cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
jurnalarsitekturarcade@gmail.com
Phone
+6281220697972
Journal Mail Official
kartowijaya@ukri.ac.id
Editorial Address
Jln. Terusan Halimun No.37 (Pelajar Pejuang 45) Bandung 40263, Jawa Barat, Indonesia (+62) 22-7301987
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : 10.31848
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur Arcade is Open Journal System published by Prodi Architecture (UKRI) in 2023 has migrated to the link: https://e-journal.ukri.ac.id/arcade. This journal is a means of research publications that concentrate on the study of architecture to accommodate authors interested in the field of heritage architecture, built environment, urban design, housing and settlement, Building Technology, Interior Design. Jurnal Arsitektur Arcade was published for the first time in 2017 for its e-ISSN 2597-3746 (Online) and p-ISSN 2580-8613 (Print) publications which are published 3 times a year in March, July and November. The Editorial Board of Jurnal Arsitektur ARCADEÂ starting in 2023 publishes an e-ISSN 2597-3746 (Online) edition which will be published every 3 months, namely in March, June, September and December each year.
Articles 448 Documents
METODE PENINJAUAN DESAIN BERBASIS AFFORDANCE DENGAN VIRTUAL REALITY UNTUK PENINGKATAN KUALITAS DESAIN MAHASISWA Agirachman, Fauzan Alfi; Permana, Permana; Larasati, Dewi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The process of architectural design involves the use of immersive virtual reality (IVR) technology to create spatial experiences that can be perceived by human senses in an immersive manner. Researchers in the field of architecture have investigated the use of virtual reality technology for a variety of purposes in the architectural design process, such as undergoing design review. However, most studies utilize only qualitative Boolean responses, such as excellent or bad. To address this, this study applies the affordance concept from ecological psychology research to the design review procedure by using VRDR and PDS method to find out the design improvement in a third-year architecture design studio. In the end, the result demonstrates a correlation with statistical results, indicating the architecture students' design enhancement after employing the design review method. Keyword: affordance-based design, virtual reality, design review, building information modelling, visual comparisonAbstrak: Proses desain arsitektur melibatkan penggunaan teknologi realitas virtual imersif (IVR) untuk menciptakan pengalaman spasial yang dapat dirasakan oleh indera manusia secara mendalam. Para peneliti di bidang arsitektur telah menyelidiki penggunaan teknologi realitas virtual untuk berbagai tujuan dalam proses desain arsitektur, seperti menjalani tinjauan desain. Namun, sebagian besar penelitian hanya menggunakan respon Boolean kualitatif, seperti sangat baik atau buruk. Untuk mengatasi hal tersebut, penelitian ini menerapkan konsep affordance dari penelitian psikologi ekologi pada prosedur peninjauan desain dengan menggunakan VRDR dan PDS method untuk mengetahui peningkatan desain pada studio perancangan arsitektur tahun ketiga. Pada akhirnya, hasil penelitian ini menunjukkan adanya korelasi dengan hasil statistik yang mengindikasikan adanya peningkatan desain mahasiswa arsitektur setelah menggunakan metode tinjauan desain.Kata Kunci: desain berbasis affordance, virtual reality, tinjauan desain, building information modelling, perbandingan visual
Evaluasi Kinerja Hijau Material Resources and Cycle (MRC) pada Bangunan Kayu Modular Prafabrikasi; Studi Kasus Bangunan Sekolah Alam Bandung Permana, Permana; Larasati, Dewi; Tambunan, Lily; Agirachman, Fauzan Alfi; Sabrina, Jihan; Wardah, Zahratul; Salsabila, Adinda
