Jurnal Hukum Mimbar Justitia
Focus and Scope Focus of Jurnal Hukum Mimbar Justitia has a main focus on the publication of scientific articles related to various aspects of law, both in national and international contexts. The journal aims to be a platform for academics, legal practitioners, and researchers to share knowledge, research results, and current thinking in various fields of law. Scope of Jurnal Hukum Mimbar JustitiaJournal: The scope of Mimbar Justitia Law Journal includes, but is not limited to, the following areas: Constitutional Law: Articles that discuss legal aspects of constitutions, systems of government, division of powers, human rights, as well as other related topics in the context of specific countries and legal systems. Criminal Law: Topics related to criminal law, including but not limited to criminal theory, crime, criminal procedure, criminal justice, and current crime issues. Civil Law: Articles that discuss civil law in various contexts, such as family law, inheritance law, contract law, property law, and other civil disputes. Business and Economic Law: This scope includes articles that discuss legal aspects related to the world of business and economics, including competition law, business contract law, corporate law, and economic regulation. International Law: Articles that discuss international law, including public international law, private international law, international organisations, international trade, and other global issues. Environmental Law: This covers articles that address legal issues relating to environmental conservation, natural resource protection, environmental law, and corporate social responsibility in an environmental context. Islamic Law: Articles that discuss aspects of Islamic law in various contexts, including Islamic family law, sharia, Islamic economic law, and Islamic legal thought. Customary Law: Articles that discuss customary law in the context of specific cultures and societies, including traditional legal systems, customs, and the protection of customary rights. Health Law: This scope includes articles that address legal aspects related to the field of health, including medical law, medical ethics, pharmaceutical regulation, and patient rights and obligations. Law of the Sea: Articles that discuss the law of the sea, including fisheries law, marine transport law, international conventions on the law of the sea, and other maritime law issues. Space Law: This scope includes articles that discuss legal aspects relating to space exploration, space exploration, regulation of space activities, and the rights and obligations of states in space. The journal also welcomes articles that discuss other topics related to legal science at large. The approach used in analysing the articles is Juridical Normative and Juridical Sociology, to provide comprehensive and in-depth insight into the topics discussed.
Articles
160 Documents
Reformasi Hukum Pidana Di Era Digital: Analisis Terhadap Kuhp Baru
Fajriansyah, Agung;
Siregar, Rospita Adelina;
Panggabean, Mompang L
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 11, No 1 (2025): Vol 11, No 1 (2025): Published 30 Juni 2025
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v11i1.5462
Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP menjadi tonggak penting dalam reformasi sistem hukum pidana Indonesia. Menggantikan KUHP kolonial, aturan baru ini mencoba menyesuaikan hukum pidana dengan tantangan era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif berbasis studi literatur, menganalisis sejauh mana KUHP baru mengakomodasi kejahatan digital, perlindungan data pribadi, dan kebebasan berekspresi di ruang siber. Temuan menunjukkan bahwa meskipun terdapat beberapa pengaturan terkait tindak pidana digital, cakupannya masih terbatas dan berpotensi tumpang tindih dengan UU ITE dan UU PDP. Diperlukan harmonisasi hukum agar respons terhadap kejahatan digital lebih efektif dan komprehensif.
