cover
Contact Name
Oktavia Rahayu Puspitarini
Contact Email
oktaviarahayu@unisma.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dinamikarekasatwa@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang, Jl. MT Haryono 193, Malang 65144
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)
ISSN : 23383720     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Dinamika Rekasatwa (Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan) Merupakan Jurnal Hasil Penelitian yang Diterbitkan Secara Berkala oleh Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang (terbit 2 kali setahun)
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 429 Documents
PENGARUH RASIO PENGGUNAAN KONSENTRAT DAN HIJAUAN TEBON JAGUNG DALAM PAKAN TOTAL MIXED RATION TERHADAP PRODUKSI DAN BJ SUSU SAPI PFH Muhammad Adibul Ichsan; Umi Kalsum; Sumartono sumartono
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 4, No 02 (2021): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh rasio penggunaan konsentrat dan hijauan tebon jagung dalam pakan Total Mixation Ration (TMR) terhadap produksi dan BJ susu sapi PFH di Desa Dadapan Kecamatan Pagak Kabupaten Malang Jawa Timur. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi PFH berjumlah 9 ekor pada laktasi keempat. Metode penelitian ini menggunakan metode percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) meliputi 3 pakan perlakuan menggunakan pakan konsentrat 20% sampai 40% dari kebutuhan bahan kering dalam pakan TMR, masing-masing perlakuan diulang  tiga kali. Adapun pakan perlakuan yaitu penggunaan berbagai level konsentrat dalam pakan TMR dengan pemberian hijauan segar secara ad libitum. Pakan konsentrat diberikan pada sapi sebelum diberi  hijauan segar. Hasil rata-rata produksi susu segar yaitu (P1) 9,49ᵃ, (P2) 12,11ᵃᵇ, (P3) 15,07ᵇ diketahui bahwa penggunaan konsentrat dan hijauan tebon jagung dalam pakan Total Mixed Ration berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap produksi susu sapi perah PFH dan hasil rata-rata berat jenis susu segar yaitu (P1) 1,02822ᵃ, (P2) 1,02899ᵃᵇ, (P3) 1,02973ᵇ diketahui bahwa penggunaan konsentrat dan hijauan tebon jagung dalam pakan Total Mixed Ration yang di bagi dalam 3 kelompok pemberian konsentrat yaitu 20%, 30%, dan 40% berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap berat jenis susu segar sapi perah PFH. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan konsentrat dalam pakan Total Mixed Ration (TMR) sebesar 20% hingga 40% dari kebutuhan BK pakan dapat meningkatkan produksi dan berat jenis susu sapi perah PFH masa laktasi dan penggunaan konsentrat terbaik adalah 40% (P3) ditambah hijauan tebon jagung secara ad libitum.Kata Kunci: Sapi PFH, konsentrat, tebon jagung, produksi, berat jenis
PENGARUH PEMBERIAN JAMU HERBAL PLUS MULTI PROBIOTIK TERHADAP PRODUKSI DAN LEMAK SUSU SAPI PERAH PASCA PENYAKIT MULUT KUKU (PMK) Rizki Ramadhani setyawan; Nurul Humaidah; Inggit Kentjonowaty
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 6, No 2 (2023): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak pemberian multi-probiotik bersama dengan obat herbal terhadap produksi susu dan lemak setelah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Penelitian dilaksanakan di Desa Pujon Lor Dusun Watu Gong Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Materi yang digunakan yaitu jamu herbal plus multiprobiotik meliputi kunyit, temulawak, jahe, kencur, temuireng, kunci, lengkuas, bawang putih dan asem. Metode penelitian menggunakan metode percobaan. Rancangan Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap RAL. Ada 4 perlakukan masing-masing perlakuan mempunyai 3 ulangan. Perlakuan adalah P0 = kontrol yaitu tanpa pemberian jamu herbal plus multi probiotik, P1=  Pemberian jamu herbal plus multi probiotik sebanyak 100 ml/ekor/hari, P2= 150 ml/ekor/hari dan P3= 200 ml/ekor/hari. Analisa data menggunakan Uji Anova dan dilanjut dengan Uji BNT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jamu herbal plus multi probiotik menunjukkan pengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap produksi, dan berpengaruh nyata (P<0,01) terhadap lemak susu sapi perah pasca PMK. Rata-rata produksi susu (Liter) perlakuan P0 = 4,67a, P1= 5,73a, P2 = 8,33b, P3 = 10,50c. Rata-rata lemak susu (%) P0= 3.76a, P1= 4.3ab, P2= 4.50ab, P3= 5.43c. Kesimpulan penelitian yaitu pemberian jamu herbal plus multiprobiotik dengan jumlah 200 ml/ekor/hari merupakan dosis terbaik digunakan untuk meningkatkan produksi susu dan lemak susu. Disarankan melakukan penelitian lanjutan terkait peningkatan dosis jamu herbal plus multiprobiotik pada sapi perah pasca PMK.Kata Kunci : pmk, produksi, lemak, jamu herbal, multiprobiotik 
