cover
Contact Name
Ari Khusuma
Contact Email
khusumaari@gmail.com
Phone
+6281273148122
Journal Mail Official
khusumaari@gmail.com
Editorial Address
Jalan Prabu Rangkasari, Dasan Cermen, Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS)
ISSN : -     EISSN : 29634687     DOI : https://doi.org/10.32807/jilts.v3i1.40
Core Subject : Health, Science,
Journal of Indonesia Laboratory Students is a scientific journal published to facilitate academic and researcher publication of their research results in science and Medical Technology Laboratories. This journal has an EISSN of 29634687 and is Open Access and can be downloaded for free. Journal of Indonesia Laboratory Students is a journal by Medical Laboratory Technology Poltekkes Kemenkes Mataram, JILTS was published in 2022 and encourages students to get involved in research, Journal of Indonesia Laboratory Students adopts double-blind peer review policy concerns on various health fields, such as Cytohistotechnology Microbiology, Hematology, Clinical Laboratory, Parasitology, Immunology, Toxicology
Articles 74 Documents
Hubungan Nilai Hematokrit dan Jumlah Trombosit Pada Pasien Suspek DBD IgG dengan IgM Positif di Puskesmas Teratak Anaz, Haerul; Ershandi Resnhaleksmana; Thomas Tandi Manu; Iswari Pauzi
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 4 No. 2 (2025): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v4i2.263

Abstract

Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tropis yang masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia. Pemeriksaan serologis IgG dan IgM membantu membedakan antara infeksi dengue primer dan sekunder. Nilai hematokrit yang meningkat menunjukkan adanya kebocoran plasma, sedangkan penurunan jumlah trombositmenandakan trombositopenia yang umum terjadi pada infeksi dengue. Tujuan Penelitian: untuk mengetahui hubungan nilai hematokrit dan jumlah trombosit pada pasien suspek DBD dengan antibodi IgG dan IgM positif di Puskesmas Teratak. Tujuan Penelitian: untuk mengetahui hubungan nilai hematokrit dan jumlah trombosit pada pasiensuspek DBD dengan antibodi IgG dan IgM positif di Puskesmas Teratak. Metode Penelitian: Penelitian dilakukan dengan desain observasional analitik menggunakan pendekatan cross-sectional pada 33 pasien dengan Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil Penelitian: Rerata nilai hematokrit pasien adalah 39,0%, sedangkan rerata jumlah trombosit adalah 132.969/µL. dengan p-value 0,847 > 0,05. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara nilai hematokrit dan Jumlah Trombosit pada pasien suspek DBD dengan IgG dan IgM Positif.
Gambaran Kadar Hematokrit Remaja Putri Usia 13-18 Tahun di SMPN 8 SOROMANDI Desa BAJO lusi selfiana; I Wayan Getas; Nurul Inayati; Ida Bagus Rai Wiadnya
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 4 No. 2 (2025): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v4i2.298

Abstract

Latar Belakang: Anemia merupakan masalah gizi global terutama pada remaja putri akibat kekurangan zat besi, dengan prevalensi 40-88% secara global dan 53,7% di negara berkembang menurut WHO. Di Indonesia, prevalensi anemia mencapai 21,7% secara keseluruhan, 26,4% pada anak 5-14 tahun, dan 18,4% pada remaja 15-24 tahun; Puskesmas Soromandi mencatat 110 kasus hematokrit rendah tahun 2024. Hematokrit rendah menyebabkan penurunan oksigenasi, pusing, kelelahan, dan gangguan prestasi belajar akibat menstruasi dan pola makan buruk. Tujuan Penelitian: Penelitian bertujuan menggambarkan kadar hematokrit remaja putri usia 13-18 tahun di SMPN 8 Soromandi Desa Bajo menggunakan metode mikrohematokrit. Metode Penelitian: Penelitian observasional deskriptif cross-sectional dilakukan Maret-Mei 2025 di Laboratorium Puskesmas Soromandi dengan 50 sampel remaja putri (total sampling nonrandom). Pengukuran kadar hematokrit menggunakan metode mikrohematokrit; data dianalisis deskriptif berdasarkan usia dan interpretasi normal/rendah. Hasil Penelitian: Rata-rata kadar hematokrit 37,3%; 32 responden (64%) normal, 18 responden (36%) rendah; usia 15 tahun paling banyak (20 responden, 40%). Faktor risiko meliputi menstruasi berlebih, pola makan tinggi lemak/minyak, dan kurang sarapan menyebabkan defisiensi zat besi. Kesimpulan: Dari 50 remaja putri, 64% memiliki hematokrit normal dan 36% rendah dengan ratarata 37,3%, menunjukkan prevalensi anemia sedang akibat kehilangan zat besi menstruasi dan pola makan tidak sehat. Diperlukan edukasi pola makan kaya zat besi dan suplementasi untuk pencegahan. 
Analysis Of Urine Nicotine In Electronic Cigarette Smokers and Regular Cigarette Smokers saadaty, nila uthari; Fihiruddin; Yunan Jiwintarum; Urip; Fachrudi Hanafi
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 4 No. 2 (2025): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v4i2.411