Perlindungan Hukum dalam Skema Asuransi Parametrik Bencana Alam: Studi Perbandingan Indonesia dan Jepang
Idrus, M. Mahdor Al;
Mulyadi, M. Budi
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 11, No 2 (2025): Published 31 Desember 2025
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v11i2.5854
AbstractThis study discusses aspects of legal protection for the application of parametric insurance as a risk financing instrument in the context of natural disaster mitigation in Indonesia by comparing the regulatory framework applied in Japan. Parametric insurance is a form of financial innovation that allows claims to be paid automatically based on certain parameters, without the need for physical damage verification. This study uses normative and comparative legal methods through analysis of regulations, public policy, and insurance industry practices in both countries. The findings show that the legal system in Indonesia does not specifically regulate the characteristics of parametric insurance, thus creating a legal vacuum in consumer protection and dispute resolution mechanisms. Meanwhile, Japan has implemented more adaptive regulations through the Financial Services Agency (FSA) and a regulatory sandbox scheme that supports data-based innovation and automation of the claims process. Therefore, national regulatory updates and inter-agency synergy are needed to strengthen legal certainty and promote the implementation of parametric insurance as a strategic solution in disaster risk management in Indonesia. AbstrakPenelitian ini membahas aspek perlindungan hukum terhadap penerapan asuransi parametrik sebagai instrumen pembiayaan risiko dalam konteks mitigasi bencana alam di Indonesia, dengan membandingkan kerangka regulasi yang diterapkan di Jepang. Asuransi parametrik merupakan bentuk inovasi finansial yang memungkinkan klaim dibayarkan secara otomatis berdasarkan parameter tertentu, tanpa memerlukan verifikasi kerusakan fisik. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dan komparatif melalui analisis terhadap regulasi, kebijakan publik, dan praktik industri asuransi di kedua negara. Temuan menunjukkan bahwa sistem hukum di Indonesia belum secara spesifik mengatur karakteristik asuransi parametrik, sehingga menimbulkan kekosongan hukum dalam perlindungan konsumen dan mekanisme penyelesaian sengketa. Sementara itu, Jepang telah menerapkan regulasi yang lebih adaptif melalui Financial Services Agency (FSA) dan skema regulatory sandbox yang mendukung inovasi berbasis data dan otomatisasi proses klaim. Oleh karena itu, diperlukan pembaruan regulasi nasional serta sinergi antar lembaga untuk memperkuat kepastian hukum dan mendorong implementasi asuransi parametrik sebagai solusi strategis dalam pengelolaan risiko bencana di Indonesia.
Pemenuhan Hak Korban Anak dalam Tindak Pidana Berat: Kajian Yuridis Putusan 3/Pid.Sus-Anak/2023/PN.Jkt.Pst
Agung Fajriansyah, Agung Fajriansyah;
Sitanggang, Djernih;
L. Panggabean, Mompang
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 11, No 2 (2025): Published 31 Desember 2025
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v11i2.5866
AbstractChildren who become victims of serious crimes have rights guaranteed by the state through Law Number 35 of 2014 concerning Child Protection. However, the fulfilment of these rights, particularly restitution and rehabilitation, remains suboptimal. This study is important to analyse the extent to which the law ensures the fulfilment of child victims’ rights and how its implementation is reflected in the Central Jakarta District Court Decision Number 3/Pid.Sus-Anak/2023/PN.Jkt.Pst. The research method used is normative juridical with a statutory and case study approach. The results show that although the Child Protection Law provides a strong normative basis, judicial practice still prioritizes the best interests of the child offender. This study concludes that strengthening the implementation mechanism for fulfilling child victims’ rights is essential to achieve a balance between the protection of offenders and victims within the juvenile criminal justice system.AbstrakAnak sebagai korban tindak pidana berat memiliki hak yang dijamin oleh negara melalui Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Namun, pemenuhan hak tersebut, khususnya terkait restitusi dan rehabilitasi, masih belum optimal. Penelitian ini penting dilakukan untuk menganalisis sejauh mana ketentuan dalam undang-undang tersebut menjamin pemenuhan hak-hak anak korban tindak pidana berat serta bagaimana implementasinya berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 3/Pid.Sus-Anak/2023/PN.Jkt.Pst. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun secara normatif perlindungan terhadap korban anak telah diatur, praktik peradilan lebih menitikberatkan pada kepentingan terbaik bagi pelaku anak. Simpulan penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan mekanisme implementasi pemenuhan hak korban anak guna mewujudkan keseimbangan antara perlindungan terhadap pelaku dan korban.
