cover
Contact Name
IQBAL KHOLIDI
Contact Email
iqbalkholidi@nurulqadim.ac.id
Phone
+6285232388454
Journal Mail Official
iqbalkholidi@nurulqadim.ac.id
Editorial Address
Ma'had Aly Nurul Qadim, Dusun Krajan, Kalikajar Kulon, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur 67291
Location
Kab. probolinggo,
Jawa timur
INDONESIA
Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir
Published by Ma'had Aly Nurul Qadim
ISSN : 30475341     EISSN : 30470099     DOI : -
Al Qadim. Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir adalah wadah intelektual yang didedikasikan untuk memahami, menganalisis, dan menggali kekayaan pemahaman tafsir dan ilmu terkait dalam tradisi Islam. Jurnal ini membuka pintu bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi untuk berbagi kontribusi dan wawasan mereka dalam merespons berbagai isu terkini yang terkait dengan tafsir Al Quran dan ilmu yang terkait.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 40 Documents
Konsep Perbuatan Manusia dalam Teologi Islam dan Interpretasinya terhadap Takdir Perspektif KH. Bahauddin Nur Salim Muthia, Nimas Nadia Wafiq; Subhi, Muhammad Rifai
Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir Vol 1 No 2 (2024): Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir
Publisher : Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persoalan teologi dalam kajian perbuatan manusia smembahas tentang kebebasan atau keterpaksaan manusia untuk melakukan perbuatannya sendiri, serta pandangan tentang batasan penempatan diri manusia dalam melakukan perbuatan atas kehendak Tuhan. Aliran Jabariyah, memandang manusia tidak mempunyai kekuatan untuk melakukan perbuatannya sendiri, karena hal itu adalah takdir tuhan. Sedangkan aliran Qadariyah memandang bahwa manusia sendirilah yang menentukan perbuatannya, bukan tuhan. iskursus dan dialektika tentang hal ini, terus marak sejak zaman klasik Islam hingga zaman modern sekarang. Dalam penelitian ini, peneliti bermaksud memaparkan berbagai pandangan ulama klasik yaitu muktazilah dan asy’ariyah dalam menanggapi berbagai problematika persoalan perbuatan manusia beserta kaitannya dengan keimanan terhadap qadla dan qadar. Yang kemudian dikomparasikan dengan perspektif ulama kontemporer masa kini, yaitu KH. Bahauddin Nur Salim. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berjenis library research (penelitian kepustakaan). Dengan menelusuri data kepustakaan, meliputi buku, artikel dan jurnal, penulis mengobservasi data-data yang telah terkumpul. Selain itu, penulis juga mengkomparasikan data dari platform Youtube untuk memahami perspektif ulama KH. Bahauddin Nur Salim mengenai perbuatan manusia terhadap interpretasi takdir yang dibahas di penelitian ini. Selanjutnya, pengolahan data dilakukan dengan menginventarisasi dan mengklasifikasi data yang telah terkumpul untuk kemudian dilakukan pendeskripsian secara sistematis dan objektif. Hasilnya, pendapat Gus Baha, memaparkan tentang Ketetapan Allah (taqdir), bahwa segalanya adalah kehendak Allah. Tentang kemaksiatan, kita diperintah untuk taat terhadap perintah Allah, yaitu membencinya. Sekaligus tetap yakin, bahwa hal tersebut adalah tetap dalam kehendak Allah. Menurut Gus Baha, kita tidak perlu terlalu banyak tanya untuk kelogisan hal tersebut, karena hal tersebut termasuk hukum tauhid.
