cover
Contact Name
Vinus Zai
Contact Email
vinuszai281085@gmail.com
Phone
+6282245339767
Journal Mail Official
vinuszai281085@gmail.com
Editorial Address
Bukit Trawas II Kavling C-108, Ketapanrame, Kec. Trawas, Kab. Mojokerto, Jawa Timur 61375
Location
Kab. mojokerto,
Jawa timur
INDONESIA
GENEVA: Jurnal Teologi dan Misi
ISSN : 20888368     EISSN : 30900905     DOI : https://doi.org/10.71361/geneva.v6i2
Fokus dan Lingkup di dalam Jurnal ini adalah: Teologi Biblikal, Teologi Sistematika, Teologi Praktika, Teologi Misi, dengan bercorak tradisi Reformasi atau Reformed.
Articles 65 Documents
Kristus Sebagai Adam Kedua Menurut Hilarion Alfeyev: Proses Menuju Pembaharuan Hia, Generasi
GENEVA: JURNAL TEOLOGI DAN MISI Vol. 14 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Abdi Allah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71361/gjtm.v14i1.115

Abstract

 This article aims to analyze the perspective of Jesus as the second Adam in the book Orthodox Christianity Doctrine and Teaching of the Orthodox Church. Jesus Christ as the second Adam is the word of God who came and took on the nature of man to replace and redeem mankind who had fallen into sinfulness due to the disobedience of the first Adam who had violated the commandments of God. Because of the disobedience of the first Adam, human nature itself was polluted by sin, resulting in human beings being unable to receive and experience the grace of God. The perspective of Jesus as the second Adam provides an important point that the first Adam experienced total failure due to disobedience but the second Adam who came as a human being restored human nature that had been polluted by sin and provided a renewal. So that when humans are increasingly renewed in Christ, they will automatically receive eternal life with God. In this research, the author uses a literature study method that analyzes and reads one book as the main source of research that leads to a conclusion that Jesus as the second Adam restores and brings renewal to all humanity.
Pengaruh Menyanyikan Lagu Rohani Terhadap Spiritualitas Mahasiswa Teologi di STTIAA Mojokerto Trianto, Figo Eden Harpael
GENEVA: JURNAL TEOLOGI DAN MISI Vol. 14 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Abdi Allah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71361/gjtm.v14i2.117

Abstract

Sebuah lagu diciptakan memiliki tujuan dan pesan tertentu yang hendak disampaikan penciptanya. Lagu rohani berfokus kepada tujuan untuk memuliakan Allah melalui nyanyian pujian. Lagu rohani sendiri bukan saja sebagai pujian yang dapat dinyanyikan, lebih dari itu sebuah lagu juga memiliki kekuatan untuk memengaruhi seseorang.Di sisi lain, spiritualitas seringkali dihubungkan dengan konteks kerohanian di mana melalui spiritualitas seseorang bukan saja mampu hidup berhubungan dengan Tuhan, tetapi juga mengaplikasikannya dalam tindakan keseharian. Sehingga berdasarkan teori-teori tentang lagu rohani dan spiritualitas mahasiswa yang telah disebutkan di atas, hipotesa yang muncul adalah menyanyikan lagu rohani berpengaruh untuk meningkatkan spiritualitas mahasiswa teologi. Semakin tinggi minat menyanyikan lagu rohani, hal tersebut akan meningkatkan spiritualitas seseorang.Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh lagu rohani terhadap  pertumbuhan spiritualitas, khususnya bagi mahasiswa teologi. Peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif  dan pendekatan survei sebagai langkah untuk mencapai hasil yang diharapkan.
SPIRITUALITAS MENURUT PAULUS DALAM GALATIA 5:16-26: REFLEKSI TEOLOGIS PRAKTIK DISIPLIN ROHANI UMAT PERCAYA Felix, Raynold
GENEVA: JURNAL TEOLOGI DAN MISI Vol. 14 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Abdi Allah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71361/gjtm.v14i1.118