Reaktualisasi Hukum Hak Asuh Anak Pasca Perceraian di Indonesia: Konsep Co-Parenting dan Kepentingan Terbaik Anak
Hayati, Zaida;
Hidayat, Taufik
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 11, No 2 (2025): Published 31 Desember 2025
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v11i2.5883
AbstractThis study aims to analyze regulations regarding child custody after divorce in Indonesian positive law and evaluate the potential application of the concept of co-parenting as a legal reform approach that is more in line with the best interests of the child. This study was conducted using a normative juridical method with a regulatory approach and a conceptual study of co-parenting. The results of the study show that the Indonesian legal framework still focuses on granting custody to one parent without mechanisms that encourage collaborative parenting. This study contributes by integrating legal norms and psychological co-parenting frameworks as a basis for legal reform in child custody arrangements, emphasizing that joint custody is applicable only in the absence of domestic violence.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan hak asuh anak pasca perceraian dalam hukum positif Indonesia serta mengevaluasi potensi penerapan konsep co-parenting sebagai pendekatan pembaruan hukum yang lebih berpihak pada kepentingan terbaik anak. Kajian dilakukan menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan studi konseptual co-parenting. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kerangka hukum Indonesia masih berfokus pada penetapan hak asuh anak kepada salah satu orang tua tanpa mekanisme yang mendorong kolaborasi pengasuhan. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan mengintegrasikan norma-norma hukum dan kerangka kerja co-parenting psikologis sebagai landasan untuk reformasi hukum dalam pengaturan hak asuh anak, dengan menekankan bahwa hak asuh bersama hanya berlaku jika tidak ada kekerasan dalam rumah tangga.
Pelaksanaan Pidana Mati dengan Masa Percobaan (Kajian Perbandingan Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok)
Rambe, Sultan
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 11, No 2 (2025): Published 31 Desember 2025
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v11i2.5838
AbstractThe reform of criminal law under the National Criminal Code allows judges to impose the death penalty with a probationary period. However, the Code does not clearly regulate how this period is implemented. This study examines the development of the death penalty in Indonesia and compares probationary death penalty in Indonesia and China to assess the need for procedural rules. This study uses normative legal research with legislative, comparative, and conceptual approaches. The results show that Indonesia regulates probationary death sentences only in the National Criminal Code. Meanwhile, China regulates the death penalty more comprehensively. This indicates that probationary death penalty require further regulation. Such rules can be included in the Criminal Procedure Code, as in China, or in other laws death penalty execution procedures.AbstrakPembaharuan hukum pidana melalui KUHP Nasional memungkinkan hakim menjatuhkan pidana mati dengan masa percobaan. Namun, KUHP Nasional tidak mengatur secara jelas mengenai pelaksanaan masa percobaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana perkembangan pengaturan pidana mati di Indonesia dan membandingkan pengaturan pidana mati dengan masa percobaan di Indonesia dan Tiongkok untuk melihat kebutuhan terhadap pengaturan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan pidana mati dengan masa percobaan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan, perbandingan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan pengaturan pidana mati dengan masa percobaan di Indonesia hanya diatur melalui KUHP Nasional. Sedangkan, Tiongkok memiliki pengaturan pidana mati yang lebih komprehensif. Hal tersebut menunjukkan jika pengaturan pidana mati dengan masa percobaan memerlukan peraturan lebih lanjut. Pengaturan tersebut dapat termuat melalui KUHAP seperti di Tiongkok atau undang-undang lain mengenai tata cara pelaksanaan pidana mati.
