cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Biologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 363 Documents
PERBEDAAN PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE DAN NUMBERED HEAD TOGETHER TERHADAP PRESTASI BELAJAR BIOLOGI PESERTA DIDIK KELAS 8 SEMESTER 1 DI SMP NEGERI 12 KOTA MAGELANG Hartati, Sari; Sudarisman, Suciati
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.102 KB)

Abstract

ABSTRAK Prestasi belajar biologi kelas VIII SMP Negeri 12 Kota Magelang belum optimal disebabkan guru masih bersifat teacher oriented dan cenderung mengajar secara konvensional. Guru perlu mengubah penggunaan model pembelajaran agar prestasi belajar peserta didik meningkat. Pengembangan model pembelajaran biologi harus sesuai dengan hakikat pembelajaran (mengacu pada proses, produk, dan sikap ilmiah) dan karakteristik materi pelajaran dengan menekankan keterampilan proses sains.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh model pembelajaran kooperatif dengan tipe Think Pair Share (TPS) dan tipe Numbered Head Together (NHT) terhadap prestasi belajar pada materi Sistem Peredaran Darah Pada Manusia.Penelitian ini menggunakan metode pengamatan, dan eksperimen. Populasi pene-litian adalah peserta didik kelas VIII SMP Negeri 12 Kota Magelang tahun pelajaran 2010-2011. Sampel penelitian adalah peserta didik kelas VIII sebanyak 164 peserta didik. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Numbered Head Together (NHT). Sebagai variabel terikat adalah prestasi belajar peserta didik, khususnya aspek kognitif. Test prestasi belajar berupa ulangan harian. Data uji coba instrumen dianalisis dengan menggunakan program Anatest V 4.0.9 dan uji hipotesis penelitian ini digunakan Anava dengan bantuan program Minitab 15.Hasil penelitian didapatkan bahwa: terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TPS dan NHT terhadap prestasi belajar  pada materi Sistem Peredaran Darah pada Manusia, dengan rerata nilai TPS 71,6 lebih tinggi dibanding NHT 67,3. Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, Tipe Think Pair Share, Tipe Numbered Head Together, Prestasi Belajar.
IMPLEMENTASI TAKSONOMI BARU MARZANO UNTUK PEMBERDAYAAN MAHASISWA ASISTEN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN DALAM PROGRAM PEER ASSISTED LEARNING (PAL) Diana, Sariwulan; Rustaman, Nuryani; Redjeki, Sri; Iriawati, Iriawati
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.842 KB)

Abstract

ABSTRAK   Sifat praktikum Fisiologi Tumbuhan yang sarat dengan eksperimen, menuntut para mahasiswa asisten praktikum agar mampu mengelolanya dengan baik, termasuk menyiapkan alat evaluasi yang berragam, yang terrangkum dalam program Peer Assisted Learning (PAL). Untuk itu para asisten praktikum Fisiologi Tumbuhan perlu dibekali keterampilan terkait taksonomi baru Marzano sebagai bentuk pemberdayaan asisten praktikum dalam rangka penyempurnaan program PAL yang telah dilakukan sebelumnya. Metode yang digunakan adalah bagian dari Research & Development (R & D), terutama pada tahap perbaikan pengembangan program PAL dan implementasinya.  Penelitian dimulai dengan mengelompokkan soal dan hasil seleksi penerimaan asisten ke dalam matriks taksonomi baru Marzano sampai asisten dapat menyusun soal/pertanyaan takson baru tersebut bagi para praktikan serta memeriksa hasilnya.  Data dihitung rata-ratanya dan dipersentasikan.  Instrumen yang digunakan meliputi soal seleksi asisten, lembar observasi, soal/pertanyaan praktikum yang bermuatan taksonomi baru Marzano.  Hasil studi pemberdayaan asisten untuk menyiapkan alat evaluasi praktikum Fisiologi Tumbuhan (sebagai bentuk pengembangan program PAL), menunjukkan bahwa kemampuan para asisten praktikum Fisiologi Tumbuhan dapat dikembangkan dengan sangat baik pada berbagai level pemrosesan, domain pengetahuan informasi dan prosedur mental. Secara keseluruhan jawaban praktikan terhadap pertanyaan/soal yang telah disusun asisten tentang hampir semua muatan takson baru Marzano cukup baik, meski beberapa hal perlu dibelajarkan terlebih dahulu seperti  perhitungan dalam pembuatan larutan dengan satuan ppm dan cara memprediksi data dari suatu grafik.   Kata Kunci : Peer Assisted Learning (PAL), Fisiologi Tumbuhan, asisten praktikum, Taksonomi Baru Marzano.
PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PEMAHAMAN SISWA KELAS VIII-B SEMESTER 4 PADA MAPEL BIOLOGI MELALUI GUIDED INQUIRY DI SMP NEGERI 26 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012 Riandari, Henny
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.573 KB)

