cover
Contact Name
Isrida Yul Arifiana
Contact Email
isrida@untag-sby.ac.id
Phone
08113542006
Journal Mail Official
jiwauntag1745@untag-sby.ac.id
Editorial Address
JIWA: Indonesian Journal of Psychology Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Jl. Semolowaru No. 45 Surabaya Telp. 0315990029
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
JIWA:Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : 30319897     DOI : https://doi.org/10.30996/jiwa.v3i01
Core Subject : Social,
Jiwa: Jurnal Psikologi Indonesia accepts manuscript research results in the fields of educational psychology, developmental psychology, industrial psychology, Social Psychology and clinical psychology, but not limited to: Personality and Learning Learning Interventions Teaching Strategies Education of Children with Special Needs Education of Gifted Children Counseling in Education Development of Children, Adolescents, Adults, and the Elderly Developmental Problems Parenting Strategies Quality of Life Personality Disorder Behavior Modification Counseling and Psychotherapy Psychosis Disorders Psychological Intervention
Articles 330 Documents
Self Concept dan Subjective Wellbeing dalam Online Disinhibition Effect Mahasiswa Pengguna Instagram Devinita Budiman; Hetti Sari Ramadhani; Adnani Budi Utami
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Devinita Budiman Hetti Sari Ramadhani Adnani Budi Utami devinitaa28@gmail.com Abstract The Relationship Between Self-Concept and Subjective Well-Being with Online Disinhibition Effect Among Instagram Users. The purpose of this study is to analyze the relationship between self-concept and subjective well-being with online disinhibition effect among students who have Instagram accounts. This study employs a quantitative correlational approach, utilizing purposive sampling for sample selection and the Lameshow formula to determine the sample size in this population. Data were collected through an online questionnaire distributed across several social media platforms. A negative relationship was found between self-concept and the online disinhibition effect. The second hypothesis was accepted, indicating a significant negative relationship between subjective well-being and the online disinhibition effect. The results of this study showed a significant relationship between self-concept and subjective well-being with the online disinhibition effect among college students with Instagram accounts, with an F value of 93.48 and significance of 0.000 (p<0.05). This study concludes that self-concept and subjective well-being act as predictors of the online disinhibition effect among Instagram-using students. It is important for students to better understand themselves and enhance their awareness in maintaining appropriate behavior on social media, especially for those with multiple accounts, to avoid inappropriate behavior. Keywords: Online Disinhibition Effect, Self Concept, Subjective Wellbeing, Instagram Abstrak Hubungan Konsep Diri dan Kesejahteraan Subjektif dengan Efek Disinhibisi Online pada Mahasiswa Pengguna Instagram. Tujuan penelitian ini yakni guna menganalisis hubungan antara self concept dan subjective wellbeing dengan online disinhibition effect pada mahasiswa yang memiliki akun Instagram. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan menerapkan teknik purposive sampling untuk pengambilan sampel serta penggunaan rumus Lameshow untuk menentukan jumlah sampel pada populasi di penelitian ini. Data dikumpulkan berdasarkan kuesioner yang disebarkan secara online dibeberapa platform media sosial. hubungan negatif antara self concept dan online disinhibition effect. Hipotesis kedua diterima, yaitu terdapat hubungan negatif yang signifikan antara subjective wellbeing dan online disinhibition effect. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara self concept dan subjective wellbeing dengan online disinhibition effect pada mahasiswa yang memiliki Instagram dengan nilai F sebesar 93,48 dengan signifikansi 0,000 (p<0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa self concept dan subjective wellbeing berperan sebagai prediktor online disinhibition effect pada mahasiswa pengguna Instagram. Penting bagi mahasiswa untuk lebih mengenali diri dan meningkatkan kesadaran dalam menjaga perilaku di media sosial, terutama bagi mahasiswa yang memiliki akun ganda, guna menghindari perilaku yang tidak sesuai. Kata kunci: Online Disinhibition Effect, Self Concept, Subjective Wellbeing, Instagram
Regulasi Emosi dan Perilaku Cyberbullying pada Dewasa Awal: Peran Konformitas sebagai Mediator Moch. Rafly Putra Adryant; Mamang Efendy; Rahma Kusumandari
