cover
Contact Name
Khairuddin
Contact Email
Khairuddinazka15@gmail.com
Phone
+6282286180987
Journal Mail Official
Khairuddinazka15@gmail.com
Editorial Address
Desa Lipat kajang Kecamatan Simpang Kanan Kabupaten Aceh Singkil
Location
Kab. aceh singkil,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Mediasas : Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
ISSN : 26551497     EISSN : 28082303     DOI : 10.58824
Core Subject : Social,
Focus Mediasas Journal Media Ilmu Syariah and Ahwal Al-Syakhsiyah provides scientific articles developed in attending to the publication of articles, original research reports, reviews, and scientific commentary on Sharia. Coverage The Mediasas Journal includes research from researchers, academics, and practitioners. In particular, papers considering the following general topics were promulgated family law in the Islamic world, Islamic law, Constitutional law (Siyasah), Sharia economic law, civil law, criminal law, Regulations invitation, law knowledge.
Articles 164 Documents
Childfree In the Perspective of Islamic Law and Religious Sociology: A Study of the Fatwa of The MUI of Muara Jambi District Sibawaihi, Muhammad; Umar, Hasbi; Mukhtar, Mukhtar; Adawiyah, Robi'atul; Muhammad, Pauzi
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.278

Abstract

The phenomenon of childfree, a couple's conscious decision to live a married life without having children, has sparked an in-depth discourse in the study of Islamic law and religious sociology in Indonesia. This polemic is increasingly prominent as open statements from well-known public figures such as Gita Savitri and Cinta Laura, which strengthen the conversation about the legitimacy and implications of this practice in the context of sharia and contemporary social dynamics. This study aims to analyze the views of the Indonesian Ulema Council (MUI) of Muara Jambi Regency on the childfree phenomenon, focusing on the factors behind it and its legal status in the perspective of Islamic law. Adopting a juridical-sociological approach with a descriptive-analytical paradigm, this research utilizes semi-structured interviews with the leadership of MUI Muara Jambi, documentation studies, and non-participant observation. The research findings identify four main factors that encourage childfree practices: psychological unpreparedness to become parents, economic concerns, socio-psychological environmental conditions, and physical health considerations.In the perspective of Islamic law, MUI Muara Jambi categorizes childfree as haram if it is only based on economic concerns, but permissible if it is supported by valid shar'i reasons, such as health risks, provided that it meets the conditions such as mutual agreement between couples and alignment with maqashid sharia. This study contributes to the development of contemporary Islamic legal discourse by offering a moderate perspective that integrates sharia principles with modern social dynamics. [Fenomena childfree, yakni keputusan sadar pasangan suami-istri untuk menjalani kehidupan perkawinan tanpa memiliki keturunan, telah memantik diskursus mendalam dalam kajian hukum Islam dan sosiologi keagamaan di Indonesia. Polemik ini kian mengemuka seiring pernyataan terbuka dari tokoh publik ternama seperti Gita Savitri dan Cinta Laura, yang memperkuat perbincangan mengenai legitimasi dan implikasi praktik tersebut dalam konteks syariah dan dinamika sosial kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pandangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Muara Jambi terhadap fenomena childfree, dengan fokus pada faktor-faktor yang melatarbelakanginya serta status hukumnya dalam perspektif hukum Islam. Mengadopsi pendekatan yuridis-sosiologis berparadigma deskriptif-analitis, penelitian ini memanfaatkan wawancara semi-terstruktur dengan pimpinan MUI Muara Jambi, studi dokumentasi, dan observasi non-partisipan. Temuan penelitian mengidentifikasi empat faktor utama yang mendorong praktik childfree: ketidaksiapan psikologis untuk menjadi orang tua, kekhawatiran ekonomi, kondisi lingkungan sosial-psikologis, dan pertimbangan kesehatan fisik. Dalam perspektif hukum Islam, MUI Muara Jambi mengkategorikan childfree sebagai haram apabila hanya didasarkan pada kekhawatiran ekonomi, namun mubah jika didukung oleh alasan syar’i yang sah, seperti risiko kesehatan, dengan syarat memenuhi ketentuan seperti kesepakatan mutual antar pasangan dan keselarasan dengan maqashid syariah. Kajian ini berkontribusi pada pengembangan diskursus hukum Islam kontemporer dengan menawarkan perspektif moderat yang mengintegrasikan prinsip syariah dengan dinamika sosial modern].
Consumer Protection Against the Sale of Counterfeit Products in E-Commerce: A Human Rights and Legal Certainty Perspective in Indonesia Santiago, Owen; Situmeang, Ampuan; Nurlaily, Nurlaily
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i1.288

