cover
Contact Name
Kurnia Rahmad Dhani
Contact Email
kurniadhani@isi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
idea.jurnalisiyogyakarta@gmail.com
Editorial Address
Komplek Kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jl. Parangtritis Km. 6,5 Kotak Pos 1210, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55001
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
IDEA: Jurnal Seni Pertunjukan
ISSN : 14116472     EISSN : -     DOI : -
IDEA draws its contributions from academics and practitioner-researchers at the interface of the performing arts. It acts as a forum for critical study, innovative practice, and creative pedagogy, addressing themes that may be domain-specific (e.g., dance, music, theatre, puppets, karawitan, ethnomusicology, culture and arts) or situated at the convergence of two or more disciplines. The journal invites original, significant, and rigorous inquiry into all subjects within or across disciplines related to the performing arts. It encourages debate and cross-disciplinary exchange across a broad range of approaches. The spectrum of topics includes Ethnomusicology, Karawitan, Music, Music Education, Dance, Theatre, Puppet, and Arts education.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2024)" : 12 Documents clear
Peran Electronic Dance Music (EDM) Pada Aplikasi Bigo Live Pakpahan, Titan Valentino; Nugroho, Titis Setyono Adi; Jati, Galih Pangestu
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13754

Abstract

Electronic Dance Music (EDM) kini telah menjadi fenomena global yang populer di berbagai platform digital, termasuk aplikasi Bigo Live. Penggunaannya kerap kali sebagai musik latar ketika sedang live streaming. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran EDM di Bigo Live. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan netnografi karya Robert Kozinet. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan di Bigo Live, wawancara mendalam dengan tiga orang streamer aktif di Bigo Live yang sering menggunakan EDM ketika sedang live dan analisis konten media digital yang terkait EDM di Bigo Live. Temuan penelitian menunjukkan bahwa EDM memainkan peran penting dalam interaksi sosial di Bigo Live. Penggunaan Electronic Dance Music (EDM) di Bigo Live memainkan peran yang kompleks dan multidimensi. EDM tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai alat untuk membangun identitas, meningkatkan mood, mengekspresikan diri, membangun sosial antar pengguna, mempengaruhi perilaku seseorang, memperkuat brand pengguna dan dapat menciptakan pengalaman yang menarik dan interaktif bagi pengguna Bigo Live, dan membantu membangun suasana yang enjoy, dan membuat suasana antara streamer dan penonton lebih nyaman, dan dapat sebagai penghubung dengan orang lain yang memiliki minat yang sama. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami peran EDM dalam konteks media sosial dan interaksi online di Bigo Live. Temuan penelitian ini dapat digunakan sebagai tinjauan untuk peneliti selanjutnya dan pengembang platform digital dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan pengalaman pengguna yang lebih inklusif dan positif.
Estetika Tari Burung Enggang Khas Suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur Rahel, Astri; Supriyanti, Supriyanti; Hanjati, Bernadetta Sri
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13306

