cover
Contact Name
Khamami Zada
Contact Email
jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Phone
+6221-74711537
Journal Mail Official
jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Faculty of Sharia & Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jl. Ir. H. Juanda 95 Ciputat Jakarta 15412 Telp. (62-21) 74711537, Faks. (62-21) 7491821 Website:http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/ahkam E-mail: jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah
ISSN : 14124734     EISSN : 24078646     DOI : 10.15408
Core Subject : Religion, Social,
Focus and Scope FOCUS This journal focused on Islamic Studies and present developments through the publication of articles and research reports. SCOPE Ahkam specializes on islamic law, and is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Fatwa; Islamic Economic Law; Islamic Family Law; Islamic Legal Administration; Islamic Jurisprudence; Islamic Law and Politics; Islamic Legal and Judicial Education; Comparative Islamic Law; Islamic Law and Gender; Islamic Law and Contemporary Issues; Islamic Law and Society; Islamic Criminal Law
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 378 Documents
The Silent Tarekat in Islamic Law: Legal Consciousness and the Chishti Sufi Legacy of the Tablighi Jamaat Anshori, Ahmad Yani; Abdurrahman, Landy Trisna; Tamtowi, Moh.; Musaffa, Muhamad Ulul Albab
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 25 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v25i1.44979

Abstract

This article explores the silent legal and spiritual framework of the Tablighi Jamaat (TJ) in Indonesia, drawing on fieldwork, interviews, and textual analysis. While TJ does not claim to be a Sufi order (ṭarīqah), its practices suggest a reconfiguration of the Chishti-Ḥanafī legacy within a non-institutional framework. The study argues that TJ operates as a "silent tarekat", where fiqh is embodied through routines of taʿlīm, khurūj, and adab, rather than articulated through fatwā or formal legal discourse. The article traces how collective reasoning (mushāwarah), ethical discipline, and ritual repetition form an alternative legal consciousness that resists codification but remains deeply normative. Drawing from Talal Asad's theory of discursive tradition and Ibn' Arabi's notion of 'ilm al-aḥwāl, the paper shows how authority, legality, and spirituality are distributed through embodied discipline rather than textual claims. Contrasting with mainstream Islamic institutions in Indonesia like NU, Muhammadiyah, and MUI, which rely on fatwā issuance and formal jurisprudence, TJ emphasizes humility, action, and affective cohesion. The article concludes that TJ represents a post-ṭarīqah legal formation, silent, affective, and decentralized, redefining Islamic normativity through practice rather than proclamation.   Abstrak Artikel ini menelusuri kerangka hukum dan spiritual Jamaah Tabligh (JT) di Indonesia yang bersifat diam-diam namun terstruktur, berdasarkan observasi lapangan, wawancara, dan kajian teks. Meskipun Jamaah Tabligh tidak mengklaim diri sebagai tarekat, namun praktiknya menunjukkan konfigurasi ulang warisan Chishti-Ḥanafī dalam bentuk non-institusional. Artikel membawa argumentasi bahwa JT berfungsi sebagai “silent tarekat,” yang mana hukum Islam (fiqh) diwujudkan melalui rutinitas ta’līm, khurūj, dan adab, bukan melalui fatwa atau diskursus hukum formal. Artikel ini mencoba melacak bagaimana musawarah, disiplin etis, dan pengulangan ritual membentuk kesadaran hukum alternatif yang tidak tersusun secara kodifikasi, namun tetap normatif. Mengacu pada teori tradisi diskursif Talal Asad dan konsep ‘ilm al-aḥwāl dari Ibn ʿArabi, tulisan ini menunjukkan bahwa otoritas, legalitas, dan spiritualitas dalam JT tersebar melalui disiplin tubuh, bukan klaim tekstual. Berbeda dengan arus utama lembaga Islam di Indonesia seperti NU, Muhammadiyah, dan MUI yang bergantung pada fatwa dan fikih formal, Jamaah Tabligh menekankan kerendahan hati, amal, dan kohesi afektif. Artikel ini menyimpulkan bahwa Jamaah Tabligh merepresentasikan formasi hukum pasca-tarekat—diam, afektif, dan terdesentralisasi—yang menata ulang normativitas Islam melalui praktik, bukan pernyataan.
Assessing the Effectiveness of al-Qarḍ al-Ḥasan Financing  (A Case Study of Baitul Misykat Microfinance Institution in Aceh) Hasnita, Nevi; Ayumiati, Ayumiati; Isnaliana, Isnaliana; Aini, Intan Qurratul; Amanatillah, Dara
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 25 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v25i1.45586

