cover
Contact Name
Akbar Sanjaya
Contact Email
jhmj.fh@unsur.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jhmj.fh@unsur.ac.id
Editorial Address
Jl. Pasirgede Raya, Bojongherang, Kec. Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat 43216
Location
Kab. cianjur,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Hukum Mimbar Justitia
ISSN : 24775681     EISSN : 25800906     DOI : https://doi.org/10.35194/jhmj.v9i2
Core Subject : Social,
Focus and Scope Focus of Jurnal Hukum Mimbar Justitia has a main focus on the publication of scientific articles related to various aspects of law, both in national and international contexts. The journal aims to be a platform for academics, legal practitioners, and researchers to share knowledge, research results, and current thinking in various fields of law. Scope of Jurnal Hukum Mimbar JustitiaJournal: The scope of Mimbar Justitia Law Journal includes, but is not limited to, the following areas: Constitutional Law: Articles that discuss legal aspects of constitutions, systems of government, division of powers, human rights, as well as other related topics in the context of specific countries and legal systems. Criminal Law: Topics related to criminal law, including but not limited to criminal theory, crime, criminal procedure, criminal justice, and current crime issues. Civil Law: Articles that discuss civil law in various contexts, such as family law, inheritance law, contract law, property law, and other civil disputes. Business and Economic Law: This scope includes articles that discuss legal aspects related to the world of business and economics, including competition law, business contract law, corporate law, and economic regulation. International Law: Articles that discuss international law, including public international law, private international law, international organisations, international trade, and other global issues. Environmental Law: This covers articles that address legal issues relating to environmental conservation, natural resource protection, environmental law, and corporate social responsibility in an environmental context. Islamic Law: Articles that discuss aspects of Islamic law in various contexts, including Islamic family law, sharia, Islamic economic law, and Islamic legal thought. Customary Law: Articles that discuss customary law in the context of specific cultures and societies, including traditional legal systems, customs, and the protection of customary rights. Health Law: This scope includes articles that address legal aspects related to the field of health, including medical law, medical ethics, pharmaceutical regulation, and patient rights and obligations. Law of the Sea: Articles that discuss the law of the sea, including fisheries law, marine transport law, international conventions on the law of the sea, and other maritime law issues. Space Law: This scope includes articles that discuss legal aspects relating to space exploration, space exploration, regulation of space activities, and the rights and obligations of states in space. The journal also welcomes articles that discuss other topics related to legal science at large. The approach used in analysing the articles is Juridical Normative and Juridical Sociology, to provide comprehensive and in-depth insight into the topics discussed.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 206 Documents
Pemenuhan Hak Pesangon Pekerja Akibat Pemutusan Hubungan Kerja dalam Kepailitan Perusahaan Perspektif Pancasila Wike Nopianti; Imam Budi Santoso; Muhamad Abas
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol. 10 No. 1 (2024): Published 30 Juni 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i1.4061

Abstract

AbstrakHubungan Industrial Pancasila mengacu pada konsep hukum ketenagakerjaan Indonesia yang sarat dengan nilai-nilai Pancasila. Redundansi berarti PHK antara pegawai atau karyawan dengan perusahaan atau kontraktor. Uraian singkat kasus yang penulis lakukan yaitu pemecatan karyawan Garden Palace Hotel Surabaya karena perusahaan dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Surabaya, karena buruknya keadaan keuangan perusahaan sehingga tercapai efisiensi. Karyawan yang terkena PHK berhak mendapatkan uang pesangon secara mencicil. Disepakati pada 29 Maret 2021. Namun hasilnya tidak sesuai dengan kesepakatan berdasarkan asas Pancasila bahwa pelaksanaan hak-hak agregat diatur dengan undang-undang. peraturan pemerintah dan kontrak kerja. Dalam putusan tersebut, penulis berkesimpulan bahwa dalam hal ini majelis hakim telah mematuhi Pasal 165 UU No 13/2003 , dimana hak pemberhentian pegawai apabila perusahaan bangkrut adalah: 2x PHK + 1x panjang. biaya layanan + hak pesangon.AbstractPancasila Industrial Relations refers to the concept of Indonesian labor law which is full of Pancasila values. Redundancy means termination of employment between an employee or employees and the company or contractor. A brief description of the case that the author did, namely the dismissal of Garden Palace Hotel Surabaya employees because the company was declared bankrupt by the Surabaya Commercial Court, due to the poor financial condition of the company so that efficiency was achieved. Employees who are dismissed are entitled to severance pay in installments. It was agreed on March 29, 2021. However, the result is not in accordance with the agreement based on the principle of Pancasila that the implementation of aggregate rights is regulated by law. government regulations and employment contracts. In this decision, the author concludes that in this case the panel of judges has complied with Article 165 of Law Number 13 Year 2003, where the right to dismiss employees if the company goes bankrupt is: 2x layoff + 1x long. service fee + severance pay rights.
Kedudukan Covernote Notaris dalam Pencairan Kredit di Perbankan Rania Ayang Devayanti; Dyah Ochtorina Susanti; Rahmadi Indra Tektona
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol. 10 No. 1 (2024): Published 30 Juni 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i1.4074

