cover
Contact Name
Warsini
Contact Email
lppmpankos@gmail.com
Phone
+62816418071
Journal Mail Official
lppmpankos@gmail.com
Editorial Address
https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/akj/about
Location
Kab. sukoharjo,
Jawa tengah
INDONESIA
ABDIMAS KOSALA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
ISSN : 28091248     EISSN : 29647509     DOI : https://doi.org/10.37831/akj.v3i1
Core Subject : Health,
ABDIMAS KOSALA is a community service journal, a national periodical that contains articles related to community service activities. The focus of this journal is the dissemination of information related to community service activities in the health sector. The scope of this journal is findings, innovations, applied science and scientific technology in the health sector. Through this publication, it is hoped that dissemination related to findings, innovations and the application of scientific science and technology in the health sector can be carried out in solving health problems in the community as part of active participation in improving public health status. ABDIMAS KOSALA is published twice a year (January and July) by SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PANTI KOSALA. We receive articles in Indonesian from all practitioners and health observers regarding findings, innovations and community service activities carried out in order to contribute to the progress of the nation. All submitted articles will undergo a review process according to standard criteria. This journal was first published in January 2022 with the publication of Vol 1 No 1 (2022) as well as a prerequisite for submitting an e-ISSN.
Articles 59 Documents
EDUKASI PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT SERTA CEK KESEHATAN Aqsyari, Rizki; Dwi Kurniawan, Hendra; Setia Ismandani, Risa; Leemanza, Yulia; Suryo Handoyo, Rudy
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4 No 2 (2025): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v4i2.414

Abstract

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan aspek penting dalam upaya pencegahan penyakit dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Kasus penyakit tidak menular di Indonesia terus meningkat, dengan hipertensi mencapai 330 juta kasus dan kanker mencapai 300 juta kasus. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran warga Desa Tempel Sukoharjo mengenai PHBS dan pemeriksaan kesehatan. Metode yang digunakan adalah ceramah dan tanya jawab yang dilaksanakan pada 03 Mei 2025 dan diikuti oleh 38 peserta. Materi edukasi mencakup indikator PHBS seperti cuci tangan, penggunaan jamban sehat, air bersih, aktivitas fisik, serta edukasi terkait pemeriksaan tekanan darah, gula darah. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta terhadap PHBS sebesar 70,10 % sebelum diberikan edukasi dan 80,20 % setelah diberikan edukasi mengalami peningkatan pengetahuan mengenai PHBS dan cek kesehatan, serta munculnya kesadaran akan pentingnya deteksi dini penyakit. Faktor pendorong keberhasilan kegiatan ini adalah relevansi topik dengan kondisi kesehatan masyarakat dan tingginya antusiasme warga. Masih ditemukan tantangan seperti rendahnya praktik PHBS pada indikator merokok. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan edukatif dan interaktif dapat meningkatkan literasi kesehatan masyarakat serta mendorong perubahan perilaku yang lebih sehat dan berkelanjutan. Kata kunci: cek kesehatan; edukasi kesehatan; perilaku sehat; PHBS Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) is a crucial aspect in disease prevention and improving the community's quality of life. Cases of non-communicable diseases in Indonesia continue to rise, with hypertension reaching 330 million cases and cancer reaching 300 million cases. This community service activity aims to increase the knowledge and awareness of residents of Tempel Village, Sukoharjo, regarding PHBS and health checks. The method used was a lecture and question-and-answer session, held on May 3, 2025, and attended by 38 participants. The educational material covered PHBS indicators such as handwashing, use of healthy latrines, clean water, physical activity, and education related to blood pressure and blood sugar checks. The results showed an increase in participants' knowledge of PHBS by 70.10% before the education session and 80.20% after the education session. The participants experienced an increase in knowledge about PHBS and health checks, as well as an increased awareness of the importance of early disease detection. The driving factors for the success of this activity were the relevance of the topic to public health conditions and the high enthusiasm of the residents. Challenges remained, such as low PHBS practice in the smoking indicator. This activity demonstrated that an educational and interactive approach can improve public health literacy and encourage healthier and more sustainable behavior changes. Keywords: health check; health education; healthy behavior; PHBS
EFFORTS TO INCREASE MOTIVATION TO SCREENING PROSPECTIVE BRIDES THROUGH EMPOWERING TEENAGE POSYANDU CADRES Suindri, Ni Nyoman; Ni Gusti Kompiang Seriasih; Listina Ade Widya Ningtyas; Ni Made Widhi Gunapria Darmapatni; Ni Wayan Suarniti
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4 No 2 (2025): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v4i2.417

