cover
Contact Name
Khairuddin
Contact Email
Khairuddinazka15@gmail.com
Phone
+6282286180987
Journal Mail Official
Khairuddinazka15@gmail.com
Editorial Address
Desa Lipat kajang Kecamatan Simpang Kanan Kabupaten Aceh Singkil
Location
Kab. aceh singkil,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Mediasas : Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
ISSN : 26551497     EISSN : 28082303     DOI : 10.58824
Core Subject : Social,
Focus Mediasas Journal Media Ilmu Syariah and Ahwal Al-Syakhsiyah provides scientific articles developed in attending to the publication of articles, original research reports, reviews, and scientific commentary on Sharia. Coverage The Mediasas Journal includes research from researchers, academics, and practitioners. In particular, papers considering the following general topics were promulgated family law in the Islamic world, Islamic law, Constitutional law (Siyasah), Sharia economic law, civil law, criminal law, Regulations invitation, law knowledge.
Articles 164 Documents
Analysis of Sharia Economic Law on the Transformation of Non-Halal Fund Management in Islamic Financial Institutions in DSN Fatwa Ariswanto, Dery; Nashrullah, M. Faiz; Sabilaturrizqi, Mashudah
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.341

Abstract

Islamic financial institutions have unique characteristics that base all operations on Sharia principles, including the management of sources and uses of funds. However, in its operational practice, Islamic financial institutions are sometimes faced with the potential for receiving funds from non-halal sources. Responding to this issue, DSN-MUI issued Fatwa Number 123/DSN-MUI/XI/2018, which provides comprehensive guidance regarding the management of funds originating from the non-halal sector. The purpose of this study is to describe how to analyze the management of non-halal funds after the issuance of fatwa by the National Sharia Council of MUI No. 123/DSN-MUI/XI/2018. This research adopts a descriptive-analytical qualitative method to explore the transformation of non-halal fund management in Islamic financial institutions, which is then analyzed through the perspective of Islamic economic law to understand the implications of the practices that occur. This study concludes that the transformation of the management of non-halal funds in Islamic financial institutions after the issuance of DSN fatwa No. 123/DSN-MUI/XI/2018 shows an effort to adapt and implement the principles of Islamic economic law in separating and distributing these funds. Nevertheless, uniform implementation and a comprehensive understanding of the concept of TBDSP Funds still require strengthening in various Islamic financial institutions. Non-halal funds are funds obtained from sources that are contrary to Islamic religious principles. Non-halal funds actually cannot be recognized as an institution's income because non-halal funds come from haram and shubhat funds. Therefore, its management and distribution must be fully directed for the benefit of the ummah or social welfare. [Lembaga keuangan syariah memiliki karakteristik unik yang mendasarkan seluruh kegiatan operasionalnya pada prinsip-prinsip syariah, termasuk dalam pengelolaan sumber dan penggunaan dana. Namun, dalam praktik operasionalnya, lembaga keuangan syariah terkadang dihadapkan pada potensi penerimaan dana dari sumber yang tidak halal. Merespon hal tersebut, DSN-MUI mengeluarkan Fatwa Nomor 123/DSN-MUI/XI/2018 yang memberikan panduan komprehensif mengenai pengelolaan dana yang berasal dari sektor non halal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana analisis pengelolaan dana non halal pasca dikeluarkannya fatwa Dewan Syariah Nasional MUI No. 123/DSN-MUI/XI/2018. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis untuk mengeksplorasi transformasi pengelolaan dana non-halal di lembaga keuangan syariah, yang kemudian dianalisis melalui perspektif hukum ekonomi Islam untuk memahami implikasi dari praktik yang terjadi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi pengelolaan dana non-halal di lembaga keuangan syariah pasca dikeluarkannya fatwa DSN No. 123/DSN-MUI/XI/2018 menunjukkan adanya upaya adaptasi dan implementasi prinsip-prinsip hukum ekonomi syariah dalam memisahkan dan mendistribusikan dana tersebut. Namun demikian, penerapan yang seragam dan pemahaman yang komprehensif mengenai konsep dana TBDSP masih memerlukan penguatan di berbagai lembaga keuangan syariah. Dana non halal adalah dana yang diperoleh dari sumber yang bertentangan dengan prinsip-prinsip agama Islam. Dana non halal sebenarnya tidak dapat diakui sebagai pendapatan lembaga karena dana non halal berasal dari dana yang haram dan syubhat. Oleh karena itu, pengelolaan dan penyalurannya harus sepenuhnya diarahkan untuk kemaslahatan umat atau kesejahteraan sosial.]
Husband And Wife's Rights in Gender Study: Study of The Islamic Fiqh Wa Adilatuhu by Wahbah Azzuhaili Lahutiy, Sabrina; Wulandari, Yunita
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.343