Abstract

Al-qarḍ al-ḥasan, a non-profit Islamic financing model, holds great potential in empowering marginalized communities. However, its practical implementation and long-term sustainability within Islamic microfinance institutions (IMFIs) remain limited in research, particularly in terms of integrating non-economic elements, such as spirituality. This study analyzes the effectiveness of al-qarḍ al-ḥasan financing implemented by Baitul Misykat in Aceh, with a focus on spiritual development as a key strategy for economic empowerment. Using a qualitative phenomenological case study approach, data were collected through in-depth interviews, field observations, and document analysis. Findings show that al-qarḍ al-ḥasan's financing significantly contributes to the economic empowerment of small traders. Effectiveness is influenced by four interrelated factors: strict beneficiary selection, continuous business monitoring, innovative non-monetary repayment incentives, and integration of spiritual development programs. These elements foster borrower discipline, ethical conduct, and business sustainability. The involvement of government officials, religious leaders, and economists enhances institutional capacity and community confidence. This study introduces a novel perspective by demonstrating how spiritual mechanisms can be synergized with Islamic finance to shape ethical entrepreneurial behavior. It offers a scalable and replicable model for IMFIs, suggesting that integrating ethical-spiritual education into financial systems may support poverty alleviation and inclusive development strategies in Muslim-majority societies.   Abstrak Al-qarḍ al-ḥasan, sebagai model pembiayaan sosial, memiliki potensi besar dalam memberdayakan komunitas marjinal. Namun, implementasi praktis dan keberlanjutannya pada lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) masih minim kajian, terutama terkait integrasi aspek non-ekonomi seperti spiritualitas. Studi ini menganalisis efektivitas pembiayaan al-qarḍ al-ḥasan yang diterapkan oleh Baitul Misykat di Aceh, dengan fokus pada pengembangan spiritual sebagai strategi utama dalam pemberdayaan ekonomi. Menggunakan pendekatan studi kasus fenomenologis kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiayaan al-qarḍ al-ḥasan secara signifikan berkontribusi terhadap pemberdayaan ekonomi pedagang kecil. Efektivitasnya dipengaruhi oleh empat faktor yang saling berkaitan: seleksi penerima manfaat yang ketat, pengawasan usaha yang berkelanjutan, insentif pelunasan non-moneter yang inovatif, dan integrasi dengan program pengembangan spiritual. Unsur-unsur ini mendorong kedisiplinan, perilaku etis, dan keberlanjutan usaha. Keterlibatan pemerintah, tokoh agama, dan ekonom turut memperkuat kapasitas lembaga dan kepercayaan masyarakat. Studi ini menghadirkan pendekatan baru dengan menunjukkan bagaimana pembinaan spiritual dapat disinergikan dengan pembiayaan syariah untuk membentuk perilaku kewirausahaan yang etis. Temuan ini menawarkan model kebijakan yang dapat dikembangkan dan direplikasi oleh LKMS, serta menunjukkan bahwa integrasi pembinaan etika-spiritual dalam sistem keuangan dapat mendukung strategi pengentasan kemiskinan dan pembangunan inklusif di masyarakat  Muslim.
Women, Islamic Law and Custom in Pucuk Induk Undang Nan Limo Manuscript of Jambi Habi, Nuraida Fitri; Mudzhar, Muhammad Atho
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 24 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v24i2.38557

