cover
Contact Name
Mukhammad Nur Hadi
Contact Email
mukhammad.nur.hadi@uinsa.ac.id
Phone
+6285280179576
Journal Mail Official
al_hukama@uinsa.ac.id
Editorial Address
Jl. A. Yani 117, Surabaya
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Al-Hukama: The Indonesian Journal of Islamic Family Law
ISSN : 20897480     EISSN : 25488147     DOI : 10.15642/alhukama
Al-Hukama serves academic discussions of any Indonesian Islamic family law issues from various perspectives, such as gender, history, sociology, anthropology, ethnography, psychology, philosophy, human rights, disability and minorities, digital discourse, and others. It intends to contribute to the debate in classical studies and the ongoing development debate in Islamic family law studies in Indonesia, both theoretical and empirical discussion. Al-Hukama always places the study of Islamic family law in the Indonesian context as the focus of academic inquiry.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 226 Documents
Nafkah Sebagai Konsekuensi Logis Pernikahan Darmawan, Darmawan
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.2.218-242

Abstract

This research aims to find out what are the forms of zahir (material) and inner (non-material) livelihood that a husband must give to his wife? Does the husband provide the living because of the obedience of the wife or because of the marriage contract? By using a qualitative approach. Zahir livelihoods are related to basic daily necessities, which can be classified as clothing, food, shelter, household costs, maintenance, and the cost of children's education. While the inner livelihood can be classified as: 1) Husband teaches the values of tauhid, morality and worship. 2) Husband treats wife well, gently. 3) Husband gives sovereignty to wife to interact with society. 4) The husband gives an explanation of what the wife is lacking. 5) Having an intimate relationship between husband and wife. Livelihood is the logical consequence of the marriage contract, both zahir and inner.Zahir is a gift the husband must give the wife after the marriage contract, provided both fulfill their obligations. Inner livelihood is mandatory support from the husband to the wife until the marriage ends, regardless of her obedience.
Akibat Hukum Sumpah Li’an yang Tidak Terbukti Kebenarannya Terhadap Status Anak Berdasarkan Hukum Islam dan Perundang-Undangan Kusmayanti, Hazar
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 1 (2020): Juni
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.1.123-149

Abstract

The journey of living in a household does not always go as it should. If the household has a condition that is no longer aligned, then there is most likely a dispute that leads to divorce. Often divorce occurs because the father doubts his son,or because his wife commits adultery. When this happens, the husband can swear li'an which results in breaking the marriage and the relationship with his son. This study intends to examine the legal consequences of a child in the event of divorce due to li'an oath when the allegations of adultery are not proven to be true. This Research method uses normative juridical. The results showed that if it turns out that the swearing statement uttered by the husband is not proven to be true, then the divorce becomes void. Li'an's divorce was decent by his father's son as a result of li'an's divorce. The son is returned to his father, so that he again raises the rights and obligations between the child and the father. [Perjalanan hidup berumah tangga tidak selalu mulus, terkadang badai menerpa. Jika rumah tangga memiliki kondisi yang tidak selaras lagi, maka kemungkinan besar terjadi perselisihan yang berujung pada perceraian. Seringkali perceraian terjadi karena ayah meragukan nasab anaknya, atau karena istrinya berzina. Ketika hal ini terjadi, maka suami dapat melakukan sumpah li’an yang berakibat memutus hubungan perkawinan dan hubungan nasab dengan anaknya. Penelitian ini bermaksud mengkaji akibat hukum anak jika terjadi perceraian karena sumpah li’an padahal tuduhan perzinahan itu tidak terbukti kebenarannya. Metode Penelitian ini menggunakan yuridis normatif. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa apabila ternyata pernyataan sumpah yang diucapkan oleh suami itu tidak terbukti kebenarannya, maka perceraian menjadi batal. Batalnya perceraian karena li’an membatalkan pula pengingkaran terhadap anak oleh ayahnya sebagai akibat hukum dari perceraian li’an. Anak menjadi dinasabkan kembali kepada ayahnya, sehingga kembali menimbulkan hak dan kewajiban antara anak dan ayah.]
Peran Single Mother Terhadap Penanganan Kebohongan Anak Melalui Komunikasi Interpersonal Perspektif Hukum Islam Batunnikmah, Khasib
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 1 (2020): Juni
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.1.99-122