Abstract

Gender inequality remains a significant societal issue. Men often assert dominance over their wives using religious and cultural arguments without critically evaluating existing texts or considering contemporary developments. This leads to gender injustice, including a double burden and the marginalization of women. The misconception of male superiority also contributes to domestic violence. . This research was conducted to determine the relevance of books written by contemporary ulama to the current era and to find out whether there is gender inequality in the explanation of these books. This study employs a qualitative library research methodology to examine the rights of husbands and wives as presented in the Islamic book: Al- fiqh al-islam waadilatuhu. The findings reveal a discrepancy between some of Sheikh Wahbah Zuhaili's explanations regarding husband and wife rights and contemporary realities in his work Fiqh Islam Waadilatuhu. Several of these explanations, rooted in classical fiqh texts, contribute to gender inequality. Therefore, a critical review of these texts is needed to provide a modern and relevant understanding. [Saat ini banyak sekali isu terkait ketimpangan gender di masyarakat. Laki-laki mendominasi istri menggunakan dalil agama dan budaya tanpa mengkaji kembali teks yang ada serta tidak melakukan pendekatan kritis terhadap perkembangan zaman. Hal tersebut menjadikan seorang istri mendapatkan ketidakadilan gender, selain mendapat beban ganda perempuan juga termarginalisasikan. Bahkan dengan pemahaman bahwa laki-laki lebih superior dibandingkan Perempuan banyak sekali terjadi KDRT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerelevanan kitab karya uama kontemporer dengan zaman saat ini dan  untuk mengetahui apakah ada ketidaksetaraan gender dalam penjelasan kitab tersebut.  Penelitian ini menggunakan metode kualitatif jenis library research untuk mengkaji hak suami dan istri dalam kitab fiqh islam waadilatuhu. Temuan penelitian ini ketidakrelevanan beberapa pemaparan syekh Wahbah zuhaili dalam hak suami istri dalam karyanya kitab Fiqh Islam Waadilatuhu dengan konteks masyarakat modern. Dimana beberapa penjelasan mengenai hak suami istri dalam kitab tersebut masih berpacu pada kitab fiqh klasik. Sehingga hal tersebut memicu adanya ketimpangan gender.]
Restorative Justice in Settlement of Indigenous Based Land Dispute: Study of Mpili Village Donggo District Bima Donggo Regency Darmawansyah, Darmawansyah; Jainuddin, Jainuddin; Hikmah, Hikmah
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.344

Abstract

The study discusses related to Justice Restorative Analysis of the Resolution of Land Disputes through Indigenous. The background of the problem in the study is the resolution of the dispute of land heirs through formal law is considered inadequate in solving the root of the problem thoroughly, because it ignores the social and cultural aspects of the local community. The research method used is an empirical juridical approach with qualitative methods. Data is collected through library studies, in-depth interviews with customary figures, legal experts, and parties involved in heir land disputes. The results of the study showed that the indigenous mechanisms in resolving land disputes generally reflect the restorative principles of justice, namely the restorative principles of social relations, inter-party dialogue, mutual consensus, and resolve oriented towards communal justice and social harmony. Indigenous settlement proved more acceptable by the community of Mpili Village Donggo District Bima because it is participatory, flexible, and rooted in local values. [Penelitian ini membahas terkait dengan Analisis Restoratif Justice terhadap Penyelesaian Sengketa Tanah Waris melalui Adat. Latar belakang permasalahan dalam penelitian ialah penyelesaian sengketa tanah waris melalui hukum formal dianggap tidak memadai dalam menyelesaikan akar permasalahan secara menyeluruh, karena mengabaikan aspek sosial dan budaya masyarakat setempat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis empiris dengan metode kualitatif. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, ahli hukum, serta pihak-pihak yang terlibat dalam sengketa tanah waris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme adat dalam menyelesaikan sengketa tanah waris secara umum mencerminkan prinsip-prinsip restoratif justice, yaitu pemulihan hubungan sosial, dialog antar pihak, musyawarah mufakat, serta penyelesaian yang berorientasi pada keadilan komunal dan harmoni sosial. Penyelesaian adat terbukti lebih diterima oleh masyarakat Desa Mpili Kecamatan Donggo Kabupaten Bima karena bersifat partisipatif, fleksibel, dan berakar pada nilai-nilai lokal.]
The Dynamics of Women's Involvement in the Formulation of Islamic Family Law in Indonesia: Analysis of Law No. 1 of 1974 Adila, Queen; Ahmad, Zamzami
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.345

