cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025" : 25 Documents clear
Efektivitas ultrasound dan core stability exercise terhadap derajat nyeri pada pasien low back pain Meisatama, Herta; Lathifa, Witri; Imam, Khairul; Salsabil, Husna Arwa
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1324

Abstract

Background: Low Back Pain (LBP) is one of the most prevalent musculoskeletal disorders, affecting functional ability and quality of life. Ultrasound therapy and core stability exercises are commonly used interventions for LBP, yet limited local studies have evaluated the effectiveness of their combination. Purpose: To determine the effectiveness of combining ultrasound therapy and core stability exercises in reducing pain intensity among LBP patients. Method: This quasi-experimental study used a pre-test and post-test control group design. Thirty LBP patients were divided into two groups: experimental (ultrasound + core stability exercise) and control (ultrasound only). Interventions were administered twice a week for 4 weeks. Pain intensity was measured using the Visual Analog Scale (VAS). Statistical analysis included paired t-tests and independent t-tests with a significance level of α = 0.05. Results: Both groups experienced a significant reduction in pain (p < 0.001), but the experimental group showed a significantly greater decrease in pain intensity compared to the control group (mean VAS reduction: 4.3 vs 2.1; p < 0.001). Conclusion: The combination of ultrasound therapy and core stability exercise is more effective in reducing pain levels in LBP patients than ultrasound therapy alone. A multimodal approach is recommended for optimal LBP pain management.   Keywords: Core Stability Exercise; Low Back Pain; Pain; Physiotherapy; Ultrasound.   Pendahuluan: Low Back Pain (LBP) merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal dengan prevalensi tinggi yang berdampak pada fungsi dan kualitas hidup. Terapi ultrasound dan latihan core stability merupakan dua intervensi yang umum digunakan dalam penatalaksanaan LBP, namun masih terbatas penelitian lokal yang mengevaluasi efektivitas kombinasinya. Tujuan: Mengetahui efektivitas kombinasi terapi ultrasound dan core stability exercise terhadap penurunan derajat nyeri pada pasien LBP. Metode: Penelitian dengan desain quasi-eksperimental menggunakan pendekatan pre-post test dan kelompok kontrol. Sebanyak 30 pasien LBP dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen (ultrasound serta core stability exercise) dan kelompok kontrol (ultrasound). Intervensi dilakukan 2 kali per minggu selama 4 minggu. Pengukuran derajat nyeri dilakukan dengan Visual Analog Scale (VAS). Analisis statistik menggunakan uji paired t-test dan independent t-test dengan α = 0,05. Hasil: Terdapat penurunan derajat nyeri yang signifikan pada kedua kelompok (p < 0.001), namun kelompok eksperimen menunjukkan penurunan nyeri yang lebih besar secara bermakna dibandingkan kelompok kontrol (rata-rata penurunan VAS: 4.3 vs 2.1; p < 0.001). Simpulan: Kombinasi terapi ultrasound dan core stability exercise lebih efektif dalam menurunkan derajat nyeri pada pasien LBP dibandingkan terapi ultrasound saja. Pendekatan multimodal ini direkomendasikan untuk manajemen nyeri LBP secara optimal.   Kata Kunci: Core Stability Exercise; Fisioterapi; Low Back Pain; Nyeri; Ultrasound.
Efektifitas terapi tiup balon terhadap keperawatan pada pasien dengan asma Nadira, Khoirul; Novikasari, Linawati; Setiawati, Setiawati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1225