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The increasing intensity of social media use among emerging adults has raised the risk of cyberbullying behavior influenced by psychological and social factors. This study aims to examine the relationship between emotion regulation and cyberbullying behavior among emerging adults in Surabaya City, with conformity behavior as a mediating variable. This study employed a quantitative approach with a correlational research design. The participants were 130 emerging adults aged 18–25 years who actively used social media and resided in Surabaya, selected through purposive sampling. Data were collected using emotion regulation scales, conformity behavior scales, and cyberbullying behavior scales. Data analysis techniques included correlation analysis and mediation analysis. The results indicate relationships among emotion regulation, conformity behavior, and cyberbullying behavior, as well as the mediating role of conformity behavior. In conclusion, lower emotion regulation increases cyberbullying behavior both directly and indirectly through conformity behavior. Keywords: conformity; cyberbullying; emerging adulthood; emotion regulation; social media Penggunaan media sosial yang semakin intens pada dewasa awal meningkatkan risiko munculnya perilaku cyberbullying yang dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dan perilaku cyberbullying pada dewasa awal di Kota Surabaya dengan perilaku konformitas sebagai mediator. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 130 dewasa awal berusia 18–25 tahun yang aktif menggunakan media sosial dan berdomisili di Kota Surabaya, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa skala regulasi emosi, skala perilaku konformitas, dan skala perilaku cyberbullying. Teknik analisis data menggunakan analisis korelasi dan uji mediasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara regulasi emosi, perilaku konformitas, dan perilaku cyberbullying, serta peran mediasi perilaku konformitas. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa rendahnya regulasi emosi meningkatkan perilaku cyberbullying secara langsung maupun melalui konformitas. Kata kunci: cyberbullying; dewasa awal; konformitas; media sosial; regulasi emosi
Persepsi Label Generasi Strawberry dan Career Adaptability pada Job hopping Generasi Z Luqyana Marsha Firdaus; Amanda Pasca Rini; Nindia Pratitis
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Generation Z faces a fast and flexible work environment that increases job hopping tendencies. This phenomenon is often linked to perceptions of the strawberry generation label and career adaptability. This study aimed to examine the relationship between these variables and job hopping among Generation Z. A quantitative correlational design with multiple regression analysis was conducted on working Generation Z selected through purposive sampling. Data were collected using scales of strawberry generation label perception, career adaptability, and job hopping. The results showed that simultaneously, both variables were not significantly related to job hopping. However, partially, perceptions of the strawberry generation label were significantly related, while career adaptability was not. These findings highlight the role of generational label perceptions in job hopping tendencies among Generation Z. Keywords: career adaptability; generation Z; job hopping; perception of the strawberry generation label Generasi Z menghadapi dinamika dunia kerja yang cepat dan fleksibel sehingga meningkatkan kecenderungan job hopping. Fenomena ini sering dikaitkan dengan persepsi atas label generasi strawberry dan adaptabilitas karier. Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan kedua variabel tersebut dengan job hopping pada Generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan analisis regresi berganda pada pekerja Generasi Z yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala persepsi generasi strawberry, adaptabilitas karier, dan job hopping. Hasil menunjukkan bahwa secara simultan kedua variabel tidak berhubungan signifikan dengan job hopping. Namun, secara parsial persepsi atas label generasi strawberry berhubungan signifikan, sedangkan adaptabilitas karier tidak. Temuan ini menegaskan peran persepsi label generasi dalam kecenderungan job hopping Generasi Z. Kata kunci: adaptabilitas karier; generasi Z; job hopping; persepsi atas label generasi strawberry
Self Efficacy dan Lingkungan Kerja: Booster Utama Employee Engagement Astrid Ervira R Dewi; Yanto Prasetyo; Diah Sofiah