Abstract

This study aims to uncover the history of family law formation in Indonesia, the role of women's groups in the legislative process, and women's efforts to support family law reform based on equality and justice. The research method used is normative legal research or library research, which involves analyzing bibliographic sources or secondary data. The findings of this study indicate that, first, Dutch colonialism influenced marriage law in Indonesia. Second, women had no role in the process of drafting family law, making them a minority and often placing them in stereotypical positions. Third, the standardization of roles in several articles of Law No. 1 of 1974 on Marriage and the Compilation of Islamic Law has driven women to fight for equality through family law reform.   [Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sejarah pembentukan hukum keluarga di Indonesia, dan peran kelompok perempuan dalam proses legislasi, serta upaya perempuan dalam mendukung reformasi hukum keluarga yang berbasis kesetaraan dan keadilan. Metode penelitian yang digunakan yaitu, penelitian hukum normatif atau penelitian hukum kepustakaan, yang dilakukan dengan cara menganalisis bahan pustaka atau data sekunder. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, kolonialisme Belanda berpengaruh terhadap hukum perkawinan di Indonesia. Kedua, perempuan tidak memiliki peran dalam proses penyusunan hukum keluarga, sehingga mereka menjadi minoritas dan sering ditempatkan dalam posisi stereotip. Ketiga, pembakuan peran dalam beberapa pasal UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan KHI mendorong perempuan untuk memperjuangkan kesetaraan melalui reformasi hukum keluarga..]
Problems of the Wife's Role as a Housewife and Full-Time Worker in Forming a Maslahah Family Sho'ib, Fahri Nur
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.349

Abstract

This study discusses the problematic dual role of wives as housewives and full-time workers in fostering a virtuous family, with a case study at PT Sumber Makmur Anugrah, Temanggung. This phenomenon is increasingly relevant in the modern era, when women are free to work and pursue careers outside the home, but are still burdened with domestic responsibilities. The approach used is qualitative with a case study method and in-depth interviews with wives who have been married for more than five years and work full-time. The results of the study indicate that this dual role causes various problems, including decreased communication between husband and wife, degradation of harmony (mahabbah), reduced provision of exclusive breastfeeding, and weak supervision of children. However, some informants still try to balance domestic and professional roles in order to realize a virtuous family, namely a harmonious family, spiritually and socially qualified, and useful in the community. This study recommends the importance of husband and wife cooperation and family-friendly company policies to optimally support the dual role of wives. [Penelitian ini membahas problematika peran ganda istri sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja fulltime dalam membina keluarga maslahah, dengan studi kasus di PT Sumber Makmur Anugrah, Temanggung. Fenomena ini semakin relevan di era modern, ketika perempuan memperoleh kebebasan untuk bekerja dan berkarier di luar rumah, namun tetap dibebani tanggung jawab domestik. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus dan wawancara mendalam terhadap istri-istri yang telah menikah lebih dari lima tahun dan bekerja fulltime. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran ganda ini menimbulkan berbagai persoalan, antara lain menurunnya komunikasi suami istri, degradasi keharmonisan (mahabbah), berkurangnya pemberian ASI eksklusif, serta lemahnya pengawasan terhadap anak. Meski demikian, sebagian informan tetap berupaya menyeimbangkan peran domestik dan profesional demi mewujudkan keluarga maslahah, yaitu keluarga yang harmonis, berkualitas secara spiritual dan sosial, serta bermanfaat di lingkungan masyarakat. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya kerja sama suami istri dan kebijakan perusahaan yang ramah keluarga guna mendukung peran ganda istri secara optimal.]
The Impact of Marriage Dispensation Policy Interventions on Underage Marriage Trends Among Banyuwangi Teenagers Yumna, Hanin
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.356

