cover
Contact Name
Sudikno
Contact Email
onkidus@gmail.com
Phone
+6281316350502
Journal Mail Official
redaksipgm@yahoo.com
Editorial Address
Grand Centro Bintaro Blok B2, Jl. Raya Kodam Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12320 Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research)
ISSN : 01259717     EISSN : 23388358     DOI : https://doi.org/10.36457
Core Subject : Health, Social,
Focus and Scope Penelitian Gizi dan Makanan is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health in the field of food and nutrition. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such asresearchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter. The journal is trying to meet the growing need to study health. Vision: Becoming a notable national journal in the field of food and nutritions towards a reputable international journal. Mission: Providing scientific communication media in food and nutritions research in order to advance science andtechnology in related fields. Organizes scholarly journal publishing in health research with an attempt to achieve a high impact factorin the development of science and technology.
Articles 597 Documents
MUTU PROTEIN MAKANAN SAPIHAN UNTUK BAYI UMUR 6-12 BULAN Endi Ridwan
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 12 (1989)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2009.

Abstract

Penelitian ini ditujukan unntk menguji mutu protein makanan tambahan yang dibuat dalam bentuk nasi tim untuk konsumsi anak berumur 6-12 bulan. Tujuan penelitian adalah mencoari alternatif pilihan makanan tambahan yang memenuhi syarat untuk kesehatan dan pertumbuhan bayi. Nasi tim yang dibuat juga merupakan suatu penganekaragam bentuk makanan tambahan untuk menjadi dasar bagi bayi bagaimana seharusnya menyenanggi bermacam-macam makanan, mengingat kelenjar perasa berkembang pesat sewaktu bayi. Nasi tim dibuat lima macam dengan bahan dasar beras, ubi merah dan jagung sebagai sumber hidrat arang; tempe dan tepung ikan sebagai sumber protein; sayuran hijau sebagai sumber karotin; dan minyak kelapa sebagai sumber lemak. Campuran makanan dianalis secara kimia dengan metoda AOAC. Kemudian dibuat simulate makanan untuk diuji mutu proteinnya (PER dan NPU) dengan menggunakan tikus percobaan. Selama percobaan keadaan tikus diamati, dan pada akhir percobaan dilakukan pemeriksaan patologis anatomis untuk melihat kemungkinan adanya efek samping. Nilai PER kelima macam makanan tambahan tersebut berturut-turut adalah: campuran beras, jagung dan tempe 2,16 ±. 0,26; campuran beras, jagung dan tepung ikan 2,24 ± 0,37; campuran beras, jagung, tepung ikan dan kacang tanah 2,08 ± 0.33; campuran beras, ubi merah dan tempe 2,18 ± 0.32, dan campuran beras, ubi merah, tepung ikan dan kacang tanah 1,98 ± 0.38, sementara nilai NPU- operatif berturut-turut : 62,8%, 62,6%, 60,5%, 61,3% dan 60,9%. Nilai-nilai yang didapat dari kelima macam makanan tambahan tersebut menunjukkan bahwa kelima jenis makanan tambahan ini mempunyai mutu protein cukup baik karena masih dalam batas yang dianjurkan untuk PER (2,0) dan NPU (60%). Tidak didapat adanya kelainan klinis dan patologis pada hewan selama percobaan.
PENGOLAHAN SAYURAN MENJADI BENTUK YANG MUDAH DIGUNAKAN DALAM PEMBERIAN MAKANAN ANAK BALITA Rossi Rozanna Septimurni; Komari Komari
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 12 (1989)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2010.

Abstract

Sayuran merupakan sumber utama prekursor vitamin A (beta-karotin) untuk pencegahan defisiensi vitamin A pada anak pra sekolah. Akan tetapi sayuran umumnya kurang disukai anak-anak. Dalam makalah ini dilaporkan hasil percobaan pembuatan formula makanan dengan bahan baku utama terdiri dari jenis sayuran yang umum dikonsumsi di Indonesia, kaya akan karotin, dan harganya relatif murah (wortel, buncis, bayam dan daun melinjo). Masing-masing sayuran ini diolah menjadi bentuk pasta, sari sayur, agar, dan biskuit. Empat (pasta wortel, pasta buncis, pasta wortel sari buncis dan sari wortel) diantara tujuh produk yang dicobakan disukai para panelis. Setelah disimpan lima belas hari, semua produk ini sama-sama menunjukkan penurunan kadar karotin sampai 50%. Pasta wortel dan pasta buncis stabil pada suhu ruang selama 15 hari, sementara sari wortel dan buncis hanya tahan satu hari.
PENETAPAN KADAR VITAMIN B12 (CYANOCOBALAMIN) BEBERAPA BAHAN MAKANAN Heru Yuniati; Almasyhuri Almasyhuri
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 12 (1989)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2011.