Abstract

The role of parents is very important in building a child's personality. It becomes not easy when the role is only carried out by a single mother. This article aims to examine how the effects of interpersonal communication is done by singgle mother to change the attitudes of children. The importance of doing interpersonal communication is then seen also using nass. The study was conducted on two single mother informants and their children using interview and observation methods. One of the single mother informants became the single mother because of a divorce and the other because her husband passed away. They both chose to raise their children themselves so they had to play a dual role in the family. They become mothers as well as the breadwinners of the family. This fact raises deception, which is the act of avoiding hurting others by lying, between mother and child. The existence of interpersonal communication can then minimize the existence of deceptions in the communication process which can affect the relationship between parents and children. [Peran orang tua sangatlah penting dalam membangun kepribadian anak. Menjadi tidak mudah ketika peran itu hanya dijalankan oleh singgle mother. Artikel ini bertujuan mengkaji bagaimana efek komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh singgle mother terhadap perubahan sikap anak. Pentingnya melakukan komunikasi interpersonal ini kemudian dilihat juga menggunakan nass. Penelitian dilakukan terhadap dua informan singgle mother dan anak-anaknya dengan menggunakan metode wawancara dan observasi. Satu dari informan singgle mother ini menjadi singgle mother karena cerai mati dan yang lain karena cerai hidup. Mereka berdua memilih mengasuh sendiri anak-anak mereka sehingga harus menjalankan peran ganda dalam keluarga. Mereka menjadi ibu sekaligus pencari nafkah keluarga. Kenyataan ini memunculkan deception, yaitu tindakan menghindari menyakiti orang lain dengan cara berbohong, antara ibu dan anak. Adanya komunikasi interpersonal kemudian dapat meminimalisir adanya deception-deception dalam proses komunikasi yang dapat mempengaruhi hubungan antara orang tua dan anak.]
Khul' Menurut Imam Syafi'i dan Imam Hanbali: Mencari Relevansinya di Indonesia Kurniawan, Edi; Fadhlan , Ulul Albab; Yanti, Illy
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 1 (2020): Juni
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.1.150-170

Abstract

Khul' or divorce requested by a wife is one of the causes marital termination. According to Imam Syafi'i, khul' is a divorce (talak) with an  'iddah of three menstruat cycles. In contrast, for Imam Hanbali, khul' is fasakh in which its 'iddah is one menstrual cycle and its legality does not require a judge's decision. This difference has dissimilar legal implications when it is applied in Indonesia. Therefore, this article aims to seek the both relevancies in the context of Indonesian law, especially under the Compilation of Islamic Law and the nature of the religious practice of Indonesian Muslims. After examining the relevant literature sources, this article shows that, both Imam Syafi'i and Imam Hanbali agree that khul' is like a buy-sell contract, and hence a judge's decision is not required. However these both agremeents are not relevance under the Compilation of Islamic Laws, but the Imam Hanbali's fiqh in which khul' as fasakh would be difficult to seek its relevance. Thus, the fiqh of Imam Syafi'i is more appropriate, since beside it is used as a basis for the Compilation of Islamic Laws the majority of Indonesian Muslims embrace the Syafi’i mazhab. [Khulʻ atau tebus talak merupakan salah satu penyebab putusnya perkawinan. Menurut Imam Syafi’i, khulʻ adalah talak dengan ʻiddah tiga kali haid. Sebaliknya, menurut Imam Hanbali, kedudukan khulʻ adalah fasakh dengan ʻiddah satu kali haid serta ketetapannya tidak memerlukan keputusan hakim. Perbedaan ini memiliki implikasi hukum yang berbeda-beda jika diterapkan di Indonesia. Karena itu, tulisan ini mencoba mencari relevansi keduanya dalam konteks hukum di Indonesia khususnya di bawah Kompilasi Hukum Islam dan watak pengamalan beragama umat Islam Indonesia. Setelah menelaah sumber-sumber pustaka yang relevan, tulisan ini menunjukkan bahwa, baik Imam Syafiʻi maupun Imam Hanbali bersepakat bahwa khulʻ layaknya seperti (akad) jual beli sehingga tidak membutuhkan hakim di pengadilan. Walaupun kedua kesepakatan ini tidak relevan ditinjau dari sisi kompilasi hukum Islam, fiqih Imam Hanbali yang menyatakan khulʻ sebagai fasakh sulit untuk menemukan keselarasannya. Karena itu, pendapat Imam Syafi’i lebih tepat, selain ia dijadikan sebagai dasar penyusunan Kompilasi Hukum Islam, juga karena umat Islam Indonesia mayoritas bermazhab Syafiʻi.]
Ijbar Nikah di Kampung Sidosermo Dalam Surabaya Perspektif Hukum Islam Argo, Abdulloh Faqih Putro; Amin, Mokhammad Rizky Khoirul; Nurkholis, Muh; Rouf , Abdul; Musyafa’ah, Nur Lailatul
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.2.295-318