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Forest destruction in Indonesia reaches 3,800,000 ha per year, most of which are illegal logging. Construction contributes to the use of wood as a construction material, inefficiency in the use of wood as construction waste, especially in high-quality wood species with a long harvest life. Indonesia's total sawn timber production reaches 1.4 million m3 per year of strong wood types. Utilization of this wood can result in environmental damage. Therefore, efforts to use construction materials that are more environmentally friendly have been encouraged to develop. Including short-lived wood (five-year harvest period) or used wood materials (reuse/recycle). In order to increase the efficiency of material utilization and reduce waste, namely by using a modular prefabrication method. This paper will identify green performance on the “Material Resources and Cycle (MRC)” criteria. The object of study used in this evaluation is the modular wooden building of the Bandung Nature School classroom. The method used is field observation and performance assessment based on MRC criteria from the green-rating tool at the Green Building Council Indonesia (GBCI). The results showed that natural school buildings had a fairly good green performance in the MRC criteria. The results of this study are expected to become best practice in the use of sustainable low emission construction materials.Keywords: Wooden construction, Modular, Material, Prefabricated, Resource, RecycleAbstrak: Kerusakan hutan di Indonesia mencapai 3.800.000 ha per tahun yang sebagian besar adalah penebangan liar atau illegal logging. Konstruksi berkontribusi dalam penggunaan kayu sebagai salah satau material konstruksi, inefisiensi penggunaan material kayu sebagai limbah konstruksi khususnya pada jenis kayu kuliatas tinggi dengan umur panen yang lama. Produksi total kayu gergajian Indonesia mencapai 1.4 juta m3 per tahun pada tipe kayu kuat. Pemanfaatan kayu ini dapat berakibat pada kerusakan lingkungan. Oleh karena itu upaya pemanfaatan material kontruksi yang lebih ramah lingkungan mulai didorong pengembangannya. Termasuk kayu umur pendek (masa panen lima tahunan) atau material kayu bekas (reuse/ recycle). Dalam rangka peningkatan efisiensi pemanfaatan material dan pengurangan limbah yaitu dengan menggunakan metode prafabrikasi modular. Makalah ini akan mengidentifikasi kinerja hijau pada kriteria “Sumber dan Siklus Material” (Material Resources and Cycle- MRC). Obyek studi yang digunakan dalam evaluasi ini ini adalah bangunan kayu modular runag kelas Sekolah Alam Bandung. Metode yang digunakan adalah pengamatan lapangan dan penilaian kinerja berdasarkan kriteria MRC dari green-rating tool pada Green Building Council Indonesia (GBCI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan sekolah alam memiliki kinerja hijau dalam kriteria MRC yang cukup baik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi best practice dalam pemanfaatan material konstruksi rendah emisi berkelanjutan.Kata Kunci: Konstruksi kayu, Modular, Material, Prafabrikasi, Resource, Recycle
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENUMPANG BERALIH MODA DARI KENDARAAN PRIBADI KE SUROBOYO BUS, DENGAN METODE STATED PREFERENCE Ekawati, June; Masliyah, Masliyah; Bukhori, Akhmat Imam
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk menarik minat masyarakat di Kota Surabaya agar beralih menggunakan angkutan umum, Pemerintah Kota Surabaya mengoperasikan Suroboyo Bus sejak tahun 2018. Namun minat masyarakat untuk beralih moda masih belum memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi penumpang beralih menggunakan Suroboyo Bus dan perkiraan jumlah responden yang mau beralih moda dengan menggunakan metode Stated Preference. Hasil penelitian dari analisis terhadap data wawancara terhadap 120 responden adalah bahwa 99 orang memutuskan untuk berpindah moda ke Suroboyo Bus dan 21 orang lainnya memutuskan tetap menggunakan moda transportasi lain. Adapun faktor yang menjadi preferensi alih moda dari kendaraan pribadi ke Suroboyo Bus adalah faktor biaya sebesar 61% dan faktor waktu tempuh sebesar 47,7%.
