cover
Contact Name
Ilham Rifandi
Contact Email
ilhamrifandi@unimed.ac.id
Phone
+6281378916902
Journal Mail Official
jurnalgestus@unimed.ac.id
Editorial Address
Jl. William Iskandar Ps. V, Medan Estate, Kec. Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara 20222
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Gestus Journal
ISSN : -     EISSN : 29630592     DOI : https://doi.org/10.24114/gsts
Gestus Journal : is a journal of art creation and study managed by the Performing Arts Study Program, Sendratasik, faculty of Language and Art, State University of Medan. This journal publishes original articles with a focus on the creation and study of Performing Art. Scope areas are: Art History, Cultural studies, performance studies, philosophy of art, Sociology of the Arts, Film, Multimedia, Creative Processes and conceptual research in Performing Arts.
Articles 46 Documents
The Song Of Gandang Tambua Azizi Afwan; Rafiloza Rafiloza; Rosmegawaty Tindaon
Gestus Journal: Penciptaan dan Pengkajian Seni Vol 1 No 2 (2021): GESTUS JOURNAL : PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gsts.v1i2.27414

Abstract

The Song Of Gandang Tambua is a work of sound art inspired by the phenomenon of the traditional art of Gandang Tasa in Pariaman, West Sumatra. The phenomenon of the existence of Gandang Tasa is the main interest of this paper. The author formulates three things that are the reasons why Gandang Tasa still exists today: œdiversity, œcohesiveness, and people's œlove for the art of Gandang Tasa are the three reasons why Gandang Tambua still exists today. With these three backgrounds, the artist was inspired to create a programa music using traditional western music techniques such as Retrograde, Augmentation, Diminusion, Imitation, Repetition, Sequence and Canon. The method of creation is carried out by several work groupings: Concept Development Method (Observation, Interview, Data Collection and Concept Formulation); and Methods of Realizing the Concept (Exploration, Experimentation, and Application). In describing expression, this musical composition is made in the form of three parts, each of which is entitled œRagam, œKompak and œCinta with a mixed ensemble formation.Keywords: Gandang Tambua, Gandang Tasa, Program Music.
Sintaksis Nyaru : Komposisi Musik Generatif dalam Ansambel Campuran Gen Dekti Dekti; Rosmegawaty Tindaon; Zainal Warhat
Gestus Journal: Penciptaan dan Pengkajian Seni Vol 1 No 2 (2021): GESTUS JOURNAL : PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gsts.v1i2.27421

Abstract

Sintaksis Nyaru is an artificial musical composition that departs from the musical event of the Nyaru mantra in the Asyeik Pumbaru Jikat ritual as a natural composition grammar. The concept of the work of Sintaksis Nyaru is an elaboration of the construction of a musical hierarchy of mantras using a Generative Music system approach which is realized in the formation of a Mixed Ensemble. Overall, this composition offers two types of branching regarding the sequence of musical events, namely the right branch indicates retention and depending on memory, the left branch indicates retention and depends on expectation. The method of creating works is divided into three stages. The first stage determines the placement of Composition and Intuition Grammar. Second, form a Sequence of Events (Musical Works). Third, determine the structural description of the work. There are five parts (Arch Form) of the local structure consisting of part I (protention), part II (retention), part III (complexity), part IV (retention), part V (re-protection). The conclusion resulting from the psychological distance of the horizontal and vertical dimensions obtained from the attraction value of the global structure is 29,397 with the direction of relaxing movement.Keywords: Asyeik Ritual, Mantra Nyaru, Generative Music, Arch Form, Mixed Ensemble 
Tari Angguk Sebagai Warisan Budaya Pada Masyarakat Jawa di Desa Dalu X B Vilia Chintya Sihaloho; Yusnizar Heniwaty
Gestus Journal: Penciptaan dan Pengkajian Seni Vol 1 No 2 (2021): GESTUS JOURNAL : PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gsts.v1i2.28126

Abstract

Tari Angguk sebagai Warisan Budaya Masyarakat Jawa di Dalu X B dikaji dengan menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan berdasarkan kondisi sebenarnya dilapangan dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Proses analisis digunakan teori pewarisan C.H Colley dan teori sejarah dari Roeslan Abdulgani serta teori bentuk menurut Sal Murgiyanto. Berdasarkan penelitian diketahui : (1) Sejarah persebaran Tari Angguk di Desa Dalu X B karena adanya transmigrasi pada masa Kolonialisme Belanda sehingga masyarakat Jawa tinggal dan menetap di Sumatera Utara dan melakukan aktifitas adat; (2) Pewarisan tari ini dilakukan dengan cara latihan dan melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan tari ini. Tari ini masih terjaga karena adanya kerjasama antara pemilik sanggar, masyarakat dan pemerintah setempat. Hal ini tercermin dari penonton yang ramai saat pementasan Angguk pada acara masyarakat. (3) Bentuk Tari Angguk terdiri atas tigabelas judul lagu yang dilakukan dalam tiga tahapan. Instrumen yang digunakan sebagai music pengiring Angguk diantaranya, kendang, bedug, tamborin dan kerincingan.  Tatarias yang digunakan make-up sehari-hari karena penari menggunakan kacamata, dan penari mengggunakan busana yang menyerupai seragam prajurit Belanda.Kata Kunci : Sejarah, Pewarisan, Pementasan Tari Angguk
Tari Hadra Pada Masyarakat Tanjung Morawa Kajian Tekstual dan Kontekstual Adinda Sandra Ersuci; Nurwani Nurwani
Gestus Journal: Penciptaan dan Pengkajian Seni Vol 1 No 2 (2021): GESTUS JOURNAL : PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gsts.v1i2.28200

