cover
Contact Name
Ria Buana
Contact Email
Jurnal.eberspapyrus@gmail.com
Phone
+628129657508
Journal Mail Official
jurnal.eberspapyrus@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Ebers Papyrus
ISSN : 08548862     EISSN : 27981630     DOI : https://doi.org/10.24912/ep.vxxxx.xxxxx
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ebers Papyrus adalah jurnal kedokteran dan kesehatan yang dikaji oleh pakar yang ahli dalam bidangnya. Ebers Papyrus berfokus meningkatkan wasasan dan pengetahuan ilmu kedokteran dasar, kedokteran klinis dan kedokteran komunitas dengan pendekatan Evidence-Based Medicine berupa artikel asli, studi kasus dan tinjauan pustaka. Konten Ebers Papyrus meliputi artikel-artikel terkini dalam bidang Biologi Molekuler, Histopatologi, Alergi dan Imunologi, Studi Sel Punca, Gizi, Geriatri, Farmakologi, Herbal, Infeksi dan Penyakit Tropis, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Obstetri dan Ginekologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Bedah, Neurologi, Oftalmologi, Otolaringologi, Dermatovenerologi, Psikiatri, Radiologi, Forensik, Rehabilitasi Medik dan Kedokteran Olah Raga.
Articles 251 Documents
Perbedaan Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Sebelum dan Sesudah Pemberian Teh Hijau Pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Kelurahan Jelambar II Jakarta Barat 30 Juli - 10 Agustus 2009 Evy Luciana; Vivie Heryanto; Raymond Adiwicaksana; Adrianus Kanaris; Harijono S
Ebers Papyrus Vol. 15 No. 3 (2009): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Data Puskesmas Kelurahan Jelambar II menunjukkan tingginya prevalensi hipertensi di wilayah kerja tersebut. Pemberian teh hijau diketahui bermanfaat untuk membantu menurunkan tekanan darah. Oleh karena itu, melalui penelitian ini penulis ingin mengetahui perbedaan tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah pemberian teh hijau pada penderita hipertensi yang berkunjung ke Puskesmas Kelurahan Jelambar II, Jakarta Barat pada periode 30 Juli 2009 - 10 Agustus 2009. Penelitian bersifat eksperimental dengan desain non-randomized open-label clinical trial dengan intervensi yang diberikan berupa teh hijau dan clinical endpoint perbedaan tekanan darah balk sistolik maupun diastolik setelah diintervensi. Responden terdiri dari 25 orang penderita hipertensi yang dipilih dengan cara purposive non-random sampling. Data diperoleh dengan mengukur tekanan darah dan dianallsls dengan SPSS versi 12 (menggunakan uji statistik t-berpasangan. Penelitian dilakukan dl Puskesmas Kelurahan Jelambar II, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat selama 11 hari. Hasil penelitian menunjukkan rerata perbedaan (10,43 mmHg) tekanan sistolik yang bermakna (p<0,0001) antara sebelum dan sesudah pem berian teh hijau. Sedangkan untuk tekanan darah diastolik rerata perbedaan sebelum dan sesudah pemberian teh hijau adalah sebesar 2,61 mmHg dan tldak bermakna (p=0,208). Oleh karena itu dapat dlsimpulkan bahwa walaupun pemberian teh hijau dapat membantu menurunkan tekanan darah sistolik pada pasien hipertensl, namun sebaiknya pengobatan hipertensi dlsertaidengan pengobatan cara lainnya karena besarnya tekanan sistolik yang berhasil diturunkan berkisar 10 mmHg. 
Hubungan Antara Kepadatan Hunian Dalam Rumah Dengan Kejadian ISPA di WIlayah Kerja Puskesmas Kelurahan Joglo I, Jakarta Barat Periode 12 - 14 Januari 2009 Donatila Mano Sawa; Embong Wicaksono; Felicia Listiyani; Maya Maya; Iwan Halim
Ebers Papyrus Vol. 15 No. 3 (2009): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

lnfeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit yang menempati urutan tertinggi di Puskesmas Kelurahan Joglo I tahun 2008. Di wilayah Puskesmas Kelu­ rahan Joglo I tingkat kepadatan hunian diperkirakan mencapai 60%, di mana masih banyaknya rumah yang berukuran kecil yang dihuni oleh banyak anggota keluarga.  Faktor risiko untuk kejadian ISPA pada balita yang tinggal di hunian padat adalah 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan balita yang tinggal di hunian tidak padat. Penelitian ini dilaku­ kan  untuk mengetahui hubungan kepadatan hunian dalam rumah terhadap kejadian ISPA, bagaimana kepadatan hunian dan jumlah penduduk yang menderita ISPA yang tinggal di hunianpadatwilayah Puskesmas Kelurahan Joglo I. Desain penelitian yang dilakukan adalah analitik cross sectional dan dilakukan terhadap 154 responden dari semua golongan usia yang datang ke balai pengobatan umum dan yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Joglo I pada tanggal 12-14 Januari 2009. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive non-random sampling dan responden diwawancarai dengan kuesioner mengenai jumlah penghuni, luas lantai bangunan, riwayat batuk-batuk lama, serta riwayat perokok dalam rumah. Dari 154 responden, terdapat 42 (27,27%) balita dimana 20 balita (47,62%) di antaranya tinggal di hunian padat dan 12 balita (60%) diantaranya menderita ISPA. Sedangkan dari 58 responden yang tinggal di hunian padat terdapat 41 (70,69) responden yang menderita ISPA. Hasil uji statistik chi square menunjukkan ada hubungan bermakna (x2=17.54; p-value<0,0005) antara kepadatan hunian dalam rumah dengan kejadian ISPA dimana penduduk yang tinggal di hunian padat mempunyai risiko 1,99 kali lebih besar (PRR=1,99) daripada yang tinggal di hunian tidak padat.
Hubungan angara Kebiasaan Merokok dengan Kejadian Hipertensi pada Pasien yang Berkunjung ke Puskesmas Pembina Kecamatan Kembangan Jakarta Barat Periode Juli - Agustus 2008 Evy Luciana; Feriy Hariyanto; Lisa Lisa; Dhammadina Dhammadina; Widya Indriani; Dara Dara
Ebers Papyrus Vol. 15 No. 3 (2009): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka kejadian hipertensi di Puskesmas Pembina Kecamatan Kembangan Jakarta Barat sejak bulan Januari 2008- Juni 2008 masih cukup tinggi. Hipertensi menduduki peringkat ke-3 setelah ISPA dan TBC. Menurut literatur, kejadian hipertensi mulai terlihat pada usia 20- 40 tahun dan orang yang memiliki kebiasaan merokok cenderung lebih cepat terjadi hipertensi dibandingkan orang yang tidak merokok. Hal inilah yang mendasari ditelitinya hubungan antara kejadian hipertensi pada pasien berusia minimal 20 tahun dengan kebiasaan merokok. Penelitian bersifat analitik cross-sectional ini dilakukan selama 2 hari (13 Agustus 2008- 14 Agustus 2008) terhadap pasien yang berobat ke balai pengobatan umum Puskesmas Pembina Kecamatan Kembangan. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive non-random sampling sehingga diperoleh 84 orang responden. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara yang menyertakan pengukuran tekanan darah, berat badan, dan tinggi badan. Data kemudian diolah menggunakan metode uji kemaknaan Chi square dengan Yate's correction dan perhitungan Prevalence Rate Ra­ tio (PRR) berserta Attribute Risk (AR). Dari hasil penelitian didapatkan 20 responden (23,81 %) menderita hipertensi dan 19 orang (22,62%) memiliki kebiasaan merokok. Diantara 19 orang responden ini, 9 orang (47,37%) diantaranya menderita hipertensi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan bermakna antara merokok dengan kejadian hipertensi pada pasien berusia minimal 20 tahun di Puskesmas Pembina Kecamatan Kembangan (x2=5,93, dengan 0,01<p<0,02), dimana mereka yang memiliki kebiasaan merokok mempunyai resiko 2,8 kali lebih besar untuk men­ derita hipertensi dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kebiasaan merokok (PRR = 2,80). Untuk mengurangi prevalensi kejadian pada pasien berusia minimal 20 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Kembangan, penulis menyarankan kepada masyarakat agar melakukan pola hidup sehat termasuk menghentikan kebiasaan merokok serta perlunya penyusuhan tentang hipertensi dan bahaya merokok yang dilakukkan oleh para kader. 