Penguatan Pengaturan Kebijakan Taman Nasional Berbasis Community Based Conservation Terhadap Hutan Adat di Indonesia
Syarif, Nawaz;
Abdillah, Muhammad Torieq
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 11, No 2 (2025): Published 31 Desember 2025
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v11i2.5974
AbstractEscalating deforestation and agrarian conflicts in and around national parks reveal the weak protection of customary forests and indigenous peoples’ rights despite constitutional recognition and Constitutional Court Decision No. 35/PUU-X/2012. This study is urgent because disharmony among sectoral regulations and a state-centric forest governance paradigm produce tenure insecurity and criminalization of indigenous communities. Using a normative legal research method with statutory and conceptual approaches, it analyzes the 1945 Constitution, Forestry Law, Conservation Law, Government Regulation No. 28/2011, Decision 35/PUU-X/2012, and literature on community-based conservation. The results show that integration of adat rights into national law remains partial and often reduced by licensing regimes, while CBC practices in Lore Lindu and Wakatobi National Parks demonstrate that tenure recognition and collaborative governance improve conservation effectiveness. The article concludes that a pluralistic, people-centered conservation policy grounded in adat law is required.AbstrakDeforestasi yang terus meningkat dan konflik agraria di kawasan taman nasional menunjukkan lemahnya perlindungan hutan adat dan hak masyarakat hukum adat meski telah ada pengakuan konstitusional dan Putusan MK 35/PUU-X/2012. Penulisan ini mendesak karena ketidakharmonisan regulasi sektoral dan paradigma pengelolaan hutan yang masih state-centric menimbulkan kerentanan tenurial dan kriminalisasi masyarakat adat. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual terhadap UUD 1945, UU Kehutanan, UU Konservasi, PP 28/2011, Putusan MK 35/PUU-X/2012, serta literatur tentang community based conservation. Hasilnya menunjukkan integrasi hak adat dalam hukum nasional masih parsial dan sering tereduksi oleh rezim perizinan, sementara praktik CBC di Taman Nasional Lore Lindu dan Wakatobi membuktikan bahwa pengakuan hak tenurial dan tata kelola kolaboratif meningkatkan efektivitas konservasi. Disimpulkan perlunya reformulasi politik hukum konservasi yang pluralistik dan people-centered berbasis hukum adat.
Ekologi sebagai Subjek Hukum: Rekonstruksi Paradigma Perlindungan Lingkungan Hidup di Indonesia
Setyawan, Vincentius Patria
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 11, No 2 (2025): Published 31 Desember 2025
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v11i2.5970
AbstractThe transformation of environmental law requires a shift from an anthropocentric to an ecocentric approach that recognizes ecology as a legal subject rather than a mere object of exploitation. Weak environmental protection in Indonesia is largely rooted in the objectification of nature within the prevailing legal framework, contributing to escalating ecological degradation. Using a normative legal research method with conceptual and philosophical approaches, this study examines the juridical foundations and feasibility of recognizing ecology as a legal subject in the Indonesian legal system. The findings demonstrate that granting legal personality to ecological entities can strengthen environmental protection by expanding legal standing, redefining legal responsibility, and reinforcing sustainability-oriented norms. The novelty of this study lies in its formulation of ecology as a juridical subject within a reconstructive framework of Indonesian positive law, rather than merely as a moral or rights-based discourse commonly found in ecocentric or rights-of-nature studies. This study concludes that such legal reconstruction is essential to advancing ecological justice and improving the effectiveness of environmental protection in Indonesia.AbstrakTransformasi hukum lingkungan menuntut pergeseran dari pendekatan antroposentris menuju ekosentris, yang mengakui ekologi sebagai subjek hukum dan bukan semata-mata objek eksploitasi. Lemahnya perlindungan lingkungan hidup di Indonesia terutama berakar pada pemaknaan alam sebagai objek dalam kerangka hukum yang berlaku, sehingga berkontribusi pada meningkatnya degradasi ekologis. Dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif melalui pendekatan konseptual dan filosofis, penelitian ini mengkaji landasan yuridis serta kemungkinan penerapan pengakuan ekologi sebagai subjek hukum dalam sistem hukum Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kepribadian hukum kepada entitas ekologis dapat memperkuat perlindungan lingkungan hidup melalui perluasan legal standing, redefinisi tanggung jawab hukum, serta penguatan norma berorientasi keberlanjutan. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan ekologi sebagai subjek hukum yuridis dalam kerangka rekonstruksi hukum positif Indonesia, bukan sekadar sebagai wacana moral atau hak alam sebagaimana lazim ditemukan dalam kajian ekosentrisme. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi hukum tersebut merupakan langkah esensial untuk mewujudkan keadilan ekologis dan meningkatkan efektivitas perlindungan lingkungan hidup di Indonesia.