Abstract

The phenomenon of e-commerce in Indonesia has demonstrated rapid growth, with high transaction values projected in 2024. However, the circulation of counterfeit products on digital platforms poses a serious challenge, endangering consumers. Although the legal framework for consumer protection in Indonesia provides a foundation for safeguarding consumer rights, oversight of counterfeit products in e-commerce has been deemed ineffective in ensuring consumer protection. This study employs normative legal research methods with comparative law, legislative, and conceptual approaches. The findings reveal that the Consumer Protection Act (UU Perlindungan Konsumen) has not been fully effective in ensuring the accountability of digital platforms, monitoring products, and resolving disputes. In comparison, EU regulations mandate the responsibility of digital platforms, the use of tracking technologies such as blockchain, regular audits, and strict sanctions for violations. The study recommends strengthening platform accountability in seller verification, adopting technology for product monitoring, and developing an integrated online dispute resolution mechanism through the Consumer Dispute Settlement Body (BPSK). Referring to progressive legal theory, Indonesia's regulatory framework must adaptively evolve to address digital dynamics, create legal certainty, and build public trust in a secure and equitable e-commerce ecosystem. [Fenomena e-commerce di Indonesia telah menunjukkan pertumbuhan pesat dengan nilai transaksi yang tinggi pada tahun 2024. Namun, peredaran produk palsu di platform digital menjadi tantangan serius yang membahayakan konsumen. Meskipun kerangka hukum perlindungan konsumen di Indonesia telah memberikan landasan hukum untuk melindungi hak konsumen, namun pengawasan terhadap produk palsu di e-commerce dinilai belum efektif dalam melindungi kosnumen. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perbandingan hukum, perundang-undangan, dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UU Perlindungan Konsumen belum optimal dalam memastikan tanggung jawab platform digital, pengawasan produk, dan penyelesaian sengketa. Sebagai perbandingan, regulasi UE mengatur kewajiban platform digital, penggunaan teknologi pelacakan seperti blockchain, audit berkala, dan sanksi tegas bagi pelanggar. Rekomendasi penelitian mencakup penguatan tanggung jawab platform dalam verifikasi penjual, adopsi teknologi untuk pengawasan produk, dan pengembangan mekanisme penyelesaian sengketa daring yang terintegrasi dengan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Dengan mengacu pada teori hukum progresif, regulasi di Indonesia perlu berkembang secara adaptif untuk menghadapi dinamika digital, menciptakan kepastian hukum, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap e-commerce yang aman dan berkeadilan].
Optimizing the Role of Mediators in Realizing Peace Deeds: A Study of Mediation at the Religious Court of Padangsidimpuan City Rohana, Nada Putri
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i1.295