TIPOLOGI WAJAH BANGUNAN KOLONIAL GEREJA KATOLIK ROMA DI SEMARANG Praha Prayogo, Gregorius Gravido; Pandelaki, Edward Endrianto; Harsritanto, Bangun Indrakusumo Radityo
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The Roman Catholic Church in Semarang has interesting things as an object of research because it has own uniqueness as one of the Cultural Heritage buildings that has a connection with the history of the city of Semarang, on the other hand various problems about socially, economically and culturally. As time progresses, the Gedangan Church and the Cathedral Church began to experience improvements due to the climate and the situation in the city of Semarang. The typology or characteristics of the two churches has several changes based on field studies of the two churches. Field studies and grouping of the characteristics of the buildings were carried out to answer the research, with the hope that the characteristics of the two churches can be preserved amidst cultural developments.Keyword: Architectural Typology, Roman Catholic Church, Cultural Heritage Abstrak: Gereja Katolik Roma di Semarang memiliki hal yang menarik untuk dijadikan obyek penelitian karena memiliki keunikan tersendiri sebagai salah satu bangunan Cagar Budaya yang memiliki keterkaitan dengan sejarah kota Semarang, disisi lain muncul berbagai permasalahan baik secara sosial, ekonomi dan budaya. Seiringnya berkembangnya waktu, Gereja Gedangan dan Gereja Katedral mulai megalami perbaikan akibat iklim serta situasi di kota Semarang. Tipologi atau karateristik dari kedua Gereja tersebut mengalamai beberapa perubahan berdasarkan studi lapangan pada kedua Gereja tersebut. Studi lapangan dan pengelompokkan karakteristik dari bangunan dilakukan untuk menjawab penelitian, dengan harapan karakteristik dari kedua Gereja tersebut dapat dilestarikan di tengah perkembangan budaya.Kata Kunci: Tipologi Arsitektur, Gereja Katolik Roma, Cagar Budaya
PENGHAWAAN ALAMI DAN KENYAMANAN TERMAL PADA MASJID KHALID AL-NAQOBI Yulita, Reza Alvi; Hardiman, Gagoek; Setyowati, Erni
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The mosque is a place for Muslims to worship. As a place of worship, of course the user's comfort while worshiping in the mosque is very important so that users can worship solemnly. The Khalid Al-Naqobi Mosque is one of the mosques in the program to build 100 waqf mosques from Qatar whose construction is being managed by PBNU in Indonesia. The waqf mosque will begin to be built at the end of 2021 and will be built in various regencies and cities, however, during its construction, the management has determined a blue print design and materials to be used in almost all waqf mosque constructions with different existing conditions. So it is likely that the conditioning factors in the building are not considered. The purpose of this study was to evaluate whether the design of the Khalid Al-Naqobi mosque was able to overcome room conditioning in realizing the thermal comfort of its users. The results of this observation can be used as a consideration in designing mosques with natural ventilation.Keyword: Mosque, Architecture, Thermal ComfortAbstrak: Masjid merupakan tempat umat muslim untuk beribadah. Sebagai tempat beribadah tentunya kenyamanan pengguna saat beribadah di dalam masjid sangatlah penting agar pengguna bisa beribadah dengan khusuk. Masjid Khalid Al-Naqobi merupakan salah satu masjid dari program pembangunan 100 masjid wakaf dari Qatar yang dikelola pembangunannya oleh PBNU di Indonesia. Masjid wakaf ini mulai di bangun pada akhir tahun 2021 dan dibangun di berbagai kabupaten maupun kota, namun dalam pembangunannya pengelola sudah menentukan satu desain blue print serta material-material yang digunakan untuk diterapkan hampir di semua pembangunan masjid wakaf dengan kondisi eksisting yang berbeda-beda. Sehingga besar kemungkinan faktor-faktor pengkondisian dalam bangunan kurang diperhatikan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi apakah desain masjid Khalid Al-Naqobi ini mampu mengatasi pengkondisian ruangan dalam mewujudkan kenyamanan termal penggunanya. Hasil dari pengamatan ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam perancangan masjid dengan penghawaan alami.Kata Kunci:  Masjid, Arsitektur, Kenyamanan termal. 
