cover
Contact Name
Ahmad Yousuf Kurniawan
Contact Email
frontbiz@ulm.ac.id
Phone
+6281211109125
Journal Mail Official
frontbiz@ulm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat Jl. Jend. Ahmad Yani Km. 36, Banjarbaru, Kalimantan Selatan 70714, Indonesia
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Frontier Agribisnis
ISSN : -     EISSN : 30481260     DOI : https://doi.org/10.20527/frontbiz
Frontier Agribisnis adalah jurnal yang dikelola Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat. Tema jurnal ini mencakup agribisnis secara umum, meliputi: analisis penyediaan input pertanian, analisis usaha tani dan perkebunan, analisis pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, penyuluhan dan komunikasi pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan analisis kebijakan pertanian. Terbit 4 kali dalam satu tahun (Maret, Juni, September dan Desember).
Articles 697 Documents
Alokasi dan Pendapatan Tenaga Kerja Wanita Dalam Usahatani Karet di Desa Wonorejo Kecamatan Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu Muhammad Aji Pangestu; Ahmad Yousuf Kurniawan; Nuri Dewi Yanti
Frontier Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i3.10355

Abstract

Mayoritas masyarakat di Desa Wonorejo memiliki mata pencaharian sebagai petani karet. Hal tersebut berdampak pada keikutsertaan wanita dalam usahatani karet sebagai tenaga kerja wanita. Wanita dihadapkan pada pilihan terhadap waktu yang dimilikinya seperti mengurus rumah tangga, ikut menyadap, dan beristirahat. Setiap pilihan ada konsekuensi ataupun sesuatu yang dikorbankan dan juga memperoleh timbal balik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alokasi penggunaan tenaga kerja wanita pada usahatani karet, untuk menganalisis pendapatan usahatani karet dan menganalisis pendapatan yang diperoleh tenaga kerja wanita dari usahatani karet. Penelitian ini dilaksaakan di Desa Wonorejo Kecamatan Kusan Hulu Kabupatan Tanah Bumbu. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 113 orang petani karet dan sampel yang terpilih sebanyak 50 responden petani karet Dari hasil penelitian ini didapatakan Alokasi tenaga kerja wanita pada usahatani karet sebesar 40,7% dan 59,3% digunakan untuk kegiatan domestik seperti mengurus rumah tangga dan bersantai. Alokasi tenaga kerja wanita yang paling banyak pada jenis kegiatan penyadapan dan yang paling sedikit pada kegiatan pemeliharaan. Penerimaan wanita dalam usahatani karet di Desa Wonorejo sebesar Rp 2.019.640/bulan dengan pendapatan sebesar Rp 1.695.189/bulan dan biaya eksplisit sebesar Rp 324.45/bulan. Penelitian ini hanya menyampaikan beberapa indikasi dan fakta sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menduga hubungan antar indikasi tersebut, misalnya faktor yang mempengaruhi alokasi tenaga kerja wanita.
Analisis Finansial Usaha Pembibitan Tanaman Hortikultura dan Tanaman Kehutanan (Studi Kasus CV Bauntung Tiga) di Desa Sungai Sipai Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar Hayatun Nafsiah; Artahnan Aid; Hairin Fajeri
Frontier Agribisnis Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i2.800

Abstract

Tujuan Nasional dalam pengembangan subsektor tanaman pangan dan tanaman hortikultura adalah swasembada pangan. Sedangkan tujuan utama pengembangan subsektor tanaman pangan dan tanaman hortikultura adalah peningkatan produksi dan kesejahteraan petani yang dicapai melalui upaya peningkatan pendapatan, produksi dan produktivitas usaha tani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelenggaraan usaha pembibitan tanaman hortikultura dan tanaman kehutanan, biaya yang dikeluarkan, penerimaan dan keuntungan serta kelayakan usaha secara jangka pendek pada CV Bauntung Tiga. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sungai Sipai Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar  mulai dari bulan September 2018 sampai Januari 2019. Usaha ini mulai berdiri  berdiri  pada tahun  2003  dan  resmi  menjadi CV Bauntung Tiga pada tahun 2016 pemiliknya adalah H. Ahyani. Penentuan lokasi dalam penelitian ini dilakukan secara porposive. Berdasarkan hasil penelitian ini menyatakan bahwa nilai profit rate 213,94% > 0,16% inflation rate yang artinya bahwa usaha pembibitan tanaman hortikultura dan tanaman kehutanan pada CV Bauntung Tiga secara jangka pendek layak untuk diteruskan.Kata kunci: analisis jangka pendek, hortikultura, kehutanan
DAMPAK PROGRAM KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (KRPL) TERHADAP PENGELUARAN RUMAH TANGGA DI BANJARBARU Noor Endah Fityanti; Luthfi Fatah; Eka Radiah
Frontier Agribisnis Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i2.2909

