cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Analisis Kekuatan V-Core Sandwich Panel Pada Geladak Kapal Menggunakan Metode Elemen Hingga Hilda Dwi Febriani; Dony Setyawan
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.658 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i1.41918

Abstract

Sandwich panel adalah suatu struktur terdiri dari dua pelat yang relatif tipis disatukan dengan inti (core) dapat berupa material komposit atau material berbahan baja. Penggunaan material sandwich pada struktur bertujuan untuk membuat struktur lebih ringan. Kelebihan ini tentunya sangat bermanfaat terutama konstruksi pada kapal yang membutuhkan bahan penyusun yang ringan sehingga kecepatan kapal dan jumlah muatan yang dapat diangkut meningkat. Aspek yang perlu diperhatikan dalam penggunaan sandwich panel pada kapal adalah dari segi keamanannya sehingga didapatkan desain dimana tegangan dan deformasi memenuhi aturan kelas tetapi memiliki berat yang ringan. Salah satu tipe sandwich panel yang akan diteliti pada penelitian ini adalah v-core sandwich panel yang seluruh materialnya berbahan baja dan akan dibandingkan dengan pelat berpenegar. V-core sandwich panel adalah dua pelat yang disebut face dan disatukan dengan core berbentuk v. Terdapat 3 model v-core sandwich panel yang dibedakan dari ketinggian core-nya. Model 1 memiliki tinggi core 110 mm, model 2 memiliki tinggi core 55 mm dan model 3 memiliki ketinggian core 220 mm. Ketiga model tersebut memiliki variasi ketebalan yang sama yang dibagi lagi menjadi variasi A sampai dengan variasi F. Variasi A dan Variasi D memiliki variasi ketebalan face dan core yang sama yaitu dari tebal 1 mm sampai 6 mm. Variasi B, variasi C, variasi E dan variasi F memiliki variasi ketebalan face dan core yang berbeda-beda. Hasil percobaan didapatkan desain v-core sandwich panel yang paling optimal adalah desain pada model 1 dengan tinggi core 110 mm, ketebalan face 5 mm, ketebalan core 5 mm, jarak antar core 62 mm dan lebar core 120 mm dengan besar tegangan yaitu 44,8 Mpa dimana nilai ini sudah kurang dari tegangan ijin dan kurang dari tegangan pelat berpenegar dengan besar deformasi 3,921 mm dan berat 28, 5827 ton.
Desain Floating Modern Fishing Industry untuk Pengembangan Sektor Perikanan di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan Muhammad Fudail Andi Palinrungi; Hesty Anita Kurniawati
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (900.455 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i1.41922

Abstract

Wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar terdiri dari 130 buah gugus pulau besar dan kecil dengan luas keseluruhan wilayahnya mencapai 10.503,69 km2 yang terdiri dari daratan (1.357,03 km2 atau 12,92%), dan lautan (9.146,66 km2 atau 87,08%. Dengan wilayah laut seluas 87% dari total wilayahnya, Kepulauan Selayar memiliki potensi yang cukup besar di sektor kelautan dan perikanan. Berdasarkan potensi tersebut gagasan Floating Modern Fishing Industry diharapkan dapat menarik peminat calon investor sambil mendukung industri perikanan lokal serta program Pemerintah Indonesia. Ukuran utama yang didapatkan berdasarkan luasan yang mengacu pada pabrik pengolahan ikan yang disesuaikan dengan rasio perbandingan ukuran utama dari kapal pembanding dan regulasi yang ada maka didapatkan LoA = 105 m, B = 22 m, H = 6 m, T = 4.2 m. dengan hasil olahan berupa ikan fillet dan tepung ikan serta terdapatnya budidaya perikanan. Analisis teknis yang dilakukan meliputi perhitungan berat, perhitungan stabilitas, perhitungan trim, dan perhitungan freeboard dan akan dilanjutkan dengan mendesain rencana garis, rencana umum, safety plan serta desain model tiga dimensinya dan dilakukan juga analisis ekonomis. Garbage disposal management menggunakan compactor yang diperuntukkan untuk jenis sampah plastik dan sampah non-organic dan menggunakan comminuter untuk sampah yang berasal dari sisa-sisa makanan dan juga bahan-bahan organik. Sewage treatment management menggunakan holding tank serta konfigurasi mooring system yang digunakan adalah single point mooring system dengan biaya total pembangunan sebesar Rp 90.974.767.520.
Desain Small-Scale LNG Carrier Dengan Combine Cycle Propulsion Plant Untuk Suplai Gas Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) “Flores” Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur Muhammad Sayyid Habibie; Hesty Anita Kurniawati
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4026.787 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i1.41956

