cover
Contact Name
-
Contact Email
ijphn@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
ijphn@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran, Gunungpati, Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition
ISSN : 27984265     EISSN : 27769968     DOI : https://doi.org/10.15294/ijphn
Core Subject : Health,
IJPHN published 3 numbers in 1 volume. Published in March, July and November. IJPHN is published by the Center for Public Health Nutrition Studies, Universitas Negeri Semarang in collaboration with the Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Pusat.
Articles 77 Documents
Nano-Formulated Mangosteen (Garcinia Mangostana L.) Peel Extract In DiabeticFracture Healing: A Systematic Review Of VEGF, BMP-2, And TGF-Β Modulation Rofik Adnan; Yuriz Bakthiar; M I Widiastuti
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.47217

Abstract

Background: Diabetic fracture healing is often impaired due to disrupted angiogenesis and osteogenesis, necessitating multi-target therapeutic strategies. This study aims to evaluate the effect of nano-formulated mangosteen (Garcinia mangostana L.) peel extract on VEGF, BMP-2, and TGF-β modulation through a systematic literature review.Method: This research employed a systematic literature review design following PRISMA guidelines, with studies retrieved from Scopus and Google Scholar databases. The research variables included mangosteen-derived bioactive compounds, nano-formulation strategies, and key biomarkers (VEGF, BMP-2, TGF-β). Data were collected using predefined inclusion criteria and analyzed qualitatively through thematic synthesis.Results: The results indicate that mangosteen bioactives exhibit significant anti-inflammatory and antioxidant effects, which contribute to the upregulation of VEGF expression and enhancement of BMP-2 and TGF-β signaling, thereby promoting angiogenesis and osteogenesis. Nano-formulation further improves bioavailability, stability, and targeted delivery, resulting in a synergistic therapeutic effect in diabetic fracture healing.Conclution: In conclusion, nano-formulated mangosteen demonstrates strong potential as a multi-target regenerative therapy; however, further clinical studies are required to confirm its efficacy and safety in human subjects.
Faktor yang Berhubungan dengan self-care pada Lansia Hipertensi Berdasarkan Teori Health Belief Model Jamila; Bertakalswa Hermawati; Irwan Budiono
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.48767

Abstract

Latar Belakang: Perilaku perawatan diri (self-care) pada lansia penderita hipertensi masih tergolong rendah, terutama pada kelompok yang tinggal di panti sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan konstruk Health Belief Model  (HBM) dengan perilaku self-care pada lansia hipertensi di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia (RPSLU) Pucang Gading Semarang. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan desain cross-sectional melibatkan 32 responden yang dipilih melalui purposive sampling dari populasi 47 lansia hipertensi. Variabel independen adalah konstruk HBM (persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, efikasi diri, dan isyarat untuk bertindak), sedangkan variabel dependen adalah perilaku self-care pada lansia hipertensi. Data dikumpulkan menggunakan H-SCALE dan kuesioner kemudian dianalisis dengan uji Chi-Square (α=0,05). Hasil: Sebanyak 62,5% responden memiliki perilaku  self-care yang rendah. Seluruh enam konstruk HBM berhubungan secara signifikan dengan self-care: persepsi kerentanan (p=0,002; PR=3,11), persepsi keseriusan (p=0,003; PR=2,64), persepsi manfaat (p=0,006; PR=2,38), persepsi hambatan (p=0,011; PR=2,33), efikasi diri (p=0,001; PR=3,0), dan isyarat untuk bertindak (p=0,001; PR=3,87). Kesimpulan: Seluruh konstruk HBM berhubungan signifikan dengan perilaku self-care pada lansia hipertensi. Temuan ini mendukung pengembangan intervensi berbasis HBM yang mencakup edukasi kesehatan, penguatan efikasi diri, dan pemberian stimulus perilaku sehat yang berkelanjutan di panti wreda untuk meningkatkan self-care pada lansia hipertensi di lingkungan panti sosial.
Pemetaan Bahaya Keselamatan dan Kesehatan pada Kegiatan Penyemprotan Gulmamenggunakan Job Safety Analysis Zulfa Ayuningsih; Lutfi Muzaqi; Eko Farida; Kartika Dian Pertiwi; Ismi Elya Wirdati; Cong Yoke Ming
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.49370