Abstract

The inheritance system within Indonesian society fundamentally intersects with the involvement of customary law and Islamic law. In the Malay Jambi customary society, a Muslim majority society, the inheritance distribution among female and male heirs has diverged from Islamic law provisions. This is evidenced in the manuscript of Pucuk Induk Undang Nan Limo. This article examines Islamic inheritance law’s norms as depicted in the manuscript and practiced by society. This is doctrinal legal research combined with socio-legal inquiry, with the manuscript of Pucuk Induk Undang Nan Limo as the primary source, supplemented by interviews with selected informants. This study finds that, among the Malay Jambi community, daughters receive more inheritance shares than sons. The daughters receive heavy property, while the sons obtain the light ones. With this arrangement, female heirs have more responsibilities, one of them being to provide shelter to their male relatives when they face problems. Furthermore, the daughters cannot independently sell the assets without the permission of their brothers or male relatives. Abstrak: Sistem pewarisan dalam masyarakat Indonesia pada dasarnya bersinggungan dengan hukum adat dan hukum Islam. Dalam masyarakat adat Melayu Jambi yang mayoritas beragama Islam, pembagian warisan antara ahli waris perempuan dan laki-laki berbeda dengan ketentuan hukum Islam. Hal ini dibuktikan dalam naskah Pucuk Induk Undang Nan Limo. Artikel ini mengkaji norma-norma hukum waris Islam yang digambarkan dalam naskah tersebut dan dipraktikkan oleh masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian hukum doktrinal yang dikombinasikan dengan penelitian sosio-legal, dengan menggunakan naskah Pucuk Induk Undang Undang Nan Limo sebagai sumber utama, yang dilengkapi dengan wawancara dengan beberapa informan. Penelitian ini menemukan bahwa, pada masyarakat adat Jambi Melayu, anak perempuan menerima lebih banyak bagian warisan daripada anak laki-laki. Anak perempuan menerima harta warisan yang berat, sedangkan anak laki-laki menerima harta warisan yang ringan. Dengan pengaturan ini, ahli waris perempuan memiliki lebih banyak tanggung jawab, salah satunya adalah menyediakan tempat berlindung bagi kerabat laki-laki ketika mereka menghadapi masalah. Selain itu, anak perempuan tidak dapat secara mandiri menjual aset tanpa izin dari saudara laki-laki atau kerabat laki-laki. 
Qibla Direction Calculation Methods in Islamic Astronomy References in Indonesia Akbar, Reza; Aslan, Aslan; Mustaqim, Riza Afrian
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 22 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i2.20422

Abstract

This research shows that most Islamic astronomy references in Islamic Universities in Indonesia still use the spherical earth concept to explain the qibla  direction.  However,  based  on  modern  astronomy,  the  earth's  shape  is not a perfect sphere but an ellipsoid. In addition, a contradiction occurs in the  conception  of  magnetic  declination  in  determining  the  qibla  direction. This research aims to examine the relevance of Islamic astronomy reference books  with  the  concept  of  geoscience  based  on  the  magnetic  declination formula  and  concept.  This  research  also  examines  the  calculation  methods for qibla direction based on sharia. This library research applies descriptive- analytic  and  normative  approaches  with  the  data  originating  from  various Islamic astronomy references in the digital library of Islamic universities. This research finds that Islamic astronomy references about the qibla direction are not  yet  relevant  to  the  concept  of  geoscience.  Most  of  those  references  still use references astronomy for qibla calculation. There are still some references contradicting the international consensus regarding magnetic declination. In addition, this study reveals that someone who has the ability to determine the qibla direction through the Vincenty formula should use that concept instead of  spherical  trigonometry.  This  is  because  of  skill  (ahliyyah) and sincerity (juhd)  requirements  in  ijtihad;  Shafi'i's  notion  regarding  ikhtilāf in ijtihād for qibla direction; and Islamic jurisprudence principle stating that certainty is not overruled by doubt.Keywords: Islamic  astronomy;  qibla  direction;  spherical  trigonometry; Vincenty's formula; sharia AbstrakPenelitian  ini  berangkat  dari  fakta  bahwa  sebagian  besar  referensi ilmu falak di perguruan tinggi Indonesia masih menggunakan konsep bumi bulat  dalam  menjelaskan  pokok  bahasan  arah  kiblat.  Padahal,  berdasarkan astronomi modern, bentuk bumi tidaklah seperti bola sempurna, melainkan berbentuk elipsoid. Selain itu, terdapat pula pertentangan konsepsi deklinasi magnetik  dalam  persoalan  penentuan  arah  kiblat.  Penelitian  ini  bertujuan untuk mengkaji relevansi referensi ilmu falak terhadap konsep sains kebumian berdasarkan ketepatan penggunaan formula dan konsep deklinasi magnetik, serta juga menelaah penggunaan formula perhitungan arah kiblat berdasarkan kajian syariah. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaaan menggunakan pendekatan deskriptif analitik dan normatif sumber data dari berbagai referensi ilmu falak yang ada di perpustakaan digital perguruan tinggi keagamaan Islam. Berdasarkan penelitian ini, ditemukan bahwa referensi ilmu falak pada pokok bahasan  arah  kiblat  belum  relevan  dengan  konsep  sains  kebumian.  Hal  ini disebabkan sebagian besar referensi tersebut masih menggunakan perhitungan referensi astronomi untuk memecahkan persoalan arah kiblat. Beberapa referensi ilmu  falak  juga  tidak  mengikuti  konsensus  internasional  mengenai  konsep deklinasi magnetik. Selain itu, penelitian ini mengungkapkan bahwa seseorang yang mampu menentukan arah kiblat melalui perhitungan formula Vincenty sebaiknya  menggunakannya  dan  meninggalkan  perhitungan  trigonometri bola.  Hal  ini  disebabkan  beberapa  pertimbangan,  yaitu  pelaksanaan  ijtihād yang mewajibkan kecakapan (ahliyyah) dan kesungguhan (juhd), pandangan Shafi’i  mengenai  penyelesaian  ikhtilāf dalam ijtihād  penentuan  arah  kiblat, dan kaidah ushūl  al-fiqh  yang  menyebutkan  bahwa  keyakinan  tidak  dapat dihilangkan oleh keraguan (shakk).Kata Kunci: ilmu falak; arah kiblat; trigonometri bola; formula Vincenty; syariah
Children Handling Procedure in Islamic Criminal Offense in Aceh Analiansyah, Analiansyah; Abubakar, Ali
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 21 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v21i1.20869