Analisis Penerapan Regulasi Serta Penegakan Hukum Persaingan Usaha: Studi Perbandingan Indonesia, Malaysia, Thailand
Lutfi, Muhamad Fauzi Rais;
Solapari, Nuryati
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 11, No 2 (2025): Published 31 Desember 2025
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v11i2.5975
AbstractThis study examines the implementation of competition law regulation and enforcement in Indonesia through a comparative legal approach with Malaysia and Thailand. The research focuses on identifying both similarities and significant differences in regulatory frameworks, institutional authority, and enforcement mechanisms in fostering fair and competitive business environments. This study employs normative legal research using a comparative law approach, based on the analysis of statutory regulations and competition law enforcement practices in the three countries. The findings indicate that Indonesia, Malaysia, and Thailand have adopted modern competition law regimes that prohibit anti-competitive agreements and the abuse of dominant positions, while entrusting enforcement to independent competition authorities. Nevertheless, notable differences remain in terms of institutional structure, scope of authority, and enforcement effectiveness, which influence the level of competition protection in each jurisdiction. Accordingly, regulatory strengthening and policy adjustments in competition law enforcement are essential for Indonesia to enhance fair and effective market competition.AbstrakPenelitian ini menganalisis penerapan regulasi dan penegakan hukum persaingan usaha di Indonesia melalui pendekatan perbandingan hukum dengan Malaysia dan Thailand. Kajian ini berfokus pada persamaan dan perbedaan substansial dalam kerangka regulasi, kewenangan lembaga persaingan usaha, serta mekanisme penegakan hukum dalam menciptakan iklim persaingan usaha yang adil dan kompetitif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perbandingan hukum yang didasarkan pada analisis peraturan perundang-undangan dan praktik penegakan hukum persaingan usaha di ketiga negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia, Malaysia, dan Thailand sama-sama mengadopsi model hukum persaingan usaha modern, melarang perjanjian anti persaingan dan penyalahgunaan posisi dominan, serta menugaskan lembaga independen sebagai penegak hukum persaingan. Namun demikian, terdapat perbedaan signifikan dalam aspek kelembagaan, cakupan kewenangan, dan efektivitas penegakan hukum yang berdampak pada perlindungan persaingan usaha. Oleh karena itu, penguatan regulasi dan penyesuaian kebijakan penegakan hukum menjadi penting bagi Indonesia.
