cover
Contact Name
M Riyan Hidayat
Contact Email
mrhidayat28@gmail.com
Phone
+6282245839804
Journal Mail Official
mrhidayat28@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lintas Timur Km. 36 Indaralaya Ogan Ilir, Sumatera Selatan
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
At Tahfidz Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : -     EISSN : 27747425     DOI : https://doi.org/10.53649/at-tahfidz
Core Subject : Religion,
The Journal At Tahfidz concentrates on publishing scientific papers with the theme of Quranic studies with the following coverage Study of Quran Science, Quran Translation, Study of Quranic Tafsir, Research on the Quran, Living Quran
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 93 Documents
TAFSIR MAQASHIDI SEBAGAI KRITIK TERHADAP KONSEP MILK AL-YAMIN MUHAMMAD SYAHRUR Izza Fastawa Hamim
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2024): Desember 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i1.849

Abstract

Beberapa dekade belakangan ini para sarjanawan muslin digemparkan dengan konsep milk al-yamin dalam al-Qur’an yang diasumsikan dapat diterapkan di era kontemporer. Konsep milk al-Yamin yang semula diartikan sebagai budak perempuan yang seenaknya boleh disetubuhi oleh pemiliknya, kini digiring oleh Muhammad Syahrur sebagai legitimasi seksual sukarela antara laki-laki dan perempuan yang hanya sebatas mencari kepuasan seksualitas oleh kedua belah pihak. Konsep ini bukan mengarah pada kebolehan berzina melainkan pada kebolehan nikah mut’ah atau nikah misyar. Tujuan penulisan artikel ini adalah sebagai pelengkap tulisan sebelumnya yaitu melihat konsep milk al-yamin Muhammad Suahrur menggunakan tafsir maqashidi. Tulisan ini bersifat kritik analisis dengan menggunakan metode kualitatif Pustaka. Penelitian menemukan bahwa pertama, penafsiran Syahrur menyalahi dan berbeda jauh dengan ulama tafsir lainnya. Kedua, tujuan al-Qur’an dalam konsep milk al-yamin adalah untuk menikah secara sempurna dengan tujuan beribadah mencari rahmat Allah, dengan membangun rumah tangga yang harmonis seperti menjalin ikatan kekeluargaan serta untuk melanjutkan generasi. Ketiga, penafsiran milk al-Yamin Syahrur dinilai tidak mempertimbangkan nilai-nilai dan aspek-aspek maqashid al-Qur’an. keempat, penafsiran Syahrur terlihat sangat subjektif karena hanya merespon realitas barat. Kelima, dalam menafsirkan al-Qur’an Syahrur dinilai tidak memperhatikan aspek washilah dan ghayah dalam al-Qur’an. Keywords: Milk al-Yamin, Syahrur, Tafsir Maqashidi.
PANDANGAN AL-QUR’AN DALAM MENYIKAPI MARRIAGE IS SCARY: Analisis Tafsir Audiovisual Ustaz Rifky Ja’far pada Kanal YouTube “Sayap Dakwah TV” Manzilina, Savira; Ahmad Zaidanil Kamil
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2024): Desember 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i1.886

Abstract

This paper discusses the Qur'anic view on the issue of marriage is scary with the perspective of Ustaz Rifky Ja'far on the Dakwah Sunnah TV YouTube channel. This study, which is processed as a podcast, raises an issue that is being discussed by a number of young people in generation Z, which has the effect of making young people afraid to step into marriage. The purpose of writing this article is to analyse the view of the Qur'an in addressing the issue and examine how the da'wah approach delivered is able to offer relevant solutions to the fears and concerns of today's young generation in marriage. The method used uses digital ethnography and the theory of countering radicalism narratives initiated by Jeffery R. Halverson. Ustaz Rifky Ja'far explained his argument in refuting the issue with two verses in the Qur'an, namely in surah an-Nūr [24]:32 about its virtue, namely that it can bring sustenance to someone who performs marriage, even though they are still not classified as capable, and surah ar-Rūm [30]:21 about its virtue, namely giving peace to those who perform marriage. In this study, three forms of counter-narrative were found in the video delivered by Ustaz Rifky Ja'far, namely figural narrative; analogy narrative; and ideological narrative with two counter-narrative strategies of Ustaz Rifky Ja'far's extremism on the issue of marriage is scary, namely prioritising the qisas verse over the marriage verse and applying it to the realities of marriage.
KRONOLOGI BERBASIS SURAH DALAM PENAFSIRAN AL-QUR’AN: KAJIAN SINKRONIK-DIAKRONIK Yuviandze Bafri Zulliandi
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2024): Desember 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i1.953

