cover
Contact Name
Khamami Zada
Contact Email
jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Phone
+6221-74711537
Journal Mail Official
jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Faculty of Sharia & Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jl. Ir. H. Juanda 95 Ciputat Jakarta 15412 Telp. (62-21) 74711537, Faks. (62-21) 7491821 Website:http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/ahkam E-mail: jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah
ISSN : 14124734     EISSN : 24078646     DOI : 10.15408
Core Subject : Religion, Social,
Focus and Scope FOCUS This journal focused on Islamic Studies and present developments through the publication of articles and research reports. SCOPE Ahkam specializes on islamic law, and is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Fatwa; Islamic Economic Law; Islamic Family Law; Islamic Legal Administration; Islamic Jurisprudence; Islamic Law and Politics; Islamic Legal and Judicial Education; Comparative Islamic Law; Islamic Law and Gender; Islamic Law and Contemporary Issues; Islamic Law and Society; Islamic Criminal Law
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 378 Documents
Multi-Track Diplomacy Fiqh of Nahdlatul Ulama in Countering Islamophobia in Netherlands Taufiq, Muhammad; Harisudin, Muhammad Noor; Maimun, Maimun
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 22 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i2.27963

Abstract

Islamophobia is a global issue, leading to discrimination, violence, and hatred against Muslims in the Netherlands. In response to this, the Special Branch of Nahdlatul Ulama of the Netherlands (PCINU of the Netherlands) is among the Indonesian diaspora campaigning for the moderation of “Islam Nusantara” through multi-track diplomacy fiqh, a holistic approach emphasizing interdependence in politics, economics, and socio-culture. This paper discusses the  multi-track  diplomacy  fiqh  of  PCINU  of  the  Netherlands  in  fighting against Islamophobia in the country. As a non-governmental socio-religious organization, PCINU of Netherlands play a role and strategy in assisting the diplomacy of the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia in spreading  the  “Islam Nusantara”  idea  to  counter  Islamophobia.  This  article is  based  on  empirical  research  with  fiqh  al-siyāsah and maqāṣid  al-sharī’ah analysis.  This  study  finds  that,  in  countering  Islamophobia,  PCINU  of  the Netherlands  uses  a  multi-track  diplomacy  strategy  that  successfully  spreads friendly, anti-terror, tolerant and moderate Islam. Even though PCINU has not  fully  employed  all  Multi-track  fields,  it  has  successfully  encountered islamophobia and promoted peaceful Islam through Islam Nusantara.Keywords: multi-track Diplomacy Fiqh; Moderation; Islamophobia; Islam Nusantara; world peace AbstrakIslamofobia  menjadi  isu  global  yang  menimbulkan  diskriminasi, kekerasan,  dan  kebencian  terhadap  Muslim,  termasuk  di  Belanda.  Dalam merespons  hal  ini,  Pengurus  Cabang  Istimewa  Nahdlatul  Ulama  Belanda (PCINU  Belanda)  sebagai  diaspora  Indonesia  mengampanyekan  moderasi Islam  Nusantara  melalui  fikih  diplomasi  multitrack. Tulisan ini mendalami strategi  fikih  diplomasi  PCINU  Belanda  dalam  memerangi  Islamofobia  di Belanda. Sebagai organisasi sosial keagamaan non pemerintah, PCINU Belanda memiliki peran dan strategi dalam membantu diplomasi Kementerian Luar Negeri  Republik  Indonesia  dalam  menebarkan  moderasi  “Islam  Nusantara” merespons Islamofobia. Studi ini adalah penelitian empiris dengan pendekatan fikih siyasah dan maqāṣid al-sharī’ah. Dalam merespons Islamofobia, PCINU Belanda menggunakan strategi diplomasi multitrack yang berhasil menebarkan Islam  yang  ramah,  anti  teror,  toleran,  dan  moderat.  Meskipun  PCINU belum sepenuhnya menggunakan semua bidang multitrack, namun berhasil menghadapi  islamofobia  dan  mempromosikan  Islam  yang  damai  melalui Islam Nusantara.Kata Kunci: multi-track diplomacy; moderasi; islamfobia; Islam Nusantara; perdamaian dunia
Coastal Ulama Ijtihād and Destructive Fishing Prevention in Indonesia Luth, Thohir; Rohmah, Siti; Chanifah, Nur; Kholish, Moh. Anas; Ganindha, Ranitya
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 22 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i2.28077