Abstract

Dalam penelitian yang dilaporkan ini telah dianalis kandungan vitamin B12 (cyanocobalamin) beberapa bahan makanan (hati, telur, ikan dan bahan makanan hasil fermentasi). Penetapan kadar vitamin B12 dilakukan secara mikrobiologis dengan menggunakan bakteri Lactobacillus leichmanii ATCC 7830. Hasil pembacaan absorbans dengan beberapa panjang gelombang tidak mempunyai puncak absorban tertentu, sedangkan pembacaan absorban meningkat terus berdasarkan lama inkubasi. Disamping itu, ternyata kurva kaliberasi selalu berbeda setiap kali dilakukan analisis. Diantara bahan makanan yang dianalisis, hati sapi merupakan sumber vitamin B12 yang paling baik, disusul hati ayam. Udang mempunyai kadar B12 relatif tinggi dibanding jenis ikan lainnya. Telur ayam sedikit lebih tinggi kandungan vitamin B12-nya dibanding telur bebek. Sementara bahan makanan yang difermentasi mengandung B12 berkisar 1.8 mkg/kg-3.2 mkg/kg per 100 gram bahan. Tempe yang dibuat dengan pencucian menggunakan air sungai mengandung vitamin B12 lebih tinggi daripada tempe yang dibuat dengan pencucian menggunakan air ledeng.
SASARAN PENERIMA PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PEMULIHAN (PMTP) DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA Iman Sumarno; Muhammad Enoch; Tjetjep Syarif Hidayat
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 11 (1988)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1981.

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mempelajari konsistensi ketepatan sasaran penerima pelaksanaan PMTP dan faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran sasaran. Penelitian ini merupakan studi kasus yang dilakukan di 16 desa yang telah/sedang melaksanakan PMTP di Jawa Barat, Jawa Tengah dana Daerah Istimewa Yogyakarta. Penentuan kabupaten dipilih secara acak dari kabupaten yang mempunyai dua desa pelaksana PMTP yang digolongkan berrhasil dan dua desa pelaksana PMTP yang digolongkan kurang berhasil di masing-masing propinsi. Dan tiap kabupaten dipilih dua kecamatan yang mempunyai satu desa yang dianggap pelaksanaannya baik dan satu desa yang kurang baik menurut penilaian pengelola di tingkat kecamatan. Data yang dikumpulkan meliputi status gizi anak balita saat penyaringan peserta dan pelaksanaan PMTP sejak pendekatan sampai pelaksanaannya. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara. Peneliti tinggal di desa penelitian selama tiga minggu. Analisis dilakukan untuk memperoleh gambaran konsistensi ketepatan penerima dan aspek pelaksanaan PMTP. Hasil penelitian menunjukkan suatu gambaran kekurangtepatan penerima sebagaimana ditunjukkan oleh adanya sasaran penerima PMTP yang tidak membutuhkan sebanyak 54,6%, dan 49,7% yang membutuhkan justru tidak menerima PMTP. Sasaran penerima yang benar-benar membutuhkan yang tercakup PMTP di beberapa lokasi penelitian adalah 50,3%. pendekatan, kesiapan pelaksanaan dan penerima serta pembinaan, baik dari Puskesmas maupun PKK tingkat kecamatan yang didukung pimpinan tingkat kecamatan dan desa, merupakan faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan PMTP. Swadaya masyarakat, meski belum menonjol, benih-benih ciri partisipasi masyarakat dalam bentuk pemberian tambahan pangan yang diperlukan dalam pelaksanaan PMTP serta upaya PKK dan Puskesmas dalam menghimpun dana di beberapa daerah sudah mulai tampak. Pengobatan infeksi, pendidikan cara hidup sehat, dan kebiasaan makanan yang baik, serta pengurangan resiko infeksi, perlu disertakan dalam pelaksanaan PMTP.
PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN UNTUK PEMULIHAN (PMTP) ANAK BALITA GIZI BURUK: Studi Kasus di Lima Desa di Lima Propinsi Herman Sudiman
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 11 (1988)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1982.