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Tekstual dan Kontekstual Tari Hadrah pada masyarakat Desa Dalu X B Tanjung Morawa. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Sampel penelitian adalah narasumber dan pemilik sanggar. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa; Tari Hadrah yang berartikan hadir, tarian ini diiringi oleh musik melayu serta Shalawat dengan syair berisikan pujian-pujian kepada Allah SWT. Tari ini mampu bertahan dalam lingkungan masyarat Dalu X B karena masyarakat dan pemilik sanggar saling bekerjasama dengan menampilkan tari ini dalam acara seperti, khitanan,dan acara-acara Islami lainnya. Kata Kunci : Tari Hadrah, Tekstual, Kontekstual.
Sumpah Suci Anggun Nan Tongga : Indang Piaman Pada Penciptaan Teater Musikal Putra Ridho Ilahi; Yusril Yusril; Dharminta Soeryana
Gestus Journal: Penciptaan dan Pengkajian Seni Vol 1 No 2 (2021): GESTUS JOURNAL : PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gsts.v1i2.28217

Abstract

Sumpah Suci Anggun Nan Tongga adalah pertunjukan teater yang menggunakan pendekatan bentuk teater musikal dan memanfaatkan pola Indang Piama. Rumusan masalah dari proses penciptaan teater ini adalah bagaimana mewujudkan pertunjukan teater musikal Sumpah Suci Anggun Nan Tongga dengan pola indang piaman. Tujuan dari penciptaan karya ini terbagi menjadi dua, yaitu praktis dan akademis. Secara praktis karya ini bertujuan untuk menawarkan dan mengenalkan bentuk teater musikal kepada masyarakat. Secara akademis karya ini bertujuan untuk menawarkan konsep dan metode untuk menciptakan pertunjukan teater musikal berbasis seni tradisi. Metode penciptaan yang digunakan terdiri dari dua metode, yaitu metode penelitian dan metode penyutradaraan. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi dan wawancara, sedangkan metode penyutradaraan yang digunakan adalah menentukan cerita, penyeleksian pemeran, pelatihan akting, komposisi musik, koreografi tari, latihan gabungan.  Hasil yang dicapai dari proses penciptaan karya teater ini adalah pertunjukan teater musikal yang menitikberatkan pada kekuatan akting dan nyanyian. Kata Kunci: Anggun Nan Tongga, Indang Piaman, Teater Musikal
Hamagoan Sasada Inang : Ritual Kematian Toping Huda-Huda Pada Penciptaan Tari Santa Ayu Luksianasaragih
Gestus Journal: Penciptaan dan Pengkajian Seni Vol 1 No 2 (2021): GESTUS JOURNAL : PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gsts.v1i2.28248

Abstract

Toping Huda-Huda merupakan salah satu ritual upacara kematian dari etnis Simalungun. Dalam penciptaan tari Hamagoan Sasada Inang, koreografer menggunakan teori Alma Hawkins. Metode penelitian yang digunakan pada metode kualitatif yang bersifat deskriptif yang mencangkup tentang penelitian yang di peroleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi serta menganalisis dan mendeskripsikan data. Munculnya koreografi Toping Huda-Huda dengan pola garap yang baru dan membentuk koreografi garapan baru yang berakar dari ritual Toping Huda-Huda pada masyarakat Simalungun.    Kata Kunci: Ritual Kematian, Toping Huda-Huda, Koreografi Hamagoan Sasada Inang
Mangondas Huhut Mangula : Turahan Pada Masyarakat Simalungun Dalam Koreografi Novi Purwati; Nurwani Nurwani
Gestus Journal: Penciptaan dan Pengkajian Seni Vol 1 No 2 (2021): GESTUS JOURNAL : PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gsts.v1i2.28324