Abstract

Latar Belakang: Penyemprotan gulma pada pertanian tradisional dapat menimbulkan bahaya kimia, fisik, ergonomi,keselamatan, dan lingkungan. Berbeda dari penyemprotan pestisida secara umum, penyemprotan gulma biasanya dilakukan dekat permukaan tanah, di antara tanaman non-target, saluran air, permukaan lahan tidak rata, dan kondisi angin yang berubah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bahaya keselamatan dan kesehatan kerja pada penyemprotan gulma menggunakan pendekatan Job Safety Analysis (JSA) yang berbasis tahapan kerja.Metode: Penelitian deskriptif berbasis observasi lapangan ini dilakukan di area pertanian tradisional Desa Tegalwulung, Brebes, pada April–Mei 2026. Unit analisis adalah satu siklus lengkap pekerjaan penyemprotan gulma yang terdokumentasi dalam formulir JSA nomor 1/JSA/PBW/2026. Data diperoleh melalui observasi langsung, konfirmasi tim kerja, dan telaah dokumen. Setiap tahapan kerja diklasifikasikan ke dalam aspek kesehatan, keselamatan, dan lingkungan, kemudian diprioritaskan menggunakan matriks kualitatif keparahan–kemungkinan.Hasil: Terdapat 13 tahapan kerja, mulai dari penentuan area penyemprotan hingga pelepasan APD dan pembersihan diri. Bahaya utama meliputi drift herbisida, tumpahan dan percikan, cuaca tidak aman, permukaan tidak rata, kebocoran selang, kerusakan nozzle, beban tangki berlebih, semprotan balik, air bilasan terkontaminasi, serta APD dan kemasan terkontaminasi. Bahaya lingkungan muncul pada 11 tahapan, bahaya kesehatan pada 10 tahapan, dan bahaya keselamatan pada 8 tahapan. Status pada formulir JSA awal menunjukkan bahwa beberapa pengendalian belum sepenuhnya diterapkan atau terverifikasi, sehingga pengendalian yang direkomendasikan dipisahkan dari status pengendalian yang ada.Kesimpulan: Penelitian ini menghasilkan peta bahaya praktis berbasis JSA untuk penyemprotan gulma dan memberikan kebaruan dengan membedakan karakteristik bahaya penyemprotan gulma dari penyemprotan pestisida secara umum. Temuan ini dapat menjadi dasar penyusunan prosedur kerja aman yang kontekstual pada pertanian tradisional
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Pemeriksaan IMS dan HIVpada Pekerja Seks Perempuan di Distrik Heram, Kota Jayapura Nimbrot Walianggen; Novita Medyati; Katarina Lodia Tututurop; Agustina Regina Yufuai; Sherly Novita Mamoribo; Natalia Paskawati Admuntja; Brema Damanik
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.49863

Abstract

Latar Belakang: HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) masih menjadi masalah kesehatan global, terutama pada kelompok berisiko seperti pekerja seks perempuan (PSP). Rendahnya kepatuhan PSP dalam melakukan pemeriksaan IMS dan HIV secara rutin menjadi tantangan dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit di Kota Jayapura. Penelitian ini bertujuan untuk mengana-lisis faktor-daktor yang berhubungan dengan kepatuhan pemeriksaan IMS dan HIV pada pekerja seks perempuan di Distrik Heram, Kota Jayapura.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional). Sebanyak 70 responden direkrut menggunakan teknik snowball sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis univariat, analisis bivariat dengan uji Chi-square, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik.Hasil: Sebanyak 57,14% responden tidak patuh dalam melakukan skrining IMS dan HIV. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa pengetahuan (p = 0,027), lama bekerja (p = 0,005), akses terhadap layanan kesehatan (p < 0,001), dan dukungan tenaga kesehatan (p < 0,001) berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan skrining. Namun, hasil analisis regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa dukungan tenaga kesehatan merupakan satu-satunya faktor yang berhubungan secara independen dengan kepatuhan skrining IMS dan HIV (p = 0,006).Kesimpulan: Dukungan tenaga kesehatan merupakan satu-satunya faktor independen yang berhubungan dengan kepatuhan skrining IMS dan HIV pada pekerja seks perempuan. Penguatan peran tenaga kesehatan berpotensi meningkatkan kepatuhan terhadap skrining IMS dan HIV secara rutin pada kelompok ini.
Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan diPuskesmas Kayumas Afi Elsha Veryana; Irwan Budiono
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.50258