Abstract

Calon pengantin yang akan menikah adalah cikal bakal terbentuknya sebuah keluarga, sehingga sebelum menikah calon pengantin perlu mempersiapkan kondisi kesehatannya agar dapat menjalankan kehamilan sehat. Tujuan pengabdian Masyarakat ini adalah untuk mengetahui peningkatan motivasi melakukan skrining calon pengantin melalui pemberdayaan kader posyandu remaja. Kegiatan pengabdian dilaksanakan di Desa Peguyangan Kaja Wilayah Kerja Puskesmas III Dinas Kesehatan Kecamatan Denpasar Utara. Metode yang digunakan adalah edukasi dengan media Flipbook dan pendampingan. Sasaran adalah Kader posyandu remaja dan 50 orang remaja dengan usia minimal 19 tahun. Motivasi diukur menggunakan kuoesioner sebelum dan setelah edukasi. Hasil menunujukkan motivasi remaja peserta melakukan skrining calon pengantin sebelum edukasi terbanyak dalam kategori tinggi (44%) dan motivasi setelah di berikan edukasi dengan media flipbook sebagian besar motivasi sangat tinggi (72%). Kegiatan edukasi melalui pemberdayaan kader dengan media flipbook, efektif meningkatkan motivasi remaja melakukan skrining calon pengantin. Kader Posyandu remaja dan petugas Puskesmas agar melanjutkan kegiatan untuk memberikan edukasi kesehatan reproduksi calon pengantin kepada remaja dan memotivasi untuk melakukan skrining calon pengantin. Kata kunci: flipbook; kader; motivasi; skrining calon pengantin Prospective brides and grooms who are about to get married are the seeds of a family, so before getting married, they need to prepare their health conditions to be able to have a healthy pregnancy. The purpose of this community service is to determine the increase in motivation to screen prospective brides and grooms through the empowerment of adolescent posyandu cadres. The service activity was carried out in Peguyangan Kaja Village, the Working Area of Puskesmas III, North Denpasar District Health Office. The method used was education with Flipbook media and mentoring. The target was 5 adolescent posyandu cadres and 50 adolescents with a minimum age of 19 years. Motivation was measured using a questionnaire before and after education Motivation was measured using a questionnaire before and after the education. The results showed an increase in adolescent motivation in screening prospective brides and grooms. Motivation before the education was mostly in the high category (44%), and motivation after the education using flipbook media was mostly in the very high category (72%). Educational activities through empowering cadres with flipbook media effectively increase the motivation of teenagers to screen prospective brides and grooms Adolescent Posyandu cadres and Puskesmas officers should continue activities to provide reproductive health education to prospective brides and motivate them to screen prospective brides. Keywords: cadre: flipbook: motivation; screening of prospective brides and grooms
A PENDAMPINGAN KESEHATAN PADA BALITA STUNTING DAN EDUKASI TENTANG PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN Yunita Miftahul Masita; Dyah Ekowati; Sri Kurniawati, Rita; Latifah Hanum; Melita Jayanti
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i1.436