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi pentingnya pendekatan kronologis dalam penafsiran Al-Qur'an, mengintegrasikan analisis sinkronik dan diakronik. Temuan menunjukkan bahwa pemahaman kontekstual terhadap ayat-ayat Al-Qur'an dapat dicapai melalui urutan turunnya surah, yang mengungkap makna yang lebih dalam sesuai dengan konteks historis dan sosial. Penelitian ini juga menekankan evolusi metodologi penafsiran yang menggabungkan metode klasik dan modern, serta tantangan dalam menentukan urutan kronologis yang tepat. Dengan demikian, penafsiran berbasis kronologi sangat berharga untuk meningkatkan pemahaman ajaran Islam, mendorong pendekatan seimbang antara analisis sinkronik dan diakronik. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran, menggabungkan analisis kualitatif dan kuantitatif. Peneliti melakukan tinjauan literatur terhadap tafsir klasik dan kontemporer untuk memahami metodologi yang digunakan dalam penafsiran Al-Qur'an. Analisis sinkronik dan diakronik diterapkan untuk memeriksa perubahan interpretasi Al-Qur'an seiring waktu. Pendekatan ini bertujuan mengidentifikasi pola serta pergeseran dalam penafsiran terkait dengan kronologi surah. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran, menggabungkan analisis kualitatif dan kuantitatif. Peneliti melakukan tinjauan literatur terhadap tafsir klasik dan kontemporer untuk memahami metodologi yang digunakan dalam penafsiran Al-Qur'an. Analisis sinkronik dan diakronik diterapkan untuk memeriksa perubahan interpretasi Al-Qur'an seiring waktu. Pengumpulan data melibatkan observasi sistematis dan pengkodean teks, yang disusun menjadi matriks kode untuk analisis lebih lanjut. Pendekatan ini bertujuan mengidentifikasi pola serta pergeseran dalam penafsiran terkait dengan kronologi surah. Penelitian ini juga menekankan evolusi metodologi penafsiran yang menggabungkan metode klasik dan modern, serta tantangan dalam menetapkan urutan kronologis yang tepat. Pada akhirnya, penelitian ini menyimpulkan bahwa penafsiran berbasis kronologi Al-Qur'an sangat berharga untuk meningkatkan pemahaman dan relevansi ajaran Islam, serta mendukung pendekatan seimbang yang menggabungkan analisis sinkronik dan diakronik.
Nasikh Mansukh Menurut Jalaluddin Al Mahalli: Telaah Kitab Al Itqon Ulum Al Qur'an Sania Rahma Melani; Imam Sopigi; Anita Musfiroh
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2024): Desember 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i1.959