Analisis Fenomena Serangan Fajar melalui persepektif Al-Qur’an dan Hukum Negara Indonesia Naila Abidah; Muhammad Rifa’i Subhi
Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir Vol 1 No 2 (2024): Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir
Publisher : Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

     The Qur'an, Islam's holy book, emphasizes the importance of justice, compassion, and the protection of life. The law prohibits the taking of innocent lives and emphasizes the need for self-defense only when there is a legitimate threat to a person's life or property. In the context of the dawn attacks, the Qur'anic perspective states that such attacks are morally and ethically wrong, as they involve the deliberate targeting of innocent people, and this is prohibited by the Qur'an.    Meanwhile, Indonesian state law also explains that dawn attacks or money politics are prohibited acts because this is a form of corruption. General elections are a form of expression of the people's rights and sovereignty which must be held directly, publicly, freely, secretly, honestly and fairly. This needs to be well realized in order to realize the context of a democratic country based on Pancasila and law.    In conclusion, the phenomenon of early morning attacks is a serious concern that threatens the security and stability of society. From the Koran's perspective, such attacks are morally and ethically wrong, because they deliberately target innocent people. Indonesian law also prohibits the taking of innocent lives and emphasizes the importance of self-defense. Therefore, it is important for law enforcement agencies and the public to work together to prevent and investigate such attacks, ensuring that those responsible are held accountable for their actions.
Menjaga Amanah Dalam Al-Qur’an; Solusi Atas Kasus Korupsi Said Fadil Daulay; Ahmad Abdul Aziz Efendi; Hasnan Rivaldi Silaban; Muhammad Nizar Batubara; Zidan Ananda Armi
Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir Vol 2 No 1 (2025): Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir
Publisher : Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Qur'an adalah kitab suci yang diturunkan Allah sebagai petunjuk bagi umat manusia. Diantara petunjuk Al-Qur'an itu bermacam-macam, salah satunya adalah ajakan untuk berperilaku dengan akhlak yang mulia, seperti: jujur, adil, lemah lembut, amanah. Korupsi merupakan salah satu tantangan terberat bagi pembangunan di sebuah negara. Penelitian ini bertujuan mempelajari tentang konsep amanah dalam Al-Qur'an. Tentang berbagai bentuk kata amanah serta menjadi solusi dalam korupsi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Pendekatan yang digunakan adalah tafsir kontekstual dengan Langkah analisis berupa pengenalan makna teks, makna historis, dan makna kontemporer. Ayat yang dikaji dalam penelitian ini adalah QS. Al-Mu'minun: 8 dan An-Nisa: 58 yang tekanannya beberapa poin penting menjelaskan tentang amanah.
KRETERIA KHUSUS YANG HARUS DIPENUHI GHARIM DALAM AL-QURAN SURAT AT-TAUBAH AYAT 60 STUDI TAFSIR IBNU KATSIR adrianto; Andriantoro; Haslinda; Chalid Sitorus
Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir Vol 2 No 1 (2025): Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir
Publisher : Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to describe the specific criteria that must be fulfilled by a gharim (debtor) as mentioned in the Qur'an, Surah At-Tawbah verse 60, based on the interpretation of Ibn Kathir. The data collection method used in this study is qualitative research with a library research approach. The data were collected by examining literature, documents, and other sources of information related to the research topic. The findings of this study are as follows: First, according to Ibn Kathir’s interpretation, a gharim in Surah At-Tawbah verse 60 refers to individuals who are in debt due to economic hardship and are unable to meet their basic needs. The qualifying types of debt include: inability to repay, lawful (halal) debts, and debts incurred for essential needs. Conversely, certain debts are disqualified, such as those resulting from sinful acts like interest (usury), gambling, or online gambling. Ibn Kathir emphasizes the importance of ensuring that the debt is lawful. Second, the specific criteria that must be met by a gharim include: the debt is due and must be repaid immediately, the debt was not incurred for non-essential consumption, and the debt was taken for fundamental needs or public benefit. Third, giving zakat to a gharim who does not meet these criteria may lead to misuse and ineffectiveness in assisting those truly in need. A person is not eligible to receive zakat for debt repayment if they possess savings or assets that could be used to settle the debt.
