cover
Contact Name
I Putu Udiyana Wasista
Contact Email
udiyanawasista@isi-dps.ac.id
Phone
+6287861236918
Journal Mail Official
balidwipantarawaskita@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Jl. Nusa Indah, Sumerta, Kec. Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Bali-Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
ISSN : 28087992     EISSN : 2808795X     DOI : -
Core Subject : Art,
Seminar Nasional Republik Seni Nusantara adalah sebuah forum akademis yang membahas berbagai aspek seni dan budaya Nusantara. Dalam prosiding ini, para peneliti dan akademisi berkumpul untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka mengenai seni dan budaya, dengan fokus khusus pada konteks Republik Seni Nusantara. Proses ini memberikan wadah untuk bertukar gagasan dan pengetahuan dalam upaya memahami, mendokumentasikan, dan mempromosikan warisan seni dan budaya yang kaya dan beragam di wilayah Nusantara.
Articles 130 Documents
PENCIPTAAN TARI GALOMBANG CARANO DENGAN PENDEKATAN SILAT MINANGKABAU Yulinis, Yulinis; Mawan, I Gede; Dewi, Ni Made Liza Anggara
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Membentuk seni yang kreatif memang tidak mudah, karena bentuk kerjanya adalah berbentuk kolektif. Pencipta seni harus mampu memadukan unsur-unsur yang terlibat dalam satu kesatuan yang utuh. Unsur-unsur yang terlibat ini juga manusia yang memiliki kreativitas dan pemaknaan sendiri. Maksudnya, dalam sebuah tari, seorang penari akan memiliki interpretasi sendiri, sehingga ketika bergerak, wujud yang hadir adalah wujud dari interpretasi penari tersebut. Kalau ini terjadi maka akan ada perbedaan maksud. Untuk itu seorang koreografer harus bisa menyatukan seluruh kemampuan unsur untuk menjadi sesuatu yang benar-benar mereka sepakati. Koreografer merupakan tonggak utama yang harus sensitif dan kreatif. Kemampuan sensitivitasnya bisa menangkap tema untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang baru (redefinition) secara sepenuhnya dan dengan kreativitasnya sanggup mereproduksi kembali tangkapan dengan baik, kaya, kena dan penuh elaborasi detil yang tepat. Untuk unsur yang lain seperti penari, pemusik dan unsur lainnya merupakan unsur yang akan menjalankan gagasan sang koreografer. Akan tetapi tidak tertutup kemungkinan terhadap unsur lain dalam menerapkan kreativitasnya sejauh tidak bertentangan dengan kreativitas koreografer. Galombang Carano membantu pengembangan konsep tradisi untuk kepentingan pertunjukan yang lebih modern dan kontemporer. Hal ini merupakan wujud dari perkembangan tari saat ini di Minangkabau Sumatera Barat. Begitu pula hendaknya karya-karya tari yang lain dengan memakai konsep seni tradisional setempat.
ALAM SEBAGAI DAYA CIPTA SENI Widnyana, I Kadek; Shahab, Fauziah; Dwiyani, Ni Kadek; Widyarto, Rinto; Putra, Ida Bagus Hari Kayana
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini bertujuan mengeksplorasi hubungan antara alam dan seni, dengan fokus pada bagaimana elemen-elemen alam menginspirasi berbagai bentuk ekspresi artistik, serta dampaknya terhadap kesadaran lingkungan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis tematik melalui studi literatur, wawancara dengan seniman, dan survei untuk menggali perspektif seniman dan masyarakat mengenai pengaruh alam dalam seni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alam tidak hanya berfungsi sebagai subjek estetis, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan pesan tentang perubahan ekologis, keindahan yang rapuh dan keberlanjutannya. Seniman dari berbagai disiplin, termasuk seni lukis, fotografi, seni instalasi, dan seni pertunjukan (khususnya seni sastra dan seni pedalangan) yang menggambarkan alam sebagai refleksi dari hubungan manusia dengan lingkungannya. Pembahasan lebih lanjut, bahwa alam sangat menginspirasi para sastrawan/kawi sastra dengan berbagai ilustrasi dan imajinasi “lango”-nya tersurat ke dalam bait-bait syair yang estetik. Karya sastra inilah menjadi sumber inspirasi para seniman (dalang) dalam memberikan tuntunan di setiap lakonnya berkaitan dengan alam. Dampak sosial dan kultural dari seni yang mengangkat tema alam diharapkan dapat memperkuat hubungan manusia dengan lingkungan serta mendorong perubahan sosial menuju keberlanjutan.