Abstract

Tulisan ini membahas estetika Tari Burung Enggang khas Suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur. Tari Burung Enggang adalah tarian yang diciptakan untuk memuja nenek moyang yang berasal dari langit dan turun menyerupai Burung Enggang. Fungsi dari tari Burung Enggang awalnya sebagai tarian upacara dan tarian sakral, tetapi sekarang sebagai tarian hiburan. Penelitian ini menggunakan landasan pemikiran Djelantik, dengan pendekatan estetika dan analisis deskriptif analisis. Teori ini mengupas tentang kehidupan dan estetika dalam suku Dayak Kenyah dan tari Burung Enggang. Penelitian ini menggunakan konsep Djelantik yang menyebutkan ada tiga faktor munculnya estetika, wujud atau rupa, bobot atau isi, dan penampilan atau penyajian. Dari tiga faktor tersebut saling melengkapi satu sama lain sehingga terciptanya sebuah tarian yang memiliki estetika. Faktor tersebut juga membentuk satu tarian yang nantinya akan memunculkan estetika atau keindahan baik dari segi gerakan, busana tari, properti yang digunakan, dan alat musik untuk mengiringi tari Burung Enggang. Estetika yang terdapat di dalam tari Burung Enggang yaitu gerak tarian yang sederhana tapi masih bisa dinikmati, busana tari yang khas dengan manik-manik, motif, dan warna yang terdapat di busananya, penggunaan properti kirip menambah keindahan dari tari Burung Enggang, dan iringan musik untuk memunculkan suasana gembira. The Aesthetics of the Enggang Dance of the Dayak Kenyah Tribe in East KalimantanThis study explores the aesthetics of the Enggang Dance of the Dayak Kenyah Tribe in East Kalimantan. The Enggang Dance was created as a homage to ancestors believed to descend from the heavens and were embodied as hornbills. Initially, the Enggang Dance served as a ceremonial and sacred ritual; however, it has now transitioned into entertainment. The research employs Djelantik's theoretical framework, adopting an aesthetic approach and descriptive analysis. This theory delves into the life and aesthetics of the Dayak Kenyah tribe and the Enggang Dance. Djelantik's concept highlights three key factors that constitute aesthetics: form or appearance, content or essence, and presentation or performance. These three factors are interdependent, collectively shaping a dance with aesthetic value. These elements manifest in the dance movements, costumes, props, and musical accompaniment. The aesthetic appeal of the Enggang Dance lies in its simplicity, yet it remains enjoyable. The costumes are distinctive, adorned with intricate beadwork, motifs, and vibrant colours. Using the kirip prop enhances the visual appeal, while the accompanying music fosters a cheerful atmosphere.
Keberadaan Alat Musik Tiup Barat dalam Penyajian Gondang Husip-Husip Oleh Parsaoran Etnik Yogyakarta: Kajian Hibriditas Musikal Simamora, Boy Lamris I; Purba, Krismus; Purba, Ezra Deardo
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13746

Abstract

Seiring perkembangan zaman, penyajian gondang sebagai musik tradisi suku Batak Toba tidak luput dari sentuhan modernitas. Salah satunya adalah keberadaan instrumen tiup Barat dalam penyajian satu repertoar musik tradisi Batak yang paling sering dimainkan dalam upacara adat, Gondang Husip-husip oleh Parsaoran Etnik Yogyakarta. Parsaoran Etnik sebuah grup musik tradisi Batak yang berada di kota Yogyakarta hadir dengan konsep komposisi musik yang berbeda, membawakan komposisi musik yang unik dan inovatif. Penelitian ini mengkaji fenomena hibriditas musikal antara alat musik tiup Barat dalam penyajian Gondang Husip-husip oleh Parsaoran Etnik Yogyakarta, menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan musikologi. Pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan hibriditas musikal tersebut merupakan proses dinamis yang berlangsung dalam tiga tahap: introduksi dan adopsi, eksperimentasi dan penyesuaian, serta pemurnian dan internalisasi. Penyajian Gondang Husip-husip yang memiliki pola struktur lagu A B C C dibalut dengan perpaduan alat musik tiup Barat yang digunakan untuk melodisasi, harmonisai, timbre, penciptaan warna musik yang baru dan memperkaya ekspresi musikal. Hibridisasi ini menghasilkan komposisi dan karakteristik musik baru, seperti penggabungan harmoni Barat, penggunaan teknik improvisasi, perpaduan teknik permainan alat musik Barat dan tradisional Batak, adaptasi komposisi musik Gondang Husip-husip, serta nuansa musik yang lebih modern dan kontemporer. Hibriditas ini menunjukkan kemampuan tradisi musik Batak Toba untuk berkembang dan berinovasi di tengah gempuran modernisasi. Hibridisasi ini juga menghasilkan komposisi dan karakteristik musik baru yang memperkaya ekspresi musikal Gondang Husip-husip.
Penggunaan Gubahan Lagu Sebagai Strategi Menghafal Materi Rantai Makanan Siswa Sekolah Dasar Pratama, Laurensius Handy Setya; Ismudiati, Endang; Ramafisela, Lingga
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13493

