cover
Contact Name
La Ode Marsudi
Contact Email
marsudi@itkeswhs.ac.id
Phone
+6285273563932
Journal Mail Official
jutelmo@itkeswhs.ac.id
Editorial Address
Jl. Kadrie Oening No. 77 Samarinda, Kalimantan Timur
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
ISSN : 28099036     EISSN : 28100794     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Teknologi Laboratoium Medik Borneo adalah jurnal akses terbuka yang diterbitkan dua kali setahun oleh Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda. Jurnal ini merupakan media publikasi penelitian tentang segala aspek ilmu Teknologi Laboratorium Medik yang inovatif, kreatif, orisinal dan berbasis ilmiah. Topik yang diangkat meliputi Hematologi, Kimia Klinik, Imunologi, Sitohitoteknologi, Bakteriologi, Parasitologi, dan Toksikologi Klinik
Articles 80 Documents
Pengaruh Pemberian Madu Hutan Terhadap Penurunan Kadar Kolesterol: Effect of Giving Wild Honey on Cholesterol Levels Reduction Silviyani Silviyani
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/yqjpnb73

Abstract

Hiperkolesterolemia adalah kondisi peningkatan kadar kolesterol yang menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular seperti aterosklerosis, stroke, dan serangan jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek terapi madu hutan, yang kaya akan senyawa flavonoid dan polifenol yang bersifat antioksidan, dalam menurunkan kadar kolesterol. Senyawa-senyawa ini berperan menghambat oksidasi kolesterol LDL dan meningkatkan HDL. Studi ini mengadopsi desain pra-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest, melibatkan 30 pasien hiperkolesterolemia di Puskesmas Babakan. Responden diberikan madu hutan dengan dosis dua kali sehari selama 14 hari. Kadar kolesterol diukur pada dua fase yakni sebelum intervensi dan sesudah intervensi menggunakan alat POCT, dan data dianalisis menggunakan paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan penurunan rata-rata kadar kolesterol secara signifikan, dari 222,13 mg/dL pada pretest menjadi 209,4 mg/dL pada posttest. Analisis statistik menghasilkan nilai p = 0,000, yang lebih kecil dari α (0,05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemberian madu hutan memiliki pengaruh signifikan dalam menurunkan kadar kolesterol.
Pengaruh Waktu Istirahat Terhadap Hasil Uji Protein Urine Pada Pekerja Bangunan: Effect of Rest Time on Urine Protein Test Results in Construction Workers Risa Amelia
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/snc61d90

Abstract

Latar Belakang: Aktivitas fisik dapat menyebabkan pengeluaran protein dalam urine yang mirip dengan tanda penyakit ginjal, tetapi keadaan ini tidak berbahaya, bersifat sementara dan reversibel. Proteinuria sementara akan negatif pada pemeriksaan setelah istirahat. Pekerja bangunan adalah pekerja dengan aktivitas fisik intensitas berat. Aktivitas fisik yang dilakukan pekerja bangunan dapat menyebabkan terjadinya proteinuria sementara. Tujuan Penelitian: Mengetahui pengaruh waktu istirahat terhadap hasil uji protein urine pada pekerja bangunan. Metode Penelitian: Rancangan penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Sampel urine yang diperiksa sebanyak 30 sampel pekerja bangunan diambil secara purposive sampling dengan pemeriksaan protein urine sebelum aktivitas fisik, setelah aktivitas fisik, 2 jam, 4 jam, dan 6 jam setelah istirahat. Pemeriksaaan protein urine dengan menggunakan metode carik celup. Data dianalisis mengunakan metode deskriptif. Hasil Penelitian: Menunjukkan protein urine sebelum melakukan aktivitas fisik seluruh sampel negatif, protein urine setelah melakukan aktivitas fisik seluruh sampel positif, protein urine pada pemeriksaan 2 jam setelah istirahat dengan 28 sampel negatif dan 2 sampel positif (+1), 4 jam dan 6 jam setelah istirahat seluruh sampel negatif. Kesimpulan: Ada pengaruh waktu istirahat terhadap hasil uji protein urine pada pekerja bangunan.
Perbedaan Jumlah Leukosit dan Kadar Hemoglobin pada Penderita Tuberkulosis Paru Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) GeneXpert: Differences in Leukocyte Count and Hemoglobin Levels in Pulmonary Tuberculosis Patients Based on the Results of the Molecular Rapid Test (TCM) GeneXpert Dwi Putri Ramadani
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/7q14rt48

