cover
Contact Name
Giantomi Muhammad
Contact Email
giantomi.muhammad@unisba.ac.id
Phone
+6282118753780
Journal Mail Official
masagi@unisba.ac.id
Editorial Address
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Lantai 2, Gedung Dekanat Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No.24, Tamansari, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia 40116.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter
ISSN : 30476453     EISSN : 30474663     DOI : https://doi.org/10.29313/masagi.v1i1
Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter diterbitkan oleh Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Bandung. Penerbitan artikel dimulai pada tahun 2024. Artikel diterbitkan setiap bulan Maret dan November setiap tahunnya. Jurnal ini menyasar kalangan akademisi, guru, mahasiswa dan masyarakat luas yang tertarik melakukan pendalaman penelitian terkait pendidikan karakter. Fokus dan cakupan artikel yang dimuat pada jurnal ini berkaitan dengan pembangunan karakter, pendidikan moral, pendidikan umum, pendidikan nilai, pendidikan kewarganegaraan, karakter dan pendidikan keagamaan, filsafat karakter, serta kajian tasawuf.
Articles 32 Documents
Menumbuhkan Sikap Nasionalisme Peserta Didik Melalui Ekstrakurikuler Pramuka di MAN 2 Semarang Febri Listiarum; Nani Mediatati
Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter Vol 2 No 1 (2025): Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/masagi.v2i1.6304

Abstract

Currently, the character among the community, especially the attitude of nationalism in students, is said to be declining due to globalization. Therefore, it is important for schools to overcome these problems through activities that can foster an attitude of nationalism. This research was conducted to find out the extracurricular activity program that can foster the nationalism attitude of students at Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Semarang. This research uses descriptive qualitative methods with observation and interview techniques. After the data were collected, the data were processed and analyzed descriptively using data triangulation techniques. The results of the research show that the scout extracurricular activity program is capable of fostering a nationalist attitude in accordance with the eight characteristics of a nationalist attitude, including: (1) welcoming guest camps; (2) exploring the terrain; (3) providing scouting materials; (4) repling; (5) PERSAMI or Saturday and Sunday Camp; (6) social service; (7) mountain climbing; and (8) PERATA or End of Year Camp.         
Konsep Adab Makan dalam Kitab Tanqih al-Qaul Bab Fadhilah al-Iqlal min al-Akli wa an-Naum wa ar-Rahah: Indah Aprilyani; Anisa Indah Sabila
Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter Vol 2 No 1 (2025): Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/masagi.v2i1.6310

Abstract

Bab Fadhilah Al-Iqlal Min Al-Akl Wa An-Naum Wa Ar-Rahah pada Kitab Tanqih al-Qaul karya Nawawi al-Bantani merupakan sebuah syarah dari kitab Lubab al-Hadits karya Jalaluddin as-Suyuthi. Dalam bab ini, ditekankan bahwa mengurangi makan (al-iqlal min al-akli), tidur (an-naum), dan istirahat (ar-rahah) memiliki keutamaan dalam menjaga kesehatan fisik dan meningkatkan kualitas ibadah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka, dengan tujuan menganalisis hadis-hadiss dan menelaah berbagai literatur yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengumpulan berbagai literatur hadis-hadis secara mendalam kemudian ditelaah dan dianalisis dengan pendekatan deskriptif-analitis guna menemukan kandungan makna dengan mengungkap hikmah yang tersirat di dalam hadis tersebut. Hasil penelitian menunjukkan Kitab Tanqih al-Qaul menekankan pentingnya pengendalian diri dalam makan, tidur, dan penggunaan waktu secara bijak. Konsep makan yang beradab yang dirumuskan berdasarkan analisis hadis-hadis meliputi: (1) Makan berlebihan mengeraskan hati, sementara lapar (terutama puasa) melembutkan hati; (2) Makan berlebihan berkonsekuensi pada kesulitan di akhirat dan bahkan diharamkan; dan (3) Lapar ketika berpuasa merupakan inti ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Peran Pola Asuh Orang Tua dan Lingkungan dalam Pembentukan Karakter: Studi Kasus KH. Aceng Zakaria Naqiya Salsabila; Muhardi
Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter Vol 2 No 2 (2025): Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/masagi.v2i2.6315