Abstract

The phenomenon of underage marriage in Banyuwangi Regency is a crucial issue that shows an alarming trend even though the minimum age of marriage has been increased. This study aims to examine the impact of the marriage dispensation policy intervention implemented by the Banyuwangi Regency Government in an effort to reduce the number of underage marriages that occur among teenagers. This research uses a qualitative method with an analytical descriptive approach that collects data through observation, interviews and documentation and the data analysis was carried out using the reduction, presentation, and conclusion stages. The results showed that policy intervention through the signing of a Memorandum of Understanding (MoU) between the local government and Banyuwangi Religious Court, which requires recommendations for psychological maturity and reproductive health checks for marriage dispensation applicants, has had a positive impact. There has been a decrease in the number of marriage dispensation applications granted since September 2024. The policy has also strengthened the objective basis for judges in deciding cases and encouraged a shift in society's perspective on the importance of marriage readiness. However, the implementation of this policy still faces challenges related to the influence of religious and traditional leaders. Therefore, the recommendation to involve religious and customary leaders in education is considered important to align the policy with local values and achieve long-term effectiveness in preventing underage marriage. [Fenomena pernikahan di bawah umur di Kabupaten Banyuwangi merupakan isu krusial yang menunjukkan tren mengkhawatirkan meskipun batas minimum usia pernikahan telah ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan mengkaji dampak intervensi kebijakan dispensasi nikah yang diterapkan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam upaya menekan angka pernikahan di bawah umur yang terjadi di kalangan remaja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis yang mengumpulkan data mealui observasi, wawancara, dan dokumentasi serta analisis data dilakukan menggunakan tahap reduksi, penyajian, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi kebijakan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara pemerintah Daerah dan Pengadilan Agama Banyuwangi, yang mensyaratkan rekomendasi kematangan psikologis dan pemeriksaan kesehatan reproduksi bagi pemohon dispensasi nikah, telah memberikan dampak positif. Terdapat penurunan jumlah permohonan dispensasi nikah yang dikabulkan sejak September 2024. Kebijakan ini juga memperkuat dasar objektif bagi hakim dalam memutuskan perkara serta mendorong pergeseran cara pandang masyarakat tentang pentingnya kesiapan menikah. Meskipun demikian, implementasi kebijakan ini masih menghadapi tantangan terkait pengaruh tokoh agama dan adat. Oleh karena itu, rekomendasi melibatkan tokoh agama dan adat dalam edukasi dianggap penting untuk menyelaraskan kebijakan dengan nilai lokal serta mencapai efektivitas jangka panjang dalam pencegahan pernikahan di bawah umur.]
From Conviction to Candidacy: A Juridical and Siyasah Analysis of the Waiting Period for Former Corruptors under the Election Law Utami, Husni Putri; Antasari, RR. Rina; Yusnita, Eti
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.360

