cover
Contact Name
Miftakhul Jannah
Contact Email
cjpp@unesa.ac.id
Phone
+6282231445454
Journal Mail Official
miftakhuljannah@unesa.ac.id
Editorial Address
Universitas Negeri Surabaya Lidah Wetan Surabaya 60213 Jawa Timur - Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
CJPP
ISSN : 22526129     EISSN : 30634806     DOI : https://doi.org/10.26740/cjpp
Character Jurnal Penelitian Psikologi is a peer-reviewed journal that covers all topics in theoretical and applied psychology that is managed by Department of Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Negeri Surabaya. This journal is published in January, May, and September by Universitas Negeri Surabaya.
Articles 1,052 Documents
Pengaruh Dukungan Sosial dan Lingkungan Kerja terhadap Stres Kerja pada Perawat RSI Sakinah Mojokerto Prasetya, Cindera Brata Putra
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1054-1067

Abstract

Profesi tersebut rentan mengalami stres adalah perawat, karena mereka memikul tanggung jawab besar terhadap keselamatan 2 pasien. Tantangan utama yang dihadapi perawat adalah meningkatnya tingkat stres di tempat kerja akibat tuntutan pelayanan yang tinggi. Jika stres ini tidak dikelola dengan baik, perawat bisa menjadi kurang produktif dan secara tidak sadar menunjukkan sikap yang kurang peduli, malas, tidak efektif, serta tidak efisien, yang pada akhirnya dapat merugikan organisasi. Menurut Basrowi et al. (2020), 83% tenaga kesehatan mengalami burnout syndrome, dengan 41% di antaranya mengalami kelelahan emosional, 22% kehilangan empati, dan 52% mengalami penurunan kepercayaan diri. Selain itu, World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa sekitar 450 juta orang di seluruh dunia mengalami stres (Perwitasari, 2015. Penelitian ini bertujuan untuk sejauh mana dukungan sosial dan lingkungan kerja berpengaruh terhadap tingkat stres kerja terhadap perawat di rumah sakit. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja dan dukungan sosial berpengaruh terhadap tingkat stres terhadap perawat. Penelitian dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial dan lingkungan kerja secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap stres kerja karyawan. Hal ini menunjukkan bahwa stres kerja bukanlah hasil dari satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari berbagai elemen dalam lingkungan sosial dan fisik yang saling memengaruhi. Oleh karena itu, pendekatan yang menyeluruh diperlukan untuk mengatasi stres kerja secara efektif.    Abstract Nurses are a profession particularly vulnerable to stress, as they bear significant responsibility for patient safety. The primary challenge nurses face is increasing workplace stress levels due to high service demands. If this stress is not managed properly, nurses can become less productive and unconsciously display attitudes of indifference, laziness, ineffectiveness, and inefficiency, which can ultimately harm the organization. According to Basrowi et al. (2020), 83% of healthcare workers experience burnout syndrome, with 41% experiencing emotional exhaustion, 22% experiencing a loss of empathy, and 52% experiencing decreased self-confidence. In addition, the World Health Organization (WHO) states that around 450 million people worldwide experience stress (Perwitasari, 2015. This study aims to determine the extent to which social support and work environment influence the level of work stress on nurses in hospitals. The results of this study indicate that the work environment and social support influence the level of stress on nurses. The study can be concluded that social support and work environment simultaneously have a significant influence on employee work stress. This shows that work stress is not the result of a single factor, but rather a combination of various elements in the social and physical environment that influence each other. Therefore, a comprehensive approach is needed to overcome work stress effectively.
Hubungan Perceived Social Support dengan Self-Regulated Learning Siswa Kelas XI SMAN “X” Surakarta Rahmalia, Mita; Astriana, Selly
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1068-1080