PENGARUH HYGIENE PEMERAHAN TERHADAP JUMLAH MIKROBA DAN pH SUSU SAPI PERAH Achmad Yusuf; Inggit Kentjonowaty; Nurul Humaidah
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 4, No 01 (2021): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh hygiene pemerahan terhadap jumlah mikroba dan pH susu sapi perah. Materi yang digunakan adalah 15 ekor sapi perah, metode penelitian  adalah eksperimental dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan. Pengambilan sampel secara purposive sampling dengan kriteria bangsa sapi PFH, laktasi ketiga, bulan laktasi ke 3-4, pakan rumput dan ampas tahu. Variabel yang diamati adalah jumlah mikroba dan nilai pH. Analisa data menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan untuk mengetahui perbedaan perlakuan dilakukan Uji beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses hygiene pemerahan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap jumlah mikroba dan nilai pH. Rata-rata jumlah mikroba (CFU/ml ) adalah P0= 3x104(a), P1= 1,5x105(a) , P2 = 5,8x105(ab). Rata-rata nilai pH adalah P0 = 6,72a, P1= 6,96b dan P2= 6,96b. Kesimpulan adalah  hygiene pemerahan berpengaruh terhadap jumlah mikroba dan pH susu sapi perah. Jumlah mikroba dengan minimal 5 kriteria hygiene pemerahan masih memenuhi Standar Nasional Indonesia. Kriteria tersebut adalah : pembersihan kandang, pembersihan peralatan, menggunakan pelicin, penuntasan pemerahan, serta pembersihan ambing dan puting. Saran sebaiknya peternak menerapkan prosedur hygiene pemerahan sesuai standar kriteria hygiene pemerahan yang baik minimal pada 5 kriteria prosedur hygiene pemerahan. Kata Kunci :  Hygiene, pemerahan, mikroba, susu, pH
HUBUNGAN KARAKTER KUANTITATIF UKURAN TUBUH PADA BERBAGAI BANGSA PEJANTAN KELINCI rohimah Rohimah; Mudawamah Mudawamah; Sri Susilowati
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karakter kuantitatif ukuran tubuh pada berbagai bangsa kelinci pejantan. Materi penelitian ini adalah 40 ekor kelinci pejantan dengan rincian 5 ekor Flemish Giant, 11 ekor Lokal, dan 24 ekor New Zealand White (NZW). Metode penelitian deskriptif. Variabel penelitian ini adalah panjang badan (PB), lingkar dada (LD) dan bobot badan (BB). Analisa yang digunakan untuk penelitian ini adalah analisis korelasi-regresi dengan aplikasi statistical product and service solution. Hasil analisis korelasi (r) dan regresi tunggal hubungan BB dan PB, BB dan LD, serta PB dan LD dan analisis korelasi (r) dan regresi ganda hubungan PB dan LD terhadap BB, BB dan LD terhadap PB, serta PB dan BB terhadap LD pada kelinci Flemish Giant, New Zealand White dan Lokal menunjukkan hubungan yang positif. Disimpulkan hubungan antara karakter kuntitatif pada berbagai bangsa kelinci pejantan bernilai positif dengan hubungan sangat erat sampai kurang erat. Pada kelinci Flemish Giant, hubungan antara semua karakter kuantitatif adalah sangat erat dengan koefisien determinasi terkecil 0,812. Pada kelinci NZW, terdapat hubungan erat antara BB dan PB, panjang badan dan lingkar dada terhadap bobot badan, dengan koefisien determinasi tertinggi 0,490. Pada kelinci Lokal, hubungan antara semua karakter kuantitatif adalah cukup erat dengan koefisien determinasi tertinggi 0,391.Kata Kunci: bobot badan, ukuran tubuh, kelinci, pejantan
HUBUNGAN LINGKAR SKROTUM TERHADAP KUALITAS SEMEN SEGAR PEJANTAN SAPI BALI Yusuf Mahdi; Dedi Suryanto; Usman Ali
