cover
Contact Name
Adek Cerah Kurnia Azis
Contact Email
adek_peros@yahoo.com
Phone
+6285278021981
Journal Mail Official
gorgajurnalsenirupa@unimed.ac.id
Editorial Address
Jl. Willem Iskandar / Pasar V, Medan, Sumatera Utara – Indonesia Kotak Pos 1589, Kode Pos 20221
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Gorga : Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23015942     EISSN : 25802380     DOI : https://doi.org/10.24114/gr.v9i1
Core Subject : Education, Art,
Gorga : Jurnal Seni Rupa terbit 2 (dua) kali setahun pada bulan Juni dan Desember, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran, hasil penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang ditulis oleh para pakar, ilmuwan, praktisi (seniman), dan pengkaji dalam disiplin ilmu kependidikan, kajian seni, desain, dan pembelajaran seni dan budaya.
Articles 846 Documents
DESAIN MOTIF TENUN SONGKET MINANGKABAU DI USAHA RINO RISAL KECAMATAN KOTO TANGAH KOTA PADANG Widi Aliffa Izzara; Weni Nelmira
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 10, No 2 (2021): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v10i2.25928

Abstract

The problem in this research is that the people of Koto Tangah Subdistrict have only been able to enjoy the Minangkabau songket weave functionally without seeing the name and shape of the motif. This study aims to describe the design of the motifs and the shape of the Minangkabau songket weaving motifs in Koto Tangah sub district, Padang city. This type of research is descriptive qualitative with the type of data in the form of primary data and secondary data. Techniques in collecting data in this study were observation, interviews and documentation. The data analysis technique was carried out by using data reduction, data presentation and data retrieval. The results of this study indicate that the motives found in the Rino Risal Business which are often used consist of 14 motives, namely motives pucuak rabuang, saik kalamai, buah palo, balah kacang, salapah, api, tirai, biku, itiak pulang patang, anyam, bada mudiak, saluak laka, cukia baserak sirangkak.Keywords: motif, weaving, sogket Minangkabau. AbstrakMasalah dalam penelitian ini yaitu masyarakat Kecamatan Koto Tangah selama ini hanya mampu menikmati tenunan songket Minangkabau secara fungsional saja tanpa mengetahui nama dan bentuk motif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan desain motif dan bentuk motif tenun songket Minangkabau di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan jenis data berupa data primer dan data sekunder, Teknik dalam mengumpulkan data pada penelitian ini yaitu melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan reduksi data, penyajiaan data dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa motif yang terdapat pada Usaha Rino Risal yang sering digunakan terdiri dari 14 motif yaitu, motif pucuak rabuang, saik kalamai, buah palo, balah kacang, salapah, api, tirai, biku, itiak pulang patang, anyam, bada mudiak, saluak laka, cukia baserak, sirangkak.Kata Kunci: motif, tenun, songket Minangkabau. Authors:Widi Aliffa Izzara : Universitas Negeri PadangWeni Nelmira : Universitas Negeri Padang References:Nusyirwan. (1982). Ragam Hias Songket Minangkabau. Padang: Proyek Pembinaan Permuseuman Sumbar.Biranul Anas, dkk. (2012). Mengenal Tenun Songket Ratu Kain Sumatra Barat. Padang: Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Sumatra Barat.Budiyono, dkk. (2008). Kriya Tekstil. Jakarta: Depdiknas.Desma, D., Zahri, W., & Ernawati, E. (2012). Mengingkatkan Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Keterampilan Menghias Sulaman Benang Emas Memalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-pair-share SMPN 1 Kecamatan Payakumbuh. Journal of Home Economics and Tourism, 1(1), ____ .Efi, Agusti (2019). Studi Kasus Motif Tenun Sipirok di Desa Aek Bayur Kota Padang Sidempuan. Jurnal Kapita Selekta Geografi, 2(7). 64-72.Ernawati dan Weni Nelmira. (2008). Pengetahuan Tata Busana. Padang: UNP.Febriani, T dan Efi, A. (2020). Tenunan Songket Balai Panjang Kelurahan Balai Panjang Kecamatan Payakumbuh Selatan. Jurnal Kapita Selekta Geografi, 3(1). 17-21.Hadaf, A., Adriani, A., & Novrita, S. Z. (2016). Motif dan Pewarnaan Batik Tulis di Dusun Giriloyo Desa Wukirsari Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa YOGYAKARTA (Studi Kasus di Industri Batik Sri Kuncoro). Journal of Home Economics and Tourism, 11(1), ____ .Kartiwa, Suwati. (1986). Ragam Kain Tradisional Indonesia Tenun Ikat. Jakarta: Djambatan.Prastowo, Andi. (2016). Memahami Metode-Metode Penelitian Suatu Tinjauan Teoretis dan Praktis. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.Rahman, Doni. (2015). Ragam Hias Suji Cair Pada Sulaman Salendang Koto Gadang Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Padang: UNP.Setiati, Destin Huru. (2008). Membatik. Yogyakarta: PT. MJC.Susanto, Mikke. (2002). Diksi Rupa. Yogyakarta: Kanisius.  Yuliarna. (2016). The Art of Embriodery Designs. Jakarta: KPG.
PITUAH PAIKEK: PENCIPTAAN KARYA TARI BERANGKAT DARI RITUS PERALIHAN MALAM BAINAI DI SUMATERA BARAT Cici Wulandari; Susas Rita Loravianti; Novesar Jamarun
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 10, No 2 (2021): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v10i2.27240