Abstract

Abstract: The Apostle Paul, in the Book of Galatians 5:16-26, gives a very firm emphasis to the Galatians regarding the importance of true spirituality based on the true Gospel. This research uses a qualitative research method with an exposition research approach which aims to understand the phenomena experienced by the research subjects. The Exposition study found an explanation of what spirituality is like according to the Apostle Paul, namely: First, living not according to the desires of the flesh and second, living according to the Spirit. The implementation for the spiritual discipline practice of believers is to prioritize living according to the Spirit because otherwise the spirituality of believers will fall into legality, formality and routine. Regarding the spiritual discipline practices of believers are based and measured on the benchmark of ontological truth, namely Living According to the Spirit.Keywords: Spirituality, Reflection, Practice, Spiritual Discipline Abstrak: Rasul Paulus, dalam Kitab Galatia 5:16-26 memberikan penekanan yang sangat tegas kepada jemaat Galatia mengenai pentingnya spiritualitas yang benar di dasarkan kepada Injil yang benar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian Eksposisi yang bertujuan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian. Kajian Eksposisi menemukan sebuah penjelasan tentang bagaimana Spiritualitas Menurut Rasul Paulus, yaitu: Pertama, Hidup tidak menurut keinginan daging dan kedua, Hidup menurut Roh. Implementasinya bagi praktik disiplin rohani umat percaya adalah lebih mengutamakan Hidup menurut Roh kerana jika tidak maka spiritualitas umat percaya akan jatuh dalam legalitas, formalitas dan rutinitas. Perihal praktik disiplin rohani umat percaya didasarkan dan diukur pada patokan kebenaran ontologis yaitu Hidup Menurut Roh. Kata Kunci: Spiritualitas, Refleksi, Praktek, Disiplin Rohani.
PENDIDIKAN KARAKTER DEWASA AWAL MEMBENTUK GENERASI YANG BERTANGGUNG JAWAB Bansae, Munyati; Hura, Rosnila
GENEVA: JURNAL TEOLOGI DAN MISI Vol. 14 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Abdi Allah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71361/gjtm.v14i2.119

Abstract

Character education in early adulthood in forming a generation that is responsible and has moral integrity. This research aims to understand the impact of character education, influencing factors, character education strategies, and its benefits. In this writing there are different opinions and there are pros and cons related to the effectiveness of character education in forming a responsible generation. Some argue that character education is still relevant and important, while others doubt its effectiveness in dealing with social and cultural changes. These different opinions create the main theme of the paper, namely the role of character education in forming the character of the younger generation.The results of interviews with early adult students representing a variety of views also became an important part of the discussion, illustrating differences in viewpoints in the context of character education. While there are differences of opinion, character education in early adulthood still has an important role in forming a responsible generation. Serious efforts need to be made to integrate character education in various aspects of early adult life, including family, formal education, and the social environment. Keywords: Character Education, Early Adulthood, Generation Formation, Responsibility.
KAJIAN TEOLOGIS MENGENAI KETUNDUKAN ISTRI DAN KEPEMIMPINAN SUAMI MENURUT EFESUS 5:22-25 DAN SIGNIFIKANSINYA DALAM KELUARGA rdiani, Wiwin
GENEVA: JURNAL TEOLOGI DAN MISI Vol. 14 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Abdi Allah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71361/gjtm.v14i2.120