Abstract

Background: Asthma is a chronic, non-communicable disease characterized by recurrent attacks. Hypersensitivity results from a chronic inflammatory disease of the respiratory tract called asthma. Balloon therapy is a simple exercise that increases lung capacity by a certain amount each day. Purpose: To report on nursing care for children with asthma using balloon therapy. Method: This study used a qualitative descriptive approach conducted in the Kemiling sub-district of Bandar Lampung City in 2025. The research design used a descriptive research approach and a nursing care case study approach, including assessment, nursing diagnosis, planning, implementation, and evaluation. This case study describes the application of balloon therapy to children with asthma by Pediatric Nursing Care to reduce shortness of breath. Results: The intervention was administered for 3 days by measuring the respiratory rate and oxygen saturation after the intervention. On the first day, An. S's RR: 25x/m SpO2: 96% and An. O's RR: 24x/m SpO2: 97%. On the second day, An. S RR: 23x/m SpO2: 97% and in An. O RR: 22x/m SpO2: 98%. On the third day An. S RR: 22x/m SpO2: 98% and in An. O RR: 20x/m SpO2: 99%. Conclusion: Balloon blowing therapy can effectively reduce respiratory rate and increase oxygen saturation levels in children with asthma.   Keywords: Asthma; Balloon Blowing Therapy; Shortness of Breath.   Pendahuluan:  Asma  adalah  penyakit  kronis  tidak  menular  yang  ditandai dengan serangan berulang. Hipersensitivitas merupakan akibat dari penyakit peradangan kronis pada saluran  pernapasan  yang disebut  asma. Terapi balon adalah latihan sederhana yang membuat kapasitas paru-paru meningkat dalam jumlah tertentu setiap hari. Tujuan: Untuk membuat laporan asuhan keperawatan pada anak dengan asma menggunakan terapi tiup balon Metode: Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilakukan di kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung Tahun 2025. Rancangan penelitian menggunakan pendekatan penelitian deskriptif dan pendekatan studi kasus asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Studi kasus ini penerapan terapi meniup balon pada anak dengan asma oleh Asuhan Keperawatan Anak untuk menurunkan sesak nafas. Hasil: Intervensi diberikan selama 3 hari dengan mengukur respirasi rate dan saturasi oksigen setelah intervensi. Pada hari pertama An. S RR : 25x/m SpO2 : 96% dan pada An. O RR : 24x/m SpO2 : 97%. Pada hari kedua An. S RR : 23x/m SpO2 : 97% dan pada An. O RR : 22x/m SpO2 : 98%. Pada hari ketiga An. S RR : 22x/m SpO2 : 98% dan pada An. O RR : 20x/m SpO2 : 99%. Simpulan: Terapi ballon blowing efektif dapat menurunkan tingkat respirasi rate dan meningkatkan kadar saturasi oksigen pada anak dengan asma.   Kata Kunci : Asma; Sesak Nafas; Terapi Meniup Balon.
Pengaruh pemberian kompres hangat dengan jahe terhadap nyeri kepala pada pasien hipertensi Fitria, Febri; Herawati, Vitri Dyah; Widiyono, Widiyono
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1237

Abstract

Background: Hypertension is an increase in blood pressure, impairing brain and organ perfusion. This increase in blood pressure results in symptoms such as headaches, which require appropriate management. Headaches in hypertensive patients, if left untreated, can lead to sleep disturbances, anxiety, emotional instability, and even affect the patient's quality of life. Purpose: To address headaches in hypertensive patients. Method: The study was conducted at Dr. Soehadi Prijonegoro Regional Hospital in Sragen using a quantitative approach with a pre-experimental design. A one-group pretest-posttest was used. The population in this study were 27 hypertensive patients in the Melati Room, using the Isaac formula and the Isaac and Michael formula. The measurement tool used in this study was the NRS Pain Scale observation sheet. Data were analyzed using univariate analysis, normality testing using the Shapiro-Wilk test, and bivariate testing using the Wilcoxon test. Results: The Wilcoxon test yielded a ρ-value of 0.000 (ρ<0.05), indicating that warm compresses with ginger have an effect on headache intensity in hypertensive patients. Conclusion: There is an effect of warm compresses with ginger on pain intensity in hypertensive patients.   Keywords: Headache; Hypertension; Warm Compresses with Ginger.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah pada perfusi jaringan otak dan organ.  Peningkatan tekanan darah mengakibatkan gejala salah satunya nyeri kepala yang membutuhkan penatalaksanaan yang benar. Nyeri kepala pada pasien hipertensi apabila tidak ditangani dapat mengakibatkan gangguan tidur, cemas, emosional yang tidak stabil hingga mempengaruhi kualitas hidup pasien. Tujuan: Untuk mengatasi nyeri kepala pada pasien hipertensi. Metode: Penelitian dilakukan di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen menggunakan pendekatan  kuantitatif dengan rancangan pre eksperimen. Menggunakan One group pretest-post test.  Populasi pada penelitian ini adalah penderita hipertensi di ruang melati sebanyak 27 responden dengan rumus issac & rumus Isaac dan Michael. Alat ukur yang digunakan penelitian ini adalah lembar observasi Skala Nyeri NRS, analisis data menggunakan analisis univariat, uji normalitas menggunakan uji Shapiro wilk, dan uji bivariat menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil: Uji Wilcoxon diperoleh hasil ρ-value 0,000 (ρ<0,05) yang berarti kompres hangat dengan jahe  berpengaruh terhadap intensitas nyeri kepala pada pasien hipertensi Simpulan: Ada pengaruh pemberian kompres hangat dengan jahe terhadap intensitas nyeri kepada pada pasien hipertensi.   Kata Kunci: Hipertensi; Kompres Hangat dengan Jahe; Nyeri Kepala.
Penanganan pasien gangguan jiwa dengan defisit perawatan diri Dewi, Salsabilla Mega Muliana; Riyanto, Slamet
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1314