Abstract

The role of the mediator is crucial in resolving problems in the mediation stage. The peace deed obtained from successful mediation has the same legal force as a court decision, meaning that the deed can be carried out and executed like a judge's decision. The Padangsidimpuan City Religious Court has judges and non-judge mediators who have different backgrounds, including judges, lawyers, and lecturers. So that with this diversity of backgrounds, each of the mediators carries out their role in solving problems. This study aims to determine how to optimize the role of the mediator in the mediation process to obtain a peace deed and find out about it. The research was conducted using a field research method to determine legal justice in the priority of knowing the role of the mediator and obtaining a peace deed. Data collection was carried out by means of observation, interviews, and documentation of data relevant to the study in study. From the results of the study, it can be concluded that the role of the mediator in resolving mediation cases is determined based on the acquisition of a peace deed. The acquisition of peace deeds obtained from data from 2021-2023 obtained 3 peace deeds from a total of 74 mediation cases. [Peran mediator menjadi krusial dalam menyelesaikan masalah dalam tahapan mediasi. Akta perdamaian yang diperoleh dari keberhasilan mediasi memiliki kekuatan hukum yang sama dengan putusan pengadilan, artinya akta dapat dijalankan dan dieksekusi seperti putusan hakim. Pengadilan Agama Kota Padangsidimpuan memiliki mediator hakim dan non hakim yang memiliki latar belakang berbeda diantaranya hakim, pengacara, dan dosen. Sehingga dengan keberagaman latar belakang ini menjadikan masing-masing dari mediator melaksanakan perannya dalam penyelesaian masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana mengoptimalkan peran mediator dalam proses mediasi untuk memperoleh akta perdamaian dan mengetahuinya. Penelitian dilakukan dengan metode penelitian lapangan untuk mengetahui keadilan hukum dalam prioritas mengetahui peran mediator dan memperoleh akta perdamaian. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi data-data yang relevan dengan kajian dalam penelitian ini. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peran mediator dalam menyelesaikan perkara mediasi ditentukan berdasarkan diperolehnya akta perdamaian. Perolehan akta perdamaian yang didapatkan dari data tahun 2021-2023 diperoleh 3 akta perdamaian dari jumlah perkara mediasi 74 perkara].
Analysis of the Indonesian Banking System: A Comparison Between Conventional and Sharia Banks Hafiz, Ahsan Putra; Latif, Mukhtar; Muhammad, Pauzi; Umar, M. Hasbi; Adawiyah, Robi'atul; Husin, Midhat; Sibawaihi, Muhammad
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.300

Abstract

This article discusses the banking system, both conventional and Islamic. Conventional adopts the bank interest system, while Islamic adopts the profit-sharing system. The main findings from the literature indicate that Islamic banks, through the profit-sharing system, offer a more equitable distribution of wealth and are considered to have a better risk-sharing mechanism, especially during periods of financial instability. However, the profit-sharing system often faces challenges related to transparency and monitoring, which can potentially affect operational efficiency. In contrast, conventional banks, although benefiting from a simpler interest-based structure, may expose their customers to interest rate volatility and lack the social justice dimension emphasized in Islamic finance.  [Artikel ini membahas mengenai sistem perbankan, baik bersifat konvensional maupun syariah. Konvesional menganut sistem bunga bank, sedangkan syariah menganut system bagi hasil. Temuan utama dari literatur menunjukkan bahwa bank syariah, melalui sistem bagi hasil, menawarkan distribusi kekayaan yang lebih adil dan dianggap memiliki mekanisme pembagian risiko yang lebih baik, terutama selama periode ketidakstabilan keuangan. Namun, sistem bagi hasil seringkali menghadapi tantangan terkait transparansi dan pemantauan, yang berpotensi mempengaruhi efisiensi operasional. Sebaliknya, bank konvensional, meskipun mendapatkan keuntungan dari struktur berbasis bunga yang lebih sederhana, dapat membuat nasabahnya terkena volatilitas suku bunga dan tidak memiliki dimensi keadilan sosial yang ditekankan dalam keuangan Islam].
Legal Protection of Geographical Indications for Traditional Alcoholic Beverages: Perspectives of Islamic Law and Positive Law in Indonesia Muhammad, Hasman Zhafiri; Ramadhan, Galih Dwi
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.313