Abstract

Berkurangnya lahan terbuka hijau di Kota Banjarbaru diakibatkan oleh bertambahnya penduduk untuk pembangunan perumahan serta infrastruktur oleh pemerintah. Pekarangan mempunyai peluang untuk dikembangkan sehingga secara optimal dapat menopang kehidupan masyarakat. Kementerian Pertanian  melalui Badan Litbang Pertanian mengembangkan suatu Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) untuk optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan, utamanya melalui pemanfaatan berbagai inovasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) terhadap pengeluaran rumah tangga dan terhadap kondisi sosial di Banjarbaru serta untuk mengetahui kendala – kendala yang dihadapi oleh Kelompok Wanita Tani dalam pelaksanaan program KRPL di Banjarbaru. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Jumlah responden penelitian ini sebanyak 30 orang anggota wanita kelompok wanita tani yang ditentukan dengan metode proporsionate random sampling. Hasil penelitian menunjukkan berupa  penghematan pengeluaran untuk pangan, karena sebagian besar pengeluaran pangan untuk konsumsi dapat diperoleh dari program KRPL. Untuk pengeluaran non pangan terjadi peningkatan, karena masyarakat yang sebelumnya belanja untuk kebutuhanpangan dialihkan untuk belanja non pangan. Adapun dampak sosial yaitu mendapatkan ilmu tentang cara bercocok tanam dan hubungan antar tetangga terjalin baik. Kendala yang dihadapi pada saat pelaksanaan program yaitu pada kendala lingkungan berupa kekurangan air pada saat musim kemarau. Pada kendala sosial adalah tidak semua orang dapat berhadir pada saat pertemuan dengan penyuluh karena melakukan perawatan dikebun. Pada kendala ekonomi hasil pekarangan maupun kebun tidak dapat dijual karena hasilnya sedikit. Pada kendala teknis meliputi keterbatasan lahan pekarangan.
ANALISIS PENYERAPAN TENAGA KERJA SEKTOR PERTANIAN DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Alia Istiana; Muhammad Husaini; Luki Anjardiani
Frontier Agribisnis Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i1.8275

Abstract

Sektor pertanian memegang peranan penting dalam penyerapan tenaga kerja, karena sebagian besar penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan bekerja pada sektor ini. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap serapan tenaga di sektor pertanian, seperti besarnya PDRB di sektor pertanin, luas lahan pertanian itu sendiri dan upah minimum, sehingga perlu dilakukan penelitian dengan tujuan untuk menganalisis kontribusi sektor pertanian terhadap penyerapan tenaga kerja total di Provinsi Kalimantan Selatan dan pengaruh PDRB sektor pertanian, luas lahan pertanian dan upah miminum provinsi terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian. Dalam penelitian ini menggunakan data sekunder (time series) mulai dari tahun 2001 sampai dengan 2022. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 2001-2020 rata-rata jumlah serapan tenaga kerja diseluruh sektor mencapai 1.744.848 orang, sementara serapan tenaga kerja di sektor pertanian sebesar 709.576 orang, sehingga besarnya kontribusi serapan tenaga kerja sektor pertanian terhadap total tenaga kerja mencapai 41,34% dengan rata-rata laju pertumbuhan selama periode tersebut cenderung turun sebesar 1,82% per tahun. Faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap serapan tenaga kerja di sektor pertanian yaitu besarnya PDRB sektor pertanian, luas lahan pertanian dan upah minimum yang berlaku Provinsi Kalimantan Selatan.
Perkembangan UMKM Berbahan Baku Kedelai dan Perkiraan Kebutuhan Kedelai di Kabupaten Banjar Bima Dwi Nugraha Sakti; Lutfhi Fatah; Luki Anjardiani
Frontier Agribisnis Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i1.6021

