cover
Contact Name
Dedi Sufriadi
Contact Email
dedisufriadi@gmail.com
Phone
+6285260082672
Journal Mail Official
jurnal@indopublishing.or.id
Editorial Address
Jln. Malahayati KM. 9 No. 14 Desa Kajhu Kabupaten Aceh Besar, Indonesia 23373
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya
Published by Indo Publishing
ISSN : 3090644X     EISSN : 30906431     DOI : https://doi.org/10.63822/sujud
Sujud dimaknai sebagai tindakan menundukkan diri dengan meletakkan dahi ke tanah sebagai bentuk penghormatan, kepatuhan, atau kerendahan hati kepada Yang Maha Esa. Sujud menjadi simbol spiritualitas, kesetaraan sosial, dan nilai budaya yang luhur, menyatukan aspek religius dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari. Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya, berfokus ada scope agama, sosial dan budaya berkaitan dengan isu-isu keislaman dan isu-isu sosial seperti kajian Alquran dan Hadits, Filsafat Islam, Pendidikan, Sosial, Kearifan Lokal, Politik, Ekonomi, Antropologi, Urbanisme, Multikulturalisme, dan lain-lain. Semua artikel yang diserahkan pada jurnal ini harus ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang baik dan benar
Articles 223 Documents
Pemahaman Fiqih Ibadah Masyarakat Desa Buduran RT 22 Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen Terhadap Pelaksanaan Puasa Ramadhan Almaidah Yogi Mahanani; Devi Nurul Affla; Qodim Ma’shum
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 2 (2026): MEI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/s0emg690

Abstract

This study aims to examine the level of understanding of fiqh of worship among the community of Buduran Village RT 22, Tanon District, Sragen Regency, particularly in relation to the implementation of Ramadhan fasting. The research applies a qualitative descriptive method with a field research approach, allowing the researcher to directly observe and explore community practices. Data were collected through observation, interviews, and documentation to obtain comprehensive and accurate findings. The results indicate that the community’s understanding of the laws and requirements of Ramadhan fasting is generally adequate, although some individuals still lack deeper comprehension. In addition, understanding of actions that invalidate fasting varies among community members, showing differences in knowledge and interpretation. The implementation of the pillars and sunnah practices of fasting has been carried out relatively well; however, certain practices are still not fully aligned with established fiqh guidelines. Furthermore, factors such as educational background, social environment, and access to Islamic learning activities significantly influence the level of understanding within the community. Overall, this study highlights the importance of continuous religious education to improve the quality of worship practices.
Dialektika Islam Nusantara Di Ruang Digital : Pergulatan Narasi dan Otoritas Dalam Debat Gus Ajir Vs Herri Pras Moh. Jazuli; Yusril Amin Faqih; Ilham Firmansyah
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/0nks1577

Abstract

The debate between KH. Ajir Ubaidillah (Gus Ajir) and Herri Pras in January 2026 represents a significant phenomenon in the study of Islam Nusantara in the digital age. This article examines the debate as a site of contestation between two religious approaches: the sanad-based scholarly tradition (Aswaja) and literal-scriptural criticism of traditional practices. Utilizing a digital discourse analysis approach, this study demonstrates that the debate on tabarruk, karamah, and khurafat is not merely a theological argument but rather a reflection of the fragmentation of religious authority in the digital public sphere. This article argues that the debate embodies a clash between the "aesthetics of authority" grounded in scholarly chains of transmission and the "aesthetics of virality," which relies on digital popularity and provocative content. This study reveals how social media platforms serve as contested arenas where competing epistemological claims are negotiated. The findings suggest that while digital platforms intensify ideological polarization, they also offer potential for constructive dialogue particularly when neutral third-party mediators such as the Gawagis Muhammadiyah Forum facilitate the discussion. This research contributes to broader scholarly conversations on religious authority, digital da'wah, and the evolving landscape of Islamic discourse in contemporary Indonesia.
Syarat-Syarat Saksi sebagai Alat Bukti Studi Komparatif antara Fikih Islam dan Hukum Acara Perdata Indonesia Gridzanda Magna Yanudza
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/zy39da80