Abstract

Geographical indication is a form of legal protection for a sign identity of a product related to its region of origin. Various traditional alcoholic beverage products from abroad, such as 'tequila' from Mexico, 'whiskey' from Scotland and 'Pisco' from Peru, are examples of these foreign alcoholic drinks that have been protected by geographical indications in their countries of origin. This research aims to discuss Islamic views and positive law regarding Geographical Indications of alcoholic beverages in Indonesia. The method used is to use a normative method with a Qur'anic and juridical approach in studying alcoholic drinks in Islamic law with references from the Qur’an, and Hadith. The results of this research can be understood that the legal protection of traditional Indonesian alcoholic drinks as Geographical Indications presents significant challenges from an Islamic perspective. It is important for the government to find a middle way that can accommodate the interests of protecting local cultural and economic products, while still respecting religious values. [Abstrak Indikasi geografis merupakan sebuah bentuk perlindungan hukum terhadap tanda identitas suatu produk yang berkaitan dengan daerah asalnya. Berbagai produk minuman alkohol tradisional dari luar negeri seperti ‘tequila’ dari negara meksiko, ‘whisky’ dari negara Skolandia dan ‘Pisco’ dari negara Peru, dari contoh minuman alkohol luar negeri tersebut telah dilindungi oleh indikasi geografis di negara asalnya. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pandangan Islam dan hukum positif dalam hal Indikasi Geografis minuman beralkohol di Indonesia. Metode yang digunakan ialah menggunakan metode normatif dengan pendekatan Qur’ani dan Yuridis dalam mengkaji tentang minuman beralkohol dalam hukum Islam dengan refrensi dari Al-Quran dan Hadist. Hasil dari penelitian menunjukan dapat dipahami bahwa Perlindungan hukum terhadap minuman alkohol tradisional Indonesia sebagai Indikasi Geografis memberikan tantangan signifikan dalam perspektif Islam. Penting bagi pemerintah untuk mencari jalan tengah yang dapat mengakomodasi kepentingan perlindungan produk budaya dan ekonomi lokal, namun tetap menghormati nilai-nilai agama]
The Tradition of Traditional Marriage of Pandhebeh from the Perspective of Muhammadiyah and NU: A Study in Tapen, Bondowoso Adawiyah, Dewi Robiatul
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.316