Abstract

Pituah Paikek's work is a dance work that departs from the Malam Bainai culture in West Sumatra. The idea of creation focuses on the philosophical meaning of the henna on the bride's nails. The formulation of the creation of Piuah Paikek's work is how to interpret the meaning and symbols of the bride's bainai nails into a dance work. The purpose of this dance work is to present the experience of the Bainai Night rite of passage into a contemporary dance form with a dramatic type. The creation methods used include: research, exploration, improvisation, formation and evaluation. The creation of this Pituah Paikek dance work produces a dance work that has three parts, namely: the first part is a symbolic representation of the Bainai activity, the second part is a symbolic representation of the meaning of the finger and the third part is an affirmation of each value of the Bainai finger.Keywords: pituah paikek, malam baianai, contemporary. AbstrakKarya Pituah Paikek adalah karya tari yang berangkat dari budaya Malam Bainai di Sumatera Barat. Ide penciptaan berfokus kepada makna filosofis dari inai di kuku calon pengantin wanita. Rumusan penciptaan dari karya Piuah Paikek ini adalah bagaimana menginterpretasikan makna dan simbol dari kuku bainai calon pengantin wanita menjadi sebuah karya tari. Tujuan dari karya tari ini adalah menampilkan pengalaman dari ritus peralihan Malam Bainai ke dalam bentuk tari kontemporer dengan tipe dramatik. Metode penciptaan yang digunakan, antara lain: riset, eksplorasi, improvisasi, pembentukan dan evaluasi. Penciptaan karya tari Pituah Paikek ini menghasilkan karya tari yang memiliki tiga bagian, yaitu: bagian pertama sebagai representasi simbolis dari aktivitas bainai, bagian kedua adalah representasi simbolis dari makna jari dan bagian ketiga adalah penegasan setiap nilai dari jari bainai.Kata Kunci: pituah paikek, malam bainai, kontemporer. Authors:Cici Wulandari : Institut Seni Indonesia PadangpanjangSusas Rita Loravianti : Institut Seni Indonesia PadangpanjangNovesar Jamarun : Institut Seni Indonesia Padangpanjang References:Alma M. Hawkins. (2003). Bergerak Menurut Kata Hati: Metoda Baru dalam menciptakan Tari (Terj. Iwayan Dibia). Indonesia: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI).Devi, Cintya. (2019). "Malam Bainai". Hasil Wawancara Pribadi: 23 Agustus 2019, Padang.Hadi, Sutrisno. (2007). Statistik 2. Yogyakarta: Andi Offset.Kurniawan. (2001). Semiologi Roland Barthes. Magelang: Yayasan Indonesia Tera.Lawranta, Gangga. (2021). "Malam Bainai". Hasil Dokumentasi Pribadi: 31 Juli 2021, Padangpanjang.Mak Katik. (2021). "Malam Bainai". Hasil Wawancara Pribadi: 18 Februari 2021, Padang.Oktora, D. R., Amsia, T., & Syaiful, M. (2017). Tradisi Malam Bainai pada Acara Perkawinan Adat Padang Pariaman di Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung. PESAGI (Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah), 5(7).Supriyanto, Eko. (2018). Ikat Kait Impulsif Sarira: Gagasan yang Mewujud Era 1990-2010. Yogyakarta: Penerbit Garudhawaca.Sylvia, S., Syahrel, S., & Marzam, M. (2014). Struktur Penyajian Malam Bainai pada Pesta Perkawinan di Kota Padang. Jurnal Sendratasik, 3(3), 71-78.Yudiaryani, dkk. (2017). Karya Cipta Seni Pertunjukan. Yogyakarta: JB Puplisher Bekerjasama Dengan Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.Zaimiati. (2019). "Malam Bainai". Hasil Wawancara Pribadi: 23 Agustus 2019, Padang.
PEWARNAAN DAN PEMBERIAN MOTIF ALAMI KAIN CELUP IKAT ITAJIME SHIBORI DENGAN EKSTRAK INDIGOFERA DAN TUNJUNG Aulia Wara Arimbi Putri; Janessa Angelica; Kirana Kartawidjaja
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 10, No 2 (2021): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v10i2.28490