Abstract

Turahan merupakan karya tari tradisional etnis Simalungun, karya tari Turahan merupakan peninggalan dari para raja untuk membangun rumah Bolon. Turahan artinya gotong royong yang dilakukan oleh seluruh masyarakat Simalungun, karya ini merupakan sumber penciptaan karya tari œMangondas Huhut Mangula. Adapun tujuan dari karya tari ini yaitu sebagai bahan apresiasi kepada masyarakat Simalungun. Untuk mencari sumber garapan karya tari menggunakan teori Alma Hawkins. Karya tari Mangondas Huhut Mangula digarap menjadi tiga bagian, adapun pada bagian pertama menggambarkan kegiatan masyarakat yang sedang melakukan aktivitas sehari-hari seperti bertani, kemudian pada bagian kedua menggambarkan masyarakat Simalungun sedang melakukan musyawarah untuk melakukan kegiatan pembangunan rumah Bolon, pada bagian terakhir menggambarkan ritual pemanggilan roh untuk membantu mereka mulai dari penebangan pohon hingga pembangunan rumah Bolon. 
Analisis Tokoh Tuan Durand dalam Naskah Kematian yang Direncanakan karya August Strinberg Ikhsan Satria Irianto
Gestus Journal: Penciptaan dan Pengkajian Seni Vol 2 No 1 (2022): GESTUS JOURNAL : PENGKAJIAN DAN PENCIPTAAN SENI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gsts.v2i1.35025

Abstract

Analisis tokoh Tuan Durand dalam naskah Kematian yang Direncanakan merupakan upaya penelusuran visi dramatik August Strinberg melalui tokoh Tuan Durand. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif analitik. Tahapan analisis yang dilakukan antara lain: analisis tokoh berdasarkan jenis kedudukan, analisis tokoh berdasarkan tipe perwatakan, analisis tokoh berdasarkan tipe perwatakan, analisis relasi antar tokoh dan analisis relasi tokoh dengan struktur naskah. Kesimpulan dari proses analisis ini adalah tokoh Tuan Durand adalah tokoh protagonis yang memiliki karakter yang kompleks.
Kande Sebagai Ide Penciptaan Lampu Hias Baihaqi Baihaqi
Gestus Journal: Penciptaan dan Pengkajian Seni Vol 2 No 1 (2022): GESTUS JOURNAL : PENGKAJIAN DAN PENCIPTAAN SENI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gsts.v2i1.35028

Abstract

Kande merupakan lampu minyak yang berfungsi sebagai penerang bagi masyarakat Aceh di masa lalu. Kandedigunakan dalam upacara adat perkawinan, penyambutan tamu-tamu kerajaan dan penerang di meunasah maupun masjid. Secara fisik kande terdiri diri dua bentuk berdasarkan pendepatan yaitu digantung dan duduk. Badan kande terdiri dari tempat sumbu, tempat minyak, gagang, badan kande ,dan alas. Bentuk dan keberadaan kande tersebut menginspirasi penciptaan karya kriya logam.Ide penciptaan karya ini berangkat dari bentuk kande sebagai upaya pelestarian untuk membangkitkan nilai-nilai yang terkandung pada kande dalam masyarakat Aceh. Penciptaan ini di dasari oleh konsep pelestarian. Upaya tersebut dilahirkan kedalam karya kriya logam berbentuk tiga dimensi yang berfungsi sebagai lampu hias. Penciptaan karya ini menggunakan bahan plat seng, plat kuningan dan kawat tembaga dengan teknik patri lunak. Penciptaan karya ini dilakukan melalui tahapan eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Proses perwujudan karya ini selain memiliki fungsi fisik juga memiliki nilai estetis.Kata kunci: Kande, kriya logam 
Leng Si Gere Pas : Reinterpretasi Kekepak ke Dalam Komposisi Musik Karawitan Rizki Mona Dwi Putra; Hartono Hartono
Gestus Journal: Penciptaan dan Pengkajian Seni Vol 2 No 1 (2022): GESTUS JOURNAL : PENGKAJIAN DAN PENCIPTAAN SENI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gsts.v2i1.35150

Abstract

Leng Si Gere Pas adalah sebuah komposisi musik karawitan yang ide nya bersumber pada kekepak, tepatnya di permainan aksentuasi pada ketukan syncope pada permainan teganing. Karya ini diwujudkan dalm bentuk garapan komposisi karawitan, yaitu menggunakan prinsip œaksentuasi dan ketukan syncope. Leng Si Gere Pas yang terdiri dari empat kata dalam bahasa Gayo yaitu Leng (bunyi) Si (yang) gere (tidak) pas (cocok) jika di gabungkan kedalam bahasa indonesia yaitu bunyi yang tidak cocok karena pada permainan kekepak ini bunyinya yang tidak tepat pada tempatnya. Adapun tujuan penciptaan pada komposisi musik karawitan ini adalah untuk menggarap sebuah komposisi karawitan baru yang terinspirasi dari kekepak pada permainan teganing. Permainan kekepak tersebut menjadi ide karya yag digarap menggunakan pendekatan reinterpretasi yang mana bersumber pada satu bagian kecil dari sebuah kesenian tradisi, sehingga pada teknik ini, vokabuler musikal yang sudah di olah, di aktualisasikan dalam wajah yang sangat berbeda dengan bentuk asal nya. Media ungkap pada garapan karya ini dia antaranya beberpa instrument melodis dan ritmis. Instrumen melodis seperti suling, gitar dan bas. Sedangkan insrumen ritmis seperti rapai dan teganing.  Kata Kunci: Aksentuasi, Kekepak, Leng Si Gere Pas, Reinterpretasi, Syncope