cover
Contact Name
Isrida Yul Arifiana
Contact Email
isrida@untag-sby.ac.id
Phone
08113542006
Journal Mail Official
jiwauntag1745@untag-sby.ac.id
Editorial Address
JIWA: Indonesian Journal of Psychology Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Jl. Semolowaru No. 45 Surabaya Telp. 0315990029
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
JIWA:Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : 30319897     DOI : https://doi.org/10.30996/jiwa.v3i01
Core Subject : Social,
Jiwa: Jurnal Psikologi Indonesia accepts manuscript research results in the fields of educational psychology, developmental psychology, industrial psychology, Social Psychology and clinical psychology, but not limited to: Personality and Learning Learning Interventions Teaching Strategies Education of Children with Special Needs Education of Gifted Children Counseling in Education Development of Children, Adolescents, Adults, and the Elderly Developmental Problems Parenting Strategies Quality of Life Personality Disorder Behavior Modification Counseling and Psychotherapy Psychosis Disorders Psychological Intervention
Articles 330 Documents
Resiliensi dan Harapan Mendorong Flourishing pada Keluarga Pengasuh Pasien Penyakit Kronis Angelia Hanna Stevany; IGAA Noviekayati; Amherstia Pasca Rina
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Individuals with chronic illnesses depend on family caregivers due to the severity of their illness, causing physical, emotional, and economic burdens that increase the risk of depression and fatigue. This has the potential to reduce the quality of care, increase the risk of patient relapse, and cause family dysfunction. This study aims to determine the relationship between resilience and hope with flourishing in family caregivers of individuals with chronic illnesses, both partially and simultaneously. The study used a correlational quantitative approach with purposive sampling techniques. The sample consisted of 85 family caregivers. The measurement tools included the Secure Flourishing Index, Connor-Davidson Resilience Scale, and Herth Hope Index. Data analysis techniques used multiple regression to test the predictors of flourishing in family caregivers of individuals with chronic diseases. The results of the study simultaneously showed a significant relationship between the variables of resilience and hope with flourishing in family caregivers of individuals with chronic diseases. Partially, the variable of resilience with flourishing showed very significant results with a positive direction, and the variable of hope with flourishing showed very significant results with a positive direction. Keywords: Family Caregiver; Flourishing; Hope; Individuals with Chronic Diseases; Resilience Individu dengan penyakit kronis bergantung pada family caregiver akibat keparahan penyakitnya, menyebabkan beban fisik, emosional, dan ekonomi yang meningkatkan risiko depresi serta kelelahan. Hal ini berpotensi menurunkan kualitas perawatan, meningkatkan risiko relaps pasien, dan menyebabkan disfungsi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan resiliensi dan harapan dengan flourishing pada family caregiver individu dengan penyakit kronis, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling. Sampel berjumlah 85 family caregiver. Alat ukur meliputi the Secure Flourishing Index, Connor-Davidson Resilience Scale, dan Herth Hope Index. Teknik analisis data menggunakan regresi berganda untuk menguji prediktor flourishing pada family caregiver individu dengan penyakit kronis. Hasil penelitian secara simultan menunjukkan adanya hubungan yang signifikan variabel resiliensi dan harapan dengan flourishing pada family caregiver  individu dengan penyakit kronis. Secara parsial variabel resiliensi dengan flourishing menunjukkan hasil yang sangat signifikan dengan arah yang positif dan variabel harapan dengan flourishing menunjukkan hasil yang sangat signifikan dengan arah yang positif. Kata kunci: Family Caregiver; Flourishing; Harapan; Individu dengan Penyakit Kronis; Resiliensi
Strategi Regulasi Emosi Cognitive Reappraisal dengan Meaningful Work pada Karyawan Nabila Fadhia Salama; Diah Sofiah; Hikmah Husniyah Farhanindya
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jobs in the public service sector require psychological abilities to interpret work positively amid emotional pressure. This study aims to examine the relationship between cognitive reappraisal emotion regulation strategies and meaningful work among employees of the Surabaya City Transportation Agency. The study uses a correlational quantitative approach involving 123 employees who were assessed using the Work and Meaning Inventory (WAMI) and the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ). Data analysis was performed using Spearman's rho correlation. The results showed a significant positive relationship between cognitive reappraisal and meaningful work (r = 0.410; p < 0.01). These findings indicate that the ability to cognitively reappraise work situations plays a role in increasing the meaningfulness of work for employees in the public service sector. Keywords: Meaningful work, emotion regulation, cognitive reappraisal, employee, public service Pekerjaan di sektor pelayanan publik menuntut kemampuan psikologis dalam memaknai pekerjaan secara positif di tengah tekanan emosional. Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara strategi regulasi emosi cognitive reappraisal dan meaningful work pada karyawan Dinas Perhubungan Kota Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 123 karyawan yang diukur menggunakan Work and Meaning Inventory (WAMI) dan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ). Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara cognitive reappraisal dan meaningful work (r = 0,410; p < 0,01). Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan menilai ulang situasi kerja secara kognitif berperan dalam meningkatkan kebermaknaan kerja pada karyawan sektor pelayanan publik. Kata kunci: Meaningful work, regulasi emosi, cognitive reappraisal, karyawan, pelayanan publik