Abstract

The Law of the Republic of Indonesia authorizes Aceh to implement shari’a law in various sectors, including jināyāt (Islamic criminal law). This additional authority is different from the authority of the Religious Courts (Pengadilan Agama) in other provinces in Indonesia. This article analyzes the process of handling children in criminal cases in the Aceh’s Shari’a Courts in Aceh using the lex specialis derogate legi generalis and the systematic lex specialis principles. The data in this study comes from legal documents and interviews with Shari’a Court judges. The results show that the handling of Islamic criminal offenses involving children has been carried out by referring to existing laws and regulations according to the principle of specificity. However, some issues arise related to human resources and appropriate facilities. Most of the judges have not obtained special training in handling children’s cases, which influenced their knowledge on the issue. Moreover, children involving in legal cases are still treated using similar facilities as adults. These weaknesses, however, can be appropriately resolved by the Shari’a Courts and the Aceh Government. Abstrak:Undang-Undang Republik Indonesia memberikan kewenangan kepada Aceh untuk menerapkan syariat Islam di berbagai bidang, termasuk jināyāt (hukum pidana Islam). Pemerintah Aceh mengeluarkan qanun (Peraturan Daerah) yang mencakup beberapa jarīmah (perbuatan pidana) dan pelaksanaannya menjadi kewenangan Pengadilan Syariah (Mahkamah Syar’iyyah) di Aceh. Kewenangan tambahan ini berbeda dengan kewenangan Peradilan Agama di provinsi lain di Indonesia. Hakim-hakim di pengadilan-pengadilan tersebut tidak mendapatkan pendidikan khusus dalam hukum pidana, terutama kasus-kasus yang melibatkan anak-anak yang telah diatur dalam undang-undang khusus. Kewenangan tambahan dalam memeriksa dan mengadili perkara pidana di Mahkamah Syariah menimbulkan persoalan Sumber Daya Manusia (SDM) baru. Artikel ini menganalisis proses penanganan anak di Pengadilan Syariah di Aceh dengan menggunakan prinsip lex specialis derogate legi generalis dan systematic lex specialis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanganan tindak pidana Islam yang melibatkan anak telah dilakukan dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan yang ada sesuai dengan asas kekhususan. Beberapa kelemahan sumber daya manusia dan infrastruktur dapat diselesaikan dengan baik oleh Pengadilan Syariah dan Pemerintah Aceh. 
Bay‘ Mumtalakāt al-Waqf: Dirāsah Taḥliliyyah fī Ḍau’ Tashrī‘āt al-Waqf fī Hukumah Māliziyā Ab Rahman, Muhamad Firdaus; Abdullah Thaidi, Hussein ‘Azeemi; Hamdan, Mohammad Naqib; Ab Rahim, Siti Farahiyah
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 22 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i2.22568