Abstract

Karakter seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pola asuh orang tua, lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pembentukan karakter yang kuat berdampak pada perilaku sehari-hari serta cara seseorang menghadapi tantangan hidup. KH. Aceng Zakaria sebagai mantan Ketua Umum Organisasi Persatuan Islam (Persis) merupakan contoh individu dengan karakter kuat, yang terbentuk melalui pendidikan keluarga, interaksi sosial, dan disiplin pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pola asuh orang tua dan lingkungan sosial dalam pembentukan karakter KH. Aceng Zakaria. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus, penelitian ini menggali pengaruh interaksi sosial, nilai-nilai keluarga, kedisiplinan, dan etika hidup beliau. Subjek penelitian meliputi keluarga, tokoh masyarakat, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa keluarga, sebagai lembaga pendidikan pertama, memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk arah karakter anak. Selain itu, partisipasi dalam kehidupan sosial serta pengalaman langsung di masyarakat juga berkontribusi signifikan dalam perkembangan karakter anak.
Pendekatan Psikoterapi Islam dalam Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Membangun Psychological Well-Being Siswa Suhendi
Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter Vol 2 No 2 (2025): Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/masagi.v2i2.7410

Abstract

Guru merupakan garda terdepan di sekolah dalam memperhatikan kesehatan psikologis siswa agar bertumbuh dengan baik. Tak sedikit Guru hanya mencerdaskan aspek intelektual siswa, tapi kadangkala lupa bagaimana mencerdaskan siswa secara emosional bahkan spiritual siswa. Tak sedikit dari kebanyakan guru masih menggunakan pendekatan konvensional dalam pengajarannya, sehingga belum mampu menyentuh aspek emosional dan spiritual siswa. Psychological well-being merupakan suatu istilah kebermaknaan hidup serta terpenuhinya suatu kebahagiaan secara psikologis dan ini tidak cukup hanya dengan proses Pendidikan saja, lebih jauh, diperlukan model pendekatan Pendidikan dengan basis psikoterapi bernuansa keagamaan Islam sebagai upaya untuk membangun psychological well-being siswa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Psikoterapi Islam atau psikoterapi Agamawi bisa menjadi salah satu pendekatan yang perlu diterapkan dalam Pendidikan Karakter di Era Revolusi Industri 4.0 ini untuk membangun psychological well-being siswa.
Refleksi Guru dan Internalisasi Nilai Islam Dalam PSE (Pembelajaran Sosial Emosional) di Sekolah Ipah Arianti; Erhamwilda; Asep Dudi Suhardini
Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter Vol 2 No 2 (2025): Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/masagi.v2i2.7467

Abstract

Tekanan Sosial berdampak buruk pada kesehatan mental siswa jika ia tidak terampil meregulasi emosi. Kasus bullying di kalangan siswa merupakan cerminan regulasi emosi yang buruk. Pembelajaran sosial emosional (PSE) menjadi penting untuk mengantarkan siswa kepada kemampuan meregulasi emosi. Dengan PSE siswa dapat mengidentifikasi apa yang ada dalam dirinya, bersikap empati, dan dapat mengambil keputusan yang bertanggung jawab serta dapat memelihara hubungan sosial dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman guru dalam menerapkan PSE di sekolah Islam termasuk internalisasi nilai-nilai Islam di dalamnya, serta kendala yang dihadapi saat melaksanakannya. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara dan studi dokumen refleksi guru. Penelitian menunjukkan guru telah mengimplemntasikan PSE dengan beragam teknik, refleksi yang dilakukan guru menjadi proses krusial untuk menjembatani teori PSE dan praktik nyata, serta mengaitkannya dengan nilai-nilai Islam, guru yang secara konsisten merefleksikan praktik PSE dan menginternalisasi nilai-nilai Islam menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam menciptakan lingkungan belajara yang aman, suportif, dan empati. Tantangan utama yang ditemukan adalah wawasan guru tentang PSE belum mendalam, kurangnya konsistensi guru untuk melaksanakan PSE secara berkelanjutan dan kurangnya waktu serta dukungan dari sekolah untuk kegiatan refleksi secara mendalam. Penelitian menyimpulkan bahwa diperlukan program pengembangan profesional berkelanjutan dengan fokus pada keterampilan refleksi dan integrasi nilai-nilai Islam. Sekolah perlu menyediakan ruang dan waktu yang terstruktur bagi guru untuk berkolaborasi merancang, melaksanakan, dan merefleksi pembelajaran PSE dan internalisasi nilai-nilai Islam.
Integrasi Nilai Ihsan dalam Pendidikan Islam untuk Pembentukan Karakter Belajar Siswa Tatat Tarwiah; Erhamwilda; Asep Dudi Suhardini
Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter Vol 2 No 2 (2025): Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/masagi.v2i2.7598

