan melakukan penambagan pasir dan batu seperti yang berlangsung di Dusun Dompol. Salah satu lahan bekas tambang yang dijumpai di Dusun Dompol sangat bersinggungan langsung dengan permukiman warga. Sehingga, perlu adanya suatu evaluasi untuk mengetahui kondisi eksisting lereng bekas tambang dan faktor keamanan. Metode yang adalah metode kuantitatif dan kualitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan survei dan pemetaan lapangan serta uji laboratorium. Metode sampling dilakukan dengan menggunakan purposive sampling dengan pengambilan sampel tanah berdasarkan spesifikasi ASTM D-1587. Sedangkan untuk pengujian ukuran butir dan porositas menggunakan sampel tanah terganggu. Metode analisis yang dilakukan menggunakan metode Janbu yang disederhanakan dan analisis deskriptif berdasarkan Kepmen No. 1827 K/30/2018 dan Klasifikasi Faktor Keamanan Bowles, 1989. Berdasarkan pengujian laboratorium diperoleh nilai berat isi berat isi 1,19 gr/cm3 , kadar air 50%, kohesi 5 kN/m2 , dan sudut geser 15° pada lereng timur. Sedangkan pada lereng selatan memiliki nilai berat isi 1,62 gr/cm3 , kadar air 12%, kohesi 4 kN/m2 , dan sudut geser 22°. Berdasarkan perhitungan faktor keamanan diperoleh nilai faktor keamanan nilai faktor keamanan 1,058 pada lereng timur dan 0,333 pada lereng selatan. Arahan pengelolaan yang dilakukan adalah dengan melakukan rekayasa geometri, penanaman vegetasi, dan, pendekatan sosial.Kata kunci: Kestabilan Lereng, Nilai Faktor Keamanan, Metode Janbu yang disederhanakan
Kajian Indeks Kepekaan Lingkungan terhadap Tumpahan Minyak di sekitar Refinery Unit IV Cilacap Area 70, Jawa Tengah Mutiara Inanda Fadhila; Agus Bambang Irawan
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan SATU BUMI Vol 3, No 1 (2021): Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian (Satu Bumi) Ke-III
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1039.878 KB) | DOI: 10.31315/psb.v3i1.6238

Abstract

Kawasan pesisir di sekitar Refinery Unit IV Cilacap Area 70 merupakan kawasan berpotensi besar terhadaptumpahan minyak. Sejak tahun 2000 hingga saat ini telah terjadi 9 kasus tumpahan minyak di kawasan pesisirCilacap yang berdampak buruk terhadap lingkungan sekitar, sehingga perlu dilakukan kajian kepekaanlingkungan kawasan pesisir terhadap tumpahan minyak. Tujuan penelitian ini adalah menentukan tingkatkepekaan lingkungan kawasan pesisir terhadap tumpahan minyak di di sekitar Refinery Unit IV Cilacap Area 70dengan menggunakan metode indeks kepekaan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat sekitar 18,8%dari total luas kawasan yang masuk ke dalam kategori „sedang‟; sekitar 28,9% dari total luas kawasan yangmasuk ke dalam kategori „peka‟; dan sekitar 52,3% dari total luas kawasan yang masuk ke dalam kategori„sangat peka‟ serta kawasan dengan kategori sangat peka terletak secara dominan pada daerah Pantai TelukPenyu bagian selatan yang digunakan sebagai kawasan periwisata.Kata Kunci: Indeks Kepekaan Lingkungan; Lingkungan Pesisir; Tumpahan Minyak
Analisis Daya Tampung Beban Pencemar Sungai Bayas Terhadap Air Lindi Dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sukosari, Desa Sukosari, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar Chalia Alvin Sadewo; Ika Wahyuning Widiarti; Dian Hudawan Santoso
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan SATU BUMI Vol 3, No 1 (2021): Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian (Satu Bumi) Ke-III
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.431 KB) | DOI: 10.31315/psb.v3i1.6249

Abstract

Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sukosari merupakan satu-satunya tempat pemrosesan sampah di KabupatenKaranganyar. TPA Sukosari memiliki 2 buah Instalasi Pengolahan Lindi (IPL), akan tetapi IPL yang ada tidakbekerja dengan optimal sehingga air lindi yang dihasilkan memiliki beban pencemar yang tinggi. Selain itu airlindi yang dihasilkan dibuang dan bermuara di Sungai Bayas, sehingga menyebabkan terjadinya penurunankualitas pada air sungai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi daya tampung bebanpencemar Sungai Bayas akibat air lindi dari kegiatan TPA Sukosari. Metode yang digunakan dalam penelitian iniadalah metode analisis laboratorium, analisis matematis, dan evaluasi deskriptif. Besarnya daya tampung bebanpencemar diketahui dengan menggunakan metode neraca massa. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkanbahwa daya tampung beban pencemar pada aliran 3 tidak dapat menampung beban pencemar parameter E. Colidan Total Coliform, dengan kadar yang perlu direduksi pada masing-masing parameter sebesar 6.898,3046 jml/100ml dan 19.015,4126 jml/100 ml.Kata Kunci: TPA Sukosari, Lindi, Daya Tampung Beban Pencemar, Neraca Massa
Pengaruh Limbah Cair Industri Batik Terhadap Status Mutu Airtanah di Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulonprogo Muhammad Rusli Mushlich; Agus Bambang Irawan; Ayu Utami
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian SATU BUMI Vol 4, No 1 (2022): Vol 4, No 1 (2022): Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian (Satu
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2935.318 KB) | DOI: 10.31315/psb.v4i1.8840

