cover
Contact Name
Isrida Yul Arifiana
Contact Email
isrida@untag-sby.ac.id
Phone
08113542006
Journal Mail Official
jiwauntag1745@untag-sby.ac.id
Editorial Address
JIWA: Indonesian Journal of Psychology Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Jl. Semolowaru No. 45 Surabaya Telp. 0315990029
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
JIWA:Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : 30319897     DOI : https://doi.org/10.30996/jiwa.v3i01
Core Subject : Social,
Jiwa: Jurnal Psikologi Indonesia accepts manuscript research results in the fields of educational psychology, developmental psychology, industrial psychology, Social Psychology and clinical psychology, but not limited to: Personality and Learning Learning Interventions Teaching Strategies Education of Children with Special Needs Education of Gifted Children Counseling in Education Development of Children, Adolescents, Adults, and the Elderly Developmental Problems Parenting Strategies Quality of Life Personality Disorder Behavior Modification Counseling and Psychotherapy Psychosis Disorders Psychological Intervention
Articles 301 Documents
Membangun Benteng Cinta: Dukungan Sosial dan Kecemasan Menghadapi Perselingkuhan pada Ibu Persit Yosy Putri Utari; Devi Puspitasari; Tatik Meiyuntariningsih
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Persit wives who experience long-distance marriages (LDM) due to their husbands' military assignments often face anxiety, particularly concerning the possibility of infidelity. This condition is exacerbated by limited communication and uncertainty in the deployment environment. This study aims to examine the relationship between social support and anxiety about infidelity among Persit wives at Military Dormitory X, Sidoarjo. A quantitative correlational method was employed, with purposive sampling involving 152 participants. Data were collected using a four-point Likert scale questionnaire distributed online. The product-moment correlation test revealed a significant negative relationship between social support and anxiety, with r = -0.338 and significance = 0.000 (< 0.05). This indicates that higher social support is associated with lower anxiety levels. Keywords: social support, anxiety, infidelity, Persit wives, long-distance marriage Abstrak Ibu Persit yang menjalani long distance marriage (LDM) akibat penugasan militer suami sering mengalami kecemasan, khususnya terkait kemungkinan perselingkuhan. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan komunikasi serta juga ketidakpastian lingkungan penugasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan kecemasan menghadapi perselingkuhan pada ibu Persit di Asrama Militer X, Sidoarjo. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling sebanyak 152 partisipan. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner skala Likert empat poin yang disebarkan secara daring. Hasil uji korelasi product moment menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial serta juga kecemasan, dengan nilai r = -0,338 serta juga signifikansi 0,000 (< 0,05). Artinya, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima, semakin rendah kecemasan yang dirasakan. Kata kunci: dukungan sosial, kecemasan, perselingkuhan, ibu Persit, long distance marriage
Saat Diri Diterima: Konsep Diri dan Dukungan Sosial sebagai Kunci Kesehatan Mental Remaja Panti Putri Nurul Qomariyah; IGAA Noviekayati; Aliffia Ananta
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Adolescents living in orphanages often face challenges in developing self-acceptancedue to a lack of social support and an unstable self-concept. This study aims to examine the relationship between self-concept and social support with self-acceptance among orphanage adolescents in the East Surabaya area. The method used is a correlational quantitative approach with a non-parametric technique using Spearman’s Rho test, as the data did not meet normality and linearity assumptions. The participants consisted of 256 adolescents aged 13–18 years, selected through quota sampling. The results demonstrate a very strong positive correlation between self-concept and self-acceptance (r = 0.905; p < 0.05), as well as between social support and self-acceptance (r = 0.829; p < 0.05). These findings highlight the crucialrole of strengthening self-concept and social support in promoting the psychologicalwell-being of orphanage adolescents. Keywords: self-concept, social support, self-acceptance, adolescents, orphanage. Abstrak Remaja yang tinggal di panti asuhan sering mengalami hambatan didalam membentuk penerimaan diri akibat kurangnya dukungan sosial serta juga konsep diri yang tidak stabil. Temuan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri serta juga dukungan sosial dengan penerimaan diri pada remaja panti asuhan di wilayah Surabaya Timur. Metode yang digunakan ialah kuantitatif korelasional dengan teknik non-parametric menggunakan uji Spearman’s Rho karena data tidak memenuhi asumsi normalitas serta juga linearitas. Partisipan berjumlah 256 remaja usia 13–18 tahun yang dipilih dengan teknik quota sampling. Hasil temuan membuktikkan adanya hubungan positif yang sangat kuat antara konsep diri serta juga penerimaan diri (r = 0,905; p < 0,05) serta antara dukungan sosial serta juga penerimaan diri (r = 0,829; p < 0,05). Temuan ini membuktikkan pentingnya penguatan konsep diri serta juga dukungan sosial bagi kesejahteraan psikologis remaja panti. Kata kunci: konsep diri, dukungan sosial, penerimaan diri, remaja, panti asuhan.