Abstract

This article discusses about the forced marriage in Sidosermo Dalam Surabaya to be analyzed by Islamic law. This research is field research and is qualitative in nature. Data were collected through interviews and documentation, then analyzed deductively. The forced marriage still occurs in Sidosermo Dalam Surabaya. Marriage was motivated by several reasons: the factor of parents' concern for their child, the factor of family relations, the existence of myths, the existence of Syafii's understanding of fiqh that allows the forced marriage, and economic factors. The forced marriage can occur in girls and boys even though they are adults. In Islamic law, all schools of thought think that the permissible marriage permit is for girls who are not yet mature, while for those who are adults or who are widows there is a dispute between the imam of the mazhab. In the KHI, the forced marriage should not occur because the marriage can be carried out with the consent of the two prospective brides. [Artikel ini membahas tentang ijbar nikah di Sidosermo Dalam Surabaya untuk dianalisis dengan hukum Islam. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dan bersifat kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deduktif. Ijbar nikah masih terjadi secara masif di Kampung Sidosermo Dalam Surabaya. Perkawinan itu dilatarbelakangi oleh beberapa sebab, yaitu faktor kekhawatiran orang tua terhadap anaknya, faktor hubungan keluarga, adanya mitos, dan adanya pemahaman fikih Syafii yang membolehkan ijbar nikah. Ijbar nikah tersebut bisa terjadi pada anak perempuan dan laki-laki meski sudah dewasa. Dalam hukum Islam, semua mazhab berpendapat bahwa ijbar nikah yang diperkenankan adalah kepada anak perempuan yang belum dewasa, sedangkan yang sudah dewasa atau yang janda terdapat perselisihan di antara imam mazhab. Dalam KHI, ijbar nikah tidak semestinya terjadi karena pernikahan bisa dilakukan dengan persetujuan dari kedua calon mempelai.]
Tatacara Pemeriksaan Permohonan Dispensasi Kawin Menurut Perma Nomor 5 Tahun 2019 (Analisis Putusan No.0017/Pdt.P/2020/Pa.Lpk) Nasution, Muhammad Syukri Albani; Akbar , Ali; Siagian , Maimunah
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.2.271-294

Abstract

Children have the right to choose, whether to marry or not, and when their choice falls to marry, then the biggest thing to be considered is the age, the age that is considered safe and permissible for marriage, from a health perspective, from a psychological perspective, as well as from an economic standpoint. This study aims to see how the judges consideration in deciding marriage dispensation cases, based on the analysis of the judge's decision No.0017 / Pdt.P / 2020 / PA.Lpk. The method used in this research is normative juridical. Indonesia as a State party to the Convention on the rights of the child (Convention on the rights of children) assert, that all actions concerning children undertaken by institutions, social welfare institutions, state or private, courts, administrative authorities or legislative bodies, are implemented in the best interest of the child, to provide protection for children who choose to marry while they are hindered by age. [Anak merupakan amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya serta memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang. Anak memiliki hak untuk memilih, antara menikah atau tidak, dan ketika pilihan mereka jatuh kepada menikah, maka hal yang paling besar untuk menjadi pertimbangan adalah umur, umur yang dianggap aman dan boleh untuk melangsungkan pernikahan, di pandang aman dari sisi kesehatan, dari sisi psikologis, maupun dari dari sisi ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pertimbangan yang dilakukan hakim dalam memutuskan perkara dispensasi nikah, berdasarkan analisis putusan hakim No.0017/Pdt.P/2020/PA.Lpk. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah dengan menggunakan yuridif normatif. Indonesia sebagai Negara pihak dalam Convention on the Rights of the Child (Konvensi tentang Hak-hak Anak) menegaskan, bahwa semua tindakan mengenai anak yang dilakukan oleh lembaga, baik lembaga kesejahteraan sosial, negara atau swasta, pengadilan, penguasa administratif atau badan legislatif, dilaksanakan demi kepentingan terbaik anak, memberikan perlindungan terhadap anak yang memilih untuk menikah sementara dia terhalang oleh umur.]
The Problematics of Simple Lawsuit Implementation To Reduce Civil Cases In Supreme Court Sugeng, Bambang; Vandawati Ch., Zahry
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 1 (2020): Juni
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.1.171-194