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui serta mendeskripsikan proses penggunaan gubahan lagu sebagai strategi menghafal materi rantai makananan bagi siswa kelas VC SD Negeri Jurug Sewon Bantul. Kemampuan mengingat dan menghafal merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar dan prestasi peserta didik di kelas yang diukur berdasarkan penguasaan materi pelajaran dalam hal teori. Namun tidak semua peserta didik memiliki kemampuan mengingat dan menghafal yang baik. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yakni, obeservasi, wawancara, dokumentasi, dan trianggulasi data. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat tiga tahapan dalam proses penggunaan gubahan lagu sebagai startegi menghafal materi rantai makanan bagi siswa kelas VC SD Negeri Jurug Sewon Bantul. Tiga tahapan tersebut antara lain, tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap tindak lanjut. Melalui ketiga tahapan tersebut, penggunaan gubahan lagu juga dapat mempermudah peserta didik dalam melakukan hafalan, memaksimalkan kinerja memori jangka pendek, meningkatkan antusias peserta didik saat proses pembelajaran, serta menjadikan interaksi antara peserta didikk dan guru menjadi lebih aktif.
Siku-siku: Koreografi berdasarkan Kegelisahan Tanaya, I Made Agus Tresna; Dana, I Wayan; Subawa, Y
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13094

Abstract

Karya tari Siku-Siku merupakan bentuk refleksi diri dari satu perjalanan kehidupan pengkarya. Terinspirasi dari pengalaman pribadi pengkarya yang mengalami kegelisahan dalam tatanan pembangunan suatu rumah di Bali. Hal ini berawal dari adanya bangunan rumah pengkarya yang berada di kota dan desa yang memiliki perbedaan tatanan Asta Kosala Kosali. Selain itu, adanya penolakan dari seorang Mangku (orang suci) pada saat mengupacarai rumah pengkarya yang berada di kota menimbulkan pertanyaan dalam diri pengkarya. Proses penciptaan karya tari Siku-siku mengacu pada metode penciptaan yang dijelaskan oleh Hawkins, yang meliputi eksplorasi, improvisasi, komposisi, dan evaluasi. Karya tari Siku-Siku menggunakan pengembangan motif gerak tari Bali serta dipadukan dengan bentuk ukuran rumah yang terdapat dalam tatanan Asta Kosala Kosali, sehingga muncul motif gerak sikut pada karya ini. Motif gerak sikut pengkarya pilih sebagai gerak inti dikarenakan dalam motif gerak tersebut meliputi bentuk pengukuran rumah yang ada di dalam tatanan Asta Kosala Kosali. Pada proses pencarian jawaban mengenai kegelisahan pengkarya yang dialami, pengkarya mendapatkan satu jawaban pasti yaitu Desa Kala Patra dalam pembangunan rumah di Bali. Konsep Desa Kala Patra menjadi titik terang dari proses perjalanan penciptaan karya tari Siku-siku, selain itu karya tari ini menjadi media ungkap yang tepat untuk menyampaikan keluh kesah dalam proses mencari jawaban. Siku-siku: Choreography based on AnxietyThe Siku-Siku dance work is a form of self-reflection from the artist's life journey. Inspired by the personal experience of the creator who experienced anxiety during the construction of a house in Bali. This started with the existence of craftsman's houses in cities and villages that had different Asta Kosala Kosali. Apart from that, the rejection from the Mangku (saint) when performing a ceremony on the artist's house in the city raised questions within the artist. The process of creating the Siku-Siku dance work refers to the method described by Hawkins, which includes exploration, improvisation, composition, evaluation. The Siku-Siku dance work uses the development of Balinese dance movement motifs and combines them with elbow shapes in the Asta Kosala Kosali arrangement, so that the elbow movement motif appears in this work. The artist chose the elbow movement motif as the core movement because the movement motif includes the form of measuring the house in the Asta Kosala Kosali arrangement. In the process of searching for answers regarding the anxiety the creator was experiencing, the creator got one definite answer, namely Kala Patra Village in building houses in Bali. The concept of Kala Patra Village is a bright spot in the process of creating the Siku-Siku dance work, apart from that, this dance work is a medium for expressing complaints in the process of searching for answers.
Penanaman Pendidikan Karakter Melalui Musik Kolintang Di SD Negeri Rungkut Kidul II Surabaya Lingga, Cadenza Symphonia; Yunita, Ayu Tresna; Adzkia, Sagaf Faozata
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.12943