Abstract

AbstrakCovernote biasanya diminta oleh para pihak, dalam hal ini adalah bank selaku kreditur serta debitur untuk proses pencairan kredit. Pencairan kredit yang menjaminankan tanah dan memerlukan sertifikat hak tanggungan, umumnya lebih lama prosesnya disebabkan masih adanya proses pengecekan dari Badan Pertanahan Indonesia. Keberadaan covernote diibaratkan sebagai jaminan dari pihak notaris bahwa sertifikat hak tanggungan akan dipastikan selesai selagi bank mencairan dana kredit tersebut. Namun keberadaan covernote hanya sebatas surat keterangan dan bukan termasuk ke dalam akta autentik yang dibuat oleh Notaris, sehingga jika notaris gagal memenuhi apa yang tertera di covernote maka akan sangat merugikan bank selaku kreditur. Tulisan ini didasarkan pada penelitian yuridis normatif, yang mengacu pada literatur hukum menggunakan bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder dengan pendekatan konseptual dan pendekatan perundang-undangan. AbstractCovernote are usually requested by the parties, in this case the bank as the creditor and debtor for the credit disbursement proses. Disbursement of credit that guarantees land and requires a mortgage certificate generally takes longer because there is still a checking process from the Indonesian Land Agency. The existence of a covernote is seen as a guarantee from the notary that the mortgage certificate will be guaranteed to be completed while the bank disburses the credit funds. However, the existence of the covernote is only limited to a statement and is not included in the authentic deed made by the notary, so that if the notary fails to fulfil what is stated on the covernote it will be very detrimental to the bank as the creditor. This paper is based on normative juridical research, which refers to legal literature using primary legal materials and secondary legal materials with a context approach and a statutory-regulatory approach.
Perlindungan Hukum Konsumen dalam Transaksi Perdagangan di E-commerce di Indonesia Yuyut Prayuti; Elis Herlina; Mia Rasmiaty
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol. 10 No. 1 (2024): Published 30 Juni 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i1.4086

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengevaluasi perlindungan hukum yang dapat diakses oleh konsumen dalam transaksi perdagangan elektronik dan metode penyelesaian sengketa yang diterapkan dalam kasus pelanggaran kontrak. Metode yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis, menggunakan data sekunder yang mencakup hukum primer, sekunder, dan tersier sebagai sumber informasi. Analisis data dilakukan secara kualitatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa regulasi hukum terkait perlindungan konsumen E-commerce diatur dalam Undang-Undang No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, khususnya pada pasal 19, 20, 21, 24, dan 26. Pelaksanaan perlindungan ini melibatkan kerja sama antara pemerintah, Badan Perlindungan Konsumen Nasional, dan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat. Untuk menyelesaikan sengketa terkait wanprestasi, hukum menyediakan dua jalur, yaitu litigasi dan non-litigasi, sebagai solusi yang dapat ditempuh. AbstractThis research evaluates the legal protection accessible to consumers in electronic commerce transactions and the dispute resolution methods applied in cases of breach of contract. The method used is a normative juridical approach with analytical descriptive research specifications, using secondary data that includes primary, secondary, and tertiary laws as sources of information. Data analysis was conducted qualitatively. The research findings show that legal regulations related to E-commerce consumer protection are regulated in Law No. 8/1999 on Consumer Protection, specifically in articles 19, 20, 21, 24, and 26. The implementation of this protection involves cooperation between the government, the National Consumer Protection Agency, and the Non-Governmental Consumer Protection Agency. To resolve disputes related to default, the law provides two paths, namely litigation and non-litigation, as solutions that can be pursued.
Tindakan Anti-Dumping Kepada Eksportir Berdasarkan Ketentuan Gatt dan Upaya Penyelesaian Sengketanya Grasia Kurniati; Maruli Adam Tampubolon
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol. 10 No. 1 (2024): Published 30 Juni 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i1.4087

