cover
Contact Name
Adek Cerah Kurnia Azis
Contact Email
adek_peros@yahoo.com
Phone
+6285278021981
Journal Mail Official
gorgajurnalsenirupa@unimed.ac.id
Editorial Address
Jl. Willem Iskandar / Pasar V, Medan, Sumatera Utara – Indonesia Kotak Pos 1589, Kode Pos 20221
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Gorga : Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23015942     EISSN : 25802380     DOI : https://doi.org/10.24114/gr.v9i1
Core Subject : Education, Art,
Gorga : Jurnal Seni Rupa terbit 2 (dua) kali setahun pada bulan Juni dan Desember, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran, hasil penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang ditulis oleh para pakar, ilmuwan, praktisi (seniman), dan pengkaji dalam disiplin ilmu kependidikan, kajian seni, desain, dan pembelajaran seni dan budaya.
Articles 846 Documents
IMPLEMENTASI MODEL EVALUASI FORMATIF-SUMATIF DALAM MENINGKATKAN PEMBELAJARAN SENI BUDAYA Elpalina, Srimutia; Ambiyar, Ambiyar; Agustina, Agustina; Azis, Adek Cerah Kurnia
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.55826

Abstract

AbstractThe learning of Arts and Culture plays a crucial role in shaping students' creativity, cultural understanding, and art appreciation. Despite its significance, Arts and Culture education faces several challenges, including insufficient school support, limited resources, technological challenges, and the availability of qualified teachers. Therefore, this research aims to explore the implementation of formative-summative evaluation models as an effort to enhance the quality of Arts and Culture education. The study employs a literature review method with four stages, involving the development of tools and equipment, compilation of bibliography, reading and noting research materials, and content and descriptive analysis. The results of the analysis reveal that the implementation of formative-summative evaluation models plays a central role in improving Arts and Culture education. Formative evaluation provides continuous feedback and identifies the need for improvement, while summative evaluation offers an overall picture of students' achievements. The application of this evaluation model involves the development of evaluation instruments, monitoring the learning process, adjusting teaching methods, providing feedback to students, identifying the need for improvement, and developing teaching and learning programs. The conclusions drawn from this study encompass the variation in the implementation of Arts and Culture education, the central role of teachers' creativity, and the positive impact of formative-summative evaluation models. Suggestions for further research involve a comparative study between schools, a focus on teacher qualifications, and further investigation into the influence of evaluation models on students' achievements and interest in the arts. Thus, the implementation of formative-summative evaluation models becomes an effective strategy in enhancing the quality of Arts and Culture education, contributing positively to students' creative development and cultural understanding.Keywords: formative-summative evaluation, arts and cultureAbstrakPembelajaran Seni Budaya memiliki peran krusial dalam membentuk kreativitas, pemahaman budaya, dan apresiasi seni siswa. Meskipun penting, pembelajaran Seni Budaya dihadapkan pada sejumlah tantangan, termasuk minimnya dukungan sekolah, keterbatasan sumber daya, tantangan teknologi, dan ketersediaan guru yang kompeten. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi model evaluasi formatif-sumatif sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran Seni Budaya. Studi ini menggunakan metode studi pustaka dengan empat tahap, melibatkan penyusunan alat dan perlengkapan, menyusun bibliografi, membaca dan mencatat bahan penelitian, serta analisis konten dan deskriptif. Hasil analisis mengungkapkan implementasi model evaluasi formatif-sumatif memainkan peran sentral dalam meningkatkan pembelajaran Seni Budaya. Evaluasi formatif memberikan umpan balik terus-menerus dan identifikasi kebutuhan perbaikan, sementara evaluasi sumatif memberikan gambaran keseluruhan tentang pencapaian siswa. Penerapan model evaluasi ini melibatkan pengembangan instrumen evaluasi, pemantauan proses pembelajaran, penyesuaian metode pengajaran, umpan balik kepada siswa, identifikasi kebutuhan perbaikan, dan pengembangan program belajar-mengajar. Kesimpulan dari studi ini mencakup variasi pelaksanaan pembelajaran Seni Budaya, peran sentral kreativitas guru, dan dampak positif model evaluasi formatif-sumatif. Saran untuk penelitian selanjutnya melibatkan studi komparatif antar sekolah, fokus pada kualifikasi guru, dan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh model evaluasi terhadap prestasi dan minat siswa terhadap seni. Dengan demikian, penerapan model evaluasi formatif-sumatif menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Seni Budaya, sekaligus memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan kreativitas dan pemahaman budaya siswa.Kata Kunci: evaluasi formatif-sumatif, seni budaya Authors:Srimutia Elpalina : Universitas Negeri PadangAmbiyar : Universitas Negeri PadangAgustina : Universitas Negeri PadangAdek Cerah Kurnia Aziz : Universitas Negeri Medan References:Adlini, M. N., Dinda, A. H., Yulinda, S., Chotimah, O., & Merliyana, S. J. (2022). Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka. Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 6(1), 974“980.Astuti, K. S., Pamadhi, H., & Rini, Y. S. (2010). Pengembangan Model Evalasi Pembelajaran Seni Budaya SMP. Jurnal Kependidikan, 40(1), 87“98.Creswell, J. W. (2012). Educational Research: Planning, Conducting and Evaluating Qualitative and Qualitative Research. Boston: Pearson Education.Creswell, J. W. (2014). Research Design. California: SAGE.Fadli, M. R. (2021). Memahami Desain Metode Penelitian Kualitatif. Humanika, 21(1), 33“54.Fitrianti, L. (2018). Prinsip Kontinuitas dalam Evaluasi Proses Pembelajaran. Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan, 10(1), 89“102.Fitzpatrick, J. L., Sanders, J. R., & Worthen, B. R. (2011). Program Evaluation Alternative Approaches And Practical Guidelines. Boston: Pearson Education.Hikmah, R. A., & Hakim, R. (2019). Pengembangan Modul Seni Budaya Berbasis Pendidikan Karakter Untuk Siswa Kelas X di SMK. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 8(2), 417“423.James C. McDavid, Huse, I., & Hawthorn, L. L. (2019). Program Evaluation and Performance Measurement. London: SAGE Publishing.Linfield, K. J., & Posavac, E. J. (2019). Program Evaluation:Methods and Cases Studies. London: Routledge.Lubis, S. K. (2022). Evaluasi Kinerja Guru Seni Budaya Ditinjau dari Kesesuaian Latar Belakang Pendidikan Guru dengan Aspek Seni yang Diajarkan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 394“401.Mardiah, M., & Syarifuddin, S. (2019). Model-model Evaluasi Pendidikan. Mitra Ash-Shibyan: Jurnal Pendidikan & Konseling, 2(1), 38“50.Mertens, D. M. (2015). Research and Evaluation in Education and Psychology. London: SAGE Publishing.Mertens, D. M., & Wilson, A. T. (2019). Program Evaluation Theory and Practice. London: The Guilford Press.Purwanto, M. N. (2020). Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja Rosda Karya.Raharja, J. T., & Retnowati, T. H. (2013). Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran Seni Budaya SMA di Kabupaten Lombok Timur, NTB. Jurnal Pendidikan Dan Evaluasi Pendidikan, 17(2), 287“303.Selegi, S. F. (2017). Model Evaluasi Formatif-Sumatif Terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Pada Mata Kuliah Perencanaan Pengajaran Geografi. Seminar Nasional 20 Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang, 188“192.Stufflebeam, D. L. (1987). Meta Evaluation: An Overview. Evaluation and The Health Professions, 1(1), 17“43.Wulandari, N. S., & Hadi, H. (2023). Pembelajaran Seni Budaya di SMA Negeri 8 Padang. Journal On Teacher Education, 4(4), 157“164.
Analysisof the Effectiveness of Rotating Shelf Design on Dressing Frame at Graha Ananda Kindergarten, West Bandung Putri, Sheila Andita; Bahri, Nurul Fitriana; Yunidar, Dandi
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of fine motor skills, independence, and cognitive abilities are some important aspects that need to be stimulated in early childhood development. This study aims to analyze the effectiveness of rotating shelf design on dressing frame at Graha Ananda Kindergarten, West Bandung Regency. Based on the results of preliminary studies, it can be identified that there is a need to produce an ergonomic rotating shelf design to feature dressing frames that facilitate early childhood independence according to Montessori principles. The purpose of this study was to evaluate the performance and benefits of this rotating shelf design in supporting children's learning. The methodology used in this research is qualitative with a case study approach. Data collection techniques were carried out through observation and survey of the use of dressing frame with rotating shelf design at Graha Ananda Kindergarten. The observations focused on ease of access, practicality of use, and effectiveness in supporting early childhood independence. The results of this study show that the rotating shelf design provides convenience in retrieving and storing dressing frames, supports children's independent learning process, and strengthens fine motor and cognitive skills in early childhood. This research also shows that the design of the rotating shelf on the dressing frame contributes significantly in improving the accessibility and practicality of using the dressing frame at Graha Ananda Kindergarten. This design encourages the child's independence in using the tool, in accordance with Montessori principles, while strengthening the development of fine motor skills and understanding of the sequence of steps. The implications of this study underscore the importance of ergonomic design in supporting effective learning approaches at the early childhood development stage.
PENGARUH PERBEDAAN JUMLAH HELAI BENANG SULAM DMC TERHADAP HASIL SULAMAN TERAWANG INGGRIS PADA BAHAN KATUN TOBOYO Ananda, Putri; Nelmira, Weni
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.56132