Abstract

Latar Belakang: Penggunaan rokok, baik konvensional maupun elektrik, merupakan masalah kesehatan masyarakat yang semakin meningkat di Indonesia.paparan nikotin yang terdapat pada rokok elektrik dan konvensional dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Nikotin, sebagai zat adiktif utama dalam rokok, akan dimetabolisme menjadi cotinine yang dapat dideteksi dalam urine sebagai biomarker penting untuk menilai tingkat paparan dan risiko kesehatan.Tujuan: Menganalisis nikotin dalam urine pada pengguna rokok elektrik dan rokok konvensional.Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan racangan peneltian cross sectional. Sebanyak 30 subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Pengolahan sampel dilakukan dengan metode deskriptif.Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 sampel perokok elektrik dan 15 sampel dari perokok konvensional menunjukkan hasil positif nikotin dalam urine. Kesimpulan: Ditemukan positif nikotin urine pada perokok elektrik dan konvensional dengan pemeriksaan RDT.  
Perbedaan Kadar Asam Urat pada Remaja Sebelum dan Setelah Mengkonsumsi Buncis Goreng Varietas Sembalun sofiatummina; Maruni Wiwin Diarti; Urip; Erlin Yustin Tatontos
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 4 No. 2 (2025): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v4i2.434

Abstract

Latar Belakang: Asami urati merupakani produki akhiri metabolismei purin, i yangi secarai alami terdapat dalam tubuh maupun pada makanan seperti daging merah, jeroan, makanan laut, serta beberapa jenis kacang dan sayuran. Salah satu sayuran yang mengandung purin adalah buncis (Phaseolus vulgaris), khususnya varietas Sembalun yang banyak dikonsumsi di daerah tertentu. Kandungan purin dalam buncis berpotensi memengaruhi kadar asam urat dalam tubuh, terutama jika dikonsumsi secara berlebihan atau diolah dengan cara tertentu, seperti digoreng. Tujuan Penelitian: Mengetahui perbedaani kadari asami urati padai remaja sebelumi dani setelahi mengkonsumsii buncisi gorengi varietasi sembalun.  Metode Penelitian: Jenisi penelitiani inii adalahi experimeni dengani desaini pretest-postesti menggunakan isampeli darahi kapileri sebanyaki 30i sampeli respondeni remaja umur 17-23 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Responden diberi intervensi berupa konsumsi buncis goreng varietas sembalun sebanyak 100 gram setiap hari selama 7 hari berturut-turut. Pengukuran kadar asam urat dilakukan sebelum dan setelah intervensi menggunakan POCT autocheck. Analisis dengan uji statistik menggunakan uji T-berpasangan. Hasil Penelitian: Reratai kadari asami urati meningkat dari 4,8 mg/dL sebelum intervensi menjadi 5,5 mg/dL setelah intervensi. Hasil uji statistik menggunkan ujii t-berpasangani dan menunjukkani terdapatnya perbedaan yang signifikan antara kadar asam urat sebelum dan setelah mengkonsumsi buncis goreng yakni (p-valuie) < 0,05. Kesimpulan: Hasilipenelitianimenunjukkanibahwa terdapatnya pengaruhikadariasamiuratipada remaja. Sebelum dan setelah pemberian buncis yang digoreng dengan dosis 100 gram.
Test Screening Hepatitis A dan Hepatitis B pada Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Alas Barat Febriyanti Rizki Diana Lestari Diana; Rohmi; Thomas Tandi Manu; Siti Zaetun
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v5i1.91

