cover
Contact Name
M Riyan Hidayat
Contact Email
mrhidayat28@gmail.com
Phone
+6282245839804
Journal Mail Official
mrhidayat28@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lintas Timur Km. 36 Indaralaya Ogan Ilir, Sumatera Selatan
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
At Tahfidz Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : -     EISSN : 27747425     DOI : https://doi.org/10.53649/at-tahfidz
Core Subject : Religion,
The Journal At Tahfidz concentrates on publishing scientific papers with the theme of Quranic studies with the following coverage Study of Quran Science, Quran Translation, Study of Quranic Tafsir, Research on the Quran, Living Quran
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 83 Documents
Solusi Pornografi dalam Kehidupan Bermasyarakat (Studi Tafsir Al-Mizan Karya Muhammad Husein Thabathaba’i) harsyah, akmal firdaus
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 01 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v2i01.535

Abstract

Penelitian ini memuat pandangan Muhammad Husain Thabahaba‟i terkait nikah mut‟ah dalam tafsirnya, yaitu al-Mizan Fi Tafsir al-Qur‟an. Pembahasan mengenai nikah mut‟ah menjadi perdebatan antara kelompok Sunni dan Syi‟i. Tafsir ayat-ayat mengenai nikah mut‟ah yang kemudian dipengaruhi dengan adanya kepentingan ideologi, semisal kepentingan Sunni dan Syi‟ah. Yang mana, pada kedua kelompok tersebut memiliki pandangan yang berbeda mengenai kawin kontrak. Dalam penelitian ini perdebatan disajikan dalam bentuk interpretasi al-Qur‟an atau tafsir al-Qur‟an. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research) dengan objek penelitian terpusat pada kitab Tafsir al-Mizan Fi Tafsir al-Qur‟an. Penelitian ini menyajikan data dengan menggunakan analisis deskriptif (descriptive análisis) dan analisis ekspalanatori (ekspalanatory analisys) dengan pendekatan historis. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan pertama, Menurut Thaba‟thaba‟i QS. Surat al Nisa‟ (4) 24 adalah dasar hukum yang menjadi rujukan terkait nikah mut‟ah atau kawin kontrak sesuai syarat-syarat dan ketentuan yang berlaku seseorang diperbolehkan melakukan nikah mut‟ah tidak lebih dari 3 (tiga) kali karena besarnya tanggung jawab suami dan pernikahan itu tidak bisa dipermainkan. Kedua, QS. Surat al Nisa‟ (4) 24 bukan rujukan dasar nikah mut‟ah akan tetapi membahas mengenai perintah membayar mahar.p
Keadilan dalam Al-Qur'an (Studi Keadilan dalam Konteks Hukum Perspektif Tafsir Al-Manar) Eka Hilwatis Sakinah
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 01 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v2i01.549

Abstract

Abstrak Tulisan ini membahas tentang keadilan dalam konteks hukum menurut tafsir al-Manar. Para ulama menetapkan dengan tegas bahwa keadilan harus ditegakan terutama oleh penguasa, hakim, dan seluruh bagian pemerintahan. Al-Qur’an berulang kali mengungkapkan perimtah berbuat adil baik dalam bidang sosial, hukum, politik, ekonomi, maupun pendidikan. Dalam memahami keadilan dalam al-Qur’an, dibutuhkan pemahaman melaui penafsiran oleh para mufasir agar memperjelas dan mempertegas maksud dan tujuan Allah. Hal ini menjadi landasan penulis untuk melihat ayat tentang keadilan melalui tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Adapun fokus utama dalam penelitian ini adalah keadilan dalam konteks hukum terkhusus yang tertuang dalam surah an-Nisa (4): 58. Alasan penulis mengambil tafsir al-Manar disebabkan karena tafsir ini merupakan tafsir yang berorientasi adabi ijtima’i sehingga dalam menjelaskan tentang keadilan terhadap hukum dapat menjawab permasalahan masyarakat di era modern kontemporer ini. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan metode analisis-deskriptif. Adapun sumber data primer penelitian ini adalah tafsir al-Manar, sedangkan sumber sekunder dalam penelitian ini adalah seperti Studi Kritis tafsir al-Manar, Rasionalitas al-Qur’an, Metodologi Penafsiran al-Qur’an, serta buku-buku yang mendukung, ensiklopedia, jurnal dan literature lain yang relevan dan berkaitan. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini yaitu Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha ketika menafsirkan surah an-Nisa (4): 58 mengarah pada kriteria penegak hukum atau hakim yang adil. Hakim yang adil adalah hakim yang mengetahui syari’at Allah, tidak pandang bulu, tidak menuruti hawa nafsunya, dan selalu terbuka dengan kasus. Penafsiran demikian yang membedakan dengan kebanyakan mufasir yang mengartikan perintah adil dalam ayat ini berlaku kepada semua orang.
Pembaharuan Syari'ah Melalui Pemikiran Kritis Abdullah Ahmed Na'im Terhadap Hak Asasi Manusia Adelia, Ervina; Cherry Juli Rizhal
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 01 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v2i01.606