Abstract

Pendidikan karakter memiliki peran penting dan menjadi prioritas untuk membentuk karakter anak dalam dunia pendidikan yang sekaligus menjadi objek formal dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat pada ekstrakurikuler musik kolintang di SD Negeri Rungkut Kidul II Surabaya melalui observasi, wawancara dan studi dokumen sebagai teknik pengumpulan data. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan teknik analisis data melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Merujuk pada hasil penelitian yang telah ditemukan dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam pembelajaran ekstrakurikuler musik kolintang di SD Negeri Rungkut Kidul II Surabaya yaitu meliputi aspek rasa cinta tanah air, kerja sama, kesabaran, disiplin, tanggung jawab, mandiri, dan komunikatif. Implementasi nilai-nilai pendidikan karakter tersebut tidak terlepas dari kurikulum dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) serta proses penanaman nilai pendidikan karakter yang dilakukan melalui tahap pendahuluan yang terdapat nilai disiplin dalam penegasan-penegasan guru terhadap siswa untuk dapat menyimak secara saksama, tahap inti yang terdapat nilai kerja sama, rasa cinta tanah air, kesabaran, komunikatif, dan mandiri dalam proses siswa berlatih memainkan kolintang, serta tahap evaluasi yang terdapat nilai bertanggung jawab dalam penggunaan alat musik kolintang.
Fungsi Tari Wura Bongi Monca di Desa Karumbu, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat Dayantri, Rima; Winarti, Tutik; Supriyanti, Supriyanti
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13050

Abstract

Tulisan ini mengupas fungsi Tari Wura Bongi Monca di Desa Karumbu Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Tari Wura Bongi Monca adalah tarian penyambutan tamu, tarian selingan di tengah dan akhir acara, dan tarian hiburan untuk memeriahkan acara. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi tari. Tipologi fungsi tari dirumuskan dalam enam kategori, yaitu tari sebagai refleksi dan legitimasi tatanan sosial, wahana ekspresi ritual sekuler dan keagamaan, hiburan sosial atau kegiatan rekreasi, saluran atau pelepasan spiritual, pencerminan nilai estetis atau suatu kegiatan estetis itu sendiri, dan sebagai pencerminan pola kegiatan ekonomi untuk menunjang kehidupan. Penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi tari Wura Bongi Monca sebagai bagian penting dalam memenuhi kebutuhan kesenian untuk hiburan, cerminan nilai estetis, cerminan pola kegiatan ekonomi, refleksi, wahana ekspresi ritual dan keagamaan, dan sebagai saluran pelepasan spritual. The Function of the Wura Bongi Monca Dance in Karumbu Village, Langgudu Subdistrict, Bima Regency, West Nusa Tenggara.This paper examines the functions of the Wura Bongi Monca Dance in Karumbu Village, Langgudu Subdistrict, Bima Regency, West Nusa Tenggara. The Wura Bongi Monca Dance serves as a welcoming dance for guests, an interlude performance during and at the end of events, and as entertainment to enliven festivities. This study adopts an anthropological approach to dance. The typology of dance functions is categorized into six areas: dance as a reflection and legitimization of social order, a medium for secular and religious ritual expression, social entertainment or recreational activity, a channel for spiritual release, a reflection of aesthetic values or aesthetic activity itself, and as a reflection of economic activities supporting livelihoods. The study demonstrates that the Wura Bongi Monca Dance plays a crucial role in fulfilling artistic needs for entertainment, reflecting aesthetic values, economic activity patterns, and social order, serving as a medium for ritual and religious expression, and as a channel for spiritual release.
Fungsi Tari Gunungsari Kalibagoran di Masyarakat Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas Suryaningsih, Suryaningsih; Winahyuningsih, M. Heni; Anggraeni, Agustin
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13660