Toxic Productivity dengan Burnout Pada Mahasiswa Pekerja Nur Hamidah; Nindia Pratitis; Andik Matulessy
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to empirically examine the relationship between toxic productivity and burnout among students who maintain a dual role as workers in Surabaya. The problem focuses on the phenomenon of excessive productivity drive in a metropolitan city, which often forces students to ignore their self-capacity limits, thereby triggering chronic emotional exhaustion. This research employs a quantitative approach with a correlational design. The participant selection technique used was purposive sampling, involving 144 active students working full-time, part-time, or freelance in the Surabaya area. The research instruments consisted of the Toxic Productivity Scale, developed based on Ramadhina’s (2021) aspects, and the Burnout Scale, referring to Maslach and Leiter’s (2016) aspects. The results of the Pearson Product Moment correlation analysis showed a correlation value of r=0.405 with a significance of p=0.000 (p<0.05), indicating a significant positive relationship between toxic productivity and burnout. The effective contribution of toxic productivity to burnout was 16.4%. This implies that the higher the level of toxic productivity in working students, the higher the level of burnout they experience. Keywords: burnout; early adulthood; mental health; toxic productivity; working students Permasalahan dalam penelitian ini berfokus pada fenomena dorongan toxic productivity di kota metropolitan yang sering kali memaksa mahasiswa mengabaikan batas kemampuan diri sehingga memicu burnout yang kronis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan partisipan yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah partisipan sebanyak 144 mahasiswa aktif yang bekerja (purna waktu, paruh waktu, maupun freelance) di wilayah Surabaya. Instrumen penelitian terdiri atas Skala Toxic Productivity yang disusun berdasarkan aspek dari Ramadhina (2021) serta Skala Burnout yang mengacu pada aspek dari Maslach dan Leiter (2016). Hasil uji korelasi Product Moment dari Pearson menunjukkan nilai korelasi sebesar r=0,405 dengan signifikansi p=0,000 (p<0,05), yang menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara toxic productivity dan burnout. Sumbangan efektif yang diberikan toxic productivity terhadap burnout sebesar 16,4%. Artinya, semakin tinggi dorongan toxic productivity pada mahasiswa pekerja, maka semakin tinggi pula tingkat burnout yang mereka alami. Kata kunci: burnout; dewasa awal; kesehatan mental; mahasiswa pekerja; toxic productivity.
Peran Dukungan Sosial dan Resiliensi terhadap Kesejahteraan Psikologis pada Mahasiswa HTS Afifah Pratiwi; Devi Puspitasari; Tatik Meiyuntariningsih
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study originates from the phenomenon of casual romantic relationships among students college, which may influence their psychological well-being. The purpose of this research is to examine the relationship between social support and resilience with psychological well-being among students involved in such relationships. The study employed a quantitative correlational design with 150 participants from Surabaya, selected through purposive sampling. Data were collected using three psychological scales measuring social support, resilience, and psychological well-being, and analyzed using multiple linear regression. The findings revealed that social support and resilience jointly relate to psychological well-being, but only resilience independently contributes significantly to enhancing psychological well-being. These results highlight the importance of strengthening resilience to help students adapt and maintain their psychological well-being in informal interpersonal relationships. Keywords: college students; psychological well-being; resilience; relationship without status; social support Penelitian ini berangkat dari fenomena hubungan tanpa status yang banyak dialami oleh mahasiswa dan dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan resiliensi dengan kesejahteraan psikologis pada mahasiswa yang menjalin hubungan tanpa status. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian adalah 150 mahasiswa di Kota Surabaya yang sedang menjalin hubungan tanpa status, dipilih dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan tiga skala psikologis yang mengukur dukungan sosial, resiliensi, dan kesejahteraan psikologis, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial dan resiliensi secara bersama-sama berhubungan dengan kesejahteraan psikologis. Namun, secara terpisah, hanya resiliensi yang berperan signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis mahasiswa yang menjalin hubungan tanpa status. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan resiliensi agar mahasiswa mampu beradaptasi dan menjaga kesejahteraan psikologis dalam dinamika hubungan interpersonal yang tidak terikat secara formal. Kata Kunci: dukungan sosial; kesejahteraan psikologis; mahasiswa; hubungan tanpa status; resiliensi
