cover
Contact Name
Tyson Jeidi Jeri Supit
Contact Email
tysonsupit@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkardia@gmail.com
Editorial Address
8RPM+CPF, Kakaskasen, Tomohon Utara, Tomohon City, North Sulawesi
Location
Kota tomohon,
Sulawesi utara
INDONESIA
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 29862019     DOI : https://doi.org/10.69932/kardia
Adapun yang menjadi Fokus dan Ruang Lingkup dalam Jurnal KARDIA adalah: 1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama & Perjanjian Baru) 2. Teologi Historika 3. Teologi Sistematika 4. Teologi Sosial dan Publik 5. Teologi Digital dan Internet of Things 6. Teologi Kontekstual 7. Misiologi Biblikal & Praktikal 8. Etika Kristen 9. Pendidikan Kristiani dalam Gereja, Keluarga & Sekolah
Articles 31 Documents
Peran Guru Pendidikan Agama Kristen: Menangani Konflik dan Membangun Toleransi di Sekolah Kaka, Debora; Kristiani, Kristiani; Cinta, Yesa
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v2i2.31

Abstract

Abstract: This study aims to explore the role of teachers in handling conflict in schools and increasing tolerance among students. Through a qualitative approach, the results show that teachers act as mediators and facilitators in conflict resolution. They use various strategies, such as direct mediation, integration of tolerance values in religious lessons through Bible stories, and group discussions that encourage empathy and respect for differences. Christian religious education teachers have a key role in creating a peaceful and inclusive school environment, shaping students into individuals who are tolerant and respectful of differences. PAK teachers must teach the concept of tolerance clearly and provide concrete examples of its application in everyday life, PAK teachers can help students understand that tolerance does not mean sacrificing personal beliefs, but rather appreciating and respecting the beliefs of others. In addition, PAK teachers also serve as agents of spiritual transformation, guiding students toward deeper spiritual maturity, and preparing them to grow in Christ and become individuals who are able to contribute to the creation of a more tolerant and harmonious school environment. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran guru dalam menangani konflik di sekolah dan meningkatkan toleransi di kalangan siswa. Melalui pendekatan kualitatif, Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan sebagai mediator dan fasilitator dalam resolusi konflik. Mereka menggunakan berbagai strategi, seperti mediasi langsung, integrasi nilai-nilai toleransi dalam pelajaran agama melalui cerita Alkitab, dan diskusi kelompok yang mendorong empati serta penghargaan terhadap perbedaan. Guru pendidikan agama Kristen memiliki peran kunci dalam menciptakan lingkungan sekolah yang damai dan inklusif, membentuk siswa menjadi individu yang toleran dan menghargai perbedaan. Guru PAK harus mengajarkan konsep toleransi secara jelas dan memberikan contoh konkret tentang penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, guru PAK dapat membantu siswa memahami bahwa toleransi bukan berarti mengorbankan keyakinan pribadi, melainkan menghargai dan menghormati keyakinan orang lain. Selain itu, guru PAK juga bertugas sebagai agen transformasi spiritual, membimbing siswa menuju kedewasaan rohani yang lebih mendalam, dan mempersiapkan mereka untuk berkembang dalam Kristus serta menjadi individu yang mampu berkontribusi pada terciptanya lingkungan sekolah yang lebih toleran dan harmonis.
Prinsip-Prinsip Pendampingan Generasi yang Fatherless menurut 1 Tesalonika 2:7 Novianti, Novianti; Baskoro, Paulus Kunto
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i1.47