Abstract

The Rokat Pandhebeh tradition represents a cultural practice that has developed within society and possesses a complex religious dimension. However, the absence of explicit legal foundations in Islam regarding this tradition has led to differing perspectives among religious organizations, particularly Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama (NU). This study aims to analyze the perspectives of both organizations on Rokat Pandhebeh within the framework of maqashid al-shari’ah, focusing on its permissibility, benefits, and limitations. This research employs a qualitative descriptive method with a case study approach. Data were collected through in-depth interviews with Muhammadiyah and NU scholars, as well as an analysis of relevant Islamic literature. The findings reveal that Muhammadiyah scholars generally regard Rokat Pandhebeh as mubah (permissible) as long as it does not contain prohibited elements, such as extravagance or polytheistic practices. This tradition may be observed provided that it does not impose a financial burden on the organizers. From the perspective of maqashid al-shari’ah, this tradition can be categorized under the objective of wealth protection (muhafazah al-mal). Conversely, NU scholars classify Rokat Pandhebeh under al-hajiyyah, a secondary necessity that plays a role in maintaining social and religious balance. This tradition aligns with the five fundamental aspects of maqashid al-shari’ah, namely the protection of religion (muhafazah al-din), life (muhafazah al-nafs), intellect (muhafazah al-‘aql), lineage (muhafazah al-nasl), and wealth (muhafazah al-mal). However, NU emphasizes the importance of caution to ensure that the practice does not lead to elements contradicting Islamic beliefs. Thus, the differing views between Muhammadiyah and NU regarding Rokat Pandhebeh reflect a contextual ijtihad approach, where social and religious benefits serve as primary considerations. [Tradisi rokat Pandhebeh merupakan salah satu bentuk praktik budaya yang berkembang di masyarakat dan memiliki dimensi keagamaan yang cukup kompleks. Namun, belum adanya dasar hukum yang eksplisit dalam Islam mengenai tradisi ini menimbulkan perbedaan pandangan di antara organisasi keagamaan, khususnya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perspektif kedua organisasi terhadap rokat Pandhebeh dalam kerangka maqashid al-shari’ah, dengan fokus pada aspek kebolehan, manfaat, dan batasan pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tokoh Muhammadiyah dan NU, serta analisis terhadap berbagai literatur keislaman yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Muhammadiyah berpandangan bahwa rokat Pandhebeh pada dasarnya bersifat mubah (boleh) selama tidak mengandung unsur yang diharamkan, seperti pemborosan atau unsur syirik. Tradisi ini dapat dilakukan dengan catatan tidak menjadi beban finansial bagi pihak penyelenggara, sehingga dalam perspektif maqashid al-shari’ah, tradisi ini dapat dikategorikan sebagai bagian dari tujuan perlindungan terhadap harta (muhafazah al-mal). Sementara itu, tokoh NU menilai bahwa rokat Pandhebeh termasuk dalam kategori al-hajiyyah, yaitu kebutuhan sekunder yang berperan dalam menjaga keseimbangan sosial dan keagamaan. Tradisi ini memiliki relevansi dengan lima aspek utama maqashid al-shari’ah, yaitu menjaga agama (muhafazah al-din), jiwa (muhafazah al-nafs), akal (muhafazah al-‘aql), keturunan (muhafazah al-nasl), dan harta (muhafazah al-mal). Namun, NU menekankan pentingnya kehati-hatian agar tradisi ini tidak mengarah pada praktik yang bertentangan dengan akidah Islam. Dengan demikian, perbedaan pandangan antara Muhammadiyah dan NU dalam menyikapi rokat Pandhebeh mencerminkan pendekatan ijtihad yang kontekstual, di mana aspek kebermanfaatan sosial dan keagamaan menjadi pertimbangan utama].
Legal Protection for Creditors in Commercial Property Disputes: A Case Study of the Court Decision Malau, Hotmaulina; Seroja, Triana Dewi; Sudirman, Lu
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i1.326

Abstract

Commercial property disputes between creditors and debtors are on the rise, particularly in industrial cities such as Batam. Creditors frequently encounter significant challenges, including the risk of default, third-party claims, and obstacles in executing collateral—largely driven by regulatory uncertainty and weak law enforcement. This study aims to examine the legal protection available to creditors in commercial property disputes, with a focus on District Court Decision No. 158/Pdt.G/Plw/Gs/2022/PN Btm. Utilizing a normative juridical approach, the research highlights a clear disconnect between existing legal provisions and their practical implementation in safeguarding creditor rights. Key barriers faced by creditors include prolonged execution processes, lack of transparency in credit agreements, and insufficient financial literacy among debtors. [Semakin meningkat, terutama di kota industri seperti Batam. Kreditur sering menghadapi risiko wanprestasi, klaim pihak ketiga, dan hambatan eksekusi jaminan yang disebabkan oleh ketidakpastian regulasi serta lemahnya penegakan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan hukum bagi kreditur dalam sengketa properti komersial berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Batam No. 158/Pdt.G/Plw/Gs/2022/PN Btm. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan antara ketentuan hukum yang ada dengan implementasi perlindungan kreditur di lapangan. Hambatan utama yang dihadapi kreditur meliputi proses eksekusi yang berlarut-larut, kurangnya transparansi dalam perjanjian kredit, serta minimnya edukasi bagi debitur].
Harmonization of Islamic Inheritance Law and Indonesian Customary Law Regarding The Acceleration of Inheritance Distribution: Legal Philosophy Study Azharuddin, Azharuddin
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.327