Abstract

Kesaksian merupakan salah satu alat pembuktian yang memiliki kedudukan penting dalam fikih Islam dan hukum acara perdata Indonesia. Meskipun kedua sistem hukum tersebut sama-sama menggunakan kesaksian untuk membantu hakim menemukan fakta dan melindungi hak para pihak, keduanya memiliki perbedaan dalam merumuskan persyaratan saksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis persyaratan saksi dalam fikih Islam dan hukum acara perdata Indonesia serta menemukan persamaan, perbedaan, dan kemungkinan harmonisasi antara keduanya. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan konseptual, perundang-undangan, dan perbandingan. Bahan hukum diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap Al-Qur’an, hadis, kitab-kitab fikih empat mazhab, peraturan perundang-undangan, buku, dan artikel jurnal ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fikih Islam dan hukum acara perdata Indonesia memiliki persamaan substantif dalam mensyaratkan kecakapan akal, pengetahuan yang jelas mengenai peristiwa, kemampuan menyampaikan keterangan, serta tidak adanya kepentingan yang merusak objektivitas saksi. Perbedaannya terutama terdapat pada persyaratan agama, jenis kelamin, jumlah saksi, hubungan keluarga, dan konsep keadilan saksi. Fikih menilai kelayakan saksi melalui kualitas moral yang dirumuskan dalam konsep ‘adālah, sedangkan hukum acara perdata Indonesia lebih menekankan kecakapan prosedural dan kredibilitas konkret dalam perkara. Harmonisasi kedua sistem dapat dilakukan melalui pendekatan fungsional dengan menempatkan hukum acara perdata sebagai dasar prosedural dan prinsip-prinsip fikih sebagai landasan etik dalam menilai integritas, objektivitas, dan keandalan kesaksian.
Analisis Maqāṣid Al-Sharī'ah Terhadap Tradisi Buang Bayi Akibat Kesamaan Weton Evi Erlita Sulistyo Wati; Agus Mahfudin; Moh. Makmun
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/89ybbc88

Abstract

The tradition of symbolic infant disposal due to the similarity of weton (Javanese birth calculation) with parents remains practiced by some communities in Pakis Village, Trowulan District, Mojokerto Regency. This tradition is believed to prevent misfortune that may arise from the similarity of weton between parents and children. This study aims to analyze the practice of the tradition and examine it through the perspective of maqāṣid al-sharī‘ah, particularly the principles of ḥifẓ al-nafs (protection of life) and ḥifẓ al-nasl (protection of lineage). This research employed a qualitative field study approach. Data were collected through interviews, observations, and documentation and analyzed descriptively. The findings reveal that the tradition is merely symbolic and does not constitute child abandonment. The infant is temporarily placed outside the house and then taken back as a symbol of rejecting misfortune. From the perspective of maqāṣid al-sharī‘ah, the tradition may be tolerated as long as it does not endanger the child’s physical or psychological well-being, does not create stigma toward the child, and does not contain elements of shirk. Therefore, the tradition may be preserved as part of local culture while maintaining the Islamic principles of protecting life and lineage.
Praktik Manajemen Keuangan Keluarga dan Implikasinya Terhadap Keharmonisan Keluarga Fauzaan Ahmad Nurkhofi; Moh. Makmun; Haris Hidayatulloh
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/baz8eg37

Abstract

Family financial management is an essential aspect of achieving family harmony, particularly among families with significant economic and social responsibilities, such as teachers. This study aims to analyze the implementation of family financial management, identify the condition of family harmony, and examine the role of financial management in fostering harmonious family relationships among teachers at Madrasah Aliyah Negeri 6 Jombang. This research employed a qualitative descriptive approach. Data were collected through interviews, observations, and documentation involving both civil servant (PNS) and government contract (PPPK) teachers. The data were analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that family financial management is implemented through financial planning, budgeting, prioritizing household needs, transparency in financial management, and joint decision-making between spouses. Family harmony is reflected in effective communication, mutual trust, openness, and the ability to resolve conflicts wisely. Effective financial management contributes to household economic stability, enables families to meet their needs, and minimizes the potential for financial conflicts. Therefore, family financial management plays a significant role in supporting and maintaining family harmony.
Stratifikasi Kehidupan Masyarakat Yerusalem pada Masa Perang Salib Ke-3 Tahun 1174-1185 Andhika Pratama
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/5d6hb870

