cover
Contact Name
Isrida Yul Arifiana
Contact Email
isrida@untag-sby.ac.id
Phone
08113542006
Journal Mail Official
jiwauntag1745@untag-sby.ac.id
Editorial Address
JIWA: Indonesian Journal of Psychology Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Jl. Semolowaru No. 45 Surabaya Telp. 0315990029
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
JIWA:Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : 30319897     DOI : https://doi.org/10.30996/jiwa.v3i01
Core Subject : Social,
Jiwa: Jurnal Psikologi Indonesia accepts manuscript research results in the fields of educational psychology, developmental psychology, industrial psychology, Social Psychology and clinical psychology, but not limited to: Personality and Learning Learning Interventions Teaching Strategies Education of Children with Special Needs Education of Gifted Children Counseling in Education Development of Children, Adolescents, Adults, and the Elderly Developmental Problems Parenting Strategies Quality of Life Personality Disorder Behavior Modification Counseling and Psychotherapy Psychosis Disorders Psychological Intervention
Articles 301 Documents
Hubungan Digital Literacy Skill Dengan Problem Solving Pada Mahasiswa di Surabaya Sabrina Dana Puspita; Niken Titi Pratitis; Rahma Kusumandari
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract University students in the digital era are required to have digital literacy skills to support their problem-solving abilities in both academic and social contexts. This study aims to examine the relationship between digital literacy skills and problem-solving abilities among students in Surabaya. The study employed a quantitative correlational design. The participants consisted of 118 students from various universities in Surabaya, selected using accidental sampling. The instruments used included a digital literacy scale based on technological, cognitive, and ethical aspects, and a problem-solving scale based on self-confidence, approach style, and personal control. Data analysis was conducted using non-parametric statistical methods. The results revealed a significant positive relationship between digital literacy skills and problem-solving abilities. In conclusion, students with higher digital literacy skills tend to have better abilities in addressing and resolving problems. These findings highlight the importance of digital literacy development as a key skill to support academic success and readiness to face challenges in the digital era. Keywords: Digital Literacy, Problem Solving, Students, Surabaya Abstrak Mahasiswa di era digital dituntut memiliki keterampilan literasi digital untuk mendukung kemampuan pemecahan masalah dalam berbagai aspek kehidupan akademik maupun sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterampilan literasi digital dengan kemampuan pemecahan masalah pada mahasiswa di Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian adalah 118 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan berupa skala literasi digital berdasarkan aspek teknologi, kognitif, dan etika, serta skala pemecahan masalah yang mengacu pada aspek keyakinan diri, gaya pendekatan, dan kontrol pribadi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis non-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara keterampilan literasi digital dan kemampuan pemecahan masalah. Kesimpulannya, semakin tinggi tingkat literasi digital mahasiswa, maka semakin baik kemampuan mereka dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengembangan literasi digital sebagai salah satu keterampilan utama untuk mendukung keberhasilan akademik dan kesiapan menghadapi tantangan di era digital. Kata kunci: Literasi Digital, Pemecahan Masalah, Mahasiswa, Surabaya
Orientasi Masa Depan pada Kesiapan Kerja Mahasiswa Tingkat Akhir Aisyah Isnaini; Niken Titi Pratitis; Isrida Yul Arifiana
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study aims to examine the association between future orientation and work readiness among final year students. Future orientation is defined as an individual's ability to set goals, expectations, and strategies to achieve a desired future. Work readiness, on the other hand, reflects the individual's abilities, skills, and attitudes in meeting the demands of the professional world. This research applies a quantitative approach with a correlational design. The subjects were 311 final year students from various universities. The sampling technique used was incidental sampling. The instruments applied in this study were a future orientation scale and a work readiness scale. Data were analyzed using the Pearson correlation technique with the help of statistical software. The findings revealed a significant positive relationship between future orientation and work readiness. These results indicate that students with a stronger future orientation tend to be more prepared to enter the workforce. Therefore, future orientation can be considered an important aspect in supporting students’ career readiness. Keywords: career planning, final year students, future orientation, job transition, work readiness. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara orientasi masa depan dengan kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir. Orientasi masa depan menggambarkan sejauh mana individu mampu menetapkan tujuan, harapan, dan strategi dalam mencapai masa depan yang diinginkan. Kesiapan kerja mencerminkan kemampuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan individu dalam menghadapi tuntutan dunia kerja secara profesional. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 311 mahasiswa tingkat akhir dari berbagai perguruan tinggi. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode accidental sampling. Instrumen yang digunakan terdiri dari skala orientasi masa depan dan skala kesiapan kerja. Teknik analisis data menggunakan uji korelasi Pearson dengan bantuan perangkat lunak statistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara orientasi masa depan dan kesiapan kerja. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan orientasi masa depan yang lebih kuat cenderung memiliki kesiapan kerja yang lebih tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah orientasi masa depan merupakan salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja, serta dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan program pembinaan karir di perguruan tinggi. Kata kunci: karier, kesiapan kerja, mahasiswa tingkat akhir, orientasi masa depan, transisi kerja.