Abstract

Stunting adalah kondisi terhambatnya pertumbuhan pada anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan (terhitung sejak kehamilan hingga usia dua tahun). Prevalensi angka keadian stunting di Indonesia tercatat 19,8% pada 2024. Anak yang mengalami stunting memiliki tinggi badan yang lebih rendah dibandingkan dengan standar usianya, yang dapat mempengaruhi perkembangan fisik dan kognitif, serta meningkatkan risiko masalah kesehatan jangka panjang. Penyebab utama stunting meliputi kurangnya asupan gizi yang memadai, sanitasi yang buruk, infeksi berulang, dan faktor sosial ekonomi yang rendah. Pengabdian ini bertujuan Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pola makan dan pola asuh yang sehat dan  pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita secara berkala. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat  adalah ceramah  dan  tanya  jawab.  Metode  ceramah  bertujuan  untuk memberikan  pengetahuan tentang  pentingnya kesehatan balita stunting. Metode tanya jawab bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta edukasi jika masih terdapat hal-hal yang belum dimengerti tentang materi yang disampaikan. Hasil dari pengabdian ini meningkatkan pengetahun masyarakat tertutama orang tua tentang pemenuhan gizi pada balita stunting. Data dari wilayah Kecamatan Kalisat desa Glagah weroh tahun  2025 sebanyak 122 balita, 11 diantaranya mengalami Stunting Setelah dilakukan penyuluhan dan pendampingan pemberian makanan tambahan pada balita didapatkan jumlah balita dengan berat badan naik  9 balita,  tetap 3 balita.. Hasil ini menunjukkan bahwa intervensi melalui pendekatan edukatif dan pemberian makanan tambahan secara langsung memberikan dampak positif terhadap status gizi baik pada balita. Pendekatan ini juga berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang untuk mencegah stunting. Kata kunci: kekurangan gizi, masalah gizi anak, pendampingan gizi, pertumbuhan anak, stunting Stunting is a condition of impaired growth in children caused by chronic malnutrition, particularly during the first 1,000 days of life (from pregnancy until the age of two years). The prevalence of stunting in Indonesia was recorded at 19.8% in 2024. Children who experience stunting have a height lower than the standard for their age, which can affect physical and cognitive development and increase the risk of long-term health problems. The main causes of stunting include inadequate nutritional intake, poor sanitation, recurrent infections, and low socioeconomic factors. This community service activity aims to increase public knowledge about healthy dietary patterns, proper parenting practices, and regular monitoring of toddlers’ growth and development. The methods used in this community service activity were lectures and question-and-answer sessions. The lecture method aimed to provide knowledge about the importance of health in stunted toddlers, while the question-and-answer method provided participants with the opportunity to clarify any aspects of the material that were not fully understood. The results of this community service activity showed an increase in community knowledge, especially among parents, regarding nutritional fulfillment for stunted toddlers. Data from the Kalisat District, Glagah Weroh Village, in 2025 showed that out of 122 toddlers, 11 experienced stunting. After counseling and assistance with the provision of supplementary food, it was found that 9 toddlers experienced weight gain, while 3 toddlers showed no change. These results indicate that interventions through educational approaches and direct supplementary feeding have a positive impact on the nutritional status of toddlers. This approach also successfully increased community awareness of the importance of balanced nutrition in preventing stunting. Keywords: child growth, child nutrition, nutritional assistance, problems malnutrition, stunting
A Promosi Skrining Remaja, Pranikah dan Prakonsepsi di Desa Kelandis dan Desa Tegal Harum, Kota Denpasar Rahyani, Ni Komang Yuni; Ni Wayan Ariyani; Ni Nyoman Suindri; Gusti Ayu Tirtawati; Asep Arifin Senjaya; Regina Tedjasulaksana; Made Dwi Mahayati; Gusti Kompiang Sriasih; Desak Ketut Ayu Ardani
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i1.439