Abstract

ABSTRAK   Penelitian ini dilakukan berdasarkan tes awal (pra-siklus), yang dilakukan sebelum siswa mengalami perlakuan. Dari hasil tes tersebut diperoleh rata-rata kemampuan siswa masih rendah yaitu sebesar 47 %. Observasi dilakukan untuk mengamati keaktifan siswa yaitu keterlibatan siswa dalam kegiatan kelompok sebesar 56 %, keterlibatan siswa dalam diskusi kelas 53 %, kemampuan bertanya sebesar 10 %, kemamuan menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti sebesar 12 % dan keberanian siswa untuk tampil di muka kelas sebesar 12 %. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran serta untuk meningkatkan pemahaman. Dalam penelitian ini Peneliti menggunakan model Guided Inquiry, dengan prinsip konstruktivism, siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya dari pembelajaran yang dialaminya. Guru hanya berperanan sebagai fasilitator dan motivator untuk meng-konstruksi pengetahuan siswa (teori konstruktivisme) dan siswa mengalami sendiri dalam memahami teori yang akan lebih bertahan lama dalam benak siswa. Enam langkah pada Guided Inquiry ini memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar dalam kelas. Pada siswa ikut berpenan aktif, melatih keberanian, berkomunikasi dengan teman dan guru, berusaha mendapatkan pengetahuan dengan cara mengalami dan membangun sendiri pengetahuannya. Peranan guru adalah sebagai fasilitator dan motivator yaitu mempersiapkan skenario pembelajaran (RPP) dengan baik sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Indikator pencapaian dalam penelitian ini dapat dilihat dari kerjasama kelompok dalam menyelesaikan masalah dan kegiatan , keterlibatan siswa dalam diskusi kelas serta kecakapan personal yang meliputi keberanian bertanya, menjawab serta mengkomunikasikan hasil kegiatan atau hasil diskusi kelompok ke forum diskusi kelas untuk menyimpulkan dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Selain itu juga dapat dilihat dari ketercapaian target yang peneliti buat sebelum perlakuan dengan Model pembelajaran Guided Inquiry. Peningkatan untuk keaktifan siswa dalam melakukan diskusi kelompok sudah semakin baik dari 56 % menjadi 74 %. Peningkatan untuk keaktifan siswa dalam diskusi kelas menunjukkan peningkatan dari 53 % menjadi 71 %. Peningkatan kemampuan bertanya dari 10 % meningkat menjadi 40 %,  keberanian menjawab pertanyaan dari 12 %, meningkat menjadi 44 %, keberanian mengkomunikasikan hasil kegiatan di depan kelas dan disaksikan oleh teman-temannya dari 12 %, meningkat menjadi 40 %. Pemahaman siswa dapat dilihat dari peningkatan yang signifikans yaitu dari rata-rata Prestasi siswa sebesar 47  menjadi 71 dengan tingkat ketuntasan dari 5 % menjadi 77 %. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah mulai terbiasa dengan model Guided Inquiry, siswa dibiasakan bekerja dalam kelompok sehingga dengan sering mendiskusikan masalah dalam kegiatan yang diberikan peneliti akan mendorong siswa untuk saling berbagi dalam pemecahan masalah yang dihadapi kelompok.   Kata kunci: Guided Inquiry, keaktifan siswa, konstruktivisme.
POTENSI PENDIDIKAN KEUNGGULAN LOKAL BERBASIS KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI DI INDONESIA Mumpuni, Kistantia Elok
Prosiding Seminar Biologi Vol 10, No 2 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.418 KB)