Abstract

Self-regulated learning merupakan kemampuan penting yang memungkinkan siswa mengelola proses belajarnya secara mandiri, mulai dari perencanaan, pelaksanaan strategi belajar, hingga evaluasi hasil belajar. Kemampuan ini semakin krusial di era pendidikan modern Indonesia, khususnya pada Kurikulum Merdeka yang menuntut siswa untuk aktif, mandiri, dan adaptif dalam menghadapi berbagai tuntutan akademik. Namun, tidak semua siswa memiliki kemampuan self-regulated learning  yang optimal, dan salah satu faktor yang diduga berperan adalah perceived social support atau dukungan sosial yang dirasakan. Dukungan sosial yang berasal dari keluarga, teman sebaya, maupun orang spesial dapat memberikan rasa aman, motivasi, serta kepercayaan diri yang diperlukan siswa untuk mengatur belajarnya secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perceived social support dengan self-regulated learning pada siswa kelas XI SMAN “X” Surakarta. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik convenience sampling dan pengumpulan data melalui kuesioner. Instrumen yang digunakan meliputi Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) untuk mengukur self-regulated learning dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) untuk mengukur perceived social support. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi linier sederhana Spearman’s Rho. Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi 0.063 (p > 0.05) dengan koefisien rho 0.190, sehingga hipotesis tidak diterima. Dengan demikian, kesimpulan penelitian ini yaitu tidak terdapat hubungan signifikan antara perceived social support dan self-regulated learning pada siswa kelas XI SMAN “X” Surakarta. Abstract Self-regulated learning is an essential ability that enables students to manage their learning processes independently, including planning, implementing learning strategies, and evaluating learning outcomes. This ability has become increasingly crucial in the context of modern education in Indonesia, particularly under the Merdeka Curriculum, which requires students to be active, independent, and adaptive in meeting various academic demands. However, not all students demonstrate optimal self-regulated learning, and one factor suspected to influence this ability is perceived social support. Social support from family, peers, and significant others may provide a sense of security, motivation, and confidence that students need to regulate their learning effectively. This study aims to examine the relationship between perceived social support and self-regulated learning among eleventh-grade students at SMAN “X” Surakarta. The research employed a survey method using convenience sampling, with data collected through questionnaires. The instruments used were the Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) to measure self-regulated learning and the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) to measure perceived social support. Data were analyzed using Spearman’s Rho simple linear correlation. The results showed a significance value of 0.063 (p > 0.05) and a rho coefficient of 0.190, indicating that the hypothesis was not supported. Thus, this study concludes that there is no significant relationship between perceived social support and self-regulated learning among eleventh-grade students at SMAN “X” Surakarta.
Dari Asing Menjadi Akrab: Makna Dukungan Teman Sebaya bagi Mahasiswa Rantau Syawitri, Anisa Niken; Jaro‘ah, Siti
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1081-1090

Abstract

Mahasiswa rantau dihadapkan pada berbagai tantangan psikososial seperti kesepian, tekanan adaptasi, dan stres akademik akibat hidup jauh dari keluarga, sehingga dukungan teman sebaya menjadi sumber bantuan yang penting dalam proses penyesuaian diri. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam pengalaman mahasiswa rantau dalam menerima, membentuk, dan memaknai dukungan teman sebaya selama menjalani kehidupan perkuliahan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis berbasis teori Dukungan Sosial Cohen dan Wills (1985). Partisipan terdiri dari tiga mahasiswa rantau yang dipilih melalui purposive sampling, dan data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur kemudian dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan teman sebaya hadir dalam bentuk dukungan emosional berupa empati dan pendampingan, dukungan instrumental yang mempermudah kebutuhan sehari-hari, serta dukungan informasional dan penghargaan yang meningkatkan kepercayaan diri. Temuan juga menunjukkan bahwa dukungan tersebut memunculkan rasa memiliki, memperkuat identitas diri, dan membantu mahasiswa mengatasi stres, kesepian, serta proses adaptasi sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dukungan teman sebaya memiliki peran signifikan dalam membentuk kesejahteraan psikologis dan keberhasilan adaptasi mahasiswa rantau, serta menegaskan pentingnya pengembangan program peer support dalam lingkungan kampus. Abstract Inter-university students face various psychosocial challenges such as loneliness, adaptation pressure, and academic stress due to living far from family, making peer support an important source of assistance in the adjustment process. This study aims to understand in-depth the experiences of inter-university students in receiving, forming, and interpreting peer support during their college life. The method used is a qualitative approach with a phenomenological design based on Cohen and Wills' (1985) Social Support Theory. Participants consisted of three inter-university students selected through purposive sampling, and data were collected through in-depth semi-structured interviews and then analyzed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The results show that peer support comes in the form of emotional support in the form of empathy and mentoring, instrumental support that facilitates daily needs, and informational support and appreciation that increase self-confidence. The findings also indicate that this support creates a sense of belonging, strengthens self-identity, and helps students cope with stress, loneliness, and the social adaptation process. This study concludes that peer support plays a significant role in shaping the psychological well-being and successful adaptation of inter-university students, and emphasizes the importance of developing peer support programs within the campus environment.
Efektivitas Program “Speak It Loud!” Untuk Meningkatkan Self-Efficacy Berbicara di Depan Umum Siswa SD Yusuf, Salsabil Muti Alifah; Hapsari, Maharani Tyas Budi
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1091-1102