Abstract

Abdullahi Ahmed An-Na’im adalah seorang aktivis HAM dan cendekiawan hukum asal Sudan. Ia dilahirkan pada 6 April 1946 di Tepi Barat Nile, Sudan. An-Na'im memiliki latar belakang pendidikan hukum, dengan gelar sarjana hukum dari Universitas Khartoum dan gelar doktor di bidang hukum dari Universitas Edinburgh.Pendekatan yang digunakan oleh Abdullahi Ahmed An-Na'im dalam pemikiran hukumnya mencakup dua pendekatan utama: pendekatan historis dan pendekatan sosiologis. Pendekatan historis membantu dalam memahami bagaimana konsep syariah berkembang dalam sejarah Islam, sementara pendekatan sosiologis menggambarkan bagaimana interaksi antar manusia dalam konteks agama mempengaruhi pemahaman hukum. Metodologi An-Na'im melibatkan pemikiran kritis terhadap konsep syariah tradisional dan menyelaraskan prinsip-prinsip hukum Islam dengan nilai-nilai HAM universal. Ia berpendapat bahwa syariah harus diperbarui secara radikal untuk memenuhi tuntutan zaman modern dan hak asasi manusia. An-Na'im juga mencoba untuk merundingkan konsep syariah dengan mengkaji kembali perbedaan antara ayat-ayat Makkiyah (diturunkan di Mekkah) dan ayat-ayat Madaniyah (diturunkan di Madinah) dalam Al-Qur'an. Ia mengusulkan bahwa ayat-ayat Makkiyah memiliki nilai-nilai yang lebih universal dan egaliter daripada ayat-ayat Madaniyah. Pemikirannya tentang konsep syariah dan HAM telah menghadirkan perspektif yang kritis dan kontemporer dalam kajian hukum Islam. An-Na'im mendorong pembaruan hukum Islam yang lebih sesuai dengan nilai-nilai HAM universal dan kebutuhan masyarakat modern.
Penafsiran Bernuansa Mu’tazili Dalam Tafsir Al-Kasyaf Kerwanto; Unggul Purnomo Aji
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v5i2.654

Abstract

Of the many tafsir books, Tafsir al-Kasyaf by al-Zamakhsyari is a book of tafsir that has a broad scope which is thought to have Mu'tazilah nuances in it. It was felt that previous studies had not yet optimally dissected the nuances of mutism in this book of tafsir, for this reason this research using the literature method was designed to explore this matter more deeply. The results of the research show that Tafsir al-Kasyaf is convincingly proven to have Mu'tazilah nuances by excluding one chapter, namely the Al-Qur'an is Kalamullah according to al-Zamakhsyari.
Tinjauan Tafsir Maqasidi terhadap Kisah Nabi Zakaria: Analisis Qs. Maryam [19]: 1-11 Maula, Lia Nikmatul; Yuzar, Sri Kurniati
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v5i2.661

Abstract

This article aims to explain the story of the prophet Zakaria by using the review of maqasidi interpretation. The story of prophet Zakaria is one of the many stories of the prophets in the Qur'an that emphasizes the aspect of Tawhid. In the Qur'an, it is explained that Prophet Zakaria was a prophet who always prayed to Allah SWT to be blessed with a child even though he was old and his wife was barren. Because of his seriousness in praying, Allah SWT granted the prayer by giving good news in the form of his wife's pregnancy. Allah told him that his wife would give birth to a son named Yahya who would continue his prophetic treatise. This research is a librarry research using maqasidi interpretation approach. The results of this study indicate that when reviewed using the perspective of maqasidi interpretation in QS. Maryam (19): 1-11, Zakaria's determination in praying is a manifestation of his strong obedience to Allah. This contains maqasid, namely as a form of guarding religion (hifz al-Din). While the fulfillment of the prayer of the prophet Zakaria in the form of being given a child is a form of guarding by Allah SWT against offspring, as a form of maintaining prophetic regeneration. This contains maqasid, namely the preservation of offspring (hifz al-Nasl). The importance of preserving religion (hifz al-Din) and preserving offspring (hifz al-Nasl) is the goal of Islamic law that must be fulfilled.
Pelestarian Tumbuhan Pespektif Al-Qur'an Salman Fazli; Irfan Azhari; Masyitoh Nur
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v5i2.666

