cover
Contact Name
Maman Lesmana
Contact Email
maman.lesmana@ui.ac.id
Phone
+628159095175
Journal Mail Official
maman.lesmana@ui.ac.id
Editorial Address
Building 7, Faculty of Humanities, Kampus UI Depok, Indonesia 16424Depok, Jawa Barat
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Multikultura
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 29634199     EISSN : 29634199     DOI : -
MULTIKULTURA accepts articles on various issues in the humanities, including philosophy, literature, archaeology, linguistics, history, library and information technology and area studies from various cultures in the world through a double-blind peer-review process.
Articles 162 Documents
KETELADANAN DAN GAGASAN WAHID HASYIM: ANALISIS PEMIKIRAN, KEPEMIMPINAN POLITIK DAN PEMBAHARU PENDIDIKAN ISLAM Rahman, Albar; Junanah, Junanah
Multikultura Vol. 1, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wahid Hasyim sebagai tokoh besar Republik ini perlu mendapakan perhatian dalam kajian ketokohan bangsa. Sangat jarang yang mengkaji beliau secara spesifik, sejatinya pada aspek kepemimpinan politik dan kontribusi beliau sebagai pemabaharu dunia pendidikan Islam di Indonesia sangatlah signifikan untuk dikaji lebih jauh. Untuknya penelitian ini akan membahas dan mengkaji Wahid Hasyim dari aspek keteladanan dan gagasan beliau baik dalam kepemimpinan politik, juga sebagai tokoh Islam yang signifikan memberikan dampak pada pendidikan Islam baik bagi pesantren hingga universitas. Pendekatan kajian ini ialah kajian kepustakaan dengan mengkses berbagai bacaan untuk menarik analisa lebih jauh terkait wahid Hasyim.
KONSUMSI DAN REGULASI GANJA DI PRANCIS MASA EMMANUEL MACRON Nasution,, Diella Amanda; Miranda, Airin
Multikultura Vol. 1, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak pertama kali dinyatakan ilegal melalui la loi n° 70-1320 du 31 décembre 1970, kebijakan pemerintah Prancis terhadap ganja tidak mengalami perubahan yang signifikan. Menurut Ledsom (2019), Prancis merupakan salah satu negara dengan hukuman paling berat untuk penggunaan ganja di Eropa. Namun, meskipun memiliki hukum yang berat, Prancis merupakan salah satu negara dengan persentase konsumen ganja tertinggi di Eropa. Hasil survei populasi umum yang dilakukan oleh Santé Publique France dan OFDT menunjukkan bahwa ganja merupakan psikoaktif terlarang yang paling banyak digunakan di Prancis dan difusi ganja di Prancis terus meningkat sejak diberlakukannya kebijakan pelarangan tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai peran regulasi tersebut dalam menanggulangi permasalahan konsumsi ganja di Prancis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan teknik studi kepustakaan dengan sumber data kebijakan-kebijakan terkait yang membuktikan bahwa kebijakan yang berlaku tidak efektif. Pelarangan keras kepemilikan dan konsumsi ganja menimbulkan permasalahan-permasalahan yang tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga merugikan pemerintah dan negara Prancis. Hal ini lantas menimbulkan perdebatan dan protes terhadap pemerintah dari banyak pihak yang menuntut pemerintah untuk mengambil langkah legalisasi. Dalam menghadapi permasalahan ini, pemerintahan Emmanuel Macron kemudian memutuskan untuk mengambil jalan tengah, yaitu dekriminalisasi parsial serta percobaan penggunaan ganja untuk tujuan terapeutik. Meskipun kebijakan baru Macron dianggap tidak benar-benar menyelesaikan masalah, langkah ini berupaya untuk menghindari perselisihan antara pihak-pihak yang menuntut legalisasi ganja, serta pihak konservatif yang bersikeras mempertahankan hukum ganja yang represif.
MULTIKULTURALISME DI ASIA TENGGARA: SUATU TINJAUAN AWAL Tangkilisan, Yuda B.