Abstract

Menurunnya integritas moral dan akademik siswa menunjukkan pentingnya integrasi nilai Islam dalam pendidikan karakter. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran nilai ihsan dalam membentuk karakter belajar siswa serta merumuskan model integrasi yang relevan bagi pendidikan Islam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka, data diperoleh dari litelatur klasik dan kontemporer dalam bidang Pendidikan Islam dan psikologi, kemudian dianalisis secara tematik dan divalidasi melalui triangulasi teori. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai ihsan mampu menumbuhkan kesadaran spiritual, akhlak mulia, serta orientasi belajar yang berproses. Oleh karena itu, integrasi nilai ihsan dalam kurikulum Pendidikan Islam menjadi pentinng untuk membangun karakter belajar yang kuat dan berkontribusi pada pengembangan model Pendidikan karakter berbasis Islam.
PEMBELAJARAN AFEKTIF DALAM PENDIDIKAN ISLAM: MENYENTUH HATI, MEMBENTUK KARAKTER Dewi Masitoh; Erhamwilda; Asep Dudi Suhardini
Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter Vol 2 No 2 (2025): Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/masagi.v2i2.7600

Abstract

Artikel ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan pendidikan kontemporer yang terlalu berorientasi pada ranah kognitif sehingga mengabaikan pembinaan afektif, padahal Islam menempatkan pendidikan sebagai proses integral yang mencakup akal, hati, dan jiwa. Tujuan penelitian ini adalah menegaskan urgensi penguatan dimensi afektif dalam pendidikan Islam berbasis nilai serta menawarkan model konseptual pembelajaran yang menyentuh hati dan membentuk karakter. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) yang bersifat deskriptif-analitis. Sumber penelitian terdiri atas sumber primer berupa Al-Qur’an, hadis, karya ulama klasik dan kontemporer, serta teori psikologi pendidikan, sedangkan sumber sekunder berupa jurnal ilmiah, buku, dan laporan penelitian mutakhir. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran literatur akademik digital dan manual, kemudian dianalisis melalui reduksi data, klasifikasi tematik, analisis isi, serta sintesis teoritik dengan triangulasi sumber untuk menjaga keabsahan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran afektif Islami perlu diwujudkan melalui strategi pengajaran berbasis nilai, pendekatan reflektif-empatik, dan sistem evaluasi yang mengintegrasikan aspek spiritual dan moral. Guru dalam hal ini berperan tidak hanya sebagai mu’allim, tetapi juga sebagai murabbi dan muaddib yang menumbuhkan akhlak dan kepekaan jiwa siswa.
Pembentukan Karakter Spiritual melalui Pendekatan Tazkiyatun Nafs dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam Kurnianingsih, Nia; Arief Fadillah; Hafifah Rahmi Puspitaningsih
Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter Vol 2 No 2 (2025): Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/masagi.v2i2.7851

