cover
Contact Name
Dedi Sufriadi
Contact Email
dedisufriadi@gmail.com
Phone
+6285260082672
Journal Mail Official
jurnal@indopublishing.or.id
Editorial Address
Jln. Malahayati KM. 9 No. 14 Desa Kajhu Kabupaten Aceh Besar, Indonesia 23373
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya
Published by Indo Publishing
ISSN : 3090644X     EISSN : 30906431     DOI : https://doi.org/10.63822/sujud
Sujud dimaknai sebagai tindakan menundukkan diri dengan meletakkan dahi ke tanah sebagai bentuk penghormatan, kepatuhan, atau kerendahan hati kepada Yang Maha Esa. Sujud menjadi simbol spiritualitas, kesetaraan sosial, dan nilai budaya yang luhur, menyatukan aspek religius dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari. Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya, berfokus ada scope agama, sosial dan budaya berkaitan dengan isu-isu keislaman dan isu-isu sosial seperti kajian Alquran dan Hadits, Filsafat Islam, Pendidikan, Sosial, Kearifan Lokal, Politik, Ekonomi, Antropologi, Urbanisme, Multikulturalisme, dan lain-lain. Semua artikel yang diserahkan pada jurnal ini harus ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang baik dan benar
Articles 217 Documents
A Cultural Analysis of Religious, Heroic, and Social Values in Ten Poems of Abdullah ibn Rawahah during the Early Islamic Period Muhammad Regi Iswara Putra; R. Myrna Nur Sakinah
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/p45a1p04

Abstract

This study examines the religious, heroic, and social values reflected in ten selected poems of Abdullah ibn Rawahah, one of the most prominent poets and companions of Prophet Muhammad SAW during the early Islamic period. The poems analyzed include verses concerning faith in Allah, praise of the Prophet Muhammad, the Battle of Mu'tah, courage, jihad, truth, steadfastness, and martyrdom. Employing a cultural approach and a qualitative descriptive method, this research investigates how these poems represent the cultural identity and worldview of the early Muslim community. The findings reveal that Abdullah ibn Rawahah’s poetry emphasizes four dominant cultural values: religious devotion, heroism, social solidarity, and Islamic identity. His poems portray unwavering faith in Allah, loyalty to the Prophet, courage in facing death, and commitment to defending Islamic teachings. Furthermore, the poems demonstrate the transformation of Arabic literary traditions from tribal-centered expressions into literary instruments that promoted religious and moral values. The influence of Qur’anic teachings is also evident in the themes and language of the poems. This study concludes that Abdullah ibn Rawahah’s poetry played a significant role in shaping the cultural consciousness of early Islamic society and served as an effective medium for transmitting religious, ethical, and social values.
Lembaga Pendidikan Islam (Pondok Pesantren, Pendidikan Diniyah, Formal, Kelompok Belajar Masyarakat, Madrasah, dan Home Schooling) Reni Septiana; Imam Maliki; Mohamad Yahya Ashari
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/a0bpc498

Abstract

Islamic educational institutions play a strategic role in shaping generations who are not only intellectually competent but also possess strong religious character and competitiveness in the era of globalization. This study aims to analyze the types of Islamic educational institutions, examine their existence and roles in the globalization era, explain the importance of institutional transformation, and formulate management development strategies for highly competitive Islamic educational institutions. This research employs a qualitative approach using a library research method, data analysis is conducted through content analysis with a descriptive-analytical approach. The findings indicate that Islamic educational institutions consist of various forms, including Islamic boarding schools (pesantren), madrasahs (formal education), diniyah education (non-formal), community learning groups, and Islamic homeschooling (informal). Each type has distinct characteristics and complementary roles in meeting the educational needs of society. In the era of globalization, Islamic educational institutions remain relevant and play significant roles as centers for character building, preservation of Islamic values, and community empowerment. However, the challenges of globalization require transformation in curriculum development, digitalization of learning, instructional methods, and institutional management. Effective management development strategies such as improving human resources quality, curriculum innovation, implementation of quality-based management, strengthening collaboration, and educational digitalization are essential to enhance institutional competitiveness. With appropriate transformation and sustainable management strategies, Islamic educational institutions have strong potential to contribute to the development of a modern civilization grounded in Islamic values.
Puisi sebagai Budaya pada Masa Dinasti Umayyah: Analisis Tematik dan Representasi Sosial-Politik Pasya Tiara R; R. Myrna Nur Sakinah
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/y1xmt358