Abstract

Penelitian ini mengkaji stratifikasi sosial masyarakat Yerusalem pada periode kritis 1174–1185, yaitu masa pemerintahan Raja Balduinus IV yang bertepatan dengan kebangkitan kekuasaan Salahuddin al-Ayyubi dan menjelang kejatuhan kota pada tahun 1187. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode historis, penelitian merekonstruksi struktur hierarkis Kerajaan Latin Yerusalem berdasarkan analisis sumber primer — meliputi kronik William dari Tirus, catatan Ibn al-Qalanisi, piagam kerajaan, surat resmi Paus Alexander III, serta basis data dokumen Tentara Salib — dan diperkuat dengan historiografi mutakhir karya Riley-Smith, Prawer, Boas, Gutgarts, Nader, serta Holt. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Yerusalem terbagi secara kaku dalam tiga lapisan yang tidak setara: (1) bangsawan dan ksatria Frank sebagai penguasa yang memegang monopoli atas tanah, kekuasaan politik, dan militer; (2) kelas burgess perkotaan dari kalangan imigran dan pedagang Eropa yang mengelola perdagangan dengan hak hukum terbatas; serta (3) penduduk asli non-Latin yang terdiri dari Kristen Timur, Muslim, dan Yahudi sebagai mayoritas penduduk yang hidup dengan hak properti, akses ekonomi, dan perlindungan hukum yang sangat terbatas. Penelitian ini membuktikan bahwa dominasi elit Frank menciptakan ketimpangan sistemik yang melemahkan kohesi sosial; kerja sama sementara melalui institusi keagamaan dan aktivitas perdagangan hanya menyatukan kalangan Latin, sementara penduduk asli tetap dikucilkan. Ketidakadilan sosial ini, yang diperburuk oleh persaingan internal antarfaksi bangsawan dan pengepungan kekuatan Salahuddin, menjadikan kerajaan sangat rentan dan merupakan salah satu faktor kunci yang mempercepat kekalahan di Hattin serta kejatuhan Yerusalem pada tahun 1187. Temuan ini menegaskan relevansi dinamika sosial Yerusalem abad ke-12 bagi studi kontemporer mengenai konflik multietnis, stratifikasi kolonial, dan ketahanan negara di tengah keberagaman masyarakat.
Peran Kyai Pondok Pesantren Faidlul Qur’an Jombang Sebagai Pengganti Orang Tua Muhammad Nur Cholis Al Mutawakil; Moh. Makmun; Agus Mahfudin
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/j8s67v75

Abstract

This study was motivated by the important role of the kyai in the life of a pesantren, who serves not only as the leader of an Islamic educational institution but also as a surrogate parent for the students. This study aims to analyze the role of the kyai at the Faidlul Qur’an Islamic Boarding School and to explain his function as a surrogate parent for the students. The research method used was qualitative, employing a case study approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and were subsequently analyzed using the Miles and Huberman model. The results indicate that the kyai fulfills four primary roles: as the pesantren’s leader, a Quran instructor, a community religious figure, and a caregiver for the students. In their role as surrogate parents, the kyai meet the students’ educational, emotional, and spiritual needs through guidance, supervision, setting a good example, providing attention, and fostering moral character. These findings indicate that the kyai’s role makes a significant contribution to the formation and development of the students’ education, emotional well-being, and spirituality.
Prinsip Itqan (Profesionalisme) dalam Hadits Nabi dan Implementasinya terhadap Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik Fairuz Azmi; Syathira Mujahid; Ai Samrotul Fauziah
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/77ybq166