Abstract

Indonesia has large fisheries and marine resources. However, most of Indonesia's marine ecosystems are still under threat. One of them is the coast of Lamongan. The damage is caused by destructive fishing using destructive gears such as tiger trawls, cantrang (a modified Danish seine), explosives, and others. Government  regulations  to  prevent  those  activities  have  not  been  effective. Therefore, alternative approaches are needed. One approach to be chosen is the Islamic law approach. Because the Lamongan coastal community has a strong Islamic  culture,  the  Islamic  view  of  destructive  fishing  is  expected  to  offer  a better alternative solution. Therefore, this article examines the ecological ijtihād of Nahdlatul Ulama (NU) and Muhammadiyah ulama in Lamongan. This is empirical legal research, with data from focused-group discussions and in-depth interviews.  The  study  finds  that  the  NU  Ulama  had  issued  a  fatwa  through Bahtsul Masail, stating that preserving marine ecology is the obligation of every Muslim  and  destructive  fishing  is  prohibited.  Meanwhile,  Muhammadiyah ulama have not issued fatwas institutionally. Nonetheless, the fatwa of the two communities has become a reinforcement for government policies in preventing marine ecosystems damage through eco-fishing.Keywords: destructive fishing; ecological ijtihād; NU; Muhammadiyah AbstrakIndonesia memiliki sumber daya perikanan dan kelautan yang besar. Namun, sebagian besar ekosistem laut Indonesia masih terancam di antaranya di  pesisir  Lamongan.  Kerusakan  ini  disebabkan  oleh  penangkapan  ikan  yang merusak dengan menggunakan alat tangkap yang merusak seperti pukat harimau,  cantrang,  bahan  peledak  dan  lainya.  Pencegahan  aktivitas  tersebut dengan peraturan pemerintah tidak berjalan efektif. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan alternatif yang lebih efektif. Salah satu pendekatan yang dapat dipilih adalah pendekatan hukum Islam karena masyarakat pesisir Lamongan mempunyai kultur keislaman yang kuat. Artikel ini mengkaji ijtihād ekologis ulama pesisir Lamongan yang berafiliasi NU dan Muhammadiyah. Penelitian dilakukan dengan pendekatan yuridis-empiris, dengan data didapatkan dari diskusi kelompok dan wawancara mendalam. Penelitian ini menemukan bahwa Ulama NU di Paciran Lamongan telah mengeluarkan fatwa melalui Bahtsul Masail yang menyatakan bahwa  menjaga  kelestarian  ekologi  laut  adalah  kewajiban  setiap  umat  Islam sehingga  destructive  fishing  dilarang.  Sementara  ulama  Muhammadiyah  belum mengeluarkan  fatwa  secara  kelembagaan,  namun  mayoritas  secara  pribadi menyatakan bahwa kegiatan tersebut juga dilarang. Meskipun demikian, fatwa kedua  komunitas  tersebut  menjadi  penguat  bagi  kebijakan  pemerintah  dalam mencegah kerusakan ekosistem laut melalui eco-fishing.Kata Kunci: destructive fishing; ijtihād ekologi; NU; Muhammadiya
Islamic Law and The Politics of Nation-State: Debating Citizenship Fiqh Through The Al-Maskut 'Anhu Discourse Prihantoro, Hijrian Angga; Hasan, Noorhaidi; Masrukhin, Mohammad Yunus
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 23 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v23i2.28139