Forgiveness sebagai Kunci Psychological Well-Being Pasca Hubungan Tanpa Status Muhammad Haykal Abdullah; Devi Puspitasari; Tatik Meiyuntariningsih
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This research was driven by the significance of forgiveness in enhancing psychological well-being among university students who have experienced non-committed romantic relationships in Surabaya. The study aimed to examine the relationship between forgiveness and psychological well-being among active students aged 18–25. A quantitative method with a correlational approach was employed, using purposive and incidental sampling techniques involving 348 students. Data analysis through the product moment correlation test yielded a correlation coefficient of 0.883 with a significan value of 0.000 (p < 0.01), indicating a strong and highly significant positive relationship between forgiveness and psychological well-being. These findings support the hypothesis that higher levels of forgiveness are associated with greater psychological well-being among students following non-status romantic experiences. The resultseare consistent with previous studies that have linked forgiveness to improved psychological well-being. Keywords: forgiveness, psychological well-being, students, non-committed relationship, correlation. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya forgiveness di dalam meningkatkan psychologicaliwell-being mahasiswa yang pernah menjalin hubungan tanpa status di Kota Surabaya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara forgiveness serta juga psychological well-being pada mahasiswa aktif usia 18-25 tahun. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan korelasional serta juga teknik purposive serta incidental sampling terhadap 348 mahasiswa. Analisis data menggunakan uji korelasi product moment membuktikan nilai korelasi 0,883 dengan signifikansi 0,000 (<0,01), yang mengindikasikan hubungan positif serta juga sangat signifikan antara forgiveness serta juga psychological well-being. Hasil penelitian mendukung hipotesis bahwasanya semakin tinggi tingkat forgiveness, semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan psikologis mahasiswa setelah menjalin hubungan tanpa status. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menghubungkan forgiveness dengan kesejahteraan psikologis. Kata kunci: forgiveness, psychological well-being, mahasiswa, hubungan tanpa status, korelasi.
Peran Self regulation dan Social support terhadap Adiksi Media Sosial pada Pelajar SMK Muhamad Luki Efendi; Amanda Pasca Rini; Eko April Ariyanto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study examines the relationship between self-regulation and social support with social media addiction among vocational high school students. Indonesia ranks high in both the number of social media users and the average duration of daily usage, which potentially increases the risk of addiction, particularly among adolescents. A correlational quantitative approach was used to determine the extent to which these two variables are associated with tendencies toward social media addiction. The findings of this study are expected to serve as a foundation for developing intervention strategies aimed at preventing and addressing social media addiction in educational settings.. Keywords: self regulation, social support, social media addiction, vocational school students Abstrak Penelitian ini mengkaji hubungan antara self regulation dan social support dengan adiksi media sosial pada pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Indonesia menempati peringkat tinggi dalam jumlah pengguna dan durasi penggunaan media sosial, yang berpotensi meningkatkan risiko adiksi, khususnya di kalangan remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional untuk melihat sejauh mana kedua variabel tersebut berkaitan dengan kecenderungan adiksi media sosial. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi intervensi untuk pencegahan dan penanganan adiksi media sosial di lingkungan pendidikan. Kata kunci: self regulation, social support, adiksi media sosial, pelajar SMK.