Abstract

Abstract: The phenomenon of "fatherlessness," or the absence of a father figure, has become an increasingly concerning social issue, including in Indonesia. Children growing up without a father face various negative impacts, such as psychological disorders, difficulties in forming self-identity, and increased involvement in risky behaviours. The church has the potential to act as an agent of restoration through mentoring based on love and spiritual values. This study aims to examine the church’s mentoring principles for the "fatherless" generation based on 1 Thessalonians 2:7 and identify its implications and logical applications in church life. This study employs a qualitative approach with a hermeneutic analysis of 1 Thessalonians 2:7 and a literature review from relevant books and journals. The findings indicate that church mentoring for the "fatherless" generation can be realized through a gentle and loving approach, effective discipleship, character and identity formation, and emotional healing. The church can also function as a community that provides spiritual and psychosocial support for children who lack a father figure. The implications of this study emphasize that the church must develop a sustainable discipleship system, instil Christ-centered values, and create a supportive environment for young people experiencing "fatherlessness." The novelty of this research lies in its perspective on spiritually-based mentoring, highlighting the church’s role as a "home" for those who have lost a father figure. Abstrak: Fenomena "fatherlessness" atau kehilangan figur ayah menjadi isu sosial yang semakin mengkhawatirkan, termasuk di Indonesia. Anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah mengalami berbagai dampak negatif, seperti gangguan psikologis, kesulitan dalam membentuk identitas diri, serta keterlibatan dalam perilaku berisiko. Gereja memiliki potensi untuk berperan sebagai agen pemulihan melalui pendampingan yang berbasis kasih dan nilai-nilai spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji prinsip pendampingan gereja bagi generasi "fatherless" berdasarkan 1 Tesalonika 2:7, serta mengidentifikasi implikasi dan penerapan logisnya dalam kehidupan gerejawi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan analisis hermeneutik terhadap teks 1 Tesalonika 2:7 serta kajian pustaka dari buku dan jurnal yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendampingan gereja bagi generasi "fatherless" dapat diwujudkan melalui pendekatan lembut dan penuh kasih, pemuridan yang efektif, pembentukan karakter dan identitas diri, serta penyembuhan emosional. Gereja juga dapat berfungsi sebagai komunitas yang memberikan dukungan spiritual dan psikososial bagi anak-anak yang kehilangan figur ayah. Implikasi dari penelitian ini menegaskan bahwa gereja harus mengembangkan sistem pemuridan yang berkelanjutan, menanamkan nilai-nilai kasih Kristus, dan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi generasi muda yang mengalami "fatherlessness". Kebaruan penelitian ini terletak pada perspektif pendampingan berbasis spiritual yang menekankan peran gereja sebagai "rumah" bagi mereka yang kehilangan figur ayah.
Empowering the Digital Generation:: the Role of Biblical Discipleship in Shaping Christian Identity and Countering Cultural Challenges Saptorini, Sari; Purnamasari, Citaning; Arifianto, Yonatan Alex
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i1.48

Abstract

Abstract: The digital generation, particularly Millennials and Gen Z, faces an identity crisis driven by the influence of digital culture, moral relativism, and a lack of strong spiritual foundations. This crisis results in weakened Christian values in daily life, posing challenges in forming a steadfast identity amid globalization. This study explores how biblical discipleship shapes a strong Christian identity and equips the digital generation to face modern cultural challenges. Using a descriptive qualitative approach based on a literature review, this research analyzes the concept of biblical discipleship and its relevance in shaping spirituality and strengthening the faith resilience of the digital generation. The findings indicate that biblical discipleship, rooted in the teachings and example of Christ, fosters confidence, reinforces identity as children of God, and develops Christian character. Relevant discipleship strategies for the digital era, including the use of digital technology and contextual approaches, are necessary to enhance the effectiveness of church ministry. Furthermore, digital literacy and creative content in communicating the Gospel to young generations play a crucial role in strengthening Christian identity.   Abstrak: Generasi digital, terutama Millennials dan Gen Z, menghadapi tantangan berupa krisis identitas yang dipicu oleh pengaruh budaya digital, relativisme moral, dan minimnya fondasi spiritual yang kuat. Krisis ini berakibat pada lemahnya nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari, sehingga memunculkan tantangan dalam membentuk identitas yang teguh di tengah arus globalisasi. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana pemuridan berdasarkan Alkitab membentuk identitas Kristiani yang kuat dan membekali generasi digital menghadapi tantangan budaya modern.  Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi literatur, penelitian ini menganalisis konsep pemuridan Alkitabiah dan relevansinya dalam membentuk spiritualitas serta ketahanan iman generasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemuridan alkitabiah, yang didasarkan pada ajaran dan teladan Kristus, menumbuhkan rasa percaya diri, memperkuat identitas sebagai anak-anak Allah, dan mengembangkan karakter Kristen. Strategi pemuridan yang relevan untuk era digital, termasuk penggunaan teknologi digital dan pendekatan kontekstual, diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pelayanan gereja. Lebih lanjut, literasi digital dan konten kreatif dalam mengkomunikasikan Injil kepada generasi muda berperan penting dalam memperkuat identitas Kristiani.
Theologia Sistematika sebagai Bahan Khotbah bagi Pembinaan Warga Gereja Nuban, Eliazer; Banfatin, Nahor; Adilang, Ryanto
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i1.50