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tema-tema utama dalam puisi masa Dinasti Umayyah serta menganalisis representasinya terhadap kondisi sosial, politik, dan budaya masyarakat Arab pada periode tersebut. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan budaya, penelitian ini menganalisis lima puisi yang merepresentasikan lima tema dominan, yaitu madah (pujian), fakhr (kebanggaan kesukuan), hija' (sindiran), puisi politik, dan ghazal (cinta). Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi pada masa Dinasti Umayyah tidak hanya berfungsi sebagai karya estetis, tetapi juga menjadi instrumen vital dalam kehidupan masyarakat. Tema madah dan fakhr merepresentasikan tradisi patronase dan identitas kesukuan yang kuat, sementara hija' dan puisi politik mencerminkan dinamika persaingan kekuasaan serta propaganda politik yang mendominasi era tersebut. Di sisi lain, ghazal merepresentasikan sisi humanisme dan ekspresi emosional personal penyair di tengah pergolakan sosial. Secara keseluruhan, perkembangan tema-tema puisi ini menegaskan bahwa sastra merupakan cerminan dari kompleksitas kehidupan sosial-budaya masyarakat Arab di bawah pemerintahan Dinasti Umayyah.
Representasi Ikhtiar dan Tawakal dalam Kisah Nabi Ayyub AS Analisis Teori Kasb Al-Asy’ari Pasya Tiara R; Vina Nailatul Izzah; Suci Rahmanda; Zahra Nur Asyifa; Dadan Firdaus
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/4mwm5h25

Abstract

This study examines the representation of ikhtiar (human effort) and tawakal (trust in Allah) in the story of Prophet Ayyub AS through the perspective of Abu al-Hasan al-Ash’ari’s theory of kasb. The research is motivated by the tendency to separate human effort from reliance on God, which often leads to an incomplete understanding of Islamic teachings. This study aims to describe the concept of ikhtiar and tawakal within the framework of kasb theory and analyze their representation in the story of Prophet Ayyub AS, including their implications for inner peace. Using a qualitative approach and library research method, data were collected from Qur’anic verses related to Prophet Ayyub AS and supported by classical and contemporary literature. The findings reveal that Prophet Ayyub AS demonstrated a balance between effort and submission to Allah through patience, prayer, obedience, and perseverance during prolonged suffering. The study also shows that the theory of kasb provides a theological explanation of the relationship between human responsibility and divine will. It concludes that inner peace is achieved through the harmony between sincere effort and trust in Allah. This study contributes to enriching Islamic theological discourse and offers relevant guidance for facing challenges in modern life.
Makna Eksistensial dalam Lirik Lagu 33x Karya Perunggu Awaliyah Silvia Rahma; Muhammad Sendi Hendrawan; Syifa Salwa Hanifa; Zamzam Ismanudin; Dadan Firdaus
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/jn11h998