Abstract

This research has purpose to analyze the implementation of a simple lawsuit settlement to reduce the accumulation of civil cases in the Supreme Court. Also to aanalyze the constraints and obstacles in the application of simple claim resolution to reduce the buildup of civil cases and investigate the constraints and obstacles in the application of simple claim resolution to reduce the buildup of civil cases. This research is normative legal research that used the approach of statute approach and conceptual approach. The result of this research indicated that the implementation of simple lawsuit mechanismin court process could be quite helpful for citizen to settle the civil cases on state court with a quick process, simple system and low cost. In the context of implementing a simple lawsuit mechanism in court proceedings, there are several obstacles and have not maximally utilized in society, such as the minimum limit for the value of material claims is at most Rp. 200,000,000.00 (two hundred million rupiahs). [Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan penyelesaian gugatan sederhana yang dapat digunakan untuk mengurangi penumpukan perkara perdata di Mahkamah Agung, serta menganalisis kendala dan kendala dalam penerapan penyelesaian gugatan sederhana guna mengurangi penumpukan perkara perdata. kasus perdata dan menganalisis kendala dan hambatan dalam penerapan penyelesaian gugatan sederhana untuk mengurangi penumpukan kasus perdata. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan statuta dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan mekanisme gugatan sederhana dalam proses peradilan dapat sangat membantu warga negara untuk menyelesaikan perkara perdata di pengadilan negara dengan proses yang cepat, sistem yang sederhana dan biaya yang murah. Dalam rangka penerapan mekanisme gugatan sederhana di pengadilan. Dalam proses persidangan terdapat beberapa kendala dan belum dimanfaatkan secara maksimal di masyarakat, antara lain, batas minimal nilai klaim materiil paling banyak Rp. 200.000.000.00 (dua ratus juta rupiah).]  
Kisah Perempuan Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong: Perjuangan untuk Keluarga dan Pendidikan Anak Siregar, Wahidah Zein Br
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.2.243-270

Abstract

This study aims to describe struggle of Nurdiana and Tira, two Indonesian female migrant workers who work in domestic sector in Hong Kong. They are part of thousands of Indonesian migrant workers in this country. Data from BNP2TKI shows that in 2019 only, there were 70,840 migrant workers placed in Hong Kong. Most of them are women. These women work in informal sectors, particularly domestic works. Using life story method, this research is able to find out that the main reason for both Nurdiana and Tira to work in Hong Kong is to fulfill their family needs and support education of their children. Their children are studying in Pesantren. Life story gives chances to both informants to talk more about their work, their relation with employers, family, friends, and challenges they face, including that of COVID-19. Their stories provide an understanding of the real situation faced by these two family heroes.   [Studi ini bertujuan menguraikan kisah perjuangan Nurdiana dan Tira, dua orang perempuan pekerja migran yang sedang bekerja di sektor domestik di Hong Kong. Mereka berdua adalah bagian dari puluhan ribu pekerja migran Indonesia di negara ini. Data dari BNP2TKI menunjukkan bahwa pada tahun 2019 saja terdapat 70.840 pekerja migran Indonesia yang penempatannya di Hong Kong. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan. Mereka ini bekerja pada sektor informal, khususnya menjadi asisten rumah tangga. Dengan menggunakan metode life story, penelitian ini menemukan bahwa Nurdiana dan Tira bekerja di Hong Kong untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anak-anak mereka. Anak-anak tersebut saat ini sedang belajar di berbagai Pesantren. Life story memberikan kesempatan pada kedua informan untuk menceritakan secara lebih luas tentang pekerjaan mereka, hubungan mereka dengan majikan, keluarga, teman, dan tantangantantangan hidup yang mereka hadapi, termasuk COVID-19. Kisah hidup mereka, memberikan pemahaman tentang situasi ril yang dihadapi para pahlawan keluarga ini.]
Islam dan Adat dalam Tradisi Perkawinan Masyarakat Suku Bugis: Analisis Interaksionisme Simbolik Haq, Abd. Sattaril
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.2.349-371

