cover
Contact Name
Didah Nurhamidah
Contact Email
didah.uinjkt@gmail.com
Phone
+6285710777541
Journal Mail Official
didah.uinjkt@gmail.com
Editorial Address
Pendidikan Bahasa dan Sastra IndonesiaGedung Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Lt. 5Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah JakartaJalan Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Dialektika
ISSN : 25025201     EISSN : 2407506X     DOI : 10.15408/dialektika
Dialektika : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia published two times a year (June and December ) as a medium of distributing scientific research in the field of language, literature , and the Indonesian language and literature education. Dialektika is published in collaboration between the Department of Indonesian Language and Literature Education,  Faculty of Educational Sciences, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatullah Jakarta and the Association of Indonesian Language and Literature Lecturer (ADOBSI). Dialektika has been a CrossRef member since 2015 and all of the published writings have a unique number in the DOI and been indexed in DOAJ, Google Scholar, Moraref,  Indonesia One Search- National Library of Indonesia, and Portal Garuda.
Articles 285 Documents
CERITA RAKYAT SUNAN MURIA: PENDEKATAN STRUKTURAL DAN NILAI KARAKTER Hidar Amaruddin; Yanuar Bayu Isnaeni; Herman J. Waluyo; Sahid Teguh Widodo
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v6i2.13561

Abstract

Abstract: This article aims to describe the structure contained in Sunan Muria Folk Literature and describe the character values in Sunan Muria Folk Literature. This research is a qualitative descriptive study. The type of plot used in Sunan Muria Folk Literature in Kudus Regency is a straight or advanced plot. The dominant figure in the Sunan Muria Folk Literature in Kudus Regency is a good human character. More background is used in this folk literature. Sunan Muria Folk Literature in Kudus Regency contains varied suggestions. The character values in this folk literature include religious values, honesty, tolerance, discipline, hard work, independence, democratization, friendship/ communicative, peace, social life, and the value of responsibility. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur yang terkandung dalam Sastra Rakyat Sunan Muria dan menguraikan nilai-nilai karakter dalam Sastra Rakyat Sunan Muria. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Jenis plot yang digunakan dalam Sastra Rakyat Sunan Muria di Kabupaten Kudus adalah plot lurus atau maju. Tokoh dominan dalam Sastra Rakyat Sunan Muria di Kabupaten Kudus adalah karakter manusia yang baik. Latar belakang tempat lebih banyak digunakan dalam literatur rakyat ini. Sastra Rakyat Sunan Muria di Kabupaten Kudus berisi saran variatif. Nilai-nilai karakter yang dalam literatur rakyat ini antara lain nilai religi, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kemandirian, demokratisasi, persahabatan/komunikatif, damai, kehidupan sosial, dan nilai tanggung jawab. 
MANTRA TUKANG PIJIT: SEBUAH ANALISIS SEMIOLOGI BARTHES Misbah Priagung Nursalim; Rima Tiana
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v5i1.6120