Motivasi Mengajar Tumbuh dari Meaning of Work yang Dirasakan Guru Azalia Putri Salsabila; Adnani Budi Utami; Sayidah Aulia'Ul Haque
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study aims to determine the relationship between the meaning of work and the work motivation of elementary school teachers, particularly during the enjoyable transition period from early childhood education to elementary school. During this phase, teachers are required to create an adaptive, supportive, and enjoyable learning environment for children who have just entered elementary school. Teachers' acceptance of the meaning of their work is an important factor in encouraging their work motivation. This study employs a quantitative approach using correlational techniques. The research subjects are 82 first-grade elementary school teachers involved in the student transition process from preschool to elementary school. The research instruments consist of scales measuring the meaning of work and work motivation. Data were analyzed using Spearman Brown correlation techniques. The results of the study indicate a positive and significant relationship between the meaning of work and teachers' work motivation. The higher the meaning teachers perceive in their work, the higher their work motivation. This finding underscores the importance of strengthening the meaning of work in enhancing teachers' work motivation during this critical transition phase. Keywords: elementary education; elementary school teachers; meaning of work; work; transition from preschool to elementary school; work motivation Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara meaning of work dengan motivasi kerja guru sekolah dasar khususnya pada masa transisi menyenangkan dari PAUD ke SD. Pada fase ini, guru dituntut untuk menciptakan lingkungan belajar yang adaptif, mendukung, dan menyenangkan bagi anak-anak yang baru saja memasuki jenjang sekolah dasar. Penerimaan guru terhadap makna pekerjaannya menjadi faktor penting dalam mendorong motivasi kerja mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik korelasional. Subjek penelitian adalah 82 guru kelas 1 sekolah dasar yang terlibat dalam proses transisi siswa dari pembelajaran anak usia dini ke sekolah dasar. Instrumen penelitian berupa skala meaning of work dan motivasi kerja. Data dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi Spearman Brown. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara meaning of work dan motivasi kerja guru. Semakin tinggi makna yang dirasakan guru terhadap pekerjaannya, semakin tinggi pula motivasi kerjanya. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan makna kerja dalam meningkatkan motibasi kerja guru selama fase transisi penting ini. Kata kunci: guru sekolah dasar; meaning of work; motivasi kerja; pendidikan dasar; transisi PAUD ke SD
Transisi PAUD ke SD: Implikasinya terhadap Motivasi Kerja Guru Zafira Pramesti Ahmad Yani; Adnani Budi Utami; Sayidah Aulia'Ul Haque
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study was motivated by the pleasant transition policy from early childhood education to elementary school, which has generated different perceptions among teachers. This study aimed to determine if there is a relationship between teachers' perceptions of the policy and their work motivation in elementary schools. The study employed a quantitative correlational approach using the Spearman Brown technique with 82 first-grade teachers in Surabaya. Data were collected using manual and digital questionnaires via Google Forms. The results indicate a relationship between perceptions of the transition policy and work motivation. Teachers with a positive perception of the policy tend to be highly motivated at work. Conversely, low work motivation tends to accompany negative perceptions. Keywords: Teachers, Work Motivation, Perception, Elementary Schools Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebijakan transisi menyenangkan dari pendidikan anak usia dini ke sekolah dasar yang menimbulkan berbagai persepsi dikalangan guru. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah adanya hubungan antara persepsi guru terhadap kebijakan transisi yang menyenangkan pada motivasi kerja guru sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan menggunakan Teknik Spearman Brown pada partisipan berjumlah 82 guru kelas 1 di Surabaya. Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuisioner angket manual serta digital menggunakan google form. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan antara variabel persepsi dengan motivasi kerja pada kebiajkan transisi yang menyenangkan, guru yang memiliki persepsi yang positif pada kebijakan transisi akan cenderung memiliki motivasi kerja yang tinggi. Sebaliknya, jika persepsi yang dihasilkan negating maka motivasi kerja cenderung rendah. Kata kunci: Guru, Motivasi Kerja, Persepsi, Sekolah Dasar, Transisi Menyenangkan
Kecenderungan Perilaku Bullying pada Remaja: Bagaimana Peranan Konsep Diri dan Regulasi Emosi? Novi Anggraeni; Dyan Evita Santi; Rahma Kusumandari