Abstract

Baik ketundukan istri terhadap suami maupun kepemimpinan suami terhadap istri bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipahami secara harafiah. Semenjak kejatuhan manusia dalam dosa, mengakibatkan semua manusia memiliki natur keberdosaan yang sewaktu-waktu bisa saja melakukan kesalahan. Sehingga kesulitan dalam memahami pengertian ketundukan istri terhadap suami akan mempengaruhi pola pikir manusia dalam melakukan kebenaran sebagaimana Alkitab nyatakan. Manusia lebih mudah menilai bagaimana jika ketundukan dimanfaatkan untuk melakukan kekuasaan yang otoriter, demikian pula bagaimana jika istri sulit untuk dipimpin dan lebih cenderung melawan atau meremehkan kepemimpinan suami. Merujuk pada istilah kata  “tunduk” yang disematkan bagi istri, seperti terkesan memiliki sebuah kata “negatif” atau sesuatu yang telah dianggap “kuno”. Istri tunduk terhadap suami, sekilas menempatkan istri berada pada situasi buruk, lemah dan tak berdaya bahkan seperti tidak memiliki hak suara. Tunduk bukanlah sesuatu yang buruk jika dilihat dari kacamata Ilahi. Istri bersukacita karena ia tunduk kepada suaminya sendiri, yaitu suami yang mengasihinya dalam takut akan Tuhan dan ia memperoleh serta menikmati suatu karunia Allah yang tidak diberikan kepada setiap wanita. Begitu juga kepercayaan yang Tuhan berikan kepada suami untuk memimpin istri tentunya harus dilaksanakan sebagaimana Tuhan ajarkan. Kepemimpinan bukan berarti melakukannya dengan otoriter melainkan membawa istrinya dan seluruh anggota keluarga kepada satu kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan tentunya menjadi hal utama dalam memimpin keluarga. Itu sebabnya suami harus memiliki hubungan yang dekat kepada Tuhan yang memberikan mandat kepadanya agar mengerti rancangan dan kehendak Tuhan dalam membina keluarga dengan benar. Demikian pula pengertian dan pemahaman suami yang mengasihi istrinya karena menyadari bahwa Kristus adalah Kepala jemaat yang menyelamatkan. Kekepalaan suami tidak boleh digunakan untuk menghancurkan atau melumpuhkan istrinya atau membuat istrinya frustasi untuk menjadi dirinya sendiri. Kekepalaannya lebih kepada mengungkapkan perhatian daripada kontrol, tanggungjawab daripada aturan. Kristus telah berinisiatif dengan kasih setiaNya untuk mengasihi, merawat dan mendidik jemaat agar serupa dengan Dia yang menyelamatkannya. Keserasian dalam peran suami dan istri akan memberi dampak positif bagi pertumbuhan keluarga. Keluarga yang sehat, bermula dari suami-istri mengerti peran dan fungsinya masing-masing, sehingga tidak akan terjadi yang namanya kekacauan maupun overlap dalam peran kepemimpinan keluarga. setiap pribadi diarahkan untuk kembali kepada rancangan semula Allah dalam membentuk dan memberkati keluarga
Makna Tato: Apakah Orang Kristen Boleh Bertato? Zebua, Eka Kurniawan
GENEVA: JURNAL TEOLOGI DAN MISI Vol. 14 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Abdi Allah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71361/gjtm.v14i1.121

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari tahu dan memberikan pemahaman kepada orang yang telah menerima Tuhan sebagai Juruselamat untuk tidak meraja tubuhnya dengan tato. Tato merupakan sebuah karya seni yang dibuat pada kulit dengan tujuan untuk mengenang pengalaman hidup dan juga sebagai jimat agar tubuhnya tetap aman. Tato juga dapat dikatakan sebagai goresan pada bagian tubuh manusia yang dibuat dengan menggunakan jarum dan zat pewarna sehingga terlihat indah dan menarik pada tubuh. Akan tetapi, tato dalam pandang iman Kristen sangat tidak boleh karena manusia seakan-akan merasa berkuasa atas diriya. Kemudian, merusak gambar Allah karena manusia adalah gambar dan rupa Allah sehingga timbul rasa tidak taat dalam diri manusia itu sendiri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif atau metode studi pustaka. Dengan metode ini, maka penulis menemukan satu pembahasan tentang makna tato dan apakah orang Kristen dapat bertato. Oleh karena itu, tato dalam kalangan iman Kristen tidak boleh. Jadi, dengan penelitian ini maka para pembaca dapat mengerti dan memahami bahwa orang Kristen tidak dapat mentato tubuhnya sebab tubuhnya adalah gambar dan rupa Allah.
Pengaruh Kepemimpinan Misi Gereja-Gereja di Bandar Lampung Terhadap Keterlibatannya dalam Penjangkauan Suku Terabaikan Christyawan, Rudhy
GENEVA: JURNAL TEOLOGI DAN MISI Vol. 14 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Abdi Allah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71361/gjtm.v14i1.125