Quarter Life Crisis pada Mahasiswa Rantau: Bagaimana Peranan Harapan Orang Tua dan Kematangan Karier? Sophie Putri Florentine Laura; Devi Puspitasari; Eko April Ariyanto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Quarter life crisis is a phenomenon that occurs in early adulthood, characterized by feelings of worry, doubt, anxiety, frustration, and stress regarding various choices and decisions in the future. This study aims to determine the relationship between parental expectations and career maturity with quarter-life crisis in out-of-town students, especially those from outside Java. This study used a quantitative approach with 158 student aged 20-28 years and a purposive sampling technique. The analysis found that parental expectations have a positive relationship with quarter life crisis, meaning that the higher the parental expectations, the higher the quarter life crisis. Career maturity has a negative relationship with quarter-life crisis, meaning that individuals with a high level of career maturity will reduce the occurrence of quarter-life crisis. The findings of this study are expected to enable out-of-town students to manage negative emotions that can impact quarter life crisis. Keywords: Parental Expectations, Career Maturity, Quarter Life Crisis, overseas student, Out-Of-Town Student Abstrak Quarter life crisis adalah fenomena yang berlangsung di dewasa awal dijumpai dengan perasaan khawatir, bingung, cemas, frustasi dan stress mengenai berbagai pilihan dan keputusan di masa depan. Penelitian ini bermaksud mencari tahu hubungan antara harapan orang tua dan kematangan karier dengan quarter life crisis pada mahasiswa rantau khususnya berasal dari luar pulau jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah responden 158 subjek berusia 20-28 tahun dan pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Hasil analisis menemukan harapan orang tua memiliki hubungn positif dengan quarter life crisis, artinya semakin tinggi harapan orang tua, semakin meningkat pula quarter life crisis. Kematangan karier mempunyai hubungan negatif terhadap quarter life crisis, artinya individu dengan tingkat kematangan karier yang baik akan menurunkan terjadinya quarter life crisis. Temuan penelitian ini diharapkan mahasiswa rantau mampu dalam mengelolah emosi negatif yang dapat berdampak pada quarter life crisis Kata kunci: Harapan Orang Tua, Kematangan Karier, Quarter Life Crisis, Mahasiswa Rantau.
Cyber Aggression di Kalangan Generasi Z Pengguna Instagram Ditinjau dari Self-Control dan Online Disinhibition Bella Eka Siste Saputri; IGAA Noviekayati; Aliffia Ananta
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Generation Z is a demographic highly active on social media platforms, particularly Instagram, where they express themselves and engage with others. However, improper use of these platforms can trigger cyber aggression behaviors. This study aims to explore the relationship between self-control and the online disinhibition effect on cyber aggression among Generation Z Instagram users in Surabaya. Using a quantitative correlational approach, the research involved 150 respondents aged 13 to 28, selected through purposive sampling. Data collection was conducted using psychological scales, and the results were analyzed with multiple linear regression. The findings reveal that self-control and the online disinhibition effect simultaneously have a significant influence on cyber aggression behavior. Individually, self-control negatively correlates with online aggression, meaning higher self-control reduces such behavior, while the online disinhibition effect shows a positive correlation, indicating that reduced online inhibitions increase cyber aggression. These results highlight the crucial need to strengthen self-control and digital awareness as effective strategies to prevent aggressive behaviors in the virtual space. Keywords: Cyber aggression, Generation Z, Instagram, Self-control, Online disinhibition effect Abstrak Generasi Z ialah kelompok usia yang aktif menggunakan media sosial, khususnya Instagram, sebagai sarana berekspresi serta juga berinteraksi. Namun, penggunaan yang tidak bijak dapatlah memicu perilaku cyber aggression. Temuan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-control serta juga online disinhibition effect terhadap perilaku cyber aggression pada pengguna Instagram dari kalangan Generasi Z di Surabaya. Pendekatan kuantitatif korelasional digunakan dengan melibatkan 150 responden berusia 13–28 tahun, dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala psikologis serta juga dianalisis dengan regresi linier berganda. Hasil temuan membuktikkan bahwasanya self-control serta juga online disinhibition effect secara simultan memiliki hubungan signifikan terhadap perilaku cyber aggression. Secara parsial, self-control berhubungan negatif, sedangkan online disinhibition effect berhubungan positif terhadap agresi daring. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan kontrol diri serta juga kesadaran digital didalam mencegah agresi di ruang maya. Kata kunci: Cyber aggression, Generasi Z, Instagram, Self-control, Online disinhibition effect
