cover
Contact Name
Isrida Yul Arifiana
Contact Email
isrida@untag-sby.ac.id
Phone
08113542006
Journal Mail Official
jiwauntag1745@untag-sby.ac.id
Editorial Address
JIWA: Indonesian Journal of Psychology Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Jl. Semolowaru No. 45 Surabaya Telp. 0315990029
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
JIWA:Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : 30319897     DOI : https://doi.org/10.30996/jiwa.v3i01
Core Subject : Social,
Jiwa: Jurnal Psikologi Indonesia accepts manuscript research results in the fields of educational psychology, developmental psychology, industrial psychology, Social Psychology and clinical psychology, but not limited to: Personality and Learning Learning Interventions Teaching Strategies Education of Children with Special Needs Education of Gifted Children Counseling in Education Development of Children, Adolescents, Adults, and the Elderly Developmental Problems Parenting Strategies Quality of Life Personality Disorder Behavior Modification Counseling and Psychotherapy Psychosis Disorders Psychological Intervention
Articles 330 Documents
Peran Dukungan Teman Sebaya Dalam Regulasi Emosi Remaja Korban Bullying Endah Dwi Kartika Putri; Hetti Sari Ramadhani; Tatik Meiyuntariningsih
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Victims of bullying can experience various negative effects, especially in terms of psychological well-being. Common effects include fear, low self-esteem, discomfort, feelings of worthlessness, withdrawal from social environments, decreased academic performance due to difficulty concentrating, and difficulty regulating emotions. This study aims to determine whether there is a relationship between peer support and emotional regulation among adolescent bullying victims in Surabaya. The study employs a quantitative correlational method with a sample size of 163 adolescents selected using purposive sampling. The scales used in this study consist of a peer support scale and an emotional regulation scale that have undergone validity and reliability tests. The data analysis technique used is Spearman's Rho correlation analysis. The results of the study indicate a positive and significant relationship between peer support and emotional regulation, with a correlation coefficient (r) of 0.652 and a significance level of p = 0.000. These results indicate that the higher the peer support, the higher the emotional regulation ability of adolescent bullying victims. Conversely, low peer support results in lower emotional regulation among adolescent bullying victims. Keywords: Bullying; Peer support; Emotional regulation Korban bullying dapat mengalami berbagai dampak negatif, terutama dalam aspek kesejahteraan psikologis. Dampak yang umum terjadi meliputi rasa takut, rendah diri, ketidaknyamanan, perasaan tidak berharga, ketertarikan diri dari lingkungan sosial, penurunan prestasi akademik akibat kesulitan berkonsentrasi, serta kesulitan dalam meregulasi emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara dukungan teman sebaya dan regulasi emosi pada remaja korban bullying di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan jumlah responden sebanyak 163 remaja yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Skala yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari skala dukungan teman sebaya dan skala regulasi emosi yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara dukungan teman sebaya dan regulasi emosi, dengan nilai korelasi (r) sebesar 0,652 dan nilai signifikansi p = 0,000. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan dari teman sebaya, maka semakin tinggi pula kemampuan regulasi emosi remaja korban bullying. Sebaliknya, rendahnya dukungan teman sebaya, maka semakin rendah pula regulasi emosi remaja korban bullying. Kata kunci: Bullying; Dukungan teman sebaya; Regulasi emosi