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengkaji tentang tindakan antidumping pemerintah Indonesia kepada eksportir dari negara lain yang melakukan praktik dumping berdasarkan ketentuan GATT dan bagaimana upaya penyelesaian sengketanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis akibat hukum dari praktik dumping dan bagaimana penyelesaian sengketa jika negara pengekspor tidak mendapatkan sanksi antidumping. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa praktik dumping harus dipelajari terlebih dahulu untuk menentukan apakah kriteria praktik dumping terpenuhi atau tidak. Oleh karena itu, investigasi akan dilakukan oleh instansi terkait dalam hal ini Komite Anti-Dumping Indonesia (KADI). Kemudian KADI akan memutuskan apakah eksportir dari negara lain tersebut terbukti melakukan dumping berbahaya dengan bukti-bukti yang ada. Selanjutnya KADI memberikan sanksi berupa Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD). Jika negara tidak menerima sanksi yang dijatuhkan, WTO telah memberikan fasilitas untuk menyelesaikan sengketa perdagangan internasional, termasuk dumping. AbstractThis study examines the Indonesian government's anti-dumping actions against exporters from other countries who practice dumping under GATT provisions and how to resolve the dispute. This study analyzes the legal consequences of dumping practices and how to resolve conflicts if the exporting country does not receive anti-dumping sanctions. The research method used is normative juridical. The study results concluded that dumping practices must be studied first to determine whether the criteria for dumping practices are met. Therefore, the relevant agency, in this case, the Indonesian Anti-Dumping Committee (KADI), will conduct an investigation. Then KADI will decide whether the exporter from another country is proven to have committed dangerous dumping based on the available evidence. They then gave sanctions in the form of Anti Dumping Import Duty (BMAD). If countries do not accept the sanctions imposed, the WTO has provided facilities to resolve international trade disputes, including dumping.
Komparisi Hukum Waris Indonesia-Jerman Terkait Harta Waris yang Terdapat Unsur Asing Rita Ristyanda Putri; Dominikus Rato; Dyah Ochtorina Susanti
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol. 10 No. 1 (2024): Published 30 Juni 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i1.4089

Abstract

AbstrakPerkawinan antar warga negara sangat dimungkinkan untuk terjadi, bahkan hal ini telah terjadi di Indonesia sejak zaman kolonial Belanda. Sebuah perkawinan akan membawa beberapa akibat hukum, dari segi status kewarganegaraan, harta kekayaan, anak, hingga pewarisan. Perkawinan beda warga negara (perkawinan campuran) sangat dimungkinkan adanya harta bersama atau harta bawaan, yang akan melibatkan lintas negara.  Setiap negara memiliki ketentuan yang berbeda mengenai Waris, bahkan di Indonesia tiap daerah atau suku budaya memiliki pandangan dan cara pembagian waris yang berbeda beda.  Tulisan ini menitikberatkan terhadap hukum waris yang terdapat unsur asing, dengan menggunakan pisau analisis Normatif deskriptif, yaitu dengan membandingkan antara hukum waris di Indonesia (menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata) dengan hukum waris di Jerman, sehingga diharapkan dapat dijadikan jawaban dan ukuran ketika terjadi suatu permasalahan waris yang mengandung unsur asing. AbstractMarriage between citizens is very possible to occur, even this has happened in Indonesia since the Dutch colonial era. A marriage will bring several legal consequences, in terms of citizenship status, property, children, and inheritance. The marriage of different citizens (mixed marriage) is very possible for the existence of joint property or inherited property, which will involve cross-country. Each country has different provisions regarding inheritance, even in Indonesia, each region or cultural tribe has different views and ways of dividing inheritance.  This paper focuses on inheritance law that contains foreign elements, using a descriptive Normative analysis knife, namely by comparing inheritance law in Indonesia (according to the Civil Code) with inheritance law in Germany, so that it is expected to be used as an answer and measure when there is an inheritance problem that contains foreign elements.
Kebijakan Pemerintah Daerah Terhadap Pendaftaran Hak Cipta Kesenian Cirebon Sebagai Konservasi Produk Kearifan Lokal Mohamad Sigit Gunawan; Fatina Rizka Sahila; Frans Setiawan; Mela Agustina; Anis Khoerunnisa
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol. 10 No. 1 (2024): Published 30 Juni 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i1.4119

