Articles
107 Documents
SUKSESI ZAMAN SINGOSARI DAN MAJAPAHIT
Hoban, Nong
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 8 No 2 (2023): Sajaratun. Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v8i2.3621
Permasalahan yang diangkat dalam karya tulis ini adalah sebagai berikut: bagaimana sukzesi zaman Singosari dan Mojapahit. Tujuan penulisan adalah untuk mengetahui sukzesi zaman Singosari dan Majapahit. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan methode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah (Historical Methods). Dalam rangka memaparkan jejak sejarah pemuda harapan bangsa Indonesia penulis melakukan empat langkah penelitian, yaitu Heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kisah Singosari diawali dengan berlangsungnya “keakuwuan” (akuwu = sering diartikan bupati). Daerah ini diperintah oleh akuwu Tunggal Ametung mangawani Ken Dedes. Pada masa pemerintahan Tunggal Ametung di Tumapel ada seorang pereman bernama Ken Angrok sehingga Angrokpun menjadi kenal akan Ken Dedes yang cantik itu. Pada suatu saat Ken Dedes turun dari kereta dilihat Ken Angrok pada pangkuan Ken Dedes yang memancarkan “cahaya bersinar”. Kata Ken Angrok kepada Lohgawe, apa arti sinar itu. Maka kata Lahgawe bahwa perempuan macam itu adalah “putri pilihan” (ardhanaricwari) dan barang siapa mengawininya akan menjadi raja besar. Mendengar jawaban itu timbullah tekadnya untuk mebunuh Ametung dan mengawini Ken Dedes (Pitano, 1965:26). Keberhasilan mendirikan Majapahit yang didahului dengan membuka hutan dan mengalakan Daha (Kediri) serta memukul mundur pasukan Tartar, membuktikan Raden Wijaya orang yang kuat. Peresmian penobatannya ditandai dengan abhisekanya yakni Kertarajasa Jayawardhana. Sejak awal ia sudah melihat kemungkinan munculnya konlik suksesi dalam kerajaannya. Maka dari itu, puteri Kertanegara berjumlah empat orang (catur Kertanegara-duhita) dinikahinya (Mulyana, 1970:253). Tampaknya garis keturunan Kertanegara masih sangat kuat. Sepeninggalan Kertarajasa, suaminya Rajapatni sudah memutuskan untuk menjauhi masalah duniawi dengan menjadi bhiksuni, maka pemerintahan Majapahit diwakilkan pada puterinya Tribhuwanatunggadewi yang kelak menjadi ibu Hayam Wuruk. Demi menyiapkan pengganti Hayam Wuruk diangkat menjadi Ratu Jiwana, menggantikan ibunya. Jadi kenaikan Hayam Wuruk diatas takhta telah dipersiapkan. Maka dengan mudah dapat dipahami sepeninggal Rajapatni tahun 1350, maka Tribhuwanatunggadewi lengser keprabon sebagai “raja pemangku” (pejabat raja) dan naiklah Hayam Waruk di atas takhta Majapahit dengan nama abhiseka “Rajasanegara” artinya Raja dari seluruh kerajaan. Tanda-tanda merosotnya kejayaan Majapahit suda terlihat. Hal yang relevan dengan masalah suksesi Nampak dalam konflik antara Kusumawardani – Wikramawardhana dan Bhre Wirabhuni.
PROSESI UPACARA ADAT NEMPUNG DI MANGGARAI DESA KAKOR KECAMATAN RUTENG KABUPATEN MANGGARAI
Asni Anggur, Maria;
Kusi, Josef;
Seto Se, Bonaventura R.