PENELUSURAN JEJAK BANGUNAN KOLONIAL DI INDONESIA BERBASIS FAÇADE BANGUNAN MENGGUNAKAN METODE CNN ARSITEKTUR VGG16 Susanto, Susanto; Wibowo, Ari
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Colonialization in Indonesia, especially that carried out by the Dutch, is one of the important historical chapters in Indonesia because it was able to change the way of thinking of architecture in the Dutch East Indies to be more modern, approaching what happened in Western countries. The influence of modernism in architecture can be seen in the façade, shape, strength, and other important parts. Broadly speaking, colonial buildings are buildings that have patterns and characteristics that other buildings do not have. Therefore, the building is capable of being recognized. One way to quickly identify and trace the Dutch colonial legacy is to use the CNN method. Using the CNN method shows that the input data used can be recognized very well. Because the level of accuracy in the training stage is 97% and the accuracy value of each input image detection is more than 90%. One example is the Maybank Surabaya building, which includes a colonial architectural style with an accuracy of 100%, the Zeiss telescope dome is included in a colonial architectural style building with an accuracy rate of 99%, and other examples of buildings.Keyword: Kata Kunci 1, Colonial Architecture 2, Architectural style detection 3, CNNAbstrak: Kolonialisasi di Indonesia terutama yang dilakukan oleh Belanda merupakan salah satu babak sejarah penting di Indonesia karena mampu merubah cara berfikir arsitektur di Hindia Belanda semakin modern mendekati yang terjadi di negara Barat. Pengaruh modernism dalam arsitektur tersebut dapat dilihat pada façade, bentuk, kekuatan, dan bagian penting lainnya. Secara garis besar bangunan colonial merupakan bangunan yang memiliki corak dan ciri khas yang tidak dimiliki oleh bangunan lain. Oleh karena itu, bangunan tersebut mampu untuk dikenali. Salah satu cara dalam mengenali maupun menelusuri jejak peninggalan colonial belanda secara cepat adalah dengan menggunakan metode CNN. Dengan menggunakan metode CNN menunjukkan bahwa data inputan yang dipakai mampu dikenali dengan sangat baik. Dikarenakan tingkat akurasi di tahap pelatihan sebesar 97% serta nilai akurasi tiap deteksi gambar inputan yang mencapai 90% lebih. Salah satu contohnya Gedung maybank Surabaya termasuk tipe gaya arsitektur colonial dengan akurasi sebesar 100%, kubah teleskop Zeiss termasuk ke dalam bangunan dengan gaya arsitektur colonial dengan tingkat akurasi sebesar 99% dan contoh bangunan lainnya.Kata Kunci: Kata Kunci 1, Arsitektur kolonial  2, Deteksi gaya arsitektur 3, CNN
PENGARUH PENGHAWAAN DAN PENCAHAYAAN ALAMI PADA BANGUNAN SEMI TERBUKA TERHADAP KENYAMANAN DAN PRODUKTIVITAS Studi Kasus: Kafe Tanatap Ampera, Jakarta Selatan Pratiwi, Fenny Kartika; Baihaqi, Muhammad Al Farel Maulana; Gandarum, Dedes Nur
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The Tanatap Ampera Cafe is a semi-public building that has a function as a functional place for activities such as gathering and working individually or in groups with a presentation of 40% closed space and 60% semi-open space. This building utilizes natural ventilation and natural lighting into a semi-open area. So based on this design, the research aims to analyze the potential of points or areas in buildings that can increase user productivity which is affected by natural ventilation and lighting with the standards and indexes made by ASHRAE with the PMV method, namely Slightly Warm (+1), Neutral 0, Slightly Cool (-1), strong light intensity based on the Indonesian National Standard 03-6575-2011 Light intensity in a cafeteria and