ANALISIS RELEVANSI DAN MAKNA PADA DESAIN BALIHO PESTA KESENIAN BALI TAHUN 2020-2023 TERHADAP KONSEP SAT KERTHI LOKA BALI Putra, Gede Bayu Segara; Indira, Wahyu; Trinawindu, Ida Bagus Ketut
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis relevansi dan makna dari desain baliho Pesta Kesenian Bali (PKB) dalam mencerminkan konsep Sat Kerthi Loka Bali, sebuah filosofi yang menekankan keseimbangan spiritual dan ekologis dalam kehidupan masyarakat Bali. Sebagai media publikasi, baliho PKB berfungsi tidak hanya sebagai sarana promosi acara budaya tetapi juga sebagai medium visual untuk menyampaikan nilai-nilai kearifan lokal yang tertanam dalam Sat Kerthi Loka Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotik terhadap elemen-elemen visual, seperti warna, simbol, dan tipografi pada desain baliho. Data diperoleh melalui studi pustaka dan observasi pada beberapa baliho PKB yang dipublikasikan dalam periode 2019–2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain baliho PKB secara konsisten mengusung simbol-simbol budaya dan religius yang mendukung visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yaitu menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali. Melalui penggunaan simbol-simbol khas Hindu-Bali, warna-warna natural, dan bentuk visual yang mencerminkan filosofi Tri Hita Karana, baliho PKB berfungsi sebagai perwujudan nilai spiritual dan identitas budaya Bali. Penelitian ini menekankan pentingnya peran desain komunikasi visual dalam memperkuat ideologi pelestarian budaya dan ekologi melalui media publikasi.
KONSEP KARL MARX TENTANG PROLETARIAT PADA FUNGSI MEDIA DIGITAL SANGGAR SENI Budiastomo, Denta Mandra Pradipta; Wibowo, Wahyu
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyebaran infeksi virus corona berdampak besar terhadap eksistensi sanggar seni tari di Jakarta. Banyak sanggar tari yang mengalami penurunan jumlah siswa, penyebabnya karena tidak adanya aktivitas kegiatan pembelajaran dan pertunjukan. Fakta menunjukkan bahwa hanya beberapa sanggar yang bisa bertahan saat pandemi covid-19. Bertahannya sanggar-sanggar seni tari ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana lembaga tersebut dapat bertahan di tengah maraknya perkembangan teknologi dan perubahan yang terjadi saat pandemi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah media digital masih dapat dianggap sebagai bagian dari sistem demokratis cukup baik untuk dianggap sebagai sebuah media yang menghapus hierarki kelas dan dominasi kuasa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, sumber data adalah sanggar seni Ayodya Pala. Menggunakan pendekatan ekonomi politik media Marxist dan metode Analisis Wacana Kritis Van Djik. Data dikumpulkan melakukan observasi langsung dengan cara tidak berperan, wawancara, telaah dokumen dan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukan penggunaan media digital sanggar Ayodya Pala tidak hanya menunjukkan trennya, tetapi juga menunjukkan bahwa dari sudut pandang ekonomi dan politik media Marxist, media digital membentuk hirarki sosial yang membedakan Ayodya Pala sebagai pemilik modal dan penggunanya dan menghasilkan ploretariat digital, yang dapat dilihat dalam komodifikasi regulasi pengguna media digital.
KONSEP SUSTAINABLE FASHION DALAM KOLEKSI BUSANA CAKRAWALA Mudarahayu, Made Tiartini; Ratna CS, Tjok Istri; Utami, Ni Luh Ayu Pradnyani
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Belum adanya teknologi pengolahan limbah yang baik khususnya untuk limbah cair akibat dari industri tekstil di Indonesia, menuntut desainer untuk mampu menunjukkan upaya pengendalian limbah sebagai bentuk kesadaran akan konsep keberlanjutan dalam industri fashion. Konsep sustainable fashion menjadi konsep dasar dalam penciptaan kolesi busana Cakrawala ini, tidak hanya berfokus pada aspek bahan melalui penggunaan tekatil Ecoprint yang lebih ramah lingkungan, aspek sosial melalui penggunaan endek Bali seseh juga dilakukan untuk melestarikan ekosistem pembuatan wastra Bali khususnya endek. Pada prosesnya peneliti menerapkan metode penciptaan frangipani: the secret step of art fashion. Hasil dari penelitian ini yaitu koleksi busana Cakrawala terdiri atas lima busana yang terbagi ke dalam tiga busana wanita dan dua busana pria. Menggunakan kain Ecoprint dan endek Bali seseh sebagai material dengan memperhatikan material lain yang ramah lingkungan seperti wool dan katun twill, pola yang menghasilkan limbah yang minimal atau jika bisa hingga zero waste, desain yang timeless sehingga dapat menjadi bagian dari slow fashion dan tidak tergerus oleh zaman dan tergeser tren, serta penggunaan endek Bali seseh sebagai bentuk kesadaran akan penerapan konsep sustainability fashion dalam kearifan lokal Bali. Melalui perwujudan lima busana dalam koleksi Cakwala ini diharapkan dapat menjadi model implementasi SDGs dalam perkembangan industri fashion kedepannya.
