cover
Contact Name
MAYA KHAIRANI
Contact Email
jimpsi.fk@usk.ac.id
Phone
+6285261502720
Journal Mail Official
jimpsi.fk@usk.ac.id
Editorial Address
Jl. Tgk. Tanoh Abee, Darussalam Banda Aceh, Banda Aceh, Provinsi Aceh, 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Syiah Kuala Psychology Journal
ISSN : -     EISSN : 3030976X     DOI : 10.24815/skpj
Syiah Kuala Psychology Journal (SKPJ) is an online academic journal and interested in empirical studies in psychological area. SKPJ is a peer-reviewed journal. Syiah Kuala Psycology Journal receives manuscripts that focused on psychological research and applied psychology. Humanities studies related to psychological science are the scope that also considered in Syiah Kuala Psycology Journal. Every published article will go through a peer-review process by experts who have experience in managing journals and publishing articles in prestigious journals. Every published article has met the requirements set by the SKPJ Editorial Board. SKPJ accepts and publishes psychology student research articles which are published twice a year in April and October.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2024)" : 8 Documents clear
Penyesuaian Diri Wanita Yang Menikah Beda Budaya Arifah, Zahrina; Aulia, Fadhila Nurul; Nadhifah, Raisyah Aliyah; Khairunnisa, Ariqa; Khairunnisa.MR, Junicha; Hakim, Agustian Hasnan; Sari, Kartika
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.30834

Abstract

Individual adjustment in marriage is essential to achieving a successful and happy marriage. Marriages of different cultures can lead to challenges in marriage life, such as differences in values and customs. This study aims to find out the individual's adaptation to living in a different-cultural marriage. This research uses a qualitative approach to this type of case study. The subjekt selection procedure uses purposive sampling techniques with a total of six individuals who are married to couples of different cultures. Techniques of data collection through observations and interviews. The collected data is analyzed with thematic analysis techniques, using the theory as a reference to coding. The results of the study found that six subjekts were able to adapt well to different cultural marriages. The adaptations carried out included experiences of adaptation and ways of adapting in marriages of different cultures. Adaptation experiences include relationships with spouses, relations with families, and marriage challenges. Therefore, adaptation can be done through communication, agreement, acceptance of differences, understanding, financial management, appetite alignment, and language alignment. The implications of this research are that it can raise public awareness of cultural diversity and the challenges faced by couples of different cultures, reduce prejudice and discrimination, and help couples from various cultures adapt more easily to the new environment.Penyesuaian individu dalam pernikahan merupakan hal penting untuk mencapai pernikahan yang sukses dan bahagia. Pernikahan beda budaya dapat menyebabkan tantangan dalam kehidupan pernikahan berupa adanya perbedaan nilai maupun adat istiadat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyesuaian diri individu dalam menjalani pernikahan beda budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Prosedur pengambilan subjek menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah subjek enam orang individu yang menikah dengan pasangan yang berbeda budaya. Teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik analisis tematik menggunakan teori sebagai acuan untuk melakukan coding. Hasil penelitian menemukan bahwa enam subjek mampu menyesuaikan diri dalam pernikahan beda budaya dengan baik. penyesuaian diri yang dilakukan meliputi pengalaman penyesuaian diri dan cara menyesuaikan diri dalam pernikahan beda budaya. Pengalaman penyesuaian diri mencakup hubungan dengan pasangan, hubungan dengan keluarga dan tantangan pernikahan. Oleh karena itu, cara untuk penyesuaian diri dapat dilakukan dengan komunikasi, kesepakatan, menerima perbedaan, memahami, pengelolaan keuangan, penyelarasan selera makanan, dan penyelarasan bahasa. Implikasi penelitian ini yaitu dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keberagaman budaya dan tantangan yang dihadapi pasangan beda budaya, mengurangi prasangka dan diskriminasi, serta dapat membantu pasangan beda budaya untuk lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Perbedaan Kualitas Tidur Mahasiswa Ditinjau Dari Jenis Kelamin Junaidi, Win; Ayu, Munira; Bella, Sinta; Shaqinah, Sharla Aliffia; Ulfarianti, Ulfarianti; Amna, Zaujatul
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.30913