Abstract

Pembelajaran biologi saat ini kurang memperhatikan proses sains dan penerapan pembelajaran bermakna untuk menyikapi perkembangan sains dan teknologi. Selain menyumbangkan manfaat positif bagi masyarakat, perkembangan sains dan teknologi juga mengakibatkan terbentuknya berbagai aktivitas  negatif seperti eksplorasi sumber tambang, pemanfaatan hutan secara bebas, perburuan hewan lindung dan sebagainya. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan dan sikap siswa yang kokoh dalam mengikuti arus perkembangan sains dan teknologi tetapi masih peduli terhadap kelestarian lingkungan. Tujuan penyelenggaraan pendidikan keunggulan lokal adalah agar siswa mengetahui keunggulan lokal daerah tempat tinggal dan memahami berbagai aspek terkait dengan keunggulan lokal tersebut. Selanjutnya siswa mampu mengolah sekaligus melestarikan keunggulan lokal. Sedangkan karakter berperan sebagai pondasi agar siswa bersikap bijak dalam mendayagunakan keunggulan lokal. Dengan demikian pendidikan keunggulan lokal berbasis karakter berpotensi dalam pendayagunaan dan pelestarian potensi lokal dengan bijak. Peran pendidikan keunggulan lokal berbasis karakter dalam pembelajaran biologi adalah 1) Sebagai sarana pembelajaran kontekstual; 2) Pendayagunaan dan pelestarian keunggulan lokal; dan 3) Mencetak generasi berkarakter. Oleh karena itu diperlukan upaya pengimplementasian pendidikan keunggulan lokal berbasis karakter dalam pembelajaran biologi. Langkah awal adalah menentukan tema dan jenis keunggulan lokal dan menentukan pendidikan karakter yang sesuai.  Selanjutnya mengemas keduanya menjadi perangkat pembelajaran dan mengaplikasikan dalam pembelajaran di sekolah sebagai upaya pemberian bekal bagi siswa untuk terjun ke masyarakat.  Kata kunci: Pendidikan Keunggulan Lokal, Pendidikan Karakter, Pembelajaran Biologi
PEMANFAATAN LIMBAH ECENG GONDOK (EICHORNIA CRASSIPES) SEBAGAI ALTERNATIF MEDIA PERTUMBUHAN JAMUR TIRAM PUTIH (PLEUROTUS OSTREATUS) Astuti, Ari Nidhi; Wardha, Anggraini Puspa; Fathurahman R, Nur; Nur R, Muhamad; Suranto, Suranto
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.492 KB)

Abstract

ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pertumbuhan dan produktifitas jamur tiram putih dan konsentrasi media enceng gondok yang paling efektif untuk pertumbuhan jamur tiram putih. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Satu Faktor (RAL satu faktor) dengan 4 taraf perlakuan yaitu kontrol, pemberian limbah eceng gondok 10 %, 20 %, dan 30 %. Masing-masing perlakuan dibuat 25 ulangan dan ukuran setiap baglog adalah 1 kg. Prosedur kerja terdiri atas: penyiapan substrat eceng gondok, pembuatan baglog, penyeterilan, inokulasi jamur, inkubasi, pemeliharaan dan pengamatan. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah ANOVA satu jalur  dilanjutkan dengan uji Duncan dengan taraf signifikansi 5 %. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian limbah enceng gondok dapat digunakan sebagai media alternatif pertumbuhan jamur tiram putih. Selain itu, pemberian limbah enceng gondok kering pada media serbuk kayu dapat meningkatkan karakteristik pertumbuhan dan produktivitas pertumbuhan jamur tiram putih baik dari aspek diameter tudung jamur maksimal, panjang tangkai buah maksimal, Berat basah buah jamur, Jumlah badan buah jamur, maupun Biological efficiency ratio (BER) dari baglog limbah enceng gondok. Parameter tersebut mengalami peningkatan signifikan (berbeda nyata) setelah di uji DMRT pada setiap peningkatan konsentrasi substrat dari 0%, 10%, 20% dan 30% dari media limbah enceng gondok. Parameter tersebut paling tinggi pada enceng gondok dengan konsentrasi 30 %.   Kata kunci : Limbah Enceng Gondok, Media Tanam, Jamur Tiram.
PENGARUH CEKAMAN SALINITAS TERHADAP MORFOLOGI AKAR TERUNG KOPEK LOKAL Santoso, Agus Muji; Riska, Lailatul; Rizal, Miftachul
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.963 KB)