Abstract

Latar Belakang: Stunting adalah masalah gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan anak kurang dari anak seusianya. Sejak 3 tahun terakhir, kasus stunting di wilayah kerja Puskesmas Kayumas mengalami peningkatan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Kayumas. Metode: Penelitian ini menerapkan desain case-control study, dengan jumlah sampel sebanyak 50 kasus dan 50 kontrol. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel independen meliputi berat badan lahir, panjang badan lahir, riwayat penyakit infeksi, ketahanan pangan rumah tangga, dan pola pemberian makan yang dikumpulkan melalui kuesioner. Sementara itu, tinggi badan balita diperoleh melalui pengukuran antropometri. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil: Tidak ada hubungan signifikan antara berat badan lahir (p-value = 0,387), panjang badan lahir (p-value = 0,070), riwayat penyakit infeksi (p-value = 0,659), dan ketahanan pangan rumah tangga (p-value = 0,610) dengan kejadian stutning. Sebaliknya, terdapat hubungan signifikan antara pola pemberian makan dengan kejadian stunting (p-value = 0,001). Kesimpulan: Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah pola pemberian makan. Peran ibu sangat penting dalam menerapkan pola pemberian makan yang baik agar pertumbuhan dan perkembangan balita dapat berlangsung optimal serta mencegah terjadinya stunting.
Hubungan Tingkat Stres Psikologis, Kebiasaan Konsumsi Ultra-Processed Foodsdan Tingkat Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Hipertensi Pada Usia Dewasa DiKecamatan Cerme Kabupaten Gresik Cindy Amelia Amelia; Cleonara Yanuar Dini
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.57660

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang prevalensinya masih tinggi di Indonesia. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko seperti stres psikologis, konsumsi ultra-processed food (UPF) tinggi natrium, dan rendahnya aktivitas fisik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat stres psikologis, kebiasaan konsumsi UPF, kontribusi natrium dari UPF, dan tingkat aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi pada penderita hipertensi usia dewasa di Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional dengan 83 responden yang dipilih melalui metode consecutive sampling secara proportionate. Tingkat stres diukur menggunakan Perceived Stress Scale-14 (PSS-14), kebiasaan konsumsi dan kontribusi natrium UPF menggunakan Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), serta aktivitas fisik menggunakan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Tingkat stres dan tingkat aktivitas fisik dianalisis dengan uji korelasi Gamma dan Sommers’ d. Sedangkan kebiasaan konsumsi dan kontribusi natrium UPF dianalisis dengan uji hubungan Kolmogorov-Smirnov. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kategori hipertensi stage 2 dan memiliki tingkat stres psikologis ringan, kebiasaan konsumsi UPF jarang, kontribusi natrium dari UPF rendah, serta tingkat aktivitas fisik ringan. Hasil uji statistik kebiasaan konsumsi UPF (p=<0,001) dan tingkat aktivitas fisik (p=0,005) berhubungan dengan kejadian hipertensi. Sedangkan hasil uji statistik menunjukkan tingkat stres psikologis (p=0,215) dan kontribusi natrium (p=0,440) dari UPF tidak berhubungan dengan kejadian hipertensi. Kesimpulan: Kebiasaan konsumsi UPF sering dan tingkat aktivitas fisik rendah berhubungan dengan kejadian hipertensi, sedangkan tingkat stres psikologis dan kontribusi natrium dari UPF tidak berhubungan dengan kejadian hipertensi. 
Hubungan Citra Tubuh dan Gangguan Makan dengan Status Gizi Mahasiswa Sendratasik Universitas Negeri Surabaya Maya Aulia Permatasari; Fitriana Nugraheni
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.57661

Abstract

Latar Belakang: Citra tubuh berperan penting dalam membentuk kepercayaan diri mahasiswa terutama pada mahasiswa sendratasik. sehingga persepsi tubuh yang negatif dapat mendorong munculnya perilaku makan yang tidak sehat, peningkatan risiko gangguan makan, dan berdampak pada status gizi. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji hubungan citra tubuhdan gangguan makan dengan status gizi pada mahasiswa sendratasik.Metode: Penelitian menggunakan metode kuantitatif cross sectional melalui metode simple random sampling. Subjek penelitian ini berjumlah 87 responden mahasiswa Sendratasik Universitas Negeri Surabaya angkatan 2023 dan 2024. Data mengenai citra tubuh menggunakan instrumen Body Shape Questionnaire (BSQ-34), risiko gangguan makan menggunakan instrumen Eating Attitudes Test (EAT-26), serta penentuan status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) dari hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan. Hubungan antar variabel dianalisis menggunakan uji chi-square.Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa 34 mahasiswa (77,3%) memiliki citra tubuh positif dengan status gizi normal dan 39 mahasiswa (88,6%) yang tidak berisiko mengalami gangguan makan dengan status gizi normal. Analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara citra tubuh dengan status gizi (p = 0,003) serta gangguan makan dengan status gizi (p = 0,022) pada mahasiswa sendratasik.Kesimpulan: Citra tubuh dan gangguan makan memiliki hubungan dengan status gizi, sehingga mahasiswa dengan citra tubuh positif dan tidak berisiko mengalami gangguan makan lebih banyak pada kategori status gizi normal.