Abstract

Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan global, termasuk di Indonesia. Diagnosis TB paru kini semakin akurat dengan pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) GeneXpert. Selain diagnosis hasil TCM, pemeriksaan hematologi seperti jumlah leukosit dan kadar hemoglobin penting untuk menilai kondisi sistemik pasien TB paru. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jumlah leukosit dan kadar hemoglobin pada penderita TB paru berdasarkan hasil pemeriksaan TCM GeneXpert. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan Cross-Sectional. Sampel diambil secara total sampling dari seluruh pasien TB paru di RSUD Patut Patuh Patju Gerung yang menjalani pemeriksaan TCM GeneXpert dan hematologi pada tahun 2023, dengan jumlah total 107 pasien. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis karena distribusi data tidak normal. Hasil dinyatakan tidak signifikan pada jumlah leukosit pasien TB Paru karena nilai asymp. Sig. jumlah leukosit >0.05 dan hasil dinyatakan signifikan pada kadar hemoglobin pasien TB paru karena nilai asymp. Sig. kadar hemoglobin <0.05.Hasil pemeriksaan TCM GeneXpert tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah leukosit, namun berpengaruh signifikan terhadap kadar hemoglobin pada penderita TB paru.
Pengaruh Konsumsi Obat, Pola Makan, Kadar Trigliserida Terhadap Tekanan Darah pada Lansia Yang Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Babakan: The Effect of Drug Consumption, Diet, Triglyceride Levels on Blood Pressure in Elderly People with Hypertension in The Babakan Health Center Working Area Ririn Eryanti Yustika
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/4sc39e92

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi merupakan masalah kesehatan global dengan kasus diperkirakan mencapai 1,15 miliar pada tahun 2025, termasuk di Indonesia. Terutama pada usia lanjut. Tekanan darah dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk kepatuhan konsumsi obat, pola makan dan kadar trigliserida. Trigliserida yang tinggi dapat mengakibatkan aterosklerosis dan dapat meningkatkan tekanan darah melalui mekanisme vasokontriksi dan peningkatan viskositas darah dan kadar trigliserida diperiksa menggunakan metode POCT yang cepat dan praktis sesuai diterapkan di layanan primer seperti Puskesmas.  Tujuan Penelitian: Menganalisis pengaruh antara konsumsi obat, pola makan, dan kadar trigliserida terhadap tekanan darah pada lansia yang hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Babakan. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan  crosssectional. Sampel terdiri dari 30 lansia hipertensi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulin melalui kuisioner MMAS-8 untuk mengukur kepatuhan konsumsi obat, kuisioner FFQ 28 item untuk menilai pola makan, serta pemeriksaan kadar trigliserida menggunakan alat POCT MultiCare-in. Hasil Penelitian : Hasil uji secara simultan (uji F) menunjukkan bahwa konsumsi obat, pola makan, dan kadar trigliserida secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap tekanan darah sistolik (p = 0,000). Namun secara parsial (uji t), hanya konsumsi obat (p = 0,008) dan kadar trigliserida (p = 0,000) yang berpengaruh signifikan, sedangkan pola makan tidak berpengaruh secara signifikan (p = 0,972). Kesimpulan: Ada pengaruh kepatuhan konsumsi obat dan kadar trigliserida yang merupakan faktor yang memengaruhi tekanan darah pada lansia hipertensi.
Uji Pemanfaatan Ekstrak Antosianin Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.) Pada Morfologi Sel Darah Tepi: Utilization of Anthocyanin Extract of Purple Sweet Potato (Ipomoea Batatas L.) in Peripheral Blood Cell Morphology Supri Hartini; Muhammad Ihsan Idris; Eka Farpina
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/5s7p5s11

Abstract

Pemeriksaan morfologi sel darah melalui sediaan apusan darah tepi (SADT) merupakan prosedur penting dalam diagnostik hematologi. Pewarnaan konvensional menggunakan Giemsa terbukti efektif, namun memiliki keterbatasan berupa sifat toksik, proses yang relatif lama, serta keterbatasan ketersediaan di daerah tertentu. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pewarna alami yang lebih aman dan mudah diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan ekstrak antosianin ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.) sebagai pewarna alami pada morfologi eritrosit, leukosit, dan trombosit. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan menggunakan 24 preparat SADT yang diwarnai dengan variasi konsentrasi ekstrak 25%, 50%, 75%, dan 100%. Hasil pengamatan dilakukan secara mikroskopis dengan pembesaran imersi, kemudian dibandingkan dengan pewarnaan Giemsa sebagai standar emas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eritrosit dapat terwarnai pada semua konsentrasi, dengan kualitas terbaik pada konsentrasi 50% dan 75% yang mendekati hasil Giemsa. Trombosit juga dapat terwarnai dengan baik pada konsentrasi 50%, 75%, dan 100%, meskipun intensitasnya belum setajam Giemsa. Sementara itu, leukosit tidak menunjukkan hasil pewarnaan yang optimal karena inti sel, granula, dan sitoplasma tidak terwarnai jelas. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak antosianin ubi jalar ungu berpotensi digunakan sebagai alternatif pewarna alami untuk eritrosit dan trombosit, namun belum efektif untuk pewarnaan leukosit.
Perbedaan Kadar Ureum dan Kreatinin pada Spesimen yang Ditunda 2 Jam dan Segera Diperiksa: Differences in Ureum and Creatinine Levels in Specimens Delayed for 2 Hours and Checked Immediately Divia Anisa; Liah Kodariah
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/gy9qft37

