cover
Contact Name
Devi Oktafiani
Contact Email
devioktafiani.fk.untad@gmail.com
Phone
+6285232897873
Journal Mail Official
tadulakomedika@gmail.com
Editorial Address
Jalan Soekarno Hatta, KM.09, Kota Palu
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran
Published by Universitas Tadulako
ISSN : 23551933     EISSN : 25807390     DOI : https://doi.org/10.22487/mtj.v9i2
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Medika Tadulako merupakan jurnal ilmiah yag menerbitkan artikel hasil penelitian, literatur review, case report pada bidang Ilmu Kedokteran, Mikrobiologi, Biokimia, Anatomi, Pendidikan Kedokteran
Articles 72 Documents
ANALISIS GAMBARAN FOTO TORAKS DENGAN DERAJAT KEPARAHAN GEJALA KLINIS PADA PASIEN PNEUMONIA ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM ANUTAPURA KOTA PALU PROVINSI SULAWESI TENGAH Nabil Rabbani Putra Permana; Ria Sulistiana; Sarifuddin; Muh Nur Ikhsan Liwang
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Vol. 8 No. 1 (2023): Maret
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/mtj.v8i1.813

Abstract

Latar Belakang: Pneumonia merupakan penyebab kematian menular terbesar pada anak di bawah 5 tahun di seluruh dunia. Pada tahun 2013 di Indonesia, pneumonia telah merenggut sekitar 25.000 jiwa balita. Di Provinsi Sulawesi Tengah sendiri, terdapat 1.354 balita yang menderita pneumonia. Penegakan diagnosis pneumonia cukup sulit, manifestasi klinik pneumonia anak menimbulkan gejala mirip non-spesifik sehingga X-ray thoraks dilakukan sebagai penegak diagnosis dan keparahan pneumonia. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara gambaran foto toraks dengan derajat keparahan gejala klinis pada pasien pneumonia anak di Rumah Sakit Umum Anutapura Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Metode: Penelitian menerapkan desain analisis retrospektif pada data rekam medis pasien pneumonia anak periode Maret 2020 – 31 Maret 2022 di RSU Anutapura. Data kemudian di seleksi melalui kriteria inklusi dan eksklusi. Gambaran foto toraks (konsolidasi, infiltrat, dan efusi pleura) dan derajat keparahan gejala klinis (ringan, sedang, dan berat) kemudian diamati. Hasil: Terdapat 159 dari 208 data rekam medis yang memenuhi kriteria. Laki- laki merupakan jenis kelamin yang umum diamati (60,4%) dengan rentang usia terbanyak pada 1 bulan – 5 tahun (81,8%). Gambaran foto toraks menunjukkan infiltrat sebagai gambaran umum (84,9%), diikuti konsolidasi (9,4%), dan efusi pleura (5,7%). Mayoritas pasien menunjukkan gejala ringan (52,8%), diikuti gejala berat (45,3%), dan gejala sedang (1,9%). Korelasi antara gambaran dan derajat keparahan gejala klinis tidak menunjukkan hubungan signifikan (p value 0,438). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara gambaran foto toraks dengan derajat keparahan gejala klinis pada pasien pneumonia anak di RSU Anutapura. Kata Kunci: Pneumonia, anak, foto toraks, derajat keparahan.
BIOTEKNOLOGI PADA MATURE HUMAN PLURIPOTENT STEM CELL KARDIOMIOSIT Puspita Sari
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Vol. 8 No. 1 (2023): Maret
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/mtj.v8i1.816

Abstract

Tidak seperti sel otot, sel darah, atau sel saraf—yang biasanya tidak bereplikasi—sel punca dapat bereplikasi berkali-kali. Sel induk memiliki potensi luar biasa untuk memperbaharui diri. Mereka dapat berkembang menjadi berbagai jenis sel dalam tubuh selama awal kehidupan dan pertumbuhan. Sel induk berpotensi majemuk memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi semua sel tubuh orang dewasa. Sel induk dewasa ditemukan dalam jaringan atau organ dan dapat berdiferensiasi untuk menghasilkan jenis sel khusus dari jaringan atau organ tersebut. Salah satu cara yang sering dilakukan untuk memperbaiki sel jantung adalah dengan penggantian sel melalui yang dibantu melalui rekayasa genetika dan pemberian biomaterial.
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN PLATELET RICH PLASMA (PRP) PADA PENDERITA DIABETIC FOOT ULCERS Intania Riska Putrie; Devi Oktafiani; Tri Juni Wijatmiko; Rosdiana Mus
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Vol. 8 No. 1 (2023): Maret
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/mtj.v8i1.838