Abstract

Embroidery Terawang Inggris, or known as DMC embroidery (Dollfus-Mieg et Compagnie), is one of the captivating white embroidery techniques in textile art. The use of various numbers of thread strands in the embroidery process can affect the quality of the final result. This research aims to determine the influence of different numbers of DMC embroidery thread strands on the results of English terawang embroidery on Toyobo cotton fabric using 1, 2, and 3 thread strands based on stitch density, stitch neatness, and stitch balance. This research uses an experimental method, with the number of samples as panelists being 16 respondents. The sampling technique uses purposive sampling, while the data collection technique uses a questionnaire. Data analysis techniques use descriptive analysis and hypothesis testing using the Friedman test. The research results obtained that Embroidery with 1 thread strand resulted in "Dense" (77.08%), 2 thread strands "Very Dense" (91.67%), and 3 thread strands achieved optimal density (95.00%). In terms of neatness, 1 thread strand is "Very Neat" (87.75%), 2 thread strands (87.25%), and 3 thread strands are very neat (89.25%). Meanwhile, stitch balance shows 1 and 2 thread strands are "Very Balanced" (81.37% and 87.45%), while 3 thread strands achieve high quality (84.17%). There is a significant difference in using 1, 2, and 3 threads of DMC Embroidery in terms of density, neatness, and stitch balance.Keywords: thread strand, density, neatness, balance.AbstrakSulaman Terawang Inggris, atau dikenal sebagai sulam DMC (Dollfus-Mieg et Compagnie), merupakan salah satu teknik sulaman putih yang memikat dalam seni tekstil. Penggunaan berbagai jumlah helai benang pada proses sulaman tersebut dapat mempengaruhi kualitas hasil akhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jumlah helai benang sulam DMC terhadap hasil sulaman terawang Inggris pada bahan katun toboyo menggunakan 1, 2, dan 3 helai benang berdasarkan kerapatan tusuk, kerapian tusuk, dan keseimbangan tusuk. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, dengan jumlah sampel sebagai panelis sebanyak 16 orang responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner.  Teknik analisis data menggunakan analisis deksriptif dan uji hipotesis menggunakan uji Friedman. Hasil penelitian diperoleh bahwa Sulaman dengan 1 helai benang hasilnya "Rapat" (77.08%), 2 helai benang "Sangat Rapat" (91.67%), dan 3 helai benang mencapai kerapatan optimal (95.00%). Dalam hal kerapian, 1 helai benang "Sangat Rapi" (87.75%), 2 helai benang (87.25%), dan 3 helai benang sangat rapi (89.25%). Sedangkan keseimbangan tusuk menunjukkan 1 dan 2 helai benang "Sangat Seimbang" (81.37% dan 87.45%), sementara 3 helai benang mencapai kualitas tinggi (84.17%). Terdapat perbedaan yang signifikan dalam menggunakan 1, 2, dan 3 helai benang Sulaman DMC terhadap kerapatan, kerapian dan keseimbangan tusuk.Kata Kunci: helai benang, kerapatan, kerapian, keseimbangan. Authors:Putri Ananda : Universitas Negeri PadangWeni Nelmira : Universitas Negeri PadangReferences:Budiyono, Sudibyo, W., Herlina, S., Handayani, S., Parjiyah, Pudiastuti, W., Syamsudin, Irawati, Parjiyati, & Palupi, D. S. (2008). Kriya Tekstil. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.Ernawati. (2008). Tata Busana Jilid 2. Jakarta: Direktorat Pembina Sekolah. Menengah Kejuruan.Puspitasari, D., & Yulistiana. (2014). Pengaruh Jumlah Helai Benang Katun Terhadap Hasil Jadi Sulaman Hardanger Pada Bolero. e-Journal. 3(1), 130-139.Sania, F. (2018). Analisis Produk Sulaman Aplikasi Pada Mata Kuliah Seni Sulaman. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689“1699.Syafrina, I., & Nelmira, W. (2019). Pengembangan Bahan Ajar Pembuatan Sulaman Timbul Pada Mata Kuliah Sulaman Universitas Negeri Padang. Gorga Jurnal Seni Rupa, 8(1), 105-110.Syifa, S. Z. A., & Radiona, V. (2022). Penilaian Hiasan Sulam Sashiko Pada Busana Anak. Practice of Fashion and Textile Education Journal, 1(1). 23-29.Yuliarma. (2016). The Art of Embroidery Designs. The Art of Embroidery Designs: Mendesain Motif Dasar Bordir dan Sulaman. Jakarta: Gramedia.Yuliarma & Norita, R. (2023). Pengaruh Jumlah Helai Benang Terhadap Nilai Estetika Dan Mutu Sulaman Terawang Hardanger Pada Sarung Bantal Sofa. Dimensi, 19(2). 169-184Wasia, R. (2009). Keterampilan Menghias Kain. Bandung: Askara BandungWidarwati, S. (2000). Desain Busana 1. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan. Kesejahteraan Keluarga Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.
PERANCANGAN E-JOBSHEET BERBANTUAN ADOBE FLASH PLAYER CS6 PADA MATERI ALAT TENUN BUKAN MESIN Aisyah, Siti; Kharisma, Maltha; Saputra, Defrizal; Widarsa, Aditya Hanum
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.56490