Abstract

Abstract: Sermons need to be equipped with a strong foundation of the Word through systematic doctrine so that the preaching of God's Word can be conveyed and transform the faith of every believer. Therefore, the purpose of this article is to examine Systematic Theology is a discipline whose truth is systemized, structured, which comes from the teaching of the Bible which is the Word of God. Thus, if someone learns from the Bible regularly, it will have implications for the discovery of the truth about Christian doctrine which has an impact on the church to do systematic theology which can be integrated with preaching services, (Homiletics) for the development of church citizens. The approach used is descriptive qualitative with a literature study method where researchers review books and articles related to systematic theology and homiletics. The results of this study are expected to overcome the gap by making Systematic Theology through thematic aspects as preaching material so that the development of church members will run well because Systematic Theology comes from the Bible which is the Word of God. The implications of this research encourage preachers to preach systematically which has an impact on the congregation's transformative understanding of the Christian Faith. Abstract: Khotbah perlu diperlengkapi dengan dasar Firman yang kuat melalui doktrin yang sistematis agar pemberitaan Firman Tuhan dapat tersampaikan serta mentransformasi iman setiap orang percaya. Oleh karena itu, tujuan artikel ini adalah mengkaji Theologi Sistematika merupakan disiplin ilmu yang kebenarannya tersistem, terstruktur, yang bersumber dari pada pengajaran Alkitab yang adalah Firman Allah. Dengan demikian jika seseorang belajar dari Alkitab secara teratur akan berimplikasi pada penemuan kebenaran terhadap doktrin Kristen yang berdampak kepada gereja untuk bertheologi secara sistematika yang dapat diintegrasikan dengan pelayanan berkhotbah bagi pembinaan warga gereja. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur dimana peneliti mengkaji dari buku dan artikel terkait dengan teologi sistematika dan homiletika. Hasil penelitian ini diharapkan untuk mengatasi kesenjangan dengan menjadikan Theologia Sistematika melalui aspek tematis sebagai bahan khotbah, agar pembinaan warga gereja akan berjalan dengan baik karena Theologia Sistematika bersumber dari Alkitab yang adalah Firman Allah. Implikasi dari penelitian ini mendorong pengkhotbah untuk berkhotbah secara sistematis yang berdampak pada pemahaman transformatif jemaat terhadap Iman Kristen.
Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Teologi Sistematika:: Analisis Dialektis terhadap Nilai Teologis dan Sekularisme Michael Lumanauw; Wondal, Max Ray
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i1.51

Abstract

Abstract: Human Rights and Systematic Theology are two things that have a relationship because both of these fields are made and compiled by humans who are similar creations and in the image of God. Therefore, the purpose of this article is to examine human rights within the framework of Systematic Theology to create a significant discourse for human rights amid secularization that emphasizes humans without the intervention of the Sovereign God. The research approach is qualitative using the content analysis method where the researcher analyzes human rights historically and Systematic Theology analytically and theoretically. The result of the research in this paper is that systematic theology is a source of human rights knowledge because it explains the work of God as the Creator of human beings, and human actions that must have theological value, glorify God, and present the communion of love to enjoy God in human life. The conclusion is that human rights need to emphasize theological values and not secular values for human survival. This article provides the novelty that systematic theology is relevant for human rights and human rights must be reviewed based on systematic theology specifically through the doctrine of man and sin. Abstrak: Tujuan dari artikel ini adalah menganalisis Hak Asasi Manusia dalam kerangka berpikir Teologi Sistematika agar melahirkan diskursus yang signifikan bagi HAM ditengah-tengah arus sekularisasi yang menekankan manusia tanpa intervensi Allah yang Berdaulat. HAM dan Teologi sistematika adalah dua hal yang memiliki relasi karena kedua bidang ini dibuat dan disusun oleh manusia yang adalah ciptaan yang serupa dan segambar dengan Allah. Pendekatan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis konten dimana peneliti melakukan analisis terkait HAM secara historik dan Teologi sistematika secara analitis teoretis. Adapun hasil penelitian dalam tulisan ini adalah Teologi sistematika merupakan sumber pengetahuan HAM karena menjelaskan karya Allah sebagai Pencipta manusia, dan tindakan manusia yang harus memiliki nilai teologis, memuliakan Allah, serta menghadirkan persektuan cinta kasih untuk menikmati Allah di dalam kehidupan manusia. Simpulan yang didapat adalah HAM perlu menekankan nilai-nilai teologis dan bukan nilai-nilai sekuler bagi keberlangsungan hidup manusia. Artikel ini memberikan implikasi kebaruan bahwa Teologi sistematika relevan bagi HAM serta HAM harus ditinjau berdasarkan Teologi sistematika secara khusus melalui doktrin manusia
Mengampuni Orang Yang Bersalah:: Studi Eksegetis Terhadap 2 Korintus 2: 5-11 Setiawan, Iwan; Malaikari, Halena; Tania, Jovicka Tessalonicka Natalia
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i1.52