Abstract

Tumbuhan merupakan sumber kehibupan bagi manusia dan hewani, tumbuhan memiliki beragam manfaat dari akar hingga daun yang bisa digunakan oleh manusia, penelitian ini, menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (librery reachet), Allah mengurus manusia diatas permukaaan bumi sebagai penyeimbang kehidupan, peran manusia juga melibatkan kepada silkus kehidupan alam menjaga dari keseimbangan ekosistem ekologi dari eksploaitasi dan koneservasi berlebihan. Maka dari itu, peran insan bagaimana mengelola alam dengan bijaksan peran ilmu ekologi membantu pengetahuan dan pengembangan tumbuhan dan menjaga keseimabangan ekologi. Peran manusia sebagai khlaifah dipermukaan bumi menuntut untuk menjaga kesimbangan alam, al-quran menjalaskan bagaimana fungsi alam dan peran manusia terhadap menjaga alam serta pelestarian tumbuhan, bahwa tumbuhan sangat berpengaruh untuk kelangsungan alam, diawali dari mengolah kembali tanah tandus, mengurangi penggundulan alam, dengan cara penghijauan alam, serta mengurangi habitat fauna yang terlalu berlebihan
Kontekstualisasi Jilbāb dan Khimār Perspektif Hermeneutika Gadamer M. Badruz Zaman
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v5i2.671

Abstract

Abstrak Diskusi tentang penggunaan ideal jilbab, hijab, ataupun kerudung, masih menuai banyak perdebatan di masyarakat. Bahkan perempuan kerap menjadi korban perundungan dan diskriminasi, baik yang sudah mengenakan jilbab ataupun tidak mengenakannya. Bagaimana sebenarnya makna jilbab dan khimār yang terkadung di dalam al-Qur’an menjadi satu pertanyaan menarik. Artikel ini mendiskusikan aplikasi hermeneutika Gadamerian terhadap al-Qur’an yang dipadukan dengan teori klasik ulūm al-Qur’ān. Artikel ini menganalisis bagaimana penerapan dialog antara teks dengan penafsir (fusions of horizons) dari Gadamer pada ayat tentang jilbāb (Q.S. al-Ahzāb[33]: 59) dan khimār (Q.S. an-Nūr[24]: 31). Tujuannya untuk mengetahui bagaimana meaningfulsense (makna terdalam) dari jilbāb dan khimār. Penulis menggunakan studi kepustakaan (library research) yang bersifat deskriptif analitis sebagai langkah metodisnya dengan mengacu sumber primernya adalah al-Qur’an dan buku teori-teori Gadamer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna terdalam jilbāb dan khimār adalah tindakan protektif-preventif dan perlindungan terhadap martabat perempuan. Mengenai bentuk jilbāb dan khimār yang menuai perdebatan, adalah produk budaya yang disesuaikan dengan nilai kesopanan dan dilandasi keimanan. Akan tetapi, alangkah lebih baiknya untuk mengambil pendapat yang keluar dari perdebatan.
Rekonsiderasi Makna Tartīl di dalam Al-Qur’an dan Terjemah Kemenag (Studi Analisis Linguistik) Khozinul Alim; Izhar Musyafa
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v5i2.680

