cover
Contact Name
Dedi Sufriadi
Contact Email
dedisufriadi@gmail.com
Phone
+6285260082672
Journal Mail Official
jurnal@indopublishing.or.id
Editorial Address
Jln. Malahayati KM. 9 No. 14 Desa Kajhu Kabupaten Aceh Besar, Indonesia 23373
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya
Published by Indo Publishing
ISSN : 3090644X     EISSN : 30906431     DOI : https://doi.org/10.63822/sujud
Sujud dimaknai sebagai tindakan menundukkan diri dengan meletakkan dahi ke tanah sebagai bentuk penghormatan, kepatuhan, atau kerendahan hati kepada Yang Maha Esa. Sujud menjadi simbol spiritualitas, kesetaraan sosial, dan nilai budaya yang luhur, menyatukan aspek religius dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari. Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya, berfokus ada scope agama, sosial dan budaya berkaitan dengan isu-isu keislaman dan isu-isu sosial seperti kajian Alquran dan Hadits, Filsafat Islam, Pendidikan, Sosial, Kearifan Lokal, Politik, Ekonomi, Antropologi, Urbanisme, Multikulturalisme, dan lain-lain. Semua artikel yang diserahkan pada jurnal ini harus ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang baik dan benar
Articles 217 Documents
Relasi Agama dan Negara dalam Perspektif Hukum Tata Negara Islam di Era Negara Modern Sahruni Sahruni; Dhiyaul Akbar; Kurniati Kurniati
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/p6pcwb40

Abstract

This study examines the relationship between religion and the state from the perspective of Islamic Constitutional Law in the modern state era. It employs a normative legal research method using conceptual and statutory approaches, supported by secondary data obtained through library research. The findings reveal that the relationship between religion and the state in Islamic Constitutional Law is constructed upon three main paradigms: integralistic, symbiotic, and secularistic. Operationally, this relationship is implemented through the concept of siyasah shar’iyyah, which integrates Islamic values into the functions of legitimacy, supervision, legislation, and judiciary, all oriented toward public welfare (maslahah). In the context of the modern state, the application of Islamic Constitutional Law is substantive and contextual, emphasizing the internalization of values such as justice, public interest, and respect for human rights into the national legal system without requiring the formal establishment of a religious state. Therefore, the relationship between religion and the state can be realized in a harmonious, inclusive, and adaptive manner in line with the principles of democracy and pluralism.
Legenda Bawi Kuwu Tumbang Rakumpit:  Warisan Budaya dan Nilai Moral  Masyarakat Dayak Ngaju Nova Eka Wanda Sari; Elvia Natalia
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/q0p9xe50

Abstract

Legenda Bawi Kuwu merupakan salah satu cerita rakyat yang berasal dari wilayah Tumbang Rakumpit, Kelurahan Mungku Baru, Kecamatan Rakumpit, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Cerita ini diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan masyarakat Dayak Ngaju dan dipercaya terjadi sekitar abad ke-18. Keberadaan sandung (tempat penyimpanan tulang-belulang) Bawi Kuwu yang masih terawat hingga saat ini menjadi bukti fisik bahwa legenda tersebut benar-benar hidup dan diyakini kebenarannya oleh masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asal-usul legenda Bawi Kuwu, mendeskripsikan kisah yang berkembang di masyarakat, serta mengidentifikasi nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur dari berbagai sumber tertulis yang relevan dan kredibel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa legenda Bawi Kuwu menceritakan tentang seorang gadis pingitan yang diterkam buaya karena ketidaktaatan kepada orang tua, yang berakhir dengan tragedi kematian dan pembuatan sandung sebagai bentuk penghormatan. Legenda ini mengandung enam nilai budaya utama, yaitu ketaatan kepada orang tua, kehati-hatian, penghormatan terhadap tradisi, ketidakgegabahan dalam bertindak, nilai religius atau spiritual, serta pentingnya mengingat dan mematuhi pesan. Dengan demikian, legenda Bawi Kuwu tidak hanya berfungsi sebagai cerita rakyat, tetapi juga sebagai media pendidikan moral dan pengesahan pranata budaya bagi masyarakat Dayak Ngaju.
Mahar Terhutang dalam Perkawinan Islam: Tinjauan Yuridis Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam Muhammad I Iqbal; Khairudin Nor; Ahmad Zaky Kurniawan; Maulagina Azkiya Mazidah
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/rbnxje45