Abstract

Abstract: A charm is a subgenre of old poetry that is still considered to have strength. Because the power possessed by a charm makes people consider it sacred. However, apart from that, the mantra is only a part of literary work which contains meaning and of course there is no magical element. This study discusses the meaning in massage charm in Pondok Petir area. The author uses Roland Barthes's semiology theory to analyze the meaning of the charm. This study also uses descriptive qualitative methods to analyze the meaning and form of charms. The results prove that the massage charm does not have magical power. The charm is only an old literary work in which it contains the meaning of certain commands depending on the material function. Because charms are old poems, so charms also pay attention to the beauty of the shape and the sound.Abstrak: Mantra merupakan subgenre puisi lama yang sampai saat ini masih dianggap memiliki kekuatan sehingga membuat masyarakat menganggapnya suci. Namun, terlepas dari itu, mantra hanyalah sebuah bagian dari karya sastra yang di dalamnya menyimpan makna dan tentu tidak ada unsur magis. Penelitian ini secara umum membahas mengenai studi makna pada mantra tukang pijit di daerah Pondok Petir. Penulis menggunakan teori semiologi Roland Barthes untuk mengkaji makna yang terkandung di dalam mantra tersebut. Metode kualitiatif deskriptif digunakan untuk menganalisis makna dan bentuk mantra. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa mantra tukang pijit tidak mempunyai kekuatan magis. Mantra hanya karya sastra lama yang di dalamnya menyimpan makna berupa perintah tertentu tergantung fungsi matera tersebut. Karena mantra merupakan puisi lama, jadi mantera juga memperhatikan keindahan bentuk dan bunyi bahasanya.   
ANALISIS WACANA KRITIS SARA MILLS TENTANG STEREOTIPE PERANAN ISTRI DALAM BERUMAH TANGGA DALAM CERAMAH NASIHAT PERNIKAHAN Nahartini, Desi; Rasyid, Yumna; Anwar, Miftahulkhairah
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 11, No 1 (2024)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v11i1.30244

Abstract

This study discusses Sara Mills' critical discourse analysis on stereotypes of the wife's role in the household in the religious speech given at a wedding event. The purpose of this religious speech is to provide understanding to married couples regarding their respective rights and responsibilities, as well as solve problems in the household, and also to prevent and reduce the number of divorce cases. There is a stereotype of women that is synonymous with femininity, namely in the form of the perception that women are attached, that women are gentle, beautiful, easily carried away by emotions, and full of affection. These perceptions of men and women provide cultural assumptions that give different and wider roles to men and make them obtain a relatively high social value status compared to women. In relation to marriage advice lectures, by looking at the stereotype phenomenon that occurs in women, the process and occurrence of marriage advice is one of the important processes and influences the development of these stereotypes. This study uses a qualitative method using the discourse analysis technique of Sara Mills. The primary data was obtained from a long process of repeatedly listening to the marriage advice video lectures to select scenes that display stereotypes towards women in the marriage advice video lectures. The purpose of this study is to find out and analyze critical discourse about the stereotyped role of the wife in marriage in marriage advice lectures.
BENTUK TUGAS DAN EVALUASI EMPAT KETERAMPILAN BERBAHASA PADA BAHASA INDONESIA UNTUK PENUTUR ASING (BIPA) defina defina
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v4i2.6260

Abstract

Abstract : This paper is a part of research and development. The result, for listening skills, forms of duties and tests can be listened to elections, listening comprehensively and listening broadly. For speech skills, the tasks and tests are imitative, intensive, listening, responsive, interpersonal and broader speaking. For reading skills, the form of tasks and tests are intensive reading of short text. For writing skills, the form of the task and the test is to write an artificial, intensive or controlled, self-writing, literary display, and actual writing. To assess the tasks and tests of listening and reading, can use the assessment based on the number of correct answers. Conversely, to determine the aspects to be assessed and job scoring and speaking test can be used Brown and Ur concepts, namely accents, structure, vocabulary, pity, and understanding. To determine the aspects to be assessed and job scoring and writing tests can be used the concept of Brown and Jacob et al, namely content, organization, discourse, language, and mechanics. In conclusion, the task form can be aligned with the test form.   Abstrak : Penelitian ini membahas bentuk-bentuk tugas  dan evaluasi empat keterampilan berbahasa BIPA. Hasilnya, untuk keterampilan menyimak, bentuk tugas dan tesnya dapat menyimak pemilihan, menyimak menyeluruh, dan menyimak luas sedangkan  keterampilan berbicara, bentuk tugas dan tesnya  adalah tiruan, intensif, mau mendengarkan, tanggapan, antarperseorangan dan berbicara lebih luas.  Bentuk tugas dan tes untuk keterampilan membaca adalah membaca intensif yang teksnya singkat dan untuk keterampilan menulis, bentuk tugas dan tesnya  adalah menulis tiruan, intensif atau terkontrol, menulis sendiri, mempertontonkan tulisan, dan menulis sebenarnya. Untuk menilai tugas dan tes menyimak dan membaca, dapat menggunakan penilaian berdasarkan jumlah jawaban yang benar. Sebaliknya, untuk penilaian  dan penskoran tugas dan tes berbicara dapat digunakan konsep Brown dan Ur, yakni aksen, struktur, kosakata, kepasihan, dan pemahaman sedangkan untuk  menulis dapat digunakan konsep Brown dan Jacob et al, yakni isi, organisasi, wacana, bahasa, dan mekanik. Kesimpulannya, bentuk tugas dapat diselaraskan dengan bentuk tes. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/dialektika.v4i2.6260 
PENULISAN JURNAL HARIAN SEBAGAI ALTERNATIF TUGAS PEMBELAJAR BIPA (BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING) TINGKAT PEMULA: STUDI KASUS DI LEMBAGA BAHASA UNIVERSITAS SANATA DHARMA Setyaningrum, Rooselina Ayu; Sari, Christine Permata; Novena Kusumaningsih, Sisilia
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v10i2.29606