Abstract

ABSTRAK Penggunaan PRP dalam 10 tahun terakhir menjadi salah satu alternatif mempercepat kesembuhan pada luka. Sifat terapeutik PRP sebagian besar didukung oleh pelepasan faktor pertumbuhan setelah trombosit diaktifkan. Prevalensi terjadinya diabetes melitus khususnya diabetes melitus tipe II mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Penderita diabetes memiliki resiko sekitar 25% mengalami Diabetic Foot Ulcers (DFU). DFU merupakan salah satu cedera pada penderita diabetes kronis yang paling umum dan menjadi penyebab utama terjadinya amputasi non-tramatic. Pasien dengan DFU selalu memiliki proses penyembuhan luka yang buruk dan peningkatan terjadinya kekambuhan pada luka yang terbentuk. Penyebab utama penderita DFU kesulitan mengalami penyembuhan karena adanya infeksi, gangguan perbaikan fungsi jaringan dan hilangnya sekresi growth factor. Saat ini standar perawatan DFU yang utama melibatkan perawatan luka, pemilihan sepatu dan perawatan tambahan lainnya. Terapi sel menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan untuk perawatan DFU, seperti stem cell dan Platelet-Rich Plasma (PRP). PRP memiliki banyak kandungan growth factor yang berperan penting dalam perbaikan dan regenerasi jaringan. Penelitian Ullah et al (2022) menunjukkan bahwa injeksi PRP lebih baik dalam penanganan DFU dibandingkan dengan metode konvesional. ABSTRACT The use of PRP in the last 10 years has become an alternative to accelerate wound healing. The therapeutic properties of PRP are largely supported by the release of growth factors after platelets are activated. The prevalence of diabetes mellitus, especially type II diabetes mellitus, has been increased from time to time. Diabetics have about a 25% risk of experiencing Diabetic Foot Ulcers (DFU). DFU is one of the most common injuries in chronic diabetics and is the leading cause of non-traumatic amputations. Patients with DFU invariably have a poor wound healing process and an increased occurrence of recurrence of the wounds that form. The main causes of DFU patients have difficulty healing due to infection, impaired tissue function repair and loss of growth factor secretion. Currently, the main standard of care for DFU involves wound care, shoe selection and other ancillary care. Cell therapy is a promising alternative for DFU treatment, such as stem cells and Platelet-Rich Plasma (PRP). PRP contains many growth factors which play an important role in tissue repair and regeneration. Research by Ullah et al (2022) shows that PRP injection is best in treating DFU compared to conventional methods.
GAMBARAN RHEUMATOID ARTHRITIS (RA) PADA LANSIA DI KELURAHAN ANTANG Rosdiana mus; Sutia Waidoba; Hairuddin Kudding; Mutmainnah Abbas; Dylan Tamalsir
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Vol. 8 No. 1 (2023): Maret
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/mtj.v8i1.840

Abstract

Rheumatoid Arthritis (RA) is a progresive autoimune disease and chronic inflammation that attacks the musculoskeletal system but can include organs and body system as a whole, and synovial tissue damage occurs along with impaired mobility accompanied by premature death. RA is a chronic autoimmune inflammatory disorder or autoimmune response. A person’s immune system can be compromised and lowered, which destroys the joints andd lining of the synovial organs, especially the hands, feet, and kness. This study aims to find an overview of RA in the elderly on Kelurahan Antang. The research method used is observational criteria,elderly aged 56-65 years, have symptoms of join pain. The inspection method used is the latex slide ttest method.The results obtanied from 15samples obtained negattive RF examination, with the age group 56-65 years consisting of 2 men and 13 women. Therefore, the conclusion from the 15 research samples was negative RF examination results from all respondents.
HUBUNGAN MEROKOK SEBAGAI FAKTOR RISIKO PENYEBAB INSOMNIA PADA PEROKOK AKTIF USIA REMAJA Moh Fadly Luneto; Yuli Fitriana; Miranti; Jane Mariem Monepa
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Vol. 8 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/mtj.v8i2.875