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 8 No 2 (2023): Sajaratun. Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v8i2.3622
Permasalahan yang diangkat dalam peneliti ini adalah Bagaimana proses pelaksanaan upacara Adat Nempung di Desa Kakor Kecamatan Ruteng Kabupaten Manggarai ? Apa makna dan nilai yang terkandung dalam Prosesi Upacara Adat Nempung di Desa Kakor Kecamatan Ruteng Kabupaten Manggarai?. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. yakni dengan mewawancarai beberapa narasumber khususnya di desa Kakor, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai. Pengambilan data dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis daa yang digunakan dalam penelitian ini adalah : reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kebudayaan menurut Koentjaranigrat yakni kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebelum upacara adat Nempung dilaksanakan tahapan – tahapan yang pertama tahap perkenalan, pertemuan orang tua, memberi makan para leluhur, dan meminang. Upacara Nempung merupakan puncak pengukuhan dalam upacara perkawinan adat masyarakat Manggarai juga merupakan bentuk kebudayaan yang secara khusus menyoroti salah satu peristiwa penting dalam kehidupan manusia yaitu perkawinan. Karena tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera lahir batin. Dalam upacara Nempung, terdapat gagasan tentang kesatuan antara yang jasmani dan spiritual. Mempelai dan keluarga besar mewakili aspek jasmani, sedangkan para leluhur mewakili aspek spiritual. Upacara nempung juga mempertegas pengakuan atas perkawinan sebagai institusi sosial yang bermartabat. Artinya, Ketika upacara Nempung diadakan, maka secara legal-sosial, perkawinan itu diakui. Makna dan nilai yang terkandung dalam upacara Nempung.
SISTEM PERKAWINAN TUNGKU CU DALAM TRADISI ADAT MANGGARAI DI DESA GOLO LERO KECAMATAN POCO RANAKA TIMUR KABUPATEN MANGGARAI TIMUR
Sukur, Ordilia K. Nuryati;
Rero, Dentiana;
Rema, Fransiskus Xaverius
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 8 No 2 (2023): Sajaratun. Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v8i2.3624
Sistem Perkawinan Tungku Cu Dalam Tradisi Adat Manggarai Di Desa Golo Lero Kecamatan Poco Ranaka Timur Kabupaten Manggarai Timur. Merupakan bentuk perkawinan yang tidak terlepas dari urusan kerabat, keluarga, persekutuan dan martabat atau dapat juga merupakan urusan pribadi bergantung kepada tata susunan masyarakat yang bersangkutan.Perkawinan adat dapat pula dikatakan sebagai perkawinan yang dikukuhkan melalui aturan norma, adat,sosial dan adat yang berlaku dalam suatu masyarakat tertentu. Perkawinan adat merupakan warisan para leluhur yang sesuai dengan adat istiadat dan norma dalam masyarakat untuk menyatukan kedua pribadi yaitu suami istri dalam sebuah keluarga. Perkawinan adat merupakan bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif sering disebut sebagai peneliti naturalistic karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang ilmiah (Natural setting). dengan teori Fungsional, Emile Durkheim. Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data adalah tetua adat dan tokoh masyarakat Desa Golo Lero, Manggarai Timur. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif, suatu analisis yang berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data. Berdasarkan hasil analisis menunjukan bahwa perkawinan Tungku Cu mempunyai, beberapa fungsi yang masing-masing saling berkaitan satu sama lain dan tidak terpisahkan dari adat dan tradisi budaya setempat. Perkawinan Tungku Cu dapat dilakukan dengan baik,apabila ada yang mampu mengatur jalannya prosesi perkawinan adat. Perkawinan Tungku Cu di Manggarai dapat di lakukan apabila kedua bela pihak sudah menyepakati sebuah konsep yang ada disepakati. kedua keluarga penerima dan pemberi istri sudah sepakat dan sesuai dengan konsep yang sudah disepakati bersama. Perkawinan tungku cu cukup berpengaruh terhadap kondisi ekonomi masyarakat Desa Golo Lero, Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur.