Implikasi Klinis Mutasi Gen Transketolase-Like 1 Pada Penyakit Kanker Siufui Hendrawan
Ebers Papyrus Vol. 15 No. 3 (2009): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transketolase adalah enzim yang mengkatalisis konversi gula ketosa dan aldosa pada jalur pentosa fosfat. Sampai saat ini telah berhasil diidentifikasi tiga jenis gen transketolase (TKT, TKTL1, dan TKTL2) serta adanya mutasi (delesi internal) pada gen transketolase­ like 1 (TKTL1). Mutasi pada gen TKTL1 ini akan menyebabkan hilangnya sejumlah residu asam amino pada protein yang disandinya. Meski protein TKTL1 yang disintesis tetap memiliki aktivitas enzim transketolase, namun enzim mutan ini memiliki karakteristik yang berbeda dari enzim transketolase konvensional. Perubahan aktivitas enzim ini memberi­ kan implikasi klinis pada penyakit kanker. Pada kanker teradi TKTL1, baik pada tingkat mRNA maupun protein. Peningkatan enzim TKTL1 ini dikaitkan dengan perubahan metabolisme akan dipecah. secara anaerob menjadi laktat lewat jalur pentosa fosfat meski tersedia oksigen. Jadi pemecahan glukosa oleh enzim TKTL1 pada sel kanker bersifat oksigen inde­ penden (modified pentosa-phosphate pathway). Metabolisme altematif glukosa ini sangat menguntungkan bagi karsinogenesis. Jadi enzim TKTL1 berperan panting pada pertumbuhan sel tumor. Penghambatan enzim ini terbukti dapat menekan proliferasi sel kanker. TKTL1 dapat menjadi target yang relevan bagi intervensi terapeutik kanker.
Diagnosis Appendisitis Akuta dengan Skor Alvarado dan Modifikasinya Sony Sugiharto
Ebers Papyrus Vol. 15 No. 3 (2009): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Appendisitis akuta adalah penyebab tersering penyakit abdomen akut yang memerlukan tindakan bedah segera. Diagnosis appendisitis akuta biasanya ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan  fisik dan laboratorium. Ketepatan diagnosis sangat penting. Mengang­ kat appendiks yang normal tentu menjadi beban ekonomi bagi pasien maupun asuransi kesehatan, sebaliknya salah diagnosis dan keterlambatan operasi meningkatkan kesakitan, kematian dan biaya perawatan. Skor Alvarado adalah salah satu dari banyak skoring untuk diagnosis appendisitis akuta. Skor Alvarado didasarkan pada anamnesis (nyeri yang ber­ pindah, anoreksia,mual/muntah), pemeriksaan  fisik (nyeri tekan di regia abdomen kanan bawah/ iliaka kanan, nyeri lepas dan kenaikan suhu) dan beberapa laboratorium sederhana (leukosit, pergeseran netrofil ke kiri) sehingga sangat mudah untuk diaplikasikan. Banyak penelitian appendisitis akuta dilakukan dengan menggunakan skor Alvarado. Pada aplikasi di rumah sakit hitung jenis tidak selalu dilakukan maka beberapa peneliti membandingkan skor Alvarado dan skor Alvarado yang dimodifikasi.  Pada penelitian didapatkan jika skor Alvarado atau skor Alvarado yang dimodifikasi >7, maka  pasien  mungkin  menderita appendisitis akuta dan harus dirujuk ke rumah sakit untuk operasi. Skor Alvarado dan skor Alvarado yang dimodifikasi merupakan perangkat yang berguna   untuk diagnosis appendisitis akuta. 
Creeping Eruption pada Seorang Pasien Geriatri Robin Robin; Linda Yulianti Wijayadi; Inneke Meredith Susito; Junarti Karmadi; Sofia Willy
Ebers Papyrus Vol. 15 No. 3 (2009): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dilaporkan sebuah kasus creeping eruption pada seorang laki-laki berusia 72 tahun. Lesi kulit berupa erupsi papula linier berwarna merah menimbul berkelok pada kulit perut regio epigastrium. Pengobatan dimulai dengan tablet albendazol dosis 2 x 400 mg/hari selama 3 hari, namun tidak menunjukan perbaikan. Kemudian pasien diberikan tablet albendazol dosis 1 x 800 mg/hari selama 3 hari, tapi masih tetap terjadi proses penjalaran ke satu jurusan dari lesi yang sudah ada. Setelah diberikan tablet albendazol dengan dosis 1 x 1200 mg/hari selama 5 hari, tidak timbul lagi lesi baru, penjalaran lesi berhenti dan terjadi penyembuhan pada lesi lama.
Panduan Praktis Etika Profesi Dokter Sony Sugiharto
Ebers Papyrus Vol. 15 No. 3 (2009): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK DENGAN KETEPATAN WAKTU SUNTIK KB DI BPS KHANIFAH, KABUPATEN TANGERANG, PROPINSI BANTEN PERIODE JANUARI – DESEMBER 2017 Krisdiana, Riffany; So, Ernawati
Ebers Papyrus Vol. 27 No. 1 (2021): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v27i1.12152