Abstract

Pemberian Makanan Tambahan untuk Pemulihan (PMTP) anak balita gizi buruk merupakan salah satu kegiatan dalam  Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) dan sebagai intervensi langsung dalam menanggulangi masalah KKP pada anak balita. Usaha yang memerlukan banyak biaya ini belum memberikan hasil seperti yang diharapkan terutama aspek pemulihannya, karena berbagai hambatan pengelolaan di lapangan. Telah dilakukan penelitian di lima desa pemenang lomba desa UPGK tahun 1982 di lima propinsi yaitu desa Subuk di Propinsi Bali, Cibogo di Jawa Barat, Wlahar di Jawa Tengah, Tlasih di Jawa Timur dan Koto Hilalang di Sumatera Barat dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran pelaksanaan PMTP di desa-desa tersebut serta untuk mencari aspek-aspek positif yang mungkin dapat dilaksanakan di desa lain. Kriteria penerima PMTP berbeda untuk masing-masing desa, tetapi pada umumnya tidak hanya gizi buruk, tetapi juga gizi kurang dan gizi sedang, kecuali di Tlasih. Frekuensi penyelenggaraan PMTP di Subuk dan Tlasih adalah sekali seminggu, sementara di desa lain setiap hari. Macam makanan yang diberikan di desa Cibogo, Wlahar, Koto Hilalang dan Subuk adalah makanan lengkap yang terdiri dari nasi, lauk dan sayur-mayur, sementara itu di dua desa yang disebut belakangan disamping makan lengkap juga diberikan makanan kecil sementara di desa Tlasih PMTP diberikan dalam bentuk makanan kecil saja. Dari lima desa penelitian yang masih memmpunyai data BB anak balita penerima PMTP serta catatan lain yang berkaitan dengan pelaksanaan PMTP, yaitu desa Wlahar dan Koto Hilalang, didapat gambaran perbaikan keadaan gizi anak balita penerima PMTP secara mengesankan, walaupun hal ini bukan karena PMTP saja, mungkin merupakan efek gabungan dari PMTP, pendidikan gizi dan faktor-faktor lain seperti pelayanan kesehatan dan program pembangunan lainnya. Namun diduga pendidikan gizi kepada ibu penerima PMTP merupakan faktor penting dalam mempengaruhi keberhasilan PMTP di daerah tersebut.
KECUKUPAN ENERGI DAN POLA KEGIATAN WANITA HAMIL Y. Krisdinamurtirin; Yuniar Purwono
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 11 (1988)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1983.

Abstract

Telah dihitung penggunaan energi berdasarkan kegiatan sehari-hari 33 orang wanita hamil triwulan kedua pengunjung Puskesmas Semplak, Bogor, Jawa Barat. Data kegiatan fisik responden dikumpulkan secara "recall" 2x24 jam oleh peneliti pada saat kunjungan rumah. Data antropometri, termasuk tebal lemak bawah kulit, serta data konsumsi makanan juga dikumpulkan. Umur kehamilan responden antara (6-24 minggu (±20,4), rata-rata berat badan 50,54 kg (±5,7 kg) atau 4 kg lebih tinggi daripada rata-rata berat badan wanita tidak hamil tidak menyusui di kecamatan yang sama; tinggi badan 149,7 cm (±3,7cm) dan tebal lemak badan 27,5% (±1,9% berat badan). Rata-rata masukan energi menurut hasil "recall" hanya 7652 (±527,4 kal), atau 79% dari kecukupan menurut Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi 1983. Pengeluaran energi, dihitung berdasarkan kegiatan fisik, rata-rata 2609 Kal; berdasarkan BMR menurut cara FAO/WHO/UNU 1985, juga hampir sama 2611 Kal. Angka kecukupan energi wanita hamil triwulan kedua dengan berat badan 50 kg, menurut penelitian ini adalah 2600 Kal.
HUBUNGAN STATUS ANEMI DAN STATUS BESI WANITA REMAJA SANTRI Dewi Permaesih; Ance M. Dahro; Hadi Riyadi
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 11 (1988)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1984.