Abstract

ABSTRAK   Arsitektur akar memiliki arti penting sebagai salah satu bentuk adaptasi tanaman dalam merespon kondisi lingkungan yang ekstrem, termasuk pada kondisi salin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cekaman salinitas terhadap morfologi akar Solanum melongena varietas Kopek sebagai referensi kajian awal pengembangan budi daya tanaman sayur tropis lokal pada lahan salin. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Biologi, Universitas Nusantara PGRI Kediri (kondisi: 4700-6000 lux pada tanah ladang steril, liat berpasir, v-angin 0-1 m/s, 67 mdpl, pH media 6-6,8), Februari- Mei 2012 dengan desain Rancangan Acak Lengkap. Perlakuan 0% (0-1 ds/m), 5% (2-3 ds/m), 10% (8-10 ds/m), 15% (14-16 ds/m) NaCl (dalam 50 mL air penyiraman/pot/2 hari yang mengandung pupuk green tonic 3 g/L (masing-masing 5 ulangan/perlakuan). Akar dipanen dengan metode destruktif pada 63 hst, diamati, dianalisis kuantitatif-kualitatif, dan didokumentasi sesuai parameter morfologi yang ditentukan. Penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) termasuk akar tunggang; (2) bertipe  ramosus; (3) jumlah cabang dan rata-rata panjang akar rambut lebih tinggi pada perlakuan 5%, namun semakin tinggi tingkat cekaman (10 dan 15%) semakin rendah rata-rata panjang akar pokok, jumlah maupun panjang rata-rata cabang akar tingkat I, II, dan III dan berat konstan akar (dw); (4) arah tumbuh akar pokok geotropisme positif bersama rambut-rambut akarnya pada semua perlakuan; arah tumbuh cabang tingkat I kearah samping (dengan kisaran 20-35O dari garis horizontal medium); cabang tingkat II dan III relatif tidak beraturan (ke segala arah) arah tumbuhnya; (5) warna akar pokok dan cabang tingkat I coklat tua, warna cabang tingkat III beserta rambut-rambut akar yang tumbuh dari akar pokok, cabang tingkat I, II, dan III putih coklat muda; (6) akar pokok lebih kaku dibanding cabang-cabangnya; (7)  panjang akar pokok lebih dominan dibanding cabangnya, panjang semakin berkurang seiring tingkat cemakan (rata-rata berkurang 1,78 cm/ tanaman).   Kata kunci:  cekaman salinitas, morfologi akar, terung kopek
PENGARUH PEMBELAJARAN INOVATIF MODEL TTW (THINK TALK WRITE) PADA BAHASAN PROTISTA TERHADAP HASIL BELAJAR KELAS X SEMESTER GANJIL DI SMA NEGERI 6 KEDIRI TAHUN PELAJARAN 2011-2012 Mistyardi, Toni; Nurmilawati, Mumun
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.242 KB)