Abstract

Abstract: The purpose of writing the article is to explain biblically and comprehensively why it is necessary to forgive those who offend based on 2 Corinthians 2: 5-11 so that believers can apply it in real life. The research method that the author uses is the literature review method by combining sources including articles, journals, and other written documents, using a hermeneutic method, namely a way of expressing, translating, and reviewing. The source material is the Bible text, meaning the original text of the Bible text. The research results obtained are: First, so that he does not perish in sadness. Second, so that believers truly love. Third, so that the devil does not gain an advantage, the implication is that believers need to forgive because otherwise, believers will continue to be in sadness and bitterness, by forgiving believers apply true love and the most important thing is that by giving forgiveness it does not allow the devil to gain profit. The novelty of this article is the presentation which focuses on the text of 2 Corinthians 2:5-11, by finding the principles of forgiving those who offend based on the existing text.   Abstrak: Tujuan dari penulisan artikel adalah untuk menjelaskan secara alkitabiah dan komprehensif mengenai mengapa perlu mengampuni orang yang bersalah berdasarkan 2 Korintus 2: 5-11, supaya orang percaya dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata. Metode penelitian yang penulis gunakan ialah metode kajian pustaka dengan menggunakan cara menggabungkan sumber-sumber antara lain Artikel, jurnal, dan dokumen lainnya secara tertulis, dengan menggunakan cara hermeneutik yakni cara untuk mengungkapkan, menterjemahkan dan mengulas. Sumber bahannya adalah teks Alkitab dengan maksud teks asli dari teks Alkitab. Hasil penelitian yang diperoleh adalah: Pertama, supaya ia tidak binasa dalam kesedihan. Kedua, supaya orang percaya sungguh-sungguh mengasihi. Ketiga, supaya iblis tidak memperoleh keuntungan. Implikasinya adalah bahwa penting bagi orang percaya untuk mengampuni, karena jika tidak demikian orang percaya akan terus dalam kesedihan dan kepahitan, dengan hidup mengampuni orang percaya menerapkan kasih yang sesungguhnya dan yang terpenting adalah dengan memberi pengampunan tidak memberikan kesempatan kepada iblis untuk mendapatkan keuntungan. Kebaharuan tulisan ini adalah pemaparan yang memfokuskan pada teks 2 Korintus 2:5-11, dengan menemukan prinsip-prinsip mengampuni orang yang bersalah berdasarkan teks yang ada.
Efesus 1:13 dalam Terang Teologi Kovenan: Roh Kudus sebagai Materai Janji Allah Purwonugroho, Daniel Pesah
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i2.55