Abstract

Mahr (dowry) is the right of the wife that must be fulfilled by the husband in an Islamic marriage. In practice, there are many cases where the mahr has not been handed over at the time of the marriage contract and subsequently becomes a legally binding debt owed by the husband. This study aims to juridically examine the legal standing of deferred mahr based on the provisions of the Islamic Law Compilation (KHI) of Indonesia, to analyze the views of Islamic jurists from various schools of law on the matter, and to explore its legal implications in cases of divorce or the husband’s death. This study employs a normative juridical method with statutory and conceptual approaches, supported by primary legal sources in the form of the KHI and secondary sources consisting of classical fiqh literature and relevant scholarly works. The findings indicate that Article 33 paragraph (2) of the KHI permits the deferral of mahr delivery upon the wife’s consent, and that the undelivered mahr becomes a mandatory debt for the husband to repay. Article 34 paragraph (2) affirms that the existence of a deferred mahr does not diminish the validity of the marriage. The four major schools of Islamic law generally agree on the permissibility of deferring mahr, though they differ regarding the conditions and time limits involved. The mahr debt remains binding even after the marriage has ended, whether through divorce or the husband’s death, and may be taken from the estate if the husband passes away. This study concludes that the regulation of deferred mahr in the KHI reflects a balance between legal flexibility and the protection of the wife’s rights, while emphasizing the need to improve public legal awareness so that this obligation is not overlooked.
Implementasi Budaya Mutu pada Madrasah Diniyah Takmiliyah: Integrasi Nilai-Nilai Al-Qur'an dan Filosofi Total Quality Management (TQM) Hadrian Nur; Dakir Dakir; Triwid Syafarotun Najah
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/vbtk3331

Abstract

This study aims to analyze the concept of quality culture in Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), examine the quality values ​​contained in the Qur'an, explore the relevance of Total Quality Management (TQM) principles in Islamic education, and formulate a quality culture model that integrates the Qur'anic perspective and TQM philosophy. The study uses a qualitative approach with a library research method that utilizes various sources in the form of the Qur'an, tafsir books, books, and scientific articles relevant to quality culture, TQM, and Islamic education. Data are analyzed using content analysis and conceptual synthesis techniques to find the relationship between Qur'anic values ​​and quality management principles. The results show that quality culture in MDT is an organizational culture based on Islamic values ​​and oriented towards continuous improvement in academic, spiritual, moral, and social aspects. The Qur'an provides a normative foundation through the concepts of ihsan, itqan, amanah, syura, muhasabah, and islah, which align with the main principles of TQM, such as excellence, quality assurance, accountability, participation, evaluation, and continuous improvement. Based on these findings, this study formulates the Qur'anic-TQM Quality Culture model as a framework for MDT management that integrates spiritual, cultural, and managerial dimensions. This model represents a novel research value because it offers a quality culture approach that is not only oriented toward improving institutional quality but also toward strengthening the character and spirituality of students. Therefore, it can be an alternative for effective, sustainable quality development that aligns with the characteristics of Madrasah Diniyah Takmiliyah.
Keteladanan Kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Relevansinya dalam Kehidupan Modern Nurhafiza Rizkia; Nurzena Zein
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/3bj61113