Abstract

Telah diteliti status gizi, status anemia dan status besi 108 orang wanita remaja di suatu pesantren di Kabupaten Bogor. Status gizi ditentukan dengan mengukur berat dan tinggi badan; anemi dengan penentuan kadar Hb menurut cara cyanmethemoglobin; dan status besi dengan penentuan ferritin secara ELISA. Penentuan ferritin hanya dilakukan pada sub-sampel sebanyak masing-masing 18 orang per kelompok pada subjek yang denga nilai Hb kurang dari 11 g/dl, 12-13 g/dl dan lebih dari 13 g/dl. Semua santri wanita remaja contoh termasuk gizi baik. Status gizi dinilai berdasarkan berat badan per tinggi badan. Dengan batas Hb 12 g/dl, prevalensi anemi pada wanita remaja adalah 44,4 persen, 46 persen, berada di bawah nilai hematokrit normal (37%).  Nilai ferritin kelompok dengan Hb kurang dari 11 g/dl adalah 4,8 + 3,6 ug/dl, kelompok dengan Hb 12-13 g/dl adalah 18 + 11,8 ug/dl dan kelompok dengan Hb di atas 13 g/dl adalah 37,8 + 18,3 ug/dl.  Hal ini menggambarkan bahwa makin rendah nilai Hb makin rendah pula nilai ferritin sebagai refleks status besi mereka. Atas dasar nilai ferritin dan Hb ini terungkap bahwa kekurangan zat gizi besi merupakan salah satu penyebab anemi pada wanita remaja pesantren yang diteliti.
PENINGKATAN MUTU TEMPE-KORO BENGUK Mien KMS Mahmud; Hermana Hermana; Heru Yuniarti
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 11 (1988)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1985.

Abstract

Koro Benguk (Mucuna pruriene), meskipun punya kadar protein tinggi dan pembudidayaannya mudah, belum dapat dimanfaatkan secara luas seperti kedelai. Sebagai sumber protein, pemanfaatan kedelai sangat tinggi dan menyebar luas karena kedelai dapat diolah menjadi produk lain yang digemari masyarakat konsumen. Salah satu produk kedelai yang paling digemari dan terbukti memberi banyak manfaat bagi kesehatan dan gizi adalah tempe. Koro benguk dapat diolah menjadi tempe yang mempunyai kadar protein 0-14,12. Namun, meskipun di daerah tempat tempe benguk banyak dihasilkan, tempe kedelai jauh lebih dikenal dan disukai masyarakat, hal ini mungkin karena mutu organoleptik tempe benguk rendah. Peningkatan muru gizi dan mutu organoleptik tempe dapat dilakukan dengan cara mengkombinasikan kacang yang digunakan sebagai bahan baku. Percobaan pembuatan tempe campuran koro benguk dan kedelai telah dilakukan di Puskitbang Gizi, Bogor. Tempe campuran benguk dan kedelai dalam perbandingan berat 3:2 dan 1:1 menunjukkan mutu fisik, mutu organoleptik dan mutu gizi yang lebih baik daripada tempe kedelai maupun tempe benguk. Mutu protein kedua tempe campuran ini, masing-masing 4,5% dan 18,3% lebih tinggi daripada tempe banguk. Mutu fisik dan mutu organoleptik tempe campuran benguk dan beras dalam perbandingan berat 3:1 lebih baik daripada tempe benguk; sementara mutu gizi hampir sama. Mutu fisik tempe campuran benguk dan beras dalam perbandingan 3:2 dan 1:1 lebih baik daripada tempe benguk, tetapi mutu organoleptik dan mutu gizi lebih rendah. Penambahan kedelai dalam pembuatan tempe benguk mempertinggi mutu gizi, mutu organoleptik dan mutu fisik tempe benguk.
KOMPOSISI ZAT GIZI MAKANAN SIAP SANTAP DARI BEBERAPA DAERAH DI INDONESIA: BAGIAN I Dewi Sabita Slamet; Komari Komari; Ubaidillah Ubaidillah
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 11 (1988)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1986.

Abstract

Telah dianalisis komposisi zat gizi 10 macam soto dan 12 macam sayuran siap santap asal beberapa daerah di Indonesia. Bahan-bahan untuk penelitian, sebagian dibeli dari pedagang atau restoran yang menjual masakan tersebut, lainnya dibuat sendiri di laboratorium sesuai dengan resep masakan tersebut. Analisis meliputi "proximate", mineral dan vitamin. Per porsi, kandungan energi soto berkisar antara 495 kalori (soto Padang) sampai 152 kalori (soto Kudus), protein berkisar antara 23 gram (soto Padang) sampai 4,7 gram (soto Betawi), besi antara 13,3 miligram (soto Madura) sampai 3,6 miligram (soto Betawi), karoten total antara 3134 mikrogram (soto Banjar) sampai 63 mikrogram (soto Pemalang). Untuk sayuran siap santap, kandungan energi tertinggi dalam gulai pakis (672 kal), terendah dalam sayur asem (119); protein tertinggi dalam brongkos (54.2 g), terendah dalam sayur asem (2.9 g); besi tertinggi dalam botok lamtoro (58.8 mg), terendah dalam sayur sop; karoten total tertinggi dalam gulai pakis (46069 ug), terendah dalam gudeg (642 ug).
PEMBUATAN MINYAK BERIODIUM PER ORAL DAN HASIL UJICOBANYA PADA DOMBA Endi Ridwan; T. Wardiatmo; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 11 (1988)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1987.