Abstract

This article aims to critically examine  the  issue  of  selling  waqf properties  in  Malaysia's  waqf  legislations.  This tudy  adopts  a  qualitative methodology  employing  field  work  data.  The  findings  indicate  that  even though the waqf fiqh provides a choice of periods to be either temporary or permanent waqf, the Malaysian Waqf laws adopt permanent waqf and prohibits the  temporary  waqf  for  the  sake  of  public  interest  (maslahah).  Therefore, waqf properties cannot be cancelled by a donor, and that waqf land cannot be sold, given as a present, or bequeathed. The finding established that the Waqf laws are consistent with the waqf's aims. Thus, this paper proposes that each  State's  Waqf  Corporation  and  Islamic  Religious  Council  in  Malaysia needs to conduct a review of the existing waqf rulings and legal framework to ensure that they are consistent with the waqf purpose for benefiting donors, waqf holdings, and beneficiaries.Keywords: sell; Waqf; Property; legislation; Malaysia  ملخ: تهدف هذه الورقة إلى دراسة المواد القانونية الشرعية المتعلقة ببيع ممتلكات الوقف في دولة ماليزيا. وتعتمد هذه الدراسة على المنهج النوعي مع استخدام المناهج الاستقرائية والوصفية والمقارنة والميدانية في تحليل البيانات. ومن أهم نتائج  هذه الورقة أن تشريعات الوقف لدولة ماليزيا لا تجيز الوقف المؤقت وانتهاء الوقف ورجوعه وبيعه، وهذا دليل على أن تشريعات الوقف في دولة ماليزيا تتفق مع مقاصد الوقف أنه لا يباع أصلها ولا يوهب ولا يورث، ويكون الوقف مستمرا غير مقطوع. وتقترح هذه الورقة تشجيع هيئات الأوقاف لكل ولاية في ماليزيا على تقويم المواد القانونية المنصوصة في قانون الوقف الحالي حتى تتفق مع مقاصد الوقف لمصلحة الواقفين والموقوف عليهم والأموال الموقوفة.  .يازيلام؛ فقو ؛نوناق ؛تاكلتمم ؛عيب :ةيحاتفلما تاملكلا
Sharia and Local Wisdom in Indonesia: A Criticism of jāhiliyyah Law Misinterpretation Zahid, Moh
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 22 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i2.25100

Abstract

There are some opinions that laws not derived from the Qur'an and hadith are jahiliyyah laws. In order to create a national law with Indonesian characters, it is necessary to accommodate the local wisdom, traditions and customs  of  the  people.  This  research  explores  the  views  of  Muslim  scholars about the meaning of jāhiliyyah law to formulate national law with Indonesian characters. The study used a phenomenological approach showing that there are differences in viewing the notion of jahiliyyah law. Some believe that the law originating from customs and culture is jahiliyyah law, while the others argue against it. The latter considers the principle of al-‘ādah muḥakkamah, al-‘urf and maqāṣid  al-sharī'ah.  The  accommodation  of  local  wisdom  and Islamic  law  in  the  formation  of  national  law  is  to  ensure  the  plurality  of national legal sources.Keywords: jāhiliyyah law; Islamic law; custom; local wisdom AbstrakAda pendapat yang berkembang bahwa hukum yang tidak bersumber dari Al-Qur'an dan hadis adalah hukum jahiliah. Untuk menciptakan hukum nasional yang berkarakter Indonesia, perlu akomodasi kearifan lokal, tradisi, dan adat istiadat. Penelitian ini menggali pandangan para cendekiawan Muslim dan ulama tentang makna hukum jahiliah dalam merumuskan hukum nasional yang berkarakter keindonesiaan. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, penelitian  ini  menunjukkan  adanya  perbedaan  pendapat  dalam  memaknai hukum  jahiliah.  Sebagian  berpendapat  bahwa  hukum  yang  bersumber  dari adat dan budaya adalah hukum jahiliah, namun sebagian lainnya menentang pendapat  tersebut.  Pendapat  terakhir  mempertimbangkan  prinsip  al-‘ādah muḥakkamah, al-‘urf dan maqashid al-shari'ah. Dengan demikian, akomodasi kearifan lokal dan hukum Islam dalam perumusan hukum nasional diperlukan untuk menjamin pluralitas sumber hukum nasional.Kata Kunci: hukum jahiliyyah; hukum Islam; adat; kearifan lokal
Religion and Nationalism in Shaping the Fiqh of Armed Jihad: A Lesson to the Indonesian National Counterterrorism Policy Munajat, Munajat
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 22 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i2.26130