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna eksistensial yang terkandung dalam lirik lagu “33x” karya Perunggu melalui pendekatan semiotika Roland Barthes serta mengkaitkannya dengan perspektif Akhlak Tasawuf. Lagu “33x” dipilih karena merepresentasikan pengalaman kegelisahan, keterasingan, dan pencarian makna hidup yang relevan dengan kondisi masyarakat modern, khususnya generasi muda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes yang menitikberatkan pada analisis denotasi dan konotasi terhadap tanda-tanda linguistik dalam lirik lagu. Data penelitian berupa penggalan lirik yang mengandung representasi kegelisahan eksistensial, kemudian dianalisis dan diinterpretasikan menggunakan konsep eksistensialisme Søren Kierkegaard serta konsep Akhlak Tasawuf yang meliputi nafs, muhasabah, dan tazkiyatun nafs. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik “33x” merepresentasikan kondisi manusia modern yang mengalami krisis makna, alienasi, dan kegelisahan eksistensial akibat tekanan kehidupan kontemporer. Melalui sistem pemaknaan denotatif dan konotatif, lagu ini tidak hanya menggambarkan kesadaran akan keterbatasan manusia, tetapi juga menawarkan jalan refleksi melalui praktik muhasabah dan dzikrullah. Dalam perspektif Akhlak Tasawuf, subjek lirik berada pada tahap nafs lawwāmah yang ditandai oleh kesadaran diri dan kegelisahan spiritual, kemudian diarahkan menuju nafs muṭma’innah melalui proses tazkiyatun nafs. Dengan demikian, lagu “33x” tidak hanya berfungsi sebagai karya budaya populer, tetapi juga sebagai medium refleksi spiritual yang menghubungkan pengalaman eksistensial manusia dengan nilai-nilai tasawuf Islam.  
Analisis Semantik dan Semiotik Shalawat"Astagfirullah Robbal Baroya": Kajian Makna, Simbol Tsalis Lutfi Sa'diyah; Siti Hanifah Amaliah; Nabila Aulia; Panni Adibah; Tria Nursyifa
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/3pxj6r50

Abstract

This study examines the semantic and symbolic meanings embedded in the lyrics of the shalawat (Islamic devotional song) "Astagfirullah Robbal Baroya," while simultaneously analysing the internalisation of the Sufi values of khauf (fear of Allah) and raja' (hope for Allah's mercy) as represented therein. Employing a qualitative descriptive approach anchored in three complementary theoretical frameworks Geoffrey Leech's (1981) semantic theory, Charles Sanders Peirce's (1931–1958) triadic semiotics, and Abu Hamid al-Ghazali's concept of ahwal (spiritual states) in Ihya' 'Ulum al-Din the study systematically analyses nine key lexemes and phrases in the shalawat text. Findings reveal that the lyrical structure exhibits a patterned spiritual architecture: the opening stanzas are dominated by symbols actualising khauf through confessions of sin and acknowledgement of Allah's omnipotence, whilst the middle and closing stanzas express raja' through supplications for mercy and invocations of Allah's compassionate names. The integration point between the two values is identified in the phrase tawbatan nasuha, which semantically and semiotically carries both khauf and raja' simultaneously. The study demonstrates that shalawat functions not merely as devotional expression but as a structured sign system that internalises two fundamental Sufi values into the spiritual consciousness of its reader or listener.  
Transformasi Pemahaman Agama di Era Dakwah Digital: Analisis Konten Keagamaan Singkat di Media Sosial Fathullah Fathullah; Rif’ah Rif’ah
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/x1erxq89

Abstract

  Penelitian ini bertujuan menganalisis peran konten keagamaan singkat dan algoritma media sosial dalam membentuk transformasi pemahaman agama masyarakat di era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh dari buku, artikel jurnal, dan publikasi ilmiah yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis) melalui reduksi data, kategorisasi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial telah berkembang menjadi ruang cyberreligion yang memperluas akses masyarakat terhadap pembelajaran agama melalui konten video singkat pada platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. Di sisi lain, algoritma media sosial berperan dalam menentukan distribusi konten berdasarkan preferensi pengguna sehingga memengaruhi pola konsumsi informasi keagamaan. Mekanisme tersebut berpotensi menciptakan fenomena filter bubble dan echo chamber yang membatasi keberagaman perspektif keagamaan. Meskipun konten keagamaan singkat mampu meningkatkan minat belajar agama dan memperluas jangkauan dakwah digital, penyederhanaan materi serta dominasi logika viralitas berisiko menghasilkan pemahaman agama yang parsial. Oleh karena itu, penguatan literasi digital keagamaan diperlukan agar masyarakat mampu memanfaatkan media sosial secara kritis, selektif, dan kontekstual dalam membangun pemahaman agama yang lebih komprehensif, inklusif, adaptif, serta tetap berlandaskan sumber keilmuan yang kredibel dan otoritatif dalam menghadapi dinamika perkembangan teknologi digital.  
Strategi Membangun Harmoni Sosial dalam Keragaman Agama dan Budaya di Indonesia Jaoharotun Aulia; Rahmawati Rahmawati
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/bxzbsc08