Abstract

Dalam upaya peningkatan rasio elektrifikasi untuk mendukung pembangunan di Labuan Bajo, maka dibangun pembangkit-pembangkit baru salah satunya PLTMG “Flores”. PLTMG “Flores” merupakan pembangkit baru yang bersifat mobile serta dapat dioperasikan menggunakan bahan bakar Liquefied Natural Gas (LNG). Namun, cadangan minyak dan gas bumi di daerah Nusa Tenggara belum banyak diketahui. Dengan adanya rencana pengembangan Blok Masela melalui skema onshore LNG plant di Saumlaki akan membantu dalam pasokan LNG ke Labuan Bajo. Data rasio elektrifikasi yang rendah serta upaya PLN dalam membangun PLTMG “Flores” di Labuan Bajo melalui rencana jangka panjangnya maka diperlukan pembangunan infrastruktur pengantar suplai gas berupa LNG. Namun, letak Labuan Bajo yang cukup jauh dengan daerah pemasok LNG maka dapat dimanfaatkan sarana distribusi gas alam baru menggunakan small-scale LNG carrier. Payload dari small-scale LNG carrier ini berdasarkan konsumsi bahan bakar LNG untuk PLTMG “Flores” per hari. Ukuran utama didasarkan pada penempatan kontainer di ruang muat dan geladak . Combine Cycle Propulsion Plant yang dimaksud dalam penelitian ini adalah  Combine Diesel & Steam Turbine dimana pemilihan mesin diesel dan turbin uap sebagai penggerak berdasarkan perhitungan hambatan dan propulsi Setelah itu dilakukan perhitungan teknis berupa perhitungan berat, freeboard, trim dan stabilitas. Ukuran utama yang memenuhi kriteria teknis dan regulasi adalah Lpp = 111.6 m; B = 22.4 m; H = 12 m; T = 5 m. Tinggi freeboard minimum yang didapatkan yaitu 2104 mm, tonase kotor kapal mencapai 7885 ton dan kondisi stabilitas kapal dihitung serta didapatkan hasil yang memenuhi kriteria. Biaya pembangunan sebesar Rp197,331,715,056.31.
Analisis Tegangan Sekat Memanjang Tanker akibat Beban Sloshing menggunakan Metode Elemen Hingga Ardan Nagra Coutsar; Dony Setyawan
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (938.603 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i1.42052

Abstract

Sloshing merupakan pergerakan fluida secara bebas dalam sebuah wadah. Sloshing terjadi akibat pergerakan dari kapal itu sendiri. Beban atau gaya yang terjadi akibat muatan cair yang mengalami sloshing perlu dianalisis dan dianggap penting, terutama pada kapal-kapal yang memiliki ruang muat besar seperti super tanker atau kapal LNG berukuran besar. Kemungkinan sloshing yang terjadi pada ruang muat tersebut akan lebih besar apabila terjadi resonansi dengan gerakan kapal. Tegangan yang terjadi pada tangki dihitung dengan menggunakan pendekatan numerik untuk mengetahui respon hidrodinamis yang terjadi akibat muatan cair dalam tangki ruang muat. Pengaruh sloshing yang terjadi pada tegangan sekat memanjang tangki ruang muat didapatkan dengan perhitungan numerik. Hasil yang didapat antara lain tegangan maksimum yang terjadi pada saat ketinggian cairan terisi 10% adalah sebesar 15.962 Mpa, saat ketinggian cairan terisi 30% adalah sebesar 30.852 Mpa, saat cairan terisi 50% adalah sebesar 47.049 Mpa, serta saat cairan terisi 80% adalah sebesar 50.968 Mpa. Sehingga terdapat kenaikan tegangan yang cukup signifikan saat kondisi ruang muat terisi dengan ketinggian rendah. Kenaikan tegangan yang terjadi hingga mencapai 93.28% saat ruang muat terisi dari 10% ke 30%.
Analisa Pengaruh Karat Sand Blasting Terhadap Laju Korosi Pelat PontoonFloating Dock di Galangan Reparasi Kapal Taufik Hidayat; Triwilaswandio Wuruk Pribadi; Muhammad Sholikhan Arif
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (950.999 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i1.42304