Marriage Is Scary? Perhatikan Intensitas Penggunaan Medsos dan Self-Compassion pada Dewasa Awal Alfhani Pradita Nurrahmah; Mamang Efendy; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The "Marriage is Scary" phenomenon, widely discussed on social media, reflects a growing level of premarital anxiety among emerging adults. This anxiety is often triggered by excessive exposure to negative content about marriage and unrealistic social expectations formed through social media. On the other hand, a person’s ability to treat themselves kindly (self-compassion) can help reduce this anxiety. This study aims to examine the relationship between the intensity of social media use and self-compassion with premarital anxiety in emerging adults. Using a quantitative correlational method, this research involved 373 participants. The instruments used were the Premarital Anxiety Scale, the Social Media Use Intensity Scale, and the Self-Compassion Scale each developed based on relevant theoretical frameworks. The results showed a significant relationship between social media use intensity and self- compassion with premarital anxiety. The higher the intensity of social media use, the higher the level of premarital anxiety; conversely, the higher the self- compassion, the lower the anxiety experienced. These findings highlight the importance of media literacy, so individuals can filter out negative content, and the development of self-compassion as a strategy to manage premarital anxiety. This approach may help emerging adults deal with social pressures and complex expectations around marriage in a healthier and more realistic way. Keywords: emerging adulthood, premarital anxiety, self-compassion, social media, social media use intensity. Fenomena "Marriage is Scary" yang ramai dibicarakan di media sosial mencerminkan meningkatnya kecemasan pra-nikah di kalangan dewasa awal. Kecemasan ini sering kali dipengaruhi oleh paparan berlebih terhadap konten negatif tentang pernikahan dan ekspektasi sosial yang dibentuk melalui media sosial. Di sisi lain, kemampuan individu untuk bersikap baik pada diri sendiri (self-compassion) berpotensi menurunkan tingkat kecemasan yang dirasakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dan self- compassion dengan kecemasan pra-nikah pada individu dewasa awal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan partisipan sebanyak 373 orang. Alat ukur yang digunakan adalah skala kecemasan pra-nikah, skala intensitas penggunaan media sosial, dan skala self-compassion yang disusun berdasarkan teori relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dan self-compassion dengan kecemasan pra- nikah. Semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial, maka semakin tinggi tingkat kecemasan pra-nikah; sebaliknya, semakin tinggi self- compassion, maka semakin rendah kecemasan yang dirasakan. Hasil ini memberikan implikasi pada pentingnya literasi media sosial agar individu dapat menyaring konten negatif dan pengembangan self-compassion sebagai strategi untuk mengelola kecemasan pra- nikah. Pendekatan ini dapat membantu dewasa awal menghadapi tekanan sosial dan ekspektasi yang kompleks terkait pernikahan dengan lebih sehat dan realistis. Kata kunci: intensitas penggunaan media sosial, kecemasan pra-nikah, masa dewasa awal, media sosial, self-compassion
Achievement Pressure dan Academic Dishonesty: Moderasi oleh Tingkat Religiusitas Mahasiswa Christy Maharani Mamuko; Mamang Efendy; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Academic dishonesty behavior is one form of ethical violation in the world of education that is increasingly common among students. This study aims to determine the effect of achievement pressure on academic dishonesty, as well as the role of religiosity as a moderating variable in this relationship. This study uses a quantitative approach with a correlational method. The subjects in this study were 350 active students domiciled in Surabaya. The results of the study showed that there was a positive and significant effect between achievement pressure on academic dishonesty behavior (β = 0.74697; p < 0.001). Meanwhile, religiosity had a negative and significant effect on academic dishonesty (β = -0.18762; p < 0.001), which means that the higher the religiosity, the lower the tendency to commit academic fraud. However, the results of the interaction analysis showed that religiosity did not moderate the relationship between achievement pressure and academic dishonesty (β = -0.000159; p = 0.608). Keywords: Academic Dishonesty; Achievement Pressure; Religiosity Perilaku ketidakjujuran akademik (Academic Dishonesty) merupakan salah satu bentuk pelanggaran etika dalam dunia pendidikan yang semakin sering terjadi di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengauh antara tekanan prestasi (Achievement Pressure) terhadap ketidakjujuran akademik (Academic Dishonesty), serta peran religiusitas sebagai variabel yang memoderasi hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 350 mahasiswa aktif yang berdomisili di Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara tekanan prestasi terhadap perilaku ketidakjujuran akademik (β = 0,74697; p < 0,001). Sementara itu, religiusitas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ketidakjujuran akademik (β = -0,18762; p < 0,001), yang berarti semakin tinggi religiusitas, semakin rendah kecenderungan untuk melakukan kecurangan akademik. Namun, hasil analisis interaksi menunjukkan bahwa religiusitas tidak memoderasi hubungan antara tekanan prestasi dan Academic Dishonesty (β = -0,000159; p = 0,608). Kata kunci: Academic Dishonesty; Achievement Pressure; Religiusitas