Abstract

Kemampuan public speaking yang efektif sangat penting untuk membangun self-efficacy sejak dini, namun self-efficacy anak Indonesia masih perlu ditingkatkan. Penelitian ini mengusulkan sebuah program pelatihan public speaking bernama "Speak it Loud!" yang berfokus pada teknik vokal dan praktik langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas program tersebut dalam meningkatkan self-efficacy berbicara di depan umum siswa kelas 4-6 SD yang mengikuti kelas public speaking kids-2 di Talenta Admaja Nusantara (TAN). Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain pretest-posttest control design dan pengambilan data time series (3x pertemuan). Sampel terdiri dari 5 siswa kelas kids-2a (eksperimen) dan 5 siswa kelas kids-2b (kontrol). Data skala self-efficacy dan pretest-posttest dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kelompok eksperimen, dengan nilai signifikansi < 0.05 untuk kedua pengukuran (self-efficacy: 0.043; pretest-posttest: 0.042). Kesimpulannya, program "Speak it Loud!" terbukti efektif meningkatkan self-efficacy berbicara di depan umum pada siswa SD. Dengan program serupa, diharapkan self-efficacy berbicara di depan umum anak Indonesia bisa meningkat signifikan. Abstract Effective public speaking skills are essential for building self-efficacy from an early age, but the self-efficacy of Indonesian children still needs to be improved. This study proposes a public speaking training program called “Speak it Loud!” that focuses on vocal techniques and hands-on practice. This study aims to measure the effectiveness of the program in improving the public speaking self-efficacy of 4th-6th grade elementary school students who participated in the Kids-2 public speaking class at Talenta Admaja Nusantara (TAN). This study used a quasi-experimental method with a pretest-posttest control design and time series data collection (3 meetings). The sample consisted of 5 students from class kids-2a (experimental) and 5 students from class kids-2b (control). The self-efficacy scale and pretest-posttest data were analyzed using the Wilcoxon test. The results showed a significant increase in the experimental group, with a significance value of < 0.05 for both measurements (self-efficacy: 0.043; pretest-posttest: 0.042). In conclusion, the “Speak it Loud!” program was proven to be effective in increasing public speaking self-efficacy in elementary school students. With similar programs, it is hoped that the public speaking self-efficacy of Indonesian children can increase significantly.
Terjebak di Transisi: Menguak Peran Dukungan Sosial Sebagai Penyangga Stres Karier Pada QLC Mahasiswa Maharani, Elsatiti Nadya; Jaro’ah, Siti
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1103-1113