Abstract

Background: Self-care deficit is the inability of an individual to perform one or more self-care activities, such as bathing, dressing, eating, or grooming, independently. This condition can be caused by physical, cognitive, or emotional disorders and requires appropriate nursing interventions to improve patient independence. Purpose: To improve patient independence in optimally performing personal hygiene activities. Method: This was a case study of one patient experiencing a self-care deficit at Wisma Srikandi, Grhasia Mental Hospital, Yogyakarta, in 2025. Data collection techniques included interviews, observation, documentation review (medical records and nursing care notes), and mental status assessment. Results: Consistent implementation of nursing interventions demonstrated an increase in the patient's level of independence in performing personal hygiene activities. These results indicate that a standards-based nursing care approach can help patients redevelop basic self-care skills. Conclusion: Consistent nursing interventions can improve patient independence in personal hygiene activities. This approach helps gradually restore basic self-care skills.   Keywords: Mental Health Nursing Care; Self-Care Deficit.   Pendahuluan: Defisit perawatan diri merupakan ketidakmampuan individu untuk melakukan satu atau lebih aktivitas perawatan diri, seperti mandi, berpakaian, makan, atau berhias, secara mandiri. Kondisi ini dapat disebabkan oleh gangguan fisik, kognitif, atau emosional, dan memerlukan intervensi keperawatan yang tepat untuk meningkatkan kemandirian pasien. Tujuan: Untuk meningkatkan kemandirian pasien dalam menjalankan aktivitas kebersihan diri (personal hygiene) secara optimal. Metode: Penelitian studi kasus dengan subjek satu orang pasien yang mengalami defisit perawatan diri di Wisma Srikandi RSJ Grhasia Yogyakarta pada tahun 2025. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi (rekam medis dan catatan asuhan keperawatan), serta pengkajian status mental. Hasil: Penerapan Penerapan intervensi keperawatan secara konsisten menunjukkan adanya peningkatan tingkat kemandirian pasien dalam melakukan aktivitas kebersihan diri. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan asuhan keperawatan berbasis standar dapat membantu pasien mengembangkan kembali kemampuan dasar dalam perawatan diri. Simpulan: Intervensi keperawatan yang dilakukan secara konsisten dapat meningkatkan kemandirian pasien dalam aktivitas kebersihan diri. Pendekatan ini membantu memulihkan kemampuan dasar perawatan diri secara bertahap.   Kata Kunci: Asuhan Keperawatan Jiwa;  Defisit Keperawatan Diri.  
Penerapan water tepid sponge terhadap suhu pada pasien dengue hemorrhagic fever dengan masalah hipertermia Fitria, Yanti; Chrisanto, Eka Yudha; Kurniasih, Dennti
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1318