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan fungsi tari Gunungsari Kalibagoran di masyarakat Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Tari Gunungsari Kalibagoran adalah tari tradisional tunggal putri gaya banyumasan. Penelitian terkait fungsi tari ini mencakup tiga elemen pokok yakni objek tari Gunungsari Kalibagoran, masyarakat Kalibagor, dan teori fungsi. Persoalan fungsi diselesaikan dengan teori Robert K. Merton yang menyatakan fungsi ke dalam dua kategori yaitu fungsi manifest yakni akibat atau konsekuensi positif yang tampak dan fungsi latent yakni akibat atau konsekuensi positif yang tersembunyi. Fungsi latent walaupun tersembunyi namun terus mengikuti dan suatu saat dapat muncul dan menjadi penjaga keutuhan dalam suatu masyarakat. Merton tidak menyebutkan secara spesifik fungsi tari, maka dalam penelitian ini teori fungsi Merton dibantu oleh konsep Kraus untuk memudahkan kategorisasi fungsi tari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi manifest dalam tari Gunungsari Kalibagoran ialah bentuk tarinya, berfungsi sebagai hiburan, dan berfungsi sebagai pekerjaan. Fungsi latent atau fungsi yang tersembunyi dalam tari tersebut yakni fungsi konseptual (nilai sosial, nilai historis, nilai kesuburan, dan nilai estetis), fungsi kontinyuitas atau keberlangsungan tari, fungsi pemelihara sistem kelas sosial, serta fungsi penguat identitas bagi masyarakat Banyumas.The Function of the Gunungsari Kalibagoran Dance in the Community of Kalibagor Village, Kalibagor District, Banyumas RegencyThis article describes the functions of the Gunungsari Kalibagoran dance within the community of Kalibagor Village, Kalibagor Subdistrict, Banyumas Regency. The Gunungsari Kalibagoran dance is a traditional solo female dance in the Banyumasan style. The research on the functions of this dance encompasses three key elements: the dance as an object, the Kalibagor community, and functional theory. The issue of function is analyzed using Robert K. Merton's theory, which categorizes functions into two types: manifest functions, which are visible positive outcomes, and latent functions, which are hidden positive outcomes. Latent functions, although concealed, persist and may emerge to serve as a unifying force within society. Since Merton does not explicitly address dance functions, this research integrates Merton's functional theory with Kraus's concepts to categorize dance functions. The findings reveal that the manifest functions of the Gunungsari Kalibagoran dance include its form, its role as entertainment, and its economic function as a livelihood. The latent functions of the dance include conceptual functions (social, historical, fertility, and aesthetic values), the continuity of the dance tradition, its role in maintaining the social class system, and its reinforcement of Banyumas's communal identity.
Penciptaan Naskah Drama “Ibu dan Matematika” berdasarkan Fenomena Childfree dengan Semangat Pembebasan Tubuh Perempuan Nurrohmah, Syavira; Yudiaryani, Yudiaryani; Kuardhani, Hirwan
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13408