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study aims to examine the relationship between self-concept and emotion regulation with bullying tendencies in adolescents. The research used a quantitative method with a correlational approach. The subjects were junior high school students aged 12–15 years. The sampling technique used was quota sampling. The instruments used were the self-concept scale, emotion regulation scale, and bullying tendency scale, which were developed based on relevant theories. Data analysis was conducted using multiple regression to determine both simultaneous and partial relationships among variables. The results showed a significant relationship between self-concept and emotion regulation with bullying tendencies. The study concluded that adolescents with negative self-concept and maladaptive emotion regulation tend to show higher tendencies toward bullying behavior. This research is expected to contribute to the development of bullying prevention programs by taking into account adolescents' psychological aspects. Keywords: adolescents; bullying behavior; emotion regulation; self-concept; Abstrak Perilaku bullying merupakan tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang oleh seseorang atau kelompok terhadap individu yang dianggap lebih lemah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan regulasi emosi dengan kecenderungan perilaku bullying pada remaja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan jumlah responden sebanyak 301 siswa, yang dipilih menggunakan teknik kuota sampling. Skala penelitian meliputi skala konsep diri yang diadaptasi dari Goni dkk. (2011) dengan nilai cronbach alpha 0,976, skala regulasi emosi yang merujuk pada Thompson (1994) dengan nilai cronbach alpha 0,975, serta skala perilaku bullying yang merujuk pada Solberg dan Olweus (2003) dengan nilai cronbach alpha 0,978, yang keseluruhannya menunjukkan kualitas psikometri yang baik. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara konsep diri dan regulasi emosi dengan kecenderungan perilaku bullying pada remaja. Temuan ini menunjukkan bahwa remaja dengan konsep diri negatif dan regulasi emosi yang tidak adaptif lebih berpotensi untuk terlibat dalam perilaku bullying. Oleh karena itu, kedua variabel tersebut dapat menjadi prediktor terhadap kecenderungan bullying pada remaja. Kata kunci: konsep diri; perilaku bullying;regulasi emosi; remaja
Perbedaan Kematangan Karier Mahasiswa Ditinjau dari Jenis Kelamin dan Program Studi Faiz Wahyu Mirza Muhatta; Suhadianto; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract In the globalization era, university students are expected not only to excel academically but also to be ready for the job market by developing career maturity. This study aimed to examine differences in career maturity based on gender and academic major. The research used a quantitative, non-experimental comparative design involving 375 active students from the University of 17 August 1945 Surabaya, selected through quota sampling. The instrument used was a career maturity scale developed based on Donald Super’s theory (1990), covering aspects of planning, exploration, decision-making, job knowledge, career preferences, and transition readiness. Data were analyzed using the Mann-Whitney U test due to non-normal distribution. The results showed no significant differences in career maturity based on gender or academic major. This study concludes that internal factors such as self-efficacy and self-control are likely more influential than demographic factors. Keywords: academic major; career maturity, gender; student Abstrak Pada era globalisasi, mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademis, tetapi juga harus siap menghadapi dunia kerja melalui pengembangan kematangan karier. Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan tingkat kematangan karier berdasarkan jenis kelamin dan program studi. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif non-eksperimental dengan partisipan sebanyak 375 mahasiswa aktif Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Instrumen pengumpulan data berupa skala kematangan karier yang dikembangkan berdasarkan teori Donald Super (1990), mencakup aspek perencanaan, eksplorasi, pengambilan keputusan, informasi dunia kerja, preferensi, dan kesiapan transisi. Teknik analisis menggunakan uji Mann-Whitney U karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam kematangan karier berdasarkan jenis kelamin maupun program studi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor internal seperti efikasi diri dan kontrol diri kemungkinan lebih berpengaruh terhadap kematangan karier dibanding faktor demografis. Kata kunci: gender; kematangan karier, mahasiswa, program studi
