cover
Contact Name
Sularno
Contact Email
soelarno@unidha.ac.id
Phone
+6288270875130
Journal Mail Official
jurnal.ittc@gmail.com
Editorial Address
Jl. Veteran dalam no.24d, Kota Padang, Sumatera Barat 25112
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan
Published by CV ITTC Indonesia
ISSN : -     EISSN : 30631467     DOI : https://doi.org/10.62379/jipk
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | ISSN (E): 3063-1467 merupakan jurnal ilmiah yang menerbitkan artikel bidang psikologi dan kesehatan. Jurnal ini terbit setiap tiga bulanan, yakni bulan Januari, April, Juli, dan Oktober. Adapun cakupan dari jurnal ini antara lain: Bidang Psikologi: Psikologi Pendidikan, Psikologi Klinis, Psikologi Perkembangan, dan Psikologi Sosial. Bidang Kesehatan: Ilmu kedokteran, ilmu keperawatan, ilmu kebidanan, farmasi, dan ilmu gizi.
Articles 357 Documents
Hubungan Efikasi Diri dengan Motivasi dalam Berolahraga Lari pada Dewasa Awal Fadilah Adawiyyah; Raden Yudhi Satria R. A
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 2 (2026): Juli - September
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i2.2392

Abstract

Efikasi diri merupakan keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mengorganisasi dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu. Salah satu aspek psikologis yang berhubungan dengan efikasi diri dalam konteks olahraga adalah motivasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dengan motivasi dalam berolahraga lari pada dewasa awal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Subjek penelitian berjumlah 191 individu dewasa awal, laki-laki dan perempuan, berusia 20–39 tahun yang memiliki pengalaman melakukan olahraga lari dalam 6 bulan terakhir dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah General Self-Efficacy Scale (GSES) yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Novrianto dkk. (2019) dan Behavioral Regulation in Exercise Questionnaire-3 (BREQ-3) yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Andika dkk. (2025). Validitas instrumen diuji melalui validitas isi menggunakan expert judgment, sedangkan reliabilitas instrumen diuji menggunakan koefisien Cronbach's Alpha. Berdasarkan hasil uji normalitas, data penelitian tidak berdistribusi normal, sehingga pengujian hipotesis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara efikasi diri dengan motivasi dalam berolahraga lari pada dewasa awal (r = 0,528; p < 0,000), sehingga H1 yang menyatakan terdapat hubungan positif antara efikasi diri dengan motivasi dalam berolahraga lari pada dewasa awal diterima dan H0 ditolak. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi efikasi diri yang dimiliki individu, maka semakin tinggi motivasinya dalam berolahraga lari.
Peran Attachment kepada Ayah terhadap Self-Compassion pada Remaja dari Keluarga Bercerai Ninis Permatasari
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 2 (2026): Juli - September
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i2.2393

Abstract

This study aims to determine whether attachment to the father plays a role in self-compassion among adolescents from divorced families. The background of this research is based on the condition of adolescents who are in a developmental period characterized by biological, cognitive, and socio-emotional changes. For adolescents experiencing parental divorce, the development of self-compassion becomes important in assisting individuals in accepting themselves and facing various psychological challenges. One of the factors suspected to influence self-compassion is attachment to the father. The research method used is a quantitative approach with a correlational design. The subjects in this study consisted of 80 adolescents from divorced families selected using purposive sampling with a snowball sampling technique. The instruments used were adaptations of the Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) scale by Safaria (2024) and the Adolescent Self-Compassion Instrument (ISCIRA) scale by Sari et al. (2022). The hypothesis data were analyzed using simple linear regression with the help of the IBM SPSS program. The results of the study indicate that attachment to the father does not play a significant role in self-compassion among adolescents from divorced families, with Sig. 0.498 (p > 0.05), thus the researcher’s hypothesis is not supported. The contribution of attachment to the father on self-compassion is only 0.6%, while 99.4% of the variation in self-compassion is influenced by other factors not examined in this study. The findings of this study indicate that attachment to the father is not the only factor that can significantly explain the variation in self-compassion among adolescents from divorced families.
Gambaran Regulasi Emosi pada Mahasiswa yang Sudah Menikah Vania Fitri Nivianti
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 2 (2026): Juli - September
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i2.2394