work space is 350 Lux, Greenship Rating Tools from the Green Building Council Indonesia (GBCI), which is the minimum standard for small areas natural lighting is 30% of the total area and the color of sunlight is 4000-5000K to affect human productivity. The purpose of this study was to find out the design of the semi-open space at Tanatap Ampera according to standards based on the results of field data collection and respondent data. Writing with a quantitative method using anemometer and spectrometer at 30 location points during the day every one hour, from 09.00 to 16.00. Field data collection results include orientation, temperature, humidity, ASHRAE index classification, light intensity, sunlight color, color rendering level, and the productivity value of the respondents. Based on the results of data analysis, semi-open areas that have natural ventilation and lighting that meet comfort standards and have the potential to increase productivity are located at point no. 9 and 17 from 09.00 to 11.00. While points 1, 2, 3 and 4 can be optimal points if there is a transparent envelope wall of the building that has ventilation openings for cross ventilation, because these areas do not have good ventilation. So that the optimal point will be at points 1, 2, 3, 4, 9, and 17 at 09.00 to 16.00.Keyword: Semi Open Space, Air Conditioning and Natural Lighting Comfort, Human Productivity.Abstrak: Kafe Tanatap Ampera merupakan bangunan semi publik memiliki fungsi sebagai tempat fungsional untuk berkegiatan seperti berkumpul dan bekerja secara individual atau berkelompok dengan presentasi 40% ruang tertutup dan 60% ruang semi terbuka. Bangunan ini memanfaatkan penghawaan alami dan pencahayaan alami kedalam area semi terbuka. Maka berdasarkan desain tersebut, Penelitian bertujuan untuk menganalisa potens titik atau area dalam bangunan yang dapat meningkatkan produktivitas pengguna yang dipengaruhi penghawaan dan pencahayaan alami dengan standar  dan indeks yang buat oleh ASHRAE dengan metode PMV yaitu Slightly Warm (Cukup Hangat  +1 ), Netral 0,  Slightly Cool  (Cukup Sejuk -1),, kuat intensitas cahaya berdasarkan Standar Nasional Indonesia 03-6575-2011 Kuat Cahaya dalam kuang kafetaria atau ruang kerja yaitu 350 Lux, Greenship Rating Tools dari Green Building Council Indonesia (GBCI) yaitu standar minimal untuk area pencahayaan alami adalah 30% dari total area dan warna cahaya matahri 4000-5000K untuk mempengaruhi produktivitas manusia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui desain ruang semi terbuka pada Tanatap Ampera sesuai standar berdasarkan hasil pengambilan data lapangan serta data responden. Penulisan dengan metode kuantitatif menggunakan alat anemometer dan spectrometer pada 30 titik lokasi selama siang hari setiap satu jam yaitu pada pukul 09.00 hingga 16.00. Data hasil pengambilan data lapangan berupa orientasi, suhu, kelembaban, klasifikasi indeks ASHRAE, kuat cahaya, warna cahaya matahari, tingkat renderasi warna, dan nilai produktivitas responden. Berdasarkan hasil Analisa data, area semi terbuka yang memiliki penghawaan dan pencahayaan alami yang sesuai standar kenyamanan dan berpotensi untuk meningkatkan produktivitas terletak pada titik nomot 9 dan 17 di jam 09.00 hingga 11.00. Sementara pada titik nomor 1, 2, 3, dan 4 dapat menjadi titik yang optimal apabila ada dinding selubungan transparan bangunan memiliki bukaan penghawaan untuk ventilasi silang, karena area tersebut tidak memiliki sirkulasi penghawaan yang baik. Sehingga titik yang optimal nantinya menjadi pada titik 1, 2, 3, 4, 9, dan 17 pada pukul 09.00 hingga 16.00.Kata Kunci: Ruang Semi Terbuka, Kenyamanan Penghawaan dan Pencahayaan Alami, Produktivitas Manusia.           