Abstract

ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar peserta didik kelas XSMAN 6 Kediri melalui model pembelajaran inovatif model TTW (Think Talk Write). Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang terdiri atas dua kelas yaitu kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di SMAN 6 Kediri pada bulan Nopember ? Desember. Penelitian ini dilakukan pada peserta didik kelas X SMA yang berjumlah 40 peserta didik. Untuk prosedur kerja penelitian ini antara lain: Melakukan randomisasi dua kelas yang akan dijadikan sampel atau sasaran penelitian, Menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan menggunakan tehnik sampling yaitu: mengambil 2 (dua) kelas dari 9 (sembilan) kelas. Tehnik sampling dengan cara diundi dan diperoleh dua kelas sebagai sampling yaitu X4 dan X5 jumlah 40 peserta didik, Menyusun RPP, Menerapkan Pembelajaran Konvensional dengan tanya jawab pada kelas X4 sebagai kelas kontrol, Menerapkan Pembelajaran Inovatif Model TTW (Think Talk Write) pada kelas X5 sebagai kelas eksperimen. Metode pengumpulan data menggunakan hasil dari ulangan harian. Ketuntasan pada masing-masing peserta didik disesuaikan dengan standar ketuntasan minimum (SKM) di sekolah yaitu 76. Hasil penelitian menunjukkan, dari analisis menggunakan jasa komputerisasi melalui program SPSS versi 17, diketahui harga t-hitung sebesar 2,883, dari hasil perbandingan terhadap harga kritik t hitung dengan program SPSS 17 pada taraf signifikansi 95% (atau tingkat kesalahan 0,05) diketahui jauh besar nilainya pada perlakuan dengan Model TTW (Think Talk Write) yaitu 1,178 dibandingkan dengan pembelajaran konvensional yaitu sebesar 0,091, pada peserta didik kelas eksperimen dengan ketuntasan klasikal sebesar 94,25% dan peserta didik kelas kontrol dengan ketuntasan klasikal sebesar 89,98%. Dan penelitian menunjukkan, pada kelas eksperimen perilaku berkarakter sangat baik di bandingkan dengan kelas kontrol sangat berbeda dilihat dari diagram Fomat pengamatan Perilaku Berkarakter meliputi Perhatian, Jujur, Teliti, Tanggung jawab, kerjasama, Menghargai Pendapat. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inovatif Model TTW (Think Talk Write) pokok bahasan protista dapat meningkatkan hasil belajar biologi peserta didik kelas X SMA Negeri 6 Kediri tahun pelajaran 2011-2012.   Kata Kunci: Pembelajaran Inovatif, TTW(Think Talk Write), Hasil  Belajar.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF BERBASIS ICT PADA MATA KULIAH EKOFISIOLOGI MELALUI ‘LESSON STUDY’ raharjo, raharjo
Prosiding Seminar Biologi Vol 7, No 1 (2010): Seminar Nasional VII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.636 KB)

Abstract

ABSTRAK Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Berbasis ICT Pada Mata Kuliah Ekofisiologi Melalui  ?Lesson Study?   Ekofisiologi merupakan salah satu Mata Kuliah Kompetensi Utama yang wajib diprogram mahasiswa Prodi Biologi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Lesson Study, dan dilakukan pada mahasiswa Prodi Biologi Angkatan 2007. Tujuan Lesson Study Berbasis Jurusan (LSBJ)  pada mata kuliah Ekofisiologi adalah  (1)  Meningkatkan kualitas mengajar dosen pengampu mata kuliah Ekofisiologi. (2)  Mendeskripsikan proses perkuliahan Ekofisiologi pada materi adaptasi hewan terhadap lingkungan Ekstrim dan Hibernasi dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif berbasis ICT. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Kualitas mengajar dosen dengan menerapkan pembelajaran kooperatif berbasis ICT  meningkat. (2) Penyampaian materi pembelajaran kooperatif berbasis ICT dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif berhasil dengan baik, karena semua mahasiswa merespon positif.   Key words : model pembelajaran kooperatif, berbasis ICT, lesson study.
CONDITIONED MEDIUM DARI KULTUR PRIMER SEL SYARAF MUS MUSCULUS Puspitasari, Riris L.; Boediono, Arief; Sandra, Ferry
Prosiding Seminar Biologi Vol 10, No 2 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.322 KB)