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir sering kali berada pada titik kritis transisi menuju kedewasaan profesional yang memicu kecemasan mendalam. Fenomena Quarter Life Crisis (QLC) muncul sebagai bentuk tekanan emosional yang signifikan, namun pemahaman mengenai karakteristik spesifik dan cara mahasiswa psikologi mengatasinya masih perlu dieksplorasi lebih mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi manifestasi QLC, menganalisis faktor pemicu baik secara internal maupun eksternal, serta memetakan strategi koping yang diterapkan oleh mahasiswa Program Studi Psikologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap tiga orang mahasiswa tingkat akhir yang sedang menempuh tugas akhir (skripsi) untuk mendapatkan gambaran fenomenologis yang komprehensif. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa QLC dicirikan oleh "krisis ganda", yakni ketakutan akut akan kegagalan akademik yang beriringan dengan kebingungan visi hidup pasca-kampus. Faktor penyebab utama melibatkan kerentanan internal akibat pola kelekatan keluarga yang kurang stabil, serta tekanan eksternal berupa perbandingan sosial dan fenomena Fear of Missing Out (FoMO). Mahasiswa secara dominan menggunakan strategi koping berupa refleksi diri untuk pencarian jati diri serta mobilisasi dukungan sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa QLC merupakan fase transformatif bagi pengembangan diri mahasiswa. Dukungan sosial memegang peranan vital sebagai penyangga (buffer) stres karier yang mampu meningkatkan resiliensi individu. Implikasi praktis dari temuan ini menekankan pentingnya penyediaan program mentoring karier dan penguatan dukungan emosional untuk memitigasi dampak krisis pada dewasa awal. Abstract Final-year students are often at a critical transition point toward professional adulthood, which frequently triggers profound anxiety. The Quarter-Life Crisis (QLC) phenomenon emerges as a significant form of emotional pressure; however, an in-depth understanding of its specific characteristics and the coping mechanisms employed by psychology students remains limited. This study aims to identify the manifestations of QLC, analyze both internal and external triggering factors, and map the coping strategies implemented by students within the Psychology Study Program. This research adopts a qualitative approach with a descriptive case study design. Data were gathered through in-depth interviews with three final-year students currently completing their undergraduate theses to obtain a comprehensive phenomenological overview. The findings reveal that QLC is characterized by a "double crisis": acute academic fear regarding graduation coupled with a lack of vision for post-campus life. Primary triggers include internal vulnerabilities rooted in unstable family attachment patterns, as well as external pressures such as social comparison and the Fear of Missing Out (FoMO) phenomenon. Students predominantly utilize coping strategies involving self-reflection for self-discovery and the mobilization of social support. This study confirms that QLC serves as a transformative phase for student self-development. Social support plays a vital role as a buffer against career stress, effectively enhancing individual resilience. The practical implications of these findings emphasize the importance of providing systematic career mentoring programs and strengthening emotional support to mitigate the impact of the crisis during early adulthood.
Perlakuan Diam: Komunikasi Yang Menyakitkan Tanpa Sepatah Kata Assegaf, Safira; Asih, Situ
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1114-1125

Abstract

Silent treatment merupakan bentuk komunikasi pasif-agresif yang muncul ketika seseorang secara sengaja menarik diri atau menghentikan interaksi dalam suatu hubungan. Meskipun tidak melibatkan kekerasan verbal, perilaku ini dapat memicu distress emosional karena mengancam kebutuhan dasar manusia seperti keterhubungan, penghargaan diri, kendali, dan rasa aman. Artikel ini bertujuan mengkaji faktor psikologis yang melatarbelakangi silent treatment, mekanisme dampaknya terhadap kesejahteraan emosional, serta konsekuensi jangka panjangnya pada kualitas hubungan interpersonal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka. Data diperoleh dari buku psikologi dan artikel jurnal ilmiah yang relevan dengan topik silent treatment, khususnya yang membahas teori ostracism, attachment, dan regulasi emosi. Analisis dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola konsep dan temuan utama dalam literatur. Kajian literatur menunjukkan bahwa silent treatment dipengaruhi oleh kesulitan regulasi emosi, pola keterikatan tidak aman, kebutuhan mengontrol situasi, dan pengalaman keluarga masa kecil. Dampaknya meliputi kecemasan, kebingungan, penurunan harga diri, serta runtuhnya kepercayaan dan keintiman dalam hubungan. Silent treatment merupakan pola komunikasi disfungsional yang berdampak negatif terhadap kesehatan emosional dan stabilitas hubungan, sehingga diperlukan keterampilan regulasi emosi dan komunikasi asertif untuk mencegahnya. Abstract Silent treatment is a form of passive-aggressive communication in which an individual deliberately withdraws, ignores, or suspends interaction within a relationship. Although it does not involve direct verbal aggression, this behavior can trigger emotional distress because it threatens fundamental human needs such as connection, self-esteem, control, and relational security. This article aims to explore the psychological factors that contribute to silent treatment, the mechanisms through which it influences emotional well-being, and its long-term consequences for relationship quality. This study employs a descriptive qualitative approach using a literature review method. The data were obtained from psychology textbooks and scholarly journal articles relevant to the topic of silent treatment, particularly those discussing ostracism theory, attachment theory, and emotion regulation. The data were analyzed thematically to identify conceptual patterns and key findings within the existing literature. The review shows that silent treatment emerges from difficulties in emotional expression, insecure attachment patterns, a desire for control, and early family communication dynamics. Its detrimental impacts include increased anxiety, confusion, diminished self-worth, and erosion of trust and intimacy. Silent treatment is a dysfunctional communication pattern with significant emotional and relational consequences. Enhancing emotional regulation and assertive communication is essential to prevent and reduce this harmful behavior.
Peran Regulasi Diri terhadap Prokrastinasi pada Siswa SMP Negeri 48 Surabaya Dewantara, David; Halida, Arfin Nurma
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1126-1133