Abstract

Background: Hyperthermia is a primary symptom found in all DHF patients. The duration of hyperthermia before treatment ranges from 2-7 days. Hyperthermia can be managed through non-pharmacological approaches, one of which is Water Tepid Sponge. Therefore, hyperthermia can be treated appropriately using comprehensive nursing care to lower the temperature to normal. Purpose: To provide nursing care to a client with dengue hemorrhagic fever who has hyperthermia, using the water tepid sponge technique. Method: This study used a descriptive research design with a case study design. The subjects were two individuals experiencing hyperthermia. This study was conducted in January 2025. The water temperature used in the compresses was between 350-370C, or lukewarm, and can be performed in approximately 15-20 minutes per session. Results: The author implemented water tepid sponge nursing care for three days in a patient with dengue hemorrhagic fever. The hyperthermia problems of both clients were resolved, as evidenced by Mrs. H and Mrs. S's body temperature was normal and the client was cooperative during both procedures. Conclusion: The application of water tepid sponges was effective in reducing hyperthermia in patients with dengue hemorrhagic fever.   Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF); Hyperthermia; Water Tepid Sponge.   Pendahuluan: Hipertermia sebagai gejala utama terdapat pada semua penderita DHF. Lama hipertermia sebelum dirawat berkisar antara 2-7 hari. Mengatasi hipertermia melalui non farmakologi yang salah satunya adalah Water Tepid Sponge. Sehingga masalah hipertermi mendapat intervensi yang tepat dengan menggunakan asuhan keperawatan yang lengkap untuk menurunkan suhu menjadi normal. Tujuan: Untuk melakukan asuhan keperawatan pada klien dengue hemorrhagic fever dengan masalah keperawatan hipertermia dengan penerapan teknik water tepid sponge. Metode: Penelitian menggunakan desain penelitian deskriptif dengan rancangan studi kasus. Subjek yang digunakan 2 orang yang mengalami masalah keperawatan hipertermia. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2025. Suhu untuk air yang digunakan dalam kompres antara 350 -370C atau hangat hangat kuku, untuk pelaksanaannya dapat dilakukan dalam waktu sekitar 15-20 menit dalam 1 kali pelaksanaan. Hasil: Pengelolaan keperawatan hipertermia dengan  penerapan  tindakan  keperawatan water tepid sponge yang  penulis  lakukan  selama  3  hari  pada pasien dengue hemorrhagic fever.  Permasalah hipertermia kedua  klien  teratasi  semua  dibuktikan  dengan klien  Ny.H dan Ny. S suhu tubuhnya normal dan selama tindakan kedua klien kooperatif. Simpulan: Terdapat pengaruh penerapan water tepid sponge untuk mengurangi hipertermia pada pasien dengue hemorrhagic fever.   Kata Kunci: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF); Hipertermia; Water Tepid Sponge.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi tidak terkontrol pada pasien prolanis Oktavio, Irda Angelica; Suwito, Suwito; Aryastuti, Nurul; Sari, Fitri Eka
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1325