Multikultura Vol. 1, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini, Multikulturalisme sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Hal itu karena kemajuan teknologi informasi ketika jarak sosial jauh lebih dekat dengan komunikasi multimedia. Multikulturalisme adalah istilah yang memiliki lebih dari satu makna dan ruang lingkup. Ini memiliki rentang makna mulai dari konsep, sikap, jenis pendidikan, studi hingga politik atau kebijakan publik. Tulisan ini membahas tentang multikulturalisme di Asia Tenggara, dari perspektif multidimensi historis, yang didasarkan pada sumber-sumber tertulis sekunder sebagai studi pendahuluan. Temuan menunjukkan bahwa ada beberapa konteks masalah, yaitu intra-, antar negara dan lingkup ASEAN. Konflik sosial, etnis dan budaya memiliki akar sejarah kolonialisme dan imperialisme barat yang memperkenalkan politik dan kebijakan pemisahan, segregasi, diskriminasi dan devide et impera di antara orang-orang terjajah yang dieksploitasi. Tampaknya nasionalisme dan negara-bangsa tidak memiliki cukup faktor pengintegrasi untuk menyatukan perbedaan etnis dan budaya. Oleh karena itu, multikulturalisme berperan penting dan berpengaruh besar untuk menciptakan ruang interaksi yang damai dan adil untuk mengatasi sumber konflik yang bersumber dari perbedaan. Orang-orang dan negara-negara Asia Tenggara menunjukkan bagaimana menciptakan dan menghidupkan kehidupan multikulturalisme.
WASEDA BOYS SEBAGAI AGEN PROMOSI PARIWISATA JEPANG MELALUI VLOG PERJALANAN WISATA PADA KANAL YOUTUBE NIHONGO MANTAPPU Lessy, Galuh Nurfaizah Novriainiah; Subagio, Didit Dwi
Multikultura Vol. 1, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tahun 2021 We Are Social mengumumkan bahwa YouTube telah menjadi media sosial teraktif di Indonesia. Pada platform YouTube, semua orang dapat mengakses dan membagikan berbagai informasi melalui unggahan dari kanal pilihan mereka. Penelitian ini memberikan gambaran tentang bagaimana pengaruh vlog perjalanan wisata Waseda Boys pada kanal YouTube Nihongo Mantappu terhadap para penontonnya. Kunci utamanya terletak pada kekuatan personal branding Waseda Boys sebagai Vlogger dan YouTuber di kanal YouTube Nihongo Mantappu yang memiliki ciri khas serta mampu mempegaruhi penonton dan pengikutnya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melalukan survei melalui kuesioner dan analisis tekstual dari data respon penonton vlog perjalanan Waseda Boys melalui kolom komentar pada unggahan vlog Waseda Boys di YouTube serta respon penonton yang dikemukakan di Twitter. Penelitian ini menemukan bahwa kuatnya personal branding Waseda Boys berhasil memancing keinginan penontonnya di YouTube untuk berwisata ke Jepang serta informasi yang disampaikan melalui unggahannya menjadi sumber informasi terkait wisata Jepang yang dapat diandalkan oleh calon wisatawan yang ingin berwisata ke Jepang.
APRESIASI DAN MAKNA KISAH MAHABHARATA DALAM MASYARAKAT JAWA KUNO Munandar, Agus Aris
Multikultura Vol. 1, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini membahas tentang kisah Mahabharata yang diapresiasi oleh masyarakat Jawa Kuno dalam abad ke-8—15 M. Bentuk apresiasi tersebut berupa karya sastra, penggambaran relief di candi-candi, dan juga beberapa tokoh dalam Mahabharata yang diarcakan. Kisah Mahabharata lebih populer daripada kisah Ramayana, uraiannya pun lebih luas, sekedar perbandingan beberapa data tentang kedua kisah itu adalah: Dewa utama yang dipuja dalam Ramayana ialah Visnu, sedangkan dalam Mahabharata adalah Siva Mahadeva, Ramayana mempunyai 7 kanda (jilid), sedangkan Mahabharata terdiri dari 18 parwa (bagian kisah), dalam Ramayana adanya tokoh hewan yang berperang, sedangkan dalam Mahabharata sepenuhnya tokoh-tokoh manusia. Setelah dilakukan telaah terhadap uraian kisah Mahabharata dan dampaknya pada masyarakat Jawa Kuno, maka dapat diketahui bahwa kisah Mahabharata (a) mengajarkan detail-detail sistem kerajaan di Jawa, (b) menjadi acuan tindakan bagi para raja dan ksatrya Jawa Kuno, (c) sebagai kisah yang menjadi latar belakang pemujaan nenek moyang, dan (d) tokoh-tokoh cerita dalam Mahabharata menjadi acuan sifat baik dan buruk. Kisah Mahabharata pun sampai sekarang masih dikenal terutama dalam etnik Jawa, Sunda. dan Bali dalam bentuk pagelaran wayang kulit, wayang golek, wayang wong, sendratari, dan bentuk seni pertunjukan lainnya yang berlatar belakang petikan dari kisah tersebut. Mahabharata bukanlah sembarang kisah kepahlawanan, melainkan juga kisah keagamaan yang secara tidak langsung mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang dinarasikan dalam untaian cerita. Hal yang menarik dalam masyarakat Jawa kisah Mahabharata telah dianggap sebagai karya susastra milik orang Jawa sendiri, bukan dari budaya India.
