cover
Contact Name
Tyson Jeidi Jeri Supit
Contact Email
tysonsupit@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkardia@gmail.com
Editorial Address
8RPM+CPF, Kakaskasen, Tomohon Utara, Tomohon City, North Sulawesi
Location
Kota tomohon,
Sulawesi utara
INDONESIA
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 29862019     DOI : https://doi.org/10.69932/kardia
Adapun yang menjadi Fokus dan Ruang Lingkup dalam Jurnal KARDIA adalah: 1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama & Perjanjian Baru) 2. Teologi Historika 3. Teologi Sistematika 4. Teologi Sosial dan Publik 5. Teologi Digital dan Internet of Things 6. Teologi Kontekstual 7. Misiologi Biblikal & Praktikal 8. Etika Kristen 9. Pendidikan Kristiani dalam Gereja, Keluarga & Sekolah
Articles 31 Documents
Pengaruh Guru Pendidikan Agama Kristen terhadap Pembentukan Iman dan Karakter Peserta Didik di Sma Negeri 1 Manokwari Papua Barat Supit, Tyson Jeidi Jeri
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v1i2.15

Abstract

Abstract: The problem in this study, according to the title, what can be questioned in this study is the extent to which the influence of Christian religious education teachers has on the formation of faith and character of students at State Senior High School I Manokwari, West Papua. The purpose of this research was conducted with the aim of measuring the extent of the influence of Christian religious education teachers on the formation of faith and character of high school students I Manokwari, West Papua. This research method was carried out by correlation research by taking samples through questionnaires. From the results that the authors obtained in a questionnaire survey of State Senior High School I Manokwari students, they recognized the influence of Christian Religious Education Teachers on the formation of Faith and Character, so as a percentage, there was a low influence of Christian Religious Education on faith formation of 0.238 ˃ 0.005. As for character, there is a low influence of Christian Religious Education on character formation of 0.281 ˃ 0.005. So it can be said that the influence of Christian Religious Education teachers is very useful and very influential for students to form faith and character. Abstrak: Masalah dalam penelitian ini, Sesuai judul, maka yang dapat dipertanyakan dalam penelitian ini adalah sejauh mana Pengaruh Guru Pendidikan Agama Kristen Terhadap Pembentukan Iman dan Karakter Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri I manokwari Papua barat. Tujuan penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengukur sejauh mana PengaruhGuru Pendidikan Agama Kristen Terhadap Pembentukan Iman dan Karakter Siswa Sekolah Menengah Atas I Manokwari Papua barat. Metode penelitian ini dilakukan dengan penelitian Korelasi dengan pengambilan sampel melalui penyebaran angket. Dari hasil yang penulis dapatkan dalam survey angket terhadap Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri I Manokwari mengenal pengaruh Guru Pak terhadap pembentukan Iman dan Karakter maka secara presentase, Terdapat pengaruh yang rendah dari Pendidikan Agama Kristen terhadap pembentukan iman sebesar 0.238 ˃ 0.005. Sedangkan untuk karakter, Terdapat pengaruh yang rendah dari Pendidikan Agama Kristen terhadap pembentukankarakter sebesar 0.281 ˃ 0.005. Jadai dapat dikatakan bahwa pengaruh Guru Pendidikan Agama Kristen Itu sangat berguna dan sangat berpengaruh kepada siswa Untuk terbentuknya Iman dan Karakter
Eksplorasi Perumpamaan Dirham yang Hilang: Refleksi berdasarkan Lensa Pendidikan Agama Kristen Sarmauli, Sarmauli; Lana, Isa Andreyanku
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v2i1.17