Body Image dan Kepercayaan Diri: Studi pada Remaja Putri Pengguna Instagram Diajeng Nisak Rahmawati; Mamang Efendy; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Social media, especially Instagram, has a big influence on how teenagers view their bodies, so it has the potential to affect self-confidence. The purpose of this study was to determine the relationship between body image and self-confidence in female adolescents using Instagram social media. The subjects in the study were 105 female adolescents aged 18-21 years who used Instagram. The sampling technique was a purpose sampling with a quantitative research design. Hypothesis testing using the product moment correlation test showed that there was a positive correlation between body image (X) and self-confidence (Y), which means that the hypothesis was accepted. This finding indicate that an improvement in body image is followed by an increase in self-confidence among late adolescent girls who use Instagram, and vice versa. Keywords: Adolescent; Body Image; Self-Confidence Abstrak Media sosial, khususnya instagram memiliki pengaruh besar pada remaja bagaimana memandang tubuh, sehingga berpotensi untuk mempengaruhi kepercayaan diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara body image dengan kepercayaan diri remaja akhir putri pengguna media sosial instagram. Subyek pada penelitian adalah remaja perempuan berusia 18 – 21 tahun yang menggunakan instagram berjumlah 105 orang. Teknik pengambilan sampling penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan desain penelitian kuantitatif. Pengujian hipotesis menggunakan uji korelasi product moment dan menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara body image (X) dengan kepercayaan diri (Y), yang mana berarti hipotesis diterima. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa peningkatan pada body image diikuti dengan peningkatan kepercayaan diri remaja akhir putri pengguna media sosial istagram, begitu juga sebaliknya. Kata kunci: Body Image; Kepercayaan Diri; Remaja
Shyness dan Peer Attachment: Faktor Risiko atau Pelindung terhadap Problematic Internet Use pada Remaja? Cynthia Alinda Putri; Dyan Evita Santi; Aliffia Ananta
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Adolescents are in a developmental stage where relationships with peers become the primary source of emotional support, social identity, and self-regulation. When attachment to peers is not fulfilled, characterized by poor communication, lack of trust, and feeling alienated from peers, it causes adolescents with poor peer attachment to tend to be isolated from their peers. Thus, shyness, or the condition of feeling uncomfortable in interactions and being prone to restlessness, makes adolescents withdraw from their environment. These two conditions encourage adolescents to seek comfort through the online world, which can trigger excessive and maladaptive internet use, commonly known as Problematic Internet Use. This reserach adopts a quantitative approach employing multiple linear regression analysis. The data were collected through a random cluster sampling method, involving a sample of 365 students from 2 (two) State Junior High Schools in Ponorogo, with sample age criteria of 13-15 years using a questionnaire that measures peer attachment, shyness, and problematic internet use. The findings of multiple linear regression analysis indicate that the significance values of peer attachment (X1) and shyness (X2) on problematic internet use (Y) are 0.000 (p < 0.01), which indicates a highly significant relationship between the two independent variables and problematic internet use. This means that together, peer attachment and shyness can be very significant predictors of problematic internet use Keywords: Adolescent; Peer Attachment; Problematic Internet Use; Shyness Abstrak Remaja berada pada tahap perkembangan di mana hubungan dengan teman sebaya menjadi sumber utama dukungan emosional, identitas sosial, dan regulasi diri. Ketika kelekatan dengan teman sebayanya tidak terpenuhi yang ditandai dengan buruknya komunikasi, kurangnya kepercayaan, dan merasa terasing dengan teman sebayanya menyebabkan remaja dengan tingkat kelekatan teman sebaya yang buruk cenderung terasingkan dari teman sebayanya sehingga malu atau disebut shyness merupakan kondisi individu merasa tidak nyaman dalam berinteraksi, cenderung gelisah yang membuat remaja menarik diri dari lingkungannya. Kedua kondisi ini mendorong remaja untuk mencari kenyamanan melalui dunia maya yang dapat memicu penggunaan internet secara berlebihan dan maladaptif, biasa diketahui sebagai Problematic Internet Use. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear berganda. Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan teknik random cluster sampling dengan jumlah sampel sebanyak 365 siswa pada 2 (dua) Sekolah Mengengah Pertama Negeri di Ponorogo, dengan kriteria usia sampel 13-15 tahun menggunakan kuisioner yang mengukur peer attachment, shyness, dan problematic internet use. Dari hasil analisis regresi linear berganda diketahui bahwa nilai signifikansi peer attachment (X1) dan shyness (X2) terhadap problematic internet use (Y) sebesar 0,000 (p < 0,01), yang mengindikasikan adanya hubungan sangat signifikan antara kedua variabel bebas tersebut dengan problematic internet use, artinya secara bersama-sama peer attachment dan shyness dapat menjadi prediktor yang sangat signifikan untuk problematic internet use. Kata kunci: Adolescent; Peer Attachment; Problematic Internet Use; Shyness