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the relationship between self-efficacy and perception of the work environment with employee emong employees of PD Pasar Surya Surabaya. The research subjects consisted of 51 employees using saturated sampling techniqes. Data were collected using self-efficacy scales, work environement scale, and employee engagement scales. Data analysis techniques used multiple regression analysis. The results showed a significance of 0,000 (p<0,01) with an F value of 12,115, which means that there is a significant simultaneous relationship between self-efficacy, and perception of the work environment with employee engagement. Partially, self-efficacy has significant positive relationship with employee engagement. Partially, perception of the work environment also has a significant positive relationship with employee engagement. Keywords: Self Efficacy, Perception Of The Work Environtment, Employee Engagement, Employee Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self efficacy dan persepsi terhadap lingkungan kerja dengan employee engagement pada karyawan PD Pasar Surya Surabaya. Subjek penelitian berjumlah 51 karyawan dengan menggunakan teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan menggunakan skala self efficacy, skala persepsi terhadap lingkungan kerja, dan skala employee engagement. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan signifikansi 0,000 (p<0,01) dengan nilai F sebesar 12,115, yang berarti terdapat hubungan simultan yang signifikan antara self efficacy dan persepsi terhadap lingkungan kerja dengan employee engagement. Secara persial, self efficacy memiliki hubungan positif yang signifikan dengan employee engagement. Dan secara persial Persepsi terhadap lingkungan kerja juga memiliki hubungan positif yang signifikan dengan employee engagement. Kata kunci: Self Efficacy, Persepsi Terhadap Lingkungan Kerja, Employee Engagement, Karyawan
Regulasi Emosi dan Agresivitas Verbal pada Mahasiswa Pengguna Media Sosial X Ica Anggira Afrilia; Mamang Efendy; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the association between emotion regulation and verbal aggressiveness among university students who use X as a social media platform. The open, fast-paced, and relatively anonymous nature of X may facilitate impulsive emotional responses and verbal aggression. A quantitative correlational design was employed, involving students who actively use X. Data were collected using a verbal aggressiveness scale based on Infante and Wigley’s framework and an emotion regulation scale grounded in Gratz and Roemer’s model. Correlation analysis was conducted after statistical assumptions were met. The findings indicate a significant negative association between emotion regulation and verbal aggressiveness, suggesting that students with better emotion regulation tend to display lower levels of verbal aggression. However, the relationship strength was weak, implying that verbal aggressiveness on social media is also influenced by other factors, including platform characteristics and anonymity. These results highlight the role of emotion regulation in reducing verbal aggressiveness, although it is not the sole contributing factor. Keywords: Verbal Agresiveness, Emotional Regulation, X Penelitian ini mengkaji hubungan antara regulasi emosi dan agresivitas verbal pada mahasiswa pengguna media sosial X. Karakteristik X yang terbuka, cepat, dan relatif anonim berpotensi memicu respons emosional impulsif dan agresivitas verbal. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan partisipan mahasiswa pengguna aktif X. Data dikumpulkan menggunakan skala agresivitas verbal berbasis teori Infante dan Wigley serta skala regulasi emosi berdasarkan model Gratz dan Roemer. Analisis dilakukan melalui korelasi setelah uji prasyarat statistik terpenuhi. Hasil menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara regulasi emosi dan agresivitas verbal, di mana regulasi emosi yang lebih baik berkaitan dengan tingkat agresivitas verbal yang lebih rendah. Namun, kekuatan hubungan tergolong lemah, menunjukkan bahwa agresivitas verbal juga dipengaruhi faktor lain, seperti karakteristik platform dan anonimitas. Temuan ini menegaskan peran regulasi emosi dalam menekan agresivitas verbal, meskipun bukan sebagai faktor tunggal penentu. Kata kunci: Agresivitas Verbal, Regulasi Emosi, X
Job Crafting Karyawan Ditinjau dari Proactive Personality dan Perceived Organizational Support Maya Anggelia Putri; Diah Sofiah; Hikmah Husniyah Farhanindya
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Job crafting represents an important form of work adaptation in response to dynamic job demands. This study aims to examine the association between proactive personality, perceived organizational support, and job crafting among employees in public sector organizations. A quantitative correlational design was employed. Data were collected through questionnaires administered to employees of a public service organization and analyzed using multiple linear regression. The results indicate that proactive personality and perceived organizational support are significantly associated with job crafting, both jointly and individually. Descriptive findings further suggest that although employees demonstrate relatively favorable proactive dispositions and perceptions of organizational support, their level of job crafting remains relatively low. This study concludes that personal potential and organizational support need to be accompanied by enabling work conditions to facilitate the optimal development of job crafting behaviors. Keywords: employee, job crafting, perceived organizational support, proactive personality Job crafting merupakan bentuk adaptasi kerja yang penting dalam menghadapi dinamika tuntutan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara proactive personality dan perceived organizational support dengan job crafting pada karyawan organisasi sektor publik. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Data dikumpulkan melalui kuesioner pada karyawan organisasi pelayanan publik dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proactive personality dan perceived organizational support berkaitan secara signifikan dengan job crafting, baik secara simultan maupun parsial. Temuan deskriptif mengindikasikan bahwa meskipun karyawan menunjukkan kecenderungan kepribadian proaktif dan persepsi dukungan organisasi yang relatif baik, tingkat job crafting masih tergolong rendah. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa potensi personal dan dukungan organisasi belum sepenuhnya terwujud dalam perilaku job crafting, sehingga diperlukan kondisi kerja yang lebih memungkinkan karyawan untuk menyesuaikan dan mengembangkan pekerjaannya secara optimal. Kata kunci: job crafting, perceived organizational support, proactive personality, Karyawan
Partisipasi dalam Mengikuti Program Ojol (Slot Jatah Ruang Kerja) dengan Kesejahteraan Psikologis Driver Ojol di Surabaya Melalui Stres Kerja sebagai Variabel Moderator Mario Putra Pratama; Bawinda Sri Lestari; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the relationship between participation in online motorcycle taxi programs (work space allocation slots) and the psychological well-being of online motorcycle taxi drivers in Surabaya, with the moderating variable of work stress experienced by online motorcycle taxi drivers in Surabaya. A quantitative approach was used. The population in this study was online motorcycle taxi drivers. Data were obtained by distributing questionnaires to 74 online motorcycle taxi driver respondents. In this study, the sample was selected using the GPower program. The measurement tools developed by the researcher used a program participation scale (20 items), psychological well-being scale (48 items), and work stress scale (40 items). The analysis used by the researcher was multiple regression analysis. The results of this study used moderated analyses (MRA) using the JAMOVI program. The results of this study indicate that program participation has a significant and negative relationship with psychological well-being with a value of (Z = 4.17; Estimate = 1.0802; p < 0.05). In addition, work stress significantly cannot moderate the relationship between program participation and psychological well-being (Z = -1.81; p > 0.05). This study shows that work stress cannot moderate or play an important role in the relationship between program participation and psychological well-being for online motorcycle taxi drivers in the city of Surabaya.  Keywords: Participation, Psychological well-being, Work stress, Online motorcycle taxi drivers.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara partisipasi yang mengikuti program ojek online (slot jatah ruang kerja) dengan kesejahteraan psikologis driver ojek online yang ada di kota surabaya dengan variabel moderator stres kerja yang telah dialami oleh driver ojek online dikota surabaya. Menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah driver ojek online. Data diperoleh dengan cara mengisi kuesioner yang dibagaikan kepada 74 responden driver ojek online, pada penilitian ini sampel yang digunakan menggunakan program GPower. Alat ukur yang telah disusun oleh peneliti menggunkan skala partisipasi program (20 item), kesejahteraan psikologis (48 item) dan stres kerja (40 item). Analisis yang telah digunakan oleh peneliti merupakan analisis regresi ganda. Hasil penelitian ini menggunakan moderated analyses (MRA) dengan menggunakan program JAMOVI. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi program memiliki hubungan yang signifikan dan negatif dengan kesejahteraan psikologis yang memiliki nilai (Z = 4.17; Estimate = 1.0802; p < 0,05). Selain itu, stres kerja secara signifikan tidak dapat moderasi hubungan antara partisipasi program kerja dengan kesejahteraan psikologis (Z = -1,81; p >0,05). Penelitian ini menunjukkan bahwa stres kerja tidak dapat memoderasi atau tidak dapat berperan penting dalam hubungan partisipasi program dengan kesejahteraan psikologis bagi pengemudi ojek online di kota surabaya.  Kata kunci: partisipasi, kesejahteraan psikologis, stres kerja, pengemudi ojek online. 