Abstract

Abstract The concept of rahmatan lil 'alamin is a main characteristic in Islamic law, so that every existing law must not burden humans. Nowadays, inheritance problems often arise from the application of its distribution, where the heir (child) wants the distribution to be expedited, this is in accordance with the principles of Islamic inheritance. The other party (wife) is reluctant to grant her child's wishes, this is in accordance with the culture and customs of Indonesian society. This research is purely normative law, where the data only focuses on library materials, the legal philosophy approach is the main analytical tool, and is assisted by a comparative law approach. The results of the study show that the problem of expediting inheritance sometimes ends with a child's lawsuit against his mother in court, so that it often causes social polemics where the child is usually declared an unfilial child or a child who prays for his parents to die. This article provides an analysis related to this problem, because of the conflict between the principles of Islamic inheritance and the culture of Indonesian society, the analysis pattern in this article uses Islamic legal philosophy, so that a fair inheritance distribution is obtained for the Indonesian Muslim community. This article requires that the distribution of inheritance be adjusted to Indonesian culture, at least after all customary and cultural matters regarding the management of the deceased have been completed . [Konsep rahmatan lil‘alamin merupakan khas utama dalam hukum Islam, sehingga setiap hukum yang ada pasti tidak membebani manusia. Dewasa ini sering terjadi permasalahan waris yang beranjak dari penerapan pembagiannya, di mana ahli waris (anak) menghendaki pembagian disegerakan, hal ini sesuai dengan asas waris Islam. Pihak lainnya (istri) enggan mengabulkan keinginan anaknya, hal ini sesuai dengan kultur dan adat kebiasaan masyarakat Indonesia. Penelitian ini murni hukum normatif, di mana datanya hanya berfokus kepada bahan kepustakaan saja, pendekatan filsafat hukum menjadi alat analisis utama, dan dibantu dengan pendekatan perbandingan hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan penyegeraan warisan kadangkala berujung gugatan anak kepada ibunya ke pengadilan, sehingga tidak jarang menimbulkan polemik sosial di mana si anak biasanya dinyatakan sebagai anak durhaka atau anak yang mendoakan orangtuanya meninggal. Tulisan ini memberikan analisis terkait permasalahan tersebut, karena terjadinya pertentangan antara asas kewarisan Islam dengan budaya masyarakat Indonesia, pola penganalisisan dalam artikel ini memakai filoshofi hukum Islam, sehingga didapatkan pembagian warisan yang berkeadilan bagi masyarakat Islam Indonesia. Artikel ini menghendaki supaya pembagian warisan disesuaikan dengan budaya Indonesia, minimal setelah selesai semua urusan adat dan budaya dari kepengurusan mayyit.] 
Woman in the Shadow of Sirri Polygamy in Masbagik District, West Nusa Tenggara: A Legal and Psychological Analysis of the Loss in Inheritance Rights Utami, Gita; Murdan, Murdan
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.339