Cyberchondria di Era Digital: Peran Neuroticism pada Pengguna Internet Usia Dewasa Awal Jenar Shelomita Kristanto; Mamang Efendy; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cyberchondria is a condition in which individuals excessively search for health information on the internet, causing anxiety, while neuroticism is one of the Big Five personality dimensions characterized by a tendency to experience negative emotions such as anxiety, fear, and easy stress. This study aims to determine the relationship between cyberchondria and neuroticism in early adult internet users. This study used a quantitative approach with correlational methods. Participants totaled 351 early adults (18-40 years old) who were selected using purposive sampling technique. The measuring instruments used were the Cyberchondria scale and the Neuroticism scale, both of which had been tested for validity and reliability. The data analysis technique used was Pearson product moment correlation technique. shows that there is a significant positive relationship between cyberchondria and neuroticism (p < 0.05), which means that the higher a person's level of neuroticism, the higher the tendency of cyberchondria he has. These results indicate the importance of paying attention to personality aspects in understanding excessive health information seeking behavior on the internet.Keywords: Anxiety; Cyberchondria, Early adulthood; Internet; Neuroticism;Cyberchondria merupakan kondisi di mana individu secara berlebihan mencari informasi kesehatan di internet sehingga memunculkan kecemasan, sedangkan neuroticism adalah salah satu dimensi kepribadian Big Five yang ditandai dengan kecenderungan mengalami emosi negatif seperti cemas, takut, dan mudah stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara cyberchondria dan neuroticism pada individu usia dewasa awal pengguna internet. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Partisipan berjumlah 351 usia dewasa awal (18–40 tahun) yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala Cyberchondria dan skala Neuroticism, yang keduanya telah diuji untuk validitas dan reliabilitas. Teknik analisis data yang digunakan adaalah teknik korelasi pearson product moment. menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara cyberchondria dan neuroticism (p < 0,05), yang berarti semakin tinggi tingkat neuroticism seseorang, maka semakin tinggi pula kecenderungan cyberchondria yang dimilikinya. Hasil ini menunjukkan pentingnya memperhatikan aspek kepribadian dalam memahami perilaku pencarian informasi kesehatan secara berlebihan di internet.Kata Kunci: Cyberchondria; Internet; Kecemasan; Neurotisme; Usia Dewasa Awal
Work Engagement di Karyawan: Peran Resiliensi dan Burnout dalam Industri Furnace Devi Maharani Dwi Arti; Yanto Prasetyo; Hikmah Husniyah Farhanindya
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Work engagement may be defined as a positive mental state indicating complete involvement in one's professional activities. The objective of this study is to ascertain the relationship between resilience and burnout, on the one hand, and work engagement, on the other, among employees in the head office of a mining services company specialising in furnace, kiln, and demolition services. The present study employed a quantitative approach, utilising a correlational design. A total of 50 students participated in the study by means of a technique known as "sample saturation". The data were collected using three psychological measurement tools and subsequently analysed with multiple linear regression. The findings of the present study demonstrate a substantial and direct relationship between resiliensi and burnout, both of which are concepts that are concurrently associated with work engagement. The relationship between resilience and work engagement is positive, while the relationship between burnout and work engagement is negative. The present study hypothesises that levels of work engagement are elevated in instances of resiliensi and diminished in instances of burnout.Keywords: Burnout; Employee; Resilience; Work Engagement.Work engagement adalah kondisi mental positif yang menunjukkan keterlibatan karyawan secara penuh dalam pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resiliensi dan burnout dengan work engagement pada karyawan head office di perusahaan jasa pertambangan yang bergerak di bidang furnace, kiln, dan demolition. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 50 karyawan menjadi partisipan melalui teknik sampel jenuh. Data dikumpulkan menggunakan tiga alat ukur psikologis dan dianalisis dengan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi dan burnout secara simultan berhubungan signifikan dengan work engagement. Resiliensi memiliki hubungan positif, sedangkan burnout memiliki hubungan negatif terhadap work engagement. Penelitian ini menyimpulkan bahwa work engagement karyawan cenderung lebih tinggi ketika resiliensi meningkat dan burnout menurun.Kata kunci: Burnout; Karyawan; Resilience; Work Engagement.