Abstract

Latar Belakang: Test screening HAVAg dan HbsAg merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi dini infeksi virus hepatitis A dan hepatitis B pada seseorang. Hepatitis sendiri merupakan penyakit peradangan pada hati yang dapat sembuh dengan sendirinya atau berkembang menjadi fibrosis (jaringan parut), sirosis, atau kanker hati. Wilayah Alas Barat masih menjadi wilayah yang memiliki angka infeksi hepatitis yang tinggi serta rendahnya informasi tentang hepatitis dan akses pelayanan laboratorium penanganan kasus hepatitis pada masyarakat sebagai latar belakang masalah. Tujuan Penelitian: Untuk menganalisis dan mengetahui hasil test screening Hepatitis A dan Hepatitis B pada Masyarakat yang terkena infeksi Hepatitis A dan Hepatitis B. Metode Penelitian: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan pengumpulan data yaitu data primer dan sekunder. Hasil: Test screening pada Hepatitis A menunjukkan bahwa 20 sampel yang telah dilakukan test screening di dapatkan hasil Non-Reaktif/Negatif Hepatitis A (HAVag), sedangkan pada Hepatitis B di dapatkan hasil dari 80 sampel yang telah dilakukan test screening 20 sampel di antaranya menunjukkan hasil Reaktif/Positif Hepatitis B (HbsAg). Kesimpulan: Di wilayah Alas Barat tidak ditemukan virus Hepatitis A dan pada Hepatitis B ditemukan sekitar 25% penduduk Alas Barat terkena infeksi virus Hepatitis B.
Gambaran Kadar Protein Urine Pada Atlet Sepakbola Berdasarkan Frekuensi Latihan Vivi Oktapia; Nurul Inayati; Siti Zaetun; Agrijanti
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v5i1.132

Abstract

Latar Belakang: Latihan berlebihan dapat meningkatkan kadar protein urine, menandakan proteinuria. Permainan sepakbola memerlukan kebugaran fisik yang tinggi, maka pada atlet sepakbola perlu dilakukan skreening funsi ginjal.Protein urine merupakan salah satu parameter fungsi ginjal pada urine.Pada penelitian ini akan dilakukan pengamatan hubungan frekuensi latihan terhadap protein urine. Tujuan Penelitian: untuk mengetahui gambaran kadar protein urine pada atlet sepakbola yang latihan selama 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, 4 minggu, dan 5 minggu setelah latihan, serta menganalisa gambaran kadar protein urine pada atlet sepakbola tersebut. Metode Penelitian: Pada penelitian ini bersifat observasional analitik dengan teknik pengambilan sampel purposive. Sampel penelitian berjumlah 30 atlet sepakbola, kadar protein urine pada penelitian ini dipriksa menggunakan metode carik celup. Hasil Penelitian: Rata-rata kadar protein urine atlet sepakbola pada minggu pertama adalah 15,5 mg/dl,minggu kedua 47,17 mg/dl, minggu ketiga yaitu 60,3 mg/dl, minggu keempat 59 mg/dl dan minggu kelima 62,67 mg/dl. Kesimpulan: Gambaran kadar protein urine pada atlet sepakbola dengan kadar tertinggi 86 mg/dl dan kadar terendah pada 21 mg/dl.
Differences in Examination Result of Direction And indirect Low Density Lipoprotein Levels (Several Formulas) in Dyslipidemia Patients AT RSUD DR. R. Soedjono Selong Siti Malika Amini; Iswari Pauzi; Erlin Yustin Tatontos; Maruni Wiwin Diarti
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v5i1.177