Abstract

The problem in this study departs from the KPU in its PKPU authorizing regulations regarding the pause period for ex-convicts not having to wait five years in the elections held in 2024. So that it produces two problem formulations, namely: 1) How is the Political Right to the Pause Period for Ex-Corruption Prisoners to Participate in Legislative Candidacy in the Perspective of Law (UU) Number 07 of 2017 concerning General Elections (Election) and General Election Commission Regulations (PKPU) Number 10 and 11 of 2023?, and 2) How is the Political Rights of Ex-Corruption Convicts to Participate in Legislative Candidacy in Siyasah Perspective? The research methodology used by the author is a type of normative law research, with a research approach using legal issues with the method of statue approach, case approach, and analytical approach. Based on the results of the author's research, it can be concluded that: 1) The Election Law, which is strengthened by the latest Constitutional Court Decision in 2023, explains that there is a pause period for ex-corruption convicts who want to run for the legislature to wait five years. Meanwhile, the PKPU 2023 does not. So that PKPU 2023 and the Election Law overlap, if PKPU 2023 was born to improve the Law as well as the Constitutional Court Decision, it should be in line. Regarding the hierarchy of legislation, PKPU is also under the Law, and this disharmonization occurs which is contrary to the coherent principles, one of which is certainty and harmony in regulations, and 2) That in Siyasah Dusturiyah it is explained that ex-corruption convicts are people who used to commit criminal acts, in Islam this person is considered a person who has a moral defect so that his rights cannot be fully obtained anymore, unless he really repents not only said but also implements through actions, of course with full self-awareness again of what has been done, it should be able to provide opportunities for others who still have integrity, because Islam recommends that it is better to choose and be chosen, namely choose the best people. [Permasalahan dalam penelitian ini berangkat dari KPU di PKPU-nya mengesahkan peraturan tentang masa jeda eks-narapidana tidak harus menunggu lima tahun pada Pemilu yang diselenggarakan tahun 2024 lalu. Sehingga menghasilkan dua rumusan masalah yaitu: 1) Bagaimanakah Hak Politik Terhadap Masa Jeda Pada Eks-Narapidana Korupsi Mengikuti Pencalonan Legislatif Perspektif Undang-undang (UU) Nomor 07 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum (Pemilu) dan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU)  Nomor 10 dan 11 Tahun 2023?, dan 2) Bagaimanakah Hak Politik Pada Eks-Narapidana Korupsi Mengikuti Pencalonan Legislatif Perspektif Siyasah?. Metodelogi penelitian yang dipergunakan penulis adalah berjenis normative law research, dengan pendekatan penelitian menggunakan legal issue dengan metode statue approach, case approach, dan analytical approach. Berdasarkan hasil penelitian penulis dapat disimpulkan, bahwasanya: 1) Bahwa pada UU Pemilu yang dikuatkan oleh amar Putusan MK tahun 2023 terbaru dijelaskan terdapat masa jeda eks-narapidana korupsi yang hendak akan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif harus menunggu lima tahun. Sedangkan PKPU Tahun 2023 tidak. Sehingga PKPU 2023 dan UU Pemilu terjadi tumpang tindih, semestinya apabila PKPU 2023 lahir untuk penyempurnaan dari UU juga Putusan MK seharusnya sejalan. Terkait hierarki perundang-undangan pun PKPU ini berada dibawah UU, dan ini terjadi disharmonisasi yang berlawanan dengan asas koheren salah satunya kepastian dan keselerasan dalam peraturan, dan 2) Bahwa dalam Siyasah Dusturiyah dijelaskan eks-narapidana korupsi ini adalah orang yang dulunya berbuat tindakan kriminal, dalam Islam orang ini dianggap orang yang telah cacat moral sehingga hak-haknya tidak bisa diperoleh penuh lagi, kecuali benar-benar bertaubat tidak hanya diucapkan saja namun juga mengimplementasikan lewat perbuatan, tentunya dengan penuh kesadaran diri lagi terhadap apa yang sudah diperbuat, seyogyanya bisa memberikan kesempatan kepada orang lain yang masih berintegritas, karena Islam mengajurkan sebaiknya untuk memilih maupun dipilih yaitu pilihlah orang-orang yang terbaik.]
The Law of Receiving Money From The Congregation After The Funeral Prayer in The Sosopan Sub-District of Padang Lawas Soleh, Ahmad; Siregar, Sawaluddin
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.361