RITUAL ADAT MBAMA DI DESA WOLOSOKO KECAMATAN WOLOWARU KABUPATEN ENDE
Priatma, Alan Rusli;
Anita, Anita;
Bego, Karolus Charlaes
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 8 No 2 (2023): Sajaratun. Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v8i2.3627
Abstrak Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana Proses Berlangsungnya Ritual Adat Mbama? 2) Apa Fungsi Ritual Adat Mbama? 3) Apa Makna Dari Ritual Adat Mbama. Penelitian Ini Bertujuan Untuk :1) Untuk Mengetahui Peroses Berlangsungnya Ritual Adat Mbama ? 2) Untuk Mengetahui Fungsi Dari Ritual Adat Mbama ? 3) Untuk Mengetahui Makna Dari Ritual Adat Mbama?Penelitian ini menggunakan Metode Penelitian Deskriptif Kualitatif. Teknik Instrumen Pengumpulan Data yang digunakan yaitu 1) Observasi, Wawancara, dan Dokumentasi 2)Teknik analis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 1 ) Reduksi Data ? 2) Penyajian Data? 3) Penarikan Kesimpulan/Verifikasi. Hasil Penelitian menunjukan bahwa: Persiapan untuk menyukseskan sebuah Ritual adat mbama sangat penting karena jika dipersipakan dengan baik sesuai dengan tata cara yang diwariskan oleh leluhur, maka ritual tersebut akan berjalan dengan baik dan apa yang dimohonkan akan diterima. Pada tahap persiapan telah disebutkan bahwa proses berlangsungnya ritual adat Mbama setelah upacara Ka Are Sewa Jala baru dimulai memasak nasi untuk Mbama. Ritual Ka Are Sewa Jala itu, khusus dilakukan oleh Mosalaki bertujuan untuk memohon para leluhur agar mereka menghalangi datangnya roh-roh penggangu, sehingga kegiatan Mbama akan berlangsung aman, nyaman, dan meriah.Fungsi ritual adat Mbama merupakan pelaksanaan upacara adat berkaitan dengan pemujaan kepada para leluhur, roh atau nenek moyang untuk meminta hasil panen yang diperoleh lebih berlimpah.Fungsi upacara adat Mbama mampu membangkitkan emosi keagamaan, menciptakan rasa aman serta mempersatukan masyarakat dalam satu rumpun kekeluargaan. Makna upacara adat Mbama usaha manusia untuk dapat berhubungan dengan arwah para leluhur, juga merupakan perwujudan kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri secara aktif terhadap alam atau lingkungan sekitar.
TRANSFORMASI KEPERCAYAAN TRADISIONAL MARAPU MENJADI AGAMA ISLAM DI ARUBARA KELURAHAN TETANDARA, KECAMATAN ENDE SELATAN, KABUPATEN ENDE
Gani, Mainal;
Samingan, Samingan;
Wasa, Damianus R.S
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 8 No 2 (2023): Sajaratun. Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v8i2.3628
Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana sejarah kepercayaan tradisional Marapu di Arubara? 2) Bagaimana latarbelakang transformasi kepercayaan Marapu di Arubara? 3) Bagaimana perkembangan agama Islam di Arubara? Penelitian ini bertujuan untuk: 1) untuk mengetahui bagaimana sejarah kepercayaan tradisional Marapu 2) untuk mengetahui bagaimana latarbelakang transformasi kepercayaan Marapu di Arubara 3) bagaimana perkembangan agama Islam di Arubara. Penelitian menggunakan metode kualitatif bersifat deskriptif sedangkan pendekatan yang digunakan yaitu etnografi dan teknik penggumpulan yang digunakan ialah teknik observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, transformasi kepercayaan tradisional Marapu terjadi di Kampung Arubara dengan adanya beberapa faktor penyebab seperti faktor dakwah/ syi’ar agama, perdagang dan pernikahan. Selain dari ketiga faktor utama ada faktor pendukung yang memperkuat terjadinya transformasi kepercayaan seperti faktor sosial, ekonomi dan hukum. Transformasi kepercayaan tradisional Marapu menjadi agama Islam di Arubara Kelurahan Tetandara Kecamatan Ende Selatan Kabupaten Ende ini terjadi karena adanya konflik perebutan lahan tanah milik masyarakat Sumba. Perebutan lahan tanah inilah yang mengakibatkan terjadinya peperangan antara masyarakat Sumba dengan kepala suku. Akibat terjadinya perebutan lahan ini maka sebagian masyarakat Sumba memilih meninggalkan tempat asalnya (Sumba) dan mencari tempat baru yaitu Arubara. Perkembangan agama Islam di Arubara terjadi sejak kedatangan Abdul Gani ( seorang ulama) yang berasal dari Mbongawani. Kedatangan beliau di Arubara membawa pengaruh besar karena mengajarkan tata cara sholat dan membaca al-qur’an serta beliau juga yang pertama kali mendirikan masjid dan menjadi imam pertama.