Abstract

Abstract: This research is motivated by the author's curiosity to explore the contemporary meaning of the content of the parable of the prodigal son in Luke 15:8-10, which has become a topic of discussion in Christianity. This parable illustrates God's love for a lost soul and conveys moral and spiritual messages that are relevant in the context of modern Christian life. The purpose of this research is to explore the meaning of the parable of the lost dirham in the Gospel of Luke in the controversy or phenomenon of contemporary Christianity. The research method in this paper uses a qualitative approach through literature review to explore the moral and spiritual messages contained in this parable and its relevance in contemporary Christian religious education. The findings confirm that the parable emphasizes the infinite love of the Creator for each individual who feels "lost" in his or her journey. More than just a story, the parable reflects God's love and concern for the "lost" soul. Its moral and spiritual message is a strong foundation in modern Christian religious education, encouraging us to appreciate the uniqueness of each soul while spreading the message of love and hope to others. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keingintahuan penulis untuk menggali makna terkini dalam muatan perumpamaan tentang 'Dirham yang Hilang' dalam kitab Lukas 15:8-10 menjadi pokok perbincangan dalam ajaran agama Kristen. Perumpamaan ini mengilustrasikan kasih Ilahi terhadap jiwa yang terhilang, serta menyampaikan pesan moral dan spiritual yang relevan dalam konteks kehidupan Kristen modern. Tujuan penelitian ini berupaya untuk menggali makna kembali pada perumpamaan dirham yang hilang dalam kitab Injil Lukas dalam kontestasi ataupun fenomena Kekrisnan saat ini. Metode penelitian dalam tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui telaah literatur untuk mengeksplorasi pesan moral dan rohani yang terkandung dalam perumpamaan ini dan relevansinya dalam pendidikan agama Kristen masa kini. Hasil temuan menegaskan bahwa perumpamaan ini menyoroti kasih yang tak terbatas dari Sang Pencipta terhadap setiap individu yang merasa 'terhilang' dalam perjalanannya. Lebih daripada sekadar kisah, perumpamaan ini menjadi cermin kasih dan perhatian Ilahi terhadap jiwa yang 'terhilang'. Pesan moral dan spiritualnya menjadi fondasi kuat dalam pendidikan agama Kristen modern, mendorong kita untuk menghargai keunikan setiap jiwa sambil menyebarkan pesan kasih dan harapan kepada sesama.
Aplikasi Konsep Manajemen Strategi dalam Menyelenggarakan Perguruan Tinggi Kristen yang Berkualitas Perangin Angin, Yakub Hendrawan; Yeniretnowati, Tri Astuti
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v2i1.18

Abstract

Abstract: The aim of this research is to show the effectiveness and importance of the application of strategic management concepts in the process of administering educational institutions, in order to answer the problems that exist and are experienced in Christian Religious Higher Education organizations in particular, where data and facts show that there are still many Private and Religious Higher Education Institutions Christians in Indonesia are not yet of the quality that higher education institutions should be. The method in this research uses a literature study approach that reveals data and facts and analyzes problems and the role of strategic management concepts as solutions. The results and conclusions are that the application of the concept of strategic management in the management of Christian Religious Higher Education is a very important strategic decision taken by the management of the governing foundation and the leaders and management who organize the Christian Religious Higher Education organization in order to be able to organize the organization well, with quality and even professionalism so that can not only survive but also continue to grow until it reaches sustainability. Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah menunjukkan sangat efektif dan pentingnya aplikasi dari konsep manajemen strategi dalam proses penyelenggaraan institusi pendidikan, guna menjawab persoalan yang ada dan dialami pada organisasi Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen khususnya, di mana data dan fakta menunjukkan masih banyak Perguruan Tinggi Swasta dan Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen di Indonesia yang belum berkualitas sebagai mana seharusnya institusi pendidikan tinggi. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka yang mengungkap data dan fakta serta menganalisis persoalan dan peranan konsep manajemen strategi sebagai solusinya. Hasil dan kesimpulannya bahwa Aplikasi konsep manajemen strategi dalam pengelolaan Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen adalah merupakan sebuah keputusan stratejik yang sangat penting diambil oleh pengurus yayasan yang manaungi dan pemimpin serta manajemen yang menyelenggarakan organisasi Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen guna dapat menyelenggarakan organisasinya dengan baik, berkualitas bahkan professional sehingga bukan saja dapat bertahan tetapi juga terus bertumbuh sampai mencapai keberlanjutan (sustainable).
Lima Pilar Kelompok Sel Alkitabiah menurut Kisah Para Rasul 2:42 Purwonugroho, Daniel Pesah
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v2i1.19