Abstract

Abstract In accordance with SKL BIPA Permendikbud number 27 of 2017, BIPA students in beginner level are expected to be able to use Indonesian language to self introducing and fulfillment of concrete daily needs with simple way, such as asking direction, order food, shopping in the market, and ect. That abality can be mastered by students with varying fluency on every students. That things is influenced by lack of language structure of the learner and there is interference mother tongue to Indonesian language. Teacher need prepare task activities that support students to achieve expected abilities and help students more fluent Indonesian language. One of task form that can be given is daily journal writing. This research is qualitative descriptive research. Reseacher use participant observation method. Reseacher also documenting students daily journal. Subject in this research is BIPA students in the beginner level in Language Institute of Sanata Dharma University. The purpose of this research is to describe daily journal assignment form and what are the assignment step using daily journal for BIPA learner in the beginner level. Based on the research result, the form of daily journal assignment are two activities, that is outdoor activity and in door activity. Both of activities covers authentic assignment. The assignment can be done with three activities, that is (1) daily journal prewriting activity, (2) daily journal writing process, and (3) post writing daily journal.  Key word: BIPA, beginner level, authentic task, daily journal Abstrak Sesuai dengan SKL BIPA Permendikbud nomor 27 tahun 2017, pemelajar BIPA tingkat pemula diharapkan mampu menggunakan bahasa Indonesia untuk perkenalkan diri dan pemenuhan kebutuhan konkret sehari-hari dengan cara sederhana, seperti bertanya arah, memesan makanan, berbelanja di pasar, dan sebagainya. Kemampuan tersebut dapat dikuasai oleh pemelajar dengan kelancaran yang berbeda-beda pada setiap pemelajar. Hal tersebut dipengaruhi oleh masih minimnya pengetahuan struktur kebahasaan pemelajar dan adanya interferensi bahasa ibu terhadap bahasa Indonesia. Pengajar perlu menyiapkan aktivitas-aktivitas tugas yang mendukung pemelajar untuk mencapai kemampuan yang diharapkan dan membantu pemelajar semakin lancar berbahasa Indonesia. Salah satu bentuk tugas yang dapat diberikan adalah penulisan jurnal harian. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif. Peneliti menggunakan metode observasi partisipan. Peneliti juga mendokumentasi hasil tulisan jurnal harian pemelajar. Subjek dalam penelitian ini adalah pemelajar BIPA tingkat pemula di Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk penugasan jurnal harian dan bagaimana langkah penugasan dengan jurnal harian bagi pemelajar BIPA tingkat pemula. Berdasarkan hasil penelitian, tugas penulisan jurnal harian berbentuk dua aktivitas, yaitu aktivitas di luar kelas dan di dalam kelas. Kedua aktivitas tersebut mencakup tugas-tugas bersifat autentik. Penugasannya dapat dilakukan dengan langkah (1) aktivitas pramenulis jurnal harian (2) proses menulis jurnal harian dan (3) pascamenulis jurnal harian. Kata kunci: BIPA, tingkat pemula, tugas autentik, jurnal harian 
Membangkitkan Motivasi Belajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Melalui Media Komik Randi Ramliyana
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v3i1.4183