Abstract

Mahasiswa yang sudah menikah menjalankan peran ganda sebagai mahasiswa dan pasangan dalam kehidupan rumah tangga. Kondisi tersebut menghadirkan berbagai tuntutan akademik dan pernikahan yang memerlukan kemampuan dalam mengelola respons emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran regulasi emosi pada mahasiswa yang sudah menikah berdasarkan dua dimensi, yaitu cognitive reappraisal dan expressive suppression. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan satu variabel, yaitu regulasi emosi. Subjek penelitian berjumlah 114 mahasiswa aktif yang sudah menikah dengan usia pernikahan minimal satu tahun, yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) versi Bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh Gross dan John (2003) dan diadaptasi oleh Radde et al. (2021). Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, kategorisasi, dan tabulasi silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cognitive reappraisal berada pada kategori tinggi sebesar 54,4%, sedangkan expressive suppression berada pada kategori tinggi sebesar 59,6%. Dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang sudah menikah cenderung menggunakan cognitive reappraisal melalui upaya mengubah cara pandang terhadap situasi yang dihadapi, serta expressive suppression melalui upaya menahan atau mengendalikan ekspresi emosi ketika menghadapi situasi yang memunculkan emosi.
Pengaruh Tipe Kepribadian Openness to Experience dan Conscientiousness Terhadap Impulsive Buying Blind Box Pada Dewasa Awal Nikita Maheswari; Charli Sitinjak
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 2 (2026): Juli - September
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i2.2395

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tipe kepribadian Openness to Experience dan Conscientiousness terhadap Impulsive Buying Blind Box pada dewasa awal. Fenomena pembelian Blind Box yang terus berkembang di Indonesia, terutama pada produk Pop Mart, menunjukkan pola pembelian impulsif yang diduga dipengaruhi oleh karakteristik kepribadian individu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear berganda. Sampel penelitian berjumlah 385 responden dewasa awal berusia 18-25 tahun yang telah melakukan pembelian Blind Box minimal dua kali, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuisioner daring menggunakan skala Big Five Inventory untuk mengukur Openness to Experience dan Conscientiousness, serta skala Impulsive Buying Tendency yang diadaptasi dari Verplanken dan Herabadi (2001). Hasil analisis menunjukkan bahwa Openness to Experience dan Conscientiousness secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Impulsive Buying (F = 40,212; p < 0,001) dengan kontribusi sebesar 17,4% (R² = 0,174). Secara parsial, Openness to Experience berpengaruh positif dan signifikan (β = 0,328; p < 0,001), sedangkan Conscientiousness berpengaruh negatif dan signifikan (β = -0,305; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa individu dengan keterbukaan tinggi terhadap pengalaman baru cenderung lebih impulsif dalam membeli Blind Box, sementara individu dengan tingkat kehati-hatian dan pengendalian diri yang tinggi cenderung lebih mampu menahan dorongan tersebut.
Pengaruh Self-Efficacy terhadap Resiliensi pada Perempuan Dewasa Awal Korban Perselingkuhan dalam Relasi Romantis Naiya Rifda Khairani; Sitti Rahmah Marsidi
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 2 (2026): Juli - September
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i2.2396

Abstract

Perselingkuhan dalam relasi romantis merupakan pengelaman yang dapat menjadi stressor psikologis dan memengaruhi kemampuan individu untuk beradaptasi serta bangkit dari pengalaman negatif. Salah satu faktor internal yang berperan dalam resiliensi adalah self-efficacy, yaitu keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya dalam menghadapi dan mengatasi situasi sulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self-efficacy terhadap resiliensi pada perempuan dewasa awal korban perselingkuhan dalam relasi romantis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik convenience sampling. Responden penelitian terdiri dari perempuan dewasa awal berusia 20-39 tahun yang pernah mengalami perselingkuhan dalam relasi romantis dan telah menjalani hubungan minimal enam bulan sebelum mengetahui adanya perselingkuhan. Data dikumpulkan enggunakan skala self-efficacy dan resiliensi, kemudia dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-efficacy berpengaruh positif dan signifikan terhadap resliensi dengan nilai β = 0,857 dan p < 0,001. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,735 menunjukkan bahwa self-efficacy memberikan kontribusi sebesar 73,5% terhadap resiliensi, sedangkan 26,5% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Dengan demikian, semakin tinggi self-efficacy, semakin tinggi pula resiliensi Perempuan dewasa awal dalam menghadapi pengalaman perselingkuhan dalam relasi romantis.
Upaya Mencapai Psychological Well-Being Narapidana Pada Kasus Pelecehan Seksual Sonya Pramadita Sumarno; Hermien Laksmiwati
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 2 (2026): Juli - September
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i2.2398

Abstract

Penelitian ini berfokus pada kondisi Psychological Well-Being narapidana dalam menghadapi kondisi yang sedang dijalani di dalam penjara. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan Teknik pengumpulan data melalui wawancara. Hasil yang di dapatkan dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa narapidana kasus pelecehan seksual dapat mencapai kesejahteraan psikologis dengan cara mengatasi perasaan negatif, beradaptasi dengan lingkungan penjara, menjalin hubungan positif dengan orang lain, mengatur kehidupan mereka sendiri, dan memiliki tujuan hidup yang positif.
Perbedaan Tingkat Nyeri Haid Sebelum dan Sesudah Pemberian Aromaterapi Lavender pada Remaja Putri di Desa Gebangharjo Nabila Dyah Safitri; Kamidah .
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 2 (2026): Juli - September
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i2.2400

