cover
Contact Name
La Ode Marsudi
Contact Email
marsudi@itkeswhs.ac.id
Phone
+6285273563932
Journal Mail Official
jutelmo@itkeswhs.ac.id
Editorial Address
Jl. Kadrie Oening No. 77 Samarinda, Kalimantan Timur
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
ISSN : 28099036     EISSN : 28100794     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Teknologi Laboratoium Medik Borneo adalah jurnal akses terbuka yang diterbitkan dua kali setahun oleh Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda. Jurnal ini merupakan media publikasi penelitian tentang segala aspek ilmu Teknologi Laboratorium Medik yang inovatif, kreatif, orisinal dan berbasis ilmiah. Topik yang diangkat meliputi Hematologi, Kimia Klinik, Imunologi, Sitohitoteknologi, Bakteriologi, Parasitologi, dan Toksikologi Klinik
Articles 68 Documents
PENGARUH PAPARAN BENZENA TERHADAP HASIL PEMERIKSAAN DARAH RUTIN PADA PETUGAS SPBU DI KOTA MATARAM Ica Ovia
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jutelmo.v5i2.1991

Abstract

Latar Belakang :Benzena merupakan senyawa kimia bersifat karsinogenik yang banyak ditemukan di lingkungan kerja seperti SPBU, terutama berasal dari uap bahan bakar jenis pertalite dan pertamax. Paparan benzena yang masuk ke tubuh melalui inhalasi dapat memengaruhi sistem hematopoetik, yang ditandai dengan penurunan kadar hemoglobin, eritrosit, leukosit, dan trombosit. Tujuan Penelitian : Mengetahui pengaruh paparan benzena terhadap hasil pemeriksaan darah rutin pada petugas SPBU di Kota Mataram. Metode Penelitian : menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Pemeriksaaan sampel dilakukan dengan menggunakan alat hematology analyzer. Hasil Penelitian: Rerata hasil pemeriksaan darah rutin pada petugas SPBU di Kota Mataram untuk masa kerja 6 bulan, kadar hemoglobin 14,57 g/dL, eritrosit 4,98 juta/μL, leukosit 8,07 10³/μL, dan trombosit 249,17 10³/μL. Masa kerja 1 tahun, kadar hemoglobin menjadi 13,09 g/dL, eritrosit menjadi 4,04 juta/μL dan leukosit menjadi 6,72 10³/μL dan trombosit 251,33 10³/μL. Masa kerja 1,5 tahun, kadar hemoglobin sebesar 13,28 g/dL, eritrosit 4,43 juta/μL dan leukosit 5,54 10³/μL dan trombosit 258,67 10³/μL. Uji statistik kadar hemoglobin (p = 0,028), jumlah leukosit (p = 0,039), jumlah eritrosit (p = 0,058) dan jumlah trombosit (p = 0,968). Kesimpulan : Paparan benzena berpengaruh terhadap kadar hemoglobin dan jumlah leukosit pada petugas SPBU dengan nilai p = 0,028 dan p = 0,039 (p < 0,05), sedangkan jumlah eritrosit dan jumlah trombosit tidak berpengaruh terhadap paparan benzena pada petugas SPBU . Kunci : Paparan Benzena, Petugas SPBU, Darah Rutin
Pengaruh Lama Konsumsi Obat Tenofovir Terhadap Kadar Hemoglobin dan Nilai MCV (Mean Corpuscular Volume) Pada Penderita Hepatitis B putri utami; Erna Kristinawati; Nurul Inayati
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jutelmo.v5i2.1997