Abstract

Indonesia merupakan negara agraris besar dan sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui perkembangan jumlah UMKM berbahan baku kedelai di Kabupaten Banjar dalam lima tahun terakhir dan perkiraan perkembanganya lima tahun kedepan, Untuk mengetahui perkembangan kebutuhan kedelai lima tahun terakhir dan perkiraan kebutuhan kedelai pada UMKM berbahan bakukedelai dalam lima tahun kedepan. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Januari 2020 dengan Desember 2020. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan UMKM berbahan baku kedelai di Kabuaten Banjar sebanyak 7 (tujuh) UMKM industri tahu, 1 (satu) UMKM industri tempe, dan 1 (satu) UMKM industri kecap, dengan laju peningkatan UMKM berbahan baku kedelai yaitu sebesar 0%. Kebutuhan kedelai lima tahun terakhir di Kabupaten Banjar sebanyak 1.310.400 kg. Kebutuhan kedelai untuk UMKM industri tahu lima tahun kedepan sebanyak 915512 kg, kebutuhan kedelai untuk industri tempe lima tahun kedepan sebanyak 242.872 kg, dan kebutuhan kedelai untuk industri kecap lima tahun kedepan sebayak 133.494 kg. Untuk kebutuhan kedelai lima tahun mendatang sebanyak 1.291.877kg.
TINGKAT PENGETAHUAN PETANI DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI DAN NILAI JUAL KARET DI DESA HANTAKAN KECAMATAN HANTAKAN KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH Ahmad Rayhan; Nuri Dewi Yanti; Nurmelati Septiana
Frontier Agribisnis Vol 1, No 4 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v1i4.629

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan petani dalam meningkatkan produksi dan nilai jual karet di Desa Hantakan Kecamatan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan untuk mengetahui kendala yang dihadapi petani dalam meningkatkan produksi dan nilai jual karet di Desa Hantakan Kecamatan Hantakan. Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode survei. Dari 245 petani karet yang ada dilokasi penelitian dipilih secara acak sebanyak 40 petani karet yang dijadikan responden. Hasil wawancara di lapangan secara keseluruhan kemampuan petani dalam penanaman berada dalam kategori cukup dengan skor 65,83%. Tingkat pengetahuan petani secara umum dalam pemeliharaan tanaman karet berada pada kategori kurang yaitu 50,63%. Hal ini disebabkan keterbatasan informasi yang didapat serta masih banyaknya petani yang tidak menghiraukan tentang penyakit tanaman karet. Pengetahuan petani dalam pemanenan yaitu sebesar 72,32% dari keseluruhan responden, hasil ini berarti berada pada kategori cukup. Karena keterbatasan informasi yang didapat oleh petani yang menjadi faktor masih banyaknya petani yang tidak mengetahui cara memanen tanaman karet dengan baik. Ditambah lagi oleh kebiasaan petani yang menerapkan cara lama dan enggan mengikuti arahan dari penyuluh. Pengolahan hasil karet sudah banyaknya petani karet yang mengetahui yaitu sebanyak 86,56% berada dalam kategori baik. Pengetahuan petani tentang pemasaran hasil panen berada dalam kategori cukup yaitu sebesar 67,5%. Yang dimana artinya petani sudah mengetahui penjualan hasil panen yang baik di lakukan di koperasi atau di antar ke pabrik secara langsung. Waktu peremajaan karet sudah banyaknya petani karet yang mengetahui yaitu sebanyak 97,5% responden bahwa tanaman karet diremajakan saat usia tanaman karet sudah di atas 25 tahun. Total pengetahuan petani karet berada dalam kategori kurang yaitu 73,04% dari keseluruhan responden. Nilai tertinggi yaitu pengetahuan petani dalam peremajaan tanaman karet sebesar 97,5%. Kata kunci: pengetahuan, karet, produksi, nilai jual
ANALISIS USAHATANI TANAMAN BAYAM DAN SAWI DI DESA KAMPUNG BARU KECAMATAN KUSAN HILIR KABUPATEN TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Zulkar Hamidi; Hairi Firmansyah; Mariani Mariani
Frontier Agribisnis Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i1.12266