Abstract

The jurisprudential aspects of citizenship (known as fiqh al-muwāṭanah), emerging from the realm of ijtihād, have sparked considerable debate due to their theoretical nature. The term "citizenship fiqh" is not explicitly mentioned in the Quran or Sunna; consequently, it lacks demonstration within the context of the Prophetic era. This study aims to delve into citizenship fiqh by examining the discourse known as al-maskūt' anhu, shedding light on how Muslim scholars validated novel findings. To achieve this objective, the paper employs Foucault's critical discourse analysis theory to showcase that each era holds the prerogative to embrace distinct political systems and legal frameworks. Adopting a qualitative approach and drawing from various literary sources, this research proposes embracing the al-maskūt 'anhu discourse as the fundamental concept underpinning studies on citizenship within Islamic legal thought. This investigation discerns that citizenship fiqh embodies a blend of political and religious engagement. It can be effectively harnessed as a mechanism of legal governance during the nation-state era, provided it effectively contributes to the populace's well-being and fosterssocial equity. Abstrak: Aspek-aspek fikih kewarganegaraan (fiqh al-muwāṭanah), yang muncul dari ranah ijtihad, memicu banyak perdebatan karena sifat teoretis nya. Terminologi “fikih kewarganegaraan” tidak ditemukan secara eksplisit dalam Al-Quran atau Sunah, dan sebagai konsekuensinya, tidak terdemonstrasi kan dalam konteks era kenabian. Artikel ini bertujuan untuk menggali konsep fikih kewarganegaraan melalui diskursus al-maskūt ‘anhu, dan menyoroti bagai mana para sarjana muslim memvalidasi temuan-temuan baru. Artikel ini meng guna kan teori analisis wacana kritis Foucault untuk menunjukkan bahwa setiap era memiliki hak prerogatif untuk mengadopsi sistem politik dan kerangka hukum yang berbeda. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan menganalisis berbagai sumber literatur, penelitian ini merekomendasikan diskursus al-maskūt 'anhu sebagai konsep dasar yang mewadahi studi kewarganegaraan dalam pemikiran hukum Islam. Studi ini menemukan bahwa fikih kewarganegaraan, pada dasarnya, mencakup perpaduan diskursif antara aspek politik dan agama. Hal ini dapat dimanfaatkan secara efektif sebagai mekanisme tata kelola hukum pada era negara-bangsa, dengan catatan dapat berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dan mendorong kesetaraan sosial.
Siyāsah Shar'iyyah and the Politicization of Religion in the 2019 Indonesian Presidential Election Zainuddin, Zainuddin; Efendi, Roni; Mirdad, Jamal; Yaacob, Salmy Edawati
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 22 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i2.28165

Abstract

The politicization of religion in general elections has been a global issue in both religious and secular countries. Since 1955 to 2019, Indonesia experienced political contests laden with religious attributes, which sparked conflicts. This research aims to analyze the relevant issues and motives associated with using religious elements in the presidential election campaign 2019. This study  is  empirical  research  and  involves  interviews  with  high-level  officials of  political  parties.  Furthermore,  the  online  mass  media,  official  blogs  of candidate  pairs  for  president  and  vice  president,  and  social  media  were employed  as  secondary  data.  Following  the  analysis,  the  result  implies  that the politicization of religion in the 2019 presidential election campaign firmly appears  amidst  the  decline  of  presidential  and  vice  presidential  candidates' religious  polarization.  The  use  of  religious  issues  in  the  campaign  yielded public  sympathy  and  antipathy,  affecting  the  electability  of  presidential and  vice  presidential  candidates.  Meanwhile,  counter-elements  contradict negative images that discredit presidential and vice presidential candidates. The motives for politicizing religion were identified as "political pragmatism" and "culturalism politics". Ideological interest was also identified as a motive but  did  not  arise  in  the  2019  presidential  election.  From  siyāsah  shar'iyyah perspective, the politicization of religion could threaten the sharia objective of  creating  social  advantage  (maṣlaḥah).  Politicization  using  religious  issues amounts  to  religious  commodification,  which  is  irrelevant  to  the  sharia objective.Keywords: politization of religion; campaign; presidential election; siyāsah shar'iyyah AbstrakPolitisasi agama dalam pemilihan umum telah menjadi isu global di banyak negara, baik negara-negara berbasis agama maupun sekuler. Indonesia telah  melaksanakan  pemilihan  umum  sejak  tahun  1955  hingga  2019  dalam prosesnya  banyak  sekali  muncul  isu-isu  keagamaan  yang  menyebabkan terjadinya konflik dan perpecahan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan menganalisis isu-isu terbaru dan motif penggunaan isu keagamaan dalam kampanye  Pilpres  2019.  Penelitian  ini  merupakan  penelitian  fenomenologis empiris. Data diperoleh dari pengurus dan anggota partai politik. Selain itu diperoleh dari media cetak, media elektronik, media online/internet seperti blok resmi  pasangan  calon  presiden-calon  wakil  presiden  dan  media  sosial.  Hasil penelitian menemukan bahwa politisasi agama dalam kampanye Pilpres 2019 semakin menguat di tengah melemahnya polarisasi agama. Isu-isu keagamaan dalam  kampanye  telah  menimbulkan  simpati  dan  antipati  publik  sehingga mempengaruhi elektabilitas pasangan calon presiden-calon wakil presiden. Di sisi  lain  isu-isu  yang  mengkonter  berusaha  menormalisasi  citra  negatif  yang dialamatkan  pada  pasangan  calon  presiden-calon  wakil  presiden.  Isu-isu  ini muncul untuk kepentingan sesaat sebagai wujud politik pragmatis, di samping politik kultural. Kepentingan ideologis tetap terbaca walaupun tidak mengemuka secara  transparan,  karena  hambatan  konstitusional.  Dalam  pandangan  siyāsah shar'iyyah, politisasi agama dapat mengancam tujuan syariat untuk mewujudkan kemashlahatan. Politisasi dengan menggunakan isu-isu keagamaan merupakan komodifikasi agama yang tidak sejalan dengan cita-cita syariat itu sendiri.Kata Kunci: politisasi agama; kampanye; pemilihan presiden; siyāsah shar'iyyah
The Protection of Women and Children Post-Divorce in Sharia Courts in Aceh: A Sociological Perspective Kasim, Fajri M; Nurdin, Abidin; Muthalib, Salman Abdul; Syarifuddin, Samsinar; Samad, Munawwarah
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 22 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i2.28747

