cover
Contact Name
Teresia Noiman Derung
Contact Email
teresiaderung@gmail.com
Phone
+6282143778367
Journal Mail Official
sapa@stp-ipi.ac.id
Editorial Address
Jln. Seruni No 6 MALANG 65141, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sapa: Jurnal Kateketik dan Pastoral
ISSN : 25035150     EISSN : 26543214     DOI : https://doi.org/10.53544/sapa
Core Subject : Religion, Education,
SAPA merupakan jurnal yang dikelola oleh STP-IPI Malang. Nama SAPA, bukan sebuah nama kebetulan dan juga bukan singkatan. Melainkan memiliki makna yang amat mendalam. Sapa tidak hanya sekedar menyapa para pembaca melainkan mengajak para pembaca untuk semakin mendalami karya pastoral dan katekese, sehingga juga menjadi terlibat dalam kegiatan pastoral dan katekese di manapun berada
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 172 Documents
Pendampingan Pastoral Gereja dalam Meningkatkan Spiritualitas Kaum Bapak Menggunakan Pendekatan AIDAS oleh Richard R. Still dan Edward W. Cundiff Banjarnahor, Alan Kusuma
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 9 No 2 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53544/sapa.v9i2.634

Abstract

Dewasa ini, aspek pastoral turut mendominasi dalam setiap kegiatan gereja yang holistik. Salah satu tugas dan tanggung jawab gereja ialah melakukan pendampingan pastoral kepada seluruh lapisan jemaatnya, termasuk kaum Bapak guna meningkatkan pertumbuhan spiritualitasnya. Gereja sebagai mitra Allah dipercaya untuk memelihara dan memenuhi kebutuhan spiritual kaum Bapak (seelsorge). Artikel ini bertujuan untuk mengetahui apakah hakikat gereja di masa kini sudah menjadi gereja yang sempurna dalam pemenuhan kebutuhan spiritual bagi kaum Bapak. Penelitian ini dikembangkan dengan metode kualitatif yang menggunakan pendekatan pastoral oleh teori Still dan Cundiff. Informan penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan rendahnya partisipasi kaum Bapak dalam mengikuti persekutuan gereja, artinya gereja masih bergumul dalam pemenuhan kebutuhan spiritual kaum Bapak. Ini dapat disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal menyangkut iman, motivasi dan minat serta faktor eksternal menyangkut rutinitas kegiatan program gereja. Untuk itu, pentingnya pendampingan pastoral gereja  dengan pendekatan AIDAS ini diselaraskan dengan gereja yang terus berbenah menjadi jawaban akan kebutuhan mengajak kembali kaum Bapak turut aktif beribadah di gereja dan pertumbuhan spiritualnya.
Perbandingan Pesan Ensiklik Fratelli Tutti dan Tradisi Lonto Leok Masyarakat Manggarai Mbukut, Antonius; Atu, Laurentius Florido
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 9 No 2 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53544/sapa.v9i2.645

Abstract

Paus Fransiskus melalui Ensiklik Fratelli Tutti menyerukan pentingnya membangun hidup persaudaraan dan persahabatan sosial di antara manusia. Namun, nilai tentang hidup persaudaraan itu sebenarnya juga sudah terkandung dalam kearifan-kearifan lokal tertentu. Karena itu, menelaah pesan-pesan Ensiklik Fratelli Tutti dalam konteks lokal merupakan hal yang penting untuk dilakukan agar pesan-pesan tersebut dapat dengan mudah diselami dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat sesuai dengan realitas kebudayaan mereka. Salah satu kearifan tradisional yang memiliki nilai tentang persaudaraan dan persahabatan sosial ialah tradisi lonto leok di Manggarai. Tujuan dari penulisan ini adalah mengkaji pesan-pesan Ensiklik Fratelli Tutti dalam perspektif tradisi lokal tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode komparasi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan studi kepustakaan. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini adalah adanya seruan yang sama antara pesan yang digaungkan dalam Ensiklik Fratelli Tutti dengan nilai yang terkandung dalam lonto leok. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni menumbuhkan rasa persaudaraan dan persahabatan sosial dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, kesadaran untuk membangun relasi yang harmonis di antara manusia dapat dihidupkan kembali dengan mengangkat nilai-nilai yang ada dalam tradisi lokal seperti lonto leok.
Kristus dalam Berbagai Budaya Daeng Maeja, Jhon; Kii, Rosalia Ina; Mali, Maria Felicitas; Widiatmoko, Eugene Mario; Sriwahyuni, Lina
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 9 No 2 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53544/sapa.v9i2.646