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendalami konsep nasikh-mansukh menurut Jalaluddin Al-Mahali melalui analisis kitab Al-Itqan fi Ulum Al-Qur'an karya Al-Suyuti. Fokus utama penelitian ini adalah pandangan Jalaluddin Al-Mahali mengenai kriteria, mekanisme, dan penerapan nasikh-mansukh dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an. Tujuan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih mendalam tentang metode beliau dalam membahas tema ini, yang sangat relevan dalam diskursus ilmu Al-Qur'an. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan pendekatan analisis isi, di mana data dikumpulkan dari berbagai kitab tafsir dan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jalaluddin Al-Mahali mengadopsi pendekatan yang selektif dan berhati-hati dalam menentukan ayat yang dianggap mansukh. Beliau menekankan pentingnya bukti yang kuat dan valid sebelum menyimpulkan tentang adanya naskh. Pendekatan ini lebih ketat dibandingkan dengan pandangan beberapa ulama lain yang cenderung lebih longgar dalam menetapkan status nasikh-mansukh. Selain itu, Jalaluddin Al-Mahali berupaya menjaga harmonisasi antara ayat-ayat Al-Qur'an, sehingga konsep nasikh-mansukh digunakan secara terbatas dan tidak diterapkan secara luas pada semua perbedaan hukum. Terdapat keterbatasan dalam penelitian ini terkait dengan minimnya akses terhadap karya asli Jalaluddin Al-Mahali, sehingga sebagian besar data berasal dari analisis dalam kitab Al-Itqan. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi lebih dalam melalui manuskrip langsung atau membandingkan dengan karya tafsir lainnya. Keunikan penelitian ini terletak pada penekanan terhadap kehati-hatian dalam memahami nasikh-mansukh, yang memberikan implikasi berbeda dalam studi ilmu Al-Qur'an. Pendekatan ini relevan untuk menciptakan pemahaman yang lebih inklusif dan kontekstual dalam kajian Al-Qur'an di era modern.
Nalar Saintifik Sebagai Konstruksi Penerjemahan Al-Qur'an Nur Ahmad Zainul Haq; Nurul Istiqomah
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2024): Desember 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i1.984

Abstract

Agus Purwanto adalah seorang ilmuwan pada bidang fisika teori yang memiliki gelar D.Sc (Doctor of Science). Ia berupaya menghidupkan kembali pemahaman saintifik Al-Qur’an di tengah dominasi pendekatan teologis. Melalui karyanya “Ayat-Ayat Semesta” dan “Nalar Ayat-Ayat Semesta”, ia mengonstruksi pemahaman Al-Qur’an secara saintifik dengan fokus pada ayat-ayat kauniyah yang disusun secara tematik. Dari berbagai tema yang dibahas, ia memberikan terjemahan alternatif pada tiga ayat: QS. al-Ḥadīd ayat 25 yang berfokus pada diksi kata anzalnā dalam tema “Besi dan Evolusi Bintang”, QS. aṭ-Ṭāriq ayat 12 yang berfokus pada diksi kata aṣ-ṣadʻi dalam tema “Struktur Interior Bumi”, dan QS. an-Naml ayat 18 yang berfokus pada diksi kata an-namlah dalam tema “Sang Ratu Semut”. Terjemahan alternatif ini didasarkan pada analisis harfiah yang dikorelasikan dengan teori sains. Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini menganalisis data secara induktif dan deskriptif. Data primer bersumber dari buku “Nalar Ayat-Ayat Semesta” dan didukung berbagai literatur sekunder seperti buku, kitab, artikel jurnal, dan skripsi. Proses pengolahan data meliputi deskripsi, identifikasi, penyajian hasil, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upaya Purwanto tidak hanya mencerminkan pergeseran dari nalar teologis ke nalar saintifik dalam memahami Al-Qur'an, tetapi juga membuktikan bahwa pendekatan saintifik dapat menjadi kritik terhadap pemahaman teologis, sebagaimana terlihat dari terjemahan alternatifnya yang mengkritisi terjemahan konvensional. Kata Kunci: ayat-ayat semesta, nalar saintifik, terjemah alternatif.
ANCAMAN TERHADAP PRAKTIK RIBA DALAM SURAH AL-BAQARAH AYAT 278-279: KAJIAN TAFSIR DAN IMPLIKASI SOSIALNYA Muhammad al Hudriali Zarkasi Lubis
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2024): Desember 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i1.1019