KRITIK IBNU RUSYD ATAS KONSEP EMANASI IBNU SINA DALAM FILSAFAT ISLAM Salsabila, Aghnia; Asnawi, Naupal
Multikultura Vol. 1, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Filsafat Islam berawal dari usaha penerjemahan teks filsafat Yunani atas dasar kebutuhan perkembangan ilmu pengetahuan. Adalah Ibn Sina, salah satu filsuf muslim mengelaborasikan konsep emanasi Neoplatonisme sebagai usaha validasi konsep ketuhanan dalam Islam Namun, terjadi percampuran teks ajaran Aristoteles dengan ajaran Neoplatonisme. Kemudian, kritik dari Ibnu Rusyd meluruskan kembali ajaran Aristoteles dari pengaruh orang ketiga, termasuk konsep emanasi dari Ibnu Sina. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif: melakukan deskripsi dan analisis atas tulisan/komentar atas pemikiran Ibn Sina dan Ibn Rusyd. Hasil akhir dari penelitian ini adalah kritik Ibnu Rusyd berperan 1) menjelaskan adanya percampuran konsep Aristoteles dan Neoplatonisme, 2) menjelaskan ketidakcocokan ajaran Neoplatonisme dengan ajran agama Islam yang ada dalam konsep emanasi Ibnu Sina.
KOSMOLOGI MASYARAKAT MINANGKABAU MELALUI KEARIFAN LOKAL RIMBO LARANGAN UNTUK KONSERVASI LINGKUNGAN Febriani, Rika; Murtinigsih, Siti
Multikultura Vol. 1, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia dan alam merupakan dua komponen yang tidak terpisahkan. Keduanya adalah suatu jalinan yang terhubung dengan cara yang kompleks. Krisis lingkungan menjadi ancaman yang cukup nyata pada saat ini. Berbagai fenomena alam seperti: musim panas dan hujan yang datang tidak teratur merupakan contoh bahwa terjadi ketidakseimbangan di alam. Artikel ini berargumentasi bahwa pengetahuan dan yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat dapat membantu pelestarian lingkungan di daerah tersebut. Hal ini disebabkan jaringan sosial menghasilkan sejumlah pengetahuan bersama antara manusia dan alam dapat membentuk cara hidup suatu kelompok masyarakat. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan melakukan telaah literatur, observasi lingkungan, dan wawancara mendalam dengan tokoh adat, masyarakat adat, dan masyarakat umum untuk mengidentifikasi dan menganalisis kearifan lokal pada masyarakat Minangkabau yang memiliki kearifan lokal melalui hutan larangan dan tanah ulayat dalam pelestarian lingkungannya. Temuan utama dalam penelitian ini adalah kearifan lokal melalui hutan larangan dapat membantu konservasi lingkungan. Pemerintah dapat mendukung kearifan lokal ini melalui peraturan hukum.