Abstract

Background: The number of hypertension cases at the Gisting Community Health Center in 2024 was 1.164 people with hypertension. Of these, 120 individuals with hypertension were also participating in the chronic disease management program (Prolanis). Purpose: To determine factors associated with the occurrence of uncontrolled hypertension in Prolanis patients at the Gisting Community Health Center in 2024. Method: This was a quantitative analytical study with a cross-sectional design. The sample consisted of 120 hypertensive patients participating in the Prolanis program at the Gisting Community Health Center in 2024. Data collection was conducted using a questionnaire. Data analysis was conducted using the chi-square test and logistic regression. Results: There is no relationship between smoking and uncontrolled hypertension with p value: 0.198; there is no relationship between stress and uncontrolled hypertension with p value: 0.236; there is a relationship between adherence to antihypertensive medication consumption and uncontrolled hypertension with p value: 0.000; OR: 14.760; there is a relationship between routine check-ups and uncontrolled hypertension with p value: 0.0.000; OR: 17.862; there is a relationship between a history of diabetes mellitus and uncontrolled hypertension with p value: 0.022; OR: 2.799; there is no relationship between total cholesterol levels and uncontrolled hypertension with p value: 0.062; the most dominant factor is routine check-ups with OR value: 8.362. Conclusion: There is no relationship between smoking and uncontrolled hypertension, there is no relationship between stress and uncontrolled hypertension, there is a relationship between adherence to antihypertensive medication consumption and uncontrolled hypertension, there is a relationship between routine check-ups and uncontrolled hypertension, there is a relationship between a history of diabetes mellitus and uncontrolled hypertension, there is no relationship between total cholesterol levels and uncontrolled hypertension, and the most dominant factor is routine check-ups.   Keywords: Uncontrolled Hypertension; Prolantis.   Pendahuluan: Jumlah kasus hipertensi di Puskesmas Gisting pada tahun 2024 yaitu sebanyak 1.164 orang yang terkena hipertensi. Didapatkan sejumlah 120 orang yang memiliki penyakit hipertensi juga mengikuti program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis). Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi tidak terkontrol pada pasien Prolanis di Puskesmas Gisting Tahun 2024. Metode: Penelitian analitik kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian adalah penderita hipertensi yang mengikuti program Prolanis di Puskesmas Gisting Tahun 2024 sebanyak 120 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistic. Hasil: Tidak ada hubungan merokok dengan hipertensi tidak terkontrol dengan p value: 0.198; tidak ada hubungan stress dengan hipertensi tidak terkontrol dengan p value: 0.236; ada hubungan kepatuhan konsumsi obat antihipertensi dengan hipertensi tidak terkontrol p value: 0.000; OR: 14.760; ada hubungan pemeriksaan rutin dengan hipertensi tidak terkontrol p value: 0.000; OR: 17.862; ada hubungan riwayat diabetes mellitus dengan hipertensi tidak terkontrol dengan p value: 0.022; OR: 2.799; tidak ada hubungan kadar kolesterol total dengan hipertensi tidak terkontrol dengan p value: 0.062; faktor yang paling dominan adalah pemeriksaan rutin dengan nilai OR: 8.362. Simpulan: Tidak ada hubungan merokok dengan hipertensi tidak terkontrol, tidak ada hubungan stress dengan hipertensi tidak terkontrol, ada hubungan kepatuhan konsumsi obat antihipertensi dengan hipertensi tidak terkontrol, ada hubungan pemeriksaan rutin dengan hipertensi tidak terkontrol, ada hubungan riwayat diabetes mellitus dengan hipertensi tidak terkontrol, tidak ada hubungan kadar kolesterol total dengan hipertensi tidak terkontrol, dan faktor yang paling dominan adalah pemeriksaan rutin.   Kata Kunci: Hipertensi Tidak Terkontrol; Prolanis.
Penanganan pasien gangguan jiwa dengan risiko perilaku kekerasan Rahmawati, Yulia Dwi; Riyanto, Slamet
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1331

Abstract

Background: Mental disorders are a serious mental health problem with widespread impacts on both individuals and society. One clinical manifestation frequently found in people with mental disorders is the risk of violent behavior, which can harm themselves and others. Purpose: To provide an overview of psychiatric nursing care for patients at risk of violent behavior. Method: This study used a case study method for one patient with a primary nursing diagnosis of risk of violent behavior. Nursing care was provided over three days, from assessment to evaluation. Results: After providing nursing care, the final stage was an evaluation, which showed that the patient experienced gradual improvement in emotional control and demonstrated cooperation in therapy. Conclusion: There was an increase in the patient's self-control, as indicated by a decrease in self-harm behavior, use of loud voices, and increased medication compliance.   Keywords: Mental Health Nursing Care; Risk of Violent Behavior.   Pendahuluan: Gangguan jiwa, merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang serius dan berdampak luas, baik bagi individu maupun masyarakat. Salah satu manifestasi klinis yang kerap ditemukan pada penderita gangguan jiwa adalah risiko perilaku kekerasan, yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Tujuan: Untuk memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan jiwa pada pasien dengan risiko perilaku kekerasan. Metode: Penelitian menggunakan metode studi kasus terhadap satu pasien dengan diagnosa keperawatan utama risiko perilaku kekerasan. Asuhan keperawatan dilakukan selama tiga hari, mulai dari tahap pengkajian hingga evaluasi. Hasil: Setelah pemberian asuhan keperawatan, tahap terakhir adalah evaluasi yang menunjukkan bahwa pasien mengalami perbaikan bertahap dalam mengontrol emosi, dan menunjukkan kooperatif dalam menjalani terapi. Simpulan: Terdapat peningkatan kontrol diri pasien yang ditandai dengan penurunan perilaku menyakiti diri, penggunaan suara keras, dan meningkatnya kepatuhan minum obat.   Kata Kunci: Asuhan Keperawatan Jiwa; Risiko Perilaku Kekerasan.
Pengaruh pemberian fluid warmer pada infus terhadap suhu tubuh pada pasien dengan anestesi spinal Mulyani, Tri; Sutrisno, Sutrisno; Indriyati, Indriyati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1338