Abstract

Penelitian ini mengkaji ancaman terhadap praktik riba dalam Surah Al-Baqarah ayat 278-279 dan implikasi sosial yang ditimbulkan oleh larangan tersebut. Melalui pendekatan tafsir, artikel ini menganalisis makna dan interpretasi dari ayat-ayat yang menekankan larangan riba, serta menggali pendapat ulama klasik mengenai ancaman bagi mereka yang terlibat dalam transaksi ribawi. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi dampak sosial dari praktik riba dalam masyarakat, yang meliputi ketidakadilan ekonomi, peningkatan kesenjangan sosial, krisis kepercayaan dalam transaksi ekonomi, dan dampak psikologis yang merugikan pihak-pihak yang terlibat. Dalam konteks ekonomi modern, artikel ini membahas bagaimana praktik riba beroperasi dalam sistem perbankan kontemporer dan dampaknya terhadap masyarakat, khususnya dalam negara-negara dengan mayoritas Muslim. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik riba tidak hanya bertentangan dengan prinsip keadilan dalam ekonomi Islam, tetapi juga berisiko menambah ketidakadilan sosial dan ekonomi, yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk menghindari praktik riba dan membangun sistem ekonomi yang berlandaskan pada nilai-nilai keadilan dan solidaritas.
Eksistensi Tanah Sebagai Simbol Kehidupan dan Kebangkitan dalam Al-Qur`an Hasyim , Mansuri; Hakim, Lukmanul; Almi, Muhammad; Syabil, Zafran; Reli Sulyani
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i2.1057

Abstract

Artikel ini mengkaji eksistensi tanah sebagai simbol kehidupan dan kebangkitan dalam Al-Qur’an, berdasarkan penafsiran terhadap ayat-ayat pilihan, yaitu QS. Al-Hijr ayat 26, QS. Ar-Rahman ayat 14, dan QS. Ar-Ra’d ayat 5. Tanah tidak hanya berfungsi sebagai bahan dasar penciptaan manusia, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya kehidupan, sarana keberlangsungan ekosistem, serta pengingat akan asal-usul dan akhir kehidupan manusia. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis, yang bertujuan untuk menggali makna ayat-ayat Al-Qur’an tentang eksistensi tanah serta menelusuri bagaimana para mufasir klasik dan kontemporer menafsirkannya. Melalui pendekatan Tafsir An-Nur, Tafsir Al-Azhar, dan Tafsir Al-Misbah, artikel ini menjelaskan bahwa tanah diciptakan tidak hanya sebagai unsur fisik, tetapi juga sebagai manifestasi kekuasaan Allah yang menjadi tanda kebesaran-Nya. Tanah menjadi media kehidupan sekaligus simbol kebangkitan, sebagaimana Allah menghidupkan tanah yang mati sebagai bukti bahwa Dia berkuasa menghidupkan kembali manusia pada hari kiamat. Kajian ini menegaskan bahwa penciptaan tanah mengandung pesan spiritual, ekologis, dan ilmiah yang mendorong manusia untuk senantiasa merenungkan kebesaran dan keesaan Allah Swt. Dengan menggabungkan perspektif keimanan dan ilmu pengetahuan, artikel ini menawarkan pemahaman baru tentang keterkaitan antara wahyu dan sains dalam memaknai ciptaan Tuhan. Kata kunci: Eksistensi, Tanah, Kehidupan, Kebangkitan, Al-Qur’an.
Analisis Semiotik Lafaz Qalb dalam QS. Al-Baqarah: 7-10 Perspektif Roland Barthes Azizah, Aprilya; Masyitoh Mudafi’ah Haqiqoh; Aghnia Faradits
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i2.1095