Peran Dukungan Orang Tua dan School Well-Being dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Vanny Dwi Hermawati; Bawinda Sri Lestari; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study aims to examine the relationship between parental support and school well-being with students' learning motivation. The subjects of this research were students of SMP Negeri 17 Surabaya, with a total population of 883 students. A sample of 125 students was selected using purposive sampling technique. The data were initially analyzed using multiple linear regression, which was later adjusted to the Spearman Rho method. The findings revealed that both parental support and school well-being simultaneously have a significant relationship with students' learning motivation. Furthermore, each independent variable also demonstrated a significant partial correlation with the dependent variable. The implications of this research highlight the essential role of emotional support and a positive school environment in fostering students' academic development. Keywords: Learning Motivation, Parental Support, School Well-Being Abstrak Kajian memiliki tujuan guna mencari tahu hubungan antara dukungan orang tua dan school well-being dengan motivasi belajar siswa. Subjek pada kajian ini adalah siswa SMP Negeri 17 Surabaya dengan jumlah populasi 883 siswa dan sampel sebanyak 125 siswa yang dipilih mengenakan teknik purposive sampling. Teknik analisis yang dikenakan yaitu regresi linear berganda, kemudian beralih menjadi Spearman Rho. Luaran kajian membuktikan bahwa dukungan orang tua dan school well-being secara simultan memiliki hubungan yang signifikan dengan motivasi belajar, dan secara parsial tiap-tiap variabel bebas juga menunjukkan hasil signifikan. Implikasi dari kajian ini menekankan pentingnya dukungan emosional dan lingkungan dalam perkembangan akademik siswa. Kata Kunci: Dukungan Orang Tua, Motivasi Belajar, School Well-Being
Mengenal Hubungan Hardiness dan Burnout pada Atlet Muda Taekwondo Muhammad Nur Firmansyah; Suhadianto; Karolin Rista
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Burnout in taekwondo athletes encompasses emotional exhaustion, a decline in personal achievement, and devaluation of sports activities. Hardiness is considered one of the contributing factors to the occurrence of burnout. This study aims to examine the relationship between hardiness and burnout among student taekwondo athletes in Surabaya. The research employed a quantitative correlational method involving 285 student athletes selected through purposive sampling. The measurement instruments used were the hardiness scale based on Kobasa’s theory (1979) and the burnout scale based on the Athlete Burnout Questionnaire (ABQ) developed by Raedeke & Smith (2001). Data were analyzed using the Spearman Rho correlation test. The results indicated a significant positive relationship between burnout and hardiness, suggesting that higher levels of hardiness are associated with higher levels of burnout in taekwondo athletes, and vice versa. High levels of burnout among athletes can cause distractions during training and hinder performance. Therefore, further studies are needed to explore hardiness and other variables that may contribute to athlete burnout. Keywords: Burnout; Hardiness; Student-athletes; Taekwondo Abstrak Burnout pada atlet taekwondo mencakup kondisi kelelahan emosional, penurunan pencapaian pribadi, serta devaluasi terhadap aktivitas olahraga. Hardiness adalah salah satu penyebab dari adanya burnout yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara hardiness dengan burnout pada siswa atlet taekwondo di Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan melibatkan 285 siswa atlet sebagai partisipan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan yaitu skala hardiness berdasarkan teori Kobasa (1979) dan skala burnout berdasarkan Athlete Burnout Questionnaire (ABQ) dari Raedeke & Smith (2001). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman Rho. Hasil Penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara burnout dengan hardiness, yang artinya ketika hardiness tinggi, maka burnout pada atlet taekwondo akan tinggi pula dan begitu sebaliknya. Burnout pada atlet tinggi membuat distraksi terhadap latihan dan pencapainnya. Sehingga perlunya dikaji lebih lanjut terkait hardiness dan variabel lain yang menjadi penyebab burnout pada atlet. Kata kunci: Atlet Pelajar; Burnout; Hardiness; Taekwondo
Optimisme Fresh Graduate dalam Mencari Kerja: Adakah Peranan Dukungan Sosial dan Kepercayaan Diri? Nur Hosna Widya Suharyuni; Suroso; Karolin Rista
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Fresh graduates are individuals who have completed higher education and are in a transitional phase toward entering the workforce. Challenges such as intense job competition and limited work experience often hinder their ability to secure employment, potentially leading to psychological pressure and a decline in self-confidence and optimism. This study aims to examine the relationship between social support and self-confidence with optimism among bachelor's degree graduates who are currently seeking employment in Surabaya. The research used a quantitative approach with a correlational design. A total of 335 undergraduate alumni participated in this study. The instruments used included a social support scale, a