Abstract

Sleep quality is an important aspect for college students that directly affects their health, cognitive function, and academic performance in both women and men. Therefore, research on sex differences in sleep quality based on gender among university students is an interesting topic to be studied further, given the biological and psychosocial differences between men and women that can affect their sleep quality. The purpose of this study was to determine the differences in sleep quality between male and female students studying at the university level in Aceh Province using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) as a research data collection instrument. A total of 484 students (241 males and 243 females) were included as research samples, selected by simple randomization. The results of the data analysis showed that there was no difference in sleep quality between the male and female students. In addition, the research findings also explain that both male and female students have poor sleep quality categorization, and it can be assumed that the poor sleep quality experienced by college students can have long-term implications for their physical health and psychological well-being.Kualitas tidur menjadi salah satu aspek penting bagi mahasiswa yang berpengaruh langsung terhadap kesehatan, fungsi kognitif, dan performa akademiknya baik perempuan maupun laki-laki. Oleh karena itu, penelitian mengenai perbedaan kualitas tidur berdasarkan jenis kelamin di kalangan mahasiswa menjadi topik yang menarik untuk dikaji lebih lanjut, mengingat adanya perbedaan biologis dan psikososial antara laki-laki dan perempuan yang dapat memengaruhi kualitas tidurnya. Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini dilakukan yaitu untuk mengetahui perbedaan kualitas tidur antara mahasiswa laki-laki dan perempuan yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Propinsi Aceh, dengan menggunakan instrument Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sebagai instrumen pengumpulan data penelitian. Sebanyak sebanyak 484 mahasiswa (yang terdiri dari 241 mahasiswa laki-laki dan 243 mahasiswa perempuan) terlibat sebagai sampel penelitian yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kualitas tidur pada mahasiswa laki-laki maupun mahasiswa perempuan. Selain itu, temuan penelitian juga menjelaskan bahwa mahasiswa laki-laki maupun mahasiswa perempuan berada pada kategorisasi kualitas tidur yang buruk, hal ini dapat diasumsikan bahwa kualitas tidur yang buruk yang dialami oleh mahasiswa selama masa kuliah dapat memiliki implikasi jangka panjang terhadap kesehatan fisik dan kesejahteraan psikologisnya.
Hubungan Antara Psychological Capital dengan Keterlibatan Kerja Pada Karyawan Bank X Munika, Diah Pera; Mirza, Mirza
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.30535

Abstract

Work engagement is a positive motivational state, compliance, and outlook on work conditions that can be influenced by a person's positive conditions, such as psychological capital. This study aims to determine the relationship between psychological capital and work engagement in Bank X employees. The sample of this study was 54 employees of Bank X. Respondents in the study were selected using a nonprobability sampling technique, namely quota sampling. The collection of research data used Psychological Capital Questionnaire (PCQ) contains 24 statement items and Utrect Work Engagement Scale (UWES) contains 17 statement items that have been adapted into Indonesian. The data obtained were then analyzed using the Pearson correlation technique and showed a correlation result of r = 0.490, with a significance value of p 0.05). These results indicate that there is a positive and significant relationship between psychological capital and work engagement in Bank X employees. This means that the higher the psychological capital, the higher the employee's work engagement or vice versa.Keterlibatan kerja merupakan keadaan motivasional positif, kepatuhan, dan pandangan terhadap kondisi kerja yang dapat dipengaruhi kondisi positif seseorang, seperti psychological capital. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara psychological capital dengan keterlibatan kerja pada karyawan Bank X. Sampel penelitian ini adalah 54 karyawan Bank X. Responden dalam penelitian dipilih menggunakan teknik nonprobability sampling yaitu dengan quota sampling. Pengumpulan data penelitian menggunakan Psychological Capital Questionnare (PCQ) berisi 24 butir pernyataan dan Utrect Work Enggagement Scale (UWES) berisi 17 butir pernyataan yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik korelasi Pearson dan menunjukkan hasil korelasi r=0,490, dengan nilai signifikansi p0,05). Hasil ini mengindikasikan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara psychological capital dengan keterlibatan kerja pada karyawan Bank X. Artinya semakin tinggi psychological capital maka semakin tinggi keterlibatan kerja karyawan atau sebaliknya.
Memahami Motif Melakukan Binge-Watching pada Mahasiswa Perempuan Ummah, Izzatul; Charnita, Shafira Putri; Riyani, Silvi Rahma Putri; Fadhila, Nisrina; Khansa, Siti Athaya; Riamanda, Irin
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.30672