NILAI ESTETIK MUSIK DALAM DRAMA TARI KESEMPATAN KEDUA Sumerjana, Ketut; Mudiasih, Ni Wayan; Pramanasari, Ni Kadek Diah
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Musik dan tarian telah lama menjadi bagian integral dari tradisi seni pertunjukan, di mana mereka saling mendukung dalam menciptakan pengalaman estetika yang imersif bagi penonton. Dalam drama tari Second Chance, musik tidak hanya berfungsi sebagai pengiring tetapi juga sebagai elemen yang memperkuat narasi dan emosi dalam cerita. Drama ini menggambarkan perjalanan seorang individu yang menghadapi tantangan hidup, mencari penebusan, dan meraih peluang baru. Musik memainkan peran penting dalam menggambarkan perubahan suasana hati karakter, serta dalam mengangkat tema pengampunan dan harapan. Nilai estetika musik dalam pertunjukan ini terletak pada harmoni antara melodi, ritme, dan dinamika suara, yang dipadukan dengan gerak tubuh para penari. Seni Pertunjukan Estetika, musik tidak hanya menjadi pengiring, tetapi juga membentuk makna dalam sebuah karya seni. Musik dapat membangkitkan perasaan dan menciptakan ikatan emosional yang mendalam antara penari, musik, dan penonton. Dalam konteks ini, musik memperkaya narasi dan pengalaman emosional dari drama tari Second Chance, memperkuat makna dan dampak emosional dari pertunjukan.
PENCIPTAAN FILM DOKUMENTER TUTUR LELAKU I KETUT MUJI Payuyasa , I Nyoman; Putra, Ida Bagus Hari Kayana; Lawranta, Gangga
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bali memiliki maestro dengan rekam jejak besar bernama I Ketut Muji. I Ketut Muji merupakan maestro tari yang memiliki karakter dan style (gaya) yang kuat khususnya dalam Tari Baris. I Ketut Muji memiliki pemahaman mendalam terhadap nilai sebuah tarian. Saat ini Ketut Muji berusia 93 tahun. Merupakan sebuah langkah penting untuk mendokumentasikan keahlian dan pengetahuan seorang maestro ke dalam film agar nilai-nilai dan etika dalam diri I Ketut Muji dapat terwariskan. Film ini diproduksi untuk dapat mengalirkan pengetahuan, sikap, dan pandangan hidup I Ketut Muji tentang tari dan penari kepada para pelaku seni tari di Bali kini dan nanti. Penciptaan film dokumenter ini memiliki kekuatan dan kompleksitas tinggi sebagai sebuah media yang dekat lekat dengan masyarakat. Film ini juga dapat digunakan sebagai alat propaganda dalam usaha pelestarian budaya. Film dokumenter menggunakan tipe atau gaya penuturan ekspositori. Gaya ekspositori pada prinsipnya penceritaan film akan didukung dengan narasi (voice over) yang memaparkan/menjelaskan serangkaian fakta yang dikombinasikan bersamaan dengan gambar-gambar di film. Tahap penciptaan dalam film dokumenter meliputi tiga tahapan utama, yaitu tahap praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Film dokumenter ini diberikan judul Tutur Lelaku I Ketut Muji dengan durasi 15 menit menggunakan tiga pembabakan cerita.