Abstract

Abstract: This paper aims to expose Ephesians 1:13 regarding the Holy Spirit as the seal of God's promise through the light of covenant theology. The sealing of the Holy Spirit is a metaphor that has deep theological and spiritual meaning. The sealing of the Holy Spirit signifies God's ownership of His people. It enables God's people to receive the divine inheritance. The sealing also guarantees a covenant between God and His people, where the sealing of the Holy Spirit is a guarantee of the divine inheritance that God promises. Through a descriptive qualitative approach, the author tries to unravel Ephesians 1:13 in the light of covenant theology regarding the sealing of the Holy Spirit in God's promise. The author states that the sealing of the Holy Spirit in Ephesians 1:13 can be understood through the perspective of covenant theology. This understanding has a significant impact on the lives of believers. This paper provides a theological contribution that states Ephesians 1:13 in a covenantal perspective and highlights the role of the Holy Spirit in the dynamics of God's covenant. Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mengekspos Efesus 1:13 mengenai Roh Kudus sebagai meterai janji Allah melalui terang teologi kovenan. Pemeteraian Roh Kudus merupakan metafora yang memiliki makna teologis dan spiritual yang mendalam. Pemeteraian Roh Kudus menandakan kepemilikan Allah dengan umatNya. Hal tersebut membawa umat Allah dapat menerima warisan ilahi. Pemeteraian tersebut juga menjamin sebuah kovenan antara Allah dengan umatNya dimana meteriao Roh Kudus merupakan jaminan atas warisan ilahi yang Allah janjikan. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penulis mencoba mengurai Efesus 1:13 melalui terang teologi kovenan mengenai pemeteraian Roh Kudus dalam janji Allah. Penulis menyatakan bahwa pemeteraian Roh Kudus dalam Efesus 1:13 dapat dipahami melalui perspektif teologi kovenan. Pemahaman tersebut berdampak signifikan bagi kehidupan orang percaya. Tulisan ini memberikan sebuah sumbangsih teologis yang menyatakan Efesus 1:13 dalam pespektif kovenantal dan menyoroti peran Roh Kudus dalam dinamika Kovenan Allah.
Integrasi unsur Estetis dan Ibadah Kreatif Karismatik: Kajian Teologi atas Peran dan Keterlibatan Generasi Muda di Gereja Lokal Rudi Hermanto; Yuono, Yusup Rogo
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i2.56

Abstract

Abstract: Worship in local churches in the contemporary era increasingly demands creative forms that not only emphasize traditional liturgical aspects but also pay attention to aesthetic dimensions that can deepen the spiritual experience of the congregation. The involvement of the younger generation in this context is not limited to technical participation but also relates to how they find spiritual identity and a space for actualizing their faith amid the development of digital culture. A phenomenon that has emerged is the increasing need for churches to present aesthetic and creative worship as a strategy to maintain and expand the involvement of the younger generation. This study aims to analyze the role of integrating aesthetic elements and creative worship from a theological perspective in relation to the participation of the younger generation in local churches. The method used is a qualitative study, which concludes that the concept of aesthetics in Christian theology is not merely physical beauty, but a means of revealing faith that leads the congregation to a deep encounter with God. Thus, creative worship is a theological calling that strengthens faith and fosters the involvement of the younger generation in church life. Abstrak: Ibadah dalam gereja lokal pada era kontemporer semakin menuntut bentuk-bentuk kreatif yang tidak hanya menekankan aspek liturgis tradisional, tetapi juga memperhatikan dimensi estetis yang dapat memperdalam pengalaman spiritual jemaat. Keterlibatan generasi muda dalam konteks ini tidak hanya sebatas partisipasi teknis, melainkan juga berkaitan dengan bagaimana mereka menemukan identitas rohani dan ruang aktualisasi iman di tengah perkembangan budaya digital. Fenomena yang muncul adalah meningkatnya kebutuhan gereja untuk menghadirkan ibadah yang estetis dan kreatif sebagai strategi untuk mempertahankan serta memperluas keterlibatan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran integrasi unsur estetika dan ibadah kreatif dari perspektif teologi dalam kaitannya dengan partisipasi generasi muda di gereja lokal. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif maka dapat disimpulkan bahwa bahwa konsep estetika dalam teologi Kristen bukan sekadar keindahan lahiriah, melainkan sarana pewahyuan iman yang mengarahkan jemaat pada perjumpaan mendalam dengan Allah. Dengan demikian, ibadah kreatif merupakan panggilan teologis yang meneguhkan iman sekaligus menumbuhkan keterlibatan generasi muda dalam kehidupan bergereja.
Memelihara Nilai Diri Remaja: Kajian Hermeneutika Kontekstual Matius 7:6 dan Implikasinya terhadap Fenomena Toxic Relationship Jaun adu, Arjuanto adu; Dandi; Iplara, Kalep; Tarigan, Priskila Erlikasna
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i2.57