Abstract

Program skrining remaja, pranikah, dan prakonsepsi merupakan program prioritas di fasilitas pelayanan kesehatan primer, karena dampaknya yang signifikan dalam mempersiapkan generasi yang sehat dan terencana. Layanan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Indonesia, hanya 31% yang aktif. Pengetahuan kelompok sasaran tentang upaya dan program skrining pranikah dan prakonsepsi masih terbatas. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan edukasi kepada remaja dan wanita usia subur (PUS) tentang skrining remaja, upaya pranikah, dan prakonsepsi di Posyandu di Banjar Kelandis dan Kelurahan Tegal Harum, Kota Denpasar. Kelompok sasaran adalah remaja dan wanita usia subur yang hadir selama kegiatan Posyandu dan bersedia mengikuti edukasi yang diberikan oleh petugas layanan masyarakat dan pemegang program remaja di puskesmas. Jumlah sasaran yang dilibatkan adalah 35 remaja berusia 10-22 tahun, dan 13 pasangan usia subur. Kegiatan edukasi berlangsung selama 30 menit dan dilanjutkan dengan sesi diskusi/tanya jawab dan posttest menggunakan kuesioner sebanyak 20 pertanyaan. Kegiatan edukasi berlangsung dua kali, pada tanggal 24 Agustus dan 5 September 2025. Edukasi menggunakan media berupa video, flipchart dan leaflet yang dibagikan saat kegiatan posyandu. Edukasi diberikan oleh mahasiswa kebidanan dengan menggunakan metode ceramah, diskusi dan pemeriksaan umum berupa pengukuran tinggi badan, berat badan dan tekanan darah (TD). Rata-rata sasaran tinggi badan adalah 156,7 cm, berat badan 50,04 kg, dan usia 18 tahun. Kegiatan edukasi bersifat aktif dan interaktif, dengan skor pengetahuan rata-rata = 14,75 dengan skor minimal = 6 dan skor maksimal = 20. Rekomendasi yang ditawarkan adalah melakukan kegiatan secara berkesinambungan dan kerjasama antar tim, kegiatan di dalam gedung puskesmas dan tatap muka. Kata kunci: promosi, remaja, pranikah, prakonsepsi, skrining Adolescent, premarital, and preconception screening are priority programs in primary health care facilities, due to their significant impact on preparing a healthy and planned generation.Of the Youth Care Health Services (PKPR) in Indonesia, only 31% are active. Target group knowledge about premarital and preconception screening efforts and programs is still limited. The purpose of the community service is to provide education to adolescents and women of childbearing age (PUS) about adolescent screening, premarital and preconception efforts at the Integrated Integrated Health Post (Posyandu) in Banjar Kelandis and Tegal Harum Village, Denpasar City. The target groups are adolescents and women of childbearing age who are present during the Integrated Health Post (Posyandu) activities and are willing to participate in the education provided by the community service providers and youth program holders at the community health center. The number of targets involved is 35 adolescents aged 10-22 years old, and 13 couples of childbearing age. The educational activity lasted for 30 minutes and was continued with a discussion/question and answer session and a posttest using a 20-question questionnaire. The educational activity took place twice, on August 24 and September 5, 2025. Education used media in the form of videos, flipcharts and leaflets distributed during the integrated health post activities. Education was provided by midwifery students using lecture methods, discussions and general examinations in the form of measuring height, weight and blood pressure (BP). The average target of height was 156.7 cm, weight was 50.04 kg, and age was 18 years. The educational activity was active and interactive, the average knowledge score = 14.75 with a minimum score = 6 and a maximum score = 20. The recommendations offered are to carry out activities continuously and in collaboration between teams, activities in the health center building and face to face. Keywords: adolescent, preconception, premarital, promotion, screening
Skrining Gout Arthritis pada Lansia Melalui Pemeriksaan Kadar Asam Urat di Gereja Kristen Jawa Jebres Ditya Yankusuma Setiani; Aminingsih, Sri; Indriati, Ratna
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i1.446