Kecenderungan Narsistik sebagai Prediktor Intensitas Penggunaan Media Sosial Kharisma Alinda Sari; Hetti Sari Ramadhani; Tatik Meiyuntariningsih
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examined the relationship between narcissistic tendencies and the intensity of social media use among adolescents. The objective was to determine whether narcissistic traits and the amount of time spent on social media are related. The study employed a correlational design with a quantitative methodology. The participants were adolescents aged 15 to 19 who actively used social media. A total of 163 individuals were selected using purposive sampling. The instruments used were the narcissistic tendency scale and the social media usage intensity scale, both developed based on relevant psychological theories. Data were analyzed using a correlation technique to determine the relationship between the variables. The results indicated a tendency for higher narcissistic traits to be associated with more intense use of social media. Adolescents who exhibit narcissistic characteristics tend to use social media as a platform for self-expression and to seek approval or validation from others. This finding highlights the psychological role of social media as a space for constructing identity, especially among youth with self-focused personality traits. The study contributes to the understanding of how personality dynamics influence digital behavior in the adolescent population. Keywords: adolescent; narcissistic tendencies; self-validation; social media; usage intensity. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kecenderungan narsistik dengan intensitas penggunaan media sosial pada remaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat kaitan antara ciri-ciri narsistik dan jumlah waktu yang dihabiskan di media sosial. Penelitian menggunakan desain korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Partisipan dalam penelitian ini adalah remaja berusia 15 hingga 19 tahun yang aktif menggunakan media sosial. Sebanyak 163 partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi skala kecenderungan narsistik dan skala intensitas penggunaan media sosial yang disusun berdasarkan teori psikologi yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan teknik korelasi untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja dengan kecenderungan narsistik yang lebih tinggi cenderung memiliki intensitas penggunaan media sosial yang lebih besar. Remaja yang menunjukkan sifat narsistik menggunakan media sosial sebagai sarana untuk mengekspresikan diri dan memperoleh persetujuan dari orang lain. Temuan ini menegaskan bahwa media sosial berperan sebagai ruang psikologis dalam membangun identitas diri, terutama bagi individu dengan karakteristik kepribadian yang berpusat pada diri sendiri. Kata kunci: intensitas penggunaan media sosial; kecenderungan narsistik; media sosial; remaja; validasi diri.
Resiliensi Pasangan Menikah: Peran Optimisme dan Regulasi Emosi Nora Fitriani Setyo Harsono; IGAA Noviekayati; Amherstia Pasca Rina
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Marriage presents various challenges requiring couples' adaptability. Resilience is key for married individuals to endure and manage conflicts positively. This study aims to examine the relationship between optimism and emotion regulation with resilience in married individuals. This quantitative correlational research involved 107 participants aged 19 to 60 years. Data were collected using a Likert scale-based questionnaire via Google Form. Multiple regression analysis results indicated that optimism and emotion regulation simultaneously have a significant relationship with resilience. Partially, both optimism and emotion regulation were significant positive predictors of resilience. Emotion regulation contributed more significantly to resilience compared to optimism. In conclusion, optimism and emotion regulation are crucial aspects contributing to the resilience of married individuals, enabling them to navigate relationship dynamics more effectively. Keywords: Emotion Regulation; Marriage; Optimism; Resilience Pernikahan menghadapi berbagai tantangan yang menuntut kemampuan adaptasi pasangan. Resiliensi menjadi kunci bagi individu yang sudah menikah untuk bertahan dan mengelola konflik secara positif. Penelitian ini bertujuan menguji keterkaitan antara optimisme dan regulasi emosi dengan resiliensi pada individu yang sudah menikah. Penelitian kuantitatif korelasional ini melibatkan 107 partisipan berusia 19 hingga 60 tahun. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berbasis skala Likert melalui Google Form. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa optimisme dan regulasi emosi secara simultan memiliki hubungan yang signifikan dengan resiliensi. Secara parsial, optimisme dan regulasi emosi masing-masing merupakan prediktor positif yang signifikan terhadap resiliensi. Regulasi emosi memberikan kontribusi lebih besar terhadap resiliensi dibandingkan optimisme. Kesimpulannya, optimisme dan regulasi emosi adalah aspek penting yang berkontribusi pada resiliensi individu yang sudah menikah, membantu mereka menghadapi dinamika hubungan dengan lebih baik. Kata kunci: Optimisme; Pernikahan; Regulasi Emosi; Resiliensi
Kelembutan pada Diri dan Kepedulian Sosial: Studi tentang Mahasiswa Siti Anitasari; Suroso; Isrida Yul Arifiana
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to explore the connection between self-compassion and prosocial behavior among students at the University of 17 August 1945 Surabaya. The proposed hypothesis suggests that there is a positive correlation between self-compassion and prosocial behavior in this student population. The study employs a quantitative correlational research design and includes 306 students from various faculties at the university. The instruments utilized in this research consist of a prosocial behavior scale based on the theory by Eisenberg & Mussen (1989) and a self-compassion scale derived from Neff's (2003) theory. The collected data were analyzed using the product-moment correlation technique with the aid of SPSS 16 for Windows. The analysis revealed a positive and significant relationship between self-compassion and prosocial behavior, with rxy = 0.630 at p = 0.000 (p < 0.01). Fostering self-compassion among students may serve as an effective approach to enhance prosocial behavior. Consequently, interventions or programs that promote the development of self-compassion on campus could lead to more positive social interactions among students. Keywords: Prosocial Behavior, Self-Compassion, Student Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dan perilaku prososial di kalangan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Hipotesis yang diajukan menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara self-compassion dan perilaku prososial dalam populasi mahasiswa tersebut. Penelitian ini menggunakan desain penelitian korelasional kuantitatif dan melibatkan 306 mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari skala perilaku prososial yang didasarkan pada teori Eisenberg & Mussen (1989) dan skala self-compassion yang berasal dari teori Neff (2003). Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi product-moment dengan bantuan SPSS 16 untuk Windows. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara self-compassion dan perilaku prososial, dengan rxy = 0.630 pada p = 0.000 (p < 0.01). Mengembangkan self-compassion di kalangan mahasiswa dapat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan perilaku prososial. Oleh karena itu, intervensi atau program yang mendukung pengembangan self-compassion di kampus dapat mengarah pada interaksi sosial yang lebih positif di antara mahasiswa. Kata kunci: Perilaku Prososial, Self-Compassion, Mahasiswa
Kebersyukuran dan Efikasi Diri sebagai Protektor Psikologis terhadap Kecemasan Masa Depan Mahasiswa Riris Anggie Yuana; Amanda Pasca Rini; Bawinda Sri Les
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Final-year undergraduate students represent a group susceptible to future anxiety, a condition often exacerbated by a competitive job market and the inherent uncertainties individuals face about their futures. This study aimed to analyze the relationship between gratitude, self-efficacy, and future anxiety among final-year psychology students. A quantitative method was employed, utilizing a simple random sampling technique. The sample consisted of 100 final-year students from a Faculty of Psychology. Data were collected using a gratitude scale, the General Self-Efficacy Scale (GSE), and the Future Anxiety Scale (FAS). Data analysis was performed using multiple