Abstract

Kajian ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan pendekatan semiotik dalam memahami dimensi makna simbolik lafaz qalb dalam Al-Qur’an, khususnya pada QS. Al-Baqarah ayat 7–10. Lafaz qalb dalam konteks tersebut tidak semata merujuk pada organ biologis, melainkan menjadi representasi kompleks atas kesadaran spiritual, moral, dan ideologis manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna qalb pada tiga tataran makna menurut teori semiotika Roland Barthes: denotatif, konotatif, dan mitologis. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, dengan penerapan metode analisis semiotika Roland Barthes sebagai kerangka utama dalam menelaah makna simbolik yang terkandung dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara denotatif, qalb dipahami sebagai pusat kesadaran batin yang rentan terhadap penutupan dan penyakit spiritual akibat penolakan terhadap kebenaran. Pada tingkat konotatif, qalb diposisikan sebagai simbol dari disfungsi moral, yang terwujud dalam bentuk kekufuran dan kemunafikan. Sementara itu, pada tataran mitos, lafaz ini membentuk konstruksi ideologis mengenai oposisi terhadap kebenaran, sekaligus memperkuat identitas kolektif komunitas beriman. Temuan ini menegaskan bahwa teks Al-Qur’an mengandung struktur tanda yang kompleks, yang tidak hanya menyampaikan pesan teologis, tetapi juga membangun narasi sosial dan ideologis. Dengan demikian, penerapan teori Barthes dalam kajian ini membuka jalan bagi pembacaan Al-Qur’an yang lebih kontekstual dan kritis terhadap struktur makna yang terkandung dalam teks ilahiah. Kata kunci: Qalb, Semiotik, Roland Barthes, Qur’an
Urgensi Pendidikan Islam Berbasis Tauhid Perspektif Tafsir Ath-Thabari Analisis Pedagogi dalam Q.S At-Taubah ayat 31-33 Choirun Nisa, Arifah; Burhanuddin, Enjang; Niswatul Malihah; Almujahid
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i2.1112

Abstract

Islamic education is part of the teachings of Islam as a whole, because its goal is to create human beings who are always devoted to Allah and can achieve happiness in this world and the hereafter, as well as develop all aspects of life, including spiritual, intellectual, imaginative, physical, scientific, and linguistic. The concept of monotheism is the main foundation in Islamic education because monotheism is the foundation for all aspects of Muslim life. Tawhid means making Allah SWT the only true worship. According to him, Tauhid is also the basis of education that is to be given to future generations.This research method uses literature review which involves the identification, evaluation, and synthesis of various literature sources relevant to the research topic with a qualitative approach. This article contains a review of the concept of Islamic education in the meaning of monotheism contained in surah at taubah verses 31-33 where the result of the analysis is that with the existence of education we can distinguish between good and bad things, haram and halal things and can follow Allah's command to amar ma'ruf nahi munkar and convince his people that Allah SWT is the One God by sending His Messenger (Prophet Muhammad SAW) to be Guidance/role models for his people to the right path
Epistemologi Pendekatan Historis Angelika Neuwirth dan Fazlur Rahman Rida Sopiah Wardah; Tap’aul Habdin
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i2.1129

Abstract

Kajian ini mengeksplorasi epistemologi pendekatan historis Angelika Neuwirth dan Fazlur Rahman terhadap al-Qur'an, dengan fokus pada kontribusi, metode, dan implikasi dari pendekatan mereka. Neuwirth menggunakan analisis filologis untuk mengkaji interaksi al-Qur'an dengan tradisi monoteistik lain dalam konteks late antiquity, sementara Rahman mengembangkan metode double movement untuk menghubungkan pesan al-Qur'an dengan relevansi modern. Pendekatan historis ini berimplikasi pada aspek konseptual, metodologis, dan diskursif, seperti memperkaya dialog lintas agama, menawarkan kerangka interpretasi kontekstual, dan menjawab tantangan modern seperti keadilan sosial. Kajian ini juga membandingkan pendekatan tersebut dengan literatur lain, termasuk analisis konteks sosial-budaya bangsa Arab, tafsir kontekstual, dan pengkodifikasian al-Qur'an. Melalui metode library research, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan historis Neuwirth dan Rahman memberikan kontribusi signifikan dalam studi al-Qur'an kontemporer, meskipun terdapat keterbatasan dalam penerapan praktisnya.

Page 8 of 10 | Total Record : 93