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengevaluasi pentingnya Kesenian yang dapat menjadi kekayaan milik daerah khususnya di Cirebon, seperti Tari Topeng, Sintren, Sandiwara Cirebonan dan wayang Cirebon. Melalui penggunaan metode penelitian yuridis normatif serta perkembangan teori desentralisasi, Temuan penelitian menunjukkan Administrasi daerah diketahui belum mengeluarkan kebijakan urgensi terhadap pendaftaran hak cipta atas kesenian lokal, Peran pemerintah daerah dibutuhkan sebagai aparatur dan media yang memfasilitasi bukan hanya untuk pengembangan namun mengatur kebijakan normatif agar banyak masyarakat yang mengetahui pentingnya pengakuan hukum terhadap kesenian sebagai warisan dan kekayaan daerah yang memiliki nilai ekonomi tinggi. AbstractThis research evaluates the importance of arts in Cirebon City, such as Mask Dance, Sintren, Cirebonan Theater and Cirebon puppetry. Through the use of normative juridical research methods as well as thedevelopment of the theory of decentralization, the research findings show that the local administration has not issued an urgency policy towards the regional administration is known to have not issued a policy of urgency to the registration of copyrights on local arts. The role of local government is needed as an apparatus and a facilitating medium not only for the development of local art, but also for the development of local culture. and media that facilitates not only for development but regulates normative policies so that many people know about copyright registration of local arts. normative policies so that many people know the importance of legal recognition of the arts as a heritage and legal recognition of the arts as heritage and regional wealth that has high economic value.
Penanggulangan Prostitusi Dalam Konsep Budaya Hukum Perspektif Peraturan Daerah Kabupaten Cianjur Mia Amalia
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol. 10 No. 1 (2024): Published 30 Juni 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i1.4120

Abstract

AbstrakPraktik prostitusi di Kabupaten Cianjur menimbulkan dampak penilaian yang kurang baik. Modus yang dilakukan adalah tempat panti-panti pijat, tempat penginapan, vila-vila, dan bungalau, yang terselubung. Permasalahan yang ada faktor-faktor yang mempengaruhi adanya praktik prostitusi di wilayah Cianjur. Upaya-upaya dalam penanggulangan praktik prostitusi di wilayah kabupaten Cianjur dalam konsep budaya hukum. Metode penelitian menggunakan pendekatan yuridis normatif. Hasil penelitian menyatakan faktor terjadinya prostitusi adalah faktor internal seperti rendahnya standar moral dan keimanan, kurangnya keterampilan, keahlian dan pendidikan yang dimiliki, gaya hidup yang konsumtif. Faktor eksternal berupa kesulitan ekonomi, adanya kerjasama dengan masyarakat dan aparat setempat dimana praktik prostitusi tersebut sudah menjadi budaya dan bersifat masip karena semua sektor memiliki asas manfaat bahkan menjadi ladang mata pencaharian bagi masyarakat sekitar (seperti jadi guide, penarik ojeg, sopir mobil rental, menyewakan vila-vila) ataupun bagi aparat penegak hukumnya adanya bakking atau kerjasama dalam pelaksanaan praktik prostitusi, sehingga praktik prostitusi tersebut merupakan suatu jaringan yang terorganisir.AbstractThe practice of prostitution in Cianjur Regency has an unfavorable assessment impact. prostitution is still found in Cianjur. They operate by massaging parlors, lodging places, villas, and bungalau, which are used as locations for covert prostitution. The normative juridical approach are used as a research method. Prostitution still occurred due to several factors such as internal factors and external factors in the form of economic difficulties, cooperation with the community and local officials where the practice of prostitution has become a culture and is masip because all sectors have the principle of benefit and even become a livelihood field for the surrounding community (such as being a guide, ojeg puller, rental car driver, renting out villas) or for law enforcement officials there is bakking or cooperation in the implementation of prostitution practices, so that the practice of prostitution is an organized network in it. The countermeasures use the main legal data assisted by non-legal data such as social / socilogical data, culture, economy, politics, education, religion.
Disparitas Implementasi Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBH-CHT) Terhadap Program Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat Daerah Eko Edy Prayitno
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol. 10 No. 1 (2024): Published 30 Juni 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i1.4128

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisa aturan dan kebijakan mengenai Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau, yakni sebagai bagian dari pelaksanaan kebijakan desentralisasi sistem pemerintahan atau otonomi daerah, Untuk menjawab isu hukum yang dikaji digunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan per Undang-Undangan dan pendekatan konseptual. Data yang digunakan adalah data skunder yang diperoleh melalui penelusuran literatur. Analisa menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menegaskan bahwa kewenangan pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau dilimpahkan kepada para gubernur dari provinsi penerima dan disinyalir menimbulkan persoalan tersendiri di bidang hukum administrasi negara. AbstractThis study aims to analyze the rules and policies regarding the Tobacco Excise Revenue Sharing Fund, which is part of the implementation of the decentralization policy of the government system or regional autonomy, to answer the legal issues studied, a normative legal research method is used with a statutory approach and a conceptual approach. The data used is secondary data obtained through literature searches. Analysis using qualitative methods. The results of the study confirm that the authority to manage the Tobacco Excise Revenue Sharing Fund is delegated to the governors of the recipient provinces and allegedly raises its own problems in the field of state administrative law.
Krisis dan Reformasi: Definisi Investasi dalam Perjanjian Investasi Bilateral di Negara Dunia Ketiga Syahrul Fauzul Kabir
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol. 10 No. 1 (2024): Published 30 Juni 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i1.4131