Abstract

According to World Population Data Sheet 2013, Indonesia is the fifth country in the world with the largest population estimate. Therefore, the problem of resident can be overcome one of them with KB (Family Planning), because KB is a way to regulate the number of children. The most common type of contraception is hormonal contraception because it works effectively, is relatively inexpensive, safe, simple, effective and can be used postpartum. There are 3 hormonal contraceptives that are pills, injections and implants. Currently, injectable contraception has the best effectiveness, provided the injection is regular and appropriate as the time schedule of the injection. The accuracy of re-injecting is an acceptance of the acceptors' compliance. If inaccurate injection will reduce the effectiveness of contraception such as injectable contraceptive failure. Factors that affect the accuracy of time injection is the attitude, behavior and knowledge acceptors about KB. Therefore failure factor of injectable contraception method can be caused by acceptor delay in doing re-injection. The purpose of this research is to know the correlation between knowledge of KB contraceptive acceptor with the accuracy of reinjection time. It is a correlational research, cross sectional approach, research sample of all mothers who become KB contraceptive acceptor in BPS Khanifah and meet inclusion criteria. Technique of sampling consecutive non random sampling with randomly taken as many as 58 people. Data were analyzed with Chi-Square. The results showed most respondents are knowledgeable and timely as much as 18 (31.0%) while not on time as much as 10 (17.2%). Statistically there was a significant correlation between knowledge with accuracy of injecting contraceptive acceptor (p = 0,032) and PR value 1.48.
DETERMINAN PERSEPSI DAN PERILAKU IBU DALAM MEMBACA LABEL MAKANAN RINGAN ANAK TK-SD BUMI SERPONG DAMAI Salim, Ruth Brigitta; Pambudi, Wiyarni
Ebers Papyrus Vol. 27 No. 1 (2021): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v27i1.12153

Abstract

children can be truly guaranteed. If the reading of children’s snack labels is ignored by mothers, then it can have an impact in the form of children’s growth and development not being optimal. In Indonesia, based on the survey results of  National Consumer Protection Survey (BPKN) in 2007, only 6.7% of Indonesia’s population paid attention to the completeness of food labels. This study was conducted to determine perceptions, behaviors, and factors, which influence the perceptions and behaviors of mothers in reading the snack labels of kindergarten-elementary school children of School X in the area of Bumi Serpong Damai (BSD). This study used a cross-sectional method by conducting structured interviews through questionnaires. Mothers, who were included in the category of good perception, were mothers with a mode score 4, and those who were in the category of good behavior when the mode score was 5. After obtaining the data, the data was processed and analyzed by the T-Test. From 95 respondents, 62 respondents (65.3%) had poor perceptions in reading children's snack labels. A total of 73 respondents (76.8%) had poor reading behavior of children's snack labels. The factors studied consisted of internal and external factors. After statistical tests were accomplishedly and properly taken, the results showed significant differences for internal factors, namely the age and ethnicity of the respondents regarding the respondents' behaviors and reading abilities (p <0.05). While there were no significant differences in external factors. From the results of this study, it can be concluded that the perceptions and behavior of mothers, who have kindergarten-elementary school children in School X in BSD area are still not good.
GAMBARAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA LANSIA DI SENTRA VAKSINASI COVID-19 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA JAKARTA Silaban, Dorna Yanti L
Ebers Papyrus Vol. 27 No. 1 (2021): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v27i1.12154

Abstract

Latar belakang. Lanjut usia (lansia) merupakan sekelompok individu berusia ³60 tahun dan mengalami penuaan yang ditandai dengan adanya proses degeneratif progresif. Hal ini merupakan salah satu faktor risiko terjadinya berbagai penyakit degeneratif pada lansia seperti diabetes melitus (DM) yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (KGD). Kelompok lansia merupakan kelompok yang rentan untuk terinfeksi Covid-19. Peningkatan KGD merupakan salah satu faktor komorbid pada infeksi Covid-19. Metode pelaksanaan. Penelitian deskriptif ini dilakukan di sentra vaksinasi Covid-19 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Jakarta pada bulan Maret – April 2021. Jumlah subjek penelitian yang diperoleh ada 507 orang, diperoleh secara total sampling, memenuhi kriteria inklusi dan menandatangani formulir informed consent. Data diolah dengan menggunakan perangkat Excel untuk menghasilkan distribusi dan persentase. Hasil. Subjek penelitian dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak (298 orang, 58,78%) dibandingkan laki-laki (209 orang, 41,22%). Sebagian besar (310 orang, 61,15%) subjek penelitian berusia 60 – 69 tahun. Subjek penelitian dengan nilai KGD normal ditemukan lebih banyak (346 orang, 68,24%) dibandingkan nilai KGD yang tinggi (161 orang, 31,76%). Kesimpulan. Sebagian besar lansia yang datang ke sentra vaksinasi Covid-19 memiliki KGD normal.