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hipotesa penulis terhadap ketidakkonsistenan penerjemahan al-Qur’an Kemenag di dalam menerjemahkan makna tartīl. Penulis mencoba untuk meninjau ulang penerjemahan makna tartīl tersebut dengan menggunakan metode analisis linguistik dan mengkomparisakannya dengan penafsiran para mufasir terhadap makna kata tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah adanya perbedaan antara al-Qur’an dan Terjemah Kemenag dengan pemaknaan yang diberikan mufasir-mufasir muktabar di dalam memaknai kata tartīl, penerjemahan al-Qur’an dan Terjemah Kemenag juga dinilai kurang sesuai dengan gramatikal kaidah ilmu nahwu dan shorof terhadap pemaknaan kata tersebut dan juga cenderung tidak konsisten jika dikomparasikan dengan ayat lain yang memiliki susunan kalimat yang sama. Penulis juga mencoba merekomendasikan untuk diadakan peninjauan ulang (rekonsiderasi) terhadap penerjemahan kata tartīl dengan dua cara yaitu merekonsiderasi secara internal dan merekonsiderasi secara eksternal.
Menenangkan Jiwa: Menelusuri Jejak Kesehatan Mental dalam Tafsir Al-Azhar Tsani, Aulia; Ursa Agniya
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v5i2.783

Abstract

Kesehatan mental merupakan isu krusial yang kian hari kian penting di tengah kompleksitas kehidupan modern. Dalam Islam, Al-Qur'an dan hadis menjadi sumber utama pedoman hidup, termasuk dalam menjaga kesehatan mental. Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, salah satu ulama terkemuka Indonesia, menawarkan penafsiran mendalam tentang ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan kesehatan mental. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji ayat-ayat kesehatan mental dalam Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dengan menggunakan pendekatan psikoreligius. Pendekatan ini memadukan perspektif psikologi dan agama untuk memahami makna dan aplikasi ayat-ayat Al-Qur'an dalam konteks kesehatan mental. Tentunya artikel ini menawarkan wawasan yang berharga tentang bagaimana agama dan psikologi dapat bersinergi dalam memahami dan mengatasi tantangan kesehatan mental dalam konteks Islam. Artikel ini dibuat dengan metode tafsir maudhu’i atau tematik, dimana mengumpulkan ayat-ayat yang memiliki tema yang sama yakni tentang Kesehatan mental. Penelitian ini menunjukkan bahwa Buya Hamka menyampaikan penafsiran yang holistik dan sesuai konteks tentang pentingnya menjaga kesehatan mental sebagai bagian penting dari iman dan ketakwaan kepada Allah SWT.
KONSEPTUALISASI HAK ASASI MANUSIA (HAM): STUDI ATAS PANDANGAN MUSDAH MULIA DALAM ENSIKLOPEDIA MUSLIMAH REFORMIS Ahmad Murtaza MZ; Aufa Miranti; Nurul Aulia; Cholillah; Nailil Husna
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2024): Desember 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i1.741

Abstract

Musdah Mulia menonjolkan peran teologis-humanis dan memperkaya pandangannya dengan kritik konstruktif yang bersifat reformis dalam merumuskan konsep hak asasi manusia. Dia mengusung kerangka berpikir yang menekankan integrasi antara akal dan agama dalam pemahaman hak asasi manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami dan mengevaluasi konsepsi Musdah Mulia tentang hak asasi manusia serta mengikuti proses penalaran yang digunakannya dalam merumuskan gagasan tersebut. Metode kualitatif, khususnya analisis konten, menjadi pendekatan yang digunakan dalam konteks penelitian hak asasi manusia. Pemikiran Musdah Mulia tentang tauhid memiliki potensi untuk membangkitkan kesadaran akan kesetaraan di kalangan masyarakat. Integrasi antara hak asasi manusia dan konsep tauhid diyakini memiliki daya persuasi yang besar terhadap umat beragama. Paradigma tauhid yang diajukan oleh Musdah Mulia dianggap mampu memperbaharui pemahaman tentang Islam, membuatnya lebih relevan dengan dinamika sosial modern dan menjadikannya lebih progresif. Dalam tulisannya mengenai hak asasi manusia, Musdah Mulia memadukan dua elemen utama dalam narasinya, yaitu rujukan keagamaan dan kritik terhadap sudut pandang yang ada. Dia menggunakan Al-Qur'an, Hadis, dan pandangan ulama untuk membangun fondasi argumentatif dari pandangan reformisnya. Pendekatan reformis yang dianut oleh Musdah Mulia menempatkan kritik terhadap gagasan yang dianggap sebagai kebenaran mutlak, namun tidak relevan dengan konteks masa kini, sebagai salah satu landasan utamanya. Dengan demikian, karya-karya Musdah Mulia memberikan kontribusi yang signifikan dalam pembaharuan konsepsi tentang hak asasi manusia dalam konteks keislaman yang lebih luas.