Abstract

Binge-watching is the activity of watching multiple episodes of a TV series or drama consecutively without breaks. This activity leads individuals to spend long periods in front of screens, and research has shown that women tend to engage in it more frequently. This study aims to understand the main motives behind binge-watching behavior among female university students. A qualitative research approach using qualitative descriptive methods was employed through interviews with five respondents aged 18-22, who are female students at a university in Aceh. The results revealed several primary motives for binge-watching among female students. While each subject had different motives, stress relief and seeking entertainment were the main reasons for binge-watching. These findings provide a deeper understanding of binge-watching behavior among female students and highlight the need for further research on the impact of binge-watching on other aspects such as mental health and interpersonalrelationships.Binge-watching merupakan aktivitas menonton beberapa episode serial TV atau drama berturut-turut tanpa jeda. Aktivitas ini membuat seseorang berada di depan layar dalam waktu yang lama, dan penelitian mengungkapkan bahwa perempuan lebih sering melakukannya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami motif utama di balik perilaku binge-watching pada mahasiswa perempuan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode kualitatif deskriptif melalui proses wawancara kepada lima responden berusia 18-22 tahun yang merupakan mahasiswa perempuan di sebuah universitas di Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa motif utama mahasiswa perempuan melakukan binge-watching. Setiap subjek memiliki perbedaan motif, namun meredakan stres dan mencari hiburan menjadi motif utama mahasiswa perempuan melakukan binge-watching. Temuan ini dapat memperdalam pemahaman tentang perilaku binge-watching pada mahasiswa perempuan dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai dampak binge-watching pada aspek lain, seperti kondisi kesehatan mental dan hubungan interpersonal.
Self-Compassion dan Body Image Pada Mahasiswi Pengguna Instagram Maharani, Rizha Pera; Putrikita, Katrim Alifa
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.31642

Abstract

Instagram is used in various societies, including female college students. Instagram shows ideal body figures that influence how female students view their bodies. Body image refers to the perspective of a person towards their body shape, either positively or negatively. How individuals assess their body is associated with how individuals like themselves. Self-compassion is the caring and loving that is given to oneself, including accepting weaknesses and realizing that the experiences of others are also being endured. The purpose of this study is to examine the correlation between self-compassion and body image in female college student who use Instagram. This study uses quantitative methods with a correlational approach. The sampling technique used is purposive sampling, involving 200 female college student as Instagram users. Data were collected using self-compassion scale and body image scale. Data analysis was conducted with Pearson product moment correlation analysis. The results showed a positive relationship between self-compassion and body image among female Instagram users.Instagram digunakan di berbagai kalangan, termasuk mahasiswi. Instagram sering menampilkan figure tubuh ideal yang mempengaruhi bagaimana pandangan mahasiswi terhadap tubuhnya. Body image merujuk pada cara pandang seseorang terhadap bentuk tubuhnya, baik positif ataupun negatif. Bagaimana individu menilai tubuhnya ini kemudian dikaitkan dengan bagaimana individu mencintai dirinya sendiri. Self-compassion adalah perhatian dan kasih sayang yang diberikan terhadap diri sendiri, termasuk menerima kelemahan dan menyadari bahwa pengalaman yang dialami juga dialami oleh orang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji hubungan antara self-compassion dan body image pada mahasiswi pengguna Instagram. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Teknik sampling yang diterapkan adalah purposive sampling, melibatkan 200 mahasiswi pengguna Instagram. Data dikumpulkan menggunakan skala self-compassion dan skala body image. Analisis data dilakukan dengan analisis korelasi product moment Pearson. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan positif antara self-compassion dan body image di antara mahasiswi pengguna Instagram.
Konsep Diri dan Kecemasan Sosial Pada Mahasiswa Kholisa, Intan Nurul; Purnamasari, Santi Esterlita; Rinaldi, Martaria Rizky
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.30937