RITUAL LODONG ANA : PENGUKUHAN MARGA ANAK SUKU LIWUN DI DESA BALUKHERING KECAMATAN LEWOLEMA KABUPATEN FLORES TIMUR
Liwun, Antonius Dugo;
Dentis, Yosef;
Sulaiman, Hasti
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 8 No 2 (2023): Sajaratun. Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v8i2.3629
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana proses ritual Lodong Ana sebagai pengukuhan marga anak suku Liwun di Desa Balukhering Kecamatan Lewolema Kabupaten Flores Timur? 2) Apa makna dari ritual Lodong Ana sebagai pengukuhan marga anak suku Liwun di Desa Balukhering Kecamatan Lewolema Kabupaten Flores Timur? 3) Apa fungsi dari ritual Lodong Ana sebagai pengukuhan marga anak suku Liwun di Desa Balukhering Kecamatan Lewolema Kabupaten Flores Timur? Tujuan dalam penelitian ini adalah Untuk mengetahui proses, makna dan fungsi dari ritual Lodong Ana sebagai pengukuhan marga anak suku Liwun di Desa balukhering Kecamatan Lewolema Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunkan metode penelitian deskriptif kualitatif.Subjek dalam penelitian ini 1 orang kepala suku dan 2 orang ibu-ibu yang pernah mengalami atau melaksakan ritual Lodong Ana sebagai informan kunci sedangkan informan pendukung terdiri dari satu orang kepala keluarga yang mewakili keluarga yang pernah melakukan ritual Lodong Ana dan dua orang para tetua dari suku Liwun. Karena mereka inilah yang berhubngan langsung dengan pelaksanaan ritual Lodong Ana. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu: 1) Reduksi Data 2) Penyajian Data (Display) 3) Penarikan Kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: ritual Lodong Ana yang dilakukan oleh suku Liwun merupaka ritual pengukuhan marga anak yang baru lahir menjadi anggota suku Liwun yang sah menurut adat. Dalam Ritual Lodong Ana memiliki tiga tahapan dalam pelakasanaanya, yaitu pra upacara, upacara inti, dan upacara penutup. Fungsi ritual Lodong Ana dalam masyarakat adat Desa Balukhering khususnya suku Liwun yaitu fungsi religi , fungsi solidaritas dan fungsi persatuan.
PENGARUH PENGGUNAAN SMARTPHONE TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI TERONG, ADONARA TIMUR KABUPATEN FLORES TIMUR
Arafat, Siti
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 8 No 2 (2023): Sajaratun. Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v8i2.3764
Penggunaan smartphone dapat merugikan terhadap peningkatan mutu siswa terutama disekolah dasar, hal tersebut dipengaruhi penggunaan smartphone yang berlebihan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh smartphone terhadap motivasi belajar siswa di Sekolah Dasar Negeri Terong, Adonara Timur Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini dilakukan di SDN Terong, Adonara Timur Kabupayen Flores Timur. Sampel yang digunakan adalah 84 siswa. Penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode survei. Penelitian ini memiliki tahapan: pengamatan lokasi penelitian, penyusunan kuesioner, distribusi kuesioner, pengujian validitas, pengumpulan data, pengolahanhasil penelitian, analisis hasil penelitian, dan diskusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh smartphone terhadap motivasi belajar siswa di SD meskipun berada dalam kategori rendah. Saran sebagai rekomendasi: siswa tidak menggunakan smartphone yang berlebihan baik di sekolah maupun di rumah. Orang tua dan guru selalu mengawasi anak-anak terutama menggunakan smartphone setiap hari karena efek smartphone pada motivasi belajar siswa sangat rendah.