Abstract

Penggunaan Tenofovir jangka panjang pada penderita Hepatitis B dapat mempengaruhi hemoglobin dan nilai MCV. Efek samping obat tenofovir berpotensi mengganggu proses pembentukan sel darah merah melalui toksisitas, yang dapat menyebabkan anemia atau perubahan morfologi eritrosit. Oleh karena itu, pemantauan kadar hemoglobin dan MCV penting dilakukan untuk menilai dampak terapi jangka panjang terhadap kondisi hematologis penderita hepatitis B. Tujuan penelitiann untuk mengetahui pengaruh lama konsumsi obat tenofovir terhadap kadar hemoglobin dan nilai MCV (Mean Corpuscular Volume) pada penderita hepatitis B. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional, jumlah sampel sebanyak 24 penderita hepatitis B yang mengkonsumsi tenofovir dengan pemeriksaan kadar hemoglobin dan nilai MCV. Data yang dikumpulkan, kemudian dilakukan uji normalitas dengan uji Shapiro Wilks dan dilanjutkan dengan One Way Annova. Hasil penelitian mendapatkan rerata pada penderita Hepatitis B yang konsumsi tenofovir selama 3 bulan dengan kadar hemoglobin = 14,2 dan nilai MCV = 84,1. Penderita Hepatitis B yang konsumsi tenofovir selama 6 bulan didapatkan rerata kadar hemoglobin =12,2 dan nilai MCV = 89,0. Dan penderita Hepatitis B yang konsumsi tenofovir selama 12 bulan diperoleh rerata kadar hemoglobin = 9,8 dan nilai MCV = 76,3. Berdasarkan hasil uji One Way Annova didapatkan nilai (p: 0.003) dan (p: 0.032) < 0.05, yang disumpulkan ada pengaruh lama konsumsi obat Tenofovir terhadap kadar hemoglobin dan nilai MCV (Mean Corpuscular Volume) pada penderita hepatitis B.
Pengaruh Pemberian Teh Hijau (Camellia Sinensis) Terhadap Kadar Asam Urat Pada Penderita Hiperurisemia Lisda Ramadhania; Lalu Srigede; Thomas Tandi Manu; I Wayan Getas
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jutelmo.v5i2.2005

Abstract

Latar Belakang : Hiperurisemia adalah keadaan meningkatnya kadar asam urat dalam darah yang berpotensi menimbulkan komplikasi berupa gout artritis maupun gangguan kardiovaskular. Teh hijau (Camellia sinensis) mengandung senyawa bioaktif seperti epigallocatechin gallate (EGCG) dan flavonoid yang berpotensi mengurangi kadar asam urat dengan cara menghambat aktivitas enzim xanthine oxidase. Tujuan Penelitian : Menganalisis efek konsumsi teh hijau terhadap kadar asam urat pada individu dengan hiperurisemia. Metode Penelitian : Penelitian pre-exsperimental dengan cara one group pre-test post-test pada 30 responden hiperurisemia di Wilayah Kerja Puskesmas Gunungsari. Intervensi teh hijau dilakukan selama 14 hari, data dianalisis menggunakan uji statistik paired sample t-test. Hasil Penelitian: Rerata kadar asam urat sebelum pemberian teh hijau sebesar 8,00 mg/dL dan sesudah pemberian teh hijau sebesar 6,88 mg/dL. Berdasarkan uji statistik paired sample t-test didapatkan nilai signifikan 0,000 (p<0,05). Kesimpulan : Terdapat pengaruh yang signifikan pada pemberian teh hijau terhadap kadar asam urat pada penderita hiperurisemia.  
Analisis Korelasi Nilai Mean Corpuscular Hemoglobine (MCH) dengan Kadar Magnesium pada Pasien Tuberkulosis Fase Intensif Gladys Theodora Pricillia Sinurya; Sabarina Elfrida Manik; Dian Rachman Wijayanti
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jutelmo.v5i2.2030