Abstract

The Increase in environtmentally friendly design products especially in fashion created by designers, artist and craftsmen in their work due to global trends and high demand for sustainable design products. Itajime shibori tie dyeing is one of the shape-resist techniques in textile design which usually using natural dyes in its application. The purpose of this research is to describe the process and to analyze the experimental result of natural dyeing and pattern from the combination of indigofera and tunjung extract on cotton silk fabrics with itajime shibori tie dyeing technique. The method used in this research is an experiment on different treatments to determine the after effect from tunjung and indigofera extract dipping which observed as the process of making new variation of dyed tie cloth with itajime shibori technique to obtain color change and pattern formation data using visual observations from soaking cloth in a tunjung solution overnight then in indigofera extract for 15 minutes in 3 stages (every 5 minutes) after that cloth ready for the final dyeing treatments which alternated between tunjung solution and indigofera extract for 1 stage of dipping (1) indigo-tunjung, (2) tunjung-indigo, (3) tunjung-indigo-tunjung, (4) tunjung-indigo-indigo, (5) tunjung-indigo-tunjung-indigo, (6) tunjung-indigo-indigo-tunjung dan (7) tunjung-indigo-tunjung-indigo-tunjung, the process shows there is an effect of color diggerences in stages of cloth dyeing between tunjung solution and indigofere extract from the fabric color from ivory white to light brown and the pattern color which change from dark blue to brownish green on the surface of cotton silk fabric which have the most dipping stage and ended it with tunjung.Keywords: indigofera, itajime, shibori, sustainable, tunjung. AbstrakProduk desain khususnya produk fesyen yang ramah lingkungan semakin marak diusung oleh desainer, seniman dan pengerajin dalam rancangannya karena pengaruh tren global dan juga peminat akan produk sustainable design yang sudah semakin tinggi. Kain celup ikat itajime shibori merupakan salah satu teknik penahan bentuk (shape-resist technique) dalam olah reka tekstil yang biasanya mempergunakan pewana alami dalam pengaplikasiannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses dan menganalisis hasil eksperimen pewarnaan dan pemberian motif alami dari perpaduan ekstrak indigofera dengan larutan tunjung terhadap kain katun sutera dengan teknik celup ikat itajime shibori. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah eksperimen terhadap perlakuan yang berbeda untuk mengetahui pengaruh yang ditimbulkan dari efek pencelupan larutan tunjung dan ekstrak indigofera yang diamati sebagai proses pembuatan ragam hias kain celup ikat dengan teknik itajime shibori untuk mendapatkan unsur perubahan warna dan pembentukan motif sebagai komponen data penelitian yang diamati menggunakan pengamatan visual dari hasil perendaman kain dalam larutan tunjung semalaman dengan durasi pencelupan pada ekstrak indigofera selama 15 menit dalam 3 tahapan celup setiap 5 menit yang setelahnya dilakukan perlakuan celup secara bergantian antara larutan tunjung dan ekstrak indigofera selama 1 tahapan celup yaitu (1) indigo-tunjung, (2) tunjung-indigo, (3) tunjung-indigo-tunjung, (4) tunjung-indigo-indigo, (5) tunjung-indigo-tunjung-indigo, (6) tunjung-indigo-indigo-tunjung dan (7) tunjung-indigo-tunjung-indigo-tunjung yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh perbedaan warna dalam tahapan celup larutan tunjung dan ekstrak indigofera mulai dari warna kain berwarna putih gading hingga cokelat muda dan warna motif biru tua menjadi hijau kecoklatan terhadap kain katun sutera pada proses pencelupan yang paling banyak dan diakhiri dengan larutan tunjung.Kata Kunci: berkelanjutan, indigofera, itajime, shibori, tunjung. Authors:Aulia Wara Arimbi Putri : Universitas Kristen MaranathaJanessa Angelica : Universitas Kristen MaranathaKirana Kartawidjaja : Universitas Kristen Maranatha References:Adalina, Y., Luciasih, A., & Andi, R. (2010). Sumber Bahan Pewarna Alami Sebagai Tinta Sidik Jari Pemilu. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan. Bogor.Ardana, Arixc. (2020). Budi Daya Indigofera untuk Pewarna Biru Alami Batik. https://www.cendananews.com/2020/05/budi-daya-indigofera-untuk-pewarna-biru-alami-batik.html (diakses tanggal 28 Oktober 2021).Edison, Lampu. (2019). Mengenal 5 Pewarna Tekstil Alami yang Banyak ditermukan di Indonesia. https://kumparan.com/lampu-edison/mengenal-5-pewarna-tekstil-alami-yang-banyak-ditemukan-di-indonesia-1rHSvF3jT8z/full (diakses tanggal 28 Oktober 2021).Handayani, A. P., & Mualimin, A. (2013). Pewarna Alami Batik dari Tanaman Nila (Indigofera) dengan Katalis Asam. Jurnal Bahan Alam Terbarukan, 2(1), 1-6.Kulsum, U. (2020). Sustainable Fashion as The Early Awakening of the Clothing Industry Post Corona Pandemic. International Journal of Social Science and Business, 4(3), 422-429.Lestari, K., & Riyanto, R. (2016). Pembuatan Pewarna Biru Dari Tanaman Indigofera tinctoria. Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah, (21), 7-15.Maziyah, S., Indrahti, S., & Alamsyah. (2019). Implementasi Shibori di Indonesia. Kiryoku Jurnal Studi Kejepangan, 3(4), 214-220.Muhafiz. (2020). Manfaat Tanaman Indigofera, Alternatif Pakan untuk Ternak. https://www.harapanrakyat.com/2020/07/manfaat-tanaman-indigofera/ (diakses tanggal 28 Oktober 2021).Putri, A. W. A. (2021). “Pewarnaan dan Pemberian Motif Alami Kain Celup Ikat Itajime Shibori dengan Ekstrak Indigofera dan Tunjung”. Hasil Dokumentasi Pribadi: 20 Agustus 2021, Bandung.Sholikah, Binti. (2020). UNS Luncurkan Pupuk Organik dari Limbah Pewarna Alami. https://www.republika.co.id/berita/qexuf5368/uns-luncurkan-pupuk-organik-dari-limbah-pewarna-alami (diakses tanggal 28 Oktober 2021).Thomas, Dana. (2019). Fashionopolis: The Price of Fast Fashion and The Future of Clothes. New York: Penguin Press.
PENGEMBANGAN VIDEO MEDIA PEMBELAJARAN SENI RUPA TRADISIONAL DAYAK KALIMANTAN TENGAH BERBASIS VIRTUAL REALITY SMPN 2 PALANGKA RAYA Iwan Pranoto; Zuly Daima Ulfa; Juli Natalia Silalahi; Isna Herlina; Sagarli Sagarli
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 10, No 2 (2021): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v10i2.28544