Abstract

This  study  discusses  the  protection  of  women  and  children  after divorce  at  the  Syar'iyah  Court  in  Aceh.  A  legal  sociology  approach  is  used to  draw  the  decisions  of  the  Banda  Aceh,  Aceh  Besar,  Pidie,  Bireuen,  and Lhokseumawe Syar'iyyah Courts. The interviews were conducted with judges, community  leaders,  village  heads,  heads  of  the  Office  of  Religious  Affairs (KUA),  academics,  traditional  figures,  and  non-governmental  organizations (NGO) activists. This study concludes that the Syar'iyah Court in Aceh, in its  decision,  has  ensured  the  rights  of  women  and  children.  The  Syar'iyah Court  in  Aceh  determined  the  provision  of  'iddah,  muṭ'ah  maintenance, joint  assets,  and  childcare  rights  to  women.  Children  get  living  expenses, guardianship from the family, and care from the mother. Sociologically, the law has functioned as a means of social control through the Syar'iyah Court and judges as the main part of the legal structure supported by other elements of society so that the protection of women and children can be realized fairly.Keywords: protection of women and children; divorce; legal sociology; sharia court AbstrakKajian  ini  membahas  perlindungan  perempuan  dan  anak  setelah perceraian pada Mahkamah Syar’iyah di Aceh. Dengan pendekatan sosiologi hukum,  studi  ini  bersumber  pada  putusan-putusan  Mahkamah  Syar’iyyah Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Bireuen, and Lhokseumawe dan wawancara kepada hakim, tokoh masyarakat, kepala desa, kepala Kantor Urusan Agama (KUA),  akademisi,  tokoh  adat  dan  aktivis  Lembaga  Swadaya  Masyarakat (LSM). Kajian ini menyimpulkan bahwa Mahkamah Syar’iyah di Aceh dalam putusannya telah memastikan hak-hak perempuan dan anak. Mahkamah Syar’iyah di Aceh menetapkan pemberian nafkah ‘iddah, nafkah muṭ‘ah, harta bersama dan hak pengasuhan anak kepada perempuan; dan anak mendapatkan biaya hidup, perwalian dari keluarga dan pengasuhan dari ibu. Secara sosiologis, hukum telah berfungsi sebagai alat kontrol sosial melalui Mahkamah Syar’iyah dan  hakim  sebagai  bagian  utama  dari  struktur  hukum  yang  didukung  oleh elemen masyarakat lainnya sehingga perlindungan terhadap perempuan dan anak dapat terwujud secara adil.Kata Kunci: perlindungan perempuan dan anak; perceraian; sosiologi hukum; Mahkamah Syar’iyah
Marriage Dispensation and Family Resilience: A Case Study of the Bener Meriah Shariah Court, Aceh Province Darmawan, Darmawan; Husna, Asmaul; Rahmatillah, Mirza; Imran, Helmi
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 22 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i2.28827