Abstract

Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan khalifah pertama dalam sejarah Islam yang memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Kepemimpinannya menjadi fondasi bagi perkembangan peradaban Islam pada masa Khulafaur Rasyidin. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji keteladanan kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq serta relevansinya dalam kehidupan modern. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka (library research) dengan memanfaatkan berbagai buku dan jurnal ilmiah yang membahas kehidupan, kepemimpinan, dan kontribusi Abu Bakar Ash-Shiddiq. Hasil kajian menunjukkan bahwa Abu Bakar memiliki karakter kepemimpinan yang kuat, seperti kejujuran, amanah, tanggung jawab, keadilan, ketegasan, dan musyawarah. Karakter tersebut terbukti mampu membawa umat Islam melewati masa-masa sulit pasca wafatnya Rasulullah SAW. Nilai-nilai kepemimpinan Abu Bakar juga masih relevan diterapkan dalam kehidupan modern karena mampu menjadi solusi terhadap berbagai permasalahan kepemimpinan seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan rendahnya integritas pemimpin. Oleh karena itu, kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq dapat dijadikan teladan dalam membangun kepemimpinan yang berintegritas dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
Tradisi Syawalan di Kaliwungu Kendal: Kajian Filosofis Terhadap Nilai Religius dan Sosial Ifana Ayu Zahrani; Heniza Listiana Amara Putri; Mukhamad Rikza Chamami
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/mgg0gf86

Abstract

This study examines the Syawalan tradition in Kaliwungu, Kendal Regency, Central Java, an annual tradition commemorating the Haul Kyai Asyari, held seven days after Eid al-Fitr. This study aims to describe the implementation of the Syawalan tradition and analyze the religious values, social values, and philosophical meanings contained within. The method used is descriptive qualitative through in-depth interviews with community leaders and residents of Kaliwungu, as well as direct observation in the field. The results show that Syawalan contains religious values ​​such as strengthening faith, mutual forgiveness, and respect for religious scholars. From a social perspective, this tradition strengthens friendship and the spirit of mutual cooperation among residents. Philosophically, Syawalan reflects the balance between the relationship between humans and God (habluminallah) and the relationship between humans and others (habluminannas), which is in line with the concept of falah in Islam. Despite facing the challenges of modernization, the Kaliwungu community continues to strive to preserve this tradition through education, social media, and support from the local government.
Negara Pancasila dalam Perspektif Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sebagai Landasan Keislaman Kebangsaan dan Kehidupan Bernegara Dini Stevani Damaiyanti; Syifa Azzahra; Dzalfa Dzahhabiah Putri; Nailah Nailah; Surya Sukti
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/x44mzn54

Abstract

This article discusses the concept of the Pancasila State from the perspective of Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama with the aim of understanding the relationship between Islam and the state, relevant Islamic jurisprudence principles, and the role of Islamic organizations in national life. The research method used is qualitative with a descriptive-analytical approach, utilizing literature studies from books, journals, and official organizational documents. The results of the study indicate that Islam provides universal principles such as justice, deliberation, and welfare, which can be applied in various state systems without having to take the form of a formal Islamic state. Muhammadiyah defines the state through the concept of Darul Ahdi wa Syahadah, emphasizing rationality, modernity, and the implementation of Islamic values in education, social, and societal progress. Meanwhile, Nahdlatul Ulama, through the principle of Hubbul Wathan Minal Iman and the concept of Islam Nusantara, emphasizes harmony between Islamic teachings, local traditions, and nationality, as well as moderation in socio-political life. These differences in approach are not a source of conflict, but rather complement each other in maintaining stability, tolerance, and the welfare of the nation. This study confirms that the Pancasila State possesses both constitutional and religious legitimacy, and that both Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama play a crucial role in maintaining the integration of Islamic and national values. These findings demonstrate that the acceptance of Pancasila by these two major Islamic organizations in Indonesia is not merely formal but also based on theological ijtihad and Islamic jurisprudence (fiqh) principles that adapt to Indonesia's socio-cultural context. This study is expected to serve as a reference in developing contextual and inclusive studies of the relationship between religion and state in Indonesia.
Environmental Degradation as a Deviation of Tauhid: Analysis of the Film WALL-E from the Perspective of Mawil Izzi Dien V Nazia; M Putra; D Firdaus; M Iswara; M Triana
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/nshc8211

Abstract

The global environmental crisis is not merely a technical issue but reflects a deeper moral and spiritual crisis within humanity. This research analyzes the representation of environmental degradation in the film WALL-E through the lens of Islamic Environmental Ethics as proposed by Mawil Izzi Dien. Using a qualitative textual analysis method, the study explores how the film’s depiction of a waste-covered Earth and consumerist human lifestyle mirrors the Quranic concept of fasad (destruction). The findings indicate that the environmental collapse portrayed in the film is a systemic breach of mizan (balance) and a failure of humans to fulfill their role as khalifah (stewards). Ultimately, the research argues that environmental crises are manifestations of a deviation from the principle of Tauhid (the Oneness of God), where humanity’s spiritual disconnect leads to the exploitation of nature. The study concludes that addressing ecological issues requires a reconstruction of spiritual awareness rooted in theological responsibility.  
Tahrif al-Ma'na dalam Serial Bidaah: Analisis Hadis-Hadis Pernikahan terhadap Praktik Nikah Batin Karunia Rizki Ma’arif Amin
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/pp65yg09

Abstract

Penelitian ini menganalisis representasi pernikahan dalam serial drama "Bidaah" (2025) dari perspektif hukum Islam dan fenomena manipulasi agama. Praktik "nikah batin" yang digambarkan dalam serial menjadi perhatian utama karena bertentangan dengan konsep pernikahan dalam Islam. Tujuan penelitian adalah menganalisis representasi pernikahan dalam serial "Bidaah" dari perspektif hukum Islam serta mengeksplorasi fenomena manipulasi agama yang digambarkan dalam serial tersebut. Metode kualitatif deskriptif digunakan untuk menganalisis konten serial, melakukan kajian literatur komprehensif, dan menganalisis respons publik terhadap serial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik "nikah batin" yang dilakukan oleh tokoh Walid Muhammad bertentangan dengan rukun nikah dalam Islam karena mengabaikan kehadiran wali nikah, dua saksi yang adil, dan ijab kabul yang jelas. Serial ini berhasil menggambarkan bagaimana teks-teks keagamaan ditransformasikan dan dimanipulasi untuk melegitimasi praktik yang menyimpang dan memfasilitasi eksploitasi perempuan. Respons publik terhadap serial ini menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat tentang bahaya manipulasi agama. Dapat disimpulkan bahwa serial "Bidaah" tidak hanya berfungsi sebagai karya fiksi, tetapi juga sebagai medium pendidikan informal tentang bahaya manipulasi agama dan pentingnya pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam.
Analisis Faktor-Faktor Kemunduran Peradaban Islam dalam Perspektif Pola Pemikiran Tradisional dan Rasional Aisyah Na'imah Haidar; Safira Aulia Putri; M. Yunus Abu Bakar
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 3 (2026): JUNI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/rfeacq21

Abstract

Kemunduran peradaban Islam merupakan peristiwa sejarah yang disebabkan oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab utama penurunan tersebut dengan menggunakan dua pendekatan pemikiran utama: pemikiran tradisional dan pemikiran rasional. Pada masa keemasannya, peradaban Islam berkembang pesat melalui kombinasi antara bimbingan ilahi dan akal manusia, seperti yang terlihat pada era Abbasiyah, yang ditandai dengan kemajuan dalam ilmu pengetahuan, filsafat, dan teknologi. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, terjadi pergeseran pemikiran dari pendekatan rasional-kritis menuju kecenderungan tradisional dan dogmatis, yang membatasi dinamika intelektual. Dengan menggunakan pendekatan historis dan analitis, penelitian ini menemukan bahwa faktor internal seperti melemahnya tradisi ijtihad, meningkatnya pengikut buta, konflik politik, dan fragmentasi kekuasaan juga berkontribusi pada kemunduran tersebut. Pada saat yang sama, faktor eksternal seperti serangan Mongol terhadap pusat-pusat peradaban Islam dan ekspansi kolonial Barat juga memiliki dampak besar terhadap stabilitas sosial, politik, dan ekonomi komunitas Muslim. Dengan menggunakan pemikiran tradisional dan rasional sebagai kerangka analisis, penelitian ini menunjukkan bahwa kemunduran peradaban Islam tidak hanya disebabkan oleh faktor eksternal, tetapi juga karena perubahan arah intelektual dan sosial di dalam komunitas Muslim itu sendiri.