Abstract

Background: Menstrual pain is one of the common complaints experienced by adolescent girls and may interfere with comfort and daily activities. Menstrual pain can be managed through pharmacological and non-pharmacological approaches. One non-pharmacological method that can be used is lavender aromatherapy. Objective: To determine the difference in menstrual pain levels before and after lavender aromatherapy administration among adolescent girls in Gebangharjo Village. Methods: This study used a quantitative method with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The study population consisted of adolescent girls experiencing menstrual pain in Gebangharjo Village. A total of 46 respondents were selected using total sampling. Pain intensity was measured using the Numeric Rating Scale (NRS) before and after lavender aromatherapy administration. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. Results: The mean pain intensity before lavender aromatherapy was 4.217, with a median of 4, a minimum score of 3, and a maximum score of 8. After the intervention, the mean pain intensity decreased to 2.913, with a median of 2, a minimum score of 1, and a maximum score of 8. The mean pain intensity decreased by 1.304 points. The Wilcoxon test showed p < 0.001. Conclusion: There was a significant difference in menstrual pain levels before and after lavender aromatherapy administration among adolescent girls in Gebangharjo Village.
Hubungan Kesepian dengan Smartphone Addiction pada Remaja Akhir di Bekasi Muhammad Reza Diyyaurahman; Yulisa Susanti
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 2 (2026): Juli - September
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i2.2401

Abstract

The increasing use of smartphones among adolescents may be associated with psychological conditions, including loneliness. Loneliness occurs when an individual’s perceived social relationships do not match their expectations and may be related to excessive smartphone use. This study aimed to determine the relationship between loneliness and   among late adolescents in Bekasi. Using a quantitative correlational design, 109 late adolescents aged 18–21 years were selected through purposive sampling. Data were collected using the UCLA Loneliness Scale Version 3 and   Scale–Short Version (SAS-SV), with 8 valid items for each instrument. Reliability coefficients were 0.784 for loneliness and 0.843 for. As the data were not normally distributed, hypothesis testing used Spearman Rank correlation. The results showed a significant positive relationship between loneliness and (r = 0.544, p < 0.05), indicating that higher loneliness was associated with higher   among late adolescents in Bekasi.
Pengaruh Frustrasi Berkendara terhadap Perilaku Agresif Berkendara pada Pengendara Motor yang Dimediasi oleh Stres terhadap Kemacetan Lalu Lintas di Kota Jakarta Muhammad Bintang Adriansyah; Charli Sitinjak
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 2 (2026): Juli - September
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i2.2404

Abstract

This study aimed to examine the effect of driving frustration on aggressive driving behavior among motorcycle riders in Jakarta, with traffic-congestion-related stress acting as a mediating variable. The study was motivated by the high level of traffic congestion in Jakarta, which affects riders’ psychological conditions, such as frustration and stress during driving. This research employed a quantitative approach with a causal research design using mediation analysis. The participants were 385 motorcycle riders aged 18–25 years who lived or carried out daily activities in Jakarta and were selected through purposive sampling. Data were collected using a driving frustration scale, a driving stress scale, and an aggressive driving behavior scale. Data analysis was conducted using Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) with WarpPLS software. The results indicated that driving frustration had a positive and significant effect on stress, stress had a positive and significant effect on aggressive driving behavior, while driving frustration did not have a significant direct effect on aggressive driving behavior. Furthermore, stress significantly mediated the effect of driving frustration on aggressive driving behavior. These findings suggest that frustration caused by traffic congestion first increases driving stress, which subsequently contributes to aggressive driving behavior.
Pengaruh Intensitas Bermain Mobile Legends terhadap Toxic Behavior pada Remaja Awal di Jawa Tengah dengan Anonimitas Sebagai Moderator Alvin Afrian; Patria Jati Kusuma; Meriam Esterina
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 2 (2026): Juli - September
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i2.2405

Abstract

This study aimed to examine the effect of Mobile Legends gaming intensity on toxic behavior among early adolescents in Central Java and to investigate the moderating role of anonymity. This study employed a quantitative approach using a moderated correlational research design. The population consisted of early adolescents aged 13–16 years in Central Java who actively played Mobile Legends. A total of 160 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected through questionnaires measuring gaming intensity, toxic behavior, and anonymity. The data were analyzed using Moderated Regression Analysis (MRA) with JASP software. The results showed that gaming intensity had a significant effect on toxic behavior (p < 0.001). Anonymity did not have a significant direct effect on toxic behavior (p = 0.771), but it significantly moderated the relationship between gaming intensity and toxic behavior (p = 0.006). The negative interaction coefficient (B = -0.058) indicated that anonymity tended to weaken the effect of gaming intensity on toxic behavior. The coefficient of determination (R² = 0.382) showed that gaming intensity, anonymity, and their interaction explained 38.2% of the variance in toxic behavior, while the remaining 61.8% was influenced by other factors outside the scope of this study. These findings suggest that efforts to prevent toxic behavior among adolescents should focus not only on regulating gaming intensity but also on strengthening digital literacy, managing online interactions, and promoting positive communication within online gaming environments.