Abstract

Abstract: Adolescents are increasingly experiencing toxic relationships, both in direct interactions and within digital spaces. These unhealthy relationships significantly affect their self-esteem, mental health, and the growth of Christian faith among youth. This article begins with the question: how can Matthew 7:6 be interpreted to guide teenagers who are involved in toxic relationships? The study employs a contextual hermeneutical approach that incorporates linguistic, historical, and theological analysis to address this question. The results indicate that the terms “what is holy” and “pearls” can be understood as representing something valuable within a person—such as their dignity and faith, which are precious before God—while “dogs” and “pigs” refer to elements that are harmful and unworthy. In the context of relationships, these may symbolize individuals who demean or destroy one’s values and self-worth, being considered “unclean” and “unworthy to receive” what is precious. Therefore, Matthew 7:6 can also be interpreted as a basis for practical advice to adolescents in navigating destructive relationships, particularly in maintaining their faith identity and personal dignity. According to this study, spiritual formation and holistic mentoring are crucial for helping teenagers establish healthy boundaries, communicate assertively, and cultivate relationships that nurture their spiritual growth. Abstrak: Remaja semakin banyak mengalami fenomena toxic relationship, baik dalam interaksi langsung maupun di ruang digital. Relasi yang tidak sehat ini memengaruhi harga diri, kesehatan mental, dan pertumbuhan iman remaja Kristen secara signifikan. Artikel ini dimulai dengan pertanyaan: bagaimana Matius 7:6 dapat diinterpretasikan untuk memberi nasihat kepada remaja saat mereka terlibat dalam toxic relationship? ndekatan yang digunakan adalah hermeneutika kontekstual yang melibatkan analisis linguistik, historis, dan teologis untuk menjawabnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa istilah “yang kudus” dan “mutiara” merujuk pada martabat diri dan iman yang berharga di hadapan Allah, sedangkan “anjing” dan “babi” merujuk pada pihak yang merendahkan atau menghancurkan nilai-nilai dan martabat diri tersebut, yang dipandang sebagai pihak yang ‘najis’ dan ‘tidak layak menerima’ sesuatu yang berharga. Dengan demikian, Matius 7:6 dapat juga ditafsirkan untuk menjadi dasar nasihat praktis bagi remaja saat menjalani relasi pacaran khususnya dalam hal mempertahankan identitas iman dan martabat diri mereka. Menurut penelitian ini, pembinaan rohani dan pendampingan integral sangat penting bagi remaja agar mereka dapat menetapkan batasan yang sehat, berkomunikasi secara asertif, dan menemukan hubungan yang mendukung pertumbuhan iman.
Lebih dari Sekedar Kumpul: Pembinaan Kristiani dalam Persekutuan Mengukir Identitas Pemuda Tampenawas, Alfons Renaldo; Selanno, Semuel
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i2.58

Abstract

Abstract: This research aims to analyze the urgency of restructuring Church Youth Fellowships in response to the identity crisis faced by Christian adolescents (aged 15–30), which is exacerbated by the digital era. The method employed is a Descriptive Qualitative Literature Review, synthesizing existing theoretical concepts and findings. The results indicate that the ineffectiveness of fellowships stems from functional failure, often reducing them to mere social activities. The derived solution and main finding are the necessity of transforming into an integrated discipleship community centered on two pillars: 1) Implementing Holistic Nurturing utilizing digital technology as a discipleship tool while building an authentic self-concept rooted in Christ; and 2) Establishing a consistent Multilevel Collaboration among the church, family, and community. The practical implication of this study is to offer an ecological framework for the church to develop youth spiritual resilience. This transforms the fellowship from a vulnerable vessel into a solid foundation for character, ensuring the consistency of Christian values across all digital and physical domains of life. Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis urgensi restrukturisasi Persekutuan Pemuda Gereja dalam menghadapi krisis identitas remaja Kristen (15–30 tahun) yang diperburuk oleh era digital. Metode yang digunakan adalah Studi Literatur Kualitatif Deskriptif melalui sintesis temuan dan konsep teoretis. Hasil kajian menunjukkan bahwa inefektivitas persekutuan disebabkan kegagalan fungsi, di mana ia hanya menjadi aktivitas sosial semata ("sekadar kumpul"). Solusi dan hasil yang disimpulkan adalah perlunya transformasi menuju komunitas pemuridan terintegrasi yang berfokus pada dua pilar: Pertama, Implementasi Pembinaan Holistik menggunakan teknologi digital sebagai alat discipleship sekaligus membangun konsep diri otentik yang berakar pada Kristus; dan kedua, Pembentukan Kolaborasi Multilevel yang konsisten antara gereja, keluarga, dan komunitas. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah menawarkan kerangka kerja ekologis bagi gereja untuk mengembangkan ketahanan spiritual pemuda. Hal ini mengubah persekutuan dari wadah yang rentan menjadi fondasi karakter yang kokoh, menjamin konsistensi nilai Kristen di setiap ranah kehidupan digital dan fisik.

Page 3 of 4 | Total Record : 31