Abstract

Abstract: This research used a qualitative method with case study approach. The aim of this research is to describe the use of media comic to raise the motivation to learn in learning Indonesian for Foreign Speakers (BIPA) at Trisakti University Language Center. One of the biggest problems facing the BIPA learning is learning motivation of participants. There are many reasons the participants are less motivated to learn BIPA, one of which is a boring classroom atmosphere. One thing we know to raise the motivation to study participants is to give something extraordinary and new in BIPA learning, especially among participants adolescence and early adulthood. The results showed that comics can be used efficiently to generate motivation to learn BIPA participants. Therefore, the use of comics into learning will have the same impact with the use of the method of learning the game in BIPA. It provides a pleasant atmosphere in the classroom. Comics are not just entertaining and engaging participants, but also there are many reasons to use it in teaching BIPA. Keywords: universal pragmatism; motivation; comic; media; BIPA Abstrak: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan penggunaan media komik untuk membangkitkan motivasi belajar pada pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Pusat Bahasa Universitas Trisakti Jakarta. Salah satu masalah terbesar yang dihadapi dalam pembelajaran BIPA ialah motivasi belajar peserta.  Banyak alasan peserta kurang  termotivasi  dalam  belajar  BIPA,  salah  satunya  adalah suasana kelas yang membosankan. Salah satu yang dapat membangkitkan  motivasi  belajar  peserta adalah dengan memberikan suatu  hal  yang luar biasa dan baru di dalam pembelajaran BIPA, terutama di antara peserta usia remaja dan dewasa awal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komik dapat digunakan secara efisien untuk membangkitkan motivasi belajar peserta BIPA. Oleh karena itu, penggunaan komik ke dalam pembelajaran akan memiliki  dampak  yang sama dengan penggunan metode permainan  di dalam pembelajaran BIPA.  Hal  tersebut  memberikan atmosfer yang menyenangkan di dalam kelas. Komik tidak hanya menghibur  dan  menarik peserta, tetapi  banyak manfaat menggunakannya di dalam pembelajaran BIPA. Kata Kunci: motivasi; komik;  media;  BIPA 
KONFLIK INTERNAL TOKOH UTAMA DALAM MIMPI KECIL TITA KARYA DESI PUSPITASARI Syifa Fauzia Chairul; Darsita Darsita Suparno; Santje Iroth; Donald Matheos Rattu
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v8i1.19327