Abstract

Understanding the formulation of the fiqh of jihad is a key success in countering violent  Islamist  extremism  and  terrorism. Two salient factors that often come up in the academic  discussion  of  the  making  of  violent jihad are nationalism and religion. The present study investigates these two crucial  related  factors  in  the  two  prominent  cases  of  armed  jihad  in  Iran (1980-1988) and Palestina (1990-2010); and, then, how they may provide a lesson to the counterterrorism policy in Indonesia. The study uses secondary data  to  investigate  the  making  of  violent  jihad  of  Iran  and  the  Palestinian Hamas. While in the case of Indonesian policy, this article uses a government report  on counterterrorism  and  interviews  with  the  state  counterterrorism authorities. This study shows that the interactions of two ideologies (religion and nationalism) together create a sustained and powerful force of a violent jihad by the Iranians during the Iraq-Iran War and Palestinian Hamas against Israel to achieve their political goals. In contrast to this practice, Indonesia has applied nationalism in counterterrorism policies as a strategy to deradicalize violent ideology with religious motives. This article shows that counterterrorism policies need to put more emphasis on the meaning of non-violent jihad.Keywords: religion; nationalism; jihad; counterterrorism AbstrakMemahami fikih jihad merupakan kunci keberhasilan dalam melawan ekstrimisme  dan  terorisme.  Dua  faktor  yang  sering  muncul  dalam  diskusi akademis tentang pembentukkan wacana jihad kekerasan adalah nasionalisme dan  agama.  Studi  ini  menyelidiki  dua  faktor  penting  dalam  kasus  jihad bersenjata  di  Iran  (1980-1988)  dan  Palestina  (1990-2010);  dan  bagaimana kasus ini menjadi pertimbangan dalam kebijakan kontraterorisme di Indonesia. Studi ini menggunakan data sekunder untuk menyelidiki pembentukkan jihad kekerasan di Iran dan Hamas Palestina. Pada konteks Indonesia, penelitian ini menggunakan  laporan  pemerintah  tentang  kontraterorisme  dan  wawancara dengan  otoritas  terkait.  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  interaksi  dua ideologi (agama dan nasionalisme) secara bersama-sama menciptakan kekuatan jihad kekerasan yang signifikan dan berkelanjutan di Iran selama Perang Irak- Iran  dan  Hamas  Palestina  melawan  Israel  dalam  mencapai  tujuan  politik. Berbeda dengan praktik tersebut, Indonesia menggunakan nasionalisme dalam kebijakan kontraterorisme sebagai strategi melawan ideologi kekerasan bermotif agama. Artikel ini menunjukkan bahwa kebijakan kontraterorisme perlu lebih menekankan pada pemaknaan jihad tanpa kekerasan.Kata Kunci: agama; nasionalisme; jihad; penanggulangan terorisme
E-Wallet Models: An Appraisal of Shariah Related Issues Mohamed Naim, Asmadi; Iskandar Mirza, Azrul Azlan; A. Shukor, Abdul Rahman; Md. Nor, Mohd Zakhiri; Muhamed, Nurul Aini; Ahmad, Azuan; S. Ali, Shahrul Ridhwan
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 23 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v23i2.26596