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (MTB), dapat mengakibatkan gangguan pada sistemik termasuk gangguan hematologi dan metabolisme mineral. Salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien TB adalah anemia dan keseimbangan elektrolit, seperti penurunan kadar magnesium. Mean Corpuscular Hemoglobine (MCH) merupakan parameter hematologi yang mencerminkan rata-rata jumlah hemoglobin dalam satu sel darah merah dan dapat menurun pada kondisi anemia. Magnesium memiliki peran penting dalam sintesis protein dan fungsi enzimatik yang mempengaruhi produksi hemoglobin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara nilai MCH dengan kadar magnesium pada pasein TB. Desain penelitian ini menggunakan adalah cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 59 pasien TB. Hasil analisis menggunakan uji Spearman menunjukan adanya hubungan positif yang signifikan antara nilai MCH dan kadar magnesium dengan nilai p = 0,01 dan kofisien korelasi r = 0,55, yang berarti berbanding lurus, semakin turun nilai MCH maka semakin turun juga kadar magnesium begitupun sebaliknya. Penelitian ini memberikan gambaran awal mengenai kemungkinan keterkaitan antara parameter hematologi dengan status elektrolit.
Analisis Pengaruh Variasi Waktu Inkubasi Sampel Terhadap Tingkat Presisi Dan Akurasi Pada Quality Control (QC) Pemeriksaan Cholesterol : Analysis of the Effect of Variations in Sample Incubation Time on Precision and Accuracy Levels in Quality Control (QC) of Cholesterol Testing Yunita Wardani; Urip Urip; Yunan Jiwintarum; Iswari Pauzi
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jutelmo.v5i2.2041

Abstract

Pemeriksaan cholesterol metode fotometri memerlukan waktu inkubasi yang konsisten untuk menjamin presisi dan akurasi hasil.Tujuan penelitian ini Mengetahui pengaruh variasi waktu inkubasi sampel terhadap Tingkat presisi dan akurasi pada quality control (QC) hasil pemeriksaan cholesterol menggunakan metode fotometri.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimental dimana populasi dan sampel penelitian ini adalah serum darah responden untuk pemeriksaan cholesterol. Penelitian ini dilakukan dengan mengukur kadar cholesterol variasi waktu inkubasi yang di modifikasi menjadi empat perlakuan yaitu, satu variasi waktu inkubasi (5 menit),variasi waktu inkubasi (10 menit), variasi waktu inkubasi (15 menit) dan variasi waktu inkubasi (20 menit). Data dianalisis untuk presisi dan akurasi, serta diuji statistik menggunakan One-Way ANOVA.Hasil pemeriksaan didapatkan Variasi waktu inkubasi pada kelompok perlakuan (5 menit) menunjukkan KV 3,30% dan recovery 98,78% hasil presisi dan akurasi, kelompok perlakuan (10 menit) menunjukkan KV 2,87% dan recovery 99,86% hasil presisi dan akurasi, kelompok perlakuan (15 menit) menunjukkan KV 2,56% dan recovery 100,20% hasil presisi dan akurasi, dan kelompok perlakuan (20 menit) menunjukkan 2,92% dan recovery 101,36% hasil presisi dan akurasi. Analisis statistik dengan uji One-way ANOVA didapatkan hasil (p) .538 (P> 0,05) yang menunjukkan tidak ada pengaruh pada quality control pemeriksaan cholesterol metode fotometri.Kesimpulan yang didapat Presisi dan Akurasi dari pengaruh waktu inkubasi (5 menit),(10 menit),(15 menit),(20 menit),adalah bagus.
Gambaran SGPT dan SGOT Penderita Hepatitis A dan Hepatitis C di Rumah Sakit Dirgahayu Tahun 2023-2024 Muhammad Syahrul Mubarak Djung; Supri Hartini; I Gede Andika Sukarya
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jutelmo.v5i2.2068