Abstract

Sample handling in obtaining blood serum during clinical chemistry examinations often differs between established procedures and reality. In reality, during examinations, samples that have been delayed for some time are still being examined. This incident actually does not comply with existing procedures. Delaying samples can affect serum quality. Incorrect blood sample handling will affect the results of the examination, which is related to the laboratory's internal quality, namely the pre-analytical stage. At this stage, errors can occur ranging from 46 to 68%. This study aims to determine the differences in urea and creatinine levels in specimens that are immediately examined and those that are delayed for 2 hours before being examined. The method used in this study was experimental, with a random sampling technique. The sample size was 30 Emergency Department patients. The examination method used the Jaffe method for creatinine and the urease-UV method for urea. After the study, the average urea and creatinine levels in the immediately examined specimens were 28.5 mg/dL and 1.1 mg/dL, respectively. Meanwhile, the urea and creatinine levels in the specimens delayed 2 hours before testing were 26.9 mg/dL and 0.9 mg/dL, respectively. There was a difference in urea and creatinine levels, with the specimens delayed 2 hours before testing having lower levels.
Tingginya Prevalensi Sel Burr Tanpa Hubungan yang Signifikan dengan Kadar Ureum dan Kreatinin pada Pasien Gagal Ginjal Kronik: High Prevalence of Burr Cells Without Significant Association with Urea and Creatinine Levels in Chronic Kidney Disease Patients Pramudiatmoko; Yusuf Eko Nugroho; Ira Pangesti; Imam Agus Faizal
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/qjk8g725

Abstract

Latar Belakang: Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan masalah kesehatan global dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Penurunan fungsi ginjal menyebabkan akumulasi ureum dan kreatinin dalam darah serta dapat memicu perubahan morfologi eritrosit seperti sel burr. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kadar ureum dan kreatinin dengan temuan sel burr pada pasien GGK. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 51 pasien GGK yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh dari hasil pemeriksaan laboratorium berupa kadar ureum, kreatinin, dan apusan darah tepi. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson dan regresi linier berganda dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kadar ureum dan kreatinin berada di atas nilai normal. Sebagian besar pasien (74,5%) menunjukkan adanya sel burr pada apusan darah tepi. Namun, hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar ureum dan kreatinin dengan temuan sel burr (p > 0,05). Analisis regresi juga menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut tidak berpengaruh secara simultan terhadap keberadaan sel burr. Kesimpulan: Kadar ureum dan kreatinin tidak berhubungan secara signifikan dengan temuan sel burr pada pasien GGK, sehingga tidak dapat digunakan sebagai prediktor langsung perubahan morfologi eritrosit
Gambaran Pencapaian Indikator Mutu Pelayanan di Unit Laboratorium Klinik X Tahun 2026: Overview of the Achievement of Health Service Quality Indicators at the X Clinical Laboratory Unit in 2026 Chaesar Dewan Winata; Suci Indah Astuti; La Ode Marsudi; Maya Tamara Mawardani
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/har45k34

Abstract

Abstrak : Laboratorium klinik berperan penting dalam menegakkan diagnosis dan memantau keberhasilan terapi pasien, sehingga mutu pelayanannya wajib dipantau secara berkala. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2022 menetapkan tujuh indikator mutu yang wajib diukur oleh laboratorium kesehatan, yaitu kepatuhan identifikasi pasiens, kepatuhan kebersihan tangan, kepatuhan penggunaan alat pelindung diri, kepatuhan pelaporan hasil kritis, kejadian sampel atau spesimen yang hilang, pengulangan hasil pemeriksaan, dan kepuasan pengguna layanan. Tujuan : mengetahui gambaran pencapaian ketujuh indikator mutu tersebut di unit laboratorium klinik X selama periode Januari-Mei 2026. Metode : penelitian deskriptif kuantitatif retrospektif menggunakan data sekunder berupa rekapitulasi laporan bulanan indikator mutu unit laboratorium klinik X. Hasil : kepatuhan identifikasi pasien dan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri tercapai 100% pada seluruh bulan pengamatan; kepatuhan kebersihan tangan berkisar 99,38%-100% dan konsisten berada di atas standar minimal 85%; kepatuhan pelaporan hasil kritis tercapai 100% pada bulan Januari, sedangkan pada bulan februari-mei tidak dijumpai kasus hasil kritis; kejadian sampel atau spesimen hilang dan pengulangan hasil pemeriksaan tercatat 0% pada seluruh bulan, sesuai target maksimal 0%; sedangkan kepuasan pengguna layanan belum dapat dilaporkan pada periode ini karena pengukurannya dilakukan setiap semester. Kesimpulan : pencapaian indikator mutu pelayanan di unit laboratorium klinik X selama januari-mei 2026 secara umum telah memenuhi standar nasional, namun pemantauan dan evaluasi berkelanjutan tetap diperlukan agar konsistensi mutu pelayanan dapat terus dijaga.
Evaluasi Kinerja Pemeriksaan Kolesterol Berdasarkan Pemantapan Mutu Internal di Laboratorium Klinik Pratama Kota Samarinda: Performance Evaluation of Cholesterol Examination Based on Internal Quality Control at Pratama Clinical Laboratory in Samarinda City Muhammad Fahmi Aminuddin; Hendrikus Fabianus
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/fd6n0n14