Abstract

Dari pengalaman peneliti ketika melakukan pelayanan di Lampung, ternyata di kota Bandar Lampung banyak Gereja tidak memiliki Kebijakan Misi dan juga tidak adanya komisi Misi yang bisa menghasilkan program-program Misi, hal itu disebabkan pemimpin gereja belum memiliki kepemimpinan Misi yang membuat ketelibatannya dalam Misi. Berdasarkan permasalahan di atas maka diperlukan penelitian bagaimana pengaruh Kepemimpinan Misi Pemimpin-Pemimpin Gereja di Bandar Lampung terhadap keterlibatannya pada penjangkauan suku terabaikan, dengan hipotesisnya adalah : ada pengaruh positif antara kepemimpinan misi dari pemimpin-pemimpin gereja di Banda Lampung terhadap keterlibatannya pada penjangkauan suku terabaikan. Adapun metode penelitian lapangan yang cocok dipakai di sini adalah Penelitian Kwantitatif berupa penelitian korelasional yang menekankan pola hubungan sebab akibat di antara variabel bebas dan terikat, penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis, yang akan diteliti adalah korelasi dan pengaruh atara variabel X yaitu Kepemimpinan Misi dari pemimpin-pemimpin gereja terhadap variabel Y yaitu Keterlibatannya pada penjangkauan Suku Terabaikan. Analisis data penelitian di dalam metode ini menggunakan analisis korelasi sederhana untuk  mengetahui nilai korelasi variabel X terhadap Y dan nilai regresi antara variabel tersebut untuk menentukan besarnya sumbangan X dalam membentuk Y melalui nilai koefisien determinasi, perhitungan dilakukan dengan menggunakan alat bantu program SPSS release 19 for windows.Penemuan dan Simpulan : Dari hasil penelitian yang dilakukan di kota Bandar Lampung kepada 54 pemimpin gereja sebagai respondennya dari 48 gereja yang terdaftar di Pembimas Kristen Lampung maka ditemukan hal-hal sebagai berikut : Variabel X yaitu Kepemimpinan Misi memiliki hubungan yang signifikan terhadap variabel Y yaitu Keterlibatannya pada penjangkauan Suku Terabaikan dengan hasil koefisien korelasi sebesar 0,823 di dalam rentang 0,80 -1, jadi  korelasi antara 2 variabel tersebut sangat kuat dan karena t hitung bernilai positif maka kedua variabel tersebut berhubungan positif artinya Kepemimpinan Misi Gereja-Gereja di Bandar Lampung memiliki hubungan positif yang sangat kuat sebesar 82% dengan keterlibatan dalam penjangkauan Suku Terabaikan. Variabel Kepemimpinan Misi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y melalui F test dengan tingkat signifikansi sebesar 0,05 diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000<0,05 jadi nilai variabel X bisa dipakai untuk memprediksi nilai dari variabel Y artinya dengan adanya peningkatan nilai dari variabel Kepemimpinan Misi akan mempengaruhi peningkatan nilai dari  keterlibatan pada penjangkauan Suku Terabaikan.  Dari nilai koefisien determinasi (R Squre sebesar 0,677 menunjukkan bahwa 68 % variabel keterlibatan pada penjangkauan suku terabaukan dapat dijelaskan oleh variabel Kepemimpinan Misi sedangkan sisanya sebesar 32% oleh sebab-sebab lain. Maka dari hasil temuan di atas Hipotesis dari penelitian ini terbukti, karena hasil dari uji hipotesis dengan regresi linear sederhana menunjukkan bahwa variabel Kepemimpina Misi memiliki pengaruh yang sangat signifikan (kuat & positif) terhadap keterlibatannya pemimpin gereja pada penjangkauan Suku Terabaikan dengan nilai R square sebesar 68% dan koefisien regresi bernilai positif sebesar 0,747. Kata kunci: Kepemimpinan Misi ; Suku Terabaikan; keterlibatan ; Penelitian Kwantitatif
HISTORIOGRAFI TAWARIKH: TINJAUAN PERBAIKAN REDAKSI TEKS KITAB TAWARIKH MELALUI PEMAKAIAN FITUR SASTRA “PENAMBAHAN (ADDITION)” DARI ISAAC KALIMI HM Lengkong, Richard
GENEVA: JURNAL TEOLOGI DAN MISI Vol. 14 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Abdi Allah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71361/gjtm.v14i1.126