Abstract

The development of the industrial revolution 4.0 has a profound impact on the development of the world education which is a place to develop and create innovations with insight and character by the use of art and technology, the development of virtual reality based traditional arts. This is done in order to enrich information on art and culture learning, as well as to foster the cultivation of local culture as a nation's identity. Learning by using virtual reality is very supportive in art learning that has been developed in the video. The formulation of the problem in this study is how to develop video learning media on traditional Dayak art works in Kalimantan Tengah based on virtual reality at SMPN 2 Palangkaraya?. Research and Development (R&D) research methods are research methods used to produce certain products and test the effectiveness of these products. The research stages are potential and problems, data collection process, product design, design validation, design revision, product testing, product revision, product production, data analysis. In the development of video learning media for traditional Dayak art in  Kalimantan Tengah based on virtual reality, that learning media products are developed based on the needs of an educational curriculum that is contained in teaching tools for appreciation of local arts, with content in arts crafts, sculpture, architecture, ceramics, traditional weapons. . The developed video will be uploaded in 10-15 minutes based on the number of learning meetings at SMPN 02 Palangka Raya, especially for class VII students. The development of this visual art learning media video is packaged in combining the capabilities of virtual reality technology, so that the learning process is more interesting, with the achievement of educational aspects, namely attitudes, knowledge and skills. Keywords: video, art, virtual, reality, education.  AbstrakPerkembangnya revolusi industri 4.0 memberikan dampak dalam pada perkembangan dunia pendidikan yang merupakan suatu tempat untuk mengembangkan serta menciptakan inovasi dalam berwawasan serta berkarakter dengan pemanfaatan seni dan teknologi, yaitu pengembangan pada karya seni tradisi berbasis virtual reality. Hal ini dilakukan guna pengayaan informasi pembelajaran seni budaya, serta menumbuhkan penanaman budaya lokal sebagai identitas bangsa. Pembelajaran dengan mengunakan virtual reality sangat mendukung dalam pembelajaran seni yang telah di kembangkan dalam video. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaiman mengembangkan video media pembelajaran pada karya seni rupa tradisional suku Dayak di Kalimantan Tengah berbasis virtual reality di SMPN 2 Palangkaraya? Metode penelitian Research and Development (R&D) adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut. Tahapan penelitian yaitu potensi dan masalah, proses pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, uji coba produk, revisi produk, produksi produk, analisis data. Dalam pengembangan video media pembelajaran seni rupa tradisional Dayak di Kalimantan Tengah berbasis virtual reality, bahwa produk media belajar dikembangkan berdasarkan kebutuhan kurikulum pendidikan yang di muat dalam perangkat mengajar apresiasi seni rupa daerah setempat, dengan muatan seni kerajinan, patung, arsitektur, keramik, senjata tradisional. Video yang dikembangkan akan di muat dalam durasi 10-15 menit berdasarkan jumlah pertemuan pembelajaran di SMPN 02 Palangka Raya, khsusnya pada siswa kelas VII. Pengembangan video media pembelajaran seni rupa ini di kemas dalam memadukan kemampuan teknologi virtual reality, sehingga proses belajar lebih menarik, dengan capaian aspek pendidikan yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan.Kata Kunci:video, seni, virtual, reality, pendidikan. Authors: Iwan Pranoto : Universitas Palangka RayaZuly Daima Ufla : Universitas Palangka RayaJuli Natalia Silalahi : Universitas Palangka RayaIsna Herlina : Universitas Palangka RayaSagarli : Universitas Palangka Raya References:Ardipal, A. (2012). Kurikulum Pendidikan Seni Budaya yang Ideal bagi Peserta Didik di Masa Depan. Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni, 11(1), 1-12.Dewi, D. K. (2016). Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan. Journal Bisma, 4(1), 1-15.Domingo, J. R., & Bradley, E. G. (2018). Education student perceptions of virtual reality as a learning tool. Journal of Educational Technology Systems, 46(3), 329-342.Fujiawati, F. S. (2016). Pemahaman konsep kurikulum dan pembelajaran dengan peta konsep bagi mahasiswa pendidikan seni. JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni), 1(1), 16-29.Harianto, W. E. (2014). Penerapan Media Pembelajaran Seni Rupa Berbasis Audio Visual Pada materi Batik Siswa Kelas VIII-B dan VIII-C SMP Negeri 1 Turi Lamongan. Jurnal Pendidikan Seni Rupa, 2(3), 34-44.Lase, D. (2019). Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0. Jurnal Sundermann, 1(2), 28-43.Nurseto, T. (2011). Membuat Media Pembelajaran yang Menarik. Jurnal Ekonomi & Pendidikan, 8(1), 20-31.Nusantara, T. (2018). Desain Pembelajaran 4.0. Prosiding Lembaga Penelitian Pendidikan (LPP) Mandala NTB. 1-16.Pranoto, Iwan. (2020). “Media Pembelajaran Seni Rupa”. Hasil Dokumentasi Pribadi: 01 Juni 2020, SMPN 2 Palangka Raya.Ratnanigsih, K. (2020). Pengembangan Media Pembelajaran Seni Budaya Berbasis Digital Eksotisme Lukisan Pada Caping. Jurnal Ilmiah Kependidikan, 3(2), 62-74.Retnanigsih, D. (2019). Tantangan Dan Strategi Guru Di Era Revolusi Industri 4.0 Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan. Prosiding Seminar Nasional. 25-38.Setiaji, R. S. (2020). Smartphone Media Berkarya Seni Masa Kini. Jurnal Imaji, 18(1), 14-26.Sofa, T. M. (2020). Pembelajaran Seni Tari Dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0.  Jurnal Imaji, 18(1), 1-16.Suhaya. (2016). Pendidikan Seni Sebagai Penunjang Kreatifitas”.Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni, 1(1), 1-14.Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Afabeta.Suryani, L. (2021). Penerapan Media Audio Visual untuk Meningkatan Perilaku Cinta Lingkungan pada Golden Age. Jurnal Obsesi, 5(1), 902-917.Trinawindu, I K. (2016). Multimedia Interaktif untuk Proses Pembelajaran. Jurnal Parabangkara, 19(23). 37-48.Zunaidah. F. N. (2016). Pengembangan Bahan Ajar Mata Kuliah Bioteknologi Berdasarkan Kebutuhan Dan Karakter Kebutuhan dan Karakter Mahasiswa Universitas Nusantara PGRI Kediri. Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia, 2(1), 19-30.
KARAKTERISTIK MOTIF SULAMAN SELENDANG KOTO GADANG SUMATERA BARAT Hendra Hendra; Yuni Kartika Sari
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 10, No 2 (2021): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v10i2.27776

Abstract

Block printi This study aims to determine the characteristics of the motifs applied to the Koto Gadang shawl. Motive of “suji caia” that applied to Koto Gadang embrodery has specified characteristic that make it different from another palce shawl. This study uses a qualitative method with a form and structure theory approach to art. Data collection was carried out through literature study, observation, interview, anh documentation.The motifs applied to the shawl are flora and fauna motifs. Using the theory of arranging elements of fine art, so that the characteristic of the motif can be seen from the shape of the motif and the structure of the motif that is balanced. The distinctive motif of the Koto Gadang shawl is a floral motif called Botan and Chrysanthemum. The placement of flowers on the shawl is different from other areas which usually use a formal balance mirror or like glass, as well as well as the arrangement of flowers from small to large flowers.Keywords: shawl embroidered, motif, characteristics.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bentuk dan struktur motif yang diterapkan pada sulaman selendang Koto Gadang. Motif suji caia yang diterapkan pada Sulaman Koto Gadang memiliki karakteristik yang membedakannya dengan sulaman dari daerah lain.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teori bentuk dan struktur seni rupa. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi.Motif yang diterapkan pada selendang berupa motif flora dan fauna. Menggunakan teori penyusunan unsur seni rupa, sehingga  ciri khas motif terlihat dari bentuk motif dan struktuf motif yang seimbang. Motif khas dari selendang Koto Gadang berupa motif flora yang bernama bunga Botan dan Krisan. Peletakkan bunga pada selendang berbeda dengan daerah lain yang biasanya menggunakan formal balance mirror atau seperti kaca, serta penyusunan bunga dari kecil ke bunga besar.Kata Kunci: sulaman selendang, motif, karakteristik. Authors: Hendra : Institut Seni Indonesia PadangpanjangYuni Kartika Sari : Institut Seni Indonesia Padangpanjang References:Canang. (1994). Tabloid Koto Gadang. Koto Gadang: _______.Garang, DT. (2019). Ragam hias Minangkabau. Padang: Pemprov Sumbar.Garang, DT. (2019). Sulam Bordir Sumatera Barat. Padang: Pemprov Sumbar.Ida, Y. (2009). No Titlepaduan Lengkap Sulam (Cetakan 1). Surabaya: Tiara Aksa.Juwita, N. (2019). Karakteristik Dan Makna Simbolik Masjid Muhammad Cheng Hoo. Makassar: Doctoral dissertation, Universitas Negeri Makassar.Kartika, D. S. (2004). Seni Rupa Modern (Cetakan 1). Bandung:  Rekayasa Sains.Miles, Mattew B. dan A. Michael Huberman. (1992). Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of New Method. Terjemahan Tjetjep Rohendi Rohidi. Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber tentang Metode-metode Baru. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-PRESS).Moleong, Lexy J. (2016). Metodologi Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosda Karya.Rahman, D., Efi, A., & Novrita, S. Z. (2015). Ragam Hias Suji Cair pada Sulaman Selendang Kotogadang Kabupaten Agam Sumatera Barat (Studi Kasus di Yayasan Amai Setia). E-Journal Home Economic and Tourism, 9(2), ____ .Sari, Yuni Kartika. (2020). " Motif Sulaman Selendang". Hasil Dokumentasi Pribadi: 10 Januari 2020, Koto Gadang.Sita, R. D., & Mity J. Juni. (2011). Sulam, Tenun, dan Renda Khas Koto Gadang. Jakarta: Dian Rakyat.Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta.Suhersono, H. (2004). Desain Bordir Inspirasi Motif Bordir Cina. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.Sundari, Sri. (2000). Seni Ukir Pandai Sikek Dalam Masyarakat Minangkabau Yang Berubah. Yogyakarta: Tesis UGM.Suryabrata, S. (1983). Metodologi Penelitian. Jakarta: Grafindo Persada.Swastantika, Dyah. (2018). Bunga Krisan:Manfaat, Cara, Menanam, dan Perawatannya. https://www.homify.co.id/ideabooks. (diakses 01 Agustus 2020).Zulkarnaen, Y. (2006). Sulam Benang Motif Bunga (Pertama). Jakarta: Puspa Swara.
FENOMENA KORUPSI: TIKUS SEBAGAI INSPIRASI LUKIS Ferdian Ondira Asa; San Ahdi; Angga Elapatsa
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 10, No 2 (2021): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v10i2.28059