Abstract

The regulation on marriage dispensation has encouraged the increase in early marriage in various regions in Indonesia, including in Bener Meriah, Aceh.  Early  marriage  has  a  negative  impact  on  family  resilience  as  it  raises problems leading to divorce. This is a normative legal study with a case study approach. Data collection was carried out employing a document study, namely Sharia Court Decisions and related literature. This study concludes a significant relationship  between  marriage  dispensation,  high  underage  marriages,  and weak family resilience. In granting marriage dispensation, the Sharia Court judges consider legal and extra-legal grounds. The dispensation stipulation has met  the  legal  requirement,  although  the  legal  reasonings  are  unconvincing. Furthermore, early marriage has an impact on increasing divorce rates due to issues such as psychological problems and reproductive readiness, as well as adverse effects caused by divorce. Therefore, concrete and strategic steps are needed  with  the  involvement  of  various  groups,  including  the  government, ulama, and traditional leaders, who are able to promote family resilience in society.Keywords: marriage dispensation; underage marriage; family resilience; sharia court AbstrakKebijakan dispensasi nikah telah mendorong peningkatan pernikahan dini  di  berbagai  daerah  di  Indonesia,  termasuk  di  Bener  Meriah,  Aceh. Pernikahan  dini  berdampak  negatif  terhadap  ketahanan  keluarga  karena menimbulkan masalah yang berujung pada perceraian. Penelitian ini merupakan penelitian  hukum  normatif  dengan  pendekatan  studi  kasus.  Pengumpulan data  dilakukan  dengan  studi  dokumen  yaitu  Putusan  Mahkamah  Syar’iyah dan literatur terkait. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dispensasi perkawinan, tingginya angka perkawinan di bawah umur dan lemahnya ketahanan keluarga. Dalam pemberian dispensasi nikah,  hakim  Mahkamah  Syar’iyah  mempertimbangkan  alasan  hukum  dan alasan di luar hukum. Ketentuan dispensasi tersebut telah memenuhi syarat hukum,  meskipun  pertimbangan  hukumnya  tampak  memaksakan.  Lebih lanjut,  pernikahan  dini  berdampak  pada  meningkatnya  angka  perceraian karena masalah-masalah seperti masalah psikologis dan kesiapan reproduksi, serta dampak buruk akibat perceraian. Oleh karena itu, diperlukan langkah- langkah  konkrit  dan  strategis  dengan  melibatkan  berbagai  pihak,  termasuk pemerintah,  ulama,  dan  tokoh  adat,  yang  mampu  mendorong  ketahanan keluarga dalam masyarakat.Kata Kunci: dispensasi  pernikahan;  pernikahan  dini;  ketahanan  keluarga; Mahkamah Syar’iyah
The Sumedang Larang Royal Waqf: Legal Perspective Rafiqi, Yusep; Suryanto, Asep; Athoillah, Mohamad Anton
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 23 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v23i2.29230

Abstract

The governance of royal waqf has not been addressed in Indonesian waqf laws and regulations. It also implies that the potential benefits of the waqf have not been sufficiently explored. Actually, the royal waqf has significantly contributed to the field of waqf by preserving cultural heritage and wisdom. This article demonstrates, through the testamentary waqf of Prince Aria Soeria Atmadja (Regent of Sumedang, 1883-1919 AD), the importance of waqf status and the insertion of royal relics into waqf legislation in Indonesia to ensure their perpetuity and benefit future generations. The research employs a normative empirical methodology, wherein the historical context, laws about waqf, and waqf legislation are substantiated through observations, elucidations, and discoveries concerning the cultural and customary aspects of waqf governance. This research on royal waqf can at least suggest two things: the inclusion of a discrete article in Indonesian waqf legislation addressing royal waqf and the significance of royal family relics as waqf. Abstrak: Wakaf keluarga kerajaan berikut tata kelolanya belum terakomodasikan dalam peraturan perundang-undangan wakaf di Indonesia. Hal ini berimplikasi pada nilai-nilai yang terkandung di dalam wakaf tersebut tidak tereksplorasi dengan baik. Padahal, wakaf keluarga kerajaan ini memiliki sumbangsih yang cukup besar dalam wakaf, di antaranya pelestarian kearifan dan cagar budaya. Dengan mengambil contoh wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja (Bupati Sumedang, 1883-1919 M), artikel ini menunjukkan tentang betapa pentingnya benda-benda peninggalan kerajaan berstatus wakaf dan diakomodasi dalam perundang-undangan wakaf di Indonesia sehingga keabadian dan kebermanfaatannya dapat dirasakan oleh generasi yang akan datang. Ini adalah penelitian normatif empiris di mana latar belakang sejarah, hukum yang berkaitan dengan wakaf dan perundang-undangan wakaf dikonfirmasi] melalui observasi, klarifikasi, dan temuan tentang budaya dan adat istiadat yang berkaitan dengan tata kelola wakaf. Penelitian wakaf kerajaan ini setidaknya dapat merekomendasikan dua hal: pentingnya benda-benda peninggalan keluarga kerajaan sebagai wakaf dan memasukkan wakaf kerajaan dalam satu pasal tersendiri dalam peraturan perundang-undangan wakaf di Indonesia.
The Loose Interpretation of Dominus Litis Principle in Marriage Dispensation for Underage Marriage in Banten Ishom, Muhammad
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 23 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v23i2.29881