Abstract

Keunikan yang dimiliki kitab Tawarikh sebagai bagian dari kitab-kitab sejarah adalah kitab ini memiliki catatan bernuansa sejarah yang harus dipahami dalam terang teologi. Salah satu sarjana yang mengkaji kitab Tawarikh, dalam kaitannya dengan kontribusi sastra dan sejarahnya, adalah Isaac Kalimi. Perbaikan redaksi dalam konten sastra dan historiografi antara kitab Samuel, Raja-raja serta Tawarikh adalah penyelidikan yang dianalisis secara komprehensif olehnya. Karena itu, artikel ini bertujuan menyajikan tinjauan singkat bagaimana perbedaan catatan sejarah yang dicatat penulis Tawarikh terhadap kejadian atau peristiwa yang sama yang diceritakan teks sumbernya (Samuel, Raja-raja). Fitur sastra yang digunakan adalah fitur penambahan yang dilakukan penulis Tawarikh kepada teks paralel atau sumbernya, sebagaimana yang diusulkan oleh Isaac Kalimi. Kajian terhadap beberapa literatur menunjukkan bahwa perbedaan dalam penulisan sejarah bangsa Israel menunjukkan keunikan historiografi Tawarikh. Dapat disimpulkan bahwa kreativitas dan gaya penulisan turut berkontribusi dalam ideologi penulis kitab. Penulis Tawarikh mengingatkan kembali tentang bagaimana penyertaan Allah terhadap bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah dengan menampilkan peran Allah terhadap generasi Israel terdahulu. Penulis Tawarikh juga mengingatkan kembali agar bangsa Israel tetap mengenal Allah sebagai Allah yang adil dan berdaulat atas kehidupan umat pilihan-Nya, Israel. Inilah yang menjadi pesan teologis penulis Tawarikh yang disampaikan kepada bangsa Israel yang hidup di jaman pemulihan setelah pembuangan. Oleh karena itu, kitab Tawarikh jangan sekadar dipahami sebagai kitab yang memiliki nuansa sejarah saja, melainkan juga memiliki nuansa teologis.
THE RISE OF RELIGIOUS CONSERVATISM IN THE U.S. SINCE THE PRESIDENCY OF DONALD TRUMP Jenny; Manlee, Chrystle Feodore
GENEVA: JURNAL TEOLOGI DAN MISI Vol. 14 No. 2 (2024): JURNAL GENEVA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Abdi Allah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71361/gjtm.v14i2.127

Abstract

It has long been understood that there is something peculiar, even paradoxical, about conservatism in America. For most Europeans who came to America, the whole purpose of their difficult and disruptive journey to the New World was not to conserve European institutions but to leave them behind and to create something new, often an entirely new life, and even a new identity, for themselves. Conservatives have been divided into: (1) those who are most concerned about economic or fiscal issues, that is, pro-business or “free-enterprise” conservatives; (2) those most concerned with religious or social issues, that is, pro-church or “traditional-values” conservatives; and (3) those most concerned with national-security or defense issues, that is, pro-military or “patriotic” conservatives. For a while, especially during the 1980s, it may have seemed that these three kinds of conservatives were natural allies, that they had an “elective affinity” for each other, and that there was no significant contradiction between them. In a pattern similar to that of economic conservatism, in Europe an established state church shaped religious and moral conditions. In America, particularly after the adoption of the U.S. Constitution, religious and moral conditions were instead shaped by the separation of church and state and even by religious pluralism. Following the 2016 presidential election of Donald Trump, many scholars have recognised the crucial role of Christian evangelical support for his triumphed victor. Here, we realize there is an interesting relation between faith and politics in the American voting system. the underlying arguments that we wish to portray in this article is: 1) that Trump facilitated more religious conservatives through a socially constructed approach, and 2) that this approach of conservatism has further led to the decline of U.S. social and political legitimacy due to the massive social issues that happened.
INKARNASI DAN ANTROPOMORFISASI: KEMANUSIAAN TUHAN MENURUT TEOLOGI REFORMED Mahardika, Dwi Wisnu
GENEVA: JURNAL TEOLOGI DAN MISI Vol. 14 No. 2 (2024): JURNAL GENEVA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Abdi Allah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71361/gjtm.v14i2.129

Abstract

Artikel ini akan mengeksplorasi konsep inkarnasi dan antropomorfis dalam konteks teologi Reformed. Melalui lensa Reformed, akan dibahas mengenai doktrin inkarnasi yang memliki keterikatan dengan antropomorfisasi atau pemberian sifat manusia kepada Tuhan. Selain itu, artikel ini juga memberikan sebuah implikasi pemahaman tentang Allah bagi setiap manusia, yang mana dimudahkan dengan pemberian sifat-sifat manusia kepada Allah.