Abstract

   ABSTRAK  Latar Belakang: Banyaknya efek samping rokok yang disosialisasikan tidak mengurangi angka penggunaan rokok di Indonesia. Indonesia merupakan pengguna rokok terbanyak ke 3 di dunia. Dari banyaknya efek samping rokok, gangguan siklus tidur merupakan gejala yang paling sering timbul pada perokok aktif. Gejala yang timbul yakni berupa perasaan waspada serta terjaga yang merupakan efek stimulus dari kandungan nikotin yang terkandung dalam rokok dalam hal ini menyebabkan insomnia.  Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara merokok sebagai faktor risiko penyebab insomnia pada perokok aktif usia remaja  Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah Mahasiswa Angkatan 2021 di Fakultas Hukum Universitas Tadulako dengan jumlah responden sebanyak 88 responden yang diklasifikasikan berdasarkan derajat merokok. Analisis data dilakukan dengan uji statistik non parametrik yaitu Spearman’s correlation.  Hasil: nilai signifikansi penelitian adalah 0,000 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara perilaku merokok dengan kejadian insomnia. Dari hasil penelitian didapatkan responden terbanyak merupakan perokok ringan dengan kejadian insomnia ringan dan responden yang merupakan perokok sedang mengalami insomnia sedang serta tidak terdapat sampel yang merupakan perokok berat.  Kesimpulan: Terdapat hubungan antara konsumsi rokok dengan kejadian insomnia pada perokok aktif usia remaja.  ABSTRACT  Background: The many socialized side effects of smoking do not reduce the number of cigarette use in Indonesia. Indonesia is the 3rd most cigarette user in the world. Of the many side effects of tobacco, sleep cycle disturbance is the most common symptom in active smokers. The symptoms that arise are a feeling of alertness and wakefulness, which is the stimulus effect of the nicotine content contained in cigarettes which, in this case, causes insomnia.  Objective: This study aims to determine the relationship between smoking as a risk factor for insomnia in active adolescent smokers  Methods: This research is a quantitative study with a cross-sectional approach. The research sample was Batch 2021 students at the Faculty of Law, Tadulako University, with 88 respondents classified based on smoking. Data analysis using a non-parametric statistical test, Spearman's correlation.  Result: the significance value of the study was 0.000 indicating a significant relationship between smoking behavior and the incidence of insomnia. From the results, most respondents were light smokers with mild insomnia, and respondents who were moderate smokers experienced moderate insomnia, and there were no samples who were heavy smokers.  Conclusion: There is a relationship between cigarette consumption and the incidence of insomnia in active adolescent smokers. 
VIRUS ONKOGENIK DAN MEKANISME ONKOGENESIS Puspita Sari
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Vol. 8 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/mtj.v8i2.894

Abstract

   ABSTRAK  Virus mendorong terjadinya transformasi ganas pada sel yang merupakan langkah awal dalam proses onkogenesis kompleks. Gen dalam genom virus yang mengubah host dalam mengontrol proliferasi sel, sehingga menyebabkan sintesis protein baru dan bertanggungjawab untuk karakteristik transformasi tersebut. Onkogen dapat dikategorikan ke dalam lima kelompok dalam hal sifat biokimia dan fungsional berdasarkan protein yang dihasilkan dari protoonkogen. Kelompok ini adalah faktor pertumbuhan, reseptor faktor pertumbuhan, transduser sinyal, faktor transkripsi dan lain-lain.  ABSTRACT  Viruses promote the malignant transformation of cells which is the initial step in the complex process of oncogenesis. Genes in the viral genome that transform the host control cell proliferation, thereby causing the synthesis of new proteins, and are responsible for characterizing that transformation. Oncogenes can be categorized into five groups in terms of biochemical and functional properties based on the proteins produced from proto-oncogenes. This group comprises growth factors, growth factor receptors, signal transducers, and transcription factors. 
PERBANDINGAN SKOR DAN TINGKAT KELULUSAN PRAKTIKUM HISTOLOGI DENGAN METODE DARING DAN LURING SELAMA PANDEMI COVID-19 david pakaya; Yuli Fitriana; Mohammad Salman; Fauziah Amining
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Vol. 8 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/mtj.v8i2.895

Abstract

SINDROM STEVENS-JOHNSON DENGAN HIPOALBUMINEMIA BERAT AKIBAT ASAM MEFENAMAT: CASE REPORT Rais Trisiyambudi
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Vol. 8 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/mtj.v8i2.897