Abstract

Corruption is a serious crime that can harm people and even the state. This crime is often done in groups. The perpetrator frequently weren’t penalized and can live freely without being exposed to legal cases due to undetected crimes. They silently steal from others for their personal gain. This action are often being compared to the behaviour of a rat, therefore corruption are often symbolized with rat. This paper use elaboration and synthesis methodology. Elaboration means that the author acquire, explore and, analyse data accurately. The data were elaborate so the author could claim originality by comparing to previous similar paintings. While, synthesis is a combination of elaborative ideas to construct a painting artwork. This painting aims to describe the corruption phenomena that occur in society. Through this work, the author address that corruption can undermine unity, raise conflict, and harm society. Moreover, the author emphasize that corruptors disregard of other people’s right will create disharmony.Keywords: corruption, phenomenon,mouse. AbstrakKorupsi merupakan tindakan yang berbahaya dan dapat merugikan orang lain bahkan negara.  Tindakan ini tidak jarang dilakukan secara berkelompok. Tidak jarang pelaku korupsi (korupsi) dapat hidup bebas tanpa terkena kasus hukum. Hal itu dikarenakan perbuatan mereka sulit terdeteksi. Mereka secara diam-diam merampas hak orang lain untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Tindakan koruptor tersebut sering disamakan dengan tindakan seekor tikus. Oleh karena itu, koruptor disimbolkan dengan seekor tikus. Metode penciptaan penelitian ini adalah dengan elaborasi dan sintesis. Elaborasi maksudnya penulis menggali tentang data-data yang diperoleh serta pengerjaan dengan teliti. Menganalisis dengan teliti dan rinci tentang data-data yang sudah didapat dari proses persiapan. Mengelaborasi data-data tersebut dan membuat orisinalitas dengan tujuan membandingkan karya seni lukis yang akan dibuat dengan karya seni lukis yang serupa sebelumnya. Sedangkan sintesis adalah perpaduaan atau penggabungan semua hasil gagasan pokok yang telah dielaborasi untuk diwujudkan pada karya seni. Pada tahap ini menyatukan semua hasil gagasan pokok yang telah dielaborasi untuk diwujudkan dalam bentuk konsepsi karya. Penciptaan karya lukis ini bertujuan untuk mendeskripsikan terkait fenomena yang terjadi di tengah masyarakat akibat tindakan korupsi. Melalui karya, penulis menjelaskan bahwa tindakan korupsi dapat meruntuhkan persatuan, menimbulkan konflik, dan merugikan masyarakat. Banyak koruptor yang tidak peduli dengan kehidupan orang lain, sehingga timbullah perpecahan. Kata Kunci:korupsi, fenomena, tikus. Authors:Ferdian Ondira Asa : Universitas Negeri PadangSan Ahdi : Universitas Negeri Padang Angga Elpatsa : Universitas Negeri Padang References:Abbas, K. (1975). The Cancer of Corruption. Delhi: Chetana.Arsip. (2021). Arsip Galeri Nasional. arsip.galeri-nasional.or.id/uploads/kliping/3475/_MG_3872.pdf (diakses 12 Juli 2021).Asa, Ferdian Ondira. (2019). “Fenomena Korupsi”. Hasil Dokumentasi Pribadi: 9 Juni 2019, Padang.Bahari, Nooryan. (2008). Kritik Seni Wacana: Wacana Apresiasi dan Kreasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Batukarinfo. (2015). Kompetisi Internasional. http://www.batukarinfo.com/news/kompetisi-internasional-trienale-seni-grafis-indonesia-v-2015 (diakses tanggal 6 Juni 2021).Berger, Peter L. dan Thomas Luckmann. (1996). The Social Construction of Reality. Englewod Cliffs, N.J. Pretince-Hall.Djelantik, A.A.M. (1999). Estetika Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia.Hamzah, A. (1991). Korupsi di Indonesia dan Pemecahannya . Jakarta: Garamedia Pustaka Utama.I Wayan Agus Gunada. (2020). Ajaran Agama Hindu sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis Tradisional Bali. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 9(1), 158-165.Jhon, M Echol dan Hassan Shadily. (2003). Kamus Inggris Indonesia.  Gramedia: Jakarta.Leff, Nathaniel H., dkk. (2003). Corruption A Sociological Interpretative Study with Special Reference to Selected Southeast Asian Case. Kuala Lumpur: Departement of Antropology and Sociology, Faculty of Arts and Social SciencesKartika, Darsono Sony. (2004). Pengantar Estetika. Bandung. Rekayasa Sains.Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (2006). Memahami Untuk Membasmi. KPK: Jakarta.Maulana, A. (2009). Kamus Ilmiah Populer. Yogyakarta: Absolut.Mocktar, M. A. (2006). Memberantas Korupsi di Indonesia. Jakarta: Q-Communication.Poerwadarminta. (1982). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.Sidik, Fadjar dan Aming Prajitno. (1981). Desain Elementer. Yogyakarta: ASRI.Susanto, Mikke. (2012). Diksi Rupa: Kumpulan Istilah dan Gerakan Seni Rupa. Yogyakarta: DictiArt Lab & Djagad Art House.
ESTETIKA NUSANTARA DALAM KARAKTER GIM LOKAPALA Lingga Agung; Tata Kartasudjana; Anggit Widya Permana
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 10, No 2 (2021): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v10i2.28556