Abstract

Latar Belakang: Dislipidemia merupakan suatu kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan ketidak seimbangan salah satu atau lebih dari empat komponen profil lipid.. Deteksi dini kadar LDL pada kelompok pasien dengan faktor risiko penyakit kardiovaskuler memungkinkan terapi dan tindakan pencegahan dapat dilaksanakan lebih dini. National Cholesterol Education Program-Adult Treatment Panel (NCEP-ATP) merekomendasikan pengukuran LDL sebagai kriteria primer diagnosis penyakit dislipidemia. Pemeriksaan LDL dapat dilakukan dengan metode direk dan indirek. Pemeriksaan LDL metode direk dilakukan secara terbatas di laboratorium di negara berkembang karena biayanya yang masih cukup mahal. Sedangkan pemeriksaan LDL metode indirek dapat dilakukan dengan menggunakan formula hitung sehingga banyak digunakan sebagai alternatif pengganti LDL metode direk. Tujuan: Mengidentifkasi perbedaan hasil pemeriksaan kadar LDL direk dan indirek (menggunakan beberapa formula) pada pasien dislipidemia di RSUD dr. R. Soedjono Selong Metode: Jenis penelitian observasional analitik  dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan adalah data skunder hasil pemeriksaan profil lipid pasien yang menunjukkan hasil dislipidemia dari populasi pasien yang melakukan pemeriksaan profil lipid bulan oktober 2023 – April 2024 di Laboratorium RSUD dr. R. Soedjono selong. Metode pengambilan sampel adalah metode total sampling dengan jumlah 34 sampel dan dianalisis menggunakan uji one way Anova. Hasil: Hasil peneitian didapatkan rerata kadar LDL metode direk 156 mg/dl,rerata kadar LDL indirek  formula Friedewald 145 mg/dl, rerata kadar LDL indirek formula Chen 189 mg/dl, dan rerata kadar LDL indirek dengan formula Anandaraja 141mg/dl dan rerata kadar LDL indirek dengan formula Hopskin  adalah 152 mg/dl. Uji Anova didapatkan nila sig. (P.value) 0.00 yaitu ≤0.05 yang menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna. Kesimpulan: Ada perbedaan yang bermakna antara hasil pemeriksaan kadar LDL direk dan indirek  beberapa formula yaitu formula Friedewald, Chen, Anandaraja, Hopskin pada pasien dislipidemia di RSUD dr. R. Soedjono Selong
Korelasi Hasil Skrining TB dengan Kadar Gula Darah pada Pasien Diabetes Melitus di RSUD Kabupaten Lombok Utara Ni Komang Harmoni S; Lalu Srigede; Ari Khusuma; Rohmi
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v5i1.185

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) dan Diabetes Melitus (DM) menjadi masalah di dunia utamanya 80% pada negara endemis Tuberkulosis. Penderita diabetes melitus beresiko lebih tinggi untuk berkembang menjadi tuberkulosis dibanding yang tidak DM yaitu sebesar 2,5 kali. (IDF 2021). Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu faktor risiko tersering pada pasien TB paru. Beberapa penelitian menunjukkan dampak diabetes pada tuberkulosis adalah terapi TB yang cenderung gagal dan penderita cenderung meninggal selama terapi dibandingkan yng bukan DM. Keterkaitan TB dengan DM menghendaki intervensi pada kedua penyakit tersebut,untuk meningkatkan deteksi dan mencegah diabetes atau tuberkulosis terkait komplikasi,sehingga perlu dilakukan Screening pemeriksaan TB pada penyandang Diabetes Melitus. Tujuan Penelitian: Mengetahui korelasi antara pemeriksaan screening TB dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Melitus di RSUD Kabupaten Lombok Utara. Metode Penelitian: Observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Menggunakan data primer dan dianalisa secara statistik dengan uji Spearmen rank. Hasil Penelitian: Jumlah sampel sebanyak 30 pasien dengan Diabetes melitus.Didapat 16 orang (53.33%) dengan kadar gula darah normal dan 14 orang 46.67%) dengan Gula darah tinggi.untuk pemeriksaan TCM didapatkan 28 orang (93.33%) TCM MTB not detected, 2 orang (6.67.97%) MTB detected. Korelasi hasil pemeriksaan Kadar gula darah degan hasil TCM (p = 0.286 > nilai α= 0,05) Kesimpulan: Tidak terdapat korelasi antara Hasil Screening TB degan Kadar Gula Darah pada pasien Diabetes Melitus.
Pengaruh Frekuensi Kemoterapi Terhadap Nilai SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) Pada Pasien Yang Menjalani Kemoterapi IV Berbasis Antrasiklin Mira Pramesty Cahyaningtyas; Urip; Iswari Pauzi; Yunan Jiwintarum
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v5i1.287