Abstract

Religious and cultural diversity in Indonesia plays a crucial role in social, economic, and political development. Indonesia is home to a multitude of ethnic groups, languages, traditions, religions, and belief systems. These differences should not be viewed as points of contention; rather, they constitute a national asset that must be cherished and preserved. Research indicates that religious and cultural diversity is integral to Indonesia's identity. If society embraces differences with an open mind, interfaith and intercultural relations will become more harmonious. This fosters conflict prevention, strengthens unity, and creates a safe and comfortable social environment. Striving for social harmony is an imperative that cannot be overlooked. Managing diversity is no simple task; it requires collective awareness and appropriate strategies to ensure that differences serve as a source of strength rather than a source of division. This responsibility rests not only with the government as the policymaker but also with every element of society through their active participation in daily life
Larangan Mendekati Zina dalam Al-Qur’an dan Relevansinya Terhadap Pergaulan Bebas Remaja Ikbal Setiawan; Imelda Saparingga; Hasna Nur Alifah; Dadan Firdaus
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/9g216q38

Abstract

Pergaulan bebas di kalangan remaja merupakan salah satu tantangan moral dan sosial yang dihadapi Indonesia saat ini. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 yang diselenggarakan secara resmi oleh BPS, BKKBN, dan Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa sekitar 8% remaja pria dan 2% remaja wanita usia 15-24 tahun mengaku telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah (Kemenko PMK, 2021). Analisis lanjutan berbasis data SDKI 2017 yang dilakukan Apriantini et al. (2021) menemukan prevalensi seks pranikah pada remaja pria usia 15-24 tahun sebesar 7,7% dari 12.453 sampel, dengan faktor paling dominan adalah gaya berpacaran berisiko dan pengaruh teman sebaya. Data ini menggambarkan betapa pentingnya sistem nilai yang kuat sebagai benteng preventif bagi generasi muda. Artikel ini mengkaji konsep larangan mendekati zina dalam Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir maudhu’I (tematik), dengan fokus pada QS. Al-Isra’ [17]: 32 dan QS. An-Nur [24]: 30-31, serta didukung hadits Nabi SAW riwayat Imam Bukhari (No. 6243) dan Muslim (No. 657). Analisis dilengkapi dengan perspektif Social Control Theory dari Travis Hirschi untuk membaca relevansinya dalam konteks kehidupan remaja masa kini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research). Temuan menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak sekadar melarang perbuatan zina sebagai tindakan akhir, melainkan secara eksplisit memerintahkan pencegahan dari segala hal yang mendekatkan pada zina. Pendekatan preventif ini terbukti relevan secara sosiologis karena memperkuat keempat elemen ikatan sosial Hirschi: attachment, commitment, involvement, dan belief, yang menjadi fondasi utama dalam mencegah perilaku menyimpang remaja. 
Tinjauan Hukum Islam Terhadap Tata Cara Pencalonan Presiden di Indonesia: Studi Prinsip Kebebasan Memilih (Al-Ikhtiyar) Nurfadillah Wilmayanti; Hilda Hinaya; Kurniati Kurniati
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/y5vfpw27

Abstract

This study examines the presidential nomination mechanism in Indonesia from the perspective of Islamic law, particularly the principle of al-ikhtiyar (freedom of choice). The study aims to analyze the conformity between the nomination procedure regulated under Article 6A of the 1945 Constitution and Law No. 7 of 2017 on General Elections with the Islamic principle that the determination of a leader must be based on the free will of the people, without coercion or manipulation. This study uses a normative legal research method with a statute approach and a conceptual approach, with primary legal materials consisting of legislation, the Qur'an, and Hadith. The results show that Indonesia's presidential election system generally reflects direct popular participation in line with the principle of al-ikhtiyar, but the presidential threshold provision restricts the freedom of political parties to nominate candidates, thereby giving rise to a partial inconsistency with the principle of freedom of choice in Islamic political thought.