Abstract

Gereja dan budaya tidak bisa dipisahkan. Gereja dapat semakin mengakar dan bertumbuh dalam budaya. Dalam perjalanan sejarah, hubungan antara gereja dan budaya dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, gereja pada masa awal masih menyatu dengan budaya. Bagian kedua terjadi saat gereja memisahkan diri dari budaya. Gereja tidak bersentuhan dengan kebudayaan. Bagian ketiga merupakan masa dimana gereja kembali membangun hubungan dengan budaya. Akan tetapi dalam perjalanannya, gereja belum sepenuhnya menerima dan menggali makna dari budaya. Gereja seringkali mengabaikan dan bahkan mau menghilangkan suatu kebudayaan. Tujuan penulisan ini ialah menggali teologi kontekstual dalam berbagai budaya. Metode penelitian yang digunakan ialah kajian pustaka. Hasil penelitian ialah Kristus dapat ditemukan dalam budaya Jawa, Sumba, Timor dan Toraja. Masing-masing budaya mempunyai penyebutan untuk memperkenalkan Yesus Kristus. Menurut budaya Jawa, Kristus dihubungkan dengan tokoh Semar. Dalam budaya Sumba, Kristus dianalogikan sebagai Marapu sejati. Panggilan suku Timor untuk Yesus Kristus ialah Nai Maromak. Sedangkan dalam budaya Toraja Kristus disebut sebagai Tomanurun dan alang. Kesimpulan penelitian ialah teologi kontekstual sudah dilaksanakan dalam beberapa budaya di Indonesia.
Mengintegrasikan Katekese, Pastoral, dan Tindakan Sosial: Model Pendampingan Katekis untuk Menciptakan Transformasi Umat Saputra, Yohanes Chandra Kurnia
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 9 No 2 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53544/sapa.v9i2.649

Abstract

Latar belakang penelitian ini berfokus pada pentingnya integrasi katekese, pastoral, dan tindakan sosial dalam membentuk umat Katolik yang bertanggung jawab sosial dan berlandaskan iman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana ketiga elemen tersebut dapat bekerja bersama dalam mengubah kehidupan umat, baik secara spiritual maupun sosial. Metode yang digunakan adalah studi literatur yang mengkaji berbagai teori dan praktik terkait katekese, pastoral, dan aksi sosial dalam konteks Gereja Katolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi katekese, pastoral, dan tindakan sosial memiliki dampak positif dalam membentuk karakter iman umat Katolik. Ketiga elemen ini saling mendukung dalam memperdalam pemahaman agama dan mendorong partisipasi umat dalam kegiatan sosial. Kolaborasi yang baik antara ketiganya mampu menciptakan perubahan positif dalam kehidupan spiritual dan sosial umat. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi katekese, pastoral, dan tindakan sosial merupakan kunci dalam pembentukan karakter iman umat Katolik. Implementasi yang efektif dari ketiga elemen ini dapat meningkatkan kedalaman spiritual dan keterlibatan umat dalam kegiatan sosial.
Intervensi Gereja Katolik dalam Menyelesaikan Kasus Perselingkuhan: Studi Kontekstual di Manggarai Febrian Mulyadi Angsemin; Robertus Mirsel
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 9 No 2 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53544/sapa.v9i2.657

Abstract

Gereja Katolik berperan strategis dalam membentuk tatanan sosial dan moral masyarakat Manggarai, terutama dalam menyelesaikan konflik seperti kasus perselingkuhan yang mengancam stabilitas keluarga. Pendekatan inkulturasi, seperti penggunaan elemen adat Compang dalam ajaran Injil, memungkinkan harmonisasi nilai agama dan budaya lokal. Dalam penyelesaian perselingkuhan, Gereja berfungsi sebagai mediator, bekerja sama dengan tokoh adat untuk menyelesaikan konflik secara damai. Melalui homili, pendidikan keluarga, dan sakramen rekonsiliasi, Gereja mengajarkan nilai kesetiaan pernikahan. Selain itu, kelompok kategorial seperti Marriage Encounter memberikan pendampingan spiritual bagi pasangan bermasalah, memperkuat komitmen berdasarkan pandangan pernikahan sebagai sakramen. Meski demikian, resistensi terhadap inkulturasi menjadi tantangan, menuntut pendekatan yang lebih inklusif. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana teologi kontekstual Gereja berkontribusi pada resolusi konflik dan harmoni sosial di masyarakat Manggarai.
Deklarasi Istiqlal dan Reinforcement Dialog Inter-religius di Indonesia Koli, Donatus Doni
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 9 No 2 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53544/sapa.v9i2.670

Abstract

Pada 5 September 2024, di Masjid Istiqlal, berlangsung peristiwa bersejarah yang disaksikan oleh para pemimpin dan tokoh multiagama, di mana Pemimpin Gereja Katolik Sedunia, Paus Fransiskus, dan Imam Besar Masjid Istiqlal, Nassarudin Umar, menandatangani Deklarasi Bersama Istiqlal. Dokumen ini menjadi simbol kuat komitmen lintas agama dalam memperkuat dialog, membangun perdamaian, serta meneguhkan peran agama dalam menjawab isu sosial-kemanusiaan di Indonesia. Karya tulis ini mengkaji makna dan implikasi deklarasi tersebut sebagai fondasi bagi penguatan dialog inter-religius, yang tidak hanya sebatas wacana, tetapi juga mendorong kerja sama konkret dalam membangun masyarakat harmonis dan inklusif. Dengan menganalisis isi deklarasi serta konteks sosialnya, tulisan ini menunjukkan bahwa peran agama yang aktif dalam menjawab tantangan zaman dapat memperkuat sinergi antarumat beragama. Deklarasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi inisiatif dialog dan aksi nyata demi menciptakan kehidupan yang lebih damai dan berkeadilan.
Sharing Iman Yakub Berdasarkan Kejadian 48:15-16 dan Implementasinya dalam Pendidikan Iman Anak Chiaralazzo, Monica Innanda; Krismiyanto, Alfonsus
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 9 No 2 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53544/sapa.v9i2.679