Abstract

Students do not understand the material of non-machine looms and the application of woven techniques found in basic textile craft courses, this is because lecturers only use learning media in the form of printing teaching materials and power points. This research aims to design an effective learning media in the form of interactive e-jobheet by using the adobe flash professional CS6 application. The method used in this design is the 4D Model model that is developed with stages, namely the Define, Design, Develop, and Dissemination stages. Data collection techniques with observation and literature study. The analysis technique used is descriptive analysis, which is used to describe the e-jobsheet design and the validity of the e-jobsheet in the ATBM material. The results obtained in this study show that the interactive e-jobsheet learning media by using the adobe flash professional CS6 application on the ATBM material in the fine arts education study program has several components, including two types of video tutorials consisting of explanations about ATBM material and its work process, material about ATBM, then there are practice questions that can be done by students, and also a list of references and people. The validation results obtained from the validator are the validation of the material obtained a number of 95%, design experts 90.3% and linguists 89.8% with very valid categories. E-jobsheet learning media is accessed by students offline using laptops. Keywords: e-jobsheet, Adobe Flash Player, ATBMAbstrakMahasiswa kurang memahami materi alat tenun bukan mesin dan pengaplikasian teknik tenunan yang terdapat pada mata kuliah kriya tekstil dasar, hal ini dikarenakan dosen hanya menggunakan media pembelajaran berupa bahan ajar cetak dan power point. Penelitian ini bertujuan untuk merancang media pembelajaran yang efektif berupa e-jobheet interaktif dengan menggunakan aplikasi adobe flash professional CS6. Metode yang digunakan dalam perancangan ini yaitu model Model 4D yang dikembangkan memiliki tahapan yaitu tahap Define (pendefinisian), Design (perancangan), Develop (pengembangan), dan Dissemination (Penyebaran). Teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi dan studi pustaka. Teknik analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif, yang digunakan untuk mendiskripsikan desain e-jobsheet dan validitas e-jobsheet pada materi ATBM. Hasil dari penelitian yaitu media pembelajaran e-jobsheet interaktif dengan menggunakan aplikasi adobe flash professional CS6 pada materi ATBM di program studi pendidikan seni rupa terdapat beberapa komponen, diantaranya dua jenis video tutorial yang terdiri dari penjelasan mengenai materi ATBM dan proses kerjanya, materi mengenai ATBM, kemudian terdapat latihan soal yang bisa dikerjakan oleh mahasiswa, dan juga daftar referensi serta narahubung. Hasil validasi yang diperoleh dari validator yaitu validasi materi memperoleh angka 95%, ahli desain 90,3% dan ahli bahasa 89,8% dengan kategori sangat valid. Media pembelajaran e-jobsheet diakses oleh mahasiswa secara offline dengan menggunakan laptop.Kata Kunci: e-jobsheet, adobe flash player, ATBM Authors:Siti Aisyah : Universitas Negeri PadangMaltha Kharisma : Universitas Negeri PadangDefrizal Saputra : Universitas Negeri PadangAditya Hanum Widarsa : Universitas Negeri Padang References:Aisyah, S., Asa, F.,O. & Yeni, E.,P. (2023). Kelayakan Media Pembelajaran Berbasis Video Tutorial Pada Materi Batik Di Program Studi Pendidikan Seni RupA. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 12(2), 287-294.Atika, I. N., & Malasari, P. N. (2022). Perancangan Media Pembelajaran Menggunakan Adobe Flash Professional CS6 Berbasis Pendekatan Realistic Mathematics Education. Aritmatika, 3(3), 31“41.Arsyad, A. (2017. Media Pembelajaraan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Dharmalau, A., Nurlaela, L., & Handojo, V. (2021). Perancangan Media Pembelajaran Lagu Daerah Dengan Animasi Interaktif Menggunakan Adobe Flash. Jeis: Jurnal Elektro Dan Informatika Swadharma, 1(1), 31“36.Djafri, C. (2003). Gagasan Seputar Pengembangan Industri Dan Perdagangan TPT (Tekstil dan Produk Tekstil). Jakarta: Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Cidesindo.Kustandi, C., Sutjipto, B. (2011). Media Pembelajaran Manual dan Digital. Bogor: Ghalia Indonesia.Novrita, Z,.S. Puspaneli, Fridayati, L., & Febian., V. (2023). Pengembangan Video Tutorial Teknik Batik Tulis Sebagai Media Pembelajaran Pada Mata Kuliah Batik Di Departemen Ikk Fpp Unp. Gorga: Jurnal Seni Rupa. 12(1), 91-98Riduwan. (2016). Dasar-dasar Statistika. Bandung: Penerbit Alfabeta.Situmorang, R., Haryanto, E. V.(2020). Perancangan Media Pembelajaran Cara Memainkan Seruling 3 Dimensi Berbasis Multimedia. FTIK 1(1), 476“488.Sudjana, N., & Rivai, A. (2005). Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algesindo.Trianto, (2009). Mendesain model pembelajaran inovatif progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.Wahid, A., Handayanto, A., & Purwosetiyono, F. X. D. (2020). Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Etnomatematika Menara Kudus Menggunakan Adobe Flash Professional CS 6 pada Siswa Kelas VIII. Imajiner, 2(1), 58“70.
MAKNA PROPERTI TARI TUPENG NATUNA KABUPATEN NATUNA Saridin, Saridin; Oktariani, Dwi; Aditya, Mega Cantik Putri
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.56508