Abstract

Abstract: Many experts have observed the main character's internal conflict, however their analysis has not explained the conflict form that has an impact on the mental state of the child.  This study aims to analyze: a) form of inner conflict experienced by the main character in the novel Mimpi Kecil Tita, b) find out what factors cause internal conflict in the novel Mimpi Kecil Tita?  Sigmund Freud’s Psychoanalytic theory is used to reveal internal conflict and several factors that cause it.  Descriptive qualitative analysis was used as a research method. Overall, these results indicate that fears, anxiety, absence, and hopes are identified as conflict settings referring to the concepts of approach-avoidance and avoidance-avoidance. Viewed from the concept of approaching-avoidance (approach-avoidance) and broad-away (avoidance-avoidance) refers to anxiety, failure, pain, cunning based on the impact of personality or id.  The facts of the story show the Ego is miserable. This misery causes an inner conflict is identified as the avoidance of desire (approach-avoidance) marked by the confused id.  The form of Superego conflict in Tita is feelings of suffering, anger at someone, and hurt.  Four factors that cause internal conflict, namely economic hardship, dishonesty, frustration, and hurt feelings.Abstrak: Penelitian yang mengkaji konflik internal tokoh utama telah banyak dilakukan para ahli, namun analisis mereka terhadap konflik internal tokoh utama belum menjelaskan bentuk konflik yang berdampak pada keadaan jiwa anak. Teori Psikoanalis dari Freud digunakan untuk mengungkap tikai batin dan aneka faktor penyebab konflik. Analisis kualitatif deskriptif digunakan sebagai metode penelitian.  Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan ketakutan, kegalauan, ketiadaan, dan berharap diidentifikasi sebagai tatanan konflik merujuk kepada konsep mendekat-menjauh (approach-avoidance), dan konflik menjauh-menjauh (avoidance-avoidance). Ditinjau dari konsep mendekat-menjauh (approach-avoidance) dan menjauh-menjauh (avoidance-avoidance) merujuk kepada kecemasan, kegagalan, kepedihan, kelicikan didasarkan adanya dampak personalitas atau id. Fakta cerita menunjukkan Ego sengsara. Kesengsaraan itu menimbulkan konflik batin yang diidentifikasi sebagai penghindaran diri dari keinginan (appproach-avoidance) ditandai oleh id yang merasa kebingungan. Wujud konflik superego dalam diri Tita adalah perasaan penderitaan, marah pada seseorang, dan sakit hati. Faktor-faktor yang menimbulkan konflik internal ada empat yaitu kesulitan ekonomi, ketidakjujuran, frustasi, dan sakit hati. 
POLA NARASI PADA ANTOLOGI CERPEN TARIAN SALJU KARABAN Novi Diah Haryanti
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, NO 1 (2019)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v6i1.12767

Abstract

Abstract: This study aims to look at narrative patterns in the collection of short stories "Karaban Snow Dance" (TSK). From the fifteen short stories, the researchers took five main stories, namely the Karaban Snow Dance (Tarian Salju Karaban), The Fall of a Leaf (Gugurnya Sehelai Daun),  Canting Kinanti Song (Tembang Canting Kinanti), Jagoan Men Arrived (Lelaki Jagoan Tiba), and Origami Pigeon (Merpati Origami). Of the five short stories, environmental themes and honesty appear most often. The place setting depicted shows the environment that is close to the author or according to the author's origin. The main characters in the four short stories are children, only one short story Male Hero Tiban (Lelaki Jagoan Tiban/LJK) who uses adult takoh as the main character. The child leaders in LJK only appear in the past stories of the main characters. The five short stories do not show a picture of whole parents (father and mother). The warm relationship between mother and child appears clearly, in contrast to the father-child relationship that is almost negligent. The five short stories also represent how children become heroes for their family, friends, and environment.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat pola narasi pada kumpulan cerpen Tarian Salju Karaban (TSK). Dari limabelas cerpen yang ada, peneliti mengambil lima cerpen utama yakni “Tarian Salju Karaban”, “Gugurnya Sehelai Daun”, “Tembang Canting Kinanti”, “Lelaki Jagoan Tiba”, dan “Merpati Origami”. Kelima cerpen menampilkan tema lingkungan dan kejujuran. Latar tempat yang digambarkan memperlihatkan lingkuangan yang dekat dengan penulis atau sesuai dengan asal usul penulis. Tokoh utama dalam keempat cerpen tersebut ialah anak-anak, hanya satu cerpen “Lelaki Jagoan Tiban” (LJK) yang menggunakan takoh dewasa sebagai tokoh utama. Tokoh anak dalam LJK hanya muncul dalam cerita masa lalu tokoh utama. Kelima cerpen tersebut tidak memperlihatkan gambaran orangtua utuh (ayah dan ibu). Relasi yang hangat antara ibu dan anak muncul dengan jelas, berbeda dengan relasi bapak-anak yang nyaris alpa. Kelima  cerpen tersebut juga merepresentasikan bagaimana anak-anak menjadi pahlawan bagi keluarga, sahabat, dan lingkungannya.  
MAKNA SIMBOL SASTRA LISAN TANDUK MASYARAKAT ADAT GENAHARJO KABUPATEN TUBAN
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v4i1.6999