Abstract

   ABSTRAK  Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) merupakan kondisi kegawatdaruratan kulit dengan karakteristik terdapat nekrolisis pada lapisan epidermis dan mukosa. Salah satu penyebab SSJ adalah pemberian obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) seperti asam mefenamat. Kondisi SSJ dengan hipoalbuminemia berat dapat mempengaruhi durasi perawatan dan prognosis pasien. Pada laporan kasus ini mendeskripsikan kasus SSJ dengan hipoalbuminemia berat akibat asam mefenamat pada seorang perempuan 42 tahun dengan keluhan demam dan ruam kemerahan disertai kulit melepuh pada area wajah,leher,perut dan mukosa mulut setelah 3 hari konsumsi asam mefenamat. Pasien diberikan terapi resusitasi cairan, antibiotik dan kortikosteroid sistemik dan menunjukan perbaikan klinis. Namun, kondisi hipoalbuminemia menyebabkan durasi perawatan lebih panjang. Identifikasi tanda dan gejala awal serta perhatian khusus terhadap pemberian OAINS pada pasien berisiko alergi merupakan kunci untuk meminimalisir risiko SSJ.  ABSTRACT  Stevens-Johnson Syndrome (SJS) is an emergency skin condition characterized by necrolysis of the epidermis and mucosal layers. One of the causes of SJS is administration of non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) such as mefenamic acid. The condition of SJS with severe hypoalbuminemia can affect the duration of treatment and the patient's prognosis. This case report describes a case of SJS with severe hypoalbuminemia due to mefenamic acid in a 42-year-old woman with complaints of fever and rash accompanied by blisters on the face, neck, stomach and oral mucosa after 3 days of consuming mefenamic acid. The patient was given with fluid resuscitation, antibiotics and systemic corticosteroids therapy and clinical improvement was achieved. However, the condition of hypoalbuminemia led to a longer duration of treatment. Identification of early signs and symptoms as well as special attention to the administration of NSAIDs in patients at risk of allergy is the key to minimizing the risk of SJS. 
GLIMEPIRIDE PENCETUS REAKSI ANAFILAKSIS AKUT: LAPORAN KASUS DAN TINJAUAN PUSTAKA Muhammad Yatsrib Semme; Prema Hapsari Hidayati
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Vol. 8 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/mtj.v8i2.946

Abstract

   ABSTRAK  Anafilaksis adalah reaksi hipersensitivitas sistemik yang berat dan dapat mematikan, mempengaruhi banyak sistem organ, dapat dipicu oleh banyak faktor dan situasi. Alergi makanan, obat-obatan, aktivitas fisik, dan tekanan mental semuanya bisa menjadi pemicu. Seorang wanita berusia 65 tahun datang dengan tanda-tanda klinis gangguan respirasi seperti dispneu dan hipoksemia, serta gejala kulit berupa angioedema dan urtikaria yang luas. Glimepiride dianggap sebagai pemicunya. Diagnosis klinis anafilaksis akut dibuat sesuai dengan standar pedoman internasional yang berlaku. Pengobatan lini pertama adalah injeksi epinefrin, diikuti dengan pemantauan gejala obstruksi jalan napas, respirasi, dan kardiovaskular. Secara klinis, pasien membaik setelah lebih dari 24 jam observasi. Anafilaksis dapat menyebabkan kematian dan kecacatan.  ABSTRACT  Anaphylaxis is a severe and potentially lethal systemic hypersensitivity reaction, affecting multiple organ systems, and can be triggered by many factors and circumstances. Food allergies, medications, physical activity, and mental stress can all be the triggers. A 65 year old woman presented with clinical signs of respiratory disorders such as dyspnea and hypoxemia, as well as skin symptoms such as angioedema and extensive urticaria. Glimepiride is thought to be the trigger. The clinical diagnosis of acute anaphylaxis was made according to international guidelines. First-line treatment is epinephrine injection, followed by monitoring for obstructive airway, respiratory, and cardiovascular symptoms. Clinically, the patient improved after more than 24 hours of observation. Anaphylaxis can cause death and disability. 
ANALISIS KORELASI DATA KLINIKOPATOLOGI DENGAN SUBTIPE HISTOPATOLOGI KARSINOMA SEL BASAL RISIKO RENDAH Alfina Putri Assyifahani; Oke Kadarullah; Apriludin; Ira Citra Ningrom
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Vol. 8 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/mtj.v8i2.964

Abstract