Abstract

Lokapala is a Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) created by the Indonesia game studio, Antarupa. All characters (Ksatriya) in this game are based on historical figures, mythology, and legends of the archipelago. Therefore, in the aesthetic context, the Ksatriya represent the culture of the Indonesia itself. However, what it looks like and how it is represented is a matter that must be studied. Therefore, this research was conducted. This research is qualitative research, from this Lokapala game we take the visual data of each character, classify it, and describe it. To examine the aesthetics of the Knights, we use Feldman's theory of aesthetics. This theory is used because of its relevance, namely aesthetics as a cultural representation. As for the results of this study, the aesthetics of the Indonesia is only seen through its characters in the symbols of 'Nusantara culture' which are already common, such as in clothing and other aesthetic elements—not deep nor philosophical. This lack of depth is something that is necessary because in game character design there are several things that need to be considered, such as industry needs and other technical issues.Keywords: MOBA, lokapala, representation, nusantara aesthetic. AbstrakLokapala adalah gimMultiplayer Online Battle Arena (MOBA) karya studio anak bangsa, Antarupa. Semua karakter (Ksatriya)di dalam gim ini diangkat dari tokoh sejarah, mitologi, dan legenda Nusantara. Oleh karenanya, dalam konteks estetika para Ksatriya merepresentasikan kebudayaan Nusantara itu sendiri. Namun seperti apa dan bagaimana representasinya adalah persoalan yang mesti ditelaah. Oleh karena itulah penelitian ini dilakukan. Penilitian ini adalah kualitatif, dari gim Lokapala ini kami mengambil data-data visual masing-masing karakter, mengklasifikansikannya, dan mendeskripsikannya. Untuk menelaah estetika para Ksatriya, kami menggunakan teori estetika Feldman. Teori ini digunakan karena relevansinya yakni estetika sebagai representasi kebudayaan. Adapun hasil dari penelitian ini, estetika Nusantara hanya terlihat melalui karakternya dalam simbol-simbol ‘budaya Nusantara’ yang sudah umum, seperti dalam busana dan elemen estetis lainnya—tidak mendalam, apalagi filosofis. Ketidak mendalam ini merupakan sesuatu yang niscaya karena dalam desain karakter gim ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti kebutuhan industry dan masalah teknis lainnya.Kata Kunci:MOBA, lokapala, representasi, estetika nusantara.Authors:Lingga Agung : Universitas Telkom Tata Kartasudjana : Universitas Telkom Anggit Widya Permana : Universitas Telkom References:Howard, Lune., dan Bruce L. Berg. (2017). ‪Qualitative Research Methods for the Social Sciences ed ke 9. England: Pearson.Lokapala. (2021). Game Lokapala. https://lokapala.anantarupa.com/ (diakses tanggal 23 Juni 2021).Pisani, Elizabeth. (2015). Indonesia Etc.: Exploring the Improbable Nation. London: Granta Publication.Senoprabowo, A., Khamadi, K., Haryadi, T., & Yudani, H. D. (2017). Persepsi Visual Karakter Warrior pada Game Online Warcraft, Perfect World, dan Nusantara Online. Demandia: Jurnal Desain Komunikasi Visual, Manajemen Desain, dan Periklanan, 5(-), 160-181.Smith, Murray. (1995). Engaging Character: Fiction, Emotion, and Cinema. New York: Oxford University Press.Soewardikoen, W. Didit. (2019). Metodologi Penelitian Desain Komunikasi Visual.  Yogyakarta: Penerbit PT Kanisius.Suryajaya, Martin. (2016). Sejarah Estetika: Era Klasik Sampai Kontemporer. Jakarta dan Yogyakarta: Gang Kabel dan Indie Book Corner.Triyanto. (2008). Estetika Nusantara: Sebuah Perspektif Budaya. Imajinasi Jurnal Seni, 4(1), 1-14.
PENCIPTAAN KRIYA TEKSTIL TENGKULUK BATIK KUMBUAH Apriliana Apriliana; Ahmad Akmal; Febri Yulika
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 10, No 2 (2021): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v10i2.27420