HUBUNGAN PLACE IDENTITY DENGAN IDENTITY OF COMMUNITY PADA CO-WORKING SPACE Wulandari, Pristya Any; Soemardiono, Bambang; Faqih, Muhammad
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The continuous development of technology pursues the emergence of co-working, mainly in Surabaya with many enthusiasts, especially startups. Place identity is represented by Koridor Co-working Space. While identity of community by startups is dominated by Z and millennial. It is said that place and user can influence each other. In its application, co-working can accommodate many startups in one location. Co-working needs to express place identity and identity of community as user. Meanwhile startups, in their effort to express identity of community, need more space control. Only a little research has discussed place identity and identity of community that are specific to co-working. Thus this correlational research aims to identify the relationship of place identity and identity of community in co-working. Through post-positivism paradigm and the collected data through observation, documentation, archive and likert-scale questionnaire, data from 67 respondents were analyzed using descriptive statistical analysis. The results show that most startup members consider place identity of Koridor Co-working Space to be unique and very unique. From all aspects identity of community and place identity, two pairs of interconnected were found; education with shape and form of building and income with materials. Thus in this position, the hypothesis can be accepted.Keyword: Co-working space, identity of community, place identity Abstrak: Berkembangnya teknologi berkesinambungan dengan munculnya co-working space terutama di Kota Surabaya dengan banyak peminat, yaitu kelompok startup. Place identity diwakili oleh Koridor Co-working Space. Sementara identity of community diwakili oleh kelompok startup yang didominasi generasi Z dan Y. Diketahui bahwa tempat dan pengguna saling berhubungan. Dalam aplikasinya, co-working space dapat menampung banyak startup dalam satu lokasi. Co-working space perlu memunculkan place identity sekaligus identity of community sebagai penggunanya. Sementara kelompok startup dalam upaya memunculkan identity of community terhalang oleh kendali ruang yang terbatas. Belum banyak penelitian yang membahas tentang konsep place identity dan identity of community yang spesifik pada objek co-working space. Dengan begitu, penelitian correlational research ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi hubungan place identity dengan identity of community pada co-working space. Melalui paradigma post-positivism dan teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, arsip dan kuesioner berskala likert, data dari 67 responden dianalisis menggunakan analisa statistik deskriptif. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas anggota startup menilai place identity Koridor Co-working Space tergolong unik dan sangat unik. Selain itu, dari seluruh sub-variabel identity of community dan place identity yang dihubungan, ditemukan dua pasang yang terbukti berhubungan, yaitu pendidikan dengan bentuk bangunan serta pendapatan dengan material. Dengan demikian, pada posisi ini hipotesis dapat diterimaKata Kunci: Co-working space, identity of community, place identity
EKSPLORASI POLA ADAPTASI PENGUNGSI WANITA MADURA DI PENAMPUNGAN SEMENTARA RUSUNAWA JEMUNDO, SIDOARJO Argarini, Tri Okta; Setijanti, Purwanita; Sumartinah, Happy Ratna
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Refugees are usually accommodated in temporary shelters with limited conditions. Shelters are usually set up as a temporary solution, which UNHCR says their conditions are like living in limbo (uncertainty). However, unlike the usual shelters, the Sampang refugees, who are included in the category of internally displaced people, are being temporarily accommodated in the Jemundo Rusunawa. Moreover, they have been in the residence for almost 11 years. In addition to getting access to basic needs, the condition of the shelter is in the form of a permanent building that is suitable for renting out to the surrounding community. Do these conditions make it easier for Sampang refugees to adapt? While many theories say that refugees, especially women, experience difficulties when they are in a new environment, for example related to their domestic and social activities. This research explores the adaptation pattern of Sampang women refugees who have a strong culture and spirituality in getting used to new housing, which not only has a different pattern, but also has levels. The qualitative method was chosen to make it easier to explore the natural settings of these women. Data were obtained through observation and interviews, which were then analyzed using thematic analysis. The results show that they create the atmosphere of their home by expanding domestic space into spaces that have opportunities and are agreed upon by the community.Keyword: Adaptation Pattern, Female Refugees, Rusun Abstrak: Pengungsi biasanya ditampung pada hunian sementara dengan kondisi yang terbatas. Tempat penampungan biasa didirikan sebagai solusi sementara, dimana UNHCR menyebut kondisi mereka seperti hidup didalam limbo (ketidakpastian). Namun berbeda dengan penampungan biasanya, pengungsi Sampang, yang termasuk dalam ketegori internally displaced people ini, ditampung sementara di Rusunawa Jemundo. Apalagi