Abstract

The Natuna Tupeng Dance is a traditional folk dance that grows and develops in Kelanga Village, North East Bunguran District, Natuna Regency, however there has been no writing about the meaning of the properties used by dancers. This research aims to determine the form, meaning and function that need to be revealed from the unique properties of the Natuna Tupeng Dance. The research method is descriptive qualitative with an ethnochoreology and semiotic approach to obtain data results regarding the meaning of property in the Tupeng Natuna dance. Data collection techniques include observation, interviews and documentation. The data validity testing technique used is extended observation and source triangulation. Based on the analysis of the data obtained, the results show that the properties of the Natuna Tupeng Dance contain meaning and messages to be conveyed to the audience. The properties of the Tupeng Natuna Dance include masks in the shape of human faces, men, women, animal faces such as beqok, plates and scarves. The mask in the shape of a human face depicts the young people of the Kelanga Village community in the Bedung forest, the mask in the shape of a beqok face depicts a monkey. The meaning of the three forms of masks is to depict the harmony of life between humans and animals, which can mean that living creatures need and interact with each other. The plate property symbolizes a form of gratitude to God, because he has provided sufficient sustenance to the people in the village. The shawl's properties symbolize the natural beauty that exists in the Bedung forest. The meanings of all the properties of the Natuna Tupeng Dance are interconnected with each other and are related to the daily lives of the people in Kelanga Village, North East Bunguran District, Natuna Regency.Keywords: Meaning, Properties, Tupeng Natuna DanceAbstrakTari Tupeng Natuna merupakan salah satu tari tradisional rakyat yang tumbuh dan berkembang di Desa Kelanga Kecamatan Bunguran Timur Laut Kabupaten Natuna, namun belum ada tulisan mengenai makna properti yang digunakan oleh penari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk, makna, dan fungsi yang perlu diungkap dari keunikan properti Tari Tupeng Natuna. Metode penelitian berupa deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi dan semiotika guna mendapatkan hasil data mengenai makna properti dalam tari Tupeng Natuna. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik penguji keabsahan data yang digunakan adalah perpanjangan pengamatan dan triangulasi sumber. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil bahwa properti Tari Tupeng Natuna terdapat makna dan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Properti Tari Tupeng Natuna berupa topeng yang berbentuk wajah manusia laki-laki, perempuan, wajah binatang seperti beqok, piring, dan selendang. Topeng yang berbentuk wajah manusia menggambarkan muda mudi masyarakat Desa Kelanga yang berada di dalam hutan Bedung, topeng berbentuk wajah beqok yang menggambarkan seekor monyet. Makna dari ketiga bentuk topeng itu adalah menggambarkan keserasian hidup antara manusia dan binatang yang dapat bermakna bahwa makhluk hitup itu saling membutuhkan dan saling berinteraksi. Properti piring menyimbolkan bentuk rasa syukur kepada Tuhan, karena telah memberikan rezeki yang cukup kepada masyarakat di Desa tersebut. Properti selendang melambangkan keindahan alam yang berda di dalam hutan Bedung.  Makna dari keseluruh properti Tari Tupeng Natuna saling berhubungan satu sama lain dan mempunyai keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat di Desa Kelanga Kecamatan Bunguran Timur Laut Kabupaten Natuna.Kata Kunci: Makna, Properti, Tari Tupeng Natuna Authors:Saridin : Universitas TanjungpuraDwi Oktariani : Universitas TanjungpuraMega Cantik Putri Aditya : Universitas Tanjungpura ReferencesAnwar, A. (2020), œMakna Topeng Perempuan. Hasil Wawancara Pribadi:  5 Februari 2024, Universitas Tanjungpura.Ardiani, A., & Fitriani, N. (2023). Motif dan Makna Motif Tenun Ulos Batak Angkola di Kabupaten Tapanuli Selatan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 12(2).Budihardini, S. S., Tindarika, R., & Aditya, M. C. P. (2022). SEJARAH TARI TOPENG NATUNA DESA TANJUNG KECAMATAN BUNGURAN TIMUR LAUT KABUPATEN NATUNA. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 12(2), 665-673.Darmawan, D. (2024), œAsal Mula Bentuk Tari Tupeng Natuna. Hasil Wawancara Pribadi:  13 Februari 2024, Universitas Tanjungpura.Istiandini, W., Tindarika, R., & Sulissusiawan, A. (2022). Makna Simbol Properti Gong pada Tari Tradisional Ngeruai Kenemiak Dayak Kantu. Jurnal Seni Tari, 11(2), 179-187.Kistanto, N. H. (2015). Tentang konsep kebudayaan. Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan, 10(2).Liliweri, A. (2019). Pengantar studi kebudayaan. Nusamedia.Mariana, D., Dwi, O., & Ismunandar, I. (2023). Manajemen Organisasi Sanggar Seni Kesumba di Kabupaten Mempawah. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 12(2).Oktariani, D. (2023). Tari Jepin Langkah Simpang Budaya Melayu. Pontianak: Cv. LakeishaOktariani, D. (2024). Peran Sanggar Seni Kesumba Dalam Melestarikan Kesenian Tradisional Melayu. Jurnal Ilmiah Rinjani 12(1), 15-24.Pujiana, P., & Novrita, S. (2023). Transformasi Bentuk Alam Menjadi Motif Batik di Kecamatan Enam Lingkung Kabupaten Padang Pariaman. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 12(2).Purnamawati, S., Adriani, A., & Novrita, S. Z. (2016). Studi Tentang Batik Basurek di Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu. Journal of Home Economics and Tourism, 11(1), 1“12.Suhendra, R., Fretisari, I., & Muniir, A. (2019. MAKNA SIMBOL PROPERTI TARI SELODANG MAYANG DI PULAU PEDALAMAN KABUPATEN MEMPAWAH. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 8(3).Swathy, I. D. A. I., Joni, I. D. A. S., & Suryawati, I. G. A. A. (2020). Makna Simbol Komunikasi Dalam Tari Topeng Sidakarya. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ilmu Komunikasi Medium, 1(1), 38-45.Varadibtya, S. D., Ismunandar, I., & Istiandini, W. (2022). MAKNA PROPERTI TARI JEPIN TALI BINTANG DI DESA KALIMAS KECAMATAN SUNGAI KAKAP KABUPATEN KUBU RAYA. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 11(6), 365-375.
SISTEM MODULAR PADA PERANCANGAN LEMARI BAJU DENGAN KONSEP SUSTAINABLE DESIGN Pambudi, Terbit Setya; Mawarni, Gabriella Chrismaditya Putri; Yunidar, Dandi
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.56591