Abstract

Abstract:  Cell groups designed in the church have a clear purpose which is to shape the life of the congregation. Cell groups need to imitate what the early church did as recorded in Acts 2:42 and make it a pillar in forming a cell group. Acts 2:42 tells the story of how the life of the early church was formed. The habits of the early church led to spiritual growth. Without basing the cell group on a biblical foundation, the cell group will not have a significant impact on the growth of the church. There are five things that can be observed from the habits of the early church in Acts 2:42. These five things can then be applied in the cell group pattern to bring the congregation to experience significant spiritual growth. Using a descriptive qualitative method, it can be concluded that the five pillars of biblical cell groups according to Acts 2:42 need to be applied to improve the spiritual life of the congregation. This is because Acts 2:42 is the right foundation for building cell groups in a local church today. Acts 2:42 tells about the habits of the early church in the days of the apostles where the early church persevered in teaching, fellowship, breaking bread and praying. The early church did these things and the early church experienced significant growth in both quality and quantity. Abstrak: Kelompok sel yang di desain di dalam gereja memiliki tujuan yang jelas yaitu untuk membentuk kehidupan jemaat. Kelompok sel perlu meniru apa yang jemaat mula-mula lakukan yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 2:42 dan menjadikannya pilar pilar dalam membentuk sebuah kelompok sel. Kisah Para Rasul 2:42 menceritakan tentang bagaimana kehidupan jemaat mula-mula terbentuk. Kebiasaan jemaat mula-mula membawa kepada sebuah pertumbuhan rohani. Tanpa mendasari kelompok sel dengan dasar Alkitabiah, maka kelompok sel yang dibangun tidak akan membawa dampak yang signifikan bagi pertumbuhan jemaat. Ada lima hal yang dapat diteliti dari kebiasaan jemaat mula-mula di dalam Kisah Para Rasul 2:42. Lima hal tersebut kemudian dapat diterapkan di dalam pola kelompok sel untuk membawa jemaat mengalami pertumbuhan rohani yang signifikan. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, dapat disimpulkan bahwa lima pilar kelompok sel Alkitabiah menurut Kisah Para Rasul 2:42 perlu diterapkan demi meningkatkan kehidupan rohani jemaat. Sebab dalam Kisah Para Rasul 2:42 adalah fondasi yang tepat untuk membangun kelompok sel dalam sebuah gereja lokal masa kini. Kisah Para Rasul 2:42 menceritakan tentang kebiasaan jemaat mula-mula di zaman para rasul yang mana jemaat mula-mula bertekun dalam pengajaran, bersekutu, memecahkan roti dan berdoa. Hal tersebut jemaat mula-mula lakukan dan jemaat mula-mula mengalami pertumbuhan signifikan dalam kualitas maupun kuantitas.
Implementasi Kuasa Kasih Kristus berdasarkan Roma 8:35-39 bagi Orang Percaya Masa Kini Setiawan, Iwan; Samuel; Hutabarat, Ruth Fulcher; Bitriyani, Novillia Dian; Agustiani, Ni Made Tirza
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v2i1.20