Abstract

Social interaction is a fundamental need for university students, who are in the early adulthood developmental stage where the ability to adapt and control anxiety is crucial. Many students experience social anxiety that can hinder their ability to interact effectively. This study aims to determine the relationship between self-concept and social anxiety among early adult university students in Yogyakarta. This research employs a quantitative method with a correlational design. The subjects of this study consisted of 110 students aged 19-28 years, selected using a convenience sampling technique. Data were collected using a social anxiety scale and a self-concept scale. The data analysis method used was Karl Pearson's product moment, resulting in a correlation coefficient of rxy = -0.664 (p 0.000), indicating a negative relationship between self-concept and social anxiety among early adult university students in Yogyakarta. The conclusion of this study is that the more positive the students' self-concept, the lower the level of social anxiety they experience; conversely, the more negative the students' self-concept, the higher the level of social anxiety they experience.Interaksi sosial merupakan kebutuhan fundamental bagi mahasiswa yang berada pada tahap perkembangan dewasa awal, karena kemampuan menyesuaikan diri dan mengendalikan kecemasan sangat penting. Banyak mahasiswa mengalami kecemasan sosial yang dapat menghambat kemampuan mereka untuk berinteraksi secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan kecemasan sosial pada mahasiswa dewasa awal di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian ini terdiri dari 110 mahasiswa berusia 19-28 tahun yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan Skala Kecemasan Sosial dan Skala Konsep Diri. Metode analisis data menggunakan product moment dari Karl Pearson, dan hasilnya diperoleh koefisien korelasi sebesar rxy = -0,664 (p 0,000), yang berarti ada hubungan negatif antara konsep diri dengan kecemasan sosial pada mahasiswa dewasa awal di Yogyakarta. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin positif konsep diri mahasiswa maka semakin rendah tingkat kecemasan sosial yang mereka alami, dan sebaliknya, semakin negatif konsep diri mahasiswa maka semakin tinggi tingkat kecemasan sosial yang mereka alami.
Job Embeddedness dan Turnover Intention Pada Guru Honorer Salvina, Desi; Rachmatan, Risana; Aprilia, Eka Dian; Riamanda, Irin
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.30560