Abstract

The progress of the local and global furniture industry opens up opportunities for Indonesia to return to producing local furniture to support the economy. Millennials as the largest furniture market share in Indonesia have an interest in modular furniture. Modular furniture systems provide ease of mobilization, installation and customization which helps optimize the use of increasingly limited residential land. Apart from that, the need for furniture that is able to adapt according to user needs is also a simple application of the sustainable design concept. The concept of sustainable design refers to intelligent human thought patterns and actions that are in harmony with and respect nature. In the context of research, this concept is realized in the form of a furniture modulation system that can adapt to user needs. This research focuses on designing modular wardrobes that accommodate millennial needs. The design was carried out using design methods: observation, interviews, questionnaires, and literature study, followed by a design process using the User-Centered Design method and identification of user personas. The furniture designed is furniture with a combination of on-a-frame & single bodied modular systems with a knockdown system for easy mobilization and customizationKeywords: EcoLifestyle, bags, modular, sustainable designAbstrakKemajuan industri furnitur lokal dan global membuka peluang bagi Indonesia untuk kembali memproduksi furnitur lokal demi mendukung perekonomian. Milenial sebagai pangsa pasar furnitur terbesar di Indonesia memiliki ketertarikan terhadap furnitur modular. Sistem furnitur modular menyediakan kemudahan mobilisasi, instalasi, dan kustomisasi yang membantu optimalisasi penggunaan lahan huni yang semakin terbatas. Selain itu kebutuhan furniture yang mampu berdaptasi sesuai kebutuhan pengguna juga merupakan penerpan sederhana dari konsep sustainable design. Konsep sustainable design mengacu pada pola pikir dan tindakan manusia secara cerdas yang selaras dan menghargai alam. Dalam konteks penelitian konsep tersebut diwujudkan dalam bentuk system modulasi furniture yang bisa beradaptasi dengan kebutuhan pengguna. Penelitian ini berfokus untuk merancang lemari modular yang mengakomodasi kebutuhan milenial. Perancangan dilakukan dengan metode desain: observasi, wawancara, kuesioner, dan studi literatur, dilanjutkan dengan proses perancangan menggunakan metode User-Centered Design dan identifikasi persona pengguna. Furnitur yang dirancang adalah furnitur dengan gabungan sistem modular on-a-frame & single bodied dengan sistem knockdown untuk memudahkan mobilisasi dan kustomisasiKata Kunci: Modular, Furniture, Lemari, Sustainable DesignAuthors:Terbit Setya Pambudi : Universitas TelkomGabriella Chrismaditya Putri Mawarni : Universitas TelkomDandi Yunidar : Universitas TelkomReferencesBadan Pusat Satistik (BPS). (2021). Hasil Sensus Penduduk 2020. Diambil Kembali dari https://demakkab.bps.go.id/news/2021/01/21/67/hasil-sensus-penduduk-2020.htmlBesson, A. (2019). A Call for more Modular Durability in Design. Diambil Kembali dari https://asiapacificcircle.org/asia-pacific-insights-trends/more-modular-durability-in-design-alexandre-besson/Durif, F., Boivin, C., & Julien, C. (t.thn.). In Search of a Green Product Definition. Innovative Marketing, 6, 25-33.Garip, B., Saglar, N., Politecnico, O., Torino, D., Garip, S., & Güzelci, O. (2019). Flexible and Modular Furniture Design for Changing Living Environments. The XXIXTH International.Halim, W., Kusbiantoro, K., Lesmana, C., Gunawan, IV. (2023). Perancangan Bangunan Modular Penunjang Green Economy Untuk Hunian Resiliensi Bencana. Medan. Gorga: Jurnal Seni Rupa. 12 (01), 124 “ 131.Hara, T., Sakao, T., & Fukushima, R. (2019). Customization of product, service, and product/service system: what and how to design. doi:10.1299/mer.18-00184.Kementrian Perindustrian Republik Indonesia. (2021). Tumbuh 8 Persen, Industri Furnitur Tangguh Hadapi Dampak Pandemi. Diambil kembali dari https://www.kemenperin.go.id/artikel/22793/Tumbuh-8-Persen,-Industri- Furnitur-Tangguh-Hadapi-Dampak-PandemiMcLennan, J. F. (2004). The Philosophy of Sustainable Design: The Future of Architecture. United Kingdom. Ecotone.Muttaqien, TZ. & Adilihung, H. (2023). Pemanfaatan Sisa Bahan Produksi Menjadi Material Siap Pakai Dan Penerapanya Pada Produk Dekorasi Rumah. Medan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 12(01), 224-229Pambudi, TS., Arliando, P., Muttaqien, TZ. (2022). Perancangan Tas Modular Sebagai Produk Eco Lifestyle. Medan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(02), 499-564Soewardikoen, D. (2019). Metodologi Penelitian: Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta: PT Kanisius.Smardzewski, J. (2015). Furniture Design. Switzerland. Springer International Publishing doi:10.1007/978-3-319-19533-9Tseng, M., Wang, Y., & Jiao, R. (2018). Modular Design. The International Academy for Production (eds) CIRP Encyclopedia of Production Engineering. doi:10.1007/978-3-642-35950-7_6460-4UNEP 2009 Annual Report. Seizing The Green Opportunity. Nairobi: UNEP Publishing Service SectionUzoegbo, H. (2016). 8 - Dry-stack and compressed stabilised earth-block construction. Harries, K. and Sharma, B., Eds., Nonconventional and Vernacular Construction Materials, 205-249. doi:10.1016/B978-0-08-100038-0.00008-1Wijaya, D., & Anastasia, N. (2021). Pertimbangan Generasi Milenial pada Kepemilikan Rumah dan Kendala Finansial. Diambil kembali dari https://jmap.mappi.or.id/index.php/journal penilai/article/view/23/10Xue, D., Hua, G., Mehrad, V., & Gu, P. (2012). Optimal Adaptable Design for Creating the Changeable Product Based on Changeable Requirements Considering the Whole Product Life-Cycle. Journal of Manufacturing Systems, 31(1), 59-68. doi:10.1016/j.jmsy.2011.04.003
PEMBUATAN SKENARIO FILM œLEGENDA TANJUNG MENANGIS DARI NASKAH LONTAR CILINAYA: SEBUAH PROSES EKRANISASI Widiyastantia, Eva Mawinda
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.56713

Abstract

AbstractOn the island of Lombok, one of the renowned ancient manuscripts both in presence and legend is the Cilinaya palm-leaf manuscript. Historically, the ancient lontar Cilinaya manuscript has only been kept in museums and held by traditional leaders to be read occasionally during cultural processions. This research deliberately made the script into a film scenario as a form of revitalization and cultural preservation that has the potential to continue to be developed. The objective of this endeavor is to create the film screenplay " Legenda Tanjung Menangis," an adaptation of the ancient Cilinaya palm-leaf manuscript. The findings of this research indicate the feasibility of adapting the ancient Cilinaya palm-leaf manuscript from Lombok into a film screenplay. The process of adaptation involves three primary stages: transcription, translation, and transcreation. Transcription, as the initial phase, encompasses the conversion of the original script written in the traditional script into Latin script. Subsequently, the translation phase involves the transliteration of the original text from the Sasak language of the palm-leaf manuscript into Indonesian. Following this, the transliterated text serves as the foundation for crafting a film screenplay, necessitating a transcreation process to adapt the text into a visual format suitable for the film medium. After undergoing these three stages, the ancient palm-leaf manuscript has successfully been adapted into the film screenplay "Legenda Tanjung Menangis".Keywords: Ancient Manuscript, Cilinaya Lontar, Ecranisation, LegendAbstrakDi Pulau Lombok, salah satu naskah lontar yang terkenal keberadaan dan legendanya adalah lontar Cilinaya. Selama ini naskah kuno lontar Cilinaya hanya tersimpan di museum dan dipegang oleh pemangku adat untuk sesekali dibacakan pada prosesi kebudayaan. Penelitian ini dengan sengaja membuat naskah tersebut menjadi skenario film sebagai bentuk revitalisasi dan pelestarian budaya yang berpotensi untuk terus dikembangkan. Tujuan penciptaan ini adalah menciptakan skenario film œLegenda Tanjung Menangis yang merupakan ekranisasi dari naskah kuno lontar Cilinaya. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa naskah kuno lontar Cilinaya yang berasal dari Pulau Lombok dapat diekranisasi menjadi sebuah skenario film. Proses ekranisasi melibatkan tiga langkah utama, yakni alih aksara, alih bahasa, dan alih wahana. Alih aksara merupakan langkah pertama yang melibatkan konversi tulisan asli dalam aksara jejawan menjadi aksara latin. Langkah berikutnya adalah alih bahasa, yang melibatkan transliterasi teks asli dari bahasa lontar Sasak ke dalam bahasa Indonesia. Setelah itu, hasil transliterasi tersebut dijadikan bahan dasar untuk menyusun sebuah skenario film yang sesuai, yang memerlukan proses alih wahana untuk mengadaptasi teks ke dalam format visual yang sesuai dengan medium film. Setelah melewati tiga tahap tersebut, naskah kuno lontar telah berhasil diekranisasi menjadi skenario film œLegenda Tanjung Menangis.Kata Kunci: Naskah kuno, Lontar Cilinaya, Ekranisasi, Legenda Author:Eva Mawinda Widiyastantia: Institut Seni Indonesia YogyakartaReferences:Buda, I. K., Payuyasa, I. Nyoman, & Chrisna, I. M. D. (2020). Pendidikan yang memerdekakan dalam film œSokola Rimba. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 09(02), Juli-Desember 2020. DOI: 10.24114/gr.v9i2.19823Cahir, L. C. (2006). Literature into Film: Theory and Practical Approaches. North Carolina: McFarland.Desmond, J. (2006). Adaptation: Studying Film and Literature. New York: McGraw-Hill Education.Field, S. (2005). Screenplay: The Foundations of Screenwriting. London: Delta.Herman, R. (2017). Ekranisasi, Sebuah Model Pengembangan Karya Sastra. CEUDAH Jurnal Ilmiah Kesusastraan, 7(1). https://susastra.hiski.or.id/jurnal/index.php/susastra/article/view/42Oktafiyani, A., Suseno, A., & Nuryati. (2017). Transformasi Makna Simbolik Mihrab pada Novel ke Film dalam Mihrab Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy: Kajian Ekranisasi. Jurnal Sastra Indonesia, 6(3). https://journal.unnes.ac.id/sju/jsi/issue/view/1242Permadi, T. (2017). Naskah Nusantara dan Berbagai Aspek yang Menyertainya. Diakses dari http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_INDONESIA, 1“33.Primadesi, Y. (2012). Peran Masyarakat Lokal dalam Usaha Pelestarian Naskah-Naskah Kuno Paseban. Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni, 11(2). DOI:  10.24036/komposisi.v11i2.88Suwaji, I. G. M. G. (2011). Lontar, Katalog Induk Naskah Koleksi Bali. Bali: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.Seger, L. (2009). The Art of Adaptation: Turning Fact and Fiction into Film. London: Routledge.
DESAIN BONEKA TANGAN KARAKTER WAYANG SEBAGAI MODEL SALURAN KAMPANYE Wardani, Winny Gunarti Widya; Winarni, Rina Wahyu; Ranuhandoko, Ndaru
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.56904