regression analysis. The results indicated a significant and negative relationship between both gratitude and self-efficacy with future anxiety. That is, higher levels of gratitude were associated with lower levels of future anxiety, and vice versa. Similarly, higher levels of self-efficacy were correlated with lower levels of future anxiety. Gratitude and self-efficacy collectively accounted for 40.4% of the variance in future anxiety, as shown by the R-square value (R2=0.404). Keywords: final-year students, future anxiety, gratitude, self-efficacy Mahasiswa akhir merupakan kelompok yang rentan mengalami kecemasan akan masa depan, hal ini disebabkan oleh ketatnya persaingan kerja dan ketidakpastian masa depan yang dimiliki setiap individu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebersyukuran dan efikasi diri dengan kecemasan akan masa depan pada mahasiswa akhir di fakultas psikologi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik simple random sampling. Sampel terdiri dari 100 mahasiswa akhir dari Fakultas Psikologi. Pengambilan data menggunakan skala kebersyukuran, skala efikasi diri (GSE), dan skala kecemasan akan masa depan (FAS). Analisis data dilakukan dengan uji regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bersifat negatif dan signifikan antara kebersyukuran dan efikasi diri dengan kecemasan akan masa depan. Artinya, semakin tinggi kebersyukuran maka akan semakin rendah kecemasan akan masa depan, begitupula sebaliknya. Semakin tinggi efikasi diri maka akan semakin rendah kecemasan akan masa depan yang dirasakan oleh individu, begitupula sebaliknya. Antara kebersyukuran dan efikasi diri bersama-sama memberikan sumbangsih sebesar 40,4% kecemasan akan masa depan, seperti yang ditunjukkan oleh nilai R-square (R2 = 0,404). Kata kunci: Efikasi diri, Kebersyukuran, Kecemasan akan masa depan, Mahasiswa tingkat akhir.
Melewati Masa Krisis Usia 20-an: Strategi Coping Dan Self efficacy Terhadap Karir Membentuk Resiliensi Maulidya Rahma Meilinda; IGAA Noviekayati; Aliffia Ananta
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine the relationship between problem-focused coping and career decision making self-effficacy with resilience in early adulthood during the quarter-life crisis phase. This study employed a quantitative approach with a total of 115 participants. The subjects were early adults aged 19–30 years who were currently experiencing experienced a quarter-life crisis in the East Java region. The participant recruitment process used was non-probability sampling with a quota sampling method. The instruments used in this study included three psychological scales: a resilience scale, a problem-focused copping scale, and a career self-efficacy scale. The outcome of multiple linear regression analysis showed a significant relationship between problem-focused coping and career self-efficacy with resilience, with a contribution of 42.8%. This means that the higher the problem-focused coping and career self-efficacy, the higher the level of resilience in early adulthood during the quarter-life crissis, and vice versa. Keywords: Career Decision Making Self-Efficacy; Problem focused coping; Resilience Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara problem focused coping dan self efficacy terhadap karir dengan resiliensi dewasa awal di fase quarter life crisis. Pendekatan dalam penelitian menerapkan metode kuantatif dengan jumlah partisipan sebanyak 115 orang. Subjek penelitian ini adalah individu berusia 19-30 tahun yang mengalami quarter life crisis di wilayah Jawa Timur. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non-probability sampling dengan jenis kuota sampling. Instrumen penelitian yang digunakan terdiri dari tiga skala psikologis, yaitu skala resiliensi, skala problem focused coping, dan skala self efficacy terhadap karir. Hasil analisis data menggunakan uji regresi berganda menunjukkan bahwa adanya hubungan signifikan antara problem focused coping dan self efficacy terhadap karir dengan resiliensi, yang memiliki kontribusi sebesar 42,8%. Artinya, semakin tinggi problem focused coping dan self efficacy terhadap karir maka semakin tinggi pula tingkat resiliensi, begitu juga sebaliknya. Kata kunci: Problem Fosused Coping, Self efficacy terhadap karir, Resiliensi
Peran Kontrol Diri dalam Dinamika Perilaku Bullying di Lingkungan Sekolah Moch Syahirul Alam Bagasul Ulum; IGAA Noviekayati; Amherstia Pasca Rina