Abstract

Background: Perioperative hypothermia is a common complication in patients undergoing spinal anesthesia, with a core body temperature below 36°C. This condition can cause various serious consequences, such as nervous system disorders, decreased blood pressure, and even death. Purpose: To determine the effect of intravenous fluid warmers on body temperature in patients undergoing spinal anesthesia. Method: This quantitative, pre-experimental study used a one-group pretest and posttest design. The sample consisted of 48 patients selected using purposive sampling. The intervention consisted of warm intravenous fluids using a fluid warmer (ANIMEC). Body temperature was measured before and after the intervention using a thermometer. Results: The study showed that before the intervention, the majority of participants experienced mild hypothermia (33°C–35.9°C) (35 participants (72.9%) and moderate hypothermia (30°C–32.9°C) (13 participants (27.1%). After administration of a fluid warmer, there was a significant increase in body temperature, with a mean final temperature of 36.60°C (SD=0.3155). The Wilcoxon Signed-Rank Test showed a p-value of 0.001 <0.05. Conclusion: The administration of a fluid warmer during infusion has an effect on the body temperature of spinal anesthesia patients.   Keywords: Body Temperature; Fluid Warmer; Hypothermia; Perioperative; Spinal Anesthesia.   Pendahuluan: Hipotermia perioperatif merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien pasca anestesi spinal, dengan suhu inti tubuh di bawah 36°C. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai dampak serius, seperti gangguan sistem saraf, penurunan tekanan darah, hingga kematian. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pemberian fluid warmer pada infus terhadap suhu tubuh pasien dengan anestesi spinal. Metode: Penelitian kuantitatif dengan jenis pre eksperimental menggunakan one group pretest and posttest design. Sampel terdiri dari 48 pasien yang dipilih secara purposive sampling. Intervensi berupa pemberian cairan infus hangat menggunakan fluid warmer (ANIMEC). Suhu tubuh diukur sebelum dan setelah intervensi menggunakan termometer. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, mayoritas partisipan mengalami hipotermia ringan (33°C–35,9°C) sebanyak 35 orang (72,9%) dan hipotermia sedang (30°C–32,9°C) sebanyak 13 orang (27,1%). Setelah pemberian fluid warmer, terjadi peningkatan suhu tubuh yang signifikan, dengan rata-rata suhu akhir 36,60°C (SD=0,3155). Uji Wilcoxon Signed-Rank Test menunjukkan (p value 0,001 < 0,05. Simpulan: Pemberian fluid warmer pada infus berpengaruh terhadap suhu tubuh pasien anestesi spinal.   Kata Kunci: Anestesi Spinal; Fluid Warmer; Hipotermia; Perioperatif; Suhu Tubuh.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis Purnama, Ade Sinta; Irianto, Torry Duet; Nuryani, Dina Dwi; Samino, Samino; Amirus, Khoidar
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1349