Abstract

Prokrastinasi akademik merupakan perilaku yang cukup sering ditemukan pada siswa SMP, ditandai dengan kecenderungan menunda pengerjaan tugas meskipun memiliki waktu dan kemampuan yang memadai. Perilaku ini dapat menghambat proses belajar dan berkaitan erat dengan kemampuan regulasi diri siswa dalam mengelola waktu, emosi, serta dorongan internal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku prokrastinasi akademik pada siswa SMP serta melihat peran regulasi diri dalam memengaruhi kecenderungan penundaan tugas akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian adalah seorang siswa kelas VIII di SMP Negeri 48 Surabaya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara (autoanamnesis dan alloanamnesis), serta dokumentasi selama pelaksanaan magang. Data dianalisis secara deskriptif dengan mengaitkan temuan lapangan dan konsep teoritis yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prokrastinasi akademik muncul secara situasional, terutama pada mata pelajaran yang dianggap sulit. Regulasi diri yang belum optimal, seperti kesulitan mengelola waktu, menunda tindakan, dan ketergantungan pada suasana hati, berperan dalam munculnya perilaku tersebut. Regulasi diri memiliki peran penting dalam perilaku prokrastinasi akademik siswa. Peningkatan kemampuan regulasi diri dapat membantu siswa mengurangi kebiasaan menunda tugas dan meningkatkan kualitas belajar. Abstract Academic procrastination is a common behavior among junior high school students, characterized by delaying academic tasks despite having sufficient time and ability. This behavior can hinder the learning process and is closely related to students’ self-regulation skills, including time management, emotional control, and internal motivation. This study aims to describe academic procrastination behavior among junior high school students and to examine the role of self-regulation in influencing task delay tendencies. This study employed a qualitative approach with a case study design. The research subject was an eighth-grade student at SMP Negeri 48 Surabaya. Data were collected through observation, interviews (auto-anamnesis and allo-anamnesis), and documentation during the internship program. Data analysis was conducted descriptively by linking field findings with relevant theoretical concepts. The findings indicate that academic procrastination occurs situationally, particularly in subjects perceived as difficult. Limited self-regulation, such as poor time management, intention–action gaps, and reliance on mood, contributes to procrastination behavior. Self-regulation plays a significant role in academic procrastination. Strengthening students’ self-regulation skills may help reduce procrastination and improve learning outcomes.
Hubungan Antara Quarter Life Crisis dan Psychological Well-Being Pada Mahasiswa Tingkat Akhir: Peran Self-Compassion Sebagai Mediator Maharani, Elsatiti Nadya; Santosa, Rizky Putra
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1134-1143