Abstract

The judges of Religious Courts play a crucial role in reducing underage marriages. The judges can consider marriage dispensation by emphasizing the principle of dominus litis, which can be understood as a case controller. Since the Religious Courts in Banten have granted considerable dispensation appeals, the early-age marriages have increased significantly. This research examines the implementation of the dominus litis principle and the difficulties in establishing the grounds for urgent marriage dispensation. The data were collected via observations and interviews with the judges, former judges, lawyers, and societies. This research employs the juridical-empirical research technique, examining several facts and data generated by the public. The study reveals that to approve marriage dispensation, the judges of ReligiousCourts merely focus on the legal truth from the applicants’ statements, the underage marriage candidates, witnesses from applicants’ immediate families, and document evidence presented with the application. Judges rarely summon additional witnesses from specialists and professionals focusing on the children’s issues, which might strengthen formal legal evidence. The court granted the request to safeguard the children from immoral behavior, contradicting the  common public ethics and morals and ignoring a significant principle of dominus litis.  Abstrak: Hakim Pengadilan Agama memiliki peran penting untuk menekan kasus perkawinan dini. Hakim dapat mempertimbangkan dispensasi nikah dengan menekankan prinsip dominus litis, yaitu hakim sebagai pengendali perkara. Sejak permohonan dispensasi banyak dikabulkan oleh pengadilan agama di Banten, perkawinan dini di Banten mengalami peningkatan secara signifikan. Studi ini menganalisis penerapan "dominus litis principle" dan kendalanya dalam pembuktian alasan mendesak dispensasi nikah. Data diperoleh dari hasil observasi dan wawancara dengan hakim, mantan hakim, pengacara dan masyarakat. Penelitian ini menerapkan motode penelitian hukum yuridis-empiris yang berfokus pada penilaian terhadap berbagai fakta dan data dari masyarakat. Hasil analisis menunjukan bahwa hakim Pengadilan Agama umumnya hanya bertugas mencari kebenaran formil dari keterangan pemohon, anak yang dimohonkan dispensasi, saksi-saksi dari orang dekat pemohon, dan bukti dokumen yang diajuan oleh pemohon. Hakim jarang sekali mendatangkan saksi tambahan dari para ahli dan profesional lain yang berhubungan dengan dunia anak yang bisa menguatkan alat bukti. Hakim memutuskan untuk mengabulkan permohonan  dengan alasan menjauhkan anak dari tindak asusila yang bertentangan dengan etika dan moral yang berlaku di tengah masyarakat umum dan mengabaikan peran penting prinsip dominus litis.
Akkattere: Syncretism of Patuntung Beliefs and Sharia on Pilgrimage of The Ammatoa Kajang Community Zainuddin, Zainuddin; Sammak, Jusalim; Salle, Salle
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 23 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v23i2.30675