Abstract

Latar Belakang: Kanker merupakan penyebab utama kematian global, dengan insiden tinggi di Indonesia, termasuk di Provinsi NTB. Kemoterapi berbasis antrasiklin, meskipun efektif, berpotensi menyebabkan hepatotoksisitas yang ditandai dengan peningkatan kadar Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT). Studi terdahulu menunjukkan hubungan antara kemoterapi dan kerusakan hati, namun penelitian spesifik mengenai pengaruh frekuensi siklus kemoterapi antrasiklin terhadap nilai SGPT masih terbatas. Tujuan Penelitian: Mengetahui pengaruh frekuensi kemoterapi terhadap nilai SGPT pada pasien yang menjalani kemoterapi intravena berbasis antrasiklin. Metode Penelitian: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan Kohort historis dengan teknik samping jenuh pada pasien yang menjalani kemoterapi antrasiklin di RSUP NTB tahun 2024. Data nilai SGPT sebelum kemoterapi (siklus0) dan setelah siklus 1, 2 dan 3 kemoterapi dikumpulkan dari rekam medik, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik untuk membandingkan perbedaan bermakna antar-siklus. Hasil Penelitian: Didapatkan 20 pasien Ca. Ovarium yang memeuhi kriteria inklusi dan didata rata-rata nilai SGPT siklus 0 (27.8 U/L), siklus 1 (26.5 U/L), siklus 2 (22.4 U/L) dan siklus 3 (20.9 U/L). Berdasarkan uji statistik Friedman dengan tingkat kepercayaan 95%=(α=0.05) diatas diketahui nilai Sig.(2-Tailed) sebesar 0.976, karena Nilai Asymp. Sig. > 0.05 maka dapat ditarik kesimpulan tidak ada perbedaan signifikan antara nilai SGPT sebelum dan setelah melakukan kemoterapi antrasiklin. Kesimpulan: Tidak ada pengaruh signifikan antara nilai SGPT setelah melakukan kemoterapi antrasiklin mengindikasikan efek kumulatif terhadap hepatotoksisitas. Namun pemantauan fungsi hati secara berkala dan pertimbangan modifikasi dosis tetap perlu diperlukan untuk mengurangi risiko kerusakan hati.
Perbandingan Hasil Tes Cepat Molekuler (TCM) dan Mikroskopis Pada Penderita Diabetes Melitus Agus Ikhsan Jayadi; Ershandi Resnhaleksmana; Fihiruddin; Erlin Yustin Tatontos; Lina Sundayani
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v5i1.332

Abstract

Latar belakang: Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya infeksi tuberkulosis (TBC). Deteksi dini TBC pada pasien DM sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Dua metode diagnosis yang umum digunakan adalah pemeriksaan mikroskopis dan Tes Cepat Molekuler (TCM). Perbedaan sensitivitas dan akurasi kedua metode ini perlu dievaluasi khususnya pada pasien dengan DM. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) dan mikroskopis dalam mendeteksi TBC pada penderita diabetes melitus. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain studi observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian dengan jumlah 36 orang pasien Diabetes melitus yang menunjukkan gejala klinis TBC dan memenuhi kriteria inklusi. Setiap subjek dilakukan pemeriksaan dahak menggunakan metode mikroskopis (pewarnaan Ziehl-Neelsen) dan TCM (menggunakan alat GeneXpert MTB/RIF). Hasil dari kedua metode kemudian dibandingkan untuk menentukan tingkat kesesuaian dan perbedaan deteksi menggunakan analisa deskriftif. Hasil Penelitian: Hasil pemeriksaan TCM menunjukkan bahwa 35 sampel (97,22%) tidak terdeteksi (Not Detected), sementara 1 sampel (2,78%) menunjukkan hasil positif dengan kategori High. Hasil pemeriksaan mikroskopis menunjukkan hasil 35 sampel (97,22%) negatif dan 1 sampel (2,78%) positif dengan hasil BTA 3(+). Kesamaan hasil antara kedua metode menunjukkan adanya kesesuaian 100%. Kesimpulan: Hasil Tes Cepat Molekuler (TCM) dan Mikroskopis sama  terhadap pemeriksaan pada pasien Diabetes melitus yang beresiko Tuberkulosis.