MAKNA SAKRAL DAN FUNGSI SIMBOL KERAMIK PORSELIN MOTIF WAYANG KAMASAN SEBAGAI ORNAMEN DI PURA PETITENGET KEROBOKAN BADUNG Sunarini, Ni Made Rai; Muka, I Ketut; Karja, I Wayan
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pura sebagai tempat pemujaan umat Hindu Dharma merupakan bagian dari Arsitektur Tradisional Bali, memiliki keunikan dan hirarki makna yang paling utama. Pura Petitenget memiliki budaya lokal dengan memakai keramik porselin motif wayang kamasan sebagai ornamen dengan konsep Tri Angga. Pura Petitenget sebagai Cagar Budaya Lokal Kabupaten Badung No 26 Tahun 2013 Pasal 32. Pura Petitenget berdiri sejak abad ke-16 masehi yang diempon oleh masyarakat Desa Adat Kerobokan. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui makna yang melandasi keramik porselin motif Wayang Kamasan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengambilan data snowballing dan purposive sampling. Teori yang digunakan adalah teori semiotika dan teori hermenutika. Hasil penelitian menunjukan, makna keramik porselin motif wayang kamasan dengan konsep Tri Angga menerapkan berbagai motif wayang kamasan mulai dari motif Acintya, Dewa-Dewi, tokoh-tokoh Ramayana, dan motif binatang serta motif tumbuh-tumbuhan. Makna keramik porselin motif wayang kamasan yang diaplikasikan ke dalam piring keramik porselin di Pura Petitenget mengandung makna sakral dan fungsi simbol (pada tingkatan Utamaning Angga, Madyaning Angga, dan Nistaning Angga), makna sosial, makna budaya, dan makna ekonomi. Makna yang terkandung memiliki nilai kebaruan yang unik dan berkarakter. Dapat melestarikan nilai-nilai seni budaya dan kearifan lokal dibidang keramik Bali agar tidak hilang karena tergerus oleh modernisasi.
PENINGKATAN KECERDASAN MUSIKAL GURU SENI BUDAYA MELALUI ARANSEMEN LAGU RAKYAT BALI SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN BUDAYA Darmayuda, I Komang; Ardini, Ni Wayan; Sustiawati, Ni Luh
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelestarian seni budaya merupakan tanggung jawab yang harus dijaga oleh setiap generasi. Kompetensi guru dalam seni musik, khususnya dalam mengajarkan lagu-lagu rakyat Bali, menjadi penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi lokal. Salah satu cara untuk meningkatkan kecerdasan musikal guru adalah melalui pelatihan aransemen lagu rakyat Bali. Dengan pemahaman yang baik tentang aransemen, guru tidak hanya mampu mengajarkan musik, tetapi juga memotivasi siswa untuk lebih mencintai budaya lokal mereka. Lagu rakyat Bali mengandung nilai-nilai budaya yang mendalam, dan pengajarannya di sekolah dapat membantu siswa memahami jati diri mereka sebagai bagian dari budaya tersebut. Pelatihan aransemen lagu rakyat Bali dalam bentuk vokal kelompok diberikan pada 30 orang guru seni budaya SMP di Kabupaten Buleleng. Metode yang digunakan berupa workshop, diskusi dan sharing session, praktik langsung, dan evaluasi serta umpan balik. Hasil pelatihan menunjukkan, bahwa guru sangat disiplin, antusias, dan responsif. Mereka telah memahami dan mampu mempraktikkan pengaransemenan lagu rakyat Bali dalam bentuk vokal kelompok, dengan nilai pada aspek vokal berkisar antara 80-86; aspek musikalitas antara 80-87; dan aspek penampilan antara 75-80. Pelatihan ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kompetensi guru, melestarikan budaya lokal, dan memperkaya materi pembelajaran. Diharapkan, pelatihan ini dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan dalam pengajaran seni budaya di sekolah-sekolah.
PENCIPTAAN TARI BERBASIS FLORA DAN FAUNA UNTUK ANAK USIA DINI DI PAUD Pramanasari, Kadek Diah; Anggraeni, Reni; Sasrani, Ida Ayu Gede
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji proses penciptaan tari berbasis flora dan fauna yang dirancang khusus untuk anak usia dini di PAUD. Penciptaan tari ini melalui beberapa tahap, mulai dari observasi hingga pembentukan, dengan fokus pada aspek gerak dan lagu sebagai media pengajaran. Melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan, guru membantu anak-anak memvisualisasikan karakteristik flora dan fauna dalam bentuk gerak sederhana yang dipadukan dengan lagu. Penerapan tari ini diharapkan tidak hanya menumbuhkan apresiasi anak terhadap lingkungan alam, tetapi juga mendukung perkembangan motorik dan kognitif mereka melalui proses belajar yang kreatif. Kesimpulan penelitian ini yaitu, bagaimanapun bentuk gerak dan lagu yang diciptakan oleh Guru PAUD hendaknya disesuaikan dengan karakteristik dari peserta didik. Penciptaan Tari berbasis flora dan fauna anak usia dini di PAUD ini, diharapkan dapat menumbuhkan apresiasi anak-anak terhadap alam, sekaligus mengembangkan kemampuan motorik dan imajinasi mereka melalui media tari yang edukatif dan menyenangkan

Page 12 of 13 | Total Record : 130