Abstract

Pelayanan publik yang berkualitas merupakan salah satu indikator utama keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Namun, berbagai persoalan seperti rendahnya kompetensi aparatur, lemahnya akuntabilitas, dan praktik maladministrasi masih menjadi hambatan serius dalam mewujudkan pelayanan publik yang optimal di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep itqan dalam hadis Nabi Muhammad SAW sebagai wujud profesionalisme serta mengeksplorasi relevansi dan implementasinya dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui analisis isi terhadap sumber-sumber primer berupa hadis Nabi SAW dan sumber-sumber sekunder berupa literatur ilmiah yang relevan di bidang etika kerja Islam, administrasi publik, dan reformasi birokrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip itqan sebagaimana terkandung dalam hadis yang diriwayatkan Al-Baihaqi mencakup dimensi-dimensi profesionalisme yang sangat komprehensif, meliputi kompetensi, integritas, kecermatan, tanggung jawab, dan orientasi pada kemaslahatan umum. Prinsip ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tuntutan kualitas pelayanan publik modern, khususnya dalam aspek akuntabilitas, transparansi, responsivitas, dan inovasi. Implementasi prinsip itqan dalam birokrasi dapat dilakukan melalui penguatan kompetensi aparatur, penyusunan standar operasional prosedur yang berorientasi pada kepuasan masyarakat, pembangunan sistem akuntabilitas yang kokoh, serta pemanfaatan teknologi digital yang dilandasi komitmen moral yang tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa internalisasi nilai itqan pada aparatur pemerintah berpotensi menjadi fondasi etika kerja yang kuat dan berkelanjutan dalam mendorong reformasi birokrasi menuju pelayanan publik yang lebih profesional, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Pemberdayaan Perempuan Berbasis Keterampilan Produktif sebagai Strategi Penguatan Kemandirian Ekonomi Tuty Kurniawaty Saragih; Titin Ariska Sirnayatin; Wisdariah Wisdariah
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/zwq8m231

Abstract

Women's empowerment is a crucial strategy for enhancing individual capacity and strengthening family economic resilience. One effective approach involves developing productive skills specifically batik making and transforming the knowledge gained through training into a valuable economic activity. This article analyzes the relationship between productive skill development and women's economic independence, based on research regarding batik training for the Majelis Taklim women at the Ibadurrahman Mosque in Pancoran Mas, Depok City. The study employed a quantitative approach, utilizing a survey of 15 respondents and regression analysis via SPSS. The results indicate that skill enhancement has a positive and significant impact on economic independence, with a significance value of 0.000 and an R-squared value of 0.978. These findings demonstrate that productive skills can serve as vital capital in women's empowerment when applied to economic activities. Consequently, women's empowerment efforts should not merely focus on skill transfer but must also address the development of production capacity, creativity, entrepreneurship, marketing, and the sustainability of independent businesses. This article underscores the importance of a community-based empowerment approach that integrates skills training with the strengthening of productive economic activities.
Nafkah dan Dampaknya terhadap Keharmonisan Keluarga Perspektif Maqashid Syari’ah Yeni Amelia; Delpa Firdaus; Habib Ar-Rahman
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/zhdprw63

Abstract

Salah satu aspek penting yang harus ada dalam menjaga kesejahteraan dan keharmonisan keluarga adalah pemenuhan nafkah. Dalam kenyataan lapangan masih banyak terjadi kendala dalam pelaksanaanya seperti keterbatasan ekonomi, tidak stabilnya pendapat, pengolaan keuangan dan kurangnya komunikasi.  Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah untuk menganalisis implementasi nafkah dan dampaknya terhadap kehramonisan keluarga petspektif maqashid syari’ah di Kampung Nangka Bongkok, Kecamatan Pabuaran, Serang, Banten. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif pendekatan deskriptif. Perolehan sumber data didapatkan melaui observasi, wawancara dan dokumentasi yang melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama serta keluarga yang mengalami permasalhan nafkah. Hasil dari penelitian ini memaparkan bahwa nafkah dipahami oleh masyarakat sebagai  tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan material dan non material. Peran nafkah sangat berkaitan erat dengan terpenuhinya kebutuhan dasar, terjaminnya kehidupan keluarga dan meminimalisir timbulnya konflik dalam keluarga. Sebaliknya, keterbatasan nafkah dapat menimbulkan dampak negatif seperti tekanan psikologis dan timbulnya konflik dalam keluarga. Maqashid syari’ah memandang nafkah bukan hanya sebagai kewajiban sosial dan syari’at namun juga sebagai Upaya untuk membangun kemaslahatan dalam keluarga. Dengan demikian nafkah bukan hanya kewajiban ekonomi tapi juga sarana dalam mewujudkan keharmonisan keluarga.