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelenggaraan usahatani sayuran bayam dan sayuran sawi, menganalisis biaya, penerimaan, keuntungan, dan kelayakan serta mengetahui permasalahan petani sayuran bayam dan sayuran sawi. Sebanyak 32 orang disurvei memakai metodologi sensus. Temuan penelitian menunjukkan bahwa budidaya bayam dan sawi memberikan hasil panen yang baik, dimulai dari penyiapan lahan dan dilanjutkan dengan penanaman dan pemeliharaan, serta mengikuti metode teknis yang tepat dalam menanam tanaman tersebut. Rata-rata biaya total yang harus dikeluarkan petani sebesar Rp944.992 per usahatani dengan rata-rata biaya variabel sebesar Rp773.063 per usahatani dan rata-rata biaya tetap sebesar Rp171.929 per usahatani. Rata-rata penerimaan usahatani sayuran bayam dan sayuran sawi diperoleh sebesar Rp2.846.250 per usahatani. Sedangkan rata-rata keuntungan usahatani sayuran bayam dan sayuran sawi Rp1.901.258 per usahatani. Hasil evaluasi menampilkan bahwa kelayakan usahatani sayuran bayam dan sayuran sawi di Desa Kampung Baru Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu yakni sekitar 1,81. Nilai BCR lebih besar dari 1, yang mengindikasikan bahwa usahatani tersebut dapat dianggap sebagai usahatani layak untuk diteruskan. Pada usahatani sayuran bayam dan sayuran sawi mempunyai masalah pada hama dan harga jual. Hama ulat grayak dan ulat perusak daun yang menyerang pada tanaman sawi dan tanaman bayam, sedangkan untuk permasalahan harga jual dimana harga jual sayuran yang mengalami ketidakstabilan ketika adanya para pedagang sayuran dari luar daerah menjual hasil kebunnya di pasar daerah kusan hilir.
Analisis Usahatani dan Nilai Tambah Jagung Hibrida Pipil Kering Sebagai Pakan Ternak di Desa Tajau Pecah, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut Rivaldi Ramadani; Eka Radiah; Hairin Fajeri
Frontier Agribisnis Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i3.1305

Abstract

Abstrak. Sebagai salah satu sumber bahan pangan, jagung telah menjadi komoditas utama dan menjadi salah satu penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto. Usahatani jagung pipil di Desa Tajau Pecah sendiri mengalami permasalahan. Iklim yang tidak menentu serta terbatasnya pengetahuan petani dalam analisis usahatani yang mereka jalankan menyebabkan kurang maksimalnya pengetahuan petani secara teorisits tentang usahatani jagung pipil yang dilakukan apakah memberikan keuntungan yang maksimum atau tidak jika dilihat dari RCR (Return Cost Ratio). Adanya nilai tambah terhadap penjualan jagung pipil, didasari oleh perbedaan harga jual antara jagung pipil kering dan jagung pipil basah. Tujuan penelitian ini yaitu, menganalisis biaya, penerimaan, keuntungan, efisiensi usaha dan nilai tambah dari usahatani jagung pipil tersebut. Dalam pengambilan sampel penelitian ini menggunakan metode simple random sampling (contoh acak sederhana) yaitu 47 responden petani jagung pipil yang diambil. Analisis data yang digunakan adalah biaya eksplisit, biaya implisit, biaya total, penerimaan, pendapatan, keuntungan, efisiensi usaha dan nilai tambah. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi usahatani jagung pipil untuk satu kali periode tanam mencapai 23.890,97 kg dengan jumlah 1.122.876 kg. Kemudian untuk penerimaan petani jagung pipil rata-rata sebesar Rp 69.283.838,30,00 dengan jumlah Rp 3.256.340.400 dari keseluruhan petani responden. Rata-rata biaya yang dikeluarkan petani dalam satu kali periode tanam sebesar Rp 33.950.143,61,00 dengan total biaya sebesar Rp 1.595.656.750,00. Pendapatan yang diperoleh petani sebesar Rp 1.799.905.650,00 dengan keuntungan sebesar Rp 1.660.683.650,00. Nilai R/C Ratio pada usahatani jagung pipil sebesar 2.21. Berdasarkan kriteria nilai R/C Ratio > 1 yang artinya usahatani jagung pipil di Desa Tajau Pecah dapat dikatakan efisiensi dan layak untuk diusahakan. Selanjutnya untuk nilai tambah yang diperoleh dalam usahatani jagung pipil kering sebesar Rp 1.285,00 Nilai tambah tersebut diperoleh dari pengurangan nilai output (jagung pipil kering) dengan biaya bahan baku dan biaya input lainnya.Kata kunci: biaya, penerimaan, pendapatan, keuntungan, efisiensi usaha dan nilai tambah 
Sikap Petani terhadap Benih Unggul Padi Bersertifikat di Desa Saring Sei Binjai Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu Mujerimin Mujerimin; Masyhudah Rosni; Muhammad Husaini
Frontier Agribisnis Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i2.5887