Penggunaan Media Sosial dan Dukungan Sosial: Implikasinya terhadap Intensi Perilaku Seksual Pranikah pada Mahasiswa Kalista Altaira Arafiu; Dyan Evita Santi; Rahma Kusumandari
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Premarital sexual behavior intention is a critical issue among college students. This study aims to examine the relationship between social media use and social support on such intentions among students in Surabaya. A quantitative correlational method was used, involving 270 students aged 19–24 in romantic relationships, selected through purposive sampling. Instruments included the Social Media Usage Scale, Social Support Scale, and Premarital Sexual Behavior Intention Scale. Data were analyzed using multiple linear regression. Results showed a positive relationship between social media use and premarital sexual behavior intention, and a negative relationship with social support. Both variables significantly contributed to the intention simultaneously. These findings highlight the importance of sexual education and social media supervision for adolescents.Keywords: college students, premarital sexual behavior intention, social media use, social supportIntensi perilaku seksual pranikah menjadi isu penting di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan media sosial dan dukungan sosial terhadap intensi perilaku seksual pranikah pada mahasiswa di Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan 270 mahasiswa berusia 19–24 tahun yang menjalin hubungan romantis, dipilih melalui purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi Skala Penggunaan Media Sosial, Skala Dukungan Sosial, dan Skala Intensi Perilaku Seksual Pranikah. Analisis data menggunakan regresi linier berganda. Hasil menunjukkan adanya hubungan positif antara penggunaan media sosial dan intensi perilaku seksual pranikah, serta hubungan negatif antara dukungan sosial dan intensi tersebut. Secara simultan, kedua variabel berkontribusi signifikan terhadap intensi perilaku seksual pranikah. Temuan ini menekankan pentingnya edukasi seksual dan pengawasan media sosial bagi remaja.Kata kunci: dukungan sosial, intensi perilaku seksual pranikah, mahasiswa, penggunaan media sosial
Harapan Tak Terputus: Efikasi Diri dan Dukungan Sosial dalam Membangun Masa Depan Anak Jalanan Dina Mifzaluna Fajriyah
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study focuses on examining the correlation between self-efficacy and social support with future orientation in the street children. Street children are a vulnerable group who often lack a clear life direction due to insufficient parental care and a supportive environment. This study employs a quantitative approach with 30 male participant residing in a social community. Data were analyzed using multiple regression techniques. The result indicate that self-efficacy and social support simultaneously have a significant influence on future orientation, contributing 53.79% of the variance. Partially, selgf-effficacy has a significant and positivis influence on future, while social support does not have a significant influence. However, bivariate correlation analysis shows that social support has a significant positive correlation with future orientation. These findings indicate that self-efficacy plays a more dominant role in shaping the future orientation of street children it has been proven that personal factors contribute more direcly to the development of future orientation.Keywords: street children; self-efficacy; social support; future orientation.Penelitian ini berfokus untuk mengkaji korelasi antara efikasi diri dan dukungan sosial dengan orientasi masa depan pada anak jalanan. Anak jalanan merupakan kelompok rentan yang sering kali tidak memiliki arah hidup yang jelas karena kurangnya pengasuhan orang tua dan lingkungan yang mendukung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan 30 partisipan laki-laki yang tinggal di komunitas sosial. Data dianalisis menggunakan teknik regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efikasi diri dan dukungan sosial secara simultan berhubungan signifikan terhadap orientasi masa depan, dengan kontribusi efektif sebesar 53,79%. Secara parsial, efikasi diri memiliki hubungan signifikan dan positif terhadap orientasi masa depan, sementara dukungan sosial tidak berhubungan signifikan. Namun, analisis korelasi bivariat menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki korelasi positif yang signifikan dengan orientasi masa depan. Temuan ini menunjukkan bahwa efikasi diri memainkan peran yang lebih dominan dalam membentuk orientasi masa depan anak jalanan, terbukti faktor pribadi berkontribusi lebih besar secara langsung terhadap perkembangan orientasi masa depan.Kata kunci: anak jalanan; efikasi diri; dukungan sosial; orientasi masa depan.