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 4, No 02 (2021): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 8 - 28 Februari tahun 2021 di BIB Singosari. Penelitian bertujuan menganalisis hubungan lingkar scrotum terhadap kualitas spermatozoa semen segar pejantan sapi Bali. Materi yang digunakan adalah volume, konsentrasi dan motilitas semen segar dan ukuran lingkar skrotum pejantan sapi Bali. Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling dan metode penelitian yaitu metode observasional. Hasil penelitian diperoleh data rataan lingkar scrotum 30,33 ± 2,47 cm dengan rataan volume semen segar 6,030 ± 1,47 ml, koefisien korelasi (r) 0,266 terkategori rendah dan koefisien determinasi (R) 0,07. Hasil uji koofisien korelasi menujukkan hubungan yang tidak signifikan (P>0,05) . Persamaan regresi yang terbentuk antara lingkar scrotum dengan volume semen Y = -1,2087 + 0.159.x. Rataan konsentrasi 1134.12107 ± 344,41x 17, koefisien korelasi (r) 0,588 terkategori sedang dan koefisen determinasi (R) 0,345. Hasil uji terhadap kooefisien korelasi menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan (P<0,01). Persamaan regresi yang terbentuk antara lingkar scrotum dengan konsentrasi spermatozoa Y = -1355.997 +82.092.x. Rataan motilitas spermatozoa 82.29 ± 4,81 %, Korelasi (r) 0.344 terkategori rendah dan koefisien determinasi 0,119. Hasil uji koofisien korelasi menunjukkan hubungan yang tidak signifikan (P>0,05). Persamaan regresi yang terbentuk antara lingkar scrotum dengan konsentrasi spermatozoa Y = 61.293 + 9.672.x Kesimpulan terdapat korelasi positif antara lingkar scrotum terhadap kualitas semen segar sapi Bali. Disarankan perlu dilakukan penelitian hubungan antara lingkar scrotum dengan kualitas semen dilakukan pada umur sapi yang berbeda. Kata Kunci : Sapi Bali, lingkar scrotum, kualitas semen
PENGARUH TINGKAT PEMBERIAN PROBIOTIK Lactobacillus Fermentum PLUS MIKROMINERAL TERENKAPSULASI DALAM PAKAN BROILER PERIODE FINISHER TERHADAP KONSUMSI, PERTAMBAHAN BOBOT BADAN, FCR DAN BIAYA PERKILOGRAM BOBOT BADAN Fathorrahman Fathorrahman; Sunaryo Sunaryo; Muhamad Farid Wadjdi
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 3, No 02 (2020): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat penambahan probiotik lactobacillus fermentum plus mikromineral terenkapsulasi dalam pakan broiler periode finisher terhadap konsumsi, penambahan berat badan, FCR dan biaya perkilogran pertambahan bobot badan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah probiotik lactobacillus fermentum, mikromineral, pakan komersial, broiler jenis kelamin jantan dengan rata-rata bobot badan 937 gram umur 22 hari sebanyak 128 ekor. Metode yang digunakan adalah metode percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan pada tiap unit percobaan terdiri dari 8 ekor broiler. Perlakuan yang diberikan P0= Pakan komersial tanpa penambahan probiotik, P1 = pakan komersial + probiotik enkapsulasi lactobacillus fermentum 0,4%, P2 = pakan komersial + probiotik enkapsulasi lactobacillus fermentum 0,6%, P3 = pakan komersial + probiotik enkapsulasi lactobacillus fermentum 0,8%. Data konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, FCR dan biaya perkilogram pertambahan bobot badan dianalisis menggunakan ragam (Anova) dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemberian probiotik lactobacillus fermentum plus mikromineral terenkapsulasidalam pakan broiler tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan dan biaya per kilogram pertambahan bobot badan. Pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pertambahan bobot badan dan FCR. Rata-rata konsumsi pakan tiap perlakuan adalah P0 = 1902,50gr, P1 = 1925,00gr, P2 = 1955,00gr, dan P3 = 2970,00gr dan Rata-rata pertambahan bobot badan tiap perlakuan adalah P0 = 977,40agr , P1 = 1037.10abgr , P2 = 1072,45bcgr , dan P3 = 1131,05cgr dan Rata-rata FCR tiap perlakuan adalah P3 = 1,74agr, P2 =1,82abgr, P1 =1,86bcgr, P0 = 1,95c dan Rata-rata biaya pakan perkilogram pertambahan bobot badan tiap perlakuan adalah P0 = Rp13.809,50, P1 = Rp13.609,90, P2 = Rp13.579,83, P3 = Rp13.162,85. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian probiotik lactobacillus fermentum plus mikromineral terenkapsulasi tingkat 0,8% sebagai pakan tambahan berpengaruh terbaik terhadap performa broiler periode finisher.