Mengungkap Validitas Penafsiran Bi al-Ra’yi Tafsir al-Kasysyaf: Antara Retorika Bahasa dan Bias Teologi Akhmad Baihaqi; Akhmad; Alif Akbar Hidayatullah
Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir Vol 2 No 1 (2025): Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir
Publisher : Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper discusses the figure of al-Zamakhshari, a renowned exegete from the Mu’tazilite school, widely known for his monumental work of exegesis, al-Kasysyaf. The work is widely recognized for its deep linguistic and rhetorical approach, with a strong emphasis on the Balaghah (rhetoric) aspects of the Qur'an. The aim of this paper is to assess the validity of the Bi al-Ra’yi method in al-Kasysyaf, examining the interpretive methods used by al-Zamakhshari and the influence of Mu’tazilite theological thought on his interpretations. Using a qualitative and library research approach, this study finds that while al-Kasysyaf is highly regarded for its linguistic and literary qualities, readers should be cautious of the theological bias it contains. The paper concludes with a reflection on the contributions and controversies of al-Kasysyaf in the tradition of Islamic scholarship.
Kualitas Penggunaan Sumber Hadis pada Penafsiran Ayat Ahkam: Telaah Validitas dalam Kitab Tafsir Ahkam Shiddiq Hasan Khan Muhammad Luqman Hakim Al Qindi; Fatika Viradinita Wardatul Azkiya; Abd. Kholid
Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir Vol 2 No 1 (2025): Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir
Publisher : Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang kitab nail al maram min tafsir ayat al ahkam karya Shaddiq Hasan Khan yang termasuk sebagai salah satu kitab tafsir ahkam pada era kontemporer penafsiran al-Qur’an. Kitab ini hanya akan dianalisis dari segi penggunaan sumbernya, tidak dikaji metodologi atau sistematika penafsirannya secara khusus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis validitas penggunaan sumber hadis dalam ayat ahkam pada kitab nail al maram min tafsir ayat al ahkam. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisa bagaimana jalan pemikiran Shiddiq Hasan Khan terhadap ayat-ayat ahkam. Objek studi ini meliputi tiga ayat ahkam yang terfokus pada hukum fikih ibadiyah, yakni ayat tentang makna salat wusta, ayat tentang makna istatha’a (mampu) dalam haji, dan ayat tentang syarat berwudhu. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi analisis teks. Peneliti akan menganalisis tiga ayat ahkam pada kitab nail al maram min tafsir ayat al ahkam, kemudian mencari dan menelaah apakah terdapat sebuah hadis dalam penafsiran tersebut dan dianggap benar oleh Shiddiq Hasan Khan. Setelah melakukan langkah tersebut, maka peneliti akan menemukan sebuah hasil yang kemungkinan besar dapat divalidasi kebenarannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Shiddiq Hasan Khan terbukti tidak bertaqlid pada satu madzhab fikih dan langsung merujuk pada hadis Nabi. Dengan kata lain, pemikiran Shiddiq Hasan Khan menyerupai pemikiran salafi. 
Formalisasi Syariat Islam: Analisis Tafsir Tematik Al-Qur'an dan Tantangan Sosial di Indonesia Haidi Asy Syafii, Muhammad Thirafi; Nur Mochtar, Rahardian Ahmad; Failusufa, Nida Azkia; Abu Bakar
Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir Vol 2 No 1 (2025): Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir
Publisher : Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini akan membahas mengenai formalisasi syariat yang merupakan isu yang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Formalisasi syariat adalah proses mentransfer hukum syariat Islam menjadi hukum dalam negara. Yang mana negara menggunakan dasar hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari penelitian ini mengungkap formalisasi syariat yang menjadi wacana dari sebagian golongan masyarakat. Kemudian, penulis menjelaskan formalisasi syariat yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an. Pendekatan yang dilakukan adalah kualitatif dengan metode deskriptif-analisis. Penulis menggunakan library research dalam menggali data, yakni data-data yang diambil dari buku-buku, jurnal, artikel dan literatur yang berkaitan dengan pembahasan. Penulis menemukan hasil bahwasanya formalisasi syariat sendiri tidak bisa jika dilakukan secara menyeluruh. Dalam artian, menggunakan prinsip Islam dalam mengatur negara dan kehidupan sehari-hari. Disebabkan, Indonesia tidak menggunakan sistem khilafah, melainkan negara berkedaulatan. Walaupun demikian, formalisasi tetap dilakukan untuk beberapa hukum di Indonesia.