Abstract

Gout arthritis merupakan salah satu penyakit sendi yang paling umum pada lansia. Penyakit asam urat (gout arthritis) adalah keadaan meningkatnya kadar asam urat dalam darah (> 7,5 mg/dl). Kondisi tersebut merupakan akibat dari gangguan metabolisme purin. World Health Organization (WHO) memperkirakan pada 840 dari 100.000 orang mengalami peningkatan kadar asam urat dalam darah. Data Riset Kesehatan Dasar  melaporkan bahwa prevalensi asam urat sekitar 11,9%. Di Propinsi Jawa Tengah sendiri prevalensi penyakit asam urat mencapai 2,6-47,2%. Gout Arthritis dapat menyebabkan penderita mengalami nyeri hebat dan keterbatasan aktivitas fisik sehingga dapat berdampak pada kualitas hidup penderita. Survey awal yang dilakukan pada Jemaat Gereja Kristen Jawa Jebres didapatkan 15 lansia sering mengeluhkan daerah lutut sakit, daerah persendian sering merasa kaku-kaku sehingga untuk berjalan sulit. Kegiatan pengabdian masyarakat terlaksana pada 19 Oktober 2025 di Gereja Kristen Jawa Jebres, Jawa Tengah. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk melakukan skrining dini Gout Arthritis pada lansia melalui pemeriksaan kadar asam urat darah sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan komplikasi. Metode yang digunakan adalah skrining kesehatan terhadap kadar asam urat lansia. Kegiatan pengabdian dilakukan dengan pemeriksaan terhadap kadar asam urat lansia secara langsung sejumlah 40 orang. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis untuk disimpulkan. Hasil kegiatan diperoleh bahwa  kadar asam urat dari 40 lansia menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki kadar asam urat yang tinggi, yaitu sebanyak 29 orang (72,5%) dan mayoritas pada jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 22 dari 24 perempuan (91,7%) memiliki kadar asam urat tinggi. Berdasarkan hasil skrining maka dapat disimpulkan bahwa kejadian hiperurisemia pada lansia cukup tinggi, terutama pada kelompok Perempuan, sehingga diperlukan upaya skrining rutin dan edukasi kesehatan sebagai langkap pencegahan Gout Arthritis. Kata kunci: gout arthritis, hiperurisemia, kadar asam urat, lansia, skrining Gout arthritis is one of the most common joint diseases among the elderly. Gout arthritis is a condition characterized by elevated uric acid levels in the blood (>7.5 mg/dL), which results from disorders of purine metabolism. The World Health Organization (WHO) estimates that 840 out of 100,000 people experience elevated blood uric acid levels. Data from the Basic Health Research (Riset Kesehatan Dasar) report that the prevalence of gout is approximately 11.9%. In Central Java Province, the prevalence of gout ranges from 2.6% to 47.2%. Gout arthritis can cause severe pain and limitations in physical activity, which may negatively affect patients’ quality of life. A preliminary survey conducted among the congregation of Gereja Kristen Jawa Jebres found that 15 elderly individuals frequently complained of knee pain and joint stiffness, resulting in difficulty walking. This community service activity was conducted on October 19, 2025, at Gereja Kristen Jawa Jebres, Central Java. The purpose of this community service activity was to conduct early screening for gout arthritis among the elderly through blood uric acid level examinations as an effort toward early detection and prevention of complications.The method used was health screening of uric acid levels among the elderly. The community service activity involved direct examination of uric acid levels in 40 elderly participants. The collected data were then analyzed and summarized. The results showed that the majority of participants had elevated uric acid levels, with 29 individuals (72.5%) classified as having high levels. Furthermore, most participants with elevated uric acid levels were female, with 22 out of 24 women (91.7%) exhibiting hyperuricemia. Based on the screening results, it can be concluded that the incidence of hyperuricemia among the elderly is relatively high, particularly among women. Therefore, routine screening and health education are necessary as preventive measures for gout arthritis. Keywords: gout arthritis, uric acid level, elderly, hyperuricemia, screening
EDUKASI DAN PENDAMPINGAN PENGGUNAAN HYPERTENSION SMART CARD DALAM MENDUKUNG SELF-MANAGEMENT PASIEN HIPERTENSI I Putu Juni Andika; Sri Aminingsih; Lilik Sriwiyati; Iswati; Firnanda Erindia; Novita Fajriyah
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i2.491