Abstract

Abstract: God's love is the highest and most noble than anything else. God's love for sinners is expressed through His Son who became the savior to die for sins as an intermediary for sinners to God. There are many people who do not realize how great the power of God's love is in their lives because of the various things they have experienced, so they live in fear, doubt, and disbelief due to the suffering they have experienced. The research method used is descriptive, namely a method used in researching the status of human groups, objects, research conditions, systems of thought or a class of events in the present which aims to create good and systematic, factual descriptions, images or paintings. The hermeneutic method means expressing, translating, interpreting. The hermeneutic source material is Romans 8: 35-39 with the aim of achieving an understanding of the meaning. The research results obtained are that nothing can separate from the power of Christ's love, the power of Christ's love makes believers more than winners, the power of Christ's love is above all. So that the implementation of the power of Christ's love is based on the belief that nothing will separate believers from the Love of God that is in Christ Jesus, this makes believers selfless, generous and kind, because Christ's love is so great that they have confidence. to be able to share it with others. Abstrak: Kasih Allah yang paling tinggi dan paling mulia dibanding apapun. Kasih Allah kepada orang-orang berdosa dinyatakan melalui AnakNya yang menjadi juruselamat untuk mati menebus dosa menjadi perantara orang berdosa kepada Allah. Ada banyak orang yang tidak menyadari betapa besar kuasa kasih Allah dalam hidupnya karena berbagai hal yang dialaminya sehingga mereka hidup dalam ketakutan, keraguan, ketidakpercayaan akibat penderitaan yang dialami. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif yaitu suatu metode yang digunakan dalam meneliti status kelompok manusia, objek, riset kondisi, sistem pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang yang bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara baik dan sistematis, factual. Metode hermeneutika berarti mengekspresikan, menerjemahkan, menafsirkan. Bahan sumber hermeneutikanya adalah Roma 8: 35-39 dengan tujuan untuk mencapai pemahaman makna. Hasil penelitian yang diperoleh adalah tidak ada yang dapat memisahkan dari kuasa kasih Kristus, kuasa kasih kristus menjadikan orang percaya lebih dari pemenang, kuasa kasih kristus di atas segalanya. Sehingga implementasinya kuasa kasih Kristus didasari oleh keyakinan bahwa tidak akan ada yang memisahkan orang percaya dari Kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, hal itu membuat orang percaya tidak mementingkan diri sendiri, menjadi murah hati dan baik hati, karena begitu besarnya kasih Kristus sehingga memiliki keyakinan untuk dapat membagikannya kepada orang lain.
Diskursus Diskursus Janda Manado: Antara Sosio-Teologis dan Ekofeminisme Stevanus, Alexander
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v2i1.21

Abstract

Abstract: The status of widow is always associated with a negative stigma, especially for young widows or flower widows. Widow status is a status obtained due to divorce due to death (divorce) and divorce due to family problems or conflicts. Widow status carries a burden both emotionally and socially, especially for widows in the Manado context who experience social status discrimination. Janda Manado was formed due to the local popular cultural context of Manado and the influence of foreign cultural fashion. Manado widows are no longer seen as women in social status, but as social bodies that are seen only as sexual bodies. The aim of this research is to provide a critical analysis of socio-theological and ecofeminism. The research method used is research with a qualitative approach. The results of this research found that the Bible provides a clear theological basis for the socio-theological and ecofeminist analysis of the Manado widow context. In the text Exodus 22: 22 it is stated: "you shall not oppress a widow or an orphan" which means that Hebrew law also has rules that protect orphans and even widows. Abstrak: Status janda selalu terbangun dengan stigma yang negatif, terutama untuk janda muda atau janda kembang. Status janda adalah status yang diperoleh karena diceraikan karena kematian (cerai mati) dan cerai hidup karena persoalan atau konflik keluarga. Status janda membawa beban baik secara emosional maupun sosial terutama untuk janda dalam konteks Manado yang mengalami diskriminasi status sosial. Janda Manado yang terbentuk karena konteks budaya lokal popular Manado dan pengaruh mode budaya asing. Janda Manado tidak lagi dipandang sebagai perempuan dalam status sosial, tetapi tubuh sosial yang dipandang hanya sebagai tubuh seksual. Tujuan penelitian ini untuk memberikan analisis kritis sosio-teologis dan ekofeminisme. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa Alkitab memberikan dasar teologis yang jelas mengenai analisis sosio-teologis dan ekofeminis konteks janda Manado. Dalam teks Keluaran 22: 22 dinyatakan: “seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas” yang artinya hukum Ibrani juga memiliki aturan yang melindungi anak yatim dan bahkan janda.
Tersembunyi tapi Nyata: Makna Pertolongan Allah dari Balik Layar dalam Kitab Ester Nendissa, Julio Eleazer; Manoppo, Febri Kurnia; Mongkau, Dedy Efendy
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v2i2.27