Abstract

This article critically examines the interaction between Patuntung beliefs and sharia in implementing the pilgrimage, which has led to syncretism. This is qualitative research, with data sourced from interviews and library research. This study reveals that one of the Patuntung teachings practised by the Ammatoa Kajang CLC (Customary Law Community) is the Akkattere tradition of cutting young children's hair. Akkattere is symbolized by the pilgrimage in  Islamic law because capable people perform both, and both expect rewards  from Tu Rie' A'rana (God) on the next day (hereafter). People who perform Akkatrere are not required to perform the  pilgrimage in Makkah. The essence of Akkattere is a ritual of sacrifice (in its material element), and the salvation of Riallobokona Tu ride A'ra'na. The Ammatowa indigenous people consider Akkattere as the performance of taḥallul in the holy land, and they obtain the title of hajj, like people who have performed the pilgrimage in the holy land. The Ammatoa Kajang CLC believes that if people perform the Akkattere ritual and go on pilgrimage, they will get disaster.  Artikel ini bertujuan mengkaji secara kritis mengenai interaksi antara kepercayaan Patuntung dengan syariat Islam pada pelaksanaan ibadah haji yang menimbulkan sinkretisme. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan data bersumber dari wawancara dan studi dokumen. Kajian ini mengungkapkan bahwa salah satu ajaran Patuntung yang dipraktikkan masyarakat hukum adat Ammatoa Kajang adalah tradisi Akkattere berupa pemotongan rambut kepada anak kecil. Akkattere ini disimbolkan dengan pelaksanaan ibadah haji dalam syariat Islam, karena sama-sama dilakukan oleh orang mampu dan sama-sama mengharapkan pahala dari Tu Rie’ A’rana(Tuhan) pada hari kemudian (akhirat). Orang yang melaksanakan Akkattere tidak diwajibkan melaksanakan ibadah haji di Mekah. Esensi ajaran Akkattere terletak pada ritual pengorbanan (pada unsur materilnya) dan keselamatan Riallobokona Tu rie’ A’ra’na. Masyarakat adat Ammatowa menganggap bahwa Akkattere merupakan pelaksanaan taḥallul di tanah suci dan mereka memperoleh gelar haji seperti orang yang telah menunaikan ibadah haji di tanah suci. Masyarakat Ammatoa Kajang memiliki keyakinan jika orang telah melakukan ritual Akkattere kemudian berhaji akan mendapatkan musibah.
Sigar Semongko and Gilir Waris: The Controversy of Customary Law and Islamic Law in The Inheritance System Sa'adah, Sri Lumatus; Qudsy, Saifuddin Zuhri; Laila, Nur Quma
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 23 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v23i2.31266

Abstract

This study aims to explain the differences between the inheritance rights of the Jember community and Islamic law, then look at the contextualization of this practice with Islamic inheritance law based on maṣlaḥah and ‘urf (tradition). This research is based on a qualitative paradigm, with observation techniques, interviews and literature studies, and descriptive analysis. Results of the study show  that  the  people  of  Jember  share  the  same  inheritance  amount  (sigar semongo). There is also a turn system for heirs to utilize the benefits of assets. This differs from the provisions of Islamic law, which regulate the 2:1 system for boys and girls. Viewed from the Islamic perspective, this contains maṣlaḥah for heirs because it minimizes division between siblings based on the principle of disadvantage that should be avoided. The system is based on harmony and balanced  justice  (Boys  and  girls  have  equal  rights).  It  has  become  customary and agreed upon by religious and community leaders so that it can become law. Abstrak:  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menjelaskan  adanya  perbedaan antara pembagian hak waris masyarakat Jember dan Hukum Islam, kemudian melihat kontekstualisasi praktik tersebut dengan hukum waris Islam dengan melandaskan pada aspek maṣlaḥah dan ‘urf (tradisi). Penelitian ini berdasarkan paradigma kualitatif, di mana data yang terkumpul melalui teknik observasi, wawancara  dan  studi  literatur  serta  menggunakan  analisis  deskriptif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa, masyarakat Jember membagi warisan dalam jumlah yang sama (sigar semongko), ada juga sistem giliran ahli waris dalam memanfaatkan aset/harta warisan. Hal ini berbeda dengan ketentuan hukum Islam yang mengatur sistem 2:1 bagi anak laki-laki dan perempuan. Ditinjau dari perspektif Islam, hal ini mengandung maṣlaḥah (manfaat) bagi ahli waris karena meminimalisir adanya perpecahan antara saudara dengan mendasarkan pada kaidah kemudharatan harus dihindari. Sistem tersebut didasarkan pada asas  kerukunan,  dan  keadilan  berimbang  (anak  laki-laki  dan  perempuan mempunyai  hak  yang  sama).  Ini  sudah  menjadi  adat  dan  disepakati  oleh para tokoh agama dan masyarakat sehingga dapat menjadi hukum.