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama penyakit kardiovaskular, stroke, dan gagal ginjal. Rendah kemampuan pasien dalam melakukan self-managemant menjadi salah satu faktor yang menghambat keberhasilan pengendalian tekanan darah. Kegiatan pengabdian Masyarakat ini bertujuan meningkatkan kemampuan self-managemant pasien hipertensi melalui edukasi dan pendampingan penggunaan Hypertension Smart Card. Kegiatan dilaksanakan pada bulan juni 2026 di Desa Watu Bonang, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, dengan melibatkan 30 pasien hipertensi berusisa ≥50 tahun. Metode yang digunakan meliputi edukasi interaktif, diskusi, demontrasi, praktik penggunaan Hypertension Smart Card, serta pedampingan dalam pemantuan tekanan darah. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah kegiatan observasi kemampuan peserta dalam menggunakan media. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa mayoritas peserta berjenis kelamin Perempuan (70,0%) dengan rata-rata usia 64,00 ± 7,98 tahun. Setelah implementasi program, rerata tekanan darah sistolik menurun dari 157,50 ± 12,74 mmHg menjadi 133,07 ± 7,42 mmHg, sedangkan tekanan darah diastolik menurun dari 88,77 ± 7,56 mmHg menjadi 82,13 ± 3,53 mmHg. Peserta juga mampu menggunakan Hypertension Smart Card sebagai media pencatatan tekanan darah dan pengingat aktivitas self-management. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi dan pendampingan menggunakan Hypertension Smart Card berpotensi meningkatkan kemampuan self-management serta mendukung pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi di masyarakat. Kata kunci: edukasi; hipertensi; pendidikan keperawatan; smart card; self-manageman Hypertension is one of the leading non-communicable diseases contributing to cardiovascular disease, stroke, and chronic kidney disease. Limited patient self-management remains a major challenge in achieving optimal blood pressure control. This community service program aimed to improve self-management among patients with hypertension through education and assistance in using the Hypertension Smart Card. The program was conducted in June 2026 in Watu Bonang Village, Tawangsari District, Sukoharjo Regency, Indonesia, involving 30 hypertensive patients aged 50 years and above. The intervention included interactive health education, group discussions, demonstrations, hands-on practice using the Hypertension Smart Card, and continuous assistance in blood pressure monitoring. Program evaluation was carried out by measuring blood pressure before and after the intervention and observing participants' ability to use the card. The participants were predominantly female (70.0%) with a mean age of 64.00 ± 7.98 years. Following the intervention, the mean systolic blood pressure decreased from 157.50 ± 12.74 mmHg to 133.07 ± 7.42 mmHg, while the mean diastolic blood pressure decreased from 88.77 ± 7.56 mmHg to 82.13 ± 3.53 mmHg. Participants were also able to use the Hypertension Smart Card effectively as a self-monitoring and educational tool. These findings indicate that education and assistance using the Hypertension Smart Card can enhance self-management practices and support better blood pressure control among patients with hypertension. Keywords: education; hypertension; nursing education; self-management; smart card
EDUKASI TENTANG PENYAKIT SALURAN PERNAPASAN PADA KOMUNITAS PENGRAJIN SHUTTLECOCK DALAM UPAYA PENDAMPINGAN DAN PEMBINAAN POS UKK DI RT 01 RW 09 TIPES KOTA SURAKARTA Budi Kristanto; Warsini Warsini; Diyono Diyono; Sri Aminingsih; Tunjung Sri Yulianti
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i2.493