Abstract

The problems of honorary teachers are quite complex, including income problems, low trust in the organization and dissatisfaction at work. These problems can make honorary teachers have the desire to leave their jobs. The desire to leave a person's job is called turnover intention. One of the factors that can inhibit turnover intention is job embeddedness (work engagement). This study aims to examine the relationship between job embeddedness and turnover intention in honorary teachers. The subjects in this study were honorary teachers. The sampling technique in this study was accidental sampling with the number of participants being 270 honorary teachers. Data was collected using the Global Job Embeddedness Scale (GJES) and Turnover Intention Scale (TIS). The results of the analysis showed a significance value (p) = 0.000 (p0.05) with a correlation value (r) = -0.718 and a determination value of 51.5%. This shows that there is a negative relationship between job embeddedness and turnover intention in honorary teachers. Most subjects are in the category of high job embeddedness and low turnover intention. The benefits of this research can provide insights into the various factors that may encourage honorary teachers to remain in their jobs. By understanding the factors that make them feel connected to their work, educational institutions can develop more effective strategies in the future.Permasalahan guru honorer cukup kompleks di antaranya masalah penghasilan, rendahnya kepercayaan terhadap organisasi dan ketidakpuasan dalam bekerja yang dapat menyebabkan guru honorer memiliki keinginan untuk keluar dari pekerjaannya. Keinginan keluar seseorang dari pekerjaannya disebut turnover intention. Salah satu faktor yang dapat menghambat turnover intention adalah job embeddedness (keterikatan kerja). Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara job embeddedness dengan turnover intention pada guru honorer. Subjek pada penelitian ini adalah guru honorer. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah accidental sampling dengan jumlah partisipan sebanyak 270 guru honorer. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Global Job Embeddedness Scale (GJES) dan Turnover Intention Scale (TIS). Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi (p) = 0,000 (p0,05) dengan nilai korelasi (r) = -0,718 dan nilai determinasi sebesar 51,5%. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara job embeddedness dengan turnover intention pada guru honorer. Mayoritas subjek berada pada kategori job embeddedness tinggi dan turnover intention rendah. Manfaat dari penelitian ini dapat memberikan wawasan mengenai berbagai faktor yang dapat membuat guru honorer bertahan di pekerjaannya, dengan memahami faktor yang dapat membuat mereka merasa terikat dengan pekerjaannya, sehingga nantinya institusi pendidikan dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif.
Pentingnya Lifelong Learning Skill untuk Kesiapan Kerja Lulusan Sarjana di Sumatera Barat Nisa, Hidayatun; Ardias, Widia Sri; Bakhtiar, Bakhtiar
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.31116

Abstract

This research is motivated by data released by the Central Statistics Agency of West Sumatra in 2020 which shows that the highest unemployment rate comes from undergraduate graduates. This study aims to determine the level of lifelong learning skills and job readiness of undergraduate graduates in West Sumatra and see the role of lifelong learning skills on the job readiness of undergraduate graduates in West Sumatra. This study is a research field research (field research) using a quantitative approach. This research method uses linear regression analysis. The results of this study found that, firstly, the level of lifelong learning skills of bachelor graduates in West Sumatra was dominant in the medium category, namely 63.1% of all respondents, secondly, the level of job readiness of bachelor graduates in West Sumatra was dominant in the medium category, namely 67% of all respondents. The three lifelong learning skills have a significant role in job readiness, and the role given is positive linear. The results of this study also found that of the three aspects of lifelong learning skills, intrapersonal skills have the greatest effective contribution, and cognitive aspects provide the least effective contribution compared to other aspects.Penelitian ini dilatar belakangi oleh data yang dirilis Badan Pusat Statistika Sumatera Barat tahun 2020 yang menunjukkan angka pengangguran paling tinggi berasal dari lulusan sarjana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat lifelong learning skill serta kesiapan kerja dari lulusan sarjana di Sumatera Barat dan melihat peran lifelong learning skill terhadap kesiapan kerja lulusan sarjana di Sumatera Barat. Penelitian ini merupakan penelitian field research (penelitian lapangan) dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Metode penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linear. Hasil penelitian ini menemukan bahwa, pertama tingkat lifelong learning skill lulusan sarjana di Sumatera Barat dominan berada pada kategori sedang yaitu 63,1% dari keseluruhan responden, kedua tingkat kesiapan kerja lulusan sarjana di Sumatera Barat dominan berada pada kategori sedang yaitu 67% dari keseluruhan responden. Ketiga lifelong learning skill memiliki peran yang signifikan terhadap kesiapan kerja, dan peran yang diberikan bersifat linear positif. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa dari tiga aspek lifelong learning skill ternyata keterampilan intrapersonal memiliki sumbangan efektif paling besar dan aspek kognitif memberikan sumbangan efektif paling kecil dibandingkan aspek lainnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 8