Perilaku Agresi akibat Problematic Social Media Use dan Peran Social Support sebagai Moderator Lorenza Dia Prameswari; Dyan Evita Santi; Rahma Kusumandari
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adolescents are individuals in a crucial stage of social development, where they tend toengage and interact with their social groups to develop social skills. However, such intense social interactions may also lead to interpersonal conflicts, which have the potential to trigger aggressive behavior. This study aims to examine the moderating role of social support in the relationship between problematic social media use and aggressive behavior among adolescents. The research employed a quantitative correlational method with a total of 377 university students selected through accidental sampling. The instruments used included an aggression scale adapted from Buss & Perry (1992) with a reliability of 0.959, a problematic internet use scale from Caplan (2010) with a reliability of 0.954, and a social support scale from Sarafino and Smith (2011) with a reliability of 0.944. Data analysis was conducted using Pearson Product Moment correlation. The results showed that social support significantly moderates the relationship between problematic social media use and aggressive behavior. High levels of social support were found to reduce tendencies toward aggressive behavior, even when individuals experienced problematic social media use. Therefore, social support serves as a protective factor for adolescents.Keywords: Adolescents, Aggressive Behavior, Problematic Social Media Use, Social Support Remaja merupakan individu yang sedang berada pada tahap perkembangan sosial yang penting, di mana mereka cenderung berinteraksi dan bergabung dengan kelompok sosialnya untuk mengembangkan keterampilan sosial. Namun, interaksi sosial yang intens ini juga dapat menimbulkan konflik dalam hubungan interpersonal, yang berpotensi memicu perilaku agresi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran moderasi social support dalam hubungan antara problematic social media use dan perilaku agresi pada remaja. Penelitian menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan jumlah responden sebanyak 377 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan meliputi skala perilaku agresi yang diadaptasi dari Buss & Perry (1992) dengan reliabilitas 0,959, skala problematic internet use dari Caplan (2010) dengan reliabilitas 0,954, dan skala social support dari Sarafino dan Smith (2011) dengan reliabilitas 0,944. Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa social support mampu memoderasi secara positif hubungan antara problematic social media use dan perilaku agresi. Dukungan sosial yang tinggi terbukti dapat mengurangi kecenderungan perilaku agresi meskipun individu mengalami penggunaan media sosial yang bermasalah, sehingga social support berperan sebagai faktor pelindung bagi remajaKata kunci: Perilaku Agresi, Problematic Social Media Use, Remaja, Social Support
Kematangan Emosi pada Mahasiswa di Kampus Keagamaan: Bagaimana Peranan Religiusitas? Natanael Luis Samudra; Suhadianto; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Students on religious campuses exhibit emotional instability despite being in an environment that upholds religious values. Behaviors such as being easily offended, reactive to pressure, and having difficulty managing stress indicate that their emotionalmaturity is still relatively low. Based on the data, it shows that students are in the medium emotional maturity category and are in the high religiosity category. This study aims to determine the relationship between religiosity and emotional maturity in students on religious campuses. This study used a quantitative method with a non-experimental correlational approach. The study population consisted of 5,411 students at a Christian University in Surabaya, with a sample of 357 students selectedincidentally. The instruments used were a religiosity scale and an emotional maturity scale. The results of data analysis using the Spearman Rho test showed a significant positive relationship between religiosity and emotional maturity. These findingsreinforce the idea that religiosity can be an internal factor contributing to students' emotional development.Keywords: Religiosity, Emotional Maturity, University Students, Faith-based Campus Mahasiswa di kampus keagamaan menunjukkan ketidakstabilan emosi meskipun berada dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai religius. Perilaku seperti mudah tersinggung, reaktif terhadap tekanan, dan kesulitan mengelola stres menjadi indikasibahwa kematangan emosi mereka masih tergolong rendah. Berdasarkan hasil data, menunjukkan bahwa mahasiswa berada pada kategori kematangan emosi sedang dan berada dalam kategori religiusitas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara religiusitas dan kematangan emosi pada mahasiswa di kampus berbasis agama. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional non-eksperimental. Populasi penelitian terdiri dari 5.411 mahasiswa Universitas Kristen di Surabaya, dengan sampel sebanyak 357 mahasiswa yang dipilih secara insidental. Instrumen yang digunakan adalah skala religiusitas dan skala kematangan emosi. Hasil analisis data menggunakan ujiSpearman Rho menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara religiusitas dan kematangan emosi. Temuan ini memperkuat bahwa religiusitas dapat menjadi salah satu faktor internal yang berkontribusi terhadap perkembanganemosional mahasiswa.Kata kunci: Religiusitas, Kematangan Emosi, Mahasiswa, Kampus Keagamaan