Work Life Balance (WLB) dengan Kepuasan Kerja pada Guru Adzani Inez Arisandy; Diah Sofiah; Hikmah Husniyah Farhanindya
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Teachers play various professional roles that can influence their work-life balance, which in turn affects job satisfaction. This study aims to examine the relationship between work-life balance and job satisfaction among teachers. A quantitative correlational approach was used. The subjects consisted of 47 teachers from SMPN 1 Ngronggot, Nganjuk, selected using the total sampling technique. The instruments used were the Work-Life Balance Scale by Fisher et al. (2009) and the Job Satisfaction Scale by Lester (1987). Data were analyzed using Pearson product-moment correlation. The results showed a significant positive relationship between work-life balance and job satisfaction (r = 0.407; p = 0.005). The higher the work-life balance, the higher the teachers’ job satisfaction. These findings highlight the importance of work-life balance in supporting teacher well-being and work performance. Keywords: job satisfaction; life balance; organizational psychology; teacher; work life balance Abstrak Guru menjalankan berbagai peran profesional yang dapat memengaruhi work life balance, akhirnya berpengaruh pada kepuasan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara work life balance dengan kepuasan kerja pada guru. Menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Sebanyak 47 guru SMP Negeri 1 Ngronggot, Nganjuk yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang dipakai adalah skala work life balance dari Fisher et al. (2009) dan skala kepuasan kerja dari Lester (1987). Analisis data dengan korelasi pearson product moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara work life balance dan kepuasan kerja (r = 0,407; p = 0,005). Semakin tinggi work life balance, semakin tinggi pula kepuasan kerja guru. Temuan ini menunjukkan pentingnya work life balance dalam mendukung kesejahteraan dan performa kerja guru. Kata kunci: guru; keseimbangan hidup; kepuasan kerja; psikologi organisasi; work life balance
Work Life Balance dan Kepuasan Kerja: Studi pada Karyawan Industri Manufaktur Nylam Cahya Sridevianti; Diah Sofiah; Hikmah Husniyah Farhanindya
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Employees face pressure to simultaneously fulfill both professional and personal roles. An imbalance between these two can affect job satisfaction levels. This study aims to analyze the relationship between work-life balance and job satisfaction for employees. The method used was a quantitative correlational method through purposive sampling, involving 150 employees. The instruments used included the Hayman work-life balance scale and the Weiss job satisfaction scale, which have undergone validity and reliability testing. Analysis conducted using Pearson correlation showed a significant positive relationship between work-life balance and job satisfaction (r = 0.348; p = 0.000). This finding suggests that the better the work-life balance perceived by employees, the higher their job satisfaction. Therefore, organizations should pay attention to managing work-life balance to improve employee well-being. Keywords: Work Life Balance, Job Satisfaction, Employees, Industrial Psychology Abstrak Karyawan menghadapi tekanan untuk melaksanakan peran profesional dan pribadi secara bersamaan. Ketidakseimbangan antara kedua hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat kepuasan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara keseimbangan kehidupan kerja dan kepuasan kerja bagi karyawan. Metode yang diterapkan adalah kuantitatif korelasional melalui teknik purposive sampling, melibatkan 150 pegawai. Alat yang digunakan meliputi skala keseimbangan kerja-hidup (Hayman) dan skala kepuasan kerja (Weiss), yang sudah melalui pengujian validitas dan reliabilitas. Analisis yang dilakukan dengan korelasi Pearson menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara keseimbangan kerja dan kepuasan pekerjaan (r = 0,348; p = 0,000). Penemuan ini menunjukkan bahwa semakin baik keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan yang dirasakan oleh karyawan, semakin tinggi juga kepuasan kerja mereka. Sehingga, organisasi harus memperhatikan pengelolaan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan. Kata kunci: Work Life Balance, Kepuasan Kerja, Karyawan, Psikologi Industri