SAWAH SEBAGAI MEDIA HEALING PADA MASYARAKAT MODERN Setiawan, Dani; Murtinigsih, Siti
Multikultura Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sawah merupakan salah satu lingkungan pertanian hidup yang terus menjadi perhatian berbagai pihak. Sawah tidak hanya menjadi suatu komoditas tempat penghasil pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi makro. Sawah mempunyai makna tinggi secara metafisika yaitu sawah menyimpan kandungan partikel oksigen yang dibutuhkan tubuh setiap manusia termasuk sebagian orang yang sering melakukan bermain ke sawah. Sawah pada masa sekarang dimaknai sebagai tempat untuk berelaksasi psikis, bahkan untuk melakukan healing yang diyakini sawah mempunyai energi hijau dengan ketataruangan terbuka dengan udara bersih dan kesejukannya. Sawah bagi sebagian masyarakat modern dibutuhkan untuk mendapatkan ketenangan dan menggantikan suasana kota yang penuh dengan persoalaan dinamika kehidupan. Sawah dalam pemaknaan di era modern sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di bidang usaha coffeeshop dengan membuka ruang kerja (Co-working) bagi setiap pengunjungnya yaitu sambil kerja, menikmati minuman kopi dan sekaligus dapat melakukan healing. Gambaran sawah sebagai pranata mangsa di masyarakat, sebagai ruang hidup yang sakral dari sawah, sawah pun mewujudkan tradisi ritual berbentuk artefak budaya wiwitan dan menghidupkan strategi kosmologi sawah.
KOMPONEN MAKNA “IKHLAS” DAN “RIDA” DALAM ALQURAN Fatimah, Rofi Annur; Imamuddin, Basuni
Multikultura Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis makna kata “ikhlas” dan “rida” dalam Alquran yang dilatarbelakangi hasil pengamatan penulis di masyarakat dalam penggunaan kata ikhlas dan rida. Dalam masyarakat kata ikhlas dan rida digunakan untuk menyatakan rasa rela terhadap sesuatu. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis komponen makna yang dikemukakan oleh Eugene Nida pada tahun 1975. Dalam bukunya yang berjudul Componential Analysis of Meaning: An Introduction to Semantic Structures, Eugene Nida menyatakan terdapat tiga bentuk komponen makna, ketiga komponen makna tersebut adalah komponen makna umum, komponen pembeda, dan komponen pelengkap. Dalam melakukan analisis komponen makna terdapat 4 langkah, yaitu: penamaan, parafrasa, pendefinisian, dan terakhir adalah pengklasifikasian. Hasil dari penelitian ini adalah komponen makna umum dari ikhlas adalah ‘keikhlasan’, komponen makna umum dari rida adalah ‘rela’, komponen makna pembeda dari ikhlas adalah ‘ketulusan’, ‘kejujuran’, ‘keterbukaan’, dan ‘kesetiaan’, komponen makna pembeda dari rida adalah ‘persetujuan’, ‘kesenangan’, ‘kepuasan’, ‘penerimaan’, ‘sanki’, dan ‘perdamaian’. “Ikhlas” adalah aktivitas yang dilakukan manusia hanya untuk Allah dan agama-Nya. “Rida” adalah aktivitas yang dilakukan manusia kepada Allah, agama, dan sesama manusia
FEMININITAS GEISHA DALAM GEISHA, A LIFE KARYA IWASAKI MINEKO Indriani, Kaninda Rizki; Janti, Ilma Sawindra
Multikultura Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Geisha, sebagai salah satu pelaku seni yang menjadi ikon kebudayaan Jepang merupakan seseorang yang memiliki kemampuan dan keterampilan dalam bidang keseninan, terutama kesenian tradisional Jepang yang bekerja untuk menghibur orang lain berdasarkan kesenian yang mereka kuasai. Sebagai seorang geisha, femininitas merupakan hal yang harus dimiliki. Menurut Angela McRobbie, femininitas merupakan sebuah bagian dari ideologi dominan yang berperan untuk mendefinisikan kehidupan wanita. Femininitas ini dapat dilihat dari penampilan, cara berbicara, dan cara bertindak seorang geisha. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana femininitas geisha direpresentasikan dalam autobiografi yang berjudul Geisha, a Life karya Iwasaki Mineko dan Rande Brown. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan potongan kalimat hingga paragraf dalam autobigrafi yang dianggap berkaitan dengan penelitian. Potongan kalimat akan diambil dari autobiografi Geisha, a Life karya Iwasaki Mineko dan Rande Brown. Konsep femininitas berdasarkan pengertian dari Angela McRobbie. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa femininitas geisha direpresentasikan oleh Iwasaki Mineko melalui cara berpakaian yaitu dengan memakai pakaian tradisional Jepang, kimono, cara berbicara yaitu dengan menggunakan dialek Gion serta cara bertindaknya yaitu dengan memperhatikan cara berjalan, pembawaan, dan ekspresi yang diperlihatkan.

Page 8 of 17 | Total Record : 162