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bullying behavior is one of the problems that is often found in the world of education. In the data from the Indonesian Child Protection Commission (KPAI) in the period 2020-2023 there were 1,916 reports related to bullying cases in the field of education and continued to increase. Based on previous research, there are internal and external factors of bullying behavior. One of them is self-control. This study examines the relationship between self-control and bullying behavior in schools. The study population included 122 students in one of the junior high schools in Sidoarjo. The sampling technique used accidental sampling. This study uses the product moment approach method which shows that there is a significant negative relationship between self-control and bullying behavior (rxy = 0.495, p < 0.001) which means that if the level of self-control is high, the level of bullying behavior is low and vice versa. This finding underlines the importance of self-control in reducing bullying behavior and highlights the need for various aspects of both the school, environment, and parents in improving self-control in children or students. Keywords: Self-control, Bullying Behavior, Students, Junior High School Perilaku bullyiing merupakan salah satu permasalahan yang sering ditemui pada dunia pendidikan. Pada data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam kurun waktu 2020-2023 terdapat 1.916 laporan terkait kasus bullying di bidang Pendidikan dan terus meningkat. Berdasarkan penelitian sebelumnya, terdapat faktor internal dan eksternal dari perilaku bullying. Salah satunya adalah kontrol diri. Penelitian ini meneliti hubungan antara kontrol diri dengan perilaku bullying di sekolah. Populasi penelitian mencakup 122 Siswa di salah satu SMP di Sidoarjo. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan product moment yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif signifikan antara kontrol diri dengan perilaku bullying (rxy=-0,495, p < 0,001) yang artinya jika tingkat kontrol diri tinggi, maka tingkat perilaku bullying rendah dan begitupun sebaliknya. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya kontrol diri dalam mengurangi perilaku bullying dan menyoroti perlunya berbagai macam aspek baik pihak sekolah, lingkungan, maupun orangtua dalam meningkatkan kontrol diri pada anak atau siswa. Kata kunci: Kontrol diri; Perilaku Bullying; Siswa; SMP
Hubungan Kontrol Diri dengan Kecenderungan Adiksi Game Online pada Remaja di Madiun Fiqi Fandi Fahrizal; Suroso; Isrida Yul Arifiana
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this study is to examine the connection between adolescents' propensity for online game addiction and self-control in Madiun. Quantitative research methodologies are used in this study. All 939 female students enrolled in junior high schools in Madiun Regency, specifically SMP Negeri 1 Dolopo, make up the study's population. There are 200 samples based on the Slovin formula calculation results. Unintentional sampling is used in the sampling procedure. The Spearman Rho correlation approach is the data analysis method employed in this investigation. The Spearman Rho correlation approach was used to calculate the data between online game addiction and self-control. The results showed a strong association between the two, with a correlation value of -0.152 and a significant 0.031 (p<0.05). The study's findings demonstrated a strong correlation between students' degree of online game addiction and their ability to exercise self-control. Keywords: Addiction, online games, tendencies, self-control, teen Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji hubungan antara kecenderungan remaja untuk kecanduan game online dan pengendalian diri di Madiun. Metodologi penelitian kuantitatif digunakan dalam penelitian ini. Semua 939 siswi yang terdaftar di sekolah menengah pertama di Kabupaten Madiun, khususnya SMP Negeri 1 Dolopo, membentuk populasi penelitian. Ada 200 sampel berdasarkan hasil perhitungan rumus Slovin. Pengambilan sampel yang tidak disengaja digunakan dalam prosedur pengambilan sampel. Pendekatan korelasi Spearman Rho adalah metode analisis data yang digunakan dalam penyelidikan ini. Pendekatan korelasi Spearman Rho digunakan untuk menghitung data antara kecanduan game online dan pengendalian diri. Hasilnya menunjukkan hubungan yang kuat antara keduanya, dengan nilai korelasi -0,152 dan signifikansi 0,031 (p<0,05). Temuan penelitian menunjukkan korelasi yang kuat antara tingkat kecanduan game online siswa dan kemampuan mereka untuk melakukan pengendalian diri. Kata Kunci: Adiksi, Game online, Kecenderungan, Kontrol Diri, Remaja