Abstract

Telah dilakukan ujicoba pembuatan minyak beriodium oral dengan bahan baku minyak jagung. Pembuatan dilakukan menurut metoda Wijs. Pengukuran kandungan iodium produk yang dihasilkan dilakukan dengan cara-cara gravimetri dan cara fotometri. Uji keefektifan minyak beriodium yang dihasilkan dilakukan pada domba. Kadar iod minyak yang dihasilkan rata-rata 3,7 g I/10 ml, dibanding 4,7 g/10 ml dalam lipidol. Pola ekskresi iodium dalam urin domba yang diberi minyak beriodium buatan sendiri mirip dengan pola ekskresi iodium dalam urin domba yang diberi lipidol. Jika disimpan tanpa tutup pada suhu biasa, dalam tiga hari warna minyak beriodium buatan sendiri telah berubah dari kuning kecoklatan menjadi coklat hitam dan makin hari makin hhitam. Juga ditemukan kesulitan cara memisahkan kelebihan pereaksi maupun iodium yang ditambahkan.

Filter by Year

1971 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 47 No. 2 (2024): PGM VOL 47 NO 2 TAHUN 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): PGM VOL 47 NO 1 TAHUN 2024 Vol. 46 No. 2 (2023): PGM VOL 46 NO 2 TAHUN 2023 Vol. 46 No. 1 (2023): PGM VOL 46 NO 1 TAHUN 2023 Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022 Vol. 45 No. 1 (2022): PGM VOL 45 NO 1 TAHUN 2022 Vol. 44 No. 2 (2021): PGM VOL 44 NO 2 TAHUN 2021 Vol. 44 No. 1 (2021): PGM VOL 44 NO 1 TAHUN 2021 Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020 Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020 Vol. 42 No. 2 (2019): PGM VOL 42 NO 2 TAHUN 2019 Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019 Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018 Vol. 41 No. 1 (2018): PGM VOL 41 NO 1 TAHUN 2018 Vol. 40 No. 2 (2017) Vol. 40 No. 1 (2017) Vol. 39 No. 2 (2016) Vol. 39 No. 1 (2016) Vol. 38 No. 2 (2015) Vol. 38 No. 1 (2015) Vol. 37 No. 2 (2014) Vol. 37 No. 1 (2014) Vol. 36 No. 2 (2013) Vol. 36 No. 1 (2013) Vol. 35 No. 2 (2012) Vol. 35 No. 1 (2012) Vol. 34 No. 2 (2011) Vol. 34 No. 1 (2011) Vol. 33 No. 2 (2010) Vol. 33 No. 1 (2010) Vol. 32 No. 2 (2009) Vol. 32 No. 1 (2009) Vol. 31 No. 2 (2008) Vol. 31 No. 1 (2008) Vol. 30 No. 2 (2007) Vol. 30 No. 1 (2007) Vol. 29 No. 2 (2006): PGM VOL 29 NO 2 Desember Tahun 2006 Vol. 29 No. 1 (2006) Vol. 28 No. 2 (2005) Vol. 28 No. 1 (2005) Vol. 27 No. 2 (2004) Vol. 27 No. 1 (2004) Vol. 26 No. 2 (2003) Vol. 26 No. 1 (2003) Vol. 25 No. 2 (2002) Vol. 25 No. 1 (2002) JILID 24 (2001) JILID 23 (2000) JILID 22 (1999) JILID 21 (1998) JILID 20 (1997) JILID 19 (1996) JILID 18 (1995) JILID 17 (1994) JILID 16 (1993) JILID 15 (1992) JILID 14 (1991) JILID 13 (1990) JILID 12 (1989) JILID 11 (1988) JILID 10 (1987) JILID 9 (1986) JILID 8 (1985) Vol. 6 (1984): JILID 6 (1984) JILID 7 (1984) Vol. 5 (1982): JILID 5 (1982) JILID 4 (1980) JILID 3 (1973) JILID 2 (1972) JILID 1 (1971) More Issue