Abstract

Abstract: The theological meaning in the book of Esther is very difficult for lay people to understand because the name and power of God are not visible, so this is the characteristic and character of the book of Esther. The controversy over the book of Esther is when it maintains its spiritual existence so that it is tested whether the book of Esther is a holy book or not with various considerations regarding the controversy over the word of God. The purpose of this article is to explain and analyze the meaning of God's help based on God's absence throughout the storyline in the book of Esther so that God's invisible existence can be interpreted theologically. This article uses qualitative research with a library study approach, namely books and journals as references for researching existing problems. This article offers new understanding through the findings obtained, namely the theology of the book of Esther as a depiction of a woman able to provide resistance and appear confident and responsible because she was chosen by the king. Another finding, although the book of Esther does not contain the word God, God's help is also not visible or hidden, it can be felt by the figure of Esther in a real way through the incident of Esther being chosen by the king as queen, God's help through Esther which turned the situation around for the Jews. Abstrak: Makna teologis dalam kitab Ester sangat sulit dicerna sebagai kaum awam karena nama dan kuasa Allah tidak tampak secara jelas sehingga ini menjadi ciri serta karakter dari kitab Ester. Kontroversi kitab Ester ini ketika mempertahankan eksistensi kerohanian sehingga diuji kelayakan bahwa kitab Ester sejatinya kitab suci atau bukan dengan berbagai pertimbangan terhadap kontroversi kata Allah. Tujuan dari tulisan ini ialah menjelaskan dan menganalisis makna pertolongan Allah dengan berlandaskan pada ketidakhadiran Allah di kitab Ester yang secara sengaja tidak menceritakan sosok Allah dengan penuh kebaikan dan pertolongan untuk muncul dalam kitab tersebut sehingga keberadaan Allah yang tidak tampak itu bisa dimaknai secara teologis. Artikel ini memakai penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka yakni buku dan jurnal sebagai acuan untuk dipakai meneliti persoalan yang ada. Artikel ini menawarkan pemahaman baru lewat temuan yang didapatkan yaitu teologi kitab Ester sebagai gambaran sosok wanita mampu memberikan perlawanan dan tampil percaya diri serta bertanggungjawab karena dipilih oleh raja. Temuan lainnya, walaupun kitab Ester tidak mengandung kata Allah dan pertolongan Allah juga tidak tampak kasat mata atau tersembunyi itu bisa dirasakan oleh sosok Ester secara nyata melalui peristiwa Ester dipilih oleh raja sebagai ratu, pertolongan Allah melalui Ester yang membalikkan keadaan Yahudi.
Profil Gamaliel sebagai Role Model Pejabat Gereja: Kajian Hermeneutik Naratif Kisah Para Rasul 5:26-42 Hendro; Masinambow, Yornan; Bollu, Paulus; Lumintang, Sheren Angelina
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v2i2.28