Abstract

Tengkuluk serves as a head covering for women or bundo kanduang in Minangkabau, especially in the Payakumbuh area of Luhak Limopuluah city. The idea of creating a textile craft using a written batik technique with the title Tengkuluk Batik Kumbuah, which is based on the tengkuluk bundo kanduang located in the Payakumbuh area of Luhak limopuluah city. Tengkuluk in Payakumbuh its use is adjusted to the circumstances and age of the wearer, such as baralek, death, mando'a and so on. The creation of this tengkuluk is based on the personal expression of the artist which emphasizes the creativity of the craftsman by adding additional shapes to the tengkuluk and creating a tengkuluk with a batik pattern that was created by himself based on the kumbuah plant which is the early history of the creation of the name Payakumbuh. The design in the creation of this work through two concepts, namely, tengkuluk as objects that have cultural values and batik motifs that are decorative. This work aims to create a work with batik nuances in the form of an aesthetic headgear and contains the meaning of the value of bundo kanduang in Minangkabau. The creation method used is a three-step six-step method including the exploration or data collection stage, the design stage, namely creating alternative sketches, the selected design and the embodiment stage, namely through the process of forming a work of art, using an aesthetic approach, which can be raised through aspects of form, content and content. , and the expression of emotions. The works created are seven tengkuluk using written batik techniques with napthol and remazol coloring, each work is entitled, nan gadang basa batuah, basipek, maanjuang high, puti, tanduak barumbai, omeh silver and barendo batiak.  Keywords: tengkuluk, batik, tumbuah, pattern. AbstrakTengkuluk berfungsi sebagai penutup kepala bagi kaum perempuan atau bundo kanduang di Minangkabau  khususnya di daerah Payakumbuh, Luhak Limopuluah kota. Ide penciptaan karya kriya tekstil menggunakan teknik batik tulis dengan judul Tengkuluk Batik Kumbuah, yang dilatarbelakangi oleh tengkuluk bundo kanduang yang terdapat di daerah Payakumbuh Luhak Limopuluah  Kota. Tengkuluk di Payakumbuh penggunaannya disesuaikan dengan keadaan dan usia pemakainya, seperti baralek, kematian, mando’a dan sebagainya. Penciptaan tengkuluk ini berdasarkan ekspresi personal pengkarya yang lebih menekankan pada kreatifitas pengkarya dengan memberikan penambahan bentuk pada tengkuluk dan menciptakan tengkuluk dengan pola motif batik yang diciptakan sendiri berdasarkan tanaman kumbuah yang merupakan sejarah awal dari terciptanya nama kota Payakumbuh. Rancangan dalam penciptaan karya ini melalui dua konsep yaitu, tengkuluk sebagai benda yang memiliki nilai budaya dan motif batik yang bersifat sebagai penghias. Karya ini bertujuan untuk menciptakan karya dengan nuansa batik dalam bentuk penutup kepala yang estetik dan mengandung makna nilai bundo kanduang di Minangkabau.Metode penciptaan yang dilakukan yaitu metode tiga tahap enam langkah diantaranya, tahap eksplorasi atau pengumpulan data, tahap perancangan yaitu menciptakan sketsa alternatif, desain terpilih dan tahap perwujudan yaitu melalui proses pembentukan karya seni, menggunakan pendekatan estetik, yang dapat dimunculkan melalui aspek bentuk, kandungan isi, dan ungkapan emosi. Karya yang diciptakan yaitu tujuh tengkuluk menggunakan teknik batik tulis dengan pewarnaan napthol dan remazol, masing-masing karya berjudul, nan gadang basa batuah, basipek, maanjuang tinggi, puti, tanduak barumbai, omeh perak dan barendo batiak.   Kata Kunci: tengkuluk, batik, kumbuah, motif. Authors:Apriliana : Institut Seni Indonesia PadangpanjangAhmad Akmal : Institut Seni Indonesia PadangpanjangFebri Yulika : Institut Seni Indonesia PadangpanjangReferences:Akmal, Ahmad. (2013). Ekspresi Bentuk Simbolik Seni Ritual Makan Bajamba. Padang Panjang: Institut Seni Indonesia Padang Panjang.Hakimy, Idrus. (1978). Pegangan Penghulu, Bundo Kanduang, dan Pidato Alua Pasambahan Adat di Minangkabau. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Apriliana. (2021). “Kriya dalam Konsep Modern”. Hasil Dokumentas Pribadi: 20 Juni 2021, Payakumbuh.Hendriyana, Husen. (2018). Metodologi Penelitian Penciptaan Karya Seni Kriya dan Desain Produk Non Manufaktur. Bandung: Sunan Ambu Press Bandung.Ibrahim, Anwar. Et al. (1986). Pakaian Adat Tradisional Sumatera Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. Padang: Badan Kebudayaan Daerah Sumatera Barat.Kartika, Dharsono Sony. (2016). Kreasi Artistik Perjumpaan Tradisi Modern dalam Paradigma Kekaryaan Seni. Surakarta: LPBKN Citra Sains.Walker, John A. (2010). Desain, Sejarah, Budaya: Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.
KARAKTERISTIK MUSIKAL PADA FILM TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK Haria Nanda Pratama; Abdul Rozak
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 10, No 2 (2021): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v10i2.29202

Abstract

The film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck is a drama film released on December 19, 2013. The film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, directed by Sunil Soraya and produced by Ram Soraya, is adapted from a novel by the writer and cultural expert Haji Abdul Malik Karim Amrullah, or commonly known as Buya Hamka. This film tells the story of conflict and conflict due to differences in social status. This is supported by the effect of music in creating an atmosphere in each scene which includes dialogue and action of characters that are supported by the setting of time, place and atmosphere in the film. The object of this research focuses on one of the cinematic elements in the film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, namely music or sound. Music and sound become one of the elements that build the setting of time, place, and atmosphere in the film, which affects the mood of the audience. Music and sound are useful for adding dramatic effects when scenes in the storyline are seen in every shot (shots, scenes, and sequences). The musical characteristics of the film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck which include rhythm, melody, harmony, tempo, song structure and sound color produce a film atmosphere according to the scene in the film which is considered to have an important role in building a dramatic effect on the film that affects the mood of the audience. This research was conducted with a qualitative approach with descriptive analysis method. The data source is direct observation of the film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. The stage of data collection carried out by researchers is to collect documents which include original film VCD and library studies which include books and scientific writings as comparative material related to material objects and formal objects in this study. Based on these data, an analysis of the musical characteristics of the film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck was conducted was conducted. The results of the study will show that music in the use of musical instruments, major or minor scales, dynamics, motifs, and tempos are characteristics in building a dramatic effect on the film.Keywords: tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.AbstrakFilm Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan sebuah film drama yang dirilis pada tanggal 19 Desember 2013. Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang disutradarai Sunil Soraya dan diproduksi oleh Ram Soraya ini diadaptasi dari novel mahakarya sastrawan sekaligus budayawan Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang biasa dikenal dengan Buya Hamka. Film ini mengisahkan tentang pertentangan dan konflik karena perbedaan status sosial. Hal ini didukung oleh efek musik dalam menciptakan suasana di dalam setiap adegan yang meliputi dialog dan aksi tokoh yang didukung oleh latar waktu, tempat serta suasana pada film. Objek penelitian ini berfokus pada salah satu unsur sinematik pada film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, yaitu musik atau suara. Musik dan suara menjadi salah satu unsur yang membangun latar waktu, tempat, dan suasana pada film, yang berpengaruh pada mood penonton. Musik  dan suara tersebut berguna untuk menambah efek dramatis ketika adegan-adegan pada alur cerita yang terlihat di setiap pengambilan gambar (shot, scene, dan sequence). Karakteristik musik pada film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang meliputi irama, melodi, harmoni, tempo, struktur lagu dan warna bunyi menghasilkan suasana film sesuai dengan adegan di dalam film yang dianggap memiliki peran yang penting dalam membangun efek dramatis pada film yang mempengaruhi mood penonton. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Sumber datanya adalah pengamatan langsung atas film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Tahap pengumpulan data dilakukan peneliti adalah mengumpulkan dokumen yang meliputi VCD original film dan studi Pustaka yang meliputi buku dan tulisan ilmiah sebagai bahan komparasi yang berkaitan dengan objek material dan objek formal pada penelitian ini. Berdasarkan data tersebut, dilakukan analisis terhadap karakteristik musikal pada film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Hasil penelitian akan menunjukkan bahwa musik dalam pemakaian instrumen musik, tangganada mayor atau minor, dinamika, motif, dan tempo menjadi karakteristik dalam membangun efek dramatis pada film.Kata Kunci: tenggelamnya kapal Van Der Wijck. Authors:Haria Nanda Pratama : Institut Seni Budaya Indonesia AcehAbdul Rozak : Institut Seni Budaya Indonesia Aceh References:Cresswell, John W. (2010). Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Belajar.Djohan. (2009). Psikologi Musik. Yogyakarta: Penerbit Best Publisher.Kristianto, Y.P, Sumono. (2008). Pengantar Ilmu Akustik Suara dan Pendengaran. Jakarta: Remaja Kosdakaya.Lestarini, Aulia, Anggia. (2014). Perkembangan Internasional British Pop Culture Pasca Perang Dunia Kedua. Skripsi. Surabaya: Universitas Airlangga.Moleong, J, Lexy. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Pratama, Haria Nanda. (2017). Materalistis dan Alur Dramatik pada Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Tesis. Padangpanjang: Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang.Pratista, Himawan. (2008). Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.
PENGGUNAAN MEDIA WORDWALL SAAT PANDEMI COVID-19 PADA MATA PELAJARAN SENI BUDAYA DI SMP Ida Nisaurrasyidah; Z. S. Soeteja; Nanang G. Prawira
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 10, No 2 (2021): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v10i2.27502