Abstract

Pendidikan iman anak merupakan tanggung jawab utama orang tua yang dimulai dari keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi anak. Dalam Alkitab, khususnya Perjanjian Lama, peran orang tua dalam mendidik iman anak sangat ditekankan. Sebagai contoh, dalam Kejadian 48:15-16, Yakub memberikan sharing iman kepada anak-anaknya, Efraim dan Manasye, dengan menyatakan bahwa Allah adalah "gembala" yang baik dan "malaikat" sebagai pembebas. Melalui berkat ini, Yakub tidak hanya memberikan harapan bagi masa depan keturunannya, tetapi juga mewariskan iman yang mendalam kepada Allah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran orang tua dalam pendidikan iman anak, dengan mengangkat contoh sosok Yakub dalam berbagi iman. Implementasi sharing iman dalam keluarga sangat penting untuk membangun pondasi iman yang kuat pada anak-anak. Orang tua diharapkan untuk aktif memberi contoh dan berbagi iman, baik dalam kondisi baik maupun sulit, sebagai bagian dari tanggung jawab mendidik iman anak sesuai ajaran Gereja dan ajaran Alkitab.
Mengembangkan Kewirausahaan Berbasis Pastoral Dengan Menggunakan 7 Langkah Pekerjaan Pastoral Kristeno, Marianus Rago; Tarihoran, Emmeria
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53544/sapa.v10i1.654

Abstract

Pastoral entrepreneurship is an innovative approach that integrates spiritual values ​​with efforts to empower the people's economy. The Catholic Church uses this concept to help people become financially independent, strengthen community solidarity, and increase prosperity based on Gospel values. This research explores the application of the 7 Steps of Pastoral Work, from introduction to evaluation, which enable the Church to plan and manage entrepreneurship programs systematically. By using the library study method, researchers try to collect literary sources such as Church documents, scientific articles, and books that are relevant to the research, then integrate certain themes to draw conclusions. The results show that pastoral entrepreneurship contributes significantly to increasing people's income, creating jobs, and strengthening spiritual values. However, its implementation faces challenges, such as limited resources, lack of entrepreneurial skills, and people's resistance to change. To overcome these obstacles, a strategic approach, ongoing training and cooperation between parties is needed. By integrating economic and spiritual aspects, pastoral entrepreneurship has the potential to be an effective means for the Church to empower people as a whole and create sustainable prosperity in the community.
Dialog Generasi Muda: Belajar Dari YIPC Dalam Model Mutualisme Knitter Sitepu, Andreas; Lelono, Martinus Joko
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53544/sapa.v10i1.684

Abstract

The role of young people in interfaith religious communities still faces challenges in character building and understanding in the field of dialogue. This situation arises from the impact of boredom, trauma, fear, stigma, and group divisions they experience. On the other hand, the lack of motivation among young people to engage in dialogue affects their participation, which often ends up as mere enjoyment without beneficial transformation. This study will examine an effort to foster an interest in dialogue among young people through YIPC (Young Interfaith Peacemaker Community). They have been involved in religious diversity issues since 2012, encouraging youth engagement in forms of dialogue: scriptural reasoning, interfaith dialogue, and social dialogue in an open, honest, and profound manner. They are also involved in a transformative process that promotes peace for religions, society, and the nation. This effort will be analysed using Paul F. Knitter's mutualism model. The mutualism model will serve as a basis for analysing YIPC’s dialogue efforts and exploring how understanding, collaboration, and transformation can be achieved in dialogue to create cooperation in addressing interfaith issues. This research will use a literature review method. This study provides relevance for understanding the YIPC process and its potential role in fostering an interest in dialogue among young people.
Pemahaman tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit dan Relevansinya terhadap Kesediaan untuk Menerimanya (Studi Kasus di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere) Bour, Eugenius Koresy; Jindung, Pilipus Benizi; Firman, Karifansius; Rosari, Yoseph Paulus de
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53544/sapa.v10i1.685

Abstract

This study aims to know, explain, and explore the understanding of the Catholic patients and their families at the Local Government Hospital (LGH) of dr. T. C. Hillers Maumere about the Sacrament of Anointing of the Sick (SAS) and its relevance to their willingness to receive the ministry of SAS for the patients. This study is a qualitative study with a case study approach. The data collection method uses observation, interview, and literature study techniques. The results of observation and interview show that Catholic patients and their families have a diverse understanding of SAS. These diverse understandings have relevance to their willingness to receive the ministry of SAS for patients. A good understanding of SAS will have a great effect on the willingness to receive the ministry of SAS for the patients or sick people who have begun to be in mortal danger. The pastoral step that can be taken is the teaching of the Catholics through catechesis and preaching.