BIMA: SAMARAN SOEKARNO UNTUK MENGOBARKAN SEMANGAT PERJUANGAN RAKYAT HINDIA BELANDA
Samingan, Samingan
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 8 No 2 (2023): Sajaratun. Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v8i2.3770
Dalam penelitian ini membahas tentang bagaimana Soekarno menggunakan nama samaran Bima untuk mengobarkan semangat perjungan rakyat Hindia Belanda. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang bagaimana Soekarno menggunakan nama samaran Bima untuk mengobarkan semangat perjungan rakyat Hindia Belanda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode sejarah karena penelitian berbasis sejarah. Dalam penelitian sejarah ada beberapa beberapa yang harus dilalui di antaranya, yaitu heuristik, kritik sumber, interprestasi dan historiografi atau penulisan sejarah. Adapun hasil dalam penelitian ini yaitu gagasan besar politik Soekarno tentang nasionalisme dituangkan dalam 500 artikel yang ditulis dan diterbitkan oleh majalah Oetoesan Hindia dengan nama samaran Bima untuk mengobarkan semangat pemberontakan pada masyarakat luas. Majalah Oetoesan Hindia diterbitkan Cokroaminoto sebagai alat propoganda partai Serikat Islam. Soekarno menggunakan nama samaran Bima agar bisa menyampaikan gagasan gagasan revolusinya dengan nyaman tanpa harus tertangkap oleh pemerintah Hindia Belanda.
PENGARUH KELOMPOK TEMAN SEBAYA TERHADAP PERILAKU BULLYING PESERTA DIDIK DI SDK ENDE 8
Wunu, Lili Suryani Halima;
Ansel, Maria Finsensia;
Mbhabho, Finsensius
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 8 No 2 (2023): Sajaratun. Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v8i2.3771
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kelompok teman sebaya terhadap perilaku bullying peserta didik di SDK Ende 8. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu apakah pengaruh kelompok teman sebaya terhadap perilaku bullying di SDK Ende 8.jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelas.terknik pengumpulan data yang digunakan adalah angkaet dan dokumentasi jumlah sampel dalam penelitian ini dalah berjumlah 54 responden yang berisi 30 pernyataan dengan 4 pilihan jawaban dan skor yang diberikan antara 1-4. responden dalam penelitian ini adalah peserta didik SDK Ende 8. Hasil penelitian menunjukan bahwa besarnya nilai korelasi/hubungan (R) sebesar 0,501 dan persentase pengaruh variable bebas terhadap variable terikat yang disebut koefisien determinasi yang merupakan hasil dari pengkuadratan R. dari hasil olahan data diperoleh koefisien determinasi ) sebesar 25.1%. Maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh variable bebas (X) terhadap variable terikat (Y) sebesar 25,1% sedangkan sisanya 74,9% dipengaruhi oleh variable lain.
SEWU NGEWU SEBAGAI RITUAL TOLAK BALA PADA MASYARAKAT DI DESA RAKATEDA I KECAMATAN GOLEWA KABUPATEN NGADA
Djandon, Maria Gorety
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 8 No 2 (2023): Sajaratun. Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v8i2.3773
Sewu ngewu merupakan salah satu upacara adat untuk menolak bala yang berhubungan dengan kebakaran kampung atau tempat tinggal masyarakat. Upacara ini masih tetap dilakukan oleh masyarakat apabila ada kebakaran dalam kampung. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian adalah 1) bagaimana proses pelaksanaan upacara sewu ngewu dijalankan, dan 2) makna apa yang terkandung dalam upacara sewu ngewu. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui proses pelaksanaan upacara sewu ngewu dan 2) untuk mengetahui makna yang terkandung dalam upacara sewu ngewu. Peneliti menggunakan teori ritus yang digagaskan oleh Van Gennep yang mengungkapkan bahwa ritual adalah bagian dari tingkah laku religius yang masih aktif dan bisa diamati, misalnya pemujaan, nyanyian, doa-doa dan tarian. Ritual memiliki sifat sakral, seperti penggunaan benda-benda sakral dalam ritual yang tidak tergantung pada ciri-ciri hakikat dari benda tersebut. Tetapi tergantung kepada sikap mental dan emosional kelompok masyarakat pemeluk kepercayaan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menujukkan bahwa upacara sewu ngewu masih tetap dilakukan oleh masyarakat di desa Rakateda I apabila terjadi kebakaran di desa Rakateda I. Bagi masyarakat di desa Rakateda I, ritual sewu ngewu memiliki makna religius, makna persaudaran dan makna keharmonisan.