Abstract

It has been more than a year since our country has been hit by the pandemic COVID-19. This affects all sectors, including the education sector. Learning activities, especially in areas that are still in the red zone, must be carried out online. At this time many teachers deliver material using learning videos via Youtube and then give assignments to students. Including a teacher of Cultural Arts subjects. This learning method makes students feel bored and less disciplined. Teachers are expected to be more creative and innovative in learning activities. One of them is by using Wordwall learning media. This is the reason for researchers to examine the use of Wordwall Learning Game Media in Cultural Arts Subjects. This website-based learning game media is not only easy to use but also fun for students. In addition, several types of games from the Wordwall learning game media can be printed using a printer and can be done directly by students. So Wordwall game media can help teachers in fun learning activities for students so that learning objectives can be achieved optimally. Keywords: online learning media, wordwall. AbstrakSudah lebih dari satu tahun lamanya negara kita terkena pandemi virus Covid-19. Hal ini berimbas pada semua sektor, termasuk sektor pendidikan. Kegiatan pembelajaran terutama pada daerah yang masih berada di zona merah harus dilakukan secara online. Pada saat ini banyak guru yang menyampaikan materi dengan menggunakan video pembelajaran melalui Youtube lalu memberi tugas kepada siswa. Termasuk guru mata pelajaran Seni Budaya. Metode belajar ini membuat siswa merasa jenuh dan menjadi kurang disiplin. Guru diharapkan untuk lebih kreatif dan inovatif dalam kegiatan pembelajaran. Salah satunya dengan menggunakan media pembelajaran Wordwall. Hal ini menjadi alasan peneliti untuk meneliti tentang Penggunaan Media Game Pembelajaran Wordwall pada Mata Pelajaran Seni Budaya. Media game pembelajaran ini berbasis website selain mudah digunakan namun juga menyenangkan bagi siswa. Selain itu beberapa dari jenis permainan dari media game pembelajaran Wordwall dapat dicetak menggunakan printer dan dapat dikerjakan langsung oleh siswa. Jadi Media game Wordwall dapat membantu guru dalam kegiatan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.   Kata Kunci:media pembelajaran online, wordwall. Authors:Ida Nisaurrasyidah : Universitas Pendidikan IndonesiaZ. S. Soeteja : Universitas Pendidikan IndonesiaNanang G. Prawira : Universitas Pendidikan Indonesia References:Banggur, M. D., Situmorang, R., & Rusmono, R. (2018). Pengembangan Pembelajaran Berbasis Blended Learning Pada Mata Pelajaran Etimologi Multimedia. Jurnal Teknologi Pendidikan. 20 (2) 152-165.Handayani, N. (2014). Penggunaan Media Pembelajaran Untuk Peningkatan Prestasi Belajar. An-Nuha. 89(2) 81-97.Hartanto, R. S., & Dani, H. (2020). Studi Literatur: Pengembangan Media Pembelajaran Dengan Software Autocad. Jurnal Kajian Pendidikan Teknik Bangunan. 2 (2) 1-6.IdaSeniRupa. (2021). Seni Rupa Kelas 7. www.wordwall.net (diakses tanggal 8 Juni 2021).Kemendikbud, P. W. (2020). Mendikbud Terbitkan SE tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa Darurat Covid-19. www.kemdikbud.go.id (diakses tanggal 24 Maret 2020).Nugraha. (2021). Pasangkanlah Aliran dan Lukisan di bawah ini. www.wordwall.net (diakses tanggal 28 Juli 2021).Permansah, S., & Murwaningsih, T. (2018). Media Pembelajaran Digital: Kajian Literatur Tentang Dampak Penggunaan Media Pembelajaran Digital di SMK. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Administrasi Perkantoran(SNPAP). 74(2) 72-76.Sabarguna, B. S. (2005). Analisis Data pada Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.SenoridaZiggy. (2021). Arahkan Pesawat Menuju Awan yang Tepat. www.wordwall.net (diakses tanggal 9 April 2021). Sutanto, L. (2005). Teori Konseling dan Psikoterapi Perdamaian. Malang: UNM.Widianingsih, E. (2012). Pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan Menumbuhkan Kecerdasan Moral Secara Kompetitif. Edu Humaniora. 5 (2)1-6.