Abstract

Peningkatan produksi padi dapat dilakukan salah satunya dengan penggunaan benih unggul padi bersertifikat. Namun, di lapangan sering ditemukan petani enggan untuk menggunakan benih tersebut dengan berbagai alasan. Tujuan dari penelitian ini antara lain menganalisis sikap petani terhadap benih unggul padi bersertifikat, menganalisis faktor pembentuk sikap, dan hubungan sikap petani dengan faktor pembentuk sikap yang berlokasi di Desa Saring Sei Binjai. Jumlah populasi petani di desa tersebut sebanyak 312 petani, dari jumlah tersebut diambil sebanyak 30 petani dengan teknik acak sederhana. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 56,7% petani memiliki sikap positif dan 43,3% memiliki sikap negatif terhadap benih unggul padi bersertifikat. Pengalaman berusaha tani rata-rata lebih dari 11 tahun. Faktor pembentuk sikap petani yaitu pendidikan formal, yang didominasi oleh lulusan SD. Pendidikan non formal yang dijalani seperti penyuluhan pertanian dan pelatihan masing-masing dilakukan 1 sampai 2 kali  per tahun. Petani memiliki paling tidak 1 orang yang mempengaruhi sikap. Petani rata-rata memiliki 2 media massa yang diakses dengan media yang paling sering digunakan adalah televisi dan brosur. Faktor pembentuk sikap pendidikan formal berhubungan secara signifikan dengan sikap petani terhadap benih unggul padi bersertifikat dengan taraf kepercayaan 95%, sedangkan faktor pembentuk sikap pengalaman berusaha tani, pendidikan nonformal, pengaruh orang lain yang dianggap penting, dan media massa tidak berhubungan secara signifikan pada taraf kepercayaan 95% dengan sikap petani terhadap benih unggul padi bersertifikat.
Analisis Usahatani Cabai Rawit (Capsicum frutescens) di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut Bayu Nurkholis; Masyhudah Rosni; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9426

Abstract

Cabai merupakan salah satu komoditas holtikultura yang dibutuhkan dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Cabai rawit merupakan jenis cabai yang banyak digunakan dalam masakan sehari-hari. Beragamnya masakan Indonesia yang menggunakan cabai rawit sebagai bahan baku membuat meningkatnya kebutuhan atau permintaan pasar akan cabai rawit. Hal ini berpotensi dapat meningkatkan penerimaan petani karena cabai rawit memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Panyipatan merupakan salah satu daerah dengan penanaman cabai terbesar di Tanah Laut dengan total luas lahan 42 ha pada tahun 2020. Hal ini membuat Kecamatan Panyipatan dijadikan tempat penelitian dalam usahatani cabai rawit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya, penerimaan, serta keuntungan usahatani cabai rawit di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut. Disisi lain, penelitian ini juga menganalisis tentang kelayakan usahatani cabai rawit. Metode penarikan contoh yang digunakan dalam penelitian yaitu Simple Random Sampling dengan pengambilan secara acak 30 orang dari 72 orang sebagai sampel penelitian. Hasil dari penelitian, diketahui bahwa rata-rata dalam 1 periode tanam, biaya yang dikeluarkan petani per usahatani sebesar sebesar Rp18.923.150,00/ut atau Rp75.525.525,44/ha dengan rincian Rp197.750,00/ut atau Rp811.625,23/ha untuk biaya tetap dan Rp18.725.400,00/ut atau Rp74.713.900,20/ha untuk biaya variabel. Penerimaan usahatani cabai rawit rata-rata sebanyak Rp84.311.666,67/ut atau Rp336.201.020,61/ha. Keuntungan yang diperoleh setiap usahatani rata-rata yaitu Rp65.388.516,67/ut atau Rp260.675.495,18/ha dengan nilai RCR 4,52. Nilai ini berarti setiap 1 rupiah yang dikeluarkan petani, maka petani akan mendapat penerimaan sebanyak 4,52 rupiah. Dengan nilai lebih daripada 1, maka usahatani cabai rawit di Kecamatan Panyipatan layak untuk diusahakan.