Transformasi Pendidikan: Bagaimana Kepuasan Kerja dan Kepemimpinan Mendorong Inovasi Guru? Aisya Dwi Rohmawati; Diah Sofiah; Hikmah Husniyah Farhanindya
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Educational transformation requires teachers who demonstrate proactive behavior in supporting change and innovation in schools. This study aims to determine the role of job satisfaction and transformational leadership on change-oriented organizational citizenship behavior among teachers. The study employed a quantitative approach with correlational design involving 105 public junior high school teachers selected using census method. Data collection used Change-Oriented Organizational Citizenship Behavior Scale, Job Satisfaction Scale, and Perceived Transformational Leadership Scale. Data were analyzed using multiple regression. Results showed that job satisfaction and transformational leadership together significantly predict change-oriented organizational citizenship behavior. Partially, job satisfaction proved to be highly significant positive predictor, while transformational leadership had no significant effect. Job satisfaction is key factor in encouraging teachers' proactive behavior to support educational transformation. Keywords: Change-oriented organizational citizenship behavior; job satisfaction; proactive behavior; teachers; transformational leadership Transformasi pendidikan membutuhkan guru yang menampilkan perilaku proaktif dalam mendukung perubahan dan inovasi di sekolah. Penelitian ini bertujuan mengetahui peran kepuasan kerja dan kepemimpinan transformasional terhadap change-oriented organizational citizenship behavior pada guru. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional melibatkan 105 guru sekolah menengah pertama negeri yang dipilih dengan metode sensus. Pengumpulan data menggunakan Skala Change-Oriented Organizational Citizenship Behavior, Skala Kepuasan Kerja, dan Skala Persepsi Kepemimpinan Transformasional. Data dianalisis menggunakan regresi berganda. Hasil menunjukkan kepuasan kerja dan kepemimpinan transformasional secara bersama-sama memprediksi change-oriented organizational citizenship behavior secara signifikan. Secara parsial, kepuasan kerja terbukti menjadi prediktor positif yang sangat signifikan, sedangkan kepemimpinan transformasional tidak berpengaruh signifikan. Kepuasan kerja merupakan faktor kunci dalam mendorong perilaku proaktif guru untuk mendukung transformasi pendidikan.  Kata kunci: change-oriented organizational citizenship behavior; guru; kepemimpinan transformasional; kepuasan kerja; perilaku proaktif
Intensitas Penggunaan Media Sosial Konten “Menikah Itu Menakutkan” dan Kesiapan Menikah pada Dewasa Awal dengan Orang Tua Bercerai Firnanda Dewi Nurhaliza; IGAA Noviekayati; Aliffia Ananta
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine the relationship between the intensity of social media use and marriage readiness among early adults who experience broken homes. The research employed a quantitative correlational method. The subjects consisted of 73 early adults with a background of parental separation. Data were collected using a social media use intensity scale based on marry is scary content and a marriage readiness scale. Data analysis was conducted using Spearman’s Rho correlation test. The results showed a correlation coefficient of −0.751 with a significance value of p < 0.05. These findings indicate a very significant negative relationship between the intensity of social media use and marriage readiness. High levels of social media use intensity are associated with low levels of marriage readiness among early adults who experience broken homes. This study provides an overview of the role of social media in shaping attitudes toward marriage during early adulthood. Keywords: Social Media Use Intensity, Marriage Readiness, Early Adulthood with Broken Home Background, Marry Is Scary. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan intensitas penggunaan media sosial terhadap kesiapan menikah pada dewasa awal yang mengalami broken home. Pendekatan penelitian menggunakan metode kuantitatif korelasional. Subjek penelitian berjumlah 73 dewasa awal dengan latar belakang orang tua berpisah. Pengumpulan data menggunakan skala intensitas penggunaan media sosial berbasis konten marry is scary serta skala kesiapan menikah. Teknik analisis data menggunakan uji korelasi Spearman’s Rho. Hasil analisis menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar −0,751 dengan nilai signifikansi p < 0,05. Temuan tersebut menunjukkan hubungan negatif sangat signifikan antara intensitas penggunaan media sosial terhadap kesiapan menikah. Tingkat intensitas penggunaan media sosial tinggi berkaitan dengan kesiapan menikah rendah pada dewasa awal yang mengalami broken home. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai peran media sosial dalam pembentukan sikap terhadap pernikahan pada fase dewasa awal. Kata kunci: Intensitas Penggunaan Media Sosial, Kesiapan Menikah, Dewasa Awal Orang Tua Bercerai, Menikah itu Menakutkan. 
Kematangan Emosi dan Komunikasi Interpersonal terhadap Kualitas Keharmonisan Keluarga Muda Nanda Shahiza; Bawinda Sri Lestari; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the relationship between emotional maturity, interpersonal communication, and harmony in young families. This study uses a quantitative approach with a correlational method to determine the direction of the relationship. The subjects in this study consisted of 176 respondents who were married couples aged between 20 and 40 years old, with 1 to 5 years of marriage in the Sukamaju, West Binjai. Data collection was conducted using a family harmony scale, an emotional maturity scale, and an interpersonal communication scale that had undergone validity and reliability testing. Data analysis used simple linear regression with the help of the SPSS 16.0 for Windows. The analysis results showed that, partially, emotional maturity had a positive and significant relationship with family harmony, and interpersonal communication also showed a positive and significant relationship with family harmony. Based on the research results, it can be concluded that the higher the emotional maturity and the better the interpersonal communication possessed by the couple, the higher the quality of family harmony felt, especially in young families in the early stages of marriage. Keywords: Emotional Maturity, Family Harmony, Interpersonal Communication, Young Family Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan emosi, komunikasi interpersonal, dan keharmonisan keluarga muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional atau untuk mengetahui arah hubungan. Subjek dalam penelitian terdiri dari 176 responden yang merupakan pasangan suami istri yang berusia antara 20 hingga 40 tahun, dengan usia pernikahan 1 hingga 5 tahun di Kelurahan Sukamaju, Binjai Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala keharmonisan keluarga, skala kematangan emosi, dan skala komunikasi interpersonal yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan regresi linier sederhana dengan bantuan program SPSS 16.0 for Windows. Hasil analisis menunjukkan secara parsial, kematangan emosi memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap keharmonisan keluarga, Begitu pula komunikasi interpersonal menunjukkan hubungan positif dan signifikan terhadap keharmonisan keluarga. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kematangan emosi dan semakin baik komunikasi interpersonal yang dimiliki oleh pasangan, maka semakin tinggi pula kualitas keharmonisan keluarga yang dirasakan, terutama pada keluarga muda di masa awal pernikahan. Keywords: Kematangan Emosi, Keharmonisan Keluarga, Keluarga Muda,  Komunikasi Interpersonal