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir sering kali berada pada fase transisi krusial yang memicu tekanan psikologis berupa Quarter-Life Crisis (QLC). Kondisi ini berisiko menurunkan kesejahteraan psikologis jika individu tidak memiliki mekanisme koping yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi peran Self-Compassion (SC) sebagai mediator dalam hubungan antara Quarter-Life Crisis terhadap Psychological Well-Being (PWB) pada mahasiswa tingkat akhir. Studi kuantitatif ini melibatkan 74 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui instrumen Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12), skala Psychological Well-Being 18 item, dan Self-Compassion Scale (SCS). Analisis data dilakukan dengan teknik Structural Equation Modeling (SEM) melalui modul mediasi pada perangkat lunak JASP, dengan prosedur bootstrapping sebanyak 5000 replikasi untuk menguji efek tidak langsung. Temuan menunjukkan tidak adanya korelasi signifikan antara QLC dan PWB (r = 0,148; p = 0,208). Hasil uji mediasi mengonfirmasi bahwa Self-Compassion (SC) tidak berperan sebagai mediator dalam model ini, dengan nilai efek tidak langsung sebesar -0,002 (p = 0,902; 95% CI  [-0,066; 0,018]). Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh krisis terhadap kesejahteraan tidak dijembatani oleh belas kasih diri pada sampel tersebut.  Penelitian ini menyimpulkan bahwa mekanisme kesejahteraan psikologis mahasiswa di masa transisi bersifat multifaset dan tidak hanya bergantung pada satu faktor internal. Implikasi penelitian ini menekankan perlunya evaluasi terhadap instrumen penelitian lokal serta pertimbangan faktor eksternal lainnya dalam merancang intervensi kesehatan mental mahasiswa. Abstract Final-year students often navigate a critical transitional phase that triggers psychological pressure known as Quarter-Life Crisis (QLC). This condition poses a risk to psychological well-being if individuals lack effective coping mechanisms. This study aims to investigate the role of Self-Compassion (SC) as a mediator in the relationship between Quarter-Life Crisis and Psychological Well-Being (PWB) among final-year students. This quantitative study involved 74 respondents selected using a purposive sampling technique. Data were collected using the Developmental Crisis Questionnaire (DCQ-12), an 18-item Psychological Well-Being scale, and the Self-Compassion Scale (SCS). Data were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) via the mediation module in JASP, employing a 5000-replication bootstrapping procedure to test the indirect effects. The findings revealed no significant correlation between QLC and PWB (r = 0.148; p = 0.208). The mediation analysis confirmed that Self-Compassion (SC) did not act as a mediator in this model, with an indirect effect value of -0.002 (p = 0.902; 95% CI [-0.066, 0.018]). This indicates that the impact of crisis on well-being is not bridged by self-compassion within this sample. This study concludes that the psychological well-being mechanisms of students during transition are multifaceted and do not rely solely on a single internal factor. The implications of this research emphasize the need for evaluating local research instruments and considering other external factors when designing student mental health interventions.
Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Psychological Well-being pada Mahasiswa Bekerja Paruh Waktu Ramadhani, Nanda Puspita; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1144-1158

Abstract

Mahasiswa yang bekerja paruh dihadapkan pada tuntutan ganda antara kewajiban akademik dan tanggung jawab pekerjaan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan tekanan psikologis yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis mahasiswa. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam menjaga psychological well-being adalah dukungan sosial yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan psychological well-being pada mahasiswa bekerja paruh waktu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Subjek penelitian berjumlah 305 mahasiswa yang bekerja paruh waktu dan berdomisili Surabaya, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) serta skala psychological well-being yang disusun berdasarkan model Ryff. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal, sehingga data analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial dan psychological well-being pada mahasiswa bekerja paruh waktu (rs = 0,215; p < 0,001). Dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial memiliki peran dalam meningkatkan psychological well-being mahasiswa yang bekerja paruh waktu, meskipun kekuatan hubungannya tergolong rendah. Hal ini menunjukkan bahwa psychological well-being mahasiswa dipengaruhi oleh berbagai faktor lain di luar dukungan sosial. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan bagi institusi pendidikan dan pihak terkait dalam merancang upaya pendukung untuk menjaga kesejahteraan psikologis mahasiswa yang menjalani peran ganda. Abstract Part-time working students face dual demands between academic obligations and work responsibilities. This situation may lead to psychological stress that affects their psychological well-being. One factor believed to play a role in maintaining psychological well-being is social support obtained from the surrounding environment. This study aims to examine the relationship between social support and psychological well-being among part-time working students. Employing a quantitative correlational approach, the research involved 305 part-time working students residing in Surabaya, selected via purposive sampling. Data were collected using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) and a psychological well-being scale developed based on Ryff's model. Normality tests revealed non-normal data distribution, so Spearman's correlation test was applied. Results indicated a positive and significant relationship between social support and psychological well-being (rs = 0.215; p < 0.001). In conclusion, social support contributes to enhancing psychological well-being among part-time working students, though the strength of the relationship is low. This suggests that psychological well-being is influenced by various other factors beyond social support. These findings are expected to inform educational institutions and stakeholders in designing support initiatives for students balancing dual roles.
Hubungan antara Perbandingan Sosial dengan Kecemasan pada Mahasiswa Pengguna Media Sosial Ramadhani, Nouvalya Putri; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1159-1169