Abstract

Gangguan saluran pernapasan merupakan salah satu masalah kesehatan yang berisiko dialami oleh pekerja sektor informal akibat paparan debu, bahan kimia, dan lingkungan kerja yang kurang memadai. Komunitas pengrajin shuttlecock merupakan kelompok pekerja yang berpotensi mengalami gangguan tersebut karena proses produksi menghasilkan debu bulu, serpihan bahan, serta penggunaan lem perekat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pengrajin shuttlecock mengenai pencegahan gangguan saluran pernapasan melalui edukasi kesehatan dan pendampingan Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK). Kegiatan dilaksanakan di RT 01 RW 09 Kelurahan Tipes, Kota Surakarta dengan metode survei pendahuluan, penyuluhan interaktif, diskusi, dan pendampingan. Hasil survei awal menunjukkan bahwa 80% peserta telah bekerja lebih dari enam tahun, 60% bekerja lebih dari delapan jam per hari, 60% terpapar debu bulu selama proses produksi, dan 20% telah mengalami gejala gangguan saluran pernapasan bawah. Edukasi yang diberikan mencakup pengenalan sistem pernapasan, faktor risiko di lingkungan kerja, dampak paparan debu terhadap paru-paru, tanda dan gejala gangguan saluran pernapasan, serta upaya pencegahan melalui penggunaan alat pelindung diri, perbaikan ventilasi, dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan, aktif berdiskusi, serta memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya pencegahan gangguan saluran pernapasan di tempat kerja. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan perilaku pencegahan penyakit akibat kerja sekaligus memperkuat peran Pos UKK sebagai wadah pemberdayaan kesehatan kerja bagi pekerja sektor informal. Kata kunci: edukasi kesehatan; gangguan saluran pernafasan; kesehatan kerja; pengrajin shuttlecock; pos ukk Respiratory disorders are among the occupational health problems commonly experienced by informal sector workers due to prolonged exposure to dust, chemical substances, and inadequate working environments. Shuttlecock craftsmen are particularly vulnerable to these disorders because the production process generates feather dust, material particles, and adhesive fumes. This community service program aimed to improve the knowledge and awareness of shuttlecock craftsmen regarding the prevention of respiratory diseases through health education and assistance in strengthening the Occupational Health Post. The program was conducted at RT 01 RW 09, Tipes Village, Surakarta City, using a preliminary survey, interactive health education sessions, group discussions, and community assistance. The preliminary survey revealed that 80% of participants had been working for more than six years, 60% worked more than eight hours per day, 60% were exposed to feather dust during the production process, and 20% had experienced symptoms of lower respiratory tract disorders. The educational program covered the anatomy and function of the respiratory system, occupational risk factors, the effects of dust exposure on lung health, signs and symptoms of respiratory disorders, and preventive measures, including the proper use of personal protective equipment, improvement of workplace ventilation, and the adoption of clean and healthy lifestyle practices. Participants demonstrated high enthusiasm throughout the activity, actively engaged in discussions, and showed improved understanding of the importance of preventing occupational respiratory diseases. This community service program is expected to promote preventive health behaviors and strengthen the role of the Occupational Health Post (Pos UKK) as a community-based occupational health empowerment program for informal sector workers. Keywords: health education; occupational health; Occupational Health Post (Pos UKK); respiratory disorders; shuttlecock craftsmen
Implementasi Terapi Stimulasi Kognitif Sebagai Upaya Optimalisasi Fungsi Kognitif Lansia Di Panti Sasana Tresna Wreda Wonogiri Hendra Dwi Kurniawan; Rizki Aqsyari; Safaruddin Safaruddin; Rudi Suryo Handoyo
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i2.494

Abstract

Penurunan fungsi kognitif merupakan salah satu permasalahan utama pada lansia yang dapat menurunkan kemandirian, interaksi sosial, dan kualitas hidup, sementara implementasi Cognitive Stimulation Therapy (CST) di panti wreda masih terbatas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengoptimalkan fungsi kognitif lansia melalui implementasi CST di Panti Sasana Tresna Wreda Wonogiri. Metode yang digunakan meliputi edukasi kesehatan, demonstrasi dan praktik CST, pendampingan, serta evaluasi fungsi kognitif menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE) pada 24 lansia. Hasil kegiatan menunjukkan seluruh peserta mengikuti program dengan antusias dan terjadi peningkatan rerata skor MMSE dari 22,92 sebelum intervensi menjadi 24,13 setelah intervensi, dengan peningkatan rerata sebesar 1,21 poin. Selain itu, peserta menunjukkan peningkatan kemampuan berkonsentrasi, daya ingat, komunikasi, kepercayaan diri, dan interaksi sosial selama mengikuti aktivitas kelompok. Program juga meningkatkan kapasitas petugas panti dalam melaksanakan CST secara mandiri sehingga mendukung keberlanjutan implementasi sebagai bagian dari pelayanan rutin. Disimpulkan bahwa implementasi CST merupakan intervensi promotif dan preventif yang efektif untuk mengoptimalkan fungsi kognitif serta mendukung peningkatan kualitas hidup lansia di panti wreda. Kata kunci: Cognitive Stimulation Therapy; fungsi kognitif; lansia; MMSE Cognitive decline is a common health problem among older adults that can reduce independence, social interaction, and quality of life, while the implementation of Cognitive Stimulation Therapy (CST) in residential care facilities remains limited. This community service program aimed to optimize cognitive function among older adults through the implementation of CST at Sasana Tresna Wreda Nursing Home, Wonogiri. The program employed health education, CST demonstration and practice, mentoring, and cognitive assessment using the Mini-Mental State Examination (MMSE) involving 24 older adults. The results showed that all participants actively engaged in the program, with the mean MMSE score increasing from 22.92 before the intervention to 24.13 after the intervention, representing an average improvement of 1.21 points. Participants also demonstrated enhanced concentration, memory, communication, self-confidence, and social interaction during group activities. In addition, the program strengthened the capacity of nursing home staff to independently implement CST, supporting the sustainability of the intervention as part of routine elderly care. In conclusion, CST is an effective health promotion and preventive intervention for optimizing cognitive function and improving the quality of life of older adults living in residential care facilities. Keywords: Cognitive Stimulation Therapy; cognitive function; older adults; Mini-Mental State Examination
EDUKASI PEMERIKSAAN ANTROPOMETRI, PEMERIKSAAN TANDA-TANDA VITAL DAN PRAKTIK 5 MEJA POSYANDU BAGI SISWA SMK GIRI HANDAYANI Ditya Yankusuma Setiani; Ratna Indriati; Warsini Warsini; Sri Aminingsih
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i2.497