Abstract

Daerah Desa Ngentakrejo Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo memiliki beberapa industri batik yang salah satunya diketahui tidak melakukan pengolahan terhadap air buangan limbah cair sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran airtanah di sekitarnya. Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah menganalisis status mutu air tanah dengan metode Indeks Pencemaran. Metode pengumpulan data (kondisi geofisik kimia) yang digunakan adalah metode survei lapangan dan pemetaan. Penentuan status mutu air tanah dilakukan dengan menggunakan metode Indeks Pencemaran. Analisis kualitas air tanah dan air limbah dilakukan dengan metode uji lab. Pengambilan sampel air tanah dilakukan dengan metode purposive sampling sesuai arah aliran airtanah. Hasil dari penelitian diketahui status mutu airtanah di lokasi penelitian memiliki nilai 3,459 ; 3,972 dan 4,446 yang termasuk kategori tercemar ringan. Limbah cair industri batik yang diuji terbukti melebihi baku mutu pada parameter BOD dan TSS.Kata Kunci: Airtanah; Limbah Cair Batik; Pencemaran Air; Status Mutu
Pengelolaan Ekosistem Rawa Lebak di Kecamatan Sukoharjo dan Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah Annisa Luthfia; Andi Sungkowo; Andi Renata Ade Yudono
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan SATU BUMI Vol 2, No 1 (2020): Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian (Satu Bumi) Ke-II
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1277.003 KB) | DOI: 10.31315/psb.v2i1.4451

Abstract

Meander ruas bekas sungai sebagai hasil dari normalisasi Sungai Bengawan Solo pada tahun 1994-1996 memiliki karakteristik seperti rawa lebak. Ruas bekas sungai yang berbentuk meander ini menjadi tempat penampungan limpasan air daerah sekitarnya dan menjadi sumber irihasi saat musim hujan. Keberadaan rawa lebak ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh warga, yaitu digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Tindakan ini apabila tidak mendapat perhatian, akan menyebabkan banjir pada daerah sekitarnya. Oleh karena itu, perlu adanya pemanfaatan agar rawa lebak dapat lebih produktif. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui karakteristik rawa lebak, menentukan kelas kemampuan lahan rawa lebak, dan arahan pengelolaannya. Penelitian ini menggunakan metode Kelas Kemampuan Lahan. Parameter yang digunakan dalam penentuan tingkat kelas kemampuan lahan adalah data curah hujan, kemiringan lereng, tekstur tanah, drainase, kedalaman efektif tanah, adanya erosi, kerikil/batuan, banjir, neraca air, dan kapasitas infiltrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik rawa lebak memiliki tipe lebak tengahan dengan tinggi genangan 50-100 cm dengan waktu tergenang adalah 3-6 bulan setiap tahunnya. Neraca air memiliki tingkat surplus selama 7 bulan, dan mengalami defisit selama 5 bulan. Kelas kemampuan lahan rawa lebak berupa Kelas Vw-1 yaitu dengan hambatan utama berupa genangan atau kelebihan air. Pengelolaan ekosistem dan pemanfaatan rawa lebak dilakukan dengan budidaya pertanian dengan menggunakan sistem surjan dikombinasikan dengan mina padi pada musim penghujan. Kata Kunci: Tutupan Lahan; Rawa Lebak; Kelas Kemampuan Lahan; Neraca Air; Sistem Surjan
Zonasi Kondisi dan Konservasi Daerah Imbuhan Mata Air di Dusun Crangah, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, D.I Yogyakarta Ulul Albab; Sugiman Setyo Wardoyo; Andi Renata Ade Yudono
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan SATU BUMI Vol 1, No 1 (2019): Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian (Satu Bumi) Ke-I
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.029 KB) | DOI: 10.31315/psb.v1i1.9041

Abstract

Kondisi daerah imbuhan mata air merupakan acuan dalam pengelolaan mata air agar dapat digunakan dengan optimal. Daerah imbuhan merupakan daerah yang dapat mempengaruhi kelestarian daripada mata air baik dari segi kualitas dan kuantitas mata air. Daerah imbuhan yang tidak dikelola sesuai kaidah konservasi yang benardapat mempengaruhi debit mata air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi daerah imbuhan dengan cara dievaluasi berdasarkan 4 parameter Per Men PU No. 02 Tahun 2013 dan konservasi daerah imbuhan setelah diketahui kondisinya. Kondisi daerah imbuhan didapatkan dari survei serta skoring untuk mengetahui kondisi daerah imbuhan. Survey dan pemetaan digunakan untuk mengambil data kemiringan lereng, penggunaan lahan, dan tekstur tanah. Sedangkan curah hujan didapatkan dari data sekunder. Metode sistem grid digunakan untuk mengetahui tekstur tanah yang ada di lokasi penelitian. Hasil penelitian didapatkan bahwa zonasi kondisi daerah imbuhan terbagi menjadi dua kelas, yaitu kelas sedang dan buruk. Daerah imbuhan dengan kelas sedang dicirikan dengan kemiringan lereng 5-40% dan penggunaan lahan berupa semak, kebun, dan pemukiman. Sedangkankondisi buruk dicirikan dengan kemiringan lereng 40-60% dan penggunaan lahan berupa pemukiman. Konservasi daerah sedang dengan menggunakan pola penanaman rapat dan pembuatan rorak. Konservasi daerah buruk denganmenggunakan lubang biopori.

Page 8 of 25 | Total Record : 249