Abstract

This paper aims to evaluate the existing e-wallet business models and to provide a preliminary analysis of Sharia issues, specifically related to the relationship of the involved parties in the contract (operators, customers, and third parties). As e-wallet is also a critical enabler to increase financial inclusion among the different levels of society members (richer and poor), thus there is an increasing need to analyze the existing e-wallet models and their practices. The final aims are to preserve all parties’ rights and support the policymakers to structure e-wallet parameters that comply with Islamic law. This paper adopts qualitative research approaches, specifically content analysis and interviews. The data collection includes, among others, document reviews, interviews, and observations. The paper evaluates four e-wallet models in Malaysia and analyzes arising Sharia issues from those models. In the models, several Sharia issues can be found, which are related to the contracts used, the status of funds held by e-wallet providers, deposits in banks, and revenue generation. Findings from this paper serve as a basis for scholars and policymakers to provide guidelines for Sharia-compliant e-wallets. Tulisan ini bertujuan untuk mengevaluasi model bisnis dompet elektronik yang ada dan memberikan analisis awal tentang masalah syariah, khususnya terkait dengan hubungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak (operator, pelanggan dan pihak ketiga). Karena dompet elektronik juga merupakan faktor penting untuk meningkatkan inklusi keuangan di antara berbagai tingkat anggota masyarakat (kaya dan miskin), maka ada peningkatan kebutuhan untuk menganalisis model dompet elektronik yang ada dan praktiknya. Tujuan akhirnya adalah untuk menjaga hak semua pihak dan mendukung pembuat kebijakan untuk menyusun parameter dompet elektronik yang sesuai dengan hukum Islam. Tulisan ini mengadopsi pendekatan penelitian kualitatif, khususnya analisis isi dan wawancara. Pengumpulan data meliputi telaah dokumen, wawancara, dan observasi. Tulisan ini mengevaluasi empat model dompet elektronik di Malaysia dan menganalisis masalah syariah yang muncul dari model tersebut. Ada beberapa masalah syariah yang dapat ditemukan dari model-model tersebut, yaitu terkait dengan akad yang digunakan, status dana yang dipegang oleh penyedia dompet elektronik, status simpanan di bank dan perolehan pendapatan. Temuan dari makalah ini dapat digunakan sebagai dasar bagi para sarjana dan pembuat kebijakan untuk memberikan pedoman dompet elektronik yang sesuai syariah.
Legal Reasoning on Paternity: Discursive Debate on Children Out of Wedlock in Indonesia Jarir, Abdullah; Lukito, Ratno; Ichwan, Moch. Nur
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 23 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v23i2.27005

Abstract

This article explains why Indonesian Ulama and Islamic jurists who oppose the Constitutional Court decision have failed to see the progressive norms in Islam and human rights. They argued that the decision determining that the children born out of wedlock have filiation not only with their mother but also with their father contrasted to and has no legal basis in Islamic jurisprudence. Therefore, this paper will provide the rationale of the  arguments of Islamic jurists, including Indonesian ulama, and the proponent  of the Indonesian Constitutional Court decision. In conclusion, Indonesian ulama and Islamic jurists have been embracing the conservatism point of view, that is static and textual thinking in interpreting the Ḥadith concerning the issue of a child out of wedlock. As a result, they did not accept another interpretation. Other interpretations are delivered by classical Islamic jurists like Ibn Taimiyyah and Ibrahim al-Nakhā'ī, who argued that a child out of wedlock has a civil relationship with their parents. Meanwhile, the proponent of the Indonesian Court decision adheres to the progressive point of view that considers the children's public interest.  Artikel ini menjelaskan mengapa para ulama dan ahli hukum Islam Indonesia yang menentang keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) telah gagal melihat norma-norma progresif dalam Islam dan hak asasi manusia. Mereka berargumen bahwa keputusan yang menetapkan bahwa anak yang lahir di luar nikah memiliki hubungan nasab tidak hanya dengan ibunya tetapi juga dengan ayahnya bertentangan dan tidak memiliki dasar hukum dalam yurisprudensi Islam. Oleh karena itu, makalah ini akan memberikan dasar pemikiran dari argumen para ahli hukum Islam, termasuk ulama Indonesia, dan pendukung keputusan Mahkamah Konstitusi Indonesia. Kesimpulannya, para ulama dan ahli hukum Islam Indonesia selama ini menganut pandangan konservatisme, yaitu pemikiran yang statis dan tekstual dalam menafsirkan hadis tentang masalah anak di luar nikah. Akibatnya, mereka tidak menerima penafsiran lain. Padahal, ada penafsiran lain disampaikan oleh para ahli hukum Islam klasik seperti Ibnu Taimiyyah dan Ibrahim al-Nakhā'ī, yang berpendapat bahwa  anak di luar nikah memiliki hubungan keperdataan dengan orang tuanya.  Sementara itu, pendukung putusan MK menganut pandangan progresif yang mempertimbangkan kepentingan umum-anak-anak.