Abstract

Pemeriksaan kolesterol merupakan pengujian laboratorium dengan tingkat permintaan yang tinggi, tercatat sebanyak 497 pemeriksaan pada bulan Mei hingga Agustus 2023 di Laboratorium Klinik Pratama di Kota Samarinda. Pelaksanaan pemantapan mutu internal sangat penting untuk menjamin hasil laboratorium yang presisi dan akurat agar penatalaksanaan klinis pasien tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja analitik pemeriksaan kolesterol melalui analisis akurasi, presisi, serta evaluasi grafik Levey-Jennings menggunakan aturan Westgard Multirule. Desain penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data sekunder hasil kontrol kualitas harian parameter kolesterol (level low dan high) pada instrumen otomatis Mindray BS-240 periode Mei–Agustus 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai akurasi (bias) berada pada rentang yang baik pada bulan Mei hingga Juni, namun pada bulan Juli nilai melebihi batas maksimal (±4,1%) pada level low sebesar -6,12%. Nilai presisi menunjukkan hasil yang baik, ditandai dengan tidak adanya nilai Koefisien Variasi (KV) yang melebihi batas maksimal (±6%) secara berturut-turut selama periode pengamatan. Evaluasi grafik Levey-Jennings menemukan adanya status peringatan dengan pelanggaran aturan 12s pada bulan Mei dan Juni, serta pelanggaran aturan 41s dan 10x pada bulan Juli yang mengindikasikan terjadinya kesalahan sistematik. Pada bulan Agustus, grafik kembali normal dan tidak ditemukan pelanggaran. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat presisi pemeriksaan sangat stabil, namun sempat terjadi penyimpangan akurasi akibat kesalahan sistematik pada bulan Juli yang membutuhkan tindakan korektif sebelum akhirnya berhasil distabilkan kembali pada bulan Agustus
Formulasi dan Uji Aktivitas Antijamur Bedak Tabur Ekstrak Kulit Durian (Durio zibethinus Murr.) Terhadap Malassezia furfur: Formulation and Antifungal Activity Test of Durian Peel Extract Powder against Malassezia furfur Elvira Santi; Asti Vebriyanti Asjur; Rifky Saldi A. Wahid; Rugayyah Alyidrus; Marshel Bakarbessy
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/84gdkw28

Abstract

Durian (Durio zibethinus Murr.) peel waste remains underutilized, despite containing flavonoid, tannin, alkaloid, and saponin compounds with potential antifungal activity. Malassezia furfur is a fungus commonly responsible for tinea versicolor in humans. This study aimed to formulate an ethanol extract of the inner durian peel into a powder preparation and to evaluate its antifungal activity against Malassezia furfur. The extract was obtained by maceration using 96% ethanol and formulated into a powder at concentrations of 7%, 9%, and 11% (F1, F2, F3), together with a negative control without extract (K-) and a positive control of mycorin powder (K+). Evaluation included organoleptic, homogeneity, fineness, pH, irritation, and hedonic tests performed before and after a six-cycle stability (cycling) test, followed by an antifungal activity test using the disc diffusion method, analyzed using the Paired Sample T-Test and one-way ANOVA. The extraction yield was 2.97%. All powder formulas remained physically stable, homogeneous, finely textured, non-irritating, and had a pH of 5.1-6.2, compatible with normal skin pH. The antifungal test showed mean inhibition zone diameters of 11.4 mm (F1), 11.7 mm (F2), and 12.6 mm (F3), all classified as strong, while the negative control showed no inhibition zone. It can be concluded that ethanol extract of inner durian peel can be formulated into a physically stable powder with antifungal activity against Malassezia furfur, with the 11% concentration providing the strongest inhibition.