Abstract

Secara  in vitro,  Embryonic Stem Cell  (ESC) dapat diarahkan perkembangannya menjadi sel neuron dan sel glia. Conditionedmedium  dari kultur primer sel syaraf mengandung sejumlah faktor pertumbuhan antara lain  nerve growth factor (NGF), glial derived-neurotrophic factor (GDNF), nestin, dan glial fibrillary acidic protein (GFAP). Dengan melakukan purifikasi protein yang terkandung  di dalam CM, maka diharapkan spektrum protein yang ada menjadi lebih sempit sehingga protein target dapat terdeteksi. Penelitian ini mempelajari kultur primer sel syaraf yang berasal dari hemisfer Mus musculus. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan CM dari kultur primer sel syaraf  Mus musculus. Medium yang digunakan adalah Dulbecco?s Modified Eagle?s Medium (DMEM) highglucose FBS 10%. Penggantian medium kultur dilakukan setiap 2 hari sekali. Kepadatan sel sekitar 32x103 sel/2 cm2. Setelah hari ke-4 terlihat adanya pertumbuhan neuron bipolar dan neural progenitor cell (NPC). Sel-sel astrosit akan teramati ketika periode kultur diperpanjang. Sel mengalami konfluensi setelah 12 hari kultur. Sel-sel yang tumbuh berguna untuk penjelasan neurogenesis. Kultur primer sel syaraf secara monolayer yang berasal dari hemisfer neonatus mampu mendukung  pertumbuhan sel yang tergolong sebagai neurogenic dan nonneurogenic.  Kata kunci: kultur primer, sel syaraf, conditioned medium, neural progenitor cell, neurogenesis.
ANALISIS DNA MITOKONDRIA BADAK SUMATERA DALAM KONSERVASI GENETIK Handayani, Handayani; Solihin, Dedy Duryadi; S Alikodra, Hadi
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.595 KB)

Abstract

ABSTRAK   Populasi badak Sumatera dewasa ini semakin terancam keberadaannya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah semakin maraknya perburuan liar, rusaknya habitat alamnya yang disebabkan oleh konversi hutan yang cenderung tidak terkendali. Populasi kecil lebih rentan pada penurunan keragaman genetik karena efek inbreeding serta terfiksasinya beberapa alela tertentu dalam populasi sehingga hewan tersebut menjadi monomorf dan mengalami penurunan kemampuan berevolusi atau adaptasinya pada lingkungan yang berubah. Selain itu berkurangnya populasi, faktor lain adalah terjadinya fragmentasi suatu habitat yang akan mendorong putusnya aliran gen (gen flow) dan meningkatnya genetic drift. Keragaman genetik turut menentukan keberhasilan konservasi populasi. Oleh karena itu penelitian keragaman genetik dari populasi Badak Sumatera merupakan langkah penting yang harus dilakukan, dan keberhasilan penelitian ini merupakan langkah  dalam konservasi badak Sumatera. Pengumpulan sampel darah berasal dari SRS (Suaka Rhino Sumatera) TN Way Kambas Lampung. Sample berupa darah dari 2 ekor badak sumatera berjenis kelamin betina (Rosa & Bina) dan 2 ekor badak jantan (Torgamba & Andalas). Isolasi dan purifikasi DNA Total dilakukan menggunakan metode Duryadi. Amplifikasi daerah CO I pada badak Sumatera dilakukan dengan PCR menggunakan pasangan primer RHCOIF dan RHCOIR. Amplifikasi daerah CO I pada badak Sumatera dilakukan dengan menggunakan pasangan primer RHCOIF dan RHCOIR menghasilkan fragmen DNA berukuran 711 bp. Jarak genetik digunakan untuk melihat kedekatan hubungan genetik antar individu badak Sumatera dan spesies badak lain melalui penggunaan analisis perhitungan Pairwie Distance dengan p-distance dapat ditunjukkan matriks perbedaan genetik antara badak Sumatera dan badak outgroup (badak India dan badak Afrika), hasil perhitungan berdasarkan daerah CO I parsial menunjukkan nilai jarak genetik berkisar antara 0.016 sampai 0.147. Jarak genetik pada Bina (?) terlihat dekat dengan Torgamba (?) sebesar 0.007. Hubungan kekerabatan CO I menggunakan Neighbor-Joining dengan pengolahan bootstrap 1000 terlihat bahwa badak putih Afrika berbeda kelompok dengan badak Asia. Di dalam kelompok badak Asia terlihat bahwa badak India sama dengan kelompok dengan badak Sumatera (Indonesia). Di dalam badak Sumatera (Indonesia) sendiri terjadi keragaman. Berdasarkan hasil sekuen gen CO I terdapat situs-situs spesifik pada badak Sumatera sebesar adalah 67% hasil tersebut dapat digunakan sebagai data base dalam penelitian-penelitian selanjutnya.   Kata kunci: badak Sumatera, DNA, mitokondria, konservasi