Abstract

Abstract: This research aims to understand the meaning of tanduk oral literary symbol of the indigenous society of Genaharjo, Tuban. Through the semiotic theory of Charles S. Pierce, it can be understood that the tanduk oral literature has the meaning of symbols represented in the meaning of symbols of the names of characters, the meaning of animal symbols, the meaning of food symbols, and the meaning of plants symbols. The meanings that exist in the tanduk oral literature that evolved in the Genaharjo indigenous society formally refer to a single meaning of life that life should give priority to salvation in prayer. Local people believe that true life in the world is salvation. Every tanduk of its formal essence begs for salvation and blessing from God.The idea of ​​salvation is the attitude and outlook of human life towards God, the universe, and fellow human beings. Keywords: symbol of meaning, indigenous society of Genaharjo, tanduk oral literature Abstrak: Penelitian ini betujuan untuk memahami makna simbol sastra lisan tanduk masyarakat adat  Genaharjo Kabupaten Tuban. Melalui teori semiotik Charles S. Pierce, dapat dipahami bahwa sastra lisan tanduk memiliki makna simbol yang direpresentasikan pada makna simbol nama tokoh, makna simbol binatang, makna simbol makanan, dan makna simbol tumbuh-tumbuhan. Makna-makna yang ada dalam sastra lisan tanduk yang berkembang dalam masyarakat adat Genaharjo secara formal mengacu pada satu makna hidup bahwa kehidupan harus mengutamakan keselamatan dalam berdoa. Masyarakat setempat meyakini bahwa hidup sejati di dunia adalah keselamatan. Setiap tanduk esensi formalnya memohon keselamatan dan keberkahan dari Tuhan. Paham keselamatan yang dimaksud adalah sikap dan pandangan hidup manusia terhadap Tuhan, alam semesta, dan sesama manusia. Kata Kunci: makna simbol, masyarakat adat Genaharjo, dan sastra lisan tandukPermalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/dialektika.v4i1.6999
UNIVERSAL PRAGMATICS: MEMPERTIMBANGKAN HABERMAS DALAM PENELITIAN LINGUISTIK Makyun Subuki
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v2i2.3623

Abstract

Abstract: The aim of this writing was to describe the Habermas theoretical dimension named the universal pragmatics and its contribution in linguistic-especially, critical linguistic-research. In this research, this writer used the library research concerning to the Habermas philosophical and critical ideas. The result showed that, firstly, the universal pragmatics was part of Frankfurt School critical theory which influenced almost all of Habermas social and philosophical thinking. Secondly, the universal pragmatics was the new epistemological basis of pragmatics as science. And thirdly, Habermas tried to enlarging the pragmatics as not the only historical-hermeneutics, but also critical-reflective science.   Abstrak: Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan dimensi teoretis teori Pragmatik Universal yang dikembangkan oleh Habermas dan sumbangan yang diberikannya bagi penelitian linguistik terutama linguistik kritis. Dalam mewujudkan tujuan tersebut, penulis mengkaji sejumlah literatur yang terkait dengan ide pemikiran filosofis dan pemikiran kritis dari Habermas. Hasil penelitian ini menunjukkan tiga hal. Pertama, teori pragmatik universal merupakan bagian dari Teori Kritis yang dikembangkan Mazhab Frankfurt yang mempengaruhi hampir seluruh pemikiran sosial dan filsafat dari Habermas. Kedua, teori pragmatik universal merupakan usaha Habermas untuk memberikan dasar epistemologis dari disiplin pragmatik sebagai sebuah ilmu. Ketiga, melalui teori pragmatik universal ini, Habermas mencoba mengembangkan pragmatik tidak lagi sebagai ilmu yang semata-mata bersifat historis-hermeneutis, melainkan juga bersifat kritis-emansipatoris.   Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/dialektika.v2i2.3623