Abstract

Hepatitis merupakan penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus, salah satunya Hepatitis A dan C. Pemeriksaan enzim hati seperti SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) dan SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) berperan penting dalam mendeteksi adanya kerusakan hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui masing-masing gambaran kadar SGPT dan SGOT pada penderita Hepatitis A dan C di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda pada tahun 2023 hingga 2024. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan retrospektif terhadap data sekunder dari tahun 2023-2024 sebanyak 7 penderita yang melakukan pemeriksaan SGOT dan SGPT. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan SGPT dan SGOT lebih banyak terjadi pada laki-laki dengan rentang usia remaja hingga dewasa. Pada tahun 2023 ,Hepatitis A ada 1 penderita dengan jenis kelamin perempuan pada usia 25-54 tahun dan Hepatitis C ada 2 penderita laki-laki pada usia 15-24 tahun, pada tahun 2024, Hepatitis A ada 1 penderita dengan jenis kelamin laki-laki pada usia 55-80 tahun dan Hepatitis C ada 3 penderita dengan jenis kelamin laki-laki pada usia 25-54 tahun. Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan kadar SGPT dan SGOT yang meningkat secara signifikan pada penderita Hepatitis A dan C sehingga terjadi kerusakan sel-sel hati yang relevan secara klinis. Oleh karena itu, pemeriksaan kedua enzim ini dapat dijadikan indikator penting dalam diagnosis, pemantauan, dan penanganan penderita Hepatitis secara lebih dini dan tepat.
Analisis Kepatuhan Proses Pemeriksaan Feses Lengkap Berdasarkan Standar Mutu Laboratorium Maya Tamara Mawardani; Rizki Higiansyah
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jutelmo.v5i2.2194

Abstract

Proses pencernaan makanan masuk kedalam tubuh akan dicerna menjadi sari-sari makanan yang diserap oleh usus, sedangkan sisanya yang tidak diserap oleh tubuh akan dikeluarkan dalam bentuk feses. Setiap individu memiliki pola buang air besar yang berbeda-beda, dimana pola buang air besar tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain asupan cairan, aktivitas, asupan serat dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Apabila konsumsi serat dalam makanan, konsumsi cairan, dan pemenuhan kebutuhan aktivitas tidak terpenuhi maka akan menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan Tujuan : Melakukan pemeriksaan dan analisis teoritis hasil pemeriksaan feses lengkap Laboratorium Patologi Klinik RSUD X. Tata laksana : Pelaksanaan tugas akhir ini dilakukan pada tanggal 15 Januari 2024 sampai dengan 23 Febuari 2024 di Laboratorium Patologi Klinik RSUD X. Metode : direct slide, sampel akan terwarnai dengan eosin 2% sehingga akan lebih jelas membedakan telur cacing dengan kotoran disekitarnya. Hasil : Telah didapatkan hasil pengamatan pemeriksaan feses lengkap secara makroskopis dan mikroskopis sebanyak 30 sampel dengan hasil yang normal Kesimpulan : Pemeriksaan feses lengkap pada tahap pra analitik, analitik dan pasca analitik, pemantapan mutu internal (PMI), Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan Good Laboratory Practice (GLP) telah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).    
Evaluasi Kualitas Pemeriksaan Liquor Cerebrospinalis pada Tahap Pra-Analitik, Analitik, dan Pasca-Analitik di Laboratorium Patologi Klinik: Quality Evaluation of Cerebrospinal Fluid Examination at the Pre-Analytical, Analytical, and Post-Analytical Stages in the Clinical Pathology Laboratory Rinda Aulia Utami; Muhammad Fahmi Aminuddin; Maya Tamara Mawardani; Devi Imelia; La Ode Marsudi
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jutelmo.v5i2.2197

Abstract

Background: Cerebro Spinalis Fluid (CSF) examination can help establish a diagnosis of diseases affecting the central nervous system, including meningitis, increased WBC count, polymorphonuclear ions, and mononuclear ions. Color and clarity examinations are interrelated, and can also detect increased protein in the fluid. Purpose : To determine and observe the techniques and steps of CSF examination. Procedure: Observations were conducted on January 6th – February 6th, 2025 at the Clinical Pathology Laboratory of Abdoel Wahab Sjahranie Regional Hospital, Samarinda. Methods: This type of research is quantitative and uses descriptive analytical methods. Results: This observation obtained 15 samples, the quality of examination at the pre-analytical, analytical, and post-analytical stages was generally good. All samples were accepted and processed according to procedure at the pre-analytical stage. At the analytical stage, protein testing showed 40% positive and 60% negative results with a predominance of mononuclear cells, and no discrepancies were found between parameters. At the post-analytical stage, recording and reporting of results were carried out accurately according to procedure. Conclusion: The CSF examination system in the laboratory has met the basic principles of quality control, but still requires regular evaluation and monitoring to maintain and improve service quality.