Abstract

Abstract: This paper is motivated by the lack of exemplary church officials in carrying out the duties and responsibilities entrusted to serve church members. Therefore, the church needs role models from the Bible. We chose Gamaliel because he was a religious leader who studied the Scriptures (Torah) and set an example in terms of thinking, teaching, and making decisions with wisdom. Thus, the purpose of this article is to examine and analyze the text of Acts 5:26-42 based on a narrative hermeneutic interpretation approach and explain implicatively the essence of this text for today's church officials. A qualitative research approach through literature study was utilized through the critical narrative hermeneutic method. The researchers collected data either through journal articles, books or documents relevant to the topic discussed. The results and discussion regarding the insights and profile of Gamaliel in the text of Acts 5:26-42 as a wise advisor and making comparisons as material for consideration in advising the Religious Council. Gamaliel's thinking emphasizes that there must be obedience, loyalty, discipline, and dynamism from Gamaliel's profile to then become a reminder and must be applied to church officials who are entrusted to lead and direct people who must be carried out with wisdom. Through Gamaliel's profile, church officials are expected to be servants for people who educate, guide both from the way of thinking, to have an impact on a quality way of life. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketidakteladanan pejabat gereja dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan untuk melayani anggota gereja. Oleh karena itu, gereja membutuhkan tokoh teladan dari Alkitab. Kami memilih Gamaliel karena ia merupakan pemimpin agama yang memelajari Kitab Suci (Taurat) dan menjadi teladan dalam hal berpikir, mengajar dan mengambil keputusan dengan hikmat. Dengan demikian, tujuan dari artikel ini adalah untuk mengkaji serta menganalisis teks Kisah Para Rasul 5:26-42 berdasarkan pendekatan interpretasi hermeneutik naratif serta menjelaskan secara implikatif esensi teks ini bagi pejabat gereja masa kini. Pendekatan penelitian kualitatif melalui studi literatur digunakan melalui metode hermeneutik naratif kritis. Para peneliti mengumpulkan data baik melalui artikel jurnal, buku-buku atau dokumen yang relevan dengan topik yang dibahas. Hasil dan pembahasan mengenai wawasan dan profil Gamaliel dalam teks Kisah Para Rasul 5:26-42 sebagai seorang penasehat yang bijaksana dan membuat perbandingan sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan nasehat kepada Mahkamah Agama. Pemikiran Gamaliel menekankan bahwa harus ada ketaataan, kesetiaan, kedisiplinan, dan dinamisitas dari profil Gamaliel untuk kemudian menjajdi pengingat serta harus diaplikasikan bagi pejabat gereja yang dipercayakan untuk memimpin dan mengarahkan umat yang harus dilaksanakan dengan penuh hikmat. Melalui profil Gamaliel, pejabat gereja diharapkan menjadi para pelayan bagi umat yang mendidik, membimbing baik dari cara berpikir, hingga berdampak pada cara hidup yang berkualitas
Teokrasi dalam Kitab Daniel sebagai Rujukan Prinsip Ketaatan pada Keputusan Pemerintah Eksekutif Nassa, Grace Son
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v2i2.29