Interpretasi Tafsir dalam Konteks Modern: Tantangan dan Peluang Dedi Kuswandi; Yosep Heristyo Endro Baruno; Nasrul Fauzi
Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir Vol 2 No 2 (2025): Al-Qadim: Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir
Publisher : Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the challenges faced in the interpretation of the Qur'an concerning social, political, and economic issues in the contemporary world, and how modern tafsir can provide answers to these issues. The aim of this research is to develop a tafsir model that is relevant to the realities of the modern age, using hermeneutical and linguistic approaches. The method used is library research, analyzing books, articles, and related journals. The findings show that contextual contemporary tafsir can address global challenges such as human rights, pluralism, and democracy. This research contributes to the development of a more inclusive and practical tafsir in the lives of contemporary Muslims.
The Controversy of Non-Muslim Leadership in Indonesia: A Comparison of Sahiron Syamsuddin's Hermeneutic Approach and Adian Husaini's Textual Interpretation Muhammad Rizki
Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir Vol 2 No 2 (2025): Al-Qadim: Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir
Publisher : Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article aims to examine the views of Sahiron Syamsuddin and Adian Husaini on non-Muslim leadership in the Indonesian context. The method used in this study is a qualitative approach with a descriptive-analytical and comparative model. Both figures were chosen because they are both influential Indonesian Muslim scholars in the discourse of Qur'anic interpretation. This study uses a comparative approach, highlighting Sahiron Syamsuddin's hermeneutic approach—particularly through the theory of ma'na cum maghza—and Adian Husaini's textual-normative approach. The results of the study show significant differences between the two. Sahiron interprets QS. Al-Mā'idah [5]: 51 contextually by considering maqāṣid al-sharī‘ah and social reality, thus concluding that non-Muslims can become leaders as long as they fulfill the requirements of integrity, justice, and trustworthiness. In contrast, Adian interprets the verse textually and refers to the opinion of Buya Hamka, who expressly prohibits non-Muslim leadership over Muslims. These differences in views reflect the epistemological and ideological background of each figure in interpreting the sacred text.  
Telaah Kitab Tafsir Mafātīḥ al-Ghaib Karya Fakhr al-Dīn al-Rāzī: Kajian Isi dan Metodologi Penafsiran Hattasal Ma'ruf
Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir Vol 2 No 2 (2025): Al-Qadim: Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir
Publisher : Al-Qadim - Jurnal Tafsir dan Ilmu Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kitab Mafātīḥ al-Ghayb karya Fakhr al-Dīn al-Rāzī (w. 606 H) merupakan salah satu karya tafsir monumental dalam tradisi tafsir klasik Islam yang hingga kini menjadi rujukan penting. Penelitian ini mengkaji secara mendalam pendekatan metodologis serta corak teologis yang diusung al-Rāzī dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Secara positif, kitab ini menonjol karena kemampuannya memadukan pendekatan rasional-filosofis dengan kerangka teologi Sunni Ash‘ariyah, sehingga menghasilkan narasi tafsir yang argumentatif dan multidisipliner. Metode tafsir tahlīlī yang digunakan al-Rāzī memperkaya kajian dengan analisis munāsabah antar ayat serta pemahaman kosakata berdasarkan ilmu-ilmu keislaman klasik seperti nahwu, balāghah, dan ushul fiqh. Selain itu, penelitian ini juga menyoroti motivasi teologis al-Rāzī dalam membela doktrin Ash‘ariyah serta respons kritisnya terhadap pemikiran filsafat dan kalam kontemporer. Namun, di sisi lain, kompleksitas dan keluasan pembahasan dalam Mafātīḥ al-Ghayb menyebabkan kritik terkait keterbatasan praktisnya sebagai panduan penafsiran yang aplikatif. Meski demikian, karya ini tetap mempertahankan posisi sebagai rujukan utama dalam kajian tafsir yang menggabungkan dimensi teologis dan rasional.

Page 4 of 4 | Total Record : 40