Abstract

Cangik and Limbuk are two characters in wayang kulit plays that are often performed to entertain the audience. Through dialogue full of humor, the characters of this mother and child often become a means to convey various information and at the same time accommodate public complaints. The popularity of Cangik and Limbuk has the potential to be used as a campaign channel. This is because the success of the campaign is also influenced by the communication channel. This study examines the design of hand puppets wayang characters of the Cangik and Limbuk as campaign channel models. Qualitatively, this study uses a multimodal approach in visual modalities which consists of visualization of verbal and nonverbal texts as visual elements in the hand puppets of the Cangik and Limbuk wayang characters which have visual power to convey messages. The results of the study describe a model of the narrative structure and the meaning of visual signs that can be processed through hand puppets of the Cangik and Limbuk wayang characters in a combination campaign channel that combines direct channels as well as media channels. This study is expected to be a reference in developing a campaign channel model that is more attractive to the public while preserving local cultural values.Keywords: Hand puppets, Cangik and Limbuk, campaign channel modelAbstrakCangik dan Limbuk merupakan dua tokoh dalam lakon pertunjukan wayang kulit yang sering dimunculkan untuk menghibur para penonton. Melalui dialog yang penuh humor,  karakter Ibu dan anak ini kerap menjadi sarana untuk menyampaikan berbagai informasi sekaligus menampung keluh kesah masyarakat. Kepopuleran Cangik dan Limbuk berpotensi untuk dijadikan saluran kampanye. Hal ini dikarenakan keberhasilan kampanye juga dipengaruhi oleh saluran komunikasinya. Studi ini membahas desain boneka tangan karakter wayang Cangik dan Limbuk sebagai model saluran kampanye. Secara kualitatif, studi ini menggunakan pendekatan multimodal di dalam modalitas visual yang terdiri atas visualisasi teks verbal dan nonverbal sebagai unsur-unsur visual pada boneka tangan karakter wayang Cangik dan Limbuk yang memiliki kekuatan visual untuk membawa pesan. Hasil penelitian menjabarkan model struktur narasi dan makna tanda-tanda visual yang dapat diolah melalui boneka tangan karakter wayang Cangik dan Limbuk di dalam saluran kampanye kombinasi yang menggabungkan saluran langsung sekaligus saluran bermedia. Studi ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam desain model saluran kampanye yang lebih menarik perhatian masyarakat sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya lokal. Kata Kunci:  Boneka tangan, Cangik dan Limbuk, model saluran kampanyeAuthors:Winny Gunarti Widya Wardani : Universitas Indraprasta PGRIRina Wahyu Winarni : Universitas Indraprasta PGRINdaru Ranuhandoko : Universitas Indraprasta PGRI ReferencesAl Fajri, T. A. (2018). Pentingnya Penggunaan Pendekatan Multimodal Dalam Pembelajaran. WASKITA: Jurnal Pendidikan Nilai Dan Pembangunan Karakter, 2(1), 57“72. https://doi.org/10.21776/ub.waskita.2018.002.01.5Andjarwati, T. (2015). Motivasi dari Sudut Pandang Teori Hirarki Kebutuhan Maslow, Teori Dua Faktor Herzberg, Teori X Y Mc Gregor, dan Teori Motivasi Prestasi Mc Clelland. JMM17 Jurnal Ilmu Ekonomi & Manajemen, 1(1), 45“54. http://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jmm17/article/view/422/386Anggraini, A.A. (2013).  Perancangan Kampanye Gemar Menabung Untuk Anak TK Oleh Dinas Pendidikan Kota Surakarta Melalui Media Komunikasi Visual. Skripsi,  Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.Arsana, I.G. Y. (2023). Visualisasi Karakter Superhero Film Animasi 2D Satria Barong. Gorga: Jurnal Seni Rupa. 12(2), 270-275. file:///C:/Users/TinkPad/Downloads/46217-114495-2-PB.pdfAsmarani, R. (2004). Dialog Cangik dan Limbuk Dalam Kajian Feminisme. Kajian Sastra, 3(XXVIII), 192“201. http://eprints.undip.ac.id/19382/2/DIALOG_CANGIK_dan_ LIMBUK_ratna.pdfBeiman, N. (2015). Prepare to Board! Creating Story and Characters for Animated Features and Shorts. Prepare to Board! Creating Story and Characters for Animated Features and Shorts. https://doi.org/10.4324/9780240818993Gunarti, W., Wardani, W., Listya, A., Winarni, R. W., & Eview, L. I. R. (2017). Political Campaigns Music Video As A Strategy For Forming Perceptions. International Journal of Scientific & Technology Research, 6(11), 95“98.Kress, G. and van Leeuwen, T. (2020). Reading Images: The Grammar of Visual Design (3rd ed.). London and New York: Routledge.Martina, R. T. (2013). Struktur Lakon Wayang œCekel Endralaya Karya R.M. Ismangun Danuwinata dan Ratnawati Rachmat. In Skripsi.Nurgiyantoro, B. (2011). Wayang dan Pengembangan Karakter Bangsa. Jurnal Pendidikan Karakter. 1(1), 18-34. https://journal.uny.ac.id/index.php/jpka/article/view/1314Permasih, S. T., Ernalis, I. T. (2015). Penggunaan Media Boneka Untuk Mengembangkan Keterampilan Menyimak Anak TK di Kelompok B. Cakrawala Dini, 5(2), 89“100. file:///C:/Users/TinkPad/Downloads/10524-21738-2-PB (2).pdfRakhmat, J. (2012). Psikologi Komunikasi (Cetakan ke). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Sarup, M. (2011). Panduan Pengantar Untuk Memahami Postrukturalisme dan Posmodernisme. Yogyakarta:Jalasutra.Setyaningsih, R. (2017). Model Literasi Media Berbasis Kearifan Lokal Pada Masyarakat. Komuniti: Jurnal Komunikasi Dan Teknologi, 9(2), 118“125. http://journals.ums.ac.id/index.php/komuniti/article/viewFile/4520/3503Sidik, A. H. (2014). Wayang Kulit Sebagai Media Dakwah ( Pendekatan Komunikasi Antar Budaya Terhadap Pementasan Wayang Kulit Ki Yuwono Di Desa Bangorejo Banyuwangi ). Skripsi, 17“19.Suratno. (2012). Kajian Sosiopragmatik Tindak Tutur Adegan Limbukan Dalam Seni Pertunjukan Wayang Purwa di Surakarta (Studi Kasus Terhadap Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Warseno Slenk. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.Venus A. (2019). Manajemen Kampanye, Panduan Teoretis dan Praktis Dalam Mengefektifkan Kampanye Komunikasi Publik (Edisi Revi). Bandung: Simbiosa Rekatama Media.Wardani, W. G. W. (2011). Representasi Manusia Sebagai Makhluk Budaya Dalam Film Animasi Jepang Nonverbal La Maison En Petits Cubes. Universitas Trisakti.Wardani, W. G. W., dkk., Syahid, dan Akbar, T. (2022). Pembingkaian Ruang Visual Dalam Desain Video Musik Animasi Sabda Alam Sebagai Seni Menyampaikan Pesan Kampanye. Gorga: Jurnal Seni Rupa. 11(2), 402-409. https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/gorga/article/view/39919/20279Wardhani, A. K. (20114). Teater Koma Angkat Semangat Feminisme di Republik Cangik, https://www.tribunnews.com/seleb/2014/11/04/teater-koma-angkat-semangat-feminisme-di-republik-cangik.White, T. (2009). How To Make Animated Films, Tony White™s Complete Masterclass on The Traditional Principles of Animation. Elsevier, Inc.Winarni, R. W., Ranuhandoko, N., Gunarti, W., & Wardani, W. (2021). Creativity And Originality Of Cangik And Limbuk Characters Through The Design Of Hand Puppet. 10(07), 2019“2022. https://www.ijstr.org/finalprint/jul2021/Creativity-And-Originality-Of-Cangik-And-Limbuk-Characters-Through-The-Design-Of-Hand-Puppet.pdf
PERWUJUDAN KASIH SAYANG KELUARGA DAN KERABAT MELALUI PERTUNJUKAN TOR-TOR Novita, Elmi
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.56950