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) is an infectious disease that remains a public health problem. Community behavioral factors such as smoking, contact with TB patients, and not opening windows are suspected to contribute to the high incidence of TB. Controlling TB risk factors is one of the Indonesian government's strategies in developing a strategic plan to end TB. Therefore, monitoring risk factors in the community is crucial to inform policymakers in developing prevention programs. Purpose: To analyze the relationship between TB incidence factors. Method: This quantitative study used a case-control design. The sampling technique used purposive sampling, resulting in a sample of 120 respondents divided into 60 case groups and 90 control groups. Data analysis used the chi-square test and multiple logistic regression. Results: There was a significant association between smoking behavior (p=0.000; OR=5.500), contact with TB patients (p=0.000; OR=29.571), and not opening windows (p=0.000; OR=3.754) and TB incidence. Contact behavior with TB patients (p=0.000; OR=24.665) was the most dominant factor influencing tuberculosis incidence. Conclusion: There is a relationship between smoking behavior, contact with TB patients, and not opening windows and TB incidence.   Keywords: Contact with TB Patients; Opening Windows; Smoking Behavior; Tuberculosis.   Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Faktor perilaku hidup masyarakat seperti merokok, kontak dengan penderita TB, serta tidak membuka jendela rumah diduga berperan dalam tingginya kejadian TB. Salah satu strategis pemerintah Indonesia dalam mengembangkan rencana strategis untuk mengakhiri TB adalah mengendalikan faktor risiko TB, sehingga pemantauan faktor risiko di masyarakat sangat penting untuk memberi informasi kepada para pembuat kebijakan untuk pengembangan program pencegahan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara Faktor kejadian TB. Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan case control. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sehingga sampel diperoleh sebanyak 120 responden yang dibagi menjadi kelompok kasus sebanyak 60 responden dan kelompok kontrol sebanyak 90 responden. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil: Ada hubungan signifikan antara perilaku merokok (p=0.000; OR=5.500), kontak dengan penderita TB (p=0.000; OR=29.571), serta tidak membuka jendela (p=0.000; OR=3.754) terhadap kejadian TB. Perilaku Kontak dengan penderita TB dengan nilai (p=0.000; OR=24.665) merupakan faktor yang paling dominan yang dapat mempengaruhi kejadian tuberculosis Simpulan: Ada hubungan perilaku merokok, kontak dengan penderita TB, dan tidak membuka jendela terhadap kejadian TB. Kata Kunci: Kontak Penderita TB; Membuka Jendela; Perilaku Merokok; Tuberkulosis.
Hubungan usia dan jenis kelamin dengan kejadian demam berdarah dengue Khoisiah, Hidayatul; Sani, Nopi; Sudiadnyani, Niputu; Hermawan, Dessy
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1355

Abstract

Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease caused by the dengue virus through the bite of the Aedes aegypti mosquito. DHF remains a public health problem in Indonesia. Several factors, such as age and gender, are suspected to influence DHF incidence. Purpose: To determine the relationship between age and gender and DHF incidence. Method: This quantitative analytical study used a cross-sectional approach conducted on 279 respondents. Data analysis was performed using univariate analysis to describe respondent characteristics and bivariate analysis using the Chi-Square test to examine the relationship between variables. Results: There was a significant relationship between age and DHF incidence (p = 0.013). Furthermore, most DHF cases were found in the 15-45 age group. Gender also showed a significant relationship with DHF incidence (p = 0.02), with males experiencing more DHF than females. Conclusion: There is a significant relationship between age and gender and DHF incidence.   Keywords: Age; Chi-square; Dengue Hemorrhagic Fever; Epidemiology; Gender.   Pendahuluan: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Kejadian DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Beberapa faktor seperti usia dan jenis kelamin diduga berpengaruh terhadap kejadian DBD. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara usia dan jenis kelamin dengan kejadian DBD. Metode: Penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada 279. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk menguji hubungan antara variabel. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian DBD (p=0.013). Selain itu sebagian besar kejadian DBD ditemukan pada kelompok usia 15-45 tahun. Jenis kelamin juga menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian DBD (p=0.002) dengan laki-laki lebih banyak mengalami DBD dibandingkan perempuan. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara usia dan jenis kelamin dengan kejadian DBD.   Kata Kunci: Chi-square; Demam Berdarah Dengue; Epidemiologi; Jenis Kelamin; Usia.

Page 1 of 3 | Total Record : 25