Reposisi Desa Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia: Analisis Kewenangan Dan Otonomi Daerah
Erawan, Moh. Arief;
Ridho, Mohamad Rasyid
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 11, No 2 (2025): Published 31 Desember 2025
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v11i2.5971
AbstractVillages constitute the most fundamental level of government in Indonesia and possess original rights that existed prior to the establishment of the state. Although villages have received constitutional recognition under Article 18B of the 1945 Constitution and normative reinforcement through Law Number 6 of 2014 on Villages, the implementation of village authority continues to face significant challenges. These include regulatory disharmony with Law Number 23 of 2014 on Regional Government, intervention by regional authorities, and overlapping competencies that undermine village autonomy. This condition renders the study on the repositioning of villages within Indonesia’s constitutional system urgent. This research employs a normative juridical method using statutory and conceptual approaches. The findings indicate that, normatively, village authority reflects the principles of recognition and subsidiarity; however, in practice, villages are still treated as subordinate administrative units. This study concludes that villages must be repositioned as sui generis governmental entities through regulatory harmonization and a clearer allocation of authority between central and regional governments within the framework of the Unitary State of the Republic of Indonesia.AbstrakDesa merupakan entitas pemerintahan paling dasar yang memiliki hak asal-usul dan telah diakui secara konstitusional melalui Pasal 18B Undang-Undang Dasar 1945 serta diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Namun, dalam praktiknya penyelenggaraan kewenangan desa masih menghadapi persoalan disharmoni regulasi dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, intervensi pemerintah daerah, dan tumpang tindih kewenangan yang berdampak pada lemahnya otonomi desa. Kondisi ini menjadikan penelitian mengenai reposisi desa dalam sistem ketatanegaraan Indonesia bersifat urgen. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara normatif kewenangan desa telah mencerminkan prinsip rekognisi dan subsidiaritas, namun implementasinya masih menempatkan desa sebagai unit administratif subordinatif. Simpulan penelitian menegaskan perlunya reposisi desa sebagai entitas pemerintahan sui generis melalui harmonisasi regulasi dan penataan hubungan kewenangan pusat dan daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Membangun Keadilan dan Komitmen Global dalam Kebijakan Iklim Nasional: Analisis Reinterpretasi CBDR-RC di Indonesia
Mardiyanto, Ibnu
Jurnal Hukum Mimbar Justitia Vol 11, No 2 (2025): Published 31 Desember 2025
Publisher : Universitas Suryakancana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35194/jhmj.v11i2.5977
AbstractThis study examines the interpretation and application of the principle of Common but Differentiated Responsibilities and Respective Capabilities (CBDR-RC) in Indonesia’s climate change policies within the international climate change law regime. The analysis focuses on how this principle is operationalized within the national legal framework to balance international obligations with the State’s domestic capacities. This research employs a normative legal method, drawing on statutory and conceptual approaches, through an analysis of relevant international legal instruments and Indonesia’s national climate policies. The findings demonstrate that the reinterpretation of the CBDR-RC principle provides a legal basis for Indonesia to adopt flexible and proportionate climate policies without compromising its obligation to contribute to global emission-reduction efforts. The application of this principle underscores the dimensions of distributive justice, sustainable development, and the protection of vulnerable groups, as reflected in the formulation of national climate policies, particularly through the Nationally Determined Contributions (NDC) mechanism. This study concludes that the CBDR-RC principle holds normative significance in strengthening the legal legitimacy of Indonesia’s position and in maintaining coherence between national law and international climate change law. AbstrakPenelitian ini menganalisis pemaknaan dan penerapan prinsip Common but Differentiated Responsibilities and Respective Capabilities (CBDR-RC) dalam kebijakan perubahan iklim Indonesia sebagai bagian dari rezim hukum perubahan iklim internasional. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana prinsip tersebut dioperasionalisasikan dalam kerangka hukum nasional untuk menyeimbangkan kewajiban internasional dengan kapasitas domestik negara. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, melalui analisis terhadap instrumen hukum internasional serta kebijakan iklim nasional Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reinterpretasi prinsip CBDR-RC berfungsi sebagai dasar yuridis bagi Indonesia untuk mengadopsi kebijakan iklim yang fleksibel dan proporsional, tanpa menegasikan kewajiban kontribusi terhadap tujuan global pengurangan emisi. Penerapan prinsip ini menegaskan dimensi keadilan distributif, keberlanjutan pembangunan, dan perlindungan kelompok rentan, yang tercermin dalam perumusan kebijakan iklim nasional, khususnya melalui mekanisme Nationally Determined Contributions (NDC). Penelitian ini menyimpulkan bahwa prinsip CBDR-RC memiliki signifikansi normatif dalam memperkuat legitimasi hukum posisi Indonesia serta menjaga konsistensi antara hukum nasional dan hukum perubahan iklim internasional.