Abstract

Abstract: This research aims to analyze and expose the theocracy in the book of Daniel, then use it as a reference for the principle of obedience to the executive government towards a decision on the proposed change in the nomenclature of Isa Almasih to Jesus Christ. Because there is very little or no research that links the theocracy of the book of Daniel with the issue of changing the nomenclature of Isa Almasih to Jesus Christ. The method used is content analysis. Thus, the book of Daniel will be analyzed, especially the theme of theocracy in it and then the pattern of theocracy will be constructed based on the findings. The pattern is then used as a principle of obedience to the government's decision regarding the proposed change in the nomenclature of Isa Almasih to Jesus Christ. As a result, the theocracy building constructed from the book of Daniel has effectiveness for His chosen people personally and communally, which has an apocalyptic dimension and is strongly tied to eschatological expectations. This cannot be separated from the Jewish tradition that is closely related to theocracy. This research can enrich the discourse on theocracy for Christians in particular through the perspective of the book of Daniel and can be used as a principle of obedience to the executive government's decision on a decision.   Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengekspos teokrasi dalam kitab Daniel, lalu dijadikan sebagai rujukan prinsip ketaatan pada pemerintah eksekutif terhadap sebuah keputusan tentang usulan perubahan nomenklatur Isa Almasih menjadi Yesus Kristus. Sebab sangat sedikit bahkan belum ada penelitian yang mengaitkan teokrasi kitab Daniel dengan masalah perubahan nomenklatur Isa Almasih menjadi Yesus Kristus. Metode yang digunakan adalah analisis konten. Dengan demikian, kitab Daniel akan dianalisis khususnya tema teokrasi yang ada di dalamnya lalu dikonstruksi pola teokrasi berdasarkan hasil temuan tersebut. Pola itu kemudian dijadikan sebagai prinsip ketaatan pada keputusan pemerintah terkait usulan perubahan nomenklatur Isa Almasih menjadi Yesus Kristus. Hasilnya, bangunan teokrasi yang dikonstruksi dari kitab Daniel memiliki keefektifan bagi umat pilihan-Nya secara personal maupun komunal, yang memiliki dimensi apokaliptik dan terikat kuat dengan harapan eskatologis. Hal itu tidak lepas dari tradisi Yahudi yang berkait erat dengan teokrasi. Penelitian ini dapat memperkaya wacana tentang teokrasi bagi umat Kristen khususnya melalui perspektif kitab Daniel dan dapat dijadikan sebagai prinsip ketaatan terhadap keputusan pemerintah eksekutif tentang suatu keputusan
Menyelami Kekayaan Humor dalam Perkataan dan Perbuatan Yesus berdasarkan Kitab Injil Zakarijah, Edi; Bengke, Melki; Suranto
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v2i2.30

Abstract

Abstract: Humour is human and not the result of sin. But some people live their religious life rigidly and seriously.  This study explains that Jesus had a sense of humor. The richness of Jesus' humor is so abundant and impressive in terms of technique, content, and impact. Jesus' humor was in no way destructive or disruptive to his teaching. This fact should make all Christians feel entitled to laugh without guilt at funny, fun, and happy things. And what Jesus did, is worth emulating for all Christians in doing ministry, of course with the right portion and creativity. This research was conducted using descriptive qualitative methodology, by collecting data from various sources and information. It can be concluded that Jesus is believed to have rich and varied humor in his teachings, evident through various humor techniques such as situational, wordplay, and dramatic contrast. His humor was not only to entertain but also to clarify teachings, challenge thinking, and oppose evil. However, when Jesus experienced suffering and death on the cross as part of the work of salvation, there was no use of humor demonstrated by Him. Abstrak: Humor adalah sesuatu yang manusiawi dan bukan karena akibat dosa. Oleh karena itu dalam menjalani kehidupan agama tidak harus secara kaku dan serius.  Penelitian ini menjelaskan bahwa Yesus memiliki selera humor. Kekayaan humor Yesus begitu melimpah dan sangat mengaggumkan baik dalam hal cara penyajiannya, kontennya, bahkan dampaknya. Humor Yesus sama sekali tidak merusak atau mengganggu dalam bangunan pengajaranNya. Fakta ini seharusnya membuat semua orang Kristen merasa berhak tertawa tanpa rasa bersalah terhadap hal-hal yang lucu, menyenangkan dan membahagiakan. Dan apa yang Yesus lakukan, layak ditiru bagi semua orang Kristen dalam mengerjakan pelayanan, tentu dengan porsi dan kreatifitas yang tepat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metodologi kualitatif deskriptif, dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber dan informasi. Maka dapat disimpulkan bahwa Yesus dipercaya memiliki humor yang kaya dan beragam dalam ajarannya, terbukti melalui berbagai teknik humor seperti situasional, permainan kata, dan menciptakan kontras dramatis. Humor-Nya tidak hanya untuk menghibur tetapi juga untuk memperjelas ajaran, menantang pemikiran, dan menentang kejahatan. Namun, saat Yesus mengalami penderitaan dan kematian di kayu salib sebagai bagian dari karya keselamatan, tidak ada penggunaan humor yang ditunjukkan-Nya.

Page 2 of 4 | Total Record : 31