PENGARUH POLA PEMBERIAN YAKULT DALAM AIR MINUM PASCA PERIODE BROODING TERHADAP PERFORMA BROILER Moch. Luqman Harits; Sunaryo Sunaryo; Dedi Suryanto
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 3, No 02 (2020): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan Penelitian untuk menganalisis pengaruh pola pemberian yakult dalam air minum pasca periode brooding terhadap performa broiler ditinjau dari pertambahan bobot badan dan konversi pakan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah yakult, broiler 160 ekor umur 15 hari, air minum dan pakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan.  Setiap unit percobaan terdapat 10 ekor ayam yang diberi yakult dengan dosis 100ml/liter air minum. Perlakuan penelitian adalah P0= tidak diberi yakult, pemberian yakult secara 3 hari berturut-turut kemudian dibedakan berdasarkan selang waktu P1= 3 hari, P2= 5 hari, P3=7 hari. Pemberian yakult pada broiler dengan cara lewat air minum. Data dianalisis ragam (Anova) kemudian dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT). Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah pola pemberian yakult berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pertambahan bobot badan dan nilai konversi pakan. Rata-rata pertambahan bobot badan yaitu P0=1,51gab, P1=1,60gb, P2=1,47ga, P3=1,42ga. Nilai rata-rata FCR yaitu P0= 1,70c, P1= 1,55a, P2=1,62b, P3= 1,64b. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pola pemberian yakult dalam air minum pada broiler pasca periode brooding dapat mempengaruhi pertambahan bobot badan dan nilai FCR, dan pola pemberian yakult dalam air minum pasca periode brooding secara periodik selama 3 hari berselang 3 hari memberikan respos terbaik terhadap performa broiler.
KAJIAN POTENSI BUDIDAYA LEBAH TRIGONA SP (LEBAH MADU KELULUT) SEBAGAI ALTERNATIF MATA PENCAHARIAN MASYARAKAT Alfarisi, Ahmad Daris; Susilowati, Sri
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 7, No 1 (2024): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lebah Kelulut termasuk spesies lebah yang berperan penting dalam aspek kesehatan manusia maupun menjaga keseimbangan lingkungan, terutama dalam penyerbukan tanaman. Lebah Kelulut merupakan spesies lebah banyak ditemui berbagai daerah diIndonesia dan memiliki karakteristik dan keunikan yang menarik. Adanya koloni Lebah Kelulut tidak hanya memberikan manfaat berupa produksi madu, tetapi berperan penting dalam menjaga ekosistem lingkungan. Ciri khas hasil dari produksi lebah kelulut mempunyai aroma yang berbeda dari madu lain, aroma yang di hasilkan oleh Lebah Trigona Sp rasa manis dan asam yang di hasilkan dari lebah madu. Aroma madu yang dihasilakan dari bunga yang dihinggapi lebah. Lebah Trigona Sp hanya mampu menghasilkan madu ±1-3 kg setiap tahunnya dan lebih banyak memproduksi propolis. Berdasarkan perhitungan kelayakan usaha madu Trigona Sp di Kabupaten Landak Kalimantan Barat dipastikan layak di jadikan usaha. Hasil kotor (bruto) Rp 13.000.000/bulan dan cost incurred Rp. 12.000.000/bulan. Jumlah kelayakan a >1= 1,00. Oleh karena itu, peluang usaha terbaik sebagai mata pencaharian di wilayah dataran tinggi. Madu yang dihasilkan memiliki nilai lebih mahal dari pada lebah Apis Sp. Potensi budidaya lebah Trigona Sp dikelola oleh tangan masyarakat tepat maka akan berdampak baik untuk  ekonomian masyarakat petani lebah madu.Kata kunci : Lebah Trigona Sp, Kelayakan Budidaya
ANALISIS KELAYAKAN USAHA LEBAH MADU HUTAN Apis dorsata DI KABUPATEN KUPANG PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT) Reynaldi Rizalianus Hutama; Sri Susilowati; Irawati Dinasari