self-confidence scale, and an optimism scale. Data analysis was conducted using a non-parametric correlation test due to the data not meeting assumptions of normality and linearity. The findings revealed a positive and significant relationship between social support and optimism. This indicates that higher levels of social support are associated with greater optimism in facing the job search process. Furthermore, self-confidence also showed a positive and significant relationship with optimism, meaning that higher self-confidence leads to greater optimism during the job-seeking journey. These results are expected to serve as a foundation for developing psychological interventions to enhance optimism among recent graduates. Keywords: Fresh Graduate; Social Support; Self-Confidence; Optimism; Job Search. Abstrak Fresh graduate ialah individu yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi serta sedang ada pada tahap peralihan menuju dunia kerja. Tantangan seperti ketatnya persaingan dan minimnya pengalaman sering kali menjadi penghalang dalam memperoleh pekerjaan, yang dapat menimbulkan tekanan psikologis serta menurunkan rasa percaya diri dan tingkat optimisme. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengkaji hubungan antara dukungan sosial serta kepercayaan diri dengan optimisme pada lulusan sarjana yang tengah mencari pekerjaan di Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif pada desain korelasional. Sebanyak 335 lulusan sarjana menjadi partisipan dalam penelitian ini. Instrumen yang digunakan mencakup skala dukungan sosial, skala kepercayaan diri, dan skala optimisme. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi non-parametrik karena data tidak memenuhi asumsi normalitas dan linearitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial dan optimisme. Artinya, semakin besar dukungan sosial yang diterima lulusan baru, semakin tinggi pula optimisme mereka dalam menghadapi proses pencarian kerja. Selain itu, kepercayaan diri juga memiliki hubungan positif serta signifikan pada optimisme, yang berarti bahwa makin tinggi kepercayaan diri yang dimiliki, semakin besar optimisme dalam menjalani proses pencarian pekerjaan. Hasil ini diharapkan menjadi dasar bagi pengembangan intervensi psikologis untuk meningkatkan optimisme lulusan baru Kata kunci: Fresh Graduate; Dukungan Sosial; Kepercayaan Diri; Optimisme; Pencarian Kerja.
Body Dissatisfaction pada Perempuan Dewasa Awal Ditinjau dari Intensitas Penggunaan Media Sosial dan Peran Objektifikasi Diri Assyifa Padma Ardi Nugroho; Dyan Evita Santi; Rahma Kusumandari
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Body dissatisfaction is a psychological condition in which individuals feel that their bodies do not conform to ideal appearance standards and tend to hold negative evaluations of their own bodies. This research aims to examine the relationship between social media use intensity and body dissatisfaction, as well as to evaluate the role of self-objectification as a moderating variable. A correlational quantitative approach was employed, involving 357 emerging adult female participants in Surabaya who actively use social media. This research instrument comprised three scales: the social media use intensity scale, the body dissatisfaction, and the self-objectification. The data were analyzed using moderated regression analysis. The results indicated that while both social media use intensity and self-objectification were positively associated with body dissatisfaction. However, self-objectification did not moderate the relationship between the two variables. In other words, both variables independently contribute to the level of body dissatisfaction among emerging adult women. Keywords: body dissatisfaction, social media use, self-objectification, emerging adulthood Abstrak Body dissatisfaction merupakan kondisi psikologis di mana individu merasa tubuhnya tidak sesuai dengan standar penampilan ideal dan cenderung memberikan penilaian negatif terhadap tubuhnya sendiri. Tujuan dari studi ini untuk mengkaji korelasi antara intensitas penggunaan media sosial dan body dissatisfaction, serta mengevaluasi peran objektifikasi diri sebagai variabel moderator. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif korelasional, dengan melibatkan 357 partisipan wanita dewasa awal di Surabaya yang aktif menggunakan media sosial. Instrumen dalam studi ini mencakup tiga skala, yaitu skala intensitas penggunaan media sosial, body dissatisfaction, dan objektifikasi diri. Data dianalisis menggunakan teknik moderated regression analysis. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa baik intensitas penggunaan media sosial maupun objektifikasi diri memiliki korelasi positif dengan body dissatisfaction. Namun demikian, objektifikasi diri tidak berperan sebagai moderator dalam hubungan tersebut. Dengan kata lain, kedua variabel ini secara independen berkontribusi terhadap tingkat body dissatisfaction pada perempuan dewasa awal. Kata kunci: body dissatisfaction, penggunaan media sosial, objektifikasi diri, dewasa awal