Abstract

Affection is a very important relationship in social life. Affection is manifested in various ways, one of which is performing art. This study explains the manifestation of affection between family and relatives in Mandailing culture. The research method is carried out through observation of tor-tor performances, which are performances that combine dance, music, and literature that become Mandailing culture. The results showed that affection in Mandailing culture is an important part of the kinship values of dalihan na tolu. Affection called holong is a noble value that governs relationships in kinship groups dalihan na tolu. Holong became one of the identities attached to the Mandailing community. In line with Islamic values and Mandailing cultural norms, compassion is felt with the heart and is not expressed openly either through touch or eye contact between families during tor-tor performances. The affection of family and relatives in dancing arises in response to togetherness in dancing and song verses that tell the life experiences of family and relatives.Keywords: Affection, kinship, identity, performing arts. AbstrakKasih sayang adalah hubungan yang sangat penting dalam kehidupan sosial. Kasih sayang diwujudkan dalam berbagai cara, salah satunya seni pertunjukan. Penelitian ini menjelaskan perwujudan kasih sayang antara keluarga dan kerabat di kebudayaan Mandailing. Metode penelitian dilakukan melalui pengamatan terhadap pertunjukan tor-tor, yaitu pertunjukan yang menggabungkan tari, musik dan sastra yang menjadi kebudayaan Mandailing. Hasil penelitian menunjukkan kasih sayang di kebudayaan Mandailing merupakan bagian penting dari nilai-nilai kekerabatan dalihan na tolu. Kasih sayang yang disebut dengan holong merupakan nilai luhur yang mengatur hubungan dalam kelompok kekerabatan dalihan na tolu. Holong menjadi salah satu identitas yang melekat dengan masyarakat Mandailing. Sejalan dengan nilai-nilai Islam dan norma budaya Mandailing kasih sayang dirasakan dengan hati dan tidak diungkapkan secara terbuka baik melalui sentuhan ataupun kontak mata diantara keluarga selama pertunjukan tor-tor. Kasih sayang keluarga dan kerabat dalam menari timbul sebagai tanggapan terhadap kebersamaan dalam menari dan syair lagu yang menceritakan pengalaman hidup keluarga dan kerabat.Kata Kunci:  Kasih sayang, kekerabatan, identitas, seni pertunjukan   Author:Elmi Novita : Institut Seni Budaya Indonesia Aceh ReferencesAdiriani, and Nova Fitriani. 2023. œMotif Dan Makna Motif Tenun Ulos Batak Angkola Di Kabupaten Tapanuli Selatan. Gorga: Jurnal Seni Rupa 12(2):302“9. doi: 10.24114/gr.v12i2.49593.Alamo, Enrico, Meria Eliza, and Giat Syailillah. 2021. œMakna Dan Fungsi Kain Ulos Pada Pusat Latihan Opera Batak Pematang Siantar (PLOt) Di Pematang Siantar Provinsi Sumatera Utara. Gorga: Jurnal Seni Rupa 10(1):94“106. doi: 10.24114/gr.v10i1.24824.Blacking, John. 1982. œMovement and Meaning: Dance in Social Anthropological Perspective. Dance Research: The Journal of the Society for Dance Research 1 (1):88“99.Budrianto, Wilma Sriwulan, and Marta Rosa. 2018. œApropriasi Gitar Dalam Kesenian Rejung Pada Masyarakat Suku Bashemah Kabupaten Kaur Provinsi BEngkulu. Gorga: Jurnal Seni Rupa 7(2):94“100. doi: 10.24114/gr.v7i2.10915.Buelow, George J. 1973. œMusic, Rhetoric, and the Concept of the Affections: A Selective Bibliography. Notes 30(2):250“59. doi: 10.2307/895972.Burleson, Mary H., Nicole A. Roberts, David W. Coon, and José A. Soto. 2019. œPerceived Cultural Acceptability and Comfort with Affectionate Touch: Differences between Mexican Americans and European Americans. Journal of Social and Personal Relationships 36(3):1000“1022. doi: 10.1177/0265407517750005.Dissanayake, Ellen. 1992. Homo Aestheticus¯: Where Art Comes From and Why. Seatle: University of Washington Press.Dyck, Edith Van, Birgitta Burger, and Constantina Orlandatou. 2017. œThe Communication of Emotions in Dance. Pp. 122“30 in The Routledge Companion to Embodied Music Interaction, edited by M. Lesaffre, P.-J. Maes, and M. Leman. New York and London: Routledge, Taylor & Francis Group.Floyd, Kory. 2006. Communicating Affection: Interpersonal Behavior and Social Context. Cambridge: Cambridge University Press.Gabrielsson, Alf. 2016. œThe Relationship between Musical Structure  and Perceived Expression. Pp. 215“32 in The Oxford Handook of Music Psychology, edited by S. Hallam, I. Cross, and M. Thaut. New York, USA: Oxford University Press.Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representation and Signifying Practices. London: Sage Publications.Haosheng, YE, SU Jiajia, and SU Dequan. 2021. œThe Meaning of the Body: Enactive Approach to Emotion. Acta Psychologica Sinica 53(12):1393“1404. doi: https://doi.org/10.3724/SP.J.1041.2021.01393.Kottak, Conrad Phillip. 2005. Mirror for Humanity: A Concise Introduction to Cultural Anthropology. Fifth Edition. New York: McGraw-Hill Higher Education.Lang, Paul Henry. 1967. œThe Enlightenment and Music. Eighteenth-Century Studies 1(1):93“108. doi: 10.2307/3031668.Miles, Mattew. B., and Michael A. Huberman. 1994. Qualitative Data Analysis: An Exspanded Sourcebook. 2nd ed. Beverly Hills, CA: Sage Publications.Nasution, Edi. 2007. Muzik Bujukan Mandailing. Penang, Malaysia: Areca Book.Novita, Elmi. 2024. œSeni Pertunjukan Tor-Tor Pembangun Identitas Komunitas Mandailing Di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Disertasi, Institut Seni Indonesia Surakarta, Surakarta.Novita, Elmi, Santosa Soewarlan, and Nyoman Sukerna. 2022. œManortor as a Solidarity and Identity Building Media of Mandailing Ethnic Group in Rokan Hulu, Riau Province. Harmonia: Journal of Arts Research and Education 22(2):355“67. doi: http://dx.doi.org/10.15294/harmonia.v22i2.36753.Peick, Melissa. 2005. œDance as Communication: Messages Sent and Received through Dance. Journal of Undergraduate Research VIII 1“9.Rahmadani, Suci, and Erlinda. 2019. œMakna Simbolik Tor-Tor Toping Huda Dalam Upacara Adat Sayumatua Pada Masyarakat Simalungun Sumatera Utara. Gorga: Jurnal Seni Rupa 08(01):61“67. doi: 10.24114/gr.v8i1.12786.Zardi, Andrea, and Rosalba Morese. 2021. œDancing in Your Head: An Interdisciplinary Review. Frontiers in Psychology 12:1“14. doi: https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.649121.
BATIK TULIS DIWO DI KABUPATEN KEPAHIANG (STUDI KASUS DI USAHA SUMBER HAYATI) Maysara, Sherena Asrofah; Yuliarma, Yuliarma
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.57035