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 4, No 01 (2021): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha lebah madu hutan Apis dorsata di Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Materi yang digunakan data tentang pengeluaran (cost) dan pemasukan dari usaha madu hutan (Apis Dorsata) yang diambil selama 1 tahun. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan total 10 responden perhitungan digolongkan berdasarkan banyaknya pohon responden yang dimiliki dengan kategori 0-50 pohon = rendah, 51-100 pohon = sedang, >100 pohon = tinggi, variabel yang diamati dianalisis secara deskriptif meliputi harga pokok, BEP, B/C Ratio, NVP, PBP. Hasil rata-rata untuk total pengeluaran selama satu tahun untuk kategori rendah Rp54.925.198; sedang Rp 137.667.600; tinggi Rp 695.706.283; Σ madu kategori rendah 1.156 Kg, sedang 3.013 Kg, tinggi 20.146 Kg, total penerimaan madu dan hasil samping  kategori sedang Rp 61.858.600; sedang Rp 158.573.125; tinggi Rp1.056.886.150 dengan diskonto 0%, harga jual Rp. 51.850; harga pokok produksi kategori rendah Rp 47.513; sedang Rp 45.699; tinggi Rp 34.534 & harga pokok produksi madu kategori rendah Rp 45.014; sedang Rp 44.827; tinggi Rp 33.916 & BEP kategori rendah 795 Kg, sedang 2.438 Kg, tinggi 10.534 Kg. B/C ratio kategori rendah 1,1; sedang 1,1; tinggi 1,5. NPV kategori rendah Rp 6.933.402; sedang Rp 20.905.525; tinggi Rp 361.179.867 & PBP kategori rendah 10,8 bulan, sedang 10,8 bulan, tinggi 8,4 bulan. Kesimpulan lebah madu ke 3 kategori yaitu rendah, sedang, tinggi semua dikatakan layak untuk diusahakan berdasarkan Analisa harga pokok, BEP, NPV, PBP. Hasil terbaik berada di kategori tinggi dengan Σ madu 20.146 Kg dengan harga jual Rp 51.850/Kg dari analisis harga pokok produksi Rp 34.534/Kg; harga pokok produksi madu Rp 33.916/Kg. BEP 10.534 Kg; B/C Ratio 1,5; NPV Rp 361.179.867; PBP 8,4 bulan di daerah Kabupaten Kupang, NTTKata kunci : Analisis kelayakan usaha, Madu hutan,  Apis dorsata
PENGARUH DOSIS LISIN DALAM PROBIOTIK ENKAPSULASI LACTOBACILLUS SALIVARIUS TERHADAP KADAR BAHAN ORGANIK DAN JUMLAH MIKROBA Gumilang Putra Wiyanto; Umi Kalsum; Badat Muwakhid
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 4, No 02 (2021): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang telah dilakukan mempelajari terkait pengaruh penambahan lisin dalam proses enkapsulasi probiotik enkapsulasi Lactobacillus salivarius terhadap jumlah mikroba dan kandungan BO sehingga memperoleh hasil yang optimal. Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah isolat bakteri Lactobacillus salivarius, lisin dan bahan kimia lain untuk enkapsulasi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 4 ulangan. Penambahan lisin pada penelitian ini adalah sebagai berikut: P=pengenkapsulasi tanpa penambahan lisin, Q=pengenkapsulasi dan penambahan lisin 1,9%, R=pengenkapsulasi dan penambahan lisin 2,4%, S= pengenkapsulasi dan penambahan lisin 2,9%. Analisis ragam menunjukan tingkat penambahan lisin menunjukan pengaruh beda nyata (P<0,05) terhadap jumlah mikroba dan tidak berpengaruh nyata pada kandungan BO. Rata rata jumlah mikroba masing masing perlakuan yaitu: P=, Q=, R= dan S=. Sedangkan rata rata pada kadar BO menunjukan P=81.279%, Q=79.656%, R=80.772%, S=81.035%. Kesimpulan Penambahan lisin 2,9% saat proses enkapsulasi dapat meningkatkan jumlah mikroba Lactobacillus salivarius dan tidak mempengaruhi kandungan BO probiotik enkapsulasi. Penambahan lisin yang terbaik pada proses enkapsulasi Lactobacillus salivarius pada dosis 2,9%.Kata kunci: Lisin, probiotik enkapsulasi, Lactobacillus salivarius, bahan orhanik, jumlah mikroba