Abstract

This article intends to examine the relationship between Islam and adat in the Bugis traditional wedding procession using symbolic interactionism analysis. The procession of the Bugis traditional wedding tradition is divided into several parts, namely mappese-pese or mabbaja laleng which is interpreted as a process to find out whether the couple to be married has a fiance or not, this is intended as a form of caution not to propose to a woman who has been proposed by other people. Madduta is done as a form of appreciation or love among humans. Mappettu ada is meant to reinforce the outcome of the conversation and is intended to elevate the position of women in the procession. Mappacci is meant to carry out the self-cleaning process by using several traditional instruments and using the Koran and praise to the Prophet in the form of reading barazanji as its main foundation and giving leko' is meant as a form of husband's responsibility in providing for his wife. This gives legitimacy that Islam and customs in the tradition of Bugis marriage harmonize a form of acceptance of the Bugis community with Islamic values described in the traditions being carried out. [Artikel ini dimaksudkan untuk menelaah relasi Islam dan adat dalam prosesi adat pernikahan masyarakat Bugis dengan menggunakan analisis interaksionisme simbolik. Prosesi adat tradisi pernikahan suku Bugis dibagi menjadi beberapa bagian yaitu mappese-pese atau mabbaja laleng yang dimaknai dengan proses untuk mengetahui apakah pasangan yang akan dinikahi tersebut telah memiliki tunangan atau belum, hal ini dimaksudkan sebagai bentuk kehati-hatian untuk tidak melamar wanita yang telah dilamar oleh orang lain. Madduta dilakukan sebagai bentuk penghargaan atau cinta kasih sesama manusia. Mappettu ada dimaksudkan untuk memperteguh hasil pembicaraan dan dimaksudkan untuk meninggikan derajat perempuan di dalam prosesi tersebut. Mappacci dimaksudkan untuk melakukan proses pembersihan diri dengan menggunakan beberapa instrument adat serta menggunakan al-Qur’an dan pujian kepada Nabi dalam bentuk pembacaan barazanji sebagai pondasi utamanya dan pemberian leko’ dimaksudkan sebagai bentuk tanggung jawab suami dalam menafkahi istrinya. Hal tersebut memberikan legitimasi bahwa Islam dan adat dalam tradisi perkawinan suku Bugis berjalan beriringan atau bentuk penerimaan masyarakat Bugis dengan nilai-nilai Islam dijabarkan dalam tradisi-tradisi yang dijalankan.]
Tradisi Ngorek Pada Upacara Nyongkolan Perkawinan Adat Sasak Tanak Awu Jamaludin, Jamaludin; Sugitanata, Arif
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.2.319-348

Abstract

This article discusses the tradition of ngorek at the nyongkolan ceremony in the traditional Sasak Tanak Awu marriage. The ngorek tradition is a tradition which is done in the afternoon when the nyongkolan event is taking place. At the time of the event, the groomsmen perform the tradition of chopping or stabbing one of his own limbs with a sharp weapon such as swords, kris and so on, so that sometimes these activities cause injuries to their limbs. The main focus of the study of this article is why the Sasak Tanak Awu people still practice the tradition of ngorek by using the concept of reasons for the emergence of legal practice in society which was initiated by Satjipto Raharjo, this paper finds that the factors of the Tanak Awu Village community in carrying out the Ngorek tradition are, first, to show off invulnerability, second, attracts girls and third, keeps tradition. [Artikel ini membahas mengenai tradisi ngorek pada upacara nyongkolan dalam perkawinan adat Sasak Tanak Awu. Tradisi ngorek adalah sebuah tradisi di mana dilakukan pada sore hari ketika acara nyongkolan sedang berlangsung. Pada saat acara tersebut, laki-laki pengiring pengantin melakukan tradisi ngorek dengan cara membacok atau menusuk salah satu anggota badannya sendiri dengan keras menggunakan senjata tajam seperti pedang, keris dan lain sebagainya, sehingga terkadang kegiatan tersebut menyebabkan terjadinya lukaluka pada anggota badan merekaf. Fokus utama kajian artikel ini adalah mengapa masyarakat Sasak Tanak Awu masih melakukan tradisi ngorek dengan menggunakan konsep alasan munculnya praktek hukum dalam masyarakat yang digagas oleh Satjipto Raharjo, tulisan ini menemukan bahwa faktor-faktor masyarakat Tanak Awu melakukan tradisi ngorek adalah, pertama, untuk memamerkan ilmu kebalnya. Kedua, menarik perhatian para gadis dan ketiga, menjaga tradisi.]