Abstract

This research focuses on the typical batik craft art of Kepahiang Regency, namely Diwo batik, which experienced extinction by developing and recreating motifs that have become characteristic. Currently, there are still many people in Kepahiang who do not know or know about this batik, both in terms of the shape of the motif, color and the process of making it. Diwo batik which features cultural motifs and natural products of kepahiang which are beautiful and have meaning in each motif as well as the technique and coloring rocess of Diwo batik, namely written batik with dab remasol coloring. The aim of this research is to explain motif designs, color combinations, tecniques and prosses in dyeing hand-written batik at Sumber Hayati. The method used is a qualitative descropty collecting data from primary sources such as written documents and audio recordings, as well as secondary data obtained from literature studies. Data collection methods include direct observation, interviews, and documentation. The next stage involves technical data evaluation and analysis, which includes data collection, data reduction, data presentation, and conclusion deducation. The resul of the research are 1) the form of the Diwo batik motifs in Sumber hayati is inspired by: (a) naturalist form (stabik motif and bunga kembang empat motif), (b) geometric motif (selempang emas motif), (c) decorative motif (ucuk rebung motif), and script mog letter motifs), 2) color combination, namely (a) contrast color  combinations, (b) momochromatic color combinations, (c) triad color combinations, and 3) techniques and processes for dyeing diwo batik using the technique  remasol dab.Keywords: batik diwo, motifs, color, technique, processAbstrakPenelitian ini mengangkat tentang seni kerajinan batik khas Kabupaten Kepahiang yaitu batik Diwo yang sempat mengalami kepunahan dengan cara mengembangkan dan mengkreasikan kembali motif-motif yang memang sudah menjadi ciri khas. Masyarakat Kepahiang pun saat ini masih banyak yang belum mengenal dan mengetahui tentang batik ini, baik dari bentuk motif, warna dan proses pembuatannya. Batik Diwo yang mengangkat motif budaya dan hasil alam kepahiang yang indah dan memiliki makna pada setiap motifnya serta teknik dan proses pewarnaan batik Diwo yaitu batik tulis dengan pewarnaan colet remasol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan desain motif, kombinasi warna, teknik dan proses dalam pewarnaan batik tulis di Sumber Hayati. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data dari sumber primer seperti dokumen tertulis dan rekaman audio, serta data sekunder yang diperoleh dari studi pustaka. Metode pengumpulan data meliputi observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi. Tahap berikutnya melibatkan evaluasi dan analisis data secara teknis, yang mencakup pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan deduksi kesimpulan. Hasil penelitian yaitu 1) bentuk motif batik Diwo di Sumber Hayati terinspirasi dari: (a) bentuk naturalis (motif stabik dan motif bunga kembang empat), (b) motif geometris (motif selempang emas), (c) motif dekoratif (motif pucuk rebung), dan motif aksara (motif huruf rikung), 2) kombinasi warna yaitu (a) kombinasi warna kontras, (b) kombinasi warna monokromatik, (c) kombinasi warna triad, dan 3) teknik dan proses pewarnaan batik tulis diwo dengan menggunakan teknik colet remasol.Kata Kunci: batik diwo, motif, warna, teknik, proses.Authors:Sherena Asrofah Maysara : Universitas Negeri PadangYuliarma : Universitas Negeri PadangReferencesFAISAL RAFANDI, D., Ajusril, S., & Erwin, A. (2017). Studi Tentang Batik Kaganga Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Serupa The Journal of Art Education, 4(2).Hadaf, A., Adriani, A., & Novrita, S. Z. (2016). Motif dan Pewarnaan Batik Tulis di Dusun Giriloyo Desa Wukirsari Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa YOGYAKARTA (Studi Kasus di Industri Batik Sri Kuncoro). Journal of Home Economics and Tourism, 11(1).Isfi, Y. P., & Novrita, S. Z. Proses Pewarnaan Anyaman Mansiang Di Jorong Taratak Kubang Kabupaten Lima Puluh Kota. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 559.Kuwala, R. N., & Novrita, S. Z. Ragam Hias Motif Batik Tanah Liek Dharmasraya (Studi Kasus di Kerajinan Batik Tanah Liek Citra). Gorga: Jurnal Seni Rupa,11(1), 8-15.Lubis, P. R., & Novrita, S. Z. (2021). Ragam Motif Batik Indragiri Hulu Di Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Jurnal Pendidikan, Busana, Seni dan Teknologi, 3(3), 109-117.Suhaini, Y., & Adriani, A. Proses Pewarnaan Batik Di Kecamatan Lunang Pesisir Selatan (Studi Kasus Di Rumah Batik Dewi Busanaa Lunang). Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 220-224.Susanto, K., Erwin, M. S., & Minarsih, M. S. (2015). Bentuk, Fungsi dan Makna Motif Batik Bungo di Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Muara Bungo. Serupa The Journal of Art Education, 3(2).Veriza, S., Rafia, R., & Nurjannah, N. (2023). Nilai-nilai Pendidikan Islam Dalam Pembelajaran Life Skill di PKBM Az-Zahra Kepahiang (Doctoral dissertation, Institut Islam Negeri Curup).Wulandari, Ari (2011), Batik Nusantara (Makna Filosifis, Cara Pembuatan & Industri.. Yogyakarta. Penerbit CV Andi Offset.Yuliarma, Y. (2016). The Art of Embroidery Designs: Mendesain Motif Dasar Bordir dan Sulaman. Jakarta: GramediaYuliarma, Y. (2003). Studi tentang Desain Hiasan pada Bordir di Industri Kerajinan Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam Sumatera Barat.Yuliarma, Y. Kombinasi Warna Sulaman Suji Cair pada Produk Selendang di Daerah Koto Gadang Sumatera Barat. Jurnal Kajian Seni, 9(1), 98-115.Yuliarma, Y. Philosophical Meaning Of Pariangan Batik Motifs as an Effort to Preserve Minangkabau Culture. Gondang 7, no 2 (2023): 570-579