mereka sudah berada pada hunian tersebut selama hampir 11 tahun. Selain mendapat akses kebutuhan dasar, kondisi penampungan berupa gedung permanen yang layak disewakan bagi masyarakat sekitar. Apakah kondisi yang demikian membuat pengungsi Sampang lebih mudah beradaptasi?. Sementara banyak teori yang mengatakan bahwa pengungsi, khususnya wanita, mengalami kesulitan saat berada di lingkungan baru, misalnya  terkait dengan kegiatan domestik maupun kegiatan sosial mereka. Penelitian ini menggali pola adaptasi pengungsi wanita Sampang yang memiliki kebudayaan dan spiritualitas yang kental melakukan pembiasaan pada hunian baru, yang tidak hanya memiliki pola yang berbeda, tetapi juga bertingkat. Metode kualitatif yang dipilih untuk mempermudah menggali natural setting dari para wanita tersebut. Data didapatkan melalui observasi dan wawancara, yang kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil menunjukkan mereka menciptakan suasana rumahnya dengan memperluas ruang domestik pada ruang-ruang yang berpeluang dan disepakati bersama komunitas.Kata Kunci: Pola Adaptasi, Pengungsi Wanita, Rusun
SUSTAINABLE IMPACT CONSIDERATION IN COMPARISON GREEN BUILDING RATING TOOLS IN INDONESIA Mardhiyana, Ghina; Larasati, Dewi; Nadia, Sarah; Triadi, Fajar
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Binjai City is a level II city area with the status of.a municipality within the province of North Sumatra, Indonesia. Binjai is located about 22 Km west of the provincial capital of North Sumatra. Binjai City is divided into 5 districts, namely Kota Binjai, North Binjai, South Binjai, West Binjai, East Binjai. Binjai is one of the cities that has a large rice field area. Binjai City is also one of the tourist cities that is currently very often visited by many people. This study aims to landscape development to analyze the development of potential landscapes in rice fields as a means of developing tourist attractions in binjai city. Based on the questioner research 73% respondent strongly agreed and 27% agreed to lanctioning rice fields as tourism object.The results of this activity are in the form of design designs for educational areas about planting rice fields, outbound, relaxing areas, playgrounds, and supporting facilities. The excavation of information from the villagers was also welcomed and added to the enthusiasm of the residents to make East Binjai a tourist village. The results of the Park Tourism design can help for development even though it is carried out in stages.Keyword: Agrotourism, Binjai City, LandscapeAbstrak: Kota Binjai merupakan kawasan kota tingkat II yang berstatus kotamadya di dalam provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Binjai terletak sekitar 22 Km sebelah barat ibu kota provinsi Sumatera Utara. Kota Binjai terbagi menjadi 5 kabupaten yaitu Kota Binjai, Binjai Utara, Binjai Selatan, Binjai Barat, Binjai Timur. Binjai merupakan salah satu kota yang memiliki areal persawahan yang luas. Kota Binjai juga merupakan salah satu kota wisata yang saat ini sangat sering dikunjungi banyak orang. Penelitian ini bertujuan pengembangan lanskap untuk menganalisis pengembangan potensi lanskap di persawahan sebagai sarana pengembangan daya tarik wisata di kota binjai. Berdasarkan penelitian kuesioner 73% responden sangat setuju dan 27% setuju untuk menjadikan sawah lanctioning sebagai objek wisata.Hasil dari kegiatan ini berupa desain desain untuk area edukasi tentang penanaman sawah, outbond, area santai, taman bermain, dan fasilitas penunjang. Penggalian informasi dari warga juga disambut baik dan menambah semangat warga untuk menjadikan Binjai Timur sebagai desa wisata. Hasil rancangan Taman Wisata dapat membantu untuk pengembangan meskipun dilakukan secara bertahap.Kata Kunci : Agrowisata, Kota Binjai, Lanskap

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025 Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025 Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025 Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024 Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024 Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024 Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2024 Vol 7 No 4 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2023 Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023 Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023 Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023 Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022 Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022 Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022 Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021 Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021 Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021 Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020 Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020 Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020 Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019 Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019 Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019 Vol 2 No 3 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2018 Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018 Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2018 Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2017 Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2017 More Issue