Abstract

Reparasi kapal di atas floating dock, dilakukan proses sand blasting untuk membersihkan lambung kapal dari karat. Karat dan pasir sand blasting menumpuk menjadi material deposit di atas permukaan pelat pontoon floating dock. Tumpukan karat dan pasir sand blasting tidak dibersihkan secara menyeluruh sehingga mempengaruhi mekanisme korosi pelat pontoon floating dock yang memicu terjadinya korosi di bawah lapisan karat dan pasir sand blasting atau lebih dikenal sebagai korosi bawah deposit. Untuk mengetahui pengaruh dari karat dan pasir sand blasting terhadap laju korosi pelat pontoon floating dock, dilakukan pengujian laju korosi menggunakan metode elektrokimia dengan teknik polarisasi dimana permukaan spesimen tertutupi oleh material deposit karat sand blasting di dalam larutan NaCl 3,5%. Variasi material deposit dalam  pengujian ditentukan berdasarkan data hasil observasi lapangan berupa variasi komposisi pasir sand blasting dan karat yaitu 80% : 20%, 70% : 30%, dan 60% : 40%. Variasi ketebalan material deposit yaitu tebal 2 cm, 4 cm, dan 6 cm. Variasi permukaan pelat yang tertutupi material deposit yaitu 100%, 50%, dan 30% permukaan dan pengujian tanpa material deposit sebagai benchmark. Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa spesimen dengan permukaan tertutupi material deposit karat sand blasting mempunyai laju korosi yang lebih cepat dari pada spesimen yang tidak tertutupi material deposit dan semakin tebal material deposit maka laju korosinya semakin cepat. Semakin besar diferensial aerasi antara permukaan yang tertutupi material deposit dan permukaan yang tidak tertutupi material deposit karat sand blasting maka nilai laju korosi semakin besar. Selain itu, semakin banyak kandungan karat didalam material deposit karat sand blasting maka laju korosinya semakin cepat. Korosi yang disebabkan oleh material deposit karat sand blasting mengakibatkan penurunan keuntungan yang diperoleh floating dock dimana keuntungan terendah yaitu sebesar Rp4.285.627.040,00. Sedangkan keuntungan yang diperoleh pada kondisi permukaan pontoon floating dock tidak tertutupi material deposit adalah sebesar Rp13.439.792.320,00.
Desain Self-Righting Rescue Boat untuk BASARNAS Adi Budi Cahyana Putra; Hasanudin Hasanudin
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.597 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.43135

Abstract

Kondisi cuaca dan gelombang tinggi berkontribusi signifikan terhadap kecelakaan kapal di Perairan Selatan Jawa Timur. Hal tersebut juga menjadi salah satu faktor penghambat operasi SAR (Search And Rescue) untuk melakukan pertolongan pada korban kecelakaan kapal di wilayah tersebut. Untuk menunjang proses operasi SAR, BASARNAS memerlukan sebuah desain self-righting rescue boat yang mampu berakselerasi tinggi dan dapat menembus berbagai kondisi laut yang ekstrem. Dengan konsep stabilitas self-righting ini, memungkinkan rescue boat tetap dapat beroperasi pada perairan yang memiliki ketinggian gelombang yang cukup besar karena kapal akan dapat kembali keposisi semula walaupun kapal mengalami oleng hingga sudut 1800. Payload yang digunakan adalah kapasitas crew dan penumpang dari self-righting rescue boat. Ukuran utama awal kapal ditentukan dengan menggunakan metode Geosim Prosedure. Kemudian dilakukan perhitungan teknis yang meliputi koefisien bentuk lambung, hambatan, berat dan titik berat kapal, freeboard, trim, stabilitas self-righting, dan MSI (Motion Sickness Incidence). Ukuran utama yang memenuhi kriteria teknis dan regulasi adalah LoA: 14.32 m, Lpp: 13.6 m, B: 4.0 m, H: 2.3 m, dan T: 0.8 m. Untuk metode self-righting yang digunakan adalah inherent self-righting. Metode ini diperoleh dengan cara membesarkan volume bangunan atas rescue boat dengan variasi lebar bangunan atas. Dari analisis MSI dengan parameter ISO 2631, rescue boat dinilai nyaman untuk beroperasi pada ketinggian gelombang 2.5 m hingga 4 m (sea state 5) atas pertimbangan 2 jam pelayaran dan dinilai nyaman untuk beroperasi pada ketinggian gelombang 4 m hingga 6 m (sea state 6) atas pertimbangn 30 menit pelayaran. Estimasi biaya pembangunan self-righting rescue boat adalah sebesar Rp 2,619,236,881.22.
Identifikasi Kegiatan Wisata Bahari sebagai Upaya Tertib Administrasi Kelautan (Studi Kasus: Kabupaten Tulungagung) Riva Dianita; Yanto Budisusanto; Cherie Bhekti Pribadi
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.072 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.43804