Abstract

Praying for the dead of a Muslim is fadru kifayah. This means that it is not an obligation of every Muslim like establishing a prayer whose law is fadhu 'ain. From this law gave birth to a community understanding of cultural diversity, namely praying for the corpse performed by the people of Ulu Aer Sosopan Village, there is giving a sum of money to worshipers who participate in the funeral prayer. Departing from this custom, the researcher wants to see the reasons, motives for giving money after the funeral prayer and how the sociology of law views the custom.  This research is a field research using a juridical-empris approach. While the data analysis method that researchers use is descriptive analytical. With data collection researchers use are interviews, observation and documentation. Based on the analysis that the researchers conducted that the purpose, motive for distributing a sum of money to the congregation who participated in the funeral prayer of the Ulu Aer Village community, Sosopan Padang Lawas was more inclined to the tradition of giving money for generations. and the community has become accustomed to the tradition. When viewed from the law of giving money after the funeral prayer that this tradition is shahih urf, which is a custom that does not violate Islamic law. This tradition also has a motive as a thank you to the congregation for taking the time to pray and pray for the corpse   [Menshalatkan mayit orang islam hukumnya adalah fadru kifayah. Maknanya tidaklah menjadi kewajiban setiap muslim layaknya seperti mendirikan shalat yang hukumnya fadhu ‘ain. Dari hukum tersebut melahirkan pemahaman masyarakat suatu keragaman budaya, yaitu menshalatkan jenazah yang dilakukan masyarakat Desa Ulu Aer Sosopan, adanya memberikan sejumlah uang kepada jamaah yang turut serta dalam shalat jenazah. Berangkat dari adat kebiasaan tersebut, peneliti ingin melihat alasan, motif memberikan uang setelah shalat jenazah dan bagaimana pandangan sosiologi hukum terhadap kebiasaan tersebut. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan yuridis-empris. Sedangkan metode analisis data yang peneliti gunakan adalah bersifat deskriptif analitis. Dengan pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah wawancara,observasi dan dokumentasi.  Berdasarkan analisis yang peneliti lakukan bahwa tujuan, motif membagikan sejumlah uang kepada jamaah yang ikut serta shalat jenazah masyarakat Desa Ulu Aer, Sosopan Padang Lawas lebih condong kepada tradisi yakni pemberian uang dilakukan secara turun temurun. dan masyarakat telah terbiasa dengan tradisi tersebut. Bila ditinjau dari hukum memberikan uang usai shalat jenazah bahwa tradisi ini adalah urf shahih yaitu suatu adat kebiasaan yang tidak melanggar syariat islam. Tradisi ini juga memiliki motif sebagai ucapan terimakasih kepada Jemaah yang telah meluangkan waktu untuk shalat serta mendo’akan jenazah.]
Legal Protection of Children in Cases of Domestic Violcen: Case study of the East Aceh DP3AKB Service Mareta, Anggun; Zakyyah, Zakyyah; Ridwansyah, Muhammad
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.363

Abstract

The study focuses on studying and understanding the role and legal protection of the DP3AKB of East Aceh Regency. Then find out how the efforts and obstacles of the DP3AKB of East Aceh Regency in guaranteeing legal protection for children, and finally how should legal protection against child violence be in the DP3AKB of East Aceh Regency. This study uses empirical normative research with a focus on the legislative approach, conceptual approach, and philosophical approach. The results of the study are as follows: First, that the role of the DP3AKB of East Aceh Regency has normatively and legally mandated that children must be guaranteed and protected by law. This is also mandated by Law Number 35 of 2014 concerning Child Protection, Presidential Regulation Number 65 of 2020 concerning the Ministry of Women and Child Protection. Aceh Qanun Number 11 of 2008 concerning Child Protection. Second, in the implementation of the work program of the DP3AKB of East Aceh Regency, efforts have been made to map out efforts and obstacles in guaranteeing legal protection. Among other things, the DP3AKB of East Aceh Regency must carry out innovations in integrated community-based child protection (PATBM). Third, the ideal concept of legal protection against child violence in DP3AKB East Aceh Regency philosophically means Law Number 35 of 2014 concerning Child Protection which states that every child has the right to survive, grow and develop and has the right to protection from violence and discrimination. Suggestions to stakeholders are as follows: It is expected that DP3AKB East Aceh Regency will optimize its role, function and duties as a public servant so that the guarantee of legal protection for children in cases of domestic violence, sexual violence cases, and others are resolved through court and non-court mechanisms. [Penelitian memfokuskan mengkaji dan memahami bagaimanakah peranan dan perlindungan hukum DP3AKB Kabupaten Aceh Timur. Kemudian mengetahui bagaimana upaya dan kendala DP3AKB Kabupaten Aceh Timur dalam menjamin perlindungan hukum terhadap anak, dan terakhir bagaimana seharusnya perlindungan hukum terhadap kekerasan anak di DP3AKB Kabupaten Aceh Timur. Penelitian ini menggunakan penelitian normatif empiris dengan fokus pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan filosofis. Hasil penelitian sebagai berikut:  Pertama, bahwa peranan DP3AKB Kabupaten Aceh Timur sudah secara normatif yuridis mengamanahkan bahwa anak harus terjamin dan dilindungi oleh hukum. Hal ini juga diamanahkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2020 tentang Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak. Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2008 tentang Perlindungan Anak. Kedua, dalam implementasi program kerja DP3AKB Kabupaten Aceh Timur sudah berupaya memetakan upaya dan kendala dalam menjamin perlindungan hukum. Antara lain, DP3AKB Kabupaten Aceh Timur harus melakukan inovasi perlindungan anak terpadu berbasis masyarakat (PATBM). Ketiga, konsep ideal perlindungan hukum terhadap kekerasan anak di DP3AKB Kabupaten Aceh Timur secara filosofis makna dari Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang menerangkan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, bertumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Saran kepada pemangku kepentingan sebagai berikut: Diharapkan kepada DP3AKB Kabupaten Aceh Timur mengoptimalkan peran fungsi dan tugasnya sebagai pelayan masyarakat sehingga penjaminan perlindungan hukum terhadap anak dalam kasus KDRT, kasus kekerasan seksual, dan lain-lain diselesaikan lewat mekanisme pengadilan dan non pengadilan.]
Immigration Law: Analysis of The Application of Criminal Law Towards Immigration Permit Abuse in Bima Wardin, Wardin; Syamsuddin, Syamsuddin; Ihlas, Ihlas
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.366