Abstract

AbstrakPendefinisian investasi memicu krisis dalam rezim hukum investasi internasional, mendorong negara dunia ketiga seperti Indonesia, India, Brazil, dan Afrika Selatan untuk mereformasi definisi investasi dalam IIA/BIT mereka. Analisis data sekunder, termasuk Model BIT dan putusan pengadilan, menunjukkan pergeseran dari definisi investasi berbasis aset yang longgar ke model yang lebih terbatas. Indonesia mereformasi lewat Indonesia-Singapore BIT 2018, dan Brazil dengan ACFI 2015, yang memodifikasi definisi investasi berbasis aset dengan pembatasan tertentu. India lebih reformis dengan India Model BIT 2016, mengadopsi definisi investasi berbasis perusahaan. Afrika Selatan menghentikan proyek IIA dan hanya mengandalkan Protection of Investment Act 22 of 2015 dalam hukum nasional, memadukan kedua model definisi investasi. Indonesia menghadapi masalah hukum dalam harmonisasi antara IIA dan hukum nasional, karena UUPM mewajibkan definisi investasi berbasis perusahaan. AbstractThe definition of investment triggered a crisis in the international investment law regime, prompting third-world countries such as Indonesia, India, Brazil, and South Africa to reform the definition of investment in their IIAs/BITs. Analysis of secondary data, including Model BITs and court decisions, shows a shift from a loose asset-based definition of investment to a more restrictive model. Indonesia reformed with the Indonesia-Singapore BIT 2018, and Brazil with the ACFI 2015, which modified the asset-based definition of investment with certain restrictions. India was more reformist with the India Model BIT 2016, adopting a company-based definition of investment. South Africa discontinued the IIA project and relies solely on the Protection of Investment Act 22 of 2015 in national law, blending both models of investment definition. Indonesia faces legal issues in harmonisation between IIAs and national law, as the UUPM requires a company-based definition of investment. 
Urgensi Perubahan Status Badan Hukum Bagi Perusahaan Daerah Pasca PP 54 Tahun 2017 Tentang BUMD Khairus Febryan Fitrahady; Ahmad Zuhairi; Ari Rahmad Hakim; Yudhi Setiawan
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol. 10 No. 1 (2024): Published 30 Juni 2024
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jhmj.v10i1.4142

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mengkaji urgensi perubahan status Badan Hukum bagi Perusahaan Daerah pasca berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2017 tentang BUMD. Persoalan utama adalah keterlambatan Pemerintah Daerah dan DPRD dalam membahas dan mengubah bentuk hukum melalui perda. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan banyak BUMD belum menyesuaikan bentuk hukum menjadi Perumda atau Perseroda, yang harus dilakukan melalui perda. Meski Undang-Undang memberi tenggat waktu 3 tahun hingga 2017, banyak DPRD dan Kepala Daerah belum melakukan analisis dan pembahasan. Tidak adanya sanksi dan baru disahkannya Peraturan Pelaksana pada 2017 menjadi kendala. Sebagai contoh, dari 416 BUMD penyedia air minum di Indonesia, hanya 166 yang telah mengubah bentuk hukum pada 2021. Abstract This research aims to examine the urgency of changing the status of Legal Entity for Regional Companies after the enactment of Law Number 23 Year 2014 on Regional Government and Government Regulation Number 54 Year 2017 on BUMD. The main issue is the delay of the Regional Government and DPRD in discussing and changing the legal form through local regulations. This research uses normative legal methods with statutory and conceptual approaches. The results show that many BUMDs have not adjusted their legal form to Perumda or Perseroda, which must be done through local regulations. Although the law gives a 3-year deadline until 2017, many DPRDs and Regional Heads have not conducted analyses and discussions. The absence of sanctions and the enactment of the Implementing Regulations in 2017 are obstacles. For example, of the 416 BUMDs providing drinking water in Indonesia, only 166 had changed their legal form by 2021.