Abstract

“Ibu dan Matematika” adalah naskah drama yang mengeksplorasi hubungan antara peran-peran perempuan, cinta, dan fenomena tanpa anak dengan pendekatan dekonstruksi. Penulis mendekonstruksi konsep-konsep tradisional mengenai peran perempuan dalam hubungan di dalam rumah tangga, menyoroti ketegangan antara harapan sosial dan realitas tubuh perempuan. Fenomena tanpa anak menjadi fokus utama untuk memahami pilihan perempuan yang memutuskan untuk tidak memiliki anak, mengeksplorasi dinamika kompleks dalam masyarakat. Matematika, sebagai elemen tambahan, diintegrasikan ke dalam naskah sebagai simbol pemahaman diri dan eksplorasi identitas perempuan. Melalui dekonstruksi, matematika menjadi bukan hanya sebagai sarana komunikasi abstrak, tetapi juga sebagai refleksi perjalanan mencari makna dalam kehidupan perempuan. Semangat pembebasan tubuh perempuan tercermin dalam karakter yang memainkan peran sebagai ibu, menggambarkan ketegangan dan konflik dalam perjuangan menuju kebebasan di dalam masyarakat yang terkadang kadang membatasi. Teks ini menawarkan pandangan kritis terhadap stereotip tradisional dan norma sosial seputar tubuh perempuan.The Creation of the Drama Script “Ibu dan Matematika” Based on the Childfree Phenomenon with the Spirit of Women's Body Liberation“Ibu dan Matematika” (Mother and Mathematics) is a drama script that explores the relationship between women's roles, love, and the childfree phenomenon through a deconstructive approach. The author deconstructs traditional concepts of women's roles within household relationships, highlighting the tension between societal expectations and the realities of women's bodies. The childfree phenomenon becomes a central focus to understanding the choices of women who decide not to have children, delving into the complex dynamics within society. As an additional element, mathematics is integrated into the script as a symbol of self-understanding and the exploration of female identity. Through deconstruction, mathematics transcends its role as an abstract communication medium and reflects the journey to find meaning in women's lives. The spirit of women's body liberation is reflected in characters who play the role of mothers, portraying tensions and conflicts in the struggle for freedom within a society that sometimes imposes limitations.
Pengaruh Penggunaan Drum Pad Kit Terhadap Teknik Pukulan Pada Drum Akustik Bagi Drumer Reguler/Wedding Gulo, Leonard Famatisaro; Akbar, Mohamad Alfiah; Satria, Eki
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13666

Abstract

 AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena dominasi drum elektrik jenis drum pad kit oleh para drumer reguler/wedding. Drum pad kit menawarkan berbagai keunggulan dibandingkan drum akustik, seperti volume yang dapat diatur, ukuran yang lebih kecil dan ringan, mudah dibawa, dan variasi suara yang dapat disesuaikan. Tetapi penggunaan drum pad kit dalam jangka panjang dapat memberikan dampak negatif bagi drumer saat beralih ke drum akustik. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan drum pad kit terhadap teknik dan kontrol dinamika seorang drumer. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara dengan para drumer dan dokumentasi dengan mengambil foto para drumer yang menggunakan drum pad kit saat mereka tampil. Penelitian menunjukkan bahwa drumer yang menggunakan drum pad kit memiliki teknik pukulan dan kontrol dinamika yang berbeda dengan drumer yang menggunakan drum akustik. Penggunaan drum pad kit yang berlebihan dapat menyebabkan teknik pukulan yang tidak benar dan kurang dinamis dan kontrol dinamika yang salah.Kata kunci: drum pad kit, drum set, teknik pukulan, kontrol dinamika The Effect Of Using Electric Drums On Technique On Acoustic Drums For Drummers Reguler/WeddingAbstractThis research is motivated by the phenomenon of the dominance of electric drum pad kits by regular and wedding drummers. Drum pad kits offer various advantages over acoustic drums, such as adjustable volume, smaller size and light weight, ease of carry, and customizable sound variations. Long-term use of drum pad kits can have a negative impact on drummers when switching to acoustic drums. The purpose of this study is to determine the effect of using a drum pad kit on the technique and control of the dynamics of a drummer. The research method used in this research is a qualitative research method with a case study approach. The techniques used are observation, interviews with drummers, and documentation by taking photos of drummers who use drum pad kits when they perform. The research shows that drummers who use drum pad kits have different hitting techniques and control dynamics than drummers who use acoustic drums. Excessive use of drum pad kits can lead to incorrect and less dynamic hitting techniques and incorrect dynamic control.Keywords: drum pad kit, , drum set, stroke techinique, dynamics control 

Page 1 of 2 | Total Record : 12