Abstract

Tingginya intensitas penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa sebagai emerging adults meningkatkan kerentanan terhadap perbandingan sosial yang dipicu oleh potret kehidupan ideal di ruang digital. Fenomena ini berpotensi memicu tekanan psikologis berupa kecemasan akibat ketidakmampuan individu dalam memenuhi standar pencapaian atau gaya hidup yang ditampilkan secara daring. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perbandingan sosial dengan kecemasan pada mahasiswa pengguna media sosial. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dan pengumpulan data menggunakan kuesioner berupa Google Form. Instrumen yang digunakan meliputi Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) untuk mengukur perbandingan sosial dan Beck Anxiety Inventory (BAI). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif perguruan tinggi di Surabaya yang berusia 18-25 tahun dan menggunakan media sosial. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji Spearman rho menggunakan perangkat lunak SPSS 25 for Windows. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,387 dengan nilai signifikansi (p) sebesar 0,000. Temuan  ini mengindikasikan  adanya  hubungan  positif  yang  signifikan  dengan  tingkat  kekuatan  sedang  antara perbandingan sosial dan kecemasan pada mahasiswa pengguna media sosial. Abstract The high intensity of social media use among college students as emerging adults increases their vulnerability to social comparison triggered by idealized portrayals of life in the digital space. This phenomenon has the potential to trigger psychological pressure in the form of anxiety due to individuals' inability to meet the standards of achievement or lifestyle displayed online. This study aims to determine the relationship between social comparison and anxiety among students who use social media. This study uses a correlational quantitative approach and data collection using a questionnaire in the form of a Google Form. The instruments used include the Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) to measure social comparison and the Beck Anxiety Inventory (BAI). The population in this study consisted of active college students in Surabaya aged 18-25 years who use social media. The data analysis technique used was the Spearman rho test using SPSS 25 for Windows software. The analysis results showed that the correlation coefficient (r) value was 0.387 with a significance value (p) of 0.000. These findings indicate a significant positive relationship with a moderate level of strength between social comparison and anxiety among students who use social media.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 01 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 11 No. 3 (2024): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 11 No. 2 (2024): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 11 No. 1 (2024): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 10 No. 3 (2023): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 10 No. 2 (2023): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 10 No. 1 (2023): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 8 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 7 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 6 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi. Vol. 9 No. 5 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 4 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 3 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 2 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 9 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 8 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 7 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 6 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 5 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 4 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 3 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 2 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 1 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 04 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 03 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 3 (2020) Vol. 7 No. 2 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 6 No. 5 (2019) Vol. 6 No. 4 (2019) Vol. 6 No. 3 (2019) Vol. 6 No. 2 (2019) Vol. 6 No. 1 (2019) Vol. 5 No. 3 (2018) Vol. 5 No. 2 (2018): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 5 No. 1 (2018): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 3 (2017): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 2 (2017): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 1 (2017): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 01 (2016): Character Vol. 3 No. 3 (2015): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 3 No. 2 (2014): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 2 No. 3 (2014): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 1 No. 3 (2013): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 1 No. 2 (2013): Character : Jurnal Penelitian Psikologi More Issue