Abstract

The practice of unregistered marriage is no longer a strange thing in community life. Unregistered marriage or so-called underhand marriage or unregistered marriage is a marriage that is carried out legally according to Islamic law but is not registered administratively by the state. Although the provisions of the law have expressly regulated the requirement for marriage to be registered by authorized officials, the practice of unregistered marriage is still widespread. Unregistered marriages have quite serious impacts. Not only problems in the legal field, but also include the social, economis, and psychological aspects of the perpetrators. The purpose of this study was to determine 1) the legal position of wives who are polygamized unregistered; 2) the psychological impact of wives who do not receive inheritance rights due to unregistered polygamy. In discussing the problems contained in this study, the approaches used are normative legal and empirical legal approaches. Based on the results of the discussion, the position of the wife in unregistered polygamy is a legal wife according to religion, but because the marriage is not registered at the KUA, then according to the applicable positive law, the marriage does not have legal force so that the consequences is that the marriage cannot have legal consequences. The loss of inheritance rights due to an unregistered marriage has a major impact on a wifes psychological condition. [Praktik perkawinan sirri menjadi hal yang tidak asing lagi dalam kehidupan bermasyarakat. Kawin sirri atau disebut kawin di bawah tangan atau kawin tidak tercatat adalah perkawinan yang dilakukan sah menurut syariat Islam namuj tidak dicatatatkan secara administrasi negara. Meskipun ketentuan perundang-undangan telah secara tegas mengatur keharusan perkawinan untuk dicatatkan oleh pejabat yang berwenang, namun praktik perkawinan sirri masih marak terjadi. Perkawinan yang tidak dicatatkan menimbulkan dampak yang cukup serius. Tidak hanya permasalahan pada bidang hukum, tetapi juga meliputi sosial, ekonomi, dan psikologis pelakunya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) kedudukan hukum istri yang di poligami secara sirri; 2) dampak psikologis istri yang tidak mendapatkan hak waris akibat di poligami secara sirri Dalam membahas permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan, yaitu pendekatan secara yuridis normatif dan yuridis empiris. Berdasarkan hasil pembahasan, kedudukan istri dalam poligami sirri adalah istri sah secara agama namun oleh karena perkawinan tersebut tidak dicatatkan di KUA, maka secara hukum positif yang berlaku, perkawinan tersebut tidak memiliki kekuatan hukum sehingga konsekuensinya yaitu perkawinan tersebut tidak dapat menimbulkan akibat hukum. Hilangnya hak waris akibat perkawinan yang tidak tercatat sangat berdampak terhadap kondisi psikologis seorang istri].
From Concept to Practice: Ijtihad Jama’i as a Method for Issuing Halal Product Fatwa from the Perspective of Kiai in Bangkalan, Madura Holis, Holis; Musadad, Ahmad; Setiawan, Firman; Pujiati, Tri
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : Islamic Family Law Department, STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v8i2.340

Abstract

This study aims to analyze the perspectives of Madurese scholars on the application of collective ijtihad (ijtihad jama’i) as a method for determining halal product fatwas. This method is viewed as an effective solution to address the complexity of contemporary issues that cannot be resolved individually. Employing a descriptive qualitative approach, the study collected data through in-depth interviews with scholars from Bangkalan, such as Kiai Ma’ruf Khozin and Kiai Nur Hasyim, complemented by observation and documentation techniques. The findings reveal that Madurese scholars strongly support the implementation of collective ijtihad in halal product fatwa issuance, as it enhances the accuracy of rulings, reinforces their legitimacy, and preserves the values of maq??id al-shar?‘ah. Nevertheless, several challenges were identified, including limited access to contemporary references and the need to strengthen scholarly capacity. The study recommends optimizing the role of bahtsul masail forums, enhancing collaboration among scholars, academics, and halal certification institutions, and expanding the practice of collective ijtihad to the district level. These findings are expected to contribute significantly to strengthening collective-based halal fatwa determination methods amidst the growing demands of the halal industry in Indonesia   [Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pandangan ulama Madura terhadap penggunaan ijtihad jama’i sebagai metode penetapan fatwa produk halal. Metode ini dipandang sebagai solusi efektif dalam menghadapi kompleksitas persoalan kontemporer yang tidak dapat diselesaikan secara individu. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara mendalam terhadap para ulama Bangkalan, seperti Kiai Ma’ruf Khozin dan Kiai Nur Hasyim, serta dilengkapi observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulama Madura sangat mendukung penerapan ijtihad jama’i dalam penetapan fatwa produk halal, karena mampu meningkatkan akurasi, memperkuat legitimasi fatwa, dan menjaga nilai-nilai maq??id syar?‘ah. Namun, beberapa tantangan turut diidentifikasi, seperti keterbatasan akses terhadap literatur kontemporer dan perlunya penguatan kapasitas keilmuan ulama. Penelitian ini merekomendasikan optimalisasi forum bahtsul masail, penguatan sinergi antarulama, akademisi, dan lembaga sertifikasi halal, serta perluasan penerapan ijtihad jama’i hingga tingkat kabupaten. Temuan ini diharapkan dapat menjadi kontribusi penting dalam memperkuat metode penetapan fatwa halal berbasis kolektif di tengah dinamika kebutuhan industri halal di Indonesia]