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak hanya berfungsi sebagai media transfer pengetahuan normatif, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter spiritual peserta didik. Namun, praktik pembelajaran di sekolah masih dominan bersifat kognitif dan kurang menyentuh dimensi ruhani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pendekatan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dalam pembentukan karakter spiritual peserta didik melalui kurikulum PAI, khususnya dalam konteks Kurikulum Merdeka. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur. Data dikumpulkan melalui sumber primer (Al-Qur’an, hadis, dan karya ulama klasik seperti Al-Ghazali, Ibn Qayyim, dan Al-Muhasibi) serta sumber sekunder (buku ilmiah, jurnal penelitian, dan dokumen kurikulum PAI). Teknik analisis data mengikuti model Miles, Huberman, dan Saldana, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tazkiyatun nafs efektif dalam menumbuhkan akhlak mulia, kesadaran religius, dan kedekatan spiritual peserta didik dengan Allah Swt. Kurikulum Merdeka memberi peluang besar bagi implementasi nilai tazkiyah melalui pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa, integrasi lintas mata pelajaran, dan penilaian berbasis refleksi spiritual. Namun, kendala masih ditemui, seperti keterbatasan kompetensi guru, padatnya beban kurikulum, serta kurangnya dukungan lingkungan keluarga dan masyarakat. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa integrasi tazkiyatun nafs dalam kurikulum PAI merupakan kebutuhan mendesak untuk melahirkan generasi Muslim yang cerdas intelektual sekaligus kuat secara spiritual dan berakhlak mulia.
Pendidikan Karakter Berbasis 7 Kebiasaan Anak Hebat dalam Membangun Generasi Berintegritas dan Berdaya Saing Kefi Fadhilah; Titim Fatimah; Agus Jamaludin
Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter Vol 2 No 2 (2025): Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/masagi.v2i2.7980

Abstract

Artikel ini membahas penerapan Tujuh Kebiasaan Anak Hebat dalam membangun generasi berintegritas dan berdaya saing sebagai bagian dari upaya pembentukan karakter peserta didik di tingkat sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan tujuh kebiasaan tersebut dalam meningkatkan sikap disiplin, tanggung jawab, kerjasama, serta keterampilan sosial siswa. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Lokasi penelitian berada di Madrasah Interaktif MIMHa Bandung, dengan sumber penelitian berupa dokumen literatur, catatan kegiatan sekolah, serta informan guru dan siswa. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi lapangan, dan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan dengan teknik reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan secara induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan tujuh Kebiasaan Anak Hebat secara konsisten mampu memberikan dampak positif terhadap perkembangan karakter siswa, khususnya dalam aspek kedisiplinan, tanggung jawab, kerjasama, dan keterampilan sosial.
A Comparative Study of Ibn Arabi and Al-Hallaj on Spirituality and Mysticism in Islamic Sufism Toat Haryanto; Enjang
Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter Vol 2 No 2 (2025): Masagi: Jurnal Pendidikan Karakter
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/masagi.v2i2.8010

Abstract

This study explores spirituality and mysticism in Islamic Sufism by examining the thoughts of two prominent figures, Ibn Arabi and Al-Hallaj. Both are known for their major contributions to the Sufi tradition, yet they present distinct approaches in understanding the relationship between humans and God. The study arises from the limited number of comparative analyses concerning the spiritual and mystical perspectives of these two thinkers. The aim is to identify similarities and differences in their mystical concepts and to reveal the richness of spiritual expression within Sufism. This research employs a qualitative library method, analyzing primary works such as Ibn Arabi’s al-Futūḥāt al-Makkiyya and Fuṣūṣ al-Ḥikam, and Al-Hallaj’s Ṭawāsīn, along with supporting secondary literature. Data collection was conducted through documentation, involving classification and interpretation of both primary and secondary sources. Data were analyzed using content and hermeneutical approaches to interpret textual meanings in their historical, philosophical, and spiritual contexts. The findings show that Ibn Arabi emphasizes a metaphysical and rational dimension through the concept of Wahdat Al-Wujūd, while Al-Hallaj focuses on ecstatic experience and divine love. Both perspectives enrich the understanding of spirituality in Islam, demonstrating the diversity of expressions in seeking closeness to God. This study contributes to Sufi scholarship by deepening appreciation of the plurality of spiritual paths and the interrelation between metaphysical thought and inner experience.

Page 3 of 4 | Total Record : 32