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, dengan prevalensi nasional Indonesia sebesar 19,8% pada tahun 2024. Penguasaan keterampilan pemeriksaan antropometri, tanda-tanda vital, dan sistem 5 meja Posyandu merupakan kompetensi esensial bagi siswa SMK jurusan kesehatan sebagai bekal deteksi dini masalah gizi di masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa SMK Giri Handayani dalam pemeriksaan antropometri, tanda-tanda vital, dan pelaksanaan sistem 5 meja Posyandu. Metode yang digunakan meliputi ceramah, demonstrasi, dan praktik langsung, dengan evaluasi menggunakan pre-test dan post-test pada 67 peserta. Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan dari 67,16 (SD 9,82) menjadi 85,82 (SD 8,73), dengan hasil uji paired sample t-test yang bermakna secara statistik (t=18,75; p<0,001). Proporsi peserta berkategori pengetahuan baik meningkat dari 20,9% menjadi 89,6%, dan tidak ditemukan lagi peserta berkategori kurang. Peserta juga mampu mempraktikkan pengukuran antropometri, tanda vital, dan alur pelayanan 5 meja Posyandu dengan baik. Disimpulkan bahwa edukasi disertai demonstrasi dan praktik langsung efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dasar kesehatan masyarakat pada siswa SMK, sekaligus memperkuat bekal kompetensi mereka sebagai calon tenaga kesehatan maupun kader kesehatan remaja. Kata kunci: antropometri; lima meja Posyandu; pengetahuan; siswa; tanda-tanda vital Stunting remains a significant public health issue, with Indonesia's national prevalence reaching 19.8% in 2024. Mastery of anthropometric measurement, vital sign assessment, and the Posyandu five-table system constitutes an essential competency for vocational high school (SMK) health students in supporting early detection of nutritional problems in the community. This community service activity aimed to improve the knowledge and skills of SMK Giri Handayani students in anthropometric measurement, vital signs examination, and implementation of the Posyandu five-table system. The methods applied included lectures, demonstrations, and hands-on practice, evaluated through pre-test and post-test administered to 67 participants. Results showed an increase in mean knowledge scores from 67.16 (SD 9.82) to 85.82 (SD 8.73), with a statistically significant paired sample t-test result (t=18.75; p<0.001). The proportion of participants in the good knowledge category rose from 20.9% to 89.6%, and no participants remained in the poor category after the intervention. Participants were also able to competently practice anthropometric and vital sign measurements as well as the Posyandu five-table service flow. It is concluded that education combined with demonstration and direct practice effectively improved public health knowledge and basic skills among vocational high school students, while strengthening their competency as prospective health workers and adolescent health cadres. Keywords: anthropometry; five Posyandu service tables; knowledge; students; vital signs