Abstract

The misuse of immigration permits constitutes a legal violation that can disrupt public order, threaten national security stability, and undermine the integrity of a country's immigration system. This study aims to comprehensively analyze the application of criminal law to the misuse of immigration permits, whether committed by foreign nationals or domestic actors. The primary focus is on evaluating the effectiveness of criminal law norms within the Immigration Law and their implementation in practice, including both juridical and non-juridical obstacles faced by law enforcement authorities. The research employs a normative juridical method with statutory and conceptual approaches, complemented by case studies from several relevant court decisions. Data were collected through literature review and analyzed qualitatively. The findings reveal a gap between established legal norms and their implementation in the field. Law enforcement is often hindered by weak inter-agency coordination, limited human resources, and the suboptimal use of legal instruments to create deterrent effects. These findings highlight the urgency of reformulating clearer criminal law norms and strengthening the institutional capacity of immigration authorities and law enforcement agencies. The novelty of this research lies in its integrative approach, bridging immigration law and criminal law, which are often applied in a sectoral manner. This study is expected to contribute scientifically to improving immigration policy and enhancing the effectiveness of criminal law enforcement against immigration violations in Indonesia.. [Penyalahgunaan izin keimigrasian merupakan bentuk pelanggaran hukum yang dapat mengganggu ketertiban umum, mengancam stabilitas keamanan nasional, dan melemahkan integritas sistem keimigrasian suatu negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif penerapan hukum pidana terhadap praktik penyalahgunaan izin keimigrasian, baik oleh warga negara asing maupun pelaku domestik. Fokus utama terletak pada evaluasi efektivitas norma hukum pidana dalam Undang-Undang Keimigrasian serta implementasinya dalam praktik, dengan menyoroti berbagai kendala yuridis dan nonyuridis yang dihadapi aparat penegak hukum. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, serta didukung oleh studi kasus dari beberapa putusan pengadilan yang relevan. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara norma hukum yang berlaku dengan realitas implementatif di lapangan. Penegakan hukum seringkali terhambat oleh lemahnya koordinasi antar lembaga, keterbatasan sumber daya manusia, serta belum optimalnya instrumen hukum dalam menimbulkan efek jera. Oleh karena itu, perlu dirumuskan norma hukum pidana yang lebih operasional dan penguatan kelembagaan dalam sistem keimigrasian. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada pendekatan integratif antara hukum keimigrasian dan hukum pidana yang selama ini cenderung diterapkan secara sektoral. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah dalam pembaruan kebijakan keimigrasian dan peningkatan efektivitas penegakan hukum terhadap pelanggaran keimigrasian di Indonesia.]