Abstract

Sebagai salah satu negara yang dikelilingi oleh laut, Indonesia memiliki banyak wisata di kawasan pesisir dan ruang laut, salah satunya berupa wisata bahari. Pemanfaatan ruang laut dan pesisir untuk kegiatan wisata bahari ini memerlukan pengelolaan yang terorganisir agar menghasilkan tertib administrasi kelautan. Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu Kabupaten yang memiliki wilayah pesisir yang dimanfaatkan untuk kegiatan wisata bahari. Namun pengelolaan wisata bahari tersebut dikelola oleh banyak pihak sehingga belum menghasilkan tertib administrasi kelautan. Pada penelitian ini dilakukan identifikasi terkait pengelolaan wisata seperti hak dan tanggungjawab pengelola, nilai retribusi, dan kesesuaian kondisi eksisting dengan dokumen perencanaan berupa RTRW dan RZWP-3-K. Penelitian ini menganalisa kondisi eksisting pengelolaan kelautan di bidang wisata bahari dokumen perencanaan RZWP-3-K dan RTRW Kabupaten Tulungagung agar dapat menghasilkan tertib administrasi kelautan dan mendapatkan estimasi nilai retribusi untuk pemerintah setempat. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa wisata bahari di Kabupaten Tulungagung dikelola oleh 3 pihak, yaitu pihak pertama Dinas Perhutani, pihak kedua pemerintah daerah setempat, dan pihak ketiga masyarakat sekitar. Masing-masing pihak menerima bagi hasil dari penjualan tiket masuk dengan besar yang berbeda-beda. Pihak pertama menerima bagi hasil 30%, pihak kedua 20%, dan pihak ketiga 50%. Pada kesesuaian kondisi eksisting dengan dokumen perencanaan ditemukan bahwa lokasi wisata bahari kondisi eksisting sesuai dengan lokasi yang direncanakan yaitu di dalam Kawasan Strategis Pariwisata. Sedangkan estimasi retribusi yang diterima pihak kedua adalah Rp 2.032.320.000,00 pertahun dan apabila ke empat wisata di ambil alih oleh Pemerintah Daerah maka menghasilkan  tambahan estimasi retribusi sebesar Rp 12.000.000,00 pertahun.
Evaluasi Daya Dukung Ruang Laut Zona Perikanan Tangkap Berdasarkan Data Eksisting dan RZWP-3-K (Studi Kasus: Pesisir Selatan Kabupaten Sampang) Juwita Maharani Zainur Putri; Yanto Budisusanto; Cherie Bhekti Pribadi
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.15 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.43840

Abstract

Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) adalah arahan pemanfaatan sumber daya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Dalam dokumen RZWP-3-K terdapat beberapa kerusakan lingkungan yang berdampak menurunnya daya dukung fisik suatu kawasan. Daya Dukung merupakan kemampuan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Permasalahan dalam dokumen RZWP-3-K di kawasan pesisir selatan Kabupaten Sampang antara lain, terdapat reklamasi mangrove di Kecamatan Camplong, terdapat abrasi pantai, dan terdapat kerusakan terumbu karang mencapai 70% yang disebabkan oleh pola penangkapan ikan yang salah. Pada penelitian ini mengevaluasi kesesuaian daya dukung fisik kawasan perikanan tangkap dengan kondisi eksisting dan RZWP-3-K di kawasan pesisir selatan Kabupaten Sampang. Penelitian ini menggunakan metode skoring dan pembobotan untuk mendapatkan nilai disetiap parameter daya dukung fisik kawasan perikanan tangkap. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari parameter tinggi gelombang, kecepatan arus, penutupan terumbu karang, penutupan hutan mangrove, dan jarak dari garis pantai. Penelitian ini menghasilkan dua klasifikasi yakni kawasan daya dukung fisik perikanan tangkap dengan kondisi sedang memiliki luas 1,935 km2 (0,214%) dan kawasan dengan kondisi buruk memiliki luas 901,709 km2 (99,786%). Kesesuaian daya dukung fisik perikanan tangkap dengan kondisi eksisting menunjukkan bahwa kawasan yang sesuai dengan kondisi sedang seluas 0,559 km2 (0,062%) dan kawasan yang sesuai dengan kondisi buruk seluas 561,346 km2 (62,120%). Dan untuk kesesuaian daya dukung fisik perikanan tangkap dengan RZWP-3-K menunjukan bahwa kawasan dengan keadaan yang sesuai dan kondisi buruk memiliki luas sebesar 728,035 km2 (80,567%).
Desain Kapal Ikan Hibrida Berbahan Dasar High Density Polyethylene sebagai Penunjang Potensi Laut Provinsi Kepulauan Riau Muhammad Iqbal; Wasis Dwi Aryawan
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2495.447 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.43943

Abstract

Sektor perikanan merupakan salah satu sektor dengan potensi terbesar pada wilayah Provinsi Kepulauan Riau dikarenakan lebih dari 96% luas wilayah merupakan lautan, namun potensi yang sangat besar ini justru seringkali dimanfaatkan oleh kapal-kapal berbendera asing untuk melakukan praktek illegal fishing pada daerah fishing ground Kepulauan Riau, khususnya perairan Natuna. Kapal-kapal ikan berbendera Indonesia pada daerah Kepulauan Riau masih belum maksimal dalam memanfaatkan potensi ini dikarenakan jumlah armada kapal yang masih sedikit, dan juga penerapan teknologi yang masih sederhana/konvensional. Dengan maksud untuk menunjang pemanfaatan potensi sektor perikanan Provinsi Kepulauan Riau yang masih berada diangka 4-6%, maka pada Tugas Akhir ini akan didesain kapal ikan hibrida berbahan dasar plastik HDPE yang mempunyai tiga sumber daya utama yang merupakan energi terbarukan yakni angin (Vertical Axis Wind Turbines), sinar matahari (Photovoltaic Panel) dan juga gas hidrogen (Fuel Cell) yang langsung diproduksi On-Board dari air laut. Hasil dari Tugas Akhir ini berupa kapal dengan payload 30.5 ton ikan, 8 orang crew, dengan ukuran utama kapal L: 21 m; B: 5.5 m; H: 2.5 m; T: 1.5; Vs: 8 Knot dengan rute pelabuhan perikanan Karimun menuju pelabuhan perikanan Natuna.
Kajian Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Laut dan Pesisir Berdasarkan RZWP-3-K dan RTRW di Pesisir Selatan Kabupaten Sampang Annisa' Kunny Latifa; Yanto Budisusanto; Cherie Bhekti Pribadi
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.299 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.43991

Abstract

Dalam pengarahan pemanfaatan potensi suatu ruang atau wilayah, struktur perencanaan memuat perencanaan yang bersifat spasial yaitu Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP-3-K) yang dijadikan sebagai acuan dalam penyusunan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Sementara, untuk perencanaan di wilayah darat yang mencakup wilayah administrasi dalam satu Kabupaten atau Kota, digunakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Tumpang tindih atau overlapping wilayah pemanfaatan terjadi di daerah daratan di sekitar pesisir dan pantai maupun di wilayah perairannya. Dengan adanya tumpang tindih pemanfaatan, dibutuhkan perhitungan dan analisis kesesuaian kondisi eksisting berdasarkan rencana. Penelitian ini dilaksanakan untuk membuat peta kesesuaian pemanfaatan pesisir dan ruang laut Kabupaten Sampang dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Penelitian ini dilakukan dengan metode interpretasi pada citra, dengan cara digitasi, serta pengukuran di lapangan, yaitu dengan ground truth dan wawancara. Data yang digunakan adalah hasil digitasi citra Pleiades terkoreksi untuk analisis pesisir, dan data eksisting pemanfaatan ruang laut. Dari penelitian ini dihasilkan kesesuaian pesisir dan ruang laut di selatan Kabupaten Sampang.  Dari analisis yang dilakukan, kelas tutupan lahan pesisir yang sesuai dengan RTRW adalah sebesar